24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Esensi Mendaki Gunung: Antara Cerita, Realita dan Harapan

IG Arta by IG Arta
February 4, 2022
in Esai
Esensi Mendaki Gunung: Antara Cerita, Realita dan Harapan

Foto: IG Arta

Andai Tuhan tak sabar memberi kesempatan saya untuk masih menjadi guru, mungkin saya sudah menjadi orang terkenal yang diiberitakan dan diperbincangkan dimana-mana. Bukan menjadi selebritis atau selebgram, tapi menjadi headlines sebuah berita di media massa.

Judulnya mungkin seperti ini: “Seorang guru tewas terjatuh di lereng Batukaru saat mendakii. Menghebohkan tapi tragis”.

Itu bermula dari suatu senja, di akhir Desember 2020, tiga serdadu SIDHABU (sebutan untuk anggota dan mantan SIspala DHArma BUwana, SMP N 2 Melaya)  berkunjung ke rumah dengan misi,  bukan saja untuk menjaga hubungan baik, antara guru dan mantan murid,   tetapi yang utama adalah permintaan untuk mengawal mereka mendaki  Gunung Batukaru.

Mereka sangat paham bahwasanya saya sangat sulit menolak untuk diajak kegiatan seperti itu. Karena mereka tahu, kami berada pada frekuensi yang sama, yaitu sebagai mahluk penikmat kesunyian dan pemuja rimbunnya belukar.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk merayakan Natal dengan mendaki Gunung Batukaru.

Setelah memperdebatkan rencana aksi, dan mempersiapkan segala keperluan, keesokan pagi, sekitar jam 5.30 kami berenam, terdiri dari tiga anggota SHIDABU, satu teman SMA  mereka, saya  dan anak lelaki saya, ,bergerak  dari Negara dengan tiga sepeda motor menuju Pura Malen, di Pujungan, Pupuan, Tabanan. Pura Malen  sebagai Starting point pendakian.

Sekitar jam 10.00 kami memulai pendakian dengan semangat yang sangat membara. Bukan hanya karena pengalaman kami yang masih minim dalam mendaki,  yang menumbuhkan rasa antusias yang tinggi,  tetapi lebih kepada sensasi menelusuri hutan yang masih sangat asri dan seni.

Ada ketakjuban yang tak terkatakan. Juga harapan, andai saja semua gunung dan hutan di semua tempat masih seperti ini. Tentu keberadaban kita terhadap mahluk lain  yang katanya masih di bawah kita levelnya, tidak perlu diperdebatkan lagi.

Setelah hampir tujuh jam pendakian, karena kami memang tidak ngegas pol untuk segera sampai ke puncak, karena prinsip kami justru proses pendakianlah yang menjadi skala prioritas untuk dinikmati. Kami sampai di puncak dengan bahagia.

Bergegas kami membangun dua tenda, karena gerimis mulai turun. Kemudian segala bentuk rutinitas berkemah di puncak gunung pun kami lalui. Mulai dari kegiatan masak sederhana, bermodalkan mie instan, telur rebus dan sosis, bermain gitar, dan menyalakan api unggun “sampah”, serta obrolan ringan pengantar tidur.

Hal istimewa yang bisa dikenang malam itu adalah dinginnya udara yang sangat menyengat. Logikanya, di puncak ketinggian pasti dingin, tapi ini lebih dari biasanya, menurut saya.

Saya mengenakan dua celana panjang tebal, kaos kaki ganda, dengan kombinasi dua kaos lengan pendek dan panjang, jacket tebal, kupluk di kepala, serta selop tangan tebal, tidak mampu membendung dinginnya udara malam itu.

Akhirnya dengan mengkonsumsi air panas, saya baru bisa terlelap beberapa saat. Sungguh pengalaman pertama menghabiskan malam dengan sangat kedinginan.

Keesokan pagi, setelah berfoto-foto bersama dengan sunrise dan suasana sekitar,  kenangan yang tak terlupakan itu terjadi. Saat itu, saya bersama anak memutuskan untuk mendahului turun dengan pertimbangan agar tidak terlalu jauh tertinggal dan bisa sampai di bawah bersamaan, mengingat kemampuan fisik saya yang berbeda dengan mereka.

Mereka setuju dengan syarat saya dikawal salah satu dari mereka. Bahkan mereka juga membekali saya dengan trekking pole –nya. Juga, di saat turun itu, saya menemukan sebuah tongkat bekas pendaki lain yang terbuang. Tongkat itu saya berikan ke anak saya untuk digunakan. 

