2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pencarian Ibu Hanya Bisa Kau Temukan Jika Kau Menerima Anak-anak Tanpa Memikirkan Mereka Siapa

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
December 22, 2022
in Esai
Pencarian Ibu Hanya Bisa Kau Temukan Jika Kau Menerima Anak-anak  Tanpa Memikirkan Mereka Siapa

Foto ilustrasi: penulis dan anaknya

PERTANYAAN-PERTANYAAN milik Ibu. Pada salah satu hari, saya mendengarkan keluhan milik Ibu I. Katanya, anak-anak tak mengerti perasaannya, kenapa kami tak merasakan kehilangannya karena membiarkan bapak pergi. Jadi ia kehilangan dirinya sebagai ibu.

Sementara di lain hari, saya mendengarkan Ibu II berkeluh tentang kami. Katanya, pada akhirnya kami akan pergi juga, sebab rahimnya tak sekalipun pernah kami pinjam untuk ditinggali. Jadi ia tak merasakan kehadirannya sebagai ibu.  

Tiba hari lain, Ibu III kukunjungi. Dalam percakapan kami, katanya perasaan ia menjadi ibu terasa tak lengkap, sebab tak ada satu pun tangis bayi laki-laki memenuhi hari-harinya. Maka, orang-orang menyebutnya tak sempurna sebagai ibu.

Begitu setiap hari para ibu dalam kehidupan saya mengulang kehilangan dirinya sebagai seorang ibu. Setiap hari, dalam pikiran, tak pernah terbayang bagaimana kelak saya mesti menjadi ibu untuk diri sendiri, anak-anak, dan orang lain dalam hidup saya.

Kehilangan-kehilangan sebagai ibu saya temukan dimana-mana. Dalam perjalananannya kemudian, satu-dua ibu yang saya temui memberi jawaban. Adalah cara-cara mereka bersyukur dari perasaan tak memiliki atau kehilangannya. Jadi, saya simpan itu buat diri sendiri.

Saat banyak ibu meminta didengar atas rasa kehilangannya, di ruang belajar seperti sekolah, beberapa guru perempuan suka membuka diri dan menawarkan dirinya sebagai ibu.

“Nak, kalau ada masalah ayo cerita. Ibu adalah ibu dan orangtua kamu di sekolah,” kata mereka di sekolah.

Bagi saya, ibu di sekolah inilah yang pertama menawarkan dirinya untuk menjadi ibu yang mendengarkan anak-anak seperti saya, yang kehilangan ibu di rumahnya.

Tiba hari pernikahan, Ibu IV hadir. Ibu yang setiap waktu memberikan banyak pertanyaan dan mengajari saya untuk menjadi ibu sepertinya. Sebab katanya, ia merasakan dirinya sebagai ibu. Namun, tubuh dan pikiran saya menolaknya. Sebab saya tak pernah mendapat cara-cara ibu demikian sebelumnya.

Tiba hari persalinan, orang-orang memanggil dan menamai saya ibu dengan syarat-syarat pasti. Cara saya bangun, cara saya berkata, cara saya menjawab sesuatu, cara saya berpakaian dan memilih tempat-tempat untuk pergi. Setelahnya, saya juga kehilangan perasaan menjadi ibu kemudian. Sebab segala sesuatunya tiba-tiba menjadi keinginan banyak orang. Saya merasa kehilangan ibu dalam diri.

Kapan kesempatan ibu merasakan dirinya menjadi ibu?

Barangkali, pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh masing-masing ibu. Juga pada saya kemudian. Jadi ini bukan persoalan rahim. Kau mengasuhnya atau tidak, lelaki atau perempuankah yang lahir dari rahimmu, atau kau dipanggil ibu atau tidak. Tentu saja bukan hal-hal semacam itu yang menjadikan mereka ibu.

Setelah menemukan banyak kehilangan rasa menjadi ibu, dua tahun belakangan mulai terpikirkan setiap hari kata-kata ibu justru sering hadir jadi sapaan. Bahkan di hari minggu sekalipun. Bagi guru seperti saya, kata-kata Ibu/Bu Guru adalah persoalan tanggungjawab menjadi ibu dan menjadi guru. Dua hal itu adalah persoalan berbeda yang dilekatkan dalam dunia pendidikan.

