24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
September 21, 2023
in Esai
Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Pemutaran film dari Doha Film Institute di Minikino Film Week 2023 | Foto: Dok. tatkala.co

SELAIN berolahraga, menonton film juga menjadi hiburan alternatif, untuk hanya sekadar bersantai, menghilangkan rasa bosan atau melepaskan penat dengan rutinitas sehari-hari. Selain itu, menonton film juga dapat digunakan sebagai terapi, atau cinematherapy bagi penontonnya. Untuk sekadar informasi saja, cinematherapy merupakan proses penggunaan film-film layar lebar atau televisi untuk tujuan terapi kesehatan.

Menurut Gary Solomon, Ph.D, psikolog dari College of Southern Nevada, ketika menonton film, seseorang bisa meluapkan semua perasaannya, dari menangis, berteriak, hingga merenung tanpa mengkhawatirkan opini dan penilaian orang lain.

Film juga memungkinkan penontonnya ikut tenggelam ke dalam cerita, menjadi satu dengan tokoh, hingga memperoleh pesan yang terselip dalam cerita. Hal ini bisa membantu proses terapi kesehatan mental, dan memperoleh inspirasi positif untuk perkembangan diri.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan diatas, bagi saya, menonton film, selain menjadi sebuah hiburan, juga menjadi media belajar yang akhir-akhir ini saya gemari.

Di Singaraja, misalnya, terdapat platform Singaraja Menonton, yang fokus memutar film-film pendek, screening film dan workshop yang diinisiasi Kardian Narayana—saya lebih akrab memanggilnya Bang Cotex, yang belakangan saya tahu, selain seorang jurnalis Kompas TV, ia juga salah satu programer film Indonesia Raja.

Dari Singaraja Menonton, kegemaran saya menonton film dimulai. Karena, selain disuguhkan serial film yang barangkali tidak ada di Yutub maupun media sosial lainnya, di platform tersebut kami diberi kesempatan untuk menyempaikan penfasiran, kritik film, berbagi cerita, pengalaman, dan lain sebagainya.

Tapi, entah bagaimana ceritanya, ketika menonton film, luar negeri maupun film lokal, untuk sekarang, saya lebih fokus kepada subtitle-nya daripada visual grafiknya. Padahal, seingat saya, dulu waktu masih kecil, barangkali masih sekolah dasar, ketika menonton film saya hanya tertarik melihat visualnya saja.

Maka tak heran, dulu saya lebih hafal gerakan-gerakan kungfu yang ada pada film Shaolin Soccer (2001)—yang dibintangi Stephen Chow sekaligus merangkap sebagai sutradaranya itu—misalnya, daripada narasi yang disampaikan dalam film tersebut.

Atau gaya bertarung Takiya Genjie yang diperankan Shun Oguri pada serial film Crows Zero (2007) karya Hiroshi Takahashi lebih menarik untuk ditiru dari pada memahami alur ceritanya.

Namun, sepertinya siklus menonton film memang seperti itu. Ketika masih kecil, apa yang kita lihat di film seakan-akan adalah sebuah kahurusan yang harus ditiru. Saya masih ingat, dulu, waktu masih SMP, ketika keluar kelas atau jam pelajaran sedang kosong, kami sering melakukan tindakan yang diadaptasi dari film Punk In Love (2009) besutan Ody Harahap seperti, misal, ketika tokoh Arok yang diperankan Vino G Bastian sedang berkelahi, meniru gaya berpakaian Yoji, atau meniru gaya berbicara Mojo—yang meledak-ledak seperti orator ulung itu.

Sekarang, saya malah tidak mendapatkan perasaan itu. Perasaan untuk meniru, baik gaya berbicara maupun style-style tokoh yang ada pada film yang saya tonton. Saya lebih asik dengan, sekali lagi, subtitle-nya daripada visualnya.

Untuk ukuran orang awam seperti saya, orang yang tidak benar-benar mengerti—atau dalam bahasa Jawa nol putul—bahasa Inggris, membaca subtitle dapat sedikit membantu memahami apa arti dari film yang saya tonton. Sehingga, saya tidak mengalami kesalahan memaknai sebuah film. Meskipun ada juga orang-orang yang memang dapat memahami makna suatu film hanya dengan melihat visualnya saja.

