12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surya Gemilang, Tentang Sastra, Tentang Kesendirian, Tentang Juara

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 29, 2022
in Persona
Surya Gemilang, Tentang Sastra, Tentang Kesendirian, Tentang Juara

Surya Gemilang [Foto diambil dari facebook Surya Gemilang]

Surya Gemilang, nama lengkapnya I Dewa Kadek Surya Gemilang Shivling. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi bertebaran di mana-mana, di media cetak dan media online, dan mungkin banyak orang sudah membacanya, terutama di kalangan sastrawan. Namun tak banyak kenal secara personal dengan orangnya.

Tentu saja. Ia termasuk penyendiri, dan jarang berada di tempat keramaian, semisal acara dan festival-festival sastra. Kalau pun ia datang pada sebuah festival, ia lebih suka sendiri, membaca atau sekadar melamun. Jarang ngumpul, ngobrol, apalagi ngakak-ngakak seperti banyak sastrawan lain.  

Surya lahir di Denpasar. Anak kedua dari dua bersaudara. Pendidikan SD, SMP dan SMA ditempuh di Denpasar. (SDN 7 Pedungan, SMPN 3 Denpasar, SMAN 7 Denpasar). Setamat SMA ia ke mana-mana, dan karyanya muncul di mana-mana. Sebut saja sejumlah buku yang sudah diterbitkannya, seperti Mencari Kepala untuk Ibu (Kumpulan cerpen, 2019); Mencicipi Kematian (Kumpulan puisi, 2018), Cara Mencintai Monster (Kumpulan puisi, 2017); dan Mengejar Bintang Jatuh (Kumpulan cerpen, 2015).

Cerpennya, ”Memancing di Tubuh Ibu”, dinobatkan sebagai peraih Penghargaan Litera 2021.  Penghargaan diserahkan oleh perwakilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek RI, Dwi Pratiwi pada puncak acara penyerahan Penghargaan Litera 2021 di Ruang Merdeka 2, Swiss Bell Hotel Sepong, BSD, Tangerang Selatan, 14 Desember 2021. 

Ternyata menjadi juara, atau menjadi yang terbaik dalam dunia sastra dan dunia tuis-menulis, bukanlah mimpi dia satu-satunya. “Saya ini kebanyakan mimpi, dan sampai sulit memangkasnya,” kata dia suatu kali dalam obrolan WA.

Saya sebenarnya ingin bertanya seperti seorang wartawan mewawancarai seorang tokoh melalui WA, namun, dasar penulis, Surya ternyata menjawab setiap pertanyaan seakan-akan dia menulis esai atau cerpen. Jadi, hanya dengan penyesuaian sedikit-sedikit, jawaban-jawaban Surya saya unggah di halaman ini seutuhnya.  

Surya Gemilang [Foto diambil dari facebook Surya Gemilang]

TENTANG AWAL MENULIS

Dimulai dari hal klise yang dialami remaja SMA: patah hati.

Waktu itu saya sedang suka-sukanya dengan puisi “Aku” si Chairil Anwar—dan pengalaman pertama dalam menyukai—puisi ini juga klise sekali. Begitu mengetahui bahwa Chairil seorang playboy, saya jadi ingin bisa menulis puisi juga—barangkali saya bisa membalas kejombloan saya dengan menjadi playboy.

Ternyata saya gagal menjadi playboy; tapi setidaknya saya berhasil menyelesaikan beberapa puisi cinta-cintaan remaja yang menurut saya keren waktu itu—tapi sekarang tak ingin saya baca kembali.

Dan bermula dari menulis puisi, saya berpikir: Kenapa tidak sekalian cerpen? Maka mulailah saya menulis cerpen, tentang cinta-cintaan remaja juga. Menulis cerpen dan puisi mulai menjadi ritual yang saya lakukan hampir tiap hari.

Barangkali, selain sebab keadaan patah hati, saya menulis melulu soal cinta-cintaan karena bahan bacaan saya hanya sebatas itu.

Lalu, pada suatu hari yang membosankan di kelas matematika, waktu Pak Guru sedang menjelaskan tentang geometri yang membuat saya ingin hibernasi, saya iseng mengoperasikan ponsel di kolong meja.

Saya membuka Google dan mengetik, “Novel-novel terbaik Indonesia”. Tentu saja muncul beragam daftar di Google, dan saya tak tahu judul-judul yang muncul di sana dianggap terbaik atas dasar apa. Yang jelas, saya mengamati judul-judul tersebut, dan tertarik pada sebuah novel: “Kitab Omong Kosong” karya Seno Gumira Ajidarma. Judulnya lucu. Maka, sepulang sekolah, saya mampir ke Togamas dan membeli “Kitab Omong Kosong”.

Saya menyukai novel itu. Dan saya sadar: menulis bukan melulu alat untuk bermelankolia-ria. Saya pun bertekad, saya harus menulis hal lain selain tentang cinta-cintaan—meskipun tak melarang diri untuk kembali menulis dengan tema tersebut.  Sejak saat itu saya mulai membiasakan diri mengembangkan bahan bacaan (prosa maupun puisi) dan topik tulisan.

Dan memasuki bangku kuliah, di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, saya baru sadar bahwa seni bisa dipelajari secara sistematis. Dari sana, saya mulai membaca tentang writer’s craft, teori-teori naratif, dan hal-hal sejenis.

TENTANG KELUARGA

Keluarga mendukung penuh hobi membaca-menulis saya. Saya pikir ada dua alasan:

Pertama, Aji (Papa) saya punya latar belakang kuliah seni, dan dengan latar belakang itu Aji bisa menghidupi keluarga. Mama pun tak meragukan kemampuan Aji dalam menghidupi keluarga. Maka, mereka semacam tak punya alasan untuk mencegah hobi saya.

Kedua, waktu SMA, sebelum mulai hobi membaca-menulis, saya pecandu berat game online. Saya lebih banyak bersosialisasi dengan manusia-virtual di game ketimbang dengan manusia nonvitual di sekeliling. Sejak mulai hobi membaca-menulis, saya mulai bisa mengurangi waktu di game online. Keluarga tentu menganggap itu hal baik.

Oh ya, sekadar tambahan, Aji dan Mama tak menganggap game online sebagai “ajaran sesat” atau semacamnya. Mereka yakin bahwa game mempunyai sisi positif–misalkan saya jadi lebih lancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris, karena game online yang saya mainkan berserver internasional. Apa yang Aji dan Mama tak suka hanyalah saya yang kecanduan.

TENTANG PENGALAMAN MENGIRIM KARYA KE MEDIA

Pertama kali saya berani mengirim puisi–semasa SMA–adalah ke tabloid Wiyata Mandala (milik Kelompok Media Bali Post). Tabloid itu rutin dibagikan ke seisi kelas saya, kalau tak salah sebulan sekali. Biasanya kami (para siswa) menggulung-gulungnya sedemikian rupa hingga serupa tongkat bisbol, dan menggunakannya sebagai senjata perang jika guru tak hadir.

Sejak terpikir untuk mengirim puisi ke Wiyata Mandala, saya tak lagi menggulung-gulung tabloid itu dan memakainya untuk menggeplak kepala teman. Saya mulai membaca puisi-puisi di sana, membaca tata cara pengiriman puisi, dan mengirimkan sejumlah puisi. Bulan depannya, puisi pertama saya, puisi cinta-cintaan remaja, dimuat. Hari itu satu kelas menganggap saya seperti pahlawan, seolah puisi saya dapat menyelamatkan mereka dari pemanasan global.

Dari mengirim puisi-puisi ke Wiyata Mandala, saya mulai mengirim cerpen ke Bali Post. Begitu cerpen pertama dimuat di Bali Post, saya mulai nekat mengirim tulisan ke berbagai media massa, lokal maupun nasional. Ada beberapa yang dimuat, dan sebagian besar tidak dimuat.

