2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gestapu, Tatmadaw Hingga Taliban

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 19, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion, too

Imagine all the people
Livin’ life in peace
You

(Imagine, John Lennon, 1971)

Tepat 50 tahun sudah, sang maestro John Lennon mempopulerkan hits legendaris berisi pesan perdamaian itu. Dan sepanjang waktu itu pula, orang-orang tidak mau belajar soal perdamaian. Sebelum ataupun sesudahnya. Maka hari-hari ini, di berbagai kota-kota besar dunia, peringatan 50 tahun Imagine dirayakan tetap dengan penuh harapan. Harapan untuk kita mau belajar dari tema-tema penting seperti Tatmadaw atau Taliban.

Jika itu masih terlalu jauh, ada yang lebih dekat bagi kita yaitu Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh). Bulan September ini, bangsa kita selalu diingatkan pada seberkas hitam sejarah bernama Gestapu atau secara resmi pemerintah menyebutnya dengan G30S-PKI. Sesungguhnya belum ada versi yang cukup jernih dan dapat diterima semua pihak terkait peristiwa mengerikan itu.

Sejarah yang ditulis pemerintah secara gamblang menyebutkan PKI melakukan kudeta berdarah dengan maksud merebut kekuasaan. Adakah klaim ini nyata ataukah ada teori konspirasi yang lain di sekitarnya? Kita tak pernah tahu pasti. Yang jelas, sejujurnya misteri masih menganga hingga kini dan masih ada anak bangsa berada di pengasingan. Sebuah rekonsiliasi nasional selalu menjadi harapan seperti lirik-lirik dalam lagu Imagine dan kita terus bertanya kapan itu akan terjadi. Kita memang masih sulit untuk mengakui dan saling memaafkan.

Ambisi politik kekuasaan memang dapat menjelma dalam berbagai wajah. Prahara Gestapu adalah bentuknya dalam wajah ideologis pengusung semangat revolusi Rusia. Revolusi Rusia oleh kelompok Bolshevik berfaham Marxis yang memuncak pada tahun 1917 sukses menghepaskan otokrasi Tsar Nicholas II yang bertangan besi. Dan ini menjadi referensi gerakan-gerakan ambisius ideologi sosialis komunis di berbagai belahan dunia. Entah itu demikian persis terjadi di tanah air atau dimanfaatkan untuk menciptakan sebuah konspirasi untuk menghabisi Soekarno, kita belum tahu pasti.

Yang pasti, tak kurang setengah juta jiwa anak bangsa direnggutkan sebagai pelengkap ambisi politik kekuasaan saat itu. Ratusan ribu nyawa harus dibasmi untuk menciptakan sebuah drama menjadi nyata. Begitu pula, sebuah entitas yang telah dibangun dengan bilah-bilah pedang kekerasan dan agresi, bernama Uni Soviet pada akhirnya roboh sendiri. Kekerasan akan melahirkan kekerasan yang lain. Demikianlah runtuhnya Uni Soviet diikuti serangkaian kekerasan antar etnis yang telah terpecah hingga kemudian melahirkan 15 negara-negara baru di kawasan Eropa Timur.

Tatmadaw adalah ambisi politik kekuasaan yang lain, berwajah militer. Namanya ambisi, ia memang tak pernah dikaruniai rasa malu. Tatmadaw, sebutan untuk penguasa junta militer di Myanmar tak pernah belajar dari sejarah. Pernah berkuasa dengan penuh kekerasan selama tahun 1962-2011, membuat junta sulit menerima hasil pemilu demokratis yang telah menghantarkan Aung San Suu Kyi ke tampuk kekuasaan. Padahal pemilu tersebut diyakini paling bebas dalam 25 tahun terakhir.

Kepongahan junta militer ini telah medorong Myanmar ke jurang perang saudara yang dalam dan curam. Itu terjadi, saat Duwa Lashi La, salah seorang tokoh pemerintah bayangan Myanmar menyerukan perlawanan nasional terhadap Tatmadaw. Sejak itu korban telah berjatuhan sedikitnya 800 orang, namun ini diyakini jauh lebih kecil dari jumlah sebenarnya dan akan terus bertambah. Kelakuan keji junta militer Myanmar, sedari dulu telah menjadi sorotan dunia internasional karena melanggar prinsip-prinsip demokrasi. Namun mereka selalu berkilah, pemerintahan sipil tak mampu menerapkan stabilitas dan keadilan.

Taliban, tak sama, namun serupa. Ia ambisi politik kekuasaan berwajah agama. Tak sulitlah memahami ini. Karena saat ini Taliban telah merebut kekuasaan di Afghanistan dan membