2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raka Kusuma, Lebih Guru Dari Guru

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
August 13, 2023
in Esai
Raka Kusuma, Lebih Guru Dari Guru

Buku karya IDK Raka Kusuma

Jika seniman berkumpul pasti riuh oleh gonjakan: senda gurau dan canda tawa. Gunjingan berseliweran, nyaris tidak ada omongan pasti. Yang serius jadi bahan tertawaan. Tak peduli yang ngumpul itu penari, penabuh, perupa atau penyair. Raka Kusuma tentu sering hadir dalam obrolan tidak karuan itu, omong-omong tanpa ujung pangkal, tapi acap menjadi sumber inspirasi untuk menulis cerita atau syair.

Suatu hari Raka hadir di antara sobatnya kaum penyair di sebuah warung kopi dan tipat santok, juga menjual daluman berteman gula aren dan santan. Seorang penyajak berujar, “Kalau kita teratur makan tipat santok, lalu menyeruput kopi, berimbuh daluman, itu bisa menjadi obat kuat.”

Yang hadir terperanjat, menegakkan badan, menghentikan suapan, bahu terangkat, mata mendelik, pendengaran ditajamkan, walau sendok sudah di depan mulut, tipat siap masuk.

“Ah, yang bener saja. Memangnya bisa?” tanya seorang penyair.

“Sungguh, bisa…. obat kuat makan.”

Tawa pun berderai, ada yang misuh-misuh terkecoh, tapi Raka tidak. Dia tetap santai mengunyah sayur tipat santok. Tersenyum pun tidak, apalagi tertawa, ogah. Baginya itu sepotong kelucuan, lewat begitu saja, tak perlu disambut derai tawa.

Raka Kusuma dikenal tak pernah tersenyum, tertawa apalagi. Baginya seakan dua hal utama yang membahagiakan banyak orang itu urusan pribadi, tak usah diumbar. Mungkin itu sebabnya ia tak banyak omong, jadi sosok santun, pendiam, jauh dari perilaku berapi-api kendati rekan-rekan sesama pengarang mempersoalkan dan menggugat karya-karyanya. Ia tetap kalem, mencoba terus teduh, tak mencak-mencak karena karyanya diobok-obok rekan pesaing, sahabat berseterunya menulis puisi.

Banyak yang berniat sungguh-sungguh menulis puisi dan cerpen datang menimba pengalaman pada Raka, diterima dengan tenang dan teduh. Ia memang seorang guru, menafkahi keluarga dari gaji guru sekolah dasar. Sebagai guru puisi ia memberi arahan, ajakan, tidak perintah. Ia menyampaikan kesan, bukan penilaian. Wajar banyak yang berpendapat, Raka Kusuma itu guru sejati, tak hanya mengajar, lebih terasa mendidik dan menuntun. Ia sungguh-sungguh guru, bukan sekadar guru. Ia lebih guru dari guru, bukan cuma guru yang punya kelebihan.

Lahir dan dibesarkan di Klungkung, menggenapkan hidup di Karangasem, menjadikan bahasa Bali Raka prima dan bermutu. Misalnya, “lakar kija” (hendak ke mana) ditulis lengkap dan benar, tidak “kar kijo” seperti pengucapan di Badung, Denpasar atau Gianyar. Maka beruntunglah Raka, terbiasa menggunakan bahasa Bali langgam Klungkung dan irama Karangasem, yang lengkap, baik dan benar. Jika kita hendak menggunakan bahasa Bali dengan tertib, disiplin, dan teratur, sepantasnya membaca puisi dan cerpen Raka Kusuma.

Dalam penulisan cerpen, ia punya banyak pengikut, terutama dalam teknis penulisan di awal kisah dan tempo bercerita. Dalam cerpen berbahasa Bali yang berkiblat pada gaya Raka akan mudah kita temui cara bertutur yang pelan, mencoba ritmik, teratur, dan rapi. Ini kita kenal sebagai gaya bercerita yang belad, bahasa Bali yang berarti pelan, lamban, lambat. Kebanyakan cerita Bali memang mengalir belad, tenang-tenang saja, segawat apa pun yang diceritakan, tak pernah tergopoh-gopoh, ibarat gaya bertutur dongeng zaman lampau: tak perlu menggebu-gebu. Semakin belad jika disertai kilas balik. Tambah banyak kilas balik, semakin belad cerita itu.