Pengiriman tulisan saya lakukan setiap minggu. Saya menulis sangat cepat. Sungguh kebiasaan yang “brutal”, kalau saya pikir-pikir sekarang. Sekarang saya lebih jarang mengirim tulisan ke media massa.

Saya pun kini menulis dengan lebih lamban. Itu sengaja saya lakukan: selain karena kesibukan kerja, saya berusaha keras memastikan tulisan saya memang layak dibaca. Saya memeriksa setiap tulisan saya berkali-kali sebelum berani mengirimnya. Terlebih, saya sendiri belum seberapa yakin dengan kemampuan saya dalam menulis.  Masih banyak PR yang harus saya telan.

Perihal juara dalam urusan tulis-menulis, yang terbaru, tahun ini, saya mendapatkan penghargaan “Cerpen Terbaik” dari situs Litera.co.id.

Sebelum-sebelumnya, saya belum pernah juara dalam bidang ini–paling tinggi masuk sebagai nominasi.

Saya pikir tak banyak yang bisa saya ceritakan perihal ajang-ajangan semacam ini.

Surya Gemilang [Foto diambil dari facebook Surya Gemilang]

TENTANG PENYENDIRI

Ini benar. Saya amat-sangat jarang berkumpul dengan sesama penulis, misalkan sewaktu di Bali. Selain kebanyakan menghabiskan waktu di luar kota—sejak kuliah hingga sekarang bekerja—saya memang kurang nyaman berada di keramaian. Hal begini saya pikir ada sebabnya: Waktu kecil, misalkan saat SD, saya beberapa kali pernah di-bully beramai-ramai. Akibatnya, sampai sekarang, jika berada di keramaian, saya selalu berpikir: sewaktu-waktu akan ada yang memukul kepala saya dari belakang.

Saya pikir itu ketakutan yang konyol. Sejak kuliah, saya berusaha keras melawan ketakutan itu—sampai sekarang. Dalam beberapa kesempatan, saya sengaja meletakkan diri di tengah keramaian: saya belum tentu ikut membaur dalam percakapan, tapi saya pasti mendengarkan setiap percakapan.

Terakhir kali saya datang ke acaranya para penulis, acara yang ramai, adalah beberapa bulan sebelum pandemic—saya lupa kapan tepatnya. Waktu itu para penulis diundang ke Bali, menginap gratis di Grand Bali Beach, dan mengikuti serangkaian acara di Art Centre.

Sejak saat itu, saya belum pernah berkumpul dengan sesama penulis lagi dalam suatu acara khusus. Tapi yang kali ini sebabnya adalah urusan kuliah dan kerja. Jika suatu hari saya lowong dan ada acara-para-penulis, saya pasti menjebloskan diri di sana.

Surya Gemilang [Foto diambil dari facebook Surya Gemilang]

TENTANG PEKERJAAN

Semester ini saya melakoni tiga pekerjaan:

Pertama, menjadi asisten dosen di beberapa kelas penyutradaraan film, di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta;

Kedua, menjadi sutradara iklan freelance. Masih iklan-iklan kecil, dan sama sekali belum banyak. Karier ini baru dimulai tahun ini;

Ketiga, menjadi penulis skenario di salah satu rumah produksi di Batam. Skenario untuk konten-konten audio-visual di media sosial, dengan target penonton kelas C sampai B-. Bukan profesi yang besar bagi saya, tapi lumayan untuk menambah tabungan demi lanjut S2.

Jadi, saya bolak-balik Batam-Jakarta-Bali. Bali khusus untuk liburan.

TENTANG MIMPI

Saya pikir saya kebanyakan bermimpi. Saya berusaha memangkas mimpi-mimpi saya karena tak ingin kecewa pada diri sendiri, hahaha. Sejauh ini, berikut mimpi-mimpi yang tersisa:

Pertama, menjadi sutradara dan penulis film fiksi yang bagus. Saya suka sekali dengan film-filmnya Michael Haneke, Andrei Tarkovsky, Tsai Ming-liang, Akira Kurosawa, Quentin Tarantino, Edwin, Garin Nugroho, dll.

Kedua, menjadi penulis prosa. Saya sangat menyukai Kafka, Hemingway, Dostoevsky, Chekov, Murakami, dan lain-lain.

Yang ketiga ini agak ngeri untuk saya sebutkan: Menjadi Penyair. Puisi ini semacam produk yang menakutkan bagi saya. Saya masih sering gagal membedakan mana puisi bagus dan buruk; maka saya kesulitan menulis puisi yang benar-benar layak dibaca.

Pekerjaan yang saya lakoni sekarang bukan mimpi saya, sebenarnya. Tapi saya yakin betul: Ini akan membawa saya menuju mimpi-mimpi saya.

Surya Gemilang [Foto diambil dari facebook Surya Gemilang]

TENTANG CINTA, PACAR, RUMAH TANGGA, DAN LAIN-LAIN

Saya tidak punya pacar. Saya tidak ingin punya pacar. Saya tidak ingin menikah. Hehehe …

Sebetulnya saya benar-benar tidak terbayang pada konsep ini: hidup serumah dengan orang lain selama bertahun-tahun (kecuali orang itu Kakak, Aji, dan Mama). Entah kenapa, saya merasa itu hal absurd. Saya pernah menghabiskan seharian penuh dengan perempuan yang saya sukai—dan saya merasa itu hari yang sangat membosankan. Entah apa jadinya kalau saya harus menikah dengan dia dan bersama dia bertahun-tahun.

Atau entahlah. Saya bingung sekali soal yang begini.

Saya pernah jatuh cinta beberapa kali sebetulnya. Misalkan saat kuliah. Tapi saya memutuskan untuk diam saja; saya tidak punya bayangan tentang “apa yang harus dilakukan” jika cinta saya diterima.

Saya lebih tertarik pada konsep FWB, hahaha!

TENTANG DUNIA SASTRA, DUNIA FILM, MEDIA, PERIKLANAN, JUGA GAME

Ini sebetulnya pertanyaan sulit, mungkin jawaban saya tidak sesuai ekspektasi dan belum berani “seberapa banyak”, terutama pandangan yang bersifat umum.

Tentang game:

Saya percaya, game sangat bermanfaat untuk penulis dan sutradara—jika dimainkan dengan “teliti”. Teliti di sini berarti: bukan sekadar bersenang-senang di game, melainkan bersenang-senang sambil mempelajarinya. Banyak game yang memiliki struktur naratif sangat kuat, statement sangat kuat, pengadeganan sangat kuat, konsep audio-visual sangat kuat, dll. Beberapa judul game yang menurut saya sangat layak diamati, dan sangat saya sukai: series GTA, series Far Cry, series Mega Man Network Battle.

Tentang dunia film:

Banyak menonton dan mempelajari film membantu saya dalam menulis. Misalkan, kemampuan saya dalam mengamati cerita secara audio-visual, sangat membantu saya dalam menulis prosa dan puisi. Misalkan saat harus mempertimbangkan detail apa yang sebaiknya digunakan–juga sebaiknya dibuang–dalam bercerita.

Tentang media:

Saya belum berani berkomentar apa pun soal ini.

Tentang sastra:

Ini juga belum berani.

Tentang iklan:

Saya sendiri, sebagai pekerja iklan, sering menganggap iklan-produk sebagai benda yang jahat. Dalam membuat iklan, kami, para sutradara, memikirkan cara terbaik untuk “mencuci otak” penonton. Hehe… [T]

Tags: balifilmiklanmediasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Sekat yang Menggolong-golongkan Kita | Catatan KKM-DR UIN Malang di Kintamani

Next Post

Kamerad Léningrad: Merajut Catatan Reformasi ke Dalam Puisi

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Kamerad Léningrad: Merajut Catatan Reformasi ke Dalam Puisi

Kamerad Léningrad: Merajut Catatan Reformasi ke Dalam Puisi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co