3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Esensi Mendaki Gunung: Antara Cerita, Realita dan Harapan

IG Arta by IG Arta
February 4, 2022
in Esai
Esensi Mendaki Gunung: Antara Cerita, Realita dan Harapan

Foto: IG Arta

Andai Tuhan tak sabar memberi kesempatan saya untuk masih menjadi guru, mungkin saya sudah menjadi orang terkenal yang diiberitakan dan diperbincangkan dimana-mana. Bukan menjadi selebritis atau selebgram, tapi menjadi headlines sebuah berita di media massa.

Judulnya mungkin seperti ini: “Seorang guru tewas terjatuh di lereng Batukaru saat mendakii. Menghebohkan tapi tragis”.

Itu bermula dari suatu senja, di akhir Desember 2020, tiga serdadu SIDHABU (sebutan untuk anggota dan mantan SIspala DHArma BUwana, SMP N 2 Melaya)  berkunjung ke rumah dengan misi,  bukan saja untuk menjaga hubungan baik, antara guru dan mantan murid,   tetapi yang utama adalah permintaan untuk mengawal mereka mendaki  Gunung Batukaru.

Mereka sangat paham bahwasanya saya sangat sulit menolak untuk diajak kegiatan seperti itu. Karena mereka tahu, kami berada pada frekuensi yang sama, yaitu sebagai mahluk penikmat kesunyian dan pemuja rimbunnya belukar.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk merayakan Natal dengan mendaki Gunung Batukaru.

Setelah memperdebatkan rencana aksi, dan mempersiapkan segala keperluan, keesokan pagi, sekitar jam 5.30 kami berenam, terdiri dari tiga anggota SHIDABU, satu teman SMA  mereka, saya  dan anak lelaki saya, ,bergerak  dari Negara dengan tiga sepeda motor menuju Pura Malen, di Pujungan, Pupuan, Tabanan. Pura Malen  sebagai Starting point pendakian.

Sekitar jam 10.00 kami memulai pendakian dengan semangat yang sangat membara. Bukan hanya karena pengalaman kami yang masih minim dalam mendaki,  yang menumbuhkan rasa antusias yang tinggi,  tetapi lebih kepada sensasi menelusuri hutan yang masih sangat asri dan seni.

Ada ketakjuban yang tak terkatakan. Juga harapan, andai saja semua gunung dan hutan di semua tempat masih seperti ini. Tentu keberadaban kita terhadap mahluk lain  yang katanya masih di bawah kita levelnya, tidak perlu diperdebatkan lagi.

Setelah hampir tujuh jam pendakian, karena kami memang tidak ngegas pol untuk segera sampai ke puncak, karena prinsip kami justru proses pendakianlah yang menjadi skala prioritas untuk dinikmati. Kami sampai di puncak dengan bahagia.

Bergegas kami membangun dua tenda, karena gerimis mulai turun. Kemudian segala bentuk rutinitas berkemah di puncak gunung pun kami lalui. Mulai dari kegiatan masak sederhana, bermodalkan mie instan, telur rebus dan sosis, bermain gitar, dan menyalakan api unggun “sampah”, serta obrolan ringan pengantar tidur.

Hal istimewa yang bisa dikenang malam itu adalah dinginnya udara yang sangat menyengat. Logikanya, di puncak ketinggian pasti dingin, tapi ini lebih dari biasanya, menurut saya.

Saya mengenakan dua celana panjang tebal, kaos kaki ganda, dengan kombinasi dua kaos lengan pendek dan panjang, jacket tebal, kupluk di kepala, serta selop tangan tebal, tidak mampu membendung dinginnya udara malam itu.

Akhirnya dengan mengkonsumsi air panas, saya baru bisa terlelap beberapa saat. Sungguh pengalaman pertama menghabiskan malam dengan sangat kedinginan.

Keesokan pagi, setelah berfoto-foto bersama dengan sunrise dan suasana sekitar,  kenangan yang tak terlupakan itu terjadi. Saat itu, saya bersama anak memutuskan untuk mendahului turun dengan pertimbangan agar tidak terlalu jauh tertinggal dan bisa sampai di bawah bersamaan, mengingat kemampuan fisik saya yang berbeda dengan mereka.

Mereka setuju dengan syarat saya dikawal salah satu dari mereka. Bahkan mereka juga membekali saya dengan trekking pole –nya. Juga, di saat turun itu, saya menemukan sebuah tongkat bekas pendaki lain yang terbuang. Tongkat itu saya berikan ke anak saya untuk digunakan. 

Beberapa menit berjalan, keteledoran kecil yang berdampak saya nyaris celaka, atau bahkan nyaris pulang tinggal nama. Saya terjatuh ke lereng gunung yang terjal dan dalam. Setapak yang nampak normal, dengan rumput yang masih utuh, ketika diinjak ternyata lubang yang tidak berisi tanah.

Hujan yang terus menerus di musim itu rupanya telah menggerus tanah di bawah rumput.  Saya terjatuh dalam posisi salto dua kali, dan beruntung ada pohon paku atau pakis besar bisa saya raih.

Kepanikan anak dan murid pengawal saya terdengar dari teriakan mereka yang terus menerus memanggil nama saya. Saya baru bisa membalas panggilan itu setelah menyadari bahwa saya baik-baik saja. Hanya kupluk kesayangan saya yang hilang. Selebihnya semua aman.

Dengan tenaga yang tersisa saya perlahan mulai mendaki mendekati mereka . Kesulitan terjadi saat saya harus naik ke setapak, sementara kondisi medan licin dan longsor. Beruntung saya dbekali trekkng pole dan tongkat pungut tadi.

Dengan kerja keras,  masing-masing dari mereka menarik saya dengan bantuan tongkat-tongkat itu..  Kami menenangkan diri sesaat sebelum melanjutkan perjalanan turun. Sambil menghela nafas  saya merenung, ternyata ada hikmah dari trekkng pole  dan tongkat pungut itu. Mereka telah menyelamatkan saya.

Dan yang lebih beruntung lagi, pengalaman gelap itu tak mampu menghitamkan passion saya untuk mendaki dan masuk hutan lagi. Kecintaan saya masih sangat besar dan utuh. Justru, itu memotivasi saya untuk mendaki lagi dan lagi. Tentu dengan memprioritaskan  keselamatan dan keamanan pendakian.

Bahkan ada keinginan untuk mengajak lebih banyak orang lagi, untuk lebih mencintai alam  dengan kegiatan ini.

Bagi sebagian orang, dari cerita mereka yang saya dengar dan baca, selain sebagai bentuk pembuktian keperkasaan diri menaklukan ketinggian dengan berjalan kaki,  mendaki juga bagus untuk menyegarkan pikiran dari kejenuhan rutinitas. Disamping, kegiatan mendaki juga terkatagori kegiatan yang sangat ramah dengan sosial media. Dan masih banyak lagi alasan lainnya yang bersifat personal.

Namun bagi saya, mendaki adalah ruang untuk berbalas budi atas apa yang gunung dan hutan telah berikan. Sekaligus,  sebagai ajang untuk beramah tamah dengan semesta. Dengan mendaki, keinginan untuk melestarikan alam, khususnya gunung beserta isinya semakin tinggi. Selalu tumbuh niat untuk menjaganya dari kerusakan. 

Penulis, suatu pagi di sebuah ketinggian…

Mungkin terdengar naif dan sangat klise, tapi itulah perasaan yang tidak bisa saya pungkiri. Bagi saya dengan mendaki, kita bisa lebih  mengakrabkan diri dengan alam, mengenali dan memahami dari dekat, sehingga timbul rasa cinta, yang berujung pada rasa sayang yang dalam dan tulus.

Walaupun memang  tak semua kegiatan mendaki berdampak positf bagi alam. Masih sering kita jumpai beberapa aksi yang kurang terpuji dari beberapa oknum pendaki, yang menurut saya,  mereka masih belum siap mental untuk memahami esensi dan sensasi dari mendaki.

Seperti, masih ada saja pendaki yang membuang sampah plastik bawaan mereka atau anorganik lainnya disepanjang perjalanan pendakian. Atau tindakan menulisi pohon dengan pisau atau tinta sebagai bentuk pengakuan eksistensi. Mereka hanya butuh kesadaran diri tanpa perlu menambah regulasi lagi. Dan itu butuh proses.

Juga, meski mendaki memilki dampak negatif lainnya, utamanya bagi pendaki, seperti mengalami kedinginan, atau terjatuh, atau hal lain  yang bahkan sangat membahayakan jiwa pendaki jika terjadi kesalahan dalam melakukannya, menurut saya, itu adalah hal biasa yang  juga bisa terjadi pada kegiatan atau aktivitas yang lain. Sebagaimana konsep Rwa bhineda, hitam dan putih pasti akan selalu ada di setiap aspek kehidupan sebagai bentuk sebuah keselarasan. [T]

Tags: Gunung BatukarulingkunganMendaki Gunungpecinta alam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aksara Bali di Ruang Publik | Yang Ditulis Suaranya, Bukan Menyalin Hurufnya

Next Post

Konservasi Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

IG Arta

IG Arta

Guru. Tinggal di Kelurahan Lelateng, Negara, Jembrana

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Konservasi  Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

Konservasi Lontar di Jembrana | Lontar di Dadya Kayu Selem Desa Budeng Sebagian Lapuk

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co