2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cuci Otak”

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
April 3, 2022
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.”— (Sumpah dokter Indonesia No ke-11)

Istilah cuci otak selalu  menarik. Entah itu pada makna harfiahnya maupun sebagai sebuah frase yang hari-hari ini menjadi populer sebagai satu tindakan medis yang tentu saja, kontroversial. Dalam makna harfiahnya, cuci otak kita ketahui merupakan sebuah proses yang tak biasa-biasa saja dan hasil prosesnya itupun acap kali luar biasa dan mencengangkan.

Istilah ini populer dalam dunia radikalisme-terorisme atau dalam kisah-kisah spionase. Akan mudah kita pahami, orang yang biasa-biasa saja takkan pernah menjadi seorang radikal, teroris atau  agen rahasia. Ia perlu dicuci otaknya supaya memenuhi syarat.

Artinya, harus ditanamkan gagasan-gagasan baru yang ideologis, disebut juga indoktrinasi, untuk menggeser keyakinan lamanya yang tidak sesuai dengan kebutuhan sebuah gerakan. Jika program cuci otak ini sukses, akan lahir individu-individu yang bersedia melakukan tindakan-tindakan ekstrim di luar nalar masyarakat pada umumnya dan tentu saja dampaknya pun tak main-main.

Ini bukti bahwa pikiran manusia sangat berbahaya walau ia tak tampak dan tak dapat dirasakan. Profil fisik manusia yang secara umum sama saja, terdiri dari kepala, badan, tangan dan kaki, dapat saja melakukan tindakan yang sangat beragam berkat kendali pikiran masing-masing. Kendali dari ruang gelap yang tak pernah dikenali.

Apakah ini sebuah kebetulan belaka, faktanya “cuci otak” yang dilakukan oleh dr Terawan Agus Putranto (TAP), juga telah menjadi polemik riuh saat ini. Polemik kian memanas saat TAP, dijatuhi sanksi pemecatan sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akibat pelanggaran etik yang telah dilakukannya, atas rekomendasi dari sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

Ayo Kolaborasi Untuk Layanan Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Bagaimana kita melihat peristiwa ini? Saya akan berpijak pada prinsip-prinsip obyektifitas dalam menulis isu polemik ini. Pada artikel sebelumnya, saya pun pernah menulis sebuah otokritik terhadap IDI, organisasi profesi di mana saya bernaung.

Cuci otak ala TAP, memang menarik, sebab pada dasarnya hal itu merupakan satu prosedur medis biasa yang sudah diaplikasikan sejak lama, kemudian dimodifikasi oleh TAP. Prosedur medis tersebut dikenal sebagai Digital Subtraction Angiography (DSA) yang pada awalnya merupakan sebuah metode diagnosis, oleh TAP dimodifikasi sebagai sebuah terapi.

Yang dilakukan dari prosedur itu adalah, memasukan kateter (selang kecil khusus) ke dalam pembuluh darah otak disertai dengan penyemprotan zat warna yang kemudian dari pencitraan X-ray dapat dinilai keadaan dinding dalam pembuluh darah otak tersebut. Pada saat prosedur itu dilakukan, dilakukan pula penyemprotan satu obat bernama heparin untuk mencegah terjadinya pembekuan darah selama prosedur dilakukan.

Dari prosedur DSA tersebut, akan diketahui kemudian apakah pasien mengalami stroke, kelainan pembuluh darah lain atau sebaliknya pembuluh darahnya normal-normal saja. Itu kemudian menjadi dasar bagi seorang dokter ahli saraf (neurolog) untuk memberikan rencana terapi kepada pasien tersebut.

Nah, TAP kemudian mempromosikan prosedur ini sebagai satu pengobatan stroke kepada publik. Memang cukup banyak pasien yang memberikan testimoni, bahkan dari kalangan orang-orang penting dan tokoh nasional, merasa “lebih baik” setelah menjalani DSA atau “cuci otak” tersebut.

Rahasia Madu untuk Kesehatan

Namun ada beberapa hal mendasar yang harus publik ketahui. Pertama-tama, penyakit stroke sendiri adalah kompetensi seorang dokter ahli saraf, sementara TAP adalah seorang dokter ahli radiologi yang mendalami radiologi intervensi. Jadi, betulkah pasien-pasien yang di-”cuci otak” itu memang penderita stroke?

Kedua, prinsip dasar sebuah terapi medis adalah kedokteran berbasis bukti (KBB). Jadi bukan hanya atas dasar teori & testimoni. Sebab harus kita ketahui pula akan sebuah fenomena yang disebut sebagai efek plasebo yaitu suatu efek sugesti dari zat yang sebetulnya tak berkhasiat sama sekali. Ini dapat semakin mungkin dirasakan, apalagi kalau ternyata pasien tersebut memang bukan penderita stroke sebenarnya. 

Sudahkah dilakukan pencitraan pembuluh darah pasien, baik sebelum dan sesudah “cuci otak”? KBB menuntut rangkaian riset uji klinis baku sebelum satu prosedur medis dapat disepakati (konsesus) oleh perkumpulan dokter ahli menjadi sebuah pilihan terapi. Ini semua demi  melindungi masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip praktek kedokteran yang baik.

Dalam riset tersebut, tidak hanya efektivitas terapi yang dipublikasikan, pun tingkat kegagalan dan efek samping yang ditimbulkan terapi tersebut harus disampaikan. Sebuah prinsip kejujuran dan kerendahan hati sedari awal.

Ketiga, TAP mempromosikan prosedur terapi yang menurut IDI belum memenuhi kaidah-kaidah KBB. Dalam etika praktek kedokteran, bahkan prosedur terapi yang telah disepakati menjadi sebuah standar terapi oleh perkumpulan dokter ahli pun, tetap tidak diizinkan untuk dipromosikan secara komersil kepada masyarakat.

Hari Dokter Nasional: Saya Memilih Sebuah Otokritik

Keempat, dalam perkembangannya, IDI telah memberikan ruang kepada TAP untuk melakukan klarifikasi atas apa yang dipertahankannya sebagai sebuah prinsip yang kemudian dikenal sebagai “Terawan Theory”, namun hingga kini TAP belum menanggapinya. Tentu saja jika TAP bersedia, beliau harus membawa data-data ilmiah sesuai KBB yang dapat menguatkan teorinya tersebut yang menjadi dasar terapi “cuci otak”-nya.

Kira-kira bagaimanakah akhir drama ini? Masih ada waktu yang cukup bagi TAP untuk guyub dengan organisasi yang menaunginya guna mencari titik temu. Saya meyakini, jika metode ini kemudian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sesuai KBB, IDI pasti akan siap membantu penelitian sesuai kaidah, terkait metode terapi kontroversial ini.

Untuk masyarakat luas, sudah sepatutnya selalu menguatkan literasi terkait isu-isu hangat agar menilai secara bias atau keliru tidak terlanjur menjadi budaya di era yang sudah sangat modern ini. Apalagi sampai menjadi korban cuci otak, hehehe! [T]

Tags: Ikatan Dokter Indonesiakedokteranmedistekhnologi medis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Minat Baca, BRIN Jawab Keresahan Publik dengan Akuisisi Pengetahuan Lokal

Next Post

Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Konser Tatap Muka Tjokorda Bagus | Tampilkan Mariani, Frando Hutabarat, dan Sars

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co