23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pencarian Ibu Hanya Bisa Kau Temukan Jika Kau Menerima Anak-anak Tanpa Memikirkan Mereka Siapa

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
December 22, 2022
in Esai
Pencarian Ibu Hanya Bisa Kau Temukan Jika Kau Menerima Anak-anak  Tanpa Memikirkan Mereka Siapa

Foto ilustrasi: penulis dan anaknya

PERTANYAAN-PERTANYAAN milik Ibu. Pada salah satu hari, saya mendengarkan keluhan milik Ibu I. Katanya, anak-anak tak mengerti perasaannya, kenapa kami tak merasakan kehilangannya karena membiarkan bapak pergi. Jadi ia kehilangan dirinya sebagai ibu.

Sementara di lain hari, saya mendengarkan Ibu II berkeluh tentang kami. Katanya, pada akhirnya kami akan pergi juga, sebab rahimnya tak sekalipun pernah kami pinjam untuk ditinggali. Jadi ia tak merasakan kehadirannya sebagai ibu.  

Tiba hari lain, Ibu III kukunjungi. Dalam percakapan kami, katanya perasaan ia menjadi ibu terasa tak lengkap, sebab tak ada satu pun tangis bayi laki-laki memenuhi hari-harinya. Maka, orang-orang menyebutnya tak sempurna sebagai ibu.

Begitu setiap hari para ibu dalam kehidupan saya mengulang kehilangan dirinya sebagai seorang ibu. Setiap hari, dalam pikiran, tak pernah terbayang bagaimana kelak saya mesti menjadi ibu untuk diri sendiri, anak-anak, dan orang lain dalam hidup saya.

Kehilangan-kehilangan sebagai ibu saya temukan dimana-mana. Dalam perjalananannya kemudian, satu-dua ibu yang saya temui memberi jawaban. Adalah cara-cara mereka bersyukur dari perasaan tak memiliki atau kehilangannya. Jadi, saya simpan itu buat diri sendiri.

Saat banyak ibu meminta didengar atas rasa kehilangannya, di ruang belajar seperti sekolah, beberapa guru perempuan suka membuka diri dan menawarkan dirinya sebagai ibu.

“Nak, kalau ada masalah ayo cerita. Ibu adalah ibu dan orangtua kamu di sekolah,” kata mereka di sekolah.

Bagi saya, ibu di sekolah inilah yang pertama menawarkan dirinya untuk menjadi ibu yang mendengarkan anak-anak seperti saya, yang kehilangan ibu di rumahnya.

Tiba hari pernikahan, Ibu IV hadir. Ibu yang setiap waktu memberikan banyak pertanyaan dan mengajari saya untuk menjadi ibu sepertinya. Sebab katanya, ia merasakan dirinya sebagai ibu. Namun, tubuh dan pikiran saya menolaknya. Sebab saya tak pernah mendapat cara-cara ibu demikian sebelumnya.

Tiba hari persalinan, orang-orang memanggil dan menamai saya ibu dengan syarat-syarat pasti. Cara saya bangun, cara saya berkata, cara saya menjawab sesuatu, cara saya berpakaian dan memilih tempat-tempat untuk pergi. Setelahnya, saya juga kehilangan perasaan menjadi ibu kemudian. Sebab segala sesuatunya tiba-tiba menjadi keinginan banyak orang. Saya merasa kehilangan ibu dalam diri.

Kapan kesempatan ibu merasakan dirinya menjadi ibu?

Barangkali, pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh masing-masing ibu. Juga pada saya kemudian. Jadi ini bukan persoalan rahim. Kau mengasuhnya atau tidak, lelaki atau perempuankah yang lahir dari rahimmu, atau kau dipanggil ibu atau tidak. Tentu saja bukan hal-hal semacam itu yang menjadikan mereka ibu.

Setelah menemukan banyak kehilangan rasa menjadi ibu, dua tahun belakangan mulai terpikirkan setiap hari kata-kata ibu justru sering hadir jadi sapaan. Bahkan di hari minggu sekalipun. Bagi guru seperti saya, kata-kata Ibu/Bu Guru adalah persoalan tanggungjawab menjadi ibu dan menjadi guru. Dua hal itu adalah persoalan berbeda yang dilekatkan dalam dunia pendidikan.

