2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
September 21, 2023
in Esai
Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Pemutaran film dari Doha Film Institute di Minikino Film Week 2023 | Foto: Dok. tatkala.co

SELAIN berolahraga, menonton film juga menjadi hiburan alternatif, untuk hanya sekadar bersantai, menghilangkan rasa bosan atau melepaskan penat dengan rutinitas sehari-hari. Selain itu, menonton film juga dapat digunakan sebagai terapi, atau cinematherapy bagi penontonnya. Untuk sekadar informasi saja, cinematherapy merupakan proses penggunaan film-film layar lebar atau televisi untuk tujuan terapi kesehatan.

Menurut Gary Solomon, Ph.D, psikolog dari College of Southern Nevada, ketika menonton film, seseorang bisa meluapkan semua perasaannya, dari menangis, berteriak, hingga merenung tanpa mengkhawatirkan opini dan penilaian orang lain.

Film juga memungkinkan penontonnya ikut tenggelam ke dalam cerita, menjadi satu dengan tokoh, hingga memperoleh pesan yang terselip dalam cerita. Hal ini bisa membantu proses terapi kesehatan mental, dan memperoleh inspirasi positif untuk perkembangan diri.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan diatas, bagi saya, menonton film, selain menjadi sebuah hiburan, juga menjadi media belajar yang akhir-akhir ini saya gemari.

Di Singaraja, misalnya, terdapat platform Singaraja Menonton, yang fokus memutar film-film pendek, screening film dan workshop yang diinisiasi Kardian Narayana—saya lebih akrab memanggilnya Bang Cotex, yang belakangan saya tahu, selain seorang jurnalis Kompas TV, ia juga salah satu programer film Indonesia Raja.

Dari Singaraja Menonton, kegemaran saya menonton film dimulai. Karena, selain disuguhkan serial film yang barangkali tidak ada di Yutub maupun media sosial lainnya, di platform tersebut kami diberi kesempatan untuk menyempaikan penfasiran, kritik film, berbagi cerita, pengalaman, dan lain sebagainya.

Tapi, entah bagaimana ceritanya, ketika menonton film, luar negeri maupun film lokal, untuk sekarang, saya lebih fokus kepada subtitle-nya daripada visual grafiknya. Padahal, seingat saya, dulu waktu masih kecil, barangkali masih sekolah dasar, ketika menonton film saya hanya tertarik melihat visualnya saja.

Maka tak heran, dulu saya lebih hafal gerakan-gerakan kungfu yang ada pada film Shaolin Soccer (2001)—yang dibintangi Stephen Chow sekaligus merangkap sebagai sutradaranya itu—misalnya, daripada narasi yang disampaikan dalam film tersebut.

Atau gaya bertarung Takiya Genjie yang diperankan Shun Oguri pada serial film Crows Zero (2007) karya Hiroshi Takahashi lebih menarik untuk ditiru dari pada memahami alur ceritanya.

Namun, sepertinya siklus menonton film memang seperti itu. Ketika masih kecil, apa yang kita lihat di film seakan-akan adalah sebuah kahurusan yang harus ditiru. Saya masih ingat, dulu, waktu masih SMP, ketika keluar kelas atau jam pelajaran sedang kosong, kami sering melakukan tindakan yang diadaptasi dari film Punk In Love (2009) besutan Ody Harahap seperti, misal, ketika tokoh Arok yang diperankan Vino G Bastian sedang berkelahi, meniru gaya berpakaian Yoji, atau meniru gaya berbicara Mojo—yang meledak-ledak seperti orator ulung itu.

Sekarang, saya malah tidak mendapatkan perasaan itu. Perasaan untuk meniru, baik gaya berbicara maupun style-style tokoh yang ada pada film yang saya tonton. Saya lebih asik dengan, sekali lagi, subtitle-nya daripada visualnya.

Untuk ukuran orang awam seperti saya, orang yang tidak benar-benar mengerti—atau dalam bahasa Jawa nol putul—bahasa Inggris, membaca subtitle dapat sedikit membantu memahami apa arti dari film yang saya tonton. Sehingga, saya tidak mengalami kesalahan memaknai sebuah film. Meskipun ada juga orang-orang yang memang dapat memahami makna suatu film hanya dengan melihat visualnya saja.

