13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
September 21, 2023
in Esai
Menonton Film dan Fokus Membaca Subtitle

Pemutaran film dari Doha Film Institute di Minikino Film Week 2023 | Foto: Dok. tatkala.co

SELAIN berolahraga, menonton film juga menjadi hiburan alternatif, untuk hanya sekadar bersantai, menghilangkan rasa bosan atau melepaskan penat dengan rutinitas sehari-hari. Selain itu, menonton film juga dapat digunakan sebagai terapi, atau cinematherapy bagi penontonnya. Untuk sekadar informasi saja, cinematherapy merupakan proses penggunaan film-film layar lebar atau televisi untuk tujuan terapi kesehatan.

Menurut Gary Solomon, Ph.D, psikolog dari College of Southern Nevada, ketika menonton film, seseorang bisa meluapkan semua perasaannya, dari menangis, berteriak, hingga merenung tanpa mengkhawatirkan opini dan penilaian orang lain.

Film juga memungkinkan penontonnya ikut tenggelam ke dalam cerita, menjadi satu dengan tokoh, hingga memperoleh pesan yang terselip dalam cerita. Hal ini bisa membantu proses terapi kesehatan mental, dan memperoleh inspirasi positif untuk perkembangan diri.

Terlepas dari apa yang saya sampaikan diatas, bagi saya, menonton film, selain menjadi sebuah hiburan, juga menjadi media belajar yang akhir-akhir ini saya gemari.

Di Singaraja, misalnya, terdapat platform Singaraja Menonton, yang fokus memutar film-film pendek, screening film dan workshop yang diinisiasi Kardian Narayana—saya lebih akrab memanggilnya Bang Cotex, yang belakangan saya tahu, selain seorang jurnalis Kompas TV, ia juga salah satu programer film Indonesia Raja.

Dari Singaraja Menonton, kegemaran saya menonton film dimulai. Karena, selain disuguhkan serial film yang barangkali tidak ada di Yutub maupun media sosial lainnya, di platform tersebut kami diberi kesempatan untuk menyempaikan penfasiran, kritik film, berbagi cerita, pengalaman, dan lain sebagainya.

Tapi, entah bagaimana ceritanya, ketika menonton film, luar negeri maupun film lokal, untuk sekarang, saya lebih fokus kepada subtitle-nya daripada visual grafiknya. Padahal, seingat saya, dulu waktu masih kecil, barangkali masih sekolah dasar, ketika menonton film saya hanya tertarik melihat visualnya saja.

Maka tak heran, dulu saya lebih hafal gerakan-gerakan kungfu yang ada pada film Shaolin Soccer (2001)—yang dibintangi Stephen Chow sekaligus merangkap sebagai sutradaranya itu—misalnya, daripada narasi yang disampaikan dalam film tersebut.

Atau gaya bertarung Takiya Genjie yang diperankan Shun Oguri pada serial film Crows Zero (2007) karya Hiroshi Takahashi lebih menarik untuk ditiru dari pada memahami alur ceritanya.

Namun, sepertinya siklus menonton film memang seperti itu. Ketika masih kecil, apa yang kita lihat di film seakan-akan adalah sebuah kahurusan yang harus ditiru. Saya masih ingat, dulu, waktu masih SMP, ketika keluar kelas atau jam pelajaran sedang kosong, kami sering melakukan tindakan yang diadaptasi dari film Punk In Love (2009) besutan Ody Harahap seperti, misal, ketika tokoh Arok yang diperankan Vino G Bastian sedang berkelahi, meniru gaya berpakaian Yoji, atau meniru gaya berbicara Mojo—yang meledak-ledak seperti orator ulung itu.

Sekarang, saya malah tidak mendapatkan perasaan itu. Perasaan untuk meniru, baik gaya berbicara maupun style-style tokoh yang ada pada film yang saya tonton. Saya lebih asik dengan, sekali lagi, subtitle-nya daripada visualnya.

Untuk ukuran orang awam seperti saya, orang yang tidak benar-benar mengerti—atau dalam bahasa Jawa nol putul—bahasa Inggris, membaca subtitle dapat sedikit membantu memahami apa arti dari film yang saya tonton. Sehingga, saya tidak mengalami kesalahan memaknai sebuah film. Meskipun ada juga orang-orang yang memang dapat memahami makna suatu film hanya dengan melihat visualnya saja.

Dulu, saya mengira, film Shaolin Soccer hanya sebatas film tentang permainan sepak bola, tetapi setelah saya menonton ulang, tentu menonton yang saya maksud di sini bukan sekadar melihat visualnya, melainkan fokus kepada subtitle-nya, ternyata film tersebut menceritakan kecurangan mafia-mafia bola dalam memainkan sebuah pertandingan dan penggunaan dopping dalam dunia sepak bola. Meskipun dalam film Shaolin Soccer juga banyak dibumbui dengan efek-efek yang menurut saya berlebihan.

Kesalahan selanjutnya, saya mengira film Crows Zero hanya sebuah perebutan penguasa sekolahan saja, tapi lebih daripada itu, ada informasi mengenai budaya Yakuza di Jepang dan permasalahan tentang cinta.

Juga tentang film Punk In Love, dulu saya mengiranya mereka hanya sekumpulan anak punk yang dalam istilah punk disebut “ngestreet” —melakukan perjalanan dengan cara nggandol di bak-bak truk yang lewat—melainkan tentang jati diri anak muda yang ingin terbebas dari segala peraturan dan sebuah tekat yang harus dibuktikan kepada orang yang dicintainya.

***

Soal film-film impor, yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asal film tersebut, saya memiliki kisah konyol yang terjadi baru-baru ini.

Saat ini saya sedang diajak salah seorang kawan untuk menghadiri salah satu festival film di Bali. Namanya Minikino Film Week-9 Bali International Short Film Festival. Salah satu tempatnya ada di MASH Denpasar di Jl. Pulau Madura No. 3, Denpasar Barat.

Karena acaranya berskala international, tentu filmmaker yang hadir bukan hanya orang Indonesia, tapi juga orang-orang dari luar negeri seperti Kanada, Iran, Korea Selatan, dan lain sebagainya. Dan sudah pasti, film yang diputar juga bukan hanya film yang menggunakan bahasa Indonesia, tapi juga menggunakan bahasa asal film tersebut.

Sehingga, benar saja, setelah beberapa hari menonton film, selama itu juga, saya lebih fokus menonton atau membaca subtitle-nya alih-alih menikmati sajian visualnya. Jadi, kalau sudah balik ke Singaraja, barangkali saya tidak akan bisa menceritakan adegan-adegan dalam film yang diputar dengan detail. Karena, selain tidak bisa bahasa Inggris dan bahasa lain di luar bahasa Indonesia, saya pikir—-setidaknya menurut saya—-memahami inti cerita dari sebuah film lebih menarik daripada hanya sebatas menikmati sajina visualnya, bukan.

Namun, rencana awal saya untuk fokus menonton subtitle itu ternyata tidak berjalan lancar. Mengingat, tidak semua film menggunakan subtitle bahasa Indonesia. Akhirnya, nasib lucu—atau lebih tepatnya sial itu—datang juga.

Begini, dalam serangkaian Minikino film week -9 ini, saya sempatkan menonton program film dari Doha Film Institute dan kebetulan filmmaker-nya hadir dalam pemutaran film tersebut—untuk memberi sambutan dengan Bahasa Inggris, yang entah apa artinya, saya tak paham.  Saat itu saya merasa seperti penonton bayaran saja, kalau audiens tertawa, saya ikut tertawa, dan kalau semua tepuk tangan, saya pun ikutan tepuk tangan.

Saya pikir kesialan ini sudah sampai pembukaan film saja, ternyata dugaan saya salah besar. Firasat saya sudah tidak enak sejak awal dan ternyata benar, film yang diputar menggunakan bahasa Arab, dan lebih sialnya lagi subtitle-nya menggunakan bahasa inggris dan kadang juga bahasa Arab.

Jadi, bukannya menikmati film, saya malah merasa sedang belajar mengaji seperti sebelas tahun silam. Alhasil, jangan tanya bagaimana kelanjutan film itu, sebab, belum benar-benar selesai diputar, saya memutuskan keluar ruangan layaknya orang habis kena tipu. Ternyata, dalam hal ini, meski ada subtitle-nya, tapi itu tidak dapat membantu apa-apa. Sial![T]

Baca juga artikel terkait FILM atau tulisan menarik lainnya YUDI SETIAWAN

Elsy Grazia, Bloody Rose, dan Kemiskinan Menstruasi
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: esaifestival filmfilmMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

40 Karya Made Kaek  dalam “Lines of Poetry” di Russ Gallery Canggu

Next Post

“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

"Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co