2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh-Tubuh Halte Sedang Menunggu Kereta | Pementasan Teater Limas di Festival Seni Bali Jani

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 1, 2021
in Ulasan
Tubuh-Tubuh Halte Sedang Menunggu Kereta | Pementasan Teater Limas di Festival Seni Bali Jani

Teater Limas

“Miiiiih full sajan panggungne nok!” kata saya saat memasuki Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, pukul 16.00 Wita, pementasan Teater Limas – Kota Denpasar.

Perhatikan kata miiiiih dan nok pada kalimat saya di atas. Kedua kata tersebut menegaskan kalimat tengahnya. Mungkin begitulah cara fikir saya dalam menikmati pementasan Kereta Kencana – Eugene Ionesco terjemahan W.S Rendra yang disutradarai oleh Muda Wijaya. Sebab dua aktor Kakek dan Nenek dibantu oleh 18 orang yang berpakaian serba putih, wajahnya pun diwarna putih  dengan beberapa aksen hitam dibeberapa bagian.

18 orang itu ialah Miiiiih dan nok . hadir sebagai penegas, sepanjang pementasan yang berdurasi 50 menit itu.

Total 20 orang ada di panggung, dilengkapi dengan properti yang sama banyaknya. Sejumlah kain putih menjuntai dari atas ke bawah, tempat tidur dengan rangkaian bambu putih menjulang tinggi, kain putih menutupi lantai panggung serta rangkaian bilah bambu berwarna putih berbentuk jendela yang digantung di beberapa bagian atas pangggung. Dari jauh, saya melihat seperti lukisan abstrak yang bergerak secara bergantian. Dari beberapa pertunjukan yang saya tonton di Gedung Natya Mandala ISI – Denpasar,  baru Teater Limas saja yang sangat terobsesi memenuhi area panggung.

Terus terang saja dari awal sampai akhir saya kurang memperhatikan dua tokoh utama bercakap, saya lebih tertarik memperhatikan tubuh-tubuh 18 orang itu. sebut saja mereka tubuh penegas ya. Tubuh penegas tersebut memiliki peran penting dalam mengajewantahkan dialog pemeran utama. Mereka menjadi nafas, angin, burung, benda statis, benda bergerak dan lain sebagainya.

Dialog – dialog itu seolah diterjemahkan ulang menjadi komposisi gerak komunal, kadang berada di dalam teks, kadang mereka di luar teks, kadang menjadi peran pendukung, kadang menjadi peran yang tidak mendukung. Secara garis besar bisa saya katakan tubuh penegas ini merupakan satu upaya Muda Wijaya dalam menjaga atensi penonton. Saya harus jujur, pementasan Teater Limas dipenuhi penonton lho, kursi full, bahkan beberapa penonton duduk keleleran di lantai.

Mungkin satu alasannya karena Teater Limas ini ialah  teater sekolah. Hegemoninya teman sekolah mereka, teman sekelas, atau sanak keluarga. Tubuh penegas itu ialah laku populer yang mampu mengikat penonton, tidak bisa saya bayangkan jika naskah ini hanya dimainkan dua pemain saja seperti naskah aslinya. Mungkin akan tenggelam oleh ruang yang besar, tenaga mereka akan habis untuk menguasai penonton, paling buruk ditinggalkan penonton. Jikping….

Pada satu diskusi bersama Wayan Sumahardika, Sutradara Teater Kalangan kami membicarakan bagaimana kelompok teater, dengan berbagai konsentrasi isunya serta metode pilihan latihannya dapat berjalan karena ditemani aktor-aktor yang turut berkembang di lingkaran itu. Tubuh aktor ini berada pada jalur kereta, anggap saja teater itu gerbongnya. Nah tentu akan menjadi tidak maksimal jika pilihan aktor tidak sepadan dengan isu teater yang diusung, misalkan begini, isunya tentang sejarah demokrasi, namun tubuh aktornya masih SMP atau SD yang notabene pada taraf pemikiran belum menyentuh dan menyadari bagaimana demokrasi bekerja. Nah tubuh yang tidak padan ini bisa di sebut tubuh di luar jalur kereta.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah tubuh-tubuh anak teater Limas, disebut tubuh apa? yang setiap 3 tahun akan berganti dengan siswa baru, tubuh anyar lagi. dan memang begitulah adanya teater SMA atau SMP, peran organisasi menjadi lebih penting, dibandingkan nilau isu yang diusung. Oke. Saya beri nama tubuh mereka, tubuh-tubuh di halte bus. Mereka sedang menunggu bus, kemudian pergi saat bus tiba menjemput.

Namun apakah tubuh-tubuh tersebut tidak mapan, Nah disinilah kejelian Muda Wijaya sebagai sutradara, saya rasa ia berhasil menawar isu, menjadikannya gerak tubuh seharian sebagai modal dasarnya. Tanpa muluk-muluk untuk menjadikan tubuh mereka sebuah tarian mapan. Saya sendiri terus terang saja lebih tertarik bagaimana 18 orang itu bergerak, melihat mereka berinteraksi satu sama lain, menggerakkan tubuh dengan kesadaran anak SMA, kadang mereka tertawa saat saling bertemu wajah, kadang sangat serius – tapi sejurus kemudian menjadi riang.

Ulak-alik ini merupakan dasar utama untuk menyadari keberadaan tubuh mereka. Setelah kesadaran itu tumbuh, barulah mempelajari naskah dengan berbagai pirantinya. Tentu pilihan naskah juga menjadi penting ya, sebagaimana mereka mampu menopang naskah agar tampak secara utuh ketika dimainkan di atas panggung.

Teater Limas membawakan naskah Kereta Kencana, mengisahkan sepasang kekasih yang setia menjalani hidup, hingga hari tuanya. Nenek dan Kakek itu sedang menunggu Kereta Kencana datang, untuk menjemput mereka. Informasi ini samar-samar ia dapatkan lewat bisikan, mimpi dan keganjilan lainnya. Sambil menunggu kereta mereka bercengkrama, bermain layangan, merajuk, layaknya sepasang kekasih.

Dalam hemat saya, kereta kencana bisa kita maknai sebagai kematian. Kematian yang datang entah kapan, yang jelas kedatangannya selalu ditunggu. Ada manusia menunggu dengan gembira, ada dengan rasa bahagia, kecewa, takut, rapuh dan lain sebagainya. Kembali kita diingatkan pada pandemi yang berlangsung selama hampir 2 tahun ini, batas kematian dan nafas kehidupan hanya setipis benang sutra.

Namun jika kita menyelami kehidupan dengan penuh kebahagiaan,hal ini menjauhkan kita dari pikiran-pikiran yang kusut. Sehingga bagaimanapun masa depan, kita hadapi penuh syukur. Seperti tubuh-tubuh penegas yang saya bicarakan di atas, mereka ada untuk menjelaskan bahwa laku manusia berbagai macam arahnya, Laku ialah pikiran kita, yang kadang mendukung, kadang pula berselisih paham. [T]

Tags: Festival Seni Bali Janiseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Kehidupan dari Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2021

Next Post

Ruang Presentasi Atas Segala Negosiasi | Catatan Jelang Pentas “Hero on the Way” Teater Kalangan

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Ruang Presentasi Atas Segala Negosiasi | Catatan Jelang Pentas “Hero on the Way” Teater Kalangan

Ruang Presentasi Atas Segala Negosiasi | Catatan Jelang Pentas “Hero on the Way” Teater Kalangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co