26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Waktu yang Singkat Untuk Naskah yang Padat | Catatan Pentas Teater di Surakarta

Pandu Wardana by Pandu Wardana
April 27, 2022
in Esai
Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Dengan waktu dua minggu kurang, pementasan oleh Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha ini rampung dan mengorbit di Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah dalam acara SalaHaTeDu (Hari Teater Dunia) #8.

Rasa yang pernah terlewati. Berperan dalam pemetasan drama simbolis pernah saya lalui sejak di bangku SMA. Pementasan yang menguras keringat, waktu, bahkan mental. Pementasan kali ini sangat membawa saya bernostalgia pada pementasan pementasan sebelumnya ketika saya SMA. Mulai dari porsi latihan, frekuensi latihan, dan pemanasan gerak yang cukup melelahkan.

Berdasarkan info yang saya dapat dari Santi Dewi dan Dian Ayu, pementasan drama “Jro Ketut, Tom Jerry, dan Kisah – Kisah Seumpanya” karya Manik Sukadana ini merupakan pementasan kelima setelah pementasan pementasan yang juga sempat ditampilkan sebelumnya.

Oleh karena sudah pernah digarap oleh sutradara terdahulu, proses kali ini tidak begitu membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun dalam proses penggarapan pementasan ini ada beberapa yang mengalami modifikasi ataupun penggubahan atas imajiner kami.

Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha Bawa “Jero Ketut” ke Hari Teater Sedunia di Surakarta

Dalam pementasan ini, saya berperan sebagai tokoh Wayan Aman yang merupakan kakak Nengah Karni. Wayan Aman yang saya perankan ini adalah seseorang pensiunan polisi yang mengalami pergolakan dengan adik iparnya sendiri, lantaran dia lebih disayang oleh Hyang Bapa, ayah dari Wayan Aman dan Nengah Karni.

Ada sebuah problematika pribadi yang saya alami ketika sutradara meminta saya berlakon dengan membawa rokok, merokok sungguhan maksudnya. Saya bukan bermaksud menolak keras atau bertentangan dengan hal ini, tetapi karena saya memang tidak bisa merokok dan tidak mau melakukannya karena ada tujuan tertentu yang harus saya pertahankan. Pada penghujung akhir latihan, akhirnya saya putuskan untuk tidak merokok dalam lakon yang saya perankan.

Tidak hanya itu, masalah lain juga datang bermunculan dari dalam diri saya sendiri yang menjadi sebuah tantangan bagi saya. Menurut pengamatan sutradara, dialog saya cenderung seperti pembacaan puisi yang akhirnya membuat dialog saya terdengar tidak natural.

Ya, saya adalah orang yang sekadar suka membaca puisi, hal ini karena di bangku SMA saya dimandatkan untuk menjadi pengurus di bidang sastra puisi. Maka kebiasaan kebiasaan dahulu sangat melekat di dalam diri saya.

Problema ini tentu sangat ditegur oleh sutradara. Menghilangkan kebiasaan itu, di pikiran saya, harus membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun masalah itu terasa mudah untuk dipecahkan karena dalam proses latihan yang sangat memukul habis saya, saya diberikan momentum untuk menggali diri sendiri dan mencari karakteristik tokoh lebih dalam sehingga kecenderungan seperti membaca puisi itu bisa hilang perhalan.

Di lokasi eksekusi pementasan yang dipenuhi ratusan orang yang bergelut di bidang seni teater, hal ini tentu ini menjadi sebuah ajang yang mempertemukan penggiat seni teater dan  anak muda. Saya merasa sangat kagum. Ya bagaimana tidak kagum, Teater Kampus Seribu Jendela bisa bersanding dengan komunitas seni teater se-Indonesia? Wadaw…

Apresiasi penuh pun ditunjukan kepada setiap pementasan. Saya pula demikian, setiap pementasan di masing masing komunitas sendiri memiliki senjata atau “Bom” untuk menunjukan keindahan dan menarik perhatian penonton. Mulai dari menceburkan diri ke kolam, datang dari tengah tengah penonton, penonton yang digiring ke tempat yang berbeda, hingga penggunaan properti yang terpajang di luar keperluan pementasan.

Membawa Umpatan Khas Bali dalam Pentas Teater “Jero Ketut” di Surakarta

Sungguh eksplorasi yang luar biasa. Melihat teknik itu, saya pun mencoba untuk membuat hal serupa dalam pementasan kami. Ada sebuah babak yang menunjukan saya agar muncul secara tiba tiba dari arah penonton. Namun hal itu harus menjadi pertimbangan karena melihat setting daerah penonton yang sangat padat dan sulit mencari celah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak muncul di daerah itu. Saya memutuskan untuk muncul di belakang atas panggung yang bentuknya seperti terasering. Hal itu saya anggap sebuah keberhasilan, karena lawan tokoh saya pun kaget dan heran, kenapa saya dapat keluar dari tempat itu.

Apresiasi pun muncul bersautan. Berangkat dari pementasan itu, dalam diri saya sendiri ada terbesit rasa ketidakpuasan. Hal ini dikarenakan ada sebuah kekeliruan kecil yang terjadi. Akhirnya saya sadar bahwa saling berkoordinasi sesama tokoh sangat diperlukan. Sebatas sekadar saling mengingatkan pun adalah bentuk yang sangat sangat penting. Ya, di akhir adegan, lawan tokoh saya salah mengucapkan nama. Ia yang seharusnya menyebut nama saya, justru menyebut nama tokoh lain yang seharusnya tidak disebutkan.

Namun, sebuah apresiasi dan tanggapan datang dari banyak teman. Seperti yang dikatakan Mas Abi, yang juga seorang pegiat teater, ia memberikan tanggapan bahwa pementasan kami keren, tapi kami disarankan untuk menggunakan bahasa Bali agar memunculkan aroma atau nafas daerah Bali. Salah satu seniman dari Bali yaitu Pak Jayendra Vaisnawa juga sempat memberikan komentarnya kepada pementasan kami saat bertemu di Surakarta. Dalam postingan Facebook-nya, ia juga memberikan apresiasi dan mengatakan “Tetap semangat dan terus maju”.

“Tugasmu Hanya Satu, Mengaku!” | Cerita Kecil Pentas Teater “Jro Ketut” di Surakarta

Dari setiap pertunjukan dan pementasan, sudah menjadi kewajiban saya sebagai aktor untuk melihat ulang kekurangan dan kelebihan performa saya dalam pementasan dan belajar lebih baik ke depannya.

Setelah pementasan ini, saya sangat dibuat rindu dengan pementasan yang mengandung unsur simbolik yang multiperan ini. Melayang sepintas di pikiran saya bahwa saya sangat ingin lagi untuk berperan dalam pementasan yang penuh unsur simbolik seperti ini lagi.

Tags: TeaterTeater Kampus Seribu Jendela
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wajah Perempuan dalam Gurat Berani Garis-garis | Dari Pameran Panen SMPN 1 Singaraja

Next Post

Tata Ruang Kota, Tiang dan Kabel-kabel, dan Persoalan Estetika

Pandu Wardana

Pandu Wardana

Made Pandu Deva Kusuma Wardana, kelahiran Tabanan 13 Juni 2003, sedang menempuh bangku perkuliahan di Undiksha. Hobi berolahraga dan berkegiatan di bidang kesenian, suka berteater sejak SMA di Tabanan.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Tata Ruang Kota, Tiang dan Kabel-kabel, dan Persoalan Estetika

Tata Ruang Kota, Tiang dan Kabel-kabel, dan Persoalan Estetika

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co