23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rajah Rasa di Teba Kangin Pemanis | Bertemunya Seni, Alam Pedesaan, dan Gairah Berbagi

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
May 25, 2022
in Ulasan
Rajah Rasa di Teba Kangin Pemanis | Bertemunya Seni, Alam Pedesaan, dan Gairah Berbagi

Pameran Rajah Rasa di Teba Kangin, Pemanis, Penebel, Tabanan

Suasana pedesaan terasa sekali di sini. Sesekali para petani lewat menuntun kerbau. Petani itu akan membajak sawah. Desa ini adalah desa tua di Bali, bernama Pemanis di wilayah Biaung, Penebel, Tabanan.

Dingin udara pagi. Meraup aroma bubur Bali dan jajanan khas Bali yang di sajikan oleh penjual dengan sederhana di poskamling. Makanan itu disajikan dengan daun pisang dan sendok dari lipatan daun pisang pula. Cukup menghibur dan memuaskan rasa lapar di pagi hari. Apalagi ada aroma kopi khas Tabanan yang ditemani umbi sekapa (umbi gadung ) yang direbus, berisi parutan kelapa, lalu dilumuri gula aren.

Para peternak itik berlarian menuntun ratusan itik, menuju areal pesawahan untuk mencari makan dari sisa padi yang dipanen. Dan anak anak desa yang riang gembira berlarian mengejar glindingan ban bekas roda motor, sebagai sarana permainan. Para petani melangkah lengkap dengan alat pertaniannya bergegas bekerja.

Dalam suasana seperti itulah digelar pameran kesenian di Pemanis, tepatnya di Studio Made Baktiwiyasa (Pendiri Sanggar Teba Kangin).

Berita pameran itu terdengar oleh masyarakat yang sedang membeli bubur khas Bai yang dijual di poskamling. Terdengar pula pameran itu dihadiri Bapak I Komang Gede Sanjaya SE. MM., Bupati Tabanan, sekaligus untuk meresmikan pameran tersebut.

Berita inipun disebarkan oleh  para petani yang membeli sarapan di sana. Bahwa pagi itu desa mereka akan kedatangan tamu penting mengunjungi acara tersebut. Sebagaian para petani mengurungkan niatnya mengerjakan sawahnya, menunggu kedatangan pejabat daerah, dan menyaksikan acara kesenian di rumah Made Bakti Wiyasa.

Studio Made Baktiwiyasa yang berada di rumahnya di Desa Pemanis berdekatan dengan satu bangunan pura. Pura itu adalah tempat persembahyangan umat Hindu yang mana keseluruhan bangunan pura di dalamnya dibangun dengan meletakkan tumpukan batu sebagai tempat pemujaan. Dengan adanya bangunan tersebut, menjadai  penanda bahwa Pemanis adalah salah satu desa pradaban tua di Bali, yang juga dipengaruhi oleh peradaban purba  megalitik. Dan sekitaran kampung ini,  misalanya di Desa Senganan di utara Desa Pemanis di beberapa lokasi ditemukanya sarcophagus peti batu purba.

Memasuki rumah Made Baktiwiyasa, kita disambut aroma jajanan khas olahan Bali dengan sebutan laklak biyu, dengan bahan dasar tepung beras, pisang dan parutan kelapa, dimasak dengan kayu bakar.

Aromanya yang khas membangkitkan memori kita akan suasana pedesaan di Bali di masa lalu. Suasana yang indah dan sejuknya suasana kampung yang sudah banyak hilang di Bali.

Bangunan ruamahnya yang menggunakan arsitektur bangunan asta kosala kosali, adalah tata ruang dalam pembangunan rumah di Bali, lengkap dengan areal belakang rumah yang  disebut teba, sebuah halaman yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat di Bali untuk ditanami tumbuhan untuk perlengkapan sehari-hari dan ternak. Jjuga halamann bermain anak-anak, sekaligus belajar, seperti misalnya permainan rumah-rumahan, suatu pelajaran arsitektur sederhana yang dipelajari semenjak kecil. Juga permainan mebarong-barongan, yakni bermain tarian Barong. Semua itu adalah pelajaran sederhana anak untuk mempelajari adat tradisi kesenian dan kebudayaan sejak dini.

Seniman I Made Bakti Wiyasa, alumni ISI Yogyakarta, berinisiatif halaman belakang rumahnya (teba)  rumahnya sendiri di jadikan ruang alternative berkesenian dan belajar yang tidak lepas dari fungsi awal dibangunya teba. Namanya Teba Kangin Pemanis Art Space.

Di teba itu dibuatnya sanggar Teba Kangin Art Space yang didirikan oleh Made Bakti Wiyasa beserta keluarga. Di tempat ini pula Made Bakti Wiyasa beserta istri Kadek Hartini, membagi ilmunya untuk mengembangkan kesenian dan sastra Bali dibantu oleh Pekak Rika atau Jero Ketut  Muka sebagai ahli satra Bali.

Selain nyastra juga terkadang di tempat ini pula masyarakat belajar geguntangan. Sang ayah dan ibunya seorang petani selalu menyambut kawan-kawan Baktiwiyasa dengan ramah di rumahnya, sambal mengupas kelapa, di sela tumpukan kayu bakar, dengan kesibukan harian, ibunya menggoreng jajanan Bali.

Hidangan kopi dan jajanan Bali selalu menyambut kedatangan tamu yang datang, dan dipersilakan duduk di lumbung padi di rumahnya dengan sejuta ceritra sambil bersandar di tiang lumbung padi dengan jumblah enam buah.

Pameran ini diselenggarakan untuk menyambut Bulan Menggambar Nasional yang dicanangkan pada tanggal 2 Mei 2022, yang digelar secara sporadis oleh 250 komunitas seni secara mandiri, dalam rangka memasyarakatkan menggambar di masyarakat Indonesia.

Ketua Sanggar Teba Kangi berinisiatif mengadakan pameran Seni bertemakan Rajah Rasa pada tanggal 23-30 Mei 2022 yang di ikuti oleh 17 perupa dan dikuratori oleh Made Baktiwiyasa, yang menghadirkan karya maesto (Nyoman Gunarsa), Made Wiradana, I Made Baktiwiyasa, Nyoman Loka Suara, Made Gunawan, Ketut Tenang, Ketut Sudita, Putu Wirantawan, R.A.Ayu Ratih Windari, I Putu Bagus Sastra Wedanta, Sri Srinaryo, Ni Wayan Sutariyani, I Ketut endrawan, I Made Somadita, Pande Nyoman Alit Wijaya Suta, I Wayan Jengki Sunarta, dan Yoesoef Olla. Dalam pameran itu terdapat 25 karya seni.

Pameran tersebut akhirnya dibuka Asisten II Sekda Tabanan I Wayan Kotia didampingin Kadisbud Tabanam I Wayan Sugatra dan Kasi Camat Penebel serta Kepala Sesa Biaung. Pembukaan diisi dengan mengadakan kalaborasi melukis bersama yang diawali oleh goresan awal Kepala Dinas Kebudayaan dan direspon oleh goresan seniman yang hadir. Mereka melukis di atas bidang kanvas putih berukuran 122 x 244 cm dengan menggunakan tinta cina. Lalu ditampilkan kalaborasi Performing Art I Kadek Hartini dengan I Wayan Jengki Sunarta.

Dalam pameran ini juga diadakan acara pemberian penghargaan seni Bakti Sastra Vidya Kusuma kepada Pekak Rika atau Jero Ketut Muka sebagai pelestari Aksara dan Bahasa Bali yang sudah mendidikasikan dirinya sejak 19 70-an, yang sudah mengajar Bahasa dan sastra Bali ke desa-desa di seputaran Kecamatan Penebel dan Baturiti dengan berjalan kaki.

Kingga kini Rika dan Muka secara sukarela tanpa dibayar bahkan mempasilitasi buku aksara Bali kepada yang mau belajar. [T]

Tags: Desa PemanisPameran Seni RupaSeni Rupatabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fakta dan Fiksi Tentang Fakta dan Fiksi

Next Post

Singaraja, Kota Kecil yang Berusaha Menjadi Kota Romantis

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Singaraja, Kota Kecil yang Berusaha Menjadi Kota Romantis

Singaraja, Kota Kecil yang Berusaha Menjadi Kota Romantis

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co