24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Siswa SMA di Kota Denpasar Berdebat dalam Bahasa Bali

I Made Sudiana by I Made Sudiana
February 12, 2022
in Esai
Ketika Siswa SMA di Kota Denpasar Berdebat dalam Bahasa Bali

Salah satu peserta dalam lomba debat bernahasa Bali di Kota Denpasar

Bulan Bahasa Bali menyajikan mata lomba debat berbahasa Bali setiap tahunnya. Tahun 2022 ini debat berbahasa Bali diselenggarakan juga. Selain dan sebelum di tingkat provinsi, lomba debat berbahasa Bali juga dilaksanakan di kota/kabupaten di Bali.

Di Kota Denpasar lomba debat berbahasa Bali dilaksanakan hari Jumat, 11 Februari 2022 bertempat di Wantilan Lokanatha, Lumintang, Denpasar. Lomba yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar ini sedianya dilaksanakan di aula Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Lomba debat dipindah dengan alasan tertentu. Lomba ini diikuti delapan SMA negeri dari sembilan SMA negeri yang ada di Kota Denpasar.

Tahun ini Putra Suarjana, Ari Suprapta, dan saya “didaulat” untuk menjadi juri lomba debat berbahasa Bali dalam rangka Bulan Bahasa Bali Kota Denpasar 2022. Ini adalah kali pertama saya menjadi juri lomba debat berbahasa Bali. Banyangan saya debat dalam lomba ini akan seru, akan banyak hal yang manarik yang akan terjadi.

Seperti biasa, debat dikuti oleh tim. Setiap tim terdiri atas tiga orang. Dalam lomba peserta mendapat undian topik debat. Topik tersebut dundi dalam setiap tahapan lomba. Ada lima topik yang disajikan oleh panitia. Topik sudah ditentukan dalam bahasa Bali, yaitu tentang (1) Pergub Bali Nomor 24 Tahun 2020, (2) sastra Bali, (3) pariwisata Bali, (4) warga Bali, dan (5) upacara-upacara di Bali. Semua topik berkaitan dengan air sesuai dengan tema, yaitu danu atau ranu yang bermakna ‘air’.

Dua tim yang berhadapan dibagi dua, yaitu tim pro dan tim kontra. Penentuan tim yang pro dan kontra dilakukan dengan suit. Kedua tim dalam lomba berdebat mengenai salah satu topik yang didapat. Kalau ada dua tim yang berhadap-hadapan tentu seharusnya disebut pertandingan, seperti pertandingan badminton dan sejenisnya. Ini dua tim yang berhadapan disebut lomba, entahlah. Terima sajalah, ini lomba, lomba debat, bukan pertandingan debat. Mungkin lebih pas debat saja. Mungkin karena ada pemenangnya disebutlah dengan lomba. Yang dipilih bukan pertandingan, sekali lagi lomba.

Sebagai orang bahasa, saya akan berbicara tentang penggunaan bahasa dalam debat tersebut. Debat ini menggunakan bahasa Bali, ya, namanya saja debat berbahasa Bali, tentu bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali.

Bagaimana penguasaan atau kemahiran berbahasa Bali perserta debat?

Dalam catatan tim juri yang disampaikan oleh ketua tim juri, Putra Suarjana, sebelum dibacakan pemenang lomba bahwa masih banyak yang perlu dilatih dari peserta, terutama sisi kemahiran berbahasa di samping penguasaan topik debat. Dikatakan kemahiran berbahasa menyangkut cara mengemukakan pendapat atau argumen. Dari sisi materi, tentu pengenalan istilah-istilah mengenai topik yang didapat perlu dikuasai untuk dapat mengungkapkan ide dengan tepat.

Secara pribadi ada beberapa hal yang manarik perhatian saya. Pertama, membangun argumen dalam bahasa Bali, baik pro maupun kontra. Kedua, cara penyampaian  argumen menggunakan bahasa Bali. Ketiga, metode penyampaian argumen supaya efektif karena ada batas waktu. Ini pula yang menjadi penilai juri, yang meliputi isi, gaya, dan strategi.

Rata-rata peserta—delapan peserta—mampu mengungkapkan pidato substantif di awal selama 7 menit dengan baik dalam bahasa Bali. Hal ini termasuk mengenalkan asal sekolah dan nama anggota tim. Mungkin karena disiapkan jauh hari sebelum perlombaan. Hal ini sangat berbeda ketika debat sudah berlangsung. Walaupun topik debat sudah diterima peserta sebelum lomba, peserta kesulitan berbahasa Bali ketika mengadu argumentasi pro dan kontra ketika berdebat.

Selanjutnya, pembicara kedua diberikan waktu 3 menit berargumen atau menyanggah, bahasa yang digunakan mulai tidak terkendali dan cenderung kacau dari sisi struktur kalimat dan pilihan katanya. Kadang ada jeda sesaat karena mereka mungkin berpikir bagaimana mengungkapkan idenya dalam bahasa Bali. Tidak hanya jeda, kadang senyap sesaat dan ada yang sampai dibantu teman timnya. Demikian juga waktu 2 menit diberikan kepada pembicara ketiga untuk memberikan pernyataan penutup. Kemahiran berbahasa Bali menurut saya sangat perlu dilatih untuk mengikuti debat berbahasa Bali ini, di samping penguasaan topik debat.

Dari sisi kosakata, untuk kata pro sudah sangat umum digunakan cumpu, sedangkan untuk kata kontra sama sekali tidak digunakan tangkas (istilah bahasa Bali). Yang sering digunakan adalah nénten cumpu. Ini memperlihatkan kurangnya perbendaharaan kosakata yang mendasar peserta tentang istilah dalam debat dalam bahasa Bali. Hal mendasar seperti ini perlu diperhatikan oleh peserta, terutama pembina ke depan. Peserta setidaknya dan sedapatnya menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Bali atau istilah yang sudah diserap ke dalam bahasa Bali.

Salah satu peserta dalam lomba debat berbahasa Bali di Kota Denpasar

Berikut ini beberapa kesalahan umum yang dilakukan peserta dari sisi bahasa pada saat lomba.

Pertama, ketika mengenalkan diri, banyak peserta salah menggunakan kata wasta, mawasta ‘nama, bernama’. Kesalahan yang fatal dan itu terjadi berulang ketika salah seorang pembicara mengenalkan temannya dengan ring tengen titiang mawasta …. ‘di sebelah kanan saya bernama …’. Seharusnya menurut struktur, ring tengen titiang … ‘di kanan saya …’, wastan titiang … ‘nama saya …’, atau titiang … ‘saya …’. Yang fatal juga ketika mengenalkan teman setimnya, pembicara pertama mengenalkan dengan timpal tiang mawastan …. Mungkin karena keliru dengan sebutan wastan titiang …. Hal ini terjadi beberapa kali dan kesalahannya konsisten. Artinya, peserta tersebut memang itu keliru dan tidak menyadari kekeliruannya.

Kedua, ketika menggunakan kalimat aktif atau pasif, banyak perserta tidak meyadari kalimatnya bermasalah dari sisi aktif pasifnya. Penggunaan kalimat aktif dan pasif tidak jelas. Banyak peserta tidak bisa membedakan antara kalimat aktif dan kalimat pasif. Contohnya: indik punika sampun iraga kalaksayang. Yang seharusnya: indik punika sampun kalaksanayang (olih) …. Yang aktif adalah nglaksanayang, sedangkan pasif adalah kalaksanayang.

Ketiga, ketika menggunakan imbuhan nasal, banyak peserta yang salah menggunakan imbuhan tersebut. Pembentukan kata dengan pengimbuhan awalan nasal (N-), seperti ny, m, n, ng. Misalnya: N- + jaga menjadi nyaga ‘menjaga’, bukan ngajaga. Beberapa peserta berulang kali mengatakan ngajaga yang semestinya nyaga. Hal ini tentu berbeda dengan ma- + jaga menjadi majaga ‘berjaga’.

Keempat, ketika menggunakan akhiran –ang, -in, -an, banyak peserta yang belum memahami penggunaan akhiran itu secara tepat. Pengguna bahasa Bali memang sering sudah menggunakan akhiran ini. Lebih-lebih penutur bahasa Bali di Kota Denpasar yang penggunaan akhiran ini tidak selengkap penutur bahasa Bali dari Klungkung, Karangasem, atau Buleleng. Misalnya: sakadi sampun kauniningan, …, seharusnya sakadi sane sampun kauningin, ….

 Kelima, ketika menggunakan kata depan, banyak peserta yang tidak tepat dalam pemilihan kata depan tersebut. Ketidaktepatan penggunaan kata depan terutama pada penggunaan kata depan antuk dan saking. Kata depan antuk dalam bahasa Bali sering dipadankan oleh peserta dengan untuk dalam bahasa Indonesia. Tentu hal ini keliru. Kata depan antuk sepadan dengan oleh dalam bahasa Indonesia. Demikian juga kata saking yang sepadan dengan dari dalam bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan untuk menunjukkan tempat atau asal. Peserta  keliru, kata depan saking dipadankan dengan pada atau di. Seharusnya yang digunakan adalah ring ‘pada atau di’ yang menunjukkan tempat, bukan saking.

Ada beberapa lagi kesalahan yang sempat saya catat. Semua kesalahan tersebut semestinya bisa dikurangi ketika kita mau menyadari kesalahan itu dan memperbaiki kesalahan itu. Untuk itu, besar harapan saya kepada pembina peserta debat di masa yang akan datang atau pada lomba di tingkat provinsi memperhatikan hal seperti ini.

Kesalahan dalam berbahasa bisa kita perbaiki bersama. Mari bersama-sama kita memperbaiki diri dalam berbahasa, baik tulis maupun lisan.[T]

Tags: Bahasa BaliBulan Bahasa BaliKota Denpasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kelompok Seketika” Juara Satu Lomba Musikalisasi Puisi Bulan Bahasa Bali 2022

Next Post

Gol A Gong | Atlet Badminton, Novelis, Duta Baca, Membangun Rumah Dunia

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Gol A Gong | Atlet Badminton, Novelis, Duta Baca, Membangun Rumah Dunia

Gol A Gong | Atlet Badminton, Novelis, Duta Baca, Membangun Rumah Dunia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co