13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raka Kusuma, Lebih Guru Dari Guru

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
August 13, 2023
in Esai
Raka Kusuma, Lebih Guru Dari Guru

Buku karya IDK Raka Kusuma

Jika seniman berkumpul pasti riuh oleh gonjakan: senda gurau dan canda tawa. Gunjingan berseliweran, nyaris tidak ada omongan pasti. Yang serius jadi bahan tertawaan. Tak peduli yang ngumpul itu penari, penabuh, perupa atau penyair. Raka Kusuma tentu sering hadir dalam obrolan tidak karuan itu, omong-omong tanpa ujung pangkal, tapi acap menjadi sumber inspirasi untuk menulis cerita atau syair.

Suatu hari Raka hadir di antara sobatnya kaum penyair di sebuah warung kopi dan tipat santok, juga menjual daluman berteman gula aren dan santan. Seorang penyajak berujar, “Kalau kita teratur makan tipat santok, lalu menyeruput kopi, berimbuh daluman, itu bisa menjadi obat kuat.”

Yang hadir terperanjat, menegakkan badan, menghentikan suapan, bahu terangkat, mata mendelik, pendengaran ditajamkan, walau sendok sudah di depan mulut, tipat siap masuk.

“Ah, yang bener saja. Memangnya bisa?” tanya seorang penyair.

“Sungguh, bisa…. obat kuat makan.”

Tawa pun berderai, ada yang misuh-misuh terkecoh, tapi Raka tidak. Dia tetap santai mengunyah sayur tipat santok. Tersenyum pun tidak, apalagi tertawa, ogah. Baginya itu sepotong kelucuan, lewat begitu saja, tak perlu disambut derai tawa.

Raka Kusuma dikenal tak pernah tersenyum, tertawa apalagi. Baginya seakan dua hal utama yang membahagiakan banyak orang itu urusan pribadi, tak usah diumbar. Mungkin itu sebabnya ia tak banyak omong, jadi sosok santun, pendiam, jauh dari perilaku berapi-api kendati rekan-rekan sesama pengarang mempersoalkan dan menggugat karya-karyanya. Ia tetap kalem, mencoba terus teduh, tak mencak-mencak karena karyanya diobok-obok rekan pesaing, sahabat berseterunya menulis puisi.

Banyak yang berniat sungguh-sungguh menulis puisi dan cerpen datang menimba pengalaman pada Raka, diterima dengan tenang dan teduh. Ia memang seorang guru, menafkahi keluarga dari gaji guru sekolah dasar. Sebagai guru puisi ia memberi arahan, ajakan, tidak perintah. Ia menyampaikan kesan, bukan penilaian. Wajar banyak yang berpendapat, Raka Kusuma itu guru sejati, tak hanya mengajar, lebih terasa mendidik dan menuntun. Ia sungguh-sungguh guru, bukan sekadar guru. Ia lebih guru dari guru, bukan cuma guru yang punya kelebihan.

Lahir dan dibesarkan di Klungkung, menggenapkan hidup di Karangasem, menjadikan bahasa Bali Raka prima dan bermutu. Misalnya, “lakar kija” (hendak ke mana) ditulis lengkap dan benar, tidak “kar kijo” seperti pengucapan di Badung, Denpasar atau Gianyar. Maka beruntunglah Raka, terbiasa menggunakan bahasa Bali langgam Klungkung dan irama Karangasem, yang lengkap, baik dan benar. Jika kita hendak menggunakan bahasa Bali dengan tertib, disiplin, dan teratur, sepantasnya membaca puisi dan cerpen Raka Kusuma.

Dalam penulisan cerpen, ia punya banyak pengikut, terutama dalam teknis penulisan di awal kisah dan tempo bercerita. Dalam cerpen berbahasa Bali yang berkiblat pada gaya Raka akan mudah kita temui cara bertutur yang pelan, mencoba ritmik, teratur, dan rapi. Ini kita kenal sebagai gaya bercerita yang belad, bahasa Bali yang berarti pelan, lamban, lambat. Kebanyakan cerita Bali memang mengalir belad, tenang-tenang saja, segawat apa pun yang diceritakan, tak pernah tergopoh-gopoh, ibarat gaya bertutur dongeng zaman lampau: tak perlu menggebu-gebu. Semakin belad jika disertai kilas balik. Tambah banyak kilas balik, semakin belad cerita itu.

