6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepatu Baru MC dan Pilot Naik Panggung | Catatan Belakang Layar Teater Legenda Rasa

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 10, 2022
in Ulas Pentas
Sepatu Baru MC dan Pilot Naik Panggung | Catatan  Belakang Layar Teater Legenda Rasa

Langit sedikit mendung. Gerimis turun tipis-tipis. Sesekali angin bertiup membuat bulu kuduk sedikit bergidik. Seorang gadis muda tengah bersiap untuk suatu acara. Dia ditunjuk sebagai pambaca acara alias MC. Ini adalah pegalaman pertamanya naik panggung menjadi Master of Ceremony.

Gadis muda itu adalah Dian Ayu. Dia anak Komunitas Mahima yang bakal menjadi MC dalam pementasan Teater Legenda Rasa (kisah perjalanan usaha Kopi Banyuatis) di Hotel Bali Taman, Lovina, Buleleng, Sabtu 27 Agustus 2022. Pementasan itu disutradarai Kadek Sonia Piscayanti.

Tentu saja Dian Ayu gugup. Segala kebutuhan untk memandu acara malam itu dipersiapkannya dengan matang. Script telah dibaca berulang-ulang. Tumpukan kertas diatur sesuai urutannya agar ia tidak bingung saat beranjak dari acara satu ke acara berikutnya.

Hari masih tampak terang walau matahari hampir terbenam. Gadis muda itu datang menggunakan jaket berwarna cokelat. Dari penampilannya tentu saja ia datang dengan sepeda motor. Tapi wajahnya yang bulat (menurut saya) itu sudah penuh dengan riasan serta bulu mata anti pelakor.

Sepatu baru MC Dian Ayu

Pipinya sedikit merona karena blush on. Begitu juga dengan bibir mungilnya yang disapu dengan lipstik. Sesampainya di tempat acara, ia langsung menuju salah satu kamar hotel memang sudah dihuni oleh kru acara. Di kamar itu ia lantas mengganti pakaiannya dengan gaun mini berwarna hitam.

Seketika ia yang tumben memakai pakaian modis itu merasa sedikit tertekan. Tapi ia meyakinkan diri, kalau tidak belajar saat ini maka ia akan terus tertinggal. Rasa gugup mulai tergambar di wajahnya. Wajar, baru pertama kali. Saya yang kebetulan berada di kamar itu mencoba mengobrol dan menenangkan. Walau sebenarnya saya yakin dia mampu melakukannya.

Tapi tetap saja, yang namanya gugup karena pertama kali tentu menghantuinya. Menghilangkan rasa gugup itu ia kemudian mencoba menghibur diri dengan selfie. Saat tiba waktunya, ia langsung bergegas menggunakan sepatu yang baru saja ia beli. Lalu untuk menunjang penampilannya, ia rela mencukur bulu kaki yang menggemaskan itu. Katanya ia tidak percaya diri.

Ya memang tidak ada yang salah. Saya pun demikian saat jadi MC pertama kali. Bedanya tidak sampai cukur bulu kaki dan beli sepatu. Cuma beli baju baru saja.

Di belakang panggung

Tampaknya tak hanya Dian Ayu yang tampak gugup. Sejumlah pemain yang terlibat dalam teater Legenda Rasa itu sepertinya juga deg-degan, meski tak terlalu cemas.

Maklum, Teater Legenda Rasa yang diinisiasi Komunitas Mahima bersama manajemen Kopi Banyuatis ini memang diisi sejumlah pemain yang baru pertama kali main teater. Aktor-aktor teater itu terjaring dalam lomba Banyuatis Mencari Aktor yang diadakan sebelumnya. Dalam lomba itu, masuk empat aktor.  

Dari empat itu, dua orang baru pertama kali main teater. Mereka adalah Ida Bagus Partawijaya yang  seorang pensiunan pilot, dan Bagus Widhia Kusuma Putra yang sehari-hari sebagai penyuluh agama. Satu lagi, Gusti Made Aryana alias Dalang sembroli sudah biasa main teater, apalagi ia memang seorang dalang. Satu lagi, Tini Wahyuni, sudah pernah main monolog dalam proyek teater Komunitas Mahima yang berjudul 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah.

Sebelum naik panggung, MC dan para pemain pun bersiap-siap. Suasana biasa saja. Tidak begitu riuh dan tidak terlalu gawat. Hanya soundman yang selintas terlihat tegang. Takut-takut kalau terjadi kesalahan. Semua aktor yang akan tampil pada teater Legenda Rasa berkumpul.

