23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rajah Rasa di Teba Kangin Pemanis | Bertemunya Seni, Alam Pedesaan, dan Gairah Berbagi

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
May 25, 2022
in Ulasan
Rajah Rasa di Teba Kangin Pemanis | Bertemunya Seni, Alam Pedesaan, dan Gairah Berbagi

Pameran Rajah Rasa di Teba Kangin, Pemanis, Penebel, Tabanan

Suasana pedesaan terasa sekali di sini. Sesekali para petani lewat menuntun kerbau. Petani itu akan membajak sawah. Desa ini adalah desa tua di Bali, bernama Pemanis di wilayah Biaung, Penebel, Tabanan.

Dingin udara pagi. Meraup aroma bubur Bali dan jajanan khas Bali yang di sajikan oleh penjual dengan sederhana di poskamling. Makanan itu disajikan dengan daun pisang dan sendok dari lipatan daun pisang pula. Cukup menghibur dan memuaskan rasa lapar di pagi hari. Apalagi ada aroma kopi khas Tabanan yang ditemani umbi sekapa (umbi gadung ) yang direbus, berisi parutan kelapa, lalu dilumuri gula aren.

Para peternak itik berlarian menuntun ratusan itik, menuju areal pesawahan untuk mencari makan dari sisa padi yang dipanen. Dan anak anak desa yang riang gembira berlarian mengejar glindingan ban bekas roda motor, sebagai sarana permainan. Para petani melangkah lengkap dengan alat pertaniannya bergegas bekerja.

Dalam suasana seperti itulah digelar pameran kesenian di Pemanis, tepatnya di Studio Made Baktiwiyasa (Pendiri Sanggar Teba Kangin).

Berita pameran itu terdengar oleh masyarakat yang sedang membeli bubur khas Bai yang dijual di poskamling. Terdengar pula pameran itu dihadiri Bapak I Komang Gede Sanjaya SE. MM., Bupati Tabanan, sekaligus untuk meresmikan pameran tersebut.

Berita inipun disebarkan oleh  para petani yang membeli sarapan di sana. Bahwa pagi itu desa mereka akan kedatangan tamu penting mengunjungi acara tersebut. Sebagaian para petani mengurungkan niatnya mengerjakan sawahnya, menunggu kedatangan pejabat daerah, dan menyaksikan acara kesenian di rumah Made Bakti Wiyasa.

Studio Made Baktiwiyasa yang berada di rumahnya di Desa Pemanis berdekatan dengan satu bangunan pura. Pura itu adalah tempat persembahyangan umat Hindu yang mana keseluruhan bangunan pura di dalamnya dibangun dengan meletakkan tumpukan batu sebagai tempat pemujaan. Dengan adanya bangunan tersebut, menjadai  penanda bahwa Pemanis adalah salah satu desa pradaban tua di Bali, yang juga dipengaruhi oleh peradaban purba  megalitik. Dan sekitaran kampung ini,  misalanya di Desa Senganan di utara Desa Pemanis di beberapa lokasi ditemukanya sarcophagus peti batu purba.

Memasuki rumah Made Baktiwiyasa, kita disambut aroma jajanan khas olahan Bali dengan sebutan laklak biyu, dengan bahan dasar tepung beras, pisang dan parutan kelapa, dimasak dengan kayu bakar.

Aromanya yang khas membangkitkan memori kita akan suasana pedesaan di Bali di masa lalu. Suasana yang indah dan sejuknya suasana kampung yang sudah banyak hilang di Bali.

Bangunan ruamahnya yang menggunakan arsitektur bangunan asta kosala kosali, adalah tata ruang dalam pembangunan rumah di Bali, lengkap dengan areal belakang rumah yang  disebut teba, sebuah halaman yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat di Bali untuk ditanami tumbuhan untuk perlengkapan sehari-hari dan ternak. Jjuga halamann bermain anak-anak, sekaligus belajar, seperti misalnya permainan rumah-rumahan, suatu pelajaran arsitektur sederhana yang dipelajari semenjak kecil. Juga permainan mebarong-barongan, yakni bermain tarian Barong. Semua itu adalah pelajaran sederhana anak untuk mempelajari adat tradisi kesenian dan kebudayaan sejak dini.

Seniman I Made Bakti Wiyasa, alumni ISI Yogyakarta, berinisiatif halaman belakang rumahnya (teba)  rumahnya sendiri di jadikan ruang alternative berkesenian dan belajar yang tidak lepas dari fungsi awal dibangunya teba. Namanya Teba Kangin Pemanis Art Space.

Di teba itu dibuatnya sanggar Teba Kangin Art Space yang didirikan oleh Made Bakti Wiyasa beserta keluarga. Di tempat ini pula Made Bakti Wiyasa beserta istri Kadek Hartini, membagi ilmunya untuk mengembangkan kesenian dan sastra Bali dibantu oleh Pekak Rika atau Jero Ketut  Muka sebagai ahli satra Bali.

Selain nyastra juga terkadang di tempat ini pula masyarakat belajar geguntangan. Sang ayah dan ibunya seorang petani selalu menyambut kawan-kawan Baktiwiyasa dengan ramah di rumahnya, sambal mengupas kelapa, di sela tumpukan kayu bakar, dengan kesibukan harian, ibunya menggoreng jajanan Bali.

Hidangan kopi dan jajanan Bali selalu menyambut kedatangan tamu yang datang, dan dipersilakan duduk di lumbung padi di rumahnya dengan sejuta ceritra sambil bersandar di tiang lumbung padi dengan jumblah enam buah.

Pameran ini diselenggarakan untuk menyambut Bulan Menggambar Nasional yang dicanangkan pada tanggal 2 Mei 2022, yang digelar secara sporadis oleh 250 komunitas seni secara mandiri, dalam rangka memasyarakatkan menggambar di masyarakat Indonesia.

Ketua Sanggar Teba Kangi berinisiatif mengadakan pameran Seni bertemakan Rajah Rasa pada tanggal 23-30 Mei 2022 yang di ikuti oleh 17 perupa dan dikuratori oleh Made Baktiwiyasa, yang menghadirkan karya maesto (Nyoman Gunarsa), Made Wiradana, I Made Baktiwiyasa, Nyoman Loka Suara, Made Gunawan, Ketut Tenang, Ketut Sudita, Putu Wirantawan, R.A.Ayu Ratih Windari, I Putu Bagus Sastra Wedanta, Sri Srinaryo, Ni Wayan Sutariyani, I Ketut endrawan, I Made Somadita, Pande Nyoman Alit Wijaya Suta, I Wayan Jengki Sunarta, dan Yoesoef Olla. Dalam pameran itu terdapat 25 karya seni.

Pameran tersebut akhirnya dibuka Asisten II Sekda Tabanan I Wayan Kotia didampingin Kadisbud Tabanam I Wayan Sugatra dan Kasi Camat Penebel serta Kepala Sesa Biaung. Pembukaan diisi dengan mengadakan kalaborasi melukis bersama yang diawali oleh goresan awal Kepala Dinas Kebudayaan dan direspon oleh goresan seniman yang hadir. Mereka melukis di atas bidang kanvas putih berukuran 122 x 244 cm dengan menggunakan tinta cina. Lalu ditampilkan kalaborasi Performing Art I Kadek Hartini dengan I Wayan Jengki Sunarta.

Dalam pameran ini juga diadakan acara pemberian penghargaan seni Bakti Sastra Vidya Kusuma kepada Pekak Rika atau Jero Ketut Muka sebagai pelestari Aksara dan Bahasa Bali yang sudah mendidikasikan dirinya sejak 19 70-an, yang sudah mengajar Bahasa dan sastra Bali ke desa-desa di seputaran Kecamatan Penebel dan Baturiti dengan berjalan kaki.

Kingga kini Rika dan Muka secara sukarela tanpa dibayar bahkan mempasilitasi buku aksara Bali kepada yang mau belajar. [T]

Tags: Desa PemanisPameran Seni RupaSeni Rupatabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fakta dan Fiksi Tentang Fakta dan Fiksi

Next Post

Singaraja, Kota Kecil yang Berusaha Menjadi Kota Romantis

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Singaraja, Kota Kecil yang Berusaha Menjadi Kota Romantis

Singaraja, Kota Kecil yang Berusaha Menjadi Kota Romantis

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co