Ini gaya bertutur khas Raka Kusuma yang digugat sahabatnya, karena dianggap tak membawa pembaharuan dalam bercerita, kuno, kolot, kentara jelas dalam kumpulan cerpennya Bégal (2012), yang memperoleh penghargaan Widya Pataka dari Pemprov Bali. Namun, Raka cuma manggut-manggut. Si sahabat tak puas cuma menerima tanggapan angguk-angguk, ia menyerang sengit, betapa Raka mewariskan gaya bertutur lamban dalam bercerita. Padahal cerpen berbahasa Bali bisa diramu menjadi dinamik, hidup, bersemangat, sehingga tampil cerdas dan penuh vitalitas. Gaya belad alon-alon ini terbawa-bawa kalau Raka menulis cerpen berbahasa Indonesia. Raka cuma menjawab lirih, “Ampunang anaké kéntenanga tiyang.” (Jangan dong saya diperlakukan seperti itu). Ia mengucapkan itu dengan melengos, mata berkedip-kedip perlahan.

Si penggugat tertawa kecil mendengar tanggapan memelas itu. Raka diam saja, tak merengut, tersenyum tidak, sewot juga tidak. Entahlah, ia kemudian berterus terang, jika menulis cerpen berbahasa Indonesia, ia tak cukup percaya diri bersaing dengan pengarang-pengarang lain. Di hari-hari lain, Raka justru menunggu kedatangan si sahabat, atau bertandang menemuinya. “Tiyang kangen sareng kritik ragané,” (Saya kangen sama kritikmu) sembari membawa oleh-oleh buku.

Ia sering memberi hadiah buku kepada siapa saja. Tak cuma buku karangannya, juga buku-buku penulis lain, khusus dibeli untuk dibagikan. Kepada seorang teman ia bertandang usai belanja di toko buku, menunjukkan kalau ia membeli beberapa buku terbitan terbaru. “Yén ragane kayun, durusang ambil.” (Kalau kamu mau, silakan ambil). Ia sampaikan itu dengan kalem, seakan memberi hadiah buku menjadi cita-cita hidupnya.

Karena kalem, Raka jadi sosok paling santun di antara pengarang Bali. Namun, ia selalu serius, selalu siap, dan suntuk kalau diajak berdebat. Ketika sekelompok orang hendak mengumpulkan dan berencana menerbitkan antologi cerpen terpilih berbahasa Bali untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Raka langsung menyodorkan catatan rinci nama-nama pengarang dan karyanya yang pantas dipertimbangkan. Siapa pun yang berniat mengetahui dan mendalami perkembangan sastra Bali modern memang harus mendatangi Raka. Ia pintu gerbang sastra Bali modern.

Pintu gerbang itu tertutup sudah kini. Raka Kusuma, lahir 21 November 1957, berpulang 5 Agustus 2023. Para sahabat dan kerabat yang mengantarkan keberangkatannya kembali ke asal, ketika ia diperabukan di krematorium Desa Sulang nan rindang, 8 Agustus 2023, sangat terkesan akan perannya sebagai perawat sastra.

Hati-hati di jalan pulang, Raka, lelaki langsing sepanjang hidup (teman-teman tak pernah melihat Raka gemuk), dengan rambut sosoh selalu tersisir rapi. Maafkan kami yang lancang mengajakmu bergurau ngobrol ngalor-ngidul, berolok-olok kangin-kauh, untuk melupakan himpitan beban ekonomi sebagai pengarang dan penekun sastra. Semoga kita bertemu lagi, bisa tetap riuh magonjakan, lucu-lucuan. [T]

  • BACA esai dan cerpen dari penulis GDE ARYANTHA SOETHAMA
Yang Menyalakan Aksara Sepanjang Jalan: Obituari Kecil IDK Raka Kusuma
In Memoriam | IDK Raka Kusuma dan Umbu
Selamat Jalan Sastrawan IDK Raka Kusuma
Tags: Gde Aryantha Soethamain memoriamsastraSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Next Post

Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co