MC Dian Ayu saat memulai acara

Mereka tampak riang. Tapi sebetulnya mereka juga gugup. Apalagi bagi yang pertama kali bermain teater seperti Ida Bagus Partawijaya. Kegugupan itu sedikit kentara. Mulai dari duduk di satu tempat, kemudian berpindah ke tempat yang lain. Tapi memang waktu itu tempat duduknya kurang. Ya, maklum, semua serba baru bagi Ida Parta yang saat itu berperan menjadi Putu Dalang, generasi kedua usaha Kopi Banyuatis.

Samar-samar, Ida Parta membuka botol air mineral. Ia komat-kamit pada botol itu. Saya pikir merapalkan mantra untuk menghilangkan gugup. Ternyata bukan mantra tapi bernyanyi. Ada-ada saja si bapak pilot ini. Ya, wajar. Biasanya dia naik pesawat tapi sekarang dia naik panggung. Tentu rasanya juga beda. Kalau naik pesawat lihat awan tapi kalau naik panggung lihat banyak mata dan terkadang lihat punggung.

Di satu sisi, Gusti Made Aryana yang berperan sebagai Jro Dalang (ayah dari Putu Dalang) juga tengah bersiap. Ia memakai kain dan berdandan layaknya kakek-kakek. Di tengah perisiapannya,  Jro Dalang juga dibantu Jro Putu, istrinya.

“Mangkin, Jik? (Sekarang, Pak?)”,  tanya Jro Putu kepada suaminya saat akan bersiap.

Gusti Made Aryana dibantu sang istri 

Ah, romantis sekali. Dengan telaten ia melayani suaminya. Membantu menyisir dan mewarnai rambut dengan kapur sirih agar mirip seperti orang tua. Tangannya sangat cekatan. Ia sudah hapal betul apa yang menjadi kebutuhan suaminya itu. Dalam sekejap Gusti Aryana pun siap. Siap naik panggung. Siap memainkan peran.

Sementara, Bagus yang mendapat peran sebagai Ketut Englan, anak dari Putu Dalang juga sibuk menghapalkan dialog. Ia juga tak terhindarkan dari rasa gugup. Ia takut jika ia melupakan bait-bait naskah. Ia memang pertama kali main teater.

Diam-diam Tini Wahyuni yang berperan sebagai ibu memperhatikan sekeliling. Alih-alih sibuk menghapalkan naskah, ia sibuk menyiapkan kopi yang akan ia gunakan saat pentas. Ia menginginkan pementasan yang sempurna. Ya, tentu saja. Semua orang menginginkan itu.

Tini yang sudah pernah memainkan naskah drama rupanya masih merasakan kegugupan.   Pentas pun dimulai. Penampilan di atas panggung cukup memuaskan bagi saya. Para aktor tampil maksimal. Peran baru, pengalaman baru, memunculkan kesan baru pula.

Di luar panggung

Pementasan pun dimulai.  Selama pementasan berlangsung, penonton tampak terkesima. Saya tidak berani memastikan semua tamu yang hadir mengerti dengan cerita yang disampaikan. Tapi kalau dilihat dari wajah-wajahnya yang serius menonton, mungkin saja mereka paham.

Gusti Made Aryana berperan sebagai Jro Dalang

Ida Bagus Partawijaya sebagai Putu Dalang

Bagus WKP sebagai Ketut Englan dan Tini Wahyuni sebagai dadong

Di sebelah saya ada seorang anak kira-kira berusia 5 tahun. Ia duduk dengan santai. Sesekali ia tertawa dengan  renyah. Ia begitu bahagia. Terlepas apakah anak itu mengerti atau tidak dengan pementasan teater itu. Di sekitar, tamu lainnya bergeming seakan terpukau.

Mari beralih ke panitia. Panitia dalam acara itu juga tampak tegang. Mereka bekerja semaksimal mungkin agar acaranya berjalan lancar. Setiap orang memiliki tugas masing-masing. HT dalam genggaman tak pernah lepas. Tak ada yang lengah. Acara berjalan tepat waktu dan selesai tepat waktu.

Dian Ayu sang MC pun lega, aktor baru juga bahagia, aktor yang biasa bermain bisa puas, sutradara senyum-senyum dan panitia pun beres-beres.[T]

BACA JUGA:

  • Mengintip Proses Teater Legenda Rasa Kopi Banyuatis | Catatan Penulis Naskah dan Sutradara
  • Mencicipi Legenda Rasa Kopi Banyuatis Melalui Teater
Tags: Komunitas Mahimakopi banyuatisTeaterTeater Kopi Banyuatis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Belajar Gebang di Desa Tembok: Literasi Anak-anak dari Buleleng Timur

Next Post

Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja

Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co