Ini gaya bertutur khas Raka Kusuma yang digugat sahabatnya, karena dianggap tak membawa pembaharuan dalam bercerita, kuno, kolot, kentara jelas dalam kumpulan cerpennya Bégal (2012), yang memperoleh penghargaan Widya Pataka dari Pemprov Bali. Namun, Raka cuma manggut-manggut. Si sahabat tak puas cuma menerima tanggapan angguk-angguk, ia menyerang sengit, betapa Raka mewariskan gaya bertutur lamban dalam bercerita. Padahal cerpen berbahasa Bali bisa diramu menjadi dinamik, hidup, bersemangat, sehingga tampil cerdas dan penuh vitalitas. Gaya belad alon-alon ini terbawa-bawa kalau Raka menulis cerpen berbahasa Indonesia. Raka cuma menjawab lirih, “Ampunang anaké kéntenanga tiyang.” (Jangan dong saya diperlakukan seperti itu). Ia mengucapkan itu dengan melengos, mata berkedip-kedip perlahan.

Si penggugat tertawa kecil mendengar tanggapan memelas itu. Raka diam saja, tak merengut, tersenyum tidak, sewot juga tidak. Entahlah, ia kemudian berterus terang, jika menulis cerpen berbahasa Indonesia, ia tak cukup percaya diri bersaing dengan pengarang-pengarang lain. Di hari-hari lain, Raka justru menunggu kedatangan si sahabat, atau bertandang menemuinya. “Tiyang kangen sareng kritik ragané,” (Saya kangen sama kritikmu) sembari membawa oleh-oleh buku.

Ia sering memberi hadiah buku kepada siapa saja. Tak cuma buku karangannya, juga buku-buku penulis lain, khusus dibeli untuk dibagikan. Kepada seorang teman ia bertandang usai belanja di toko buku, menunjukkan kalau ia membeli beberapa buku terbitan terbaru. “Yén ragane kayun, durusang ambil.” (Kalau kamu mau, silakan ambil). Ia sampaikan itu dengan kalem, seakan memberi hadiah buku menjadi cita-cita hidupnya.

Karena kalem, Raka jadi sosok paling santun di antara pengarang Bali. Namun, ia selalu serius, selalu siap, dan suntuk kalau diajak berdebat. Ketika sekelompok orang hendak mengumpulkan dan berencana menerbitkan antologi cerpen terpilih berbahasa Bali untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Raka langsung menyodorkan catatan rinci nama-nama pengarang dan karyanya yang pantas dipertimbangkan. Siapa pun yang berniat mengetahui dan mendalami perkembangan sastra Bali modern memang harus mendatangi Raka. Ia pintu gerbang sastra Bali modern.

Pintu gerbang itu tertutup sudah kini. Raka Kusuma, lahir 21 November 1957, berpulang 5 Agustus 2023. Para sahabat dan kerabat yang mengantarkan keberangkatannya kembali ke asal, ketika ia diperabukan di krematorium Desa Sulang nan rindang, 8 Agustus 2023, sangat terkesan akan perannya sebagai perawat sastra.

Hati-hati di jalan pulang, Raka, lelaki langsing sepanjang hidup (teman-teman tak pernah melihat Raka gemuk), dengan rambut sosoh selalu tersisir rapi. Maafkan kami yang lancang mengajakmu bergurau ngobrol ngalor-ngidul, berolok-olok kangin-kauh, untuk melupakan himpitan beban ekonomi sebagai pengarang dan penekun sastra. Semoga kita bertemu lagi, bisa tetap riuh magonjakan, lucu-lucuan. [T]

  • BACA esai dan cerpen dari penulis GDE ARYANTHA SOETHAMA
Yang Menyalakan Aksara Sepanjang Jalan: Obituari Kecil IDK Raka Kusuma
In Memoriam | IDK Raka Kusuma dan Umbu
Selamat Jalan Sastrawan IDK Raka Kusuma
Tags: Gde Aryantha Soethamain memoriamsastraSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya

Next Post

Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Di Labuan Bajo Saya Menjalankan Tugas, Jalan-jalan, Belajar, dan Sembahyang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co