Dulu, saya mengira, film Shaolin Soccer hanya sebatas film tentang permainan sepak bola, tetapi setelah saya menonton ulang, tentu menonton yang saya maksud di sini bukan sekadar melihat visualnya, melainkan fokus kepada subtitle-nya, ternyata film tersebut menceritakan kecurangan mafia-mafia bola dalam memainkan sebuah pertandingan dan penggunaan dopping dalam dunia sepak bola. Meskipun dalam film Shaolin Soccer juga banyak dibumbui dengan efek-efek yang menurut saya berlebihan.

Kesalahan selanjutnya, saya mengira film Crows Zero hanya sebuah perebutan penguasa sekolahan saja, tapi lebih daripada itu, ada informasi mengenai budaya Yakuza di Jepang dan permasalahan tentang cinta.

Juga tentang film Punk In Love, dulu saya mengiranya mereka hanya sekumpulan anak punk yang dalam istilah punk disebut “ngestreet” —melakukan perjalanan dengan cara nggandol di bak-bak truk yang lewat—melainkan tentang jati diri anak muda yang ingin terbebas dari segala peraturan dan sebuah tekat yang harus dibuktikan kepada orang yang dicintainya.

***

Soal film-film impor, yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asal film tersebut, saya memiliki kisah konyol yang terjadi baru-baru ini.

Saat ini saya sedang diajak salah seorang kawan untuk menghadiri salah satu festival film di Bali. Namanya Minikino Film Week-9 Bali International Short Film Festival. Salah satu tempatnya ada di MASH Denpasar di Jl. Pulau Madura No. 3, Denpasar Barat.

Karena acaranya berskala international, tentu filmmaker yang hadir bukan hanya orang Indonesia, tapi juga orang-orang dari luar negeri seperti Kanada, Iran, Korea Selatan, dan lain sebagainya. Dan sudah pasti, film yang diputar juga bukan hanya film yang menggunakan bahasa Indonesia, tapi juga menggunakan bahasa asal film tersebut.

Sehingga, benar saja, setelah beberapa hari menonton film, selama itu juga, saya lebih fokus menonton atau membaca subtitle-nya alih-alih menikmati sajian visualnya. Jadi, kalau sudah balik ke Singaraja, barangkali saya tidak akan bisa menceritakan adegan-adegan dalam film yang diputar dengan detail. Karena, selain tidak bisa bahasa Inggris dan bahasa lain di luar bahasa Indonesia, saya pikir—-setidaknya menurut saya—-memahami inti cerita dari sebuah film lebih menarik daripada hanya sebatas menikmati sajina visualnya, bukan.

Namun, rencana awal saya untuk fokus menonton subtitle itu ternyata tidak berjalan lancar. Mengingat, tidak semua film menggunakan subtitle bahasa Indonesia. Akhirnya, nasib lucu—atau lebih tepatnya sial itu—datang juga.

Begini, dalam serangkaian Minikino film week -9 ini, saya sempatkan menonton program film dari Doha Film Institute dan kebetulan filmmaker-nya hadir dalam pemutaran film tersebut—untuk memberi sambutan dengan Bahasa Inggris, yang entah apa artinya, saya tak paham.  Saat itu saya merasa seperti penonton bayaran saja, kalau audiens tertawa, saya ikut tertawa, dan kalau semua tepuk tangan, saya pun ikutan tepuk tangan.

Saya pikir kesialan ini sudah sampai pembukaan film saja, ternyata dugaan saya salah besar. Firasat saya sudah tidak enak sejak awal dan ternyata benar, film yang diputar menggunakan bahasa Arab, dan lebih sialnya lagi subtitle-nya menggunakan bahasa inggris dan kadang juga bahasa Arab.

Jadi, bukannya menikmati film, saya malah merasa sedang belajar mengaji seperti sebelas tahun silam. Alhasil, jangan tanya bagaimana kelanjutan film itu, sebab, belum benar-benar selesai diputar, saya memutuskan keluar ruangan layaknya orang habis kena tipu. Ternyata, dalam hal ini, meski ada subtitle-nya, tapi itu tidak dapat membantu apa-apa. Sial![T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya YUDI SETIAWAN

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: esaifestival filmfilmMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

40 Karya Made Kaek  dalam “Lines of Poetry” di Russ Gallery Canggu

Next Post

“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

"Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co