Satu sisi saya berkewajiban mengasuh pertumbuhan siswa-siswa ini layaknya anak sendiri. Sisi lainnya, saya juga bertanggungjawab memeberinya pendidikan yang baik tentang hal-hal diluar yang mampu diberikan di rumah mereka masing-masing.

Ini akan menuju tahun keenam saya menyandang status Ibu Guru. Setiap tahunnya, paling tidak ada seribu tiga ratusan anak yang semestinya terdidik dan terasuh. Tiga puluh tujuh siswa yang wajib berhasil terdidik dan terasuh, sebelum tiba tahun mendatang, anak lain dengan jumlah yang sama merengek minta diasuh dan dididik. Tetapi tentu semua itu adalah hal yang mustahil untuk berhasil.

Menjadi guru adalah teladan. Pantang mengatakan tidak mampu sebelum mencobanya. Tahun demi tahun adalah waktu berlatih mencapai sempurna untuk belajar menjadi Ibu guru. Jadi selama perjalanan itu, saya berhasil pula menemukan jawaban atas perasaan kehilangan menjadi ibu kemudian.

Hari Senin, seorang anak dalam kelas asuhan saya masuk ruang BK. Laporan yang masuk dan tersebar kasusnya adalah postingan media sosial. Ia memposting kemesraannya dengan teman dekatnya yang disebut kekasihnya. Jadi salahnya di mana?

Anak itu saya ajak bicara. Dengan perasaan marah, tangan dan matanya bergetar, airmatanya jatuh. Ia menggigit ujung bibirnya dan tangannya mengepal kuat. Anak itu ketakutan. Ada sesuatu yang disembunyikan. Saya diamkan, kemudian keluar sekolah, jalan ke sebuah rumah makan cepat saji, sambil memberinya ucapan selamat ulang tahun. Anak itu kemudian mengatakan sesuatu. Katanya dalam lirih dan hati-hati.

“Saat saya ketakutan. Saya berlari pada bapak, bapak memukul saya tanpa mendegarkan. Kemudian saya berlari pada kakak, ia menolak saya dan suaminya melecehkan saya. Saya hendak mengadu pada ibu, tetapi ibu selalu ingin pergi dari setiap hal tentang saya yang perempuan. Masa kanak saya adalah rumah utama ketakutan saya yang berlari mencari telinga untuk mau mendengarkan saya,” jelasnya.

Cerita di atas adalah satu dari ratusan anak selama menuju enam tahun saya menjadi ibu guru. Ada anak yang bersembunyi, sebab ibunya selalu pergi dan datang dengan bapak baru, ada anak yang berlindung berlarian kesana-kemari sebab ibu memaksanya duduk diantara lampu remang dan bujuk-bujuk lelaki hidung belang.

Hari ini, semua orang mungkin telah siap mengakui bahwa mereka sebenarnya telah kehilangan anak-anaknya yang membuatnya kehilangan diri sebagai orangtua. Karena cerminan ibu I,II, atau III yang saya sebutkan tadi, adalah gambaran penyebab sederhananya. Mereka lupa belajar bertanya dan mendengarkan anak-anaknya. Jadi anak-anak lari pada kasih sayang yang imajinatif dan manipulatif dari tontonan-tontonan yang melampaui usianya. Itu alasan kenapa anak-anak suka berpaling meninggalkan kita orangtuanya.

Catatan ini adalah sedikit perasaan saya yang seorang ibu dan guru. Barangkali ibu/atau perempuan dalam catatan ini tampak seperti penjahat. Tetapi tentu bukan itu maksudnya. Hal-hal yang saya katakan adalah catatan perjalanan pencarian jati diri hakikat menjadi ibu bagi diri saya sendiri.

 Saya telah menjadi ibu sejak masa kanak saya, sejak ibu melahirkan saya sebagai perempuan. Menjadi ibu adalah mendengarkan dengan baik, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tak menemui titik akhir. Karena sejatinya, anak-anak yang lahir dari siapapun adalah awal dan akhir perjalanan menjadi ibu. Karena hanya jika kita terlahir menjadi perempuan, anak-anak akan pulang dan mencari peluk pertama ibu.

Selamat merayakan hari ibu untuk seluruh perempuan dalam hati dan jiwanya yang penuh cinta-kasih. [T]

Memuliakan Perempuan Bukan Hanya di Hari Ibu
Hari Ibu Bagi Anak yang Tak Tahu Ibu
Tags: anak-anakHari IbuPerempuanrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Next Post

Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co