Dulu, saya mengira, film Shaolin Soccer hanya sebatas film tentang permainan sepak bola, tetapi setelah saya menonton ulang, tentu menonton yang saya maksud di sini bukan sekadar melihat visualnya, melainkan fokus kepada subtitle-nya, ternyata film tersebut menceritakan kecurangan mafia-mafia bola dalam memainkan sebuah pertandingan dan penggunaan dopping dalam dunia sepak bola. Meskipun dalam film Shaolin Soccer juga banyak dibumbui dengan efek-efek yang menurut saya berlebihan.

Kesalahan selanjutnya, saya mengira film Crows Zero hanya sebuah perebutan penguasa sekolahan saja, tapi lebih daripada itu, ada informasi mengenai budaya Yakuza di Jepang dan permasalahan tentang cinta.

Juga tentang film Punk In Love, dulu saya mengiranya mereka hanya sekumpulan anak punk yang dalam istilah punk disebut “ngestreet” —melakukan perjalanan dengan cara nggandol di bak-bak truk yang lewat—melainkan tentang jati diri anak muda yang ingin terbebas dari segala peraturan dan sebuah tekat yang harus dibuktikan kepada orang yang dicintainya.

***

Soal film-film impor, yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asal film tersebut, saya memiliki kisah konyol yang terjadi baru-baru ini.

Saat ini saya sedang diajak salah seorang kawan untuk menghadiri salah satu festival film di Bali. Namanya Minikino Film Week-9 Bali International Short Film Festival. Salah satu tempatnya ada di MASH Denpasar di Jl. Pulau Madura No. 3, Denpasar Barat.

Karena acaranya berskala international, tentu filmmaker yang hadir bukan hanya orang Indonesia, tapi juga orang-orang dari luar negeri seperti Kanada, Iran, Korea Selatan, dan lain sebagainya. Dan sudah pasti, film yang diputar juga bukan hanya film yang menggunakan bahasa Indonesia, tapi juga menggunakan bahasa asal film tersebut.

Sehingga, benar saja, setelah beberapa hari menonton film, selama itu juga, saya lebih fokus menonton atau membaca subtitle-nya alih-alih menikmati sajian visualnya. Jadi, kalau sudah balik ke Singaraja, barangkali saya tidak akan bisa menceritakan adegan-adegan dalam film yang diputar dengan detail. Karena, selain tidak bisa bahasa Inggris dan bahasa lain di luar bahasa Indonesia, saya pikir—-setidaknya menurut saya—-memahami inti cerita dari sebuah film lebih menarik daripada hanya sebatas menikmati sajina visualnya, bukan.

Namun, rencana awal saya untuk fokus menonton subtitle itu ternyata tidak berjalan lancar. Mengingat, tidak semua film menggunakan subtitle bahasa Indonesia. Akhirnya, nasib lucu—atau lebih tepatnya sial itu—datang juga.

Begini, dalam serangkaian Minikino film week -9 ini, saya sempatkan menonton program film dari Doha Film Institute dan kebetulan filmmaker-nya hadir dalam pemutaran film tersebut—untuk memberi sambutan dengan Bahasa Inggris, yang entah apa artinya, saya tak paham.  Saat itu saya merasa seperti penonton bayaran saja, kalau audiens tertawa, saya ikut tertawa, dan kalau semua tepuk tangan, saya pun ikutan tepuk tangan.

Saya pikir kesialan ini sudah sampai pembukaan film saja, ternyata dugaan saya salah besar. Firasat saya sudah tidak enak sejak awal dan ternyata benar, film yang diputar menggunakan bahasa Arab, dan lebih sialnya lagi subtitle-nya menggunakan bahasa inggris dan kadang juga bahasa Arab.

Jadi, bukannya menikmati film, saya malah merasa sedang belajar mengaji seperti sebelas tahun silam. Alhasil, jangan tanya bagaimana kelanjutan film itu, sebab, belum benar-benar selesai diputar, saya memutuskan keluar ruangan layaknya orang habis kena tipu. Ternyata, dalam hal ini, meski ada subtitle-nya, tapi itu tidak dapat membantu apa-apa. Sial![T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya YUDI SETIAWAN

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: esaifestival filmfilmMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

40 Karya Made Kaek  dalam “Lines of Poetry” di Russ Gallery Canggu

Next Post

“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

"Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co