23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cuci Otak”

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
April 3, 2022
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.”— (Sumpah dokter Indonesia No ke-11)

Istilah cuci otak selalu  menarik. Entah itu pada makna harfiahnya maupun sebagai sebuah frase yang hari-hari ini menjadi populer sebagai satu tindakan medis yang tentu saja, kontroversial. Dalam makna harfiahnya, cuci otak kita ketahui merupakan sebuah proses yang tak biasa-biasa saja dan hasil prosesnya itupun acap kali luar biasa dan mencengangkan.

Istilah ini populer dalam dunia radikalisme-terorisme atau dalam kisah-kisah spionase. Akan mudah kita pahami, orang yang biasa-biasa saja takkan pernah menjadi seorang radikal, teroris atau  agen rahasia. Ia perlu dicuci otaknya supaya memenuhi syarat.

Artinya, harus ditanamkan gagasan-gagasan baru yang ideologis, disebut juga indoktrinasi, untuk menggeser keyakinan lamanya yang tidak sesuai dengan kebutuhan sebuah gerakan. Jika program cuci otak ini sukses, akan lahir individu-individu yang bersedia melakukan tindakan-tindakan ekstrim di luar nalar masyarakat pada umumnya dan tentu saja dampaknya pun tak main-main.

Ini bukti bahwa pikiran manusia sangat berbahaya walau ia tak tampak dan tak dapat dirasakan. Profil fisik manusia yang secara umum sama saja, terdiri dari kepala, badan, tangan dan kaki, dapat saja melakukan tindakan yang sangat beragam berkat kendali pikiran masing-masing. Kendali dari ruang gelap yang tak pernah dikenali.

Apakah ini sebuah kebetulan belaka, faktanya “cuci otak” yang dilakukan oleh dr Terawan Agus Putranto (TAP), juga telah menjadi polemik riuh saat ini. Polemik kian memanas saat TAP, dijatuhi sanksi pemecatan sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akibat pelanggaran etik yang telah dilakukannya, atas rekomendasi dari sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Bagaimana kita melihat peristiwa ini? Saya akan berpijak pada prinsip-prinsip obyektifitas dalam menulis isu polemik ini. Pada artikel sebelumnya, saya pun pernah menulis sebuah otokritik terhadap IDI, organisasi profesi di mana saya bernaung.

Cuci otak ala TAP, memang menarik, sebab pada dasarnya hal itu merupakan satu prosedur medis biasa yang sudah diaplikasikan sejak lama, kemudian dimodifikasi oleh TAP. Prosedur medis tersebut dikenal sebagai Digital Subtraction Angiography (DSA) yang pada awalnya merupakan sebuah metode diagnosis, oleh TAP dimodifikasi sebagai sebuah terapi.

Yang dilakukan dari prosedur itu adalah, memasukan kateter (selang kecil khusus) ke dalam pembuluh darah otak disertai dengan penyemprotan zat warna yang kemudian dari pencitraan X-ray dapat dinilai keadaan dinding dalam pembuluh darah otak tersebut. Pada saat prosedur itu dilakukan, dilakukan pula penyemprotan satu obat bernama heparin untuk mencegah terjadinya pembekuan darah selama prosedur dilakukan.

Dari prosedur DSA tersebut, akan diketahui kemudian apakah pasien mengalami stroke, kelainan pembuluh darah lain atau sebaliknya pembuluh darahnya normal-normal saja. Itu kemudian menjadi dasar bagi seorang dokter ahli saraf (neurolog) untuk memberikan rencana terapi kepada pasien tersebut.

Nah, TAP kemudian mempromosikan prosedur ini sebagai satu pengobatan stroke kepada publik. Memang cukup banyak pasien yang memberikan testimoni, bahkan dari kalangan orang-orang penting dan tokoh nasional, merasa “lebih baik” setelah menjalani DSA atau “cuci otak” tersebut.

Rahasia Madu untuk Kesehatan

Namun ada beberapa hal mendasar yang harus publik ketahui. Pertama-tama, penyakit stroke sendiri adalah kompetensi seorang dokter ahli saraf, sementara TAP adalah seorang dokter ahli radiologi yang mendalami radiologi intervensi. Jadi, betulkah pasien-pasien yang di-”cuci otak” itu memang penderita stroke?

Kedua, prinsip dasar sebuah terapi medis adalah kedokteran berbasis bukti (KBB). Jadi bukan hanya atas dasar teori & testimoni. Sebab harus kita ketahui pula akan sebuah fenomena yang disebut sebagai efek plasebo yaitu suatu efek sugesti dari zat yang sebetulnya tak berkhasiat sama sekali. Ini dapat semakin mungkin dirasakan, apalagi kalau ternyata pasien tersebut memang bukan penderita stroke sebenarnya. 

Sudahkah dilakukan pencitraan pembuluh darah pasien, baik sebelum dan sesudah “cuci otak”? KBB menuntut rangkaian riset uji klinis baku sebelum satu prosedur medis dapat disepakati (konsesus) oleh perkumpulan dokter ahli menjadi sebuah pilihan terapi. Ini semua demi  melindungi masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip praktek kedokteran yang baik.

Dalam riset tersebut, tidak hanya efektivitas terapi yang dipublikasikan, pun tingkat kegagalan dan efek samping yang ditimbulkan terapi tersebut harus disampaikan. Sebuah prinsip kejujuran dan kerendahan hati sedari awal.

Ketiga, TAP mempromosikan prosedur terapi yang menurut IDI belum memenuhi kaidah-kaidah KBB. Dalam etika praktek kedokteran, bahkan prosedur terapi yang telah disepakati menjadi sebuah standar terapi oleh perkumpulan dokter ahli pun, tetap tidak diizinkan untuk dipromosikan secara komersil kepada masyarakat.

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

Keempat, dalam perkembangannya, IDI telah memberikan ruang kepada TAP untuk melakukan klarifikasi atas apa yang dipertahankannya sebagai sebuah prinsip yang kemudian dikenal sebagai “Terawan Theory”, namun hingga kini TAP belum menanggapinya. Tentu saja jika TAP bersedia, beliau harus membawa data-data ilmiah sesuai KBB yang dapat menguatkan teorinya tersebut yang menjadi dasar terapi “cuci otak”-nya.

Kira-kira bagaimanakah akhir drama ini? Masih ada waktu yang cukup bagi TAP untuk guyub dengan organisasi yang menaunginya guna mencari titik temu. Saya meyakini, jika metode ini kemudian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sesuai KBB, IDI pasti akan siap membantu penelitian sesuai kaidah, terkait metode terapi kontroversial ini.

Untuk masyarakat luas, sudah sepatutnya selalu menguatkan literasi terkait isu-isu hangat agar menilai secara bias atau keliru tidak terlanjur menjadi budaya di era yang sudah sangat modern ini. Apalagi sampai menjadi korban cuci otak, hehehe! [T]

Tags: Ikatan Dokter Indonesiakedokteranmedistekhnologi medis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Minat Baca, BRIN Jawab Keresahan Publik dengan Akuisisi Pengetahuan Lokal

Next Post

Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co