2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Obrolan Akar Rumput

Jaswanto by Jaswanto
July 13, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

“Saya pikir hal yang harus dilakukan adalah menikmati perjalanan saat kamu sedang melakukannya”.

ITU BUKAN kata saya, tapi kata John Christopher Depp II atau yang lebih dikenal dengan nama Johnny Depp, seorang aktor asal Amerika Serikat. Depp menjadi terkenal di serial televisi 1980 Jump Street. Kemudian, dia memperoleh peran film horor A Nightmare on Elm Street (1984) dan dalam komedi Private Resort (1985).

Deep juga terkenal di berbagai film seperti film Charlie and The Chocolate Factory sebagai Willy Wonka—waktu kecil saya menyebutnya “manusia coklat”. Pada 2004, dia bermain dalam film thriller psikologi Secret Window. Deep juga memerankan peran sebagai Jack Sparrow, tokoh utama dalam seri film Pirates of Carribean.

Tetapi saya tidak ingin membicarakan aktor yang gagal menjalin hubungan pernikahan itu—Deep menikah tiga kali, cerai tiga-tiganya. Saya hanya ingin bercerita tentang perjalanan saya ke Jogja tiga tahun lalu.

***

Semua berawal dari kebatalan mendaki Gunung Semeru bulan Desember 2020. Selain kouta pendakian sudah penuh, tampaknya Semeru juga sedang istirahat. Karena tidak bisa ke Semeru, saya putuskan untuk ke Jogja saja. Sudah lama rasanya saya tidak ke kota yang, kata penyair kita, Joko Pinurbo, “…terbuat dari rindu, pulang dan angkringan”.

Saya berangkat bersama Dziky, Alvi, dan adik saya, Jumain. Kami berempat menggendari dua motor. Motor menjadi pilihan—daripada bus atau kereta—karena kami merasa lebih bebas. Maksudnya kendali ada di kami. Kapan mau berhenti; kapan mau lanjut, itu sepenuhnya kehendak kami—karena kami adalah tipe orang yang senang menikmati perjalanan.

Seperti waktu itu, saat kami memasuki daerah Kasiman, Bojonegoro. Kami berhenti di sebuah warung kopi di pinggir jalan dekat persawahan yang baru saja ditanami padi.

Sengaja kami berhenti di warung kopi sederhana itu—yang tempat duduknya sudah reyot—karena kami yakin di situ bakal mendapat banyak hal. Dan benar, selain kami mendapat gorengan bakwan dan tempe mendoan yang enak, kami juga mendapat sambutan yang akrab oleh ibu pemilik warung dan warga lokal yang kebetulan juga nongkrong di sana.

Saat kami datang, ada seorang pemuda yang duduk di luar warung sambil menikmati secangkir kopi. Dia fokus bermain ML (Mobile Legends bukan Making Love). Sedangkan di dalam duduk seorang bapak bersama ibu pemilik warung. Sepertinya mereka suami istri.

Kami memilih duduk di dalam, di dekat bapak yang sendari tadi berbincang akrab dengan ibu warung. Layaknya warung kopi di kampung, kami duduk di kursi kayu panjang, menghadap meja yang di atasnya terdapat banyak santapan: gorengan, kerupuk, kacang, snack, air minum, dan santapan lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

“Monggo pinarak, Mas!” ibu pemilik warung menyambut kami ramah. “Bade pesen apa niki?”

Dziky dan Jumain pesan es teh. Sedangkan saya dan Alvi memilih mengambil air minum saja. Kami sejenak melepas lelah sambil menikmati rokok dan bakwan juga tempe goreng.

Bapak yang sendari duduk diam itu akhirnya bersuara. “Dari mana, Mas?”

“Kami dari Tuban, Pak. Mau ke Jawa Tengah, ke Solo,” jawab kami.

Sebelum bapak itu kembali berbicara, datang seorang bapak yang umurnya tampak sedikit lebih tua darinya. Bapak yang baru datang ini bertopi biru.

“Ini mas-mas dari mana?” Tanyanya.

“Teko Tuban, ape nang Solo,” bapak pemilik warung itu menjawab lebih dulu. Kami hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Wah, naik apa ini?”

“Kami naik motor, Pak.”

Kedua bapak itu mengangguk. Ibu warung yang sendari tadi sibuk menggoreng bakwan dan tempe akhirnya ikut nimbrung bersama kami.

“Tanggal 9 kemarin (Desember 2020) Tuban pemilihan bupati ya, Mas?”

“Nggih, Pak. Pilkada serentak,” jawab saya.

“Tuban itu hebat pas zamannya Bupati Haeny, Mas, yang dari Golkar. Jalan-jalan dibikin bagus. Halus.”

Saya tersenyum. Ah, memang benar. Penilaian orang desa terhadap pemimpinnya itu tak muluk-muluk. Baik-buruknya pemimpin itu dinilai dari bangunan fisik. Ada bupati membangun jalan raya berarti dia baik, hebat—walaupun misalnya di sektor yang lain tak ada yang btersentuh sama sekali. Hanya dengan jalan bagus maka seorang bupati sudah mendapat predikat “hebat” dari rakyat. Sesederhana itu, sepolos itu.

Tapi saya membenarkan hal tersebut. Lalu saya bercerita: pada saat Tuban dipimpin Haeny Relawati Rini Widyastuti dua periode (2001-2011), banyak orang desa (akar rumput), termasuk orang desa saya, yang mengelu-elukannya.

“Sekitar tahun 2009-2010, yang jelas saya masih SMP waktu itu, Pak, Bupati Haeny membangun PDAM di desa saya. Orang-orang desa bergembira menyambutnya—dan semakin mencintai sosoknya. Banyak orang mengakui bahwa di zaman Bupati Haeny, infrastruktur Tuban banyak mengalami peningkatan,” saya bercerita sambil sesekali mengisap rokok. Orang-orang di warung tampak antusias.

“Tapi sempet geger itu ya Mas, kalau nggak salah, waktu pemilihan Bu Haeny yang kedua kalinya?” Tanya bapak pemilik warung, memastikan.

Ya, saya masih ingat, pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Tuban 2006–2011, saat Haeny Relawati kembali mencalonkan diri menjadi Bupati Tuban dengan menggandeng Lilik Soehardjono dan mampu mengalahkan pasangan Ir. Noor Nahar Hussein-Go Tjong Ping (NoGo) yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), politik Tuban membara. PilkadaTuban 2006 berbuntut rusuh. Kantor KPU dan Pendopo Pemkab Tuban dibakar massa pendukung calon bupati yang kalah.

“Sekarang ini anaknya Bu Haeny yang jadi bupati, Pak,” kata Dziky.

Ibu warung dan kedua bapak itu mengangguk seakan sejutu Lindra menjadi Bupati Tuban—walaupun mereka warga Bojonegoro.

Kemudian saya membatin: setidak-tidaknya saya sadar bahwa saat ini kita hidup dalam kenyataan yang telah terdistorsi—rasanya ngeri bila berpikir bahwa banyak orang masih tidak menyadari kepalsuan yang disuguhkan di depan mata mereka, namun tetap menganggap itu semua nyata dan baik-baik saja.

Pada Pilkada Tuban 2020 saya nyaris membuat onar. Waktu itu saya menulis esai pendek tentang serangan fajar (money politic) yang dilakukan oleh salah satu calon bupati. Saya menulis itu setelah salah seorang tim sukses memberikan uang kepada keluarga saya.

Tulisan itu kemudian saya sebar ke grub-grub WA yang terdapat anak-anak muda Tuban. Dan entah bagaimana ceritanya, tulisan pendek itu sampai di tangan tim sukses calon bupati tersebut dan salah seorang anggota Bawaslu Tuban. Maka kejadian selanjutnya sudah dapat ditebak, malam-malam saya mendapat banyak telpon. Dan ironisnya, saya menghapus tulisan tersebut dan saya kembali ke Singaraja

***

Karena tidak ingin berbicara politik, Dziky menanyakan tentang pertanian.

“Kalau di sini tanamannya macam-macam, Mas. Tapi biasanya ya cabai, tomat, padi, jagung itu. Cabai mahal sekarang, Mas,” jelas bapak bertopi biru.

“Di tempat saya cabai pernah sangat murah, Pak. Sekilo cuma seribu lima ratus.”

“Dulu di sini juga begitu, Mas. Sampai terbuang-buang—karena nggak laku. Nasib wong tani, Mas. Ya hanya bisa menerima saja. Mau mengadu juga mengadu ke mana. Jadi ya pasrah sajalah.”

Saya hanya bisa tersenyum getir mendengar itu. Keluarga saya petani. Jadi saya merasakan betul apa yang mereka rasakan.

Sampai di sini saya teringat tulisan budayawan Pati, Anis Sholeh Ba’asyin, di Panji Masyarakat: Rasanya rakyat negeri ini sudah sah menyandang status yatim piatu. Tak lagi punya sosok yang begitu kasih melindungi dan mengembangkan. Yang tersisa, tinggal orang-orang asing. Sebagian kecil mungkin masih mendesiskan rasa kasihan meski tak bisa berbuat apa-apa, namun yang lain sepertinya tidak lagi punya kepedulian tentang apapun yang mereka alami, apalagi yang mereka rasakan. Jadi, agak berlebihan bila mengharap akan ada mata yang tertusuk derita mereka, telinga yang tergetar keluh kesah mereka, hati yang terguncang sumpah serapah dan doa-doa mereka.

Meski banyak yang lantas mencoba bermain peran selayaknya “ayah-ibu” yang bertindak demi dan atas nama “anak-anaknya”; namun, dengan satu dan lain cara, ini semua diam-diam malah makin meyakinkan rakyat bahwa sebenarnya tak pernah ada yang serius memikirkan mereka.

Yang mereka tonton justru para pemimpin, dari nasional sampai lokal, yang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Lembaga-lembaga negara dan pemerintahan yang sibuk mengorupsi dirinya sendiri. Tak salah bila pada akhirnya mereka merasa sekadar menjadi slilit yang ketlingsut dikegaduhan retorika dan tumpukan hitung-hitungan.

Entahlah. Walaupun segalanya tampak begitu rumit, mendengar ketabahan rakyat akar rumput ini membuat saya sadar bahwa rakyat Indonesia ini memang selalu memiliki pikiran sederhana. Tabah, pasrah, ngalahan, dan neriman.

Tetapi memang begitu seharusnya. Seperti kata Pakde Prie GS: Jika keadaan telah begitu rumit masuklah dalam hukum kesederhanaan.

***

Hari semakin siang, waktu itu kami harus segera melanjutkan perjalanan. Setelah menyantap banyak gorengan dan mendengarkan obrolan akar rumput, kami membayar dan berpamitan.

“Matur suwun, Bu,” ucap kami. “Monggo, Pak-Bu.”

“Monggo-monggo. Hati-hati, Mas.”

Di atas motor saya teringat kata-kata Johnny Depp di awal: “Saya pikir hal yang harus dilakukan adalah menikmati perjalanan saat kamu sedang melakukannya”. Dan kami sudah menikmatinya, Depp.

Motor kami meluncur menuju Ngawi.[T]

Suatu Hari di Awal Juli 2023
Diskusi Dini Hari Bersama Bang Onang
Singaraja, Sebuah “Kutukan”
(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang
Menyepi Bersama Kata-kata
Tags: esaikolomperjalananPolitikrakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Menganyam Tikar Pandan di Desa Tumbu, Tradisi yang Bertahan Menghidupi Warga

Next Post

Barisan Keikhlasan Pembawa Rindu

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Barisan Keikhlasan Pembawa Rindu

Barisan Keikhlasan Pembawa Rindu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co