6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
May 30, 2022
in Ulasan
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

A Kino International Release

Pernah saya membaca kritik dan ulasan beberapa media di Indonesia yang menyebutkan bahwa, Leos Carax merupakan sutradara atau filmmaker film aneh paling hebat. Sangat frontal tentunya, dan tak menimbang-nimbang. Entah itu hanya kiasan atau semacamnya. Tapi memang, sebutan filmmaker film aneh sangat melambangkan karakteristik Leos Carax dalam pergulatannya terhadap film yang dibuat.

Apalagi, ketika film garapannya, Holy Motors pada tahun 2012 lalu, banyak menjadi perbincangan di kalangan pegiat film. Namun, agaknya untuk mengakui bahwa Carax paling jago dalam menyulam keabsurdan perfilman, saya mungkin sedikit tak setuju.

Melihat bahwa tak hanya Leos Carax saja yang memiliki ide aneh dan imajinasi lepas. Di timur tengah, kita melihat langkah nekat kreativitas Abbas Kiarostami yang mengaburkan batas rekayasa dan nyata dalam film Close Up (1990). Sedangkan di Asia Tenggara, kita punya gagasan aneh dengan balutan sinematografi minim kesegaran ketika Apichatpong Weerasethakul menyatupadukan ruang gaib dan ruang realitas sebagai premis, dalam film Lung Bunmi Raluek Chat (2010).

Artinya, Leos Carax tentu lihai dan hebat membuat film aneh, namun dia bukanlah satu-satunya. Seperti nama-nama yang saya sebutkan di atas, dan masih ada banyak lagi. Leos Carax berada di jalur yang sama dengan mereka, mendobrak gaya-gaya bertutur yang bisa dibilang sudah basi di jagat perfilman dunia.

Dan satu lagi, mari kita bergeser jauh ke ujung selatan semenanjung  Balkan, di bagian tenggara Eropa sana, yaitu Yunani. Di sana, Yorgos Lanthimos tak bisa kita abaikan dari catatan nama-nama filmmaker tergila dan teraneh dalam penuturan-penuturan sinemanya.

Yorgos Lanthimos, lewat The Lobster (2015), menyajikan sebuah dunia distopia yang mana urusan selangkangan tak lagi bersifat privasi, namun sudah menjadi persoalan krusial negara. Dan urusan cinta, diatur oleh ekosistem sekelompok masyarakat yang termarjinalkan..

Sementara dalam The Killing of a Sacred Deer (2017), sineas Yunani itu mencoba sesuatu yang lebih langit lagi. Dengan bermain-main dalam atmosfer kekuasaan yang merefleksikan kekuatan menyerupai Tuhan, yang kalau tinggal bilang kun maka fayakun.

Namun, jauh sebelum The Lobster dan The Killing of a Sacred Deer, Yorgos telah lebih dulu memperlihatkan implikasi dari sebuah perasaan takut yang buta. Dan juga telah menciptakan proyeksi tentang kekuasaan super fasis dalam lingkup yang lebih sempit, yakni rumah.

Belajar Bersama Minikino | Apa Saja yang Perlu Diketahui Saat Menulis Ulasan Film Pendek?

Adalah Dogtooth (2009), film kedua yang melengkapi keseluruhan jati diri sineas Yunanti itu. Lewat pola film-filmnnya yang begitu ganjil, gerak pemeran yang terbatas, juga krisis dialog sepanjang film, Yorgos Lanthimos banyak menyampaikan hasil akhir dari sebuah tempurung kekuasaan yang membelenggu orang-orang, tak terkecuali keluarga di rumah.

Tentunya, bukan menjadi hal tabu bagi kita para penonton terhadap film-film yang mengangkat persoalan keluarga, yang elemen-elemen di dalamnya dekat dengan kita. Namun yang disuguhkan Yorgos Lanthimos ini bukan persoalan keluarga yang biasa, melainkan kegilaan dan keanehan yang luar biasa.

Menampilkan sang Ayah, seorang pekerja di sebuah pabrik, yang menjadi sosok sentral terhadap transmisi kengerian, kebrutalan, dan hal-hal yang menakutkan di luar rumah kepada ketiga anaknya. Dan sang Ibu, rela mengurung diri bersama ketiga anaknya. Hanya untuk keberhasilan pendidikannya dan suami terhadap ketiga anaknya.

Alih-alih menceritakan seorang ayah sebagai orang tua yang bijak, dengan hanya membatasi anak-anaknya dalam berinteraksi dengan dunia luar, dan memberikan pendidikan yang lebih masuk akal, Dogtooth lahir dengan segala kegilaan juga pola di luar nalar. Semacam disfungsional parenting dari seorang Ayah dan Ibu.

Ketiga anaknya, yang terlihat berusia 30-25 tahun dan sudah bukan lagi remaja, masih terselimut dalam fase pola pikir yang seharusnya sudah jauh dilewati. Segala interaksi antara anak satu dan anak lainnya bukan lagi pembicaraan yang dewasa, melainkan anak-anak seumuran 10 tahun. Seperti perbincangan di awal pembuka film, mereka sudah terlihat seperti sekelompok bocah yang sedang membincangkan sebuah permainan yang tak membosankan.

Pemutaran Film Karya Kitapoleng | Mitologi Bali dan Realitas Hari Ini

Film ini didominasi oleh latar yang kecil. Sebagian besar di ruang-ruang dalam rumah, tak sedikit halaman, kolam renang di rumah. Walau begitu, gagasannya mengarah ke sesuatu yang lebih besar. Dogtooth (2009), mencoba menyingkap konsekuensi dari tabir kekuasaan fasis, dengan abnormalitas penuturannya.

Sosok orang tua yang paranoidnya sudah overdosis, menjelma diktator yang membatasi gerak gerik sang anak. Tak ada toleransi untuk anak-anaknya menginjakkan aspal di depan pagar rumahnya. Televisi dan saluran telepon, semuanya diputus, menilai benda-benda itu adalah rahim lahirnya keburukan dunia luar. Mereka hanya diizinkan melihat rekaman-rekaman terdahulu, yang alur rekaman di dalamnya mereka sudah hapal di luar kepala, pun percakapan-percakapan yang ada.

Sang Ayah, otak di balik kegilaan mendidik ketiga anaknya, orang tua yang toxic, sikap strict parents yang keluar batas, mengalienasi keluarganya sendiri dari ruang-ruang sosial yang ada. Sepanjang film, hanya satu yang ia percayai, yaitu Christina, seorang wanita yang bekerja sebagai petugas keamanan di pabrik yang sama dengannya. Setiap minggu sekali, Christina dibayar untuk melakukan hubungan seksual dengan putranya.

Namun, kepercayaan terhadap Christina tak berlangsung lama. Wanita itu dianggap menyodorkan hal buruk ke anak sulungnya. Alhasil, Christina tak lagi pernah menuntaskan birahi putra tunggalnya. Untuk mencegah hal itu terulang, dan menjaga anak-anaknya tetap steril. Sang Ayah dengan rasa tak bersalah, memberikan otoritas ke putranya untuk memilih satu dari kedua saudara perempuannya untuk berhubungan intim, gilak gilak gilak.

Saking menjaga satu putra dan dua putrinya dari keburukan dunia luar. Pasangan suami istri itu mempelintir beberapa kata yang sangat jauh dari pengartian pada umumnya. Contoh, kata “zombie” adalah bunga kecil berwarna kuning, “keyboard” artinya vagina, “laut” adalah kursi sofa berlengan kayu, “jalan raya” yang artinya angin yang sangat kuat, dan lainnya dan lainnya.

Kegiatan yang lebih aneh lagi adalah, ketika membangunkan orang tuanya, mereka tak diperintahkan menggoyang-goyangkan tubuh, melainkan menjilat-jilati bagian tubuh. Seperti anak bungsu, ketika membangunkan sang Ayah, ia menjilati tangan dan dada agar sang Ayah bangun dari tidurnya.

Kegilaan dan keanehan gaya bertutur Yorgos Lanthimos, adalah karakteristik dari sinemanya. Dalam film-filmnya, Yorgos bukan hanya mengejar sisi estetik, dan keabsurdan film-filmnya pun bukan tak beralasan.

Berorientasi film festival, Yorgos Lanthimos adalah salah satu garda terdepan di perfilman Yunani saat ini, dalam gerakan Greek Weird Wave. Mengembalikan pandangan dunia ke arah tanah lahirnya para filsuf itu. Utamanya, menjadi api besar yang membakar semangat sutradara-sutradara indie, untuk lebih berani dan mengambil tempat dalam jagat perfilman yang dipenuhi produksi film mainstream secara masal.

Selalu mengangkat cerita dunia-dunia ganjil, dan membentuk teritorial keabsurdan tersendiri di setiap filmnya, Yorgos Lanthimos tidak semata-mata mengutamakan kekuatan artistik saja, dan seenaknya menyodorkan sinema yang tak jelas. Namun, kepadatan narasinya lewat dialog-dialog yang minimalis, adalah pisau tajam darisudut pandang sosial dan politik.

Film Pendek “Kala Rau When the Sun Got Eaten”: Gerhana, Mitos, dan Sedikit Orde Baru

Banyak sineas yang setia menggunakan struktur cerita yang umum, dan tak keluar dari ranah kelaziman, entah itu horor, drama, dan sebagainya. Namun dari film-film itu, saya banyak menemukan, ternyata filmnya tak bergerak ke mana-mana, minim penceritaan, banyak dialog-dialog yang tak perlu dihadirkan, namun dipaksa untuk masuk.

Sedangkan film-film gila dan aneh seperti yang diciptakan nama-nama sebelumnya, memiliki kepadatan serta proporsional yang sesuai. Dan mereka tahu, bobot mana yang mesti muncul di durasi ini dan durasi ini. Jadi tak terkendali oleh nafsu untuk terburu-buru menduduki puncak klimaks dari film yang disajikan.

Dan di sini, saya juga tak mau terburu-buru berucap bahwa Yorgos Lanthimos adalah filmmaker paling aneh. Yorgos memang aneh, imajinasi liar, dan menghancurkan standar moral di lingkaran sinema. Namun, dia bukan satu-satunya filmmaker yang paling aneh di dunia ini. [T]

Tags: filmfilm layar lebarYorgos LanthimosYunani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Next Post

Dhianita Kusuma Pertiwi: Meneliti, Menulis, dan Mengabadikan Orde Baru

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Dhianita Kusuma Pertiwi: Meneliti, Menulis, dan Mengabadikan Orde Baru

Dhianita Kusuma Pertiwi: Meneliti, Menulis, dan Mengabadikan Orde Baru

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co