Beberapa menit berjalan, keteledoran kecil yang berdampak saya nyaris celaka, atau bahkan nyaris pulang tinggal nama. Saya terjatuh ke lereng gunung yang terjal dan dalam. Setapak yang nampak normal, dengan rumput yang masih utuh, ketika diinjak ternyata lubang yang tidak berisi tanah.

Hujan yang terus menerus di musim itu rupanya telah menggerus tanah di bawah rumput.  Saya terjatuh dalam posisi salto dua kali, dan beruntung ada pohon paku atau pakis besar bisa saya raih.

Kepanikan anak dan murid pengawal saya terdengar dari teriakan mereka yang terus menerus memanggil nama saya. Saya baru bisa membalas panggilan itu setelah menyadari bahwa saya baik-baik saja. Hanya kupluk kesayangan saya yang hilang. Selebihnya semua aman.

Dengan tenaga yang tersisa saya perlahan mulai mendaki mendekati mereka . Kesulitan terjadi saat saya harus naik ke setapak, sementara kondisi medan licin dan longsor. Beruntung saya dbekali trekkng pole dan tongkat pungut tadi.

Dengan kerja keras,  masing-masing dari mereka menarik saya dengan bantuan tongkat-tongkat itu..  Kami menenangkan diri sesaat sebelum melanjutkan perjalanan turun. Sambil menghela nafas  saya merenung, ternyata ada hikmah dari trekkng pole  dan tongkat pungut itu. Mereka telah menyelamatkan saya.

Dan yang lebih beruntung lagi, pengalaman gelap itu tak mampu menghitamkan passion saya untuk mendaki dan masuk hutan lagi. Kecintaan saya masih sangat besar dan utuh. Justru, itu memotivasi saya untuk mendaki lagi dan lagi. Tentu dengan memprioritaskan  keselamatan dan keamanan pendakian.

Bahkan ada keinginan untuk mengajak lebih banyak orang lagi, untuk lebih mencintai alam  dengan kegiatan ini.

Bagi sebagian orang, dari cerita mereka yang saya dengar dan baca, selain sebagai bentuk pembuktian keperkasaan diri menaklukan ketinggian dengan berjalan kaki,  mendaki juga bagus untuk menyegarkan pikiran dari kejenuhan rutinitas. Disamping, kegiatan mendaki juga terkatagori kegiatan yang sangat ramah dengan sosial media. Dan masih banyak lagi alasan lainnya yang bersifat personal.

Namun bagi saya, mendaki adalah ruang untuk berbalas budi atas apa yang gunung dan hutan telah berikan. Sekaligus,  sebagai ajang untuk beramah tamah dengan semesta. Dengan mendaki, keinginan untuk melestarikan alam, khususnya gunung beserta isinya semakin tinggi. Selalu tumbuh niat untuk menjaganya dari kerusakan. 

Penulis, suatu pagi di sebuah ketinggian…

Mungkin terdengar naif dan sangat klise, tapi itulah perasaan yang tidak bisa saya pungkiri. Bagi saya dengan mendaki, kita bisa lebih  mengakrabkan diri dengan alam, mengenali dan memahami dari dekat, sehingga timbul rasa cinta, yang berujung pada rasa sayang yang dalam dan tulus.

Walaupun memang  tak semua kegiatan mendaki berdampak positf bagi alam. Masih sering kita jumpai beberapa aksi yang kurang terpuji dari beberapa oknum pendaki, yang menurut saya,  mereka masih belum siap mental untuk memahami esensi dan sensasi dari mendaki.

Seperti, masih ada saja pendaki yang membuang sampah plastik bawaan mereka atau anorganik lainnya disepanjang perjalanan pendakian. Atau tindakan menulisi pohon dengan pisau atau tinta sebagai bentuk pengakuan eksistensi. Mereka hanya butuh kesadaran diri tanpa perlu menambah regulasi lagi. Dan itu butuh proses.

Juga, meski mendaki memilki dampak negatif lainnya, utamanya bagi pendaki, seperti mengalami kedinginan, atau terjatuh, atau hal lain  yang bahkan sangat membahayakan jiwa pendaki jika terjadi kesalahan dalam melakukannya, menurut saya, itu adalah hal biasa yang  juga bisa terjadi pada kegiatan atau aktivitas yang lain. Sebagaimana konsep Rwa bhineda, hitam dan putih pasti akan selalu ada di setiap aspek kehidupan sebagai bentuk sebuah keselarasan. [T]

Tags: Gunung BatukarulingkunganMendaki Gunungpecinta alam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aksara Bali di Ruang Publik | Yang Ditulis Suaranya, Bukan Menyalin Hurufnya

Next Post

Konservasi Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

IG Arta

IG Arta

Guru. Tinggal di Kelurahan Lelateng, Negara, Jembrana

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Konservasi  Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

Konservasi Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co