2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pencarian Ibu Hanya Bisa Kau Temukan Jika Kau Menerima Anak-anak Tanpa Memikirkan Mereka Siapa

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
December 22, 2022
in Esai
Pencarian Ibu Hanya Bisa Kau Temukan Jika Kau Menerima Anak-anak  Tanpa Memikirkan Mereka Siapa

Foto ilustrasi: penulis dan anaknya

PERTANYAAN-PERTANYAAN milik Ibu. Pada salah satu hari, saya mendengarkan keluhan milik Ibu I. Katanya, anak-anak tak mengerti perasaannya, kenapa kami tak merasakan kehilangannya karena membiarkan bapak pergi. Jadi ia kehilangan dirinya sebagai ibu.

Sementara di lain hari, saya mendengarkan Ibu II berkeluh tentang kami. Katanya, pada akhirnya kami akan pergi juga, sebab rahimnya tak sekalipun pernah kami pinjam untuk ditinggali. Jadi ia tak merasakan kehadirannya sebagai ibu.  

Tiba hari lain, Ibu III kukunjungi. Dalam percakapan kami, katanya perasaan ia menjadi ibu terasa tak lengkap, sebab tak ada satu pun tangis bayi laki-laki memenuhi hari-harinya. Maka, orang-orang menyebutnya tak sempurna sebagai ibu.

Begitu setiap hari para ibu dalam kehidupan saya mengulang kehilangan dirinya sebagai seorang ibu. Setiap hari, dalam pikiran, tak pernah terbayang bagaimana kelak saya mesti menjadi ibu untuk diri sendiri, anak-anak, dan orang lain dalam hidup saya.

Kehilangan-kehilangan sebagai ibu saya temukan dimana-mana. Dalam perjalananannya kemudian, satu-dua ibu yang saya temui memberi jawaban. Adalah cara-cara mereka bersyukur dari perasaan tak memiliki atau kehilangannya. Jadi, saya simpan itu buat diri sendiri.

Saat banyak ibu meminta didengar atas rasa kehilangannya, di ruang belajar seperti sekolah, beberapa guru perempuan suka membuka diri dan menawarkan dirinya sebagai ibu.

“Nak, kalau ada masalah ayo cerita. Ibu adalah ibu dan orangtua kamu di sekolah,” kata mereka di sekolah.

Bagi saya, ibu di sekolah inilah yang pertama menawarkan dirinya untuk menjadi ibu yang mendengarkan anak-anak seperti saya, yang kehilangan ibu di rumahnya.

Tiba hari pernikahan, Ibu IV hadir. Ibu yang setiap waktu memberikan banyak pertanyaan dan mengajari saya untuk menjadi ibu sepertinya. Sebab katanya, ia merasakan dirinya sebagai ibu. Namun, tubuh dan pikiran saya menolaknya. Sebab saya tak pernah mendapat cara-cara ibu demikian sebelumnya.

Tiba hari persalinan, orang-orang memanggil dan menamai saya ibu dengan syarat-syarat pasti. Cara saya bangun, cara saya berkata, cara saya menjawab sesuatu, cara saya berpakaian dan memilih tempat-tempat untuk pergi. Setelahnya, saya juga kehilangan perasaan menjadi ibu kemudian. Sebab segala sesuatunya tiba-tiba menjadi keinginan banyak orang. Saya merasa kehilangan ibu dalam diri.

Kapan kesempatan ibu merasakan dirinya menjadi ibu?

Barangkali, pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh masing-masing ibu. Juga pada saya kemudian. Jadi ini bukan persoalan rahim. Kau mengasuhnya atau tidak, lelaki atau perempuankah yang lahir dari rahimmu, atau kau dipanggil ibu atau tidak. Tentu saja bukan hal-hal semacam itu yang menjadikan mereka ibu.

Setelah menemukan banyak kehilangan rasa menjadi ibu, dua tahun belakangan mulai terpikirkan setiap hari kata-kata ibu justru sering hadir jadi sapaan. Bahkan di hari minggu sekalipun. Bagi guru seperti saya, kata-kata Ibu/Bu Guru adalah persoalan tanggungjawab menjadi ibu dan menjadi guru. Dua hal itu adalah persoalan berbeda yang dilekatkan dalam dunia pendidikan.

Satu sisi saya berkewajiban mengasuh pertumbuhan siswa-siswa ini layaknya anak sendiri. Sisi lainnya, saya juga bertanggungjawab memeberinya pendidikan yang baik tentang hal-hal diluar yang mampu diberikan di rumah mereka masing-masing.

Ini akan menuju tahun keenam saya menyandang status Ibu Guru. Setiap tahunnya, paling tidak ada seribu tiga ratusan anak yang semestinya terdidik dan terasuh. Tiga puluh tujuh siswa yang wajib berhasil terdidik dan terasuh, sebelum tiba tahun mendatang, anak lain dengan jumlah yang sama merengek minta diasuh dan dididik. Tetapi tentu semua itu adalah hal yang mustahil untuk berhasil.

Menjadi guru adalah teladan. Pantang mengatakan tidak mampu sebelum mencobanya. Tahun demi tahun adalah waktu berlatih mencapai sempurna untuk belajar menjadi Ibu guru. Jadi selama perjalanan itu, saya berhasil pula menemukan jawaban atas perasaan kehilangan menjadi ibu kemudian.

Hari Senin, seorang anak dalam kelas asuhan saya masuk ruang BK. Laporan yang masuk dan tersebar kasusnya adalah postingan media sosial. Ia memposting kemesraannya dengan teman dekatnya yang disebut kekasihnya. Jadi salahnya di mana?

Anak itu saya ajak bicara. Dengan perasaan marah, tangan dan matanya bergetar, airmatanya jatuh. Ia menggigit ujung bibirnya dan tangannya mengepal kuat. Anak itu ketakutan. Ada sesuatu yang disembunyikan. Saya diamkan, kemudian keluar sekolah, jalan ke sebuah rumah makan cepat saji, sambil memberinya ucapan selamat ulang tahun. Anak itu kemudian mengatakan sesuatu. Katanya dalam lirih dan hati-hati.

“Saat saya ketakutan. Saya berlari pada bapak, bapak memukul saya tanpa mendegarkan. Kemudian saya berlari pada kakak, ia menolak saya dan suaminya melecehkan saya. Saya hendak mengadu pada ibu, tetapi ibu selalu ingin pergi dari setiap hal tentang saya yang perempuan. Masa kanak saya adalah rumah utama ketakutan saya yang berlari mencari telinga untuk mau mendengarkan saya,” jelasnya.

Cerita di atas adalah satu dari ratusan anak selama menuju enam tahun saya menjadi ibu guru. Ada anak yang bersembunyi, sebab ibunya selalu pergi dan datang dengan bapak baru, ada anak yang berlindung berlarian kesana-kemari sebab ibu memaksanya duduk diantara lampu remang dan bujuk-bujuk lelaki hidung belang.

Hari ini, semua orang mungkin telah siap mengakui bahwa mereka sebenarnya telah kehilangan anak-anaknya yang membuatnya kehilangan diri sebagai orangtua. Karena cerminan ibu I,II, atau III yang saya sebutkan tadi, adalah gambaran penyebab sederhananya. Mereka lupa belajar bertanya dan mendengarkan anak-anaknya. Jadi anak-anak lari pada kasih sayang yang imajinatif dan manipulatif dari tontonan-tontonan yang melampaui usianya. Itu alasan kenapa anak-anak suka berpaling meninggalkan kita orangtuanya.

Catatan ini adalah sedikit perasaan saya yang seorang ibu dan guru. Barangkali ibu/atau perempuan dalam catatan ini tampak seperti penjahat. Tetapi tentu bukan itu maksudnya. Hal-hal yang saya katakan adalah catatan perjalanan pencarian jati diri hakikat menjadi ibu bagi diri saya sendiri.

 Saya telah menjadi ibu sejak masa kanak saya, sejak ibu melahirkan saya sebagai perempuan. Menjadi ibu adalah mendengarkan dengan baik, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tak menemui titik akhir. Karena sejatinya, anak-anak yang lahir dari siapapun adalah awal dan akhir perjalanan menjadi ibu. Karena hanya jika kita terlahir menjadi perempuan, anak-anak akan pulang dan mencari peluk pertama ibu.

Selamat merayakan hari ibu untuk seluruh perempuan dalam hati dan jiwanya yang penuh cinta-kasih. [T]

Memuliakan Perempuan Bukan Hanya di Hari Ibu
Hari Ibu Bagi Anak yang Tak Tahu Ibu
Tags: anak-anakHari IbuPerempuanrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memberi Makna Pada Permainan Kotek-kotekan dalam Kehidupan Anak-anak – Sebuah Cocoklogi

Next Post

Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Hati-hati, Sangrai Kopi Dengan Suhu Tinggi Bisa Munculkan Ancaman Akrilamida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co