Satu sisi saya berkewajiban mengasuh pertumbuhan siswa-siswa ini layaknya anak sendiri. Sisi lainnya, saya juga bertanggungjawab memeberinya pendidikan yang baik tentang hal-hal diluar yang mampu diberikan di rumah mereka masing-masing.

Ini akan menuju tahun keenam saya menyandang status Ibu Guru. Setiap tahunnya, paling tidak ada seribu tiga ratusan anak yang semestinya terdidik dan terasuh. Tiga puluh tujuh siswa yang wajib berhasil terdidik dan terasuh, sebelum tiba tahun mendatang, anak lain dengan jumlah yang sama merengek minta diasuh dan dididik. Tetapi tentu semua itu adalah hal yang mustahil untuk berhasil.

Menjadi guru adalah teladan. Pantang mengatakan tidak mampu sebelum mencobanya. Tahun demi tahun adalah waktu berlatih mencapai sempurna untuk belajar menjadi Ibu guru. Jadi selama perjalanan itu, saya berhasil pula menemukan jawaban atas perasaan kehilangan menjadi ibu kemudian.

Hari Senin, seorang anak dalam kelas asuhan saya masuk ruang BK. Laporan yang masuk dan tersebar kasusnya adalah postingan media sosial. Ia memposting kemesraannya dengan teman dekatnya yang disebut kekasihnya. Jadi salahnya di mana?

Anak itu saya ajak bicara. Dengan perasaan marah, tangan dan matanya bergetar, airmatanya jatuh. Ia menggigit ujung bibirnya dan tangannya mengepal kuat. Anak itu ketakutan. Ada sesuatu yang disembunyikan. Saya diamkan, kemudian keluar sekolah, jalan ke sebuah rumah makan cepat saji, sambil memberinya ucapan selamat ulang tahun. Anak itu kemudian mengatakan sesuatu. Katanya dalam lirih dan hati-hati.

“Saat saya ketakutan. Saya berlari pada bapak, bapak memukul saya tanpa mendegarkan. Kemudian saya berlari pada kakak, ia menolak saya dan suaminya melecehkan saya. Saya hendak mengadu pada ibu, tetapi ibu selalu ingin pergi dari setiap hal tentang saya yang perempuan. Masa kanak saya adalah rumah utama ketakutan saya yang berlari mencari telinga untuk mau mendengarkan saya,” jelasnya.

Cerita di atas adalah satu dari ratusan anak selama menuju enam tahun saya menjadi ibu guru. Ada anak yang bersembunyi, sebab ibunya selalu pergi dan datang dengan bapak baru, ada anak yang berlindung berlarian kesana-kemari sebab ibu memaksanya duduk diantara lampu remang dan bujuk-bujuk lelaki hidung belang.

Hari ini, semua orang mungkin telah siap mengakui bahwa mereka sebenarnya telah kehilangan anak-anaknya yang membuatnya kehilangan diri sebagai orangtua. Karena cerminan ibu I,II, atau III yang saya sebutkan tadi, adalah gambaran penyebab sederhananya. Mereka lupa belajar bertanya dan mendengarkan anak-anaknya. Jadi anak-anak lari pada kasih sayang yang imajinatif dan manipulatif dari tontonan-tontonan yang melampaui usianya. Itu alasan kenapa anak-anak suka berpaling meninggalkan kita orangtuanya.

Catatan ini adalah sedikit perasaan saya yang seorang ibu dan guru. Barangkali ibu/atau perempuan dalam catatan ini tampak seperti penjahat. Tetapi tentu bukan itu maksudnya. Hal-hal yang saya katakan adalah catatan perjalanan pencarian jati diri hakikat menjadi ibu bagi diri saya sendiri.

 Saya telah menjadi ibu sejak masa kanak saya, sejak ibu melahirkan saya sebagai perempuan. Menjadi ibu adalah mendengarkan dengan baik, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tak menemui titik akhir. Karena sejatinya, anak-anak yang lahir dari siapapun adalah awal dan akhir perjalanan menjadi ibu. Karena hanya jika kita terlahir menjadi perempuan, anak-anak akan pulang dan mencari peluk pertama ibu.

Selamat merayakan hari ibu untuk seluruh perempuan dalam hati dan jiwanya yang penuh cinta-kasih. [T]

Memuliakan Perempuan Bukan Hanya di Hari Ibu
Hari Ibu Bagi Anak yang Tak Tahu Ibu
Tags: anak-anakHari IbuPerempuanrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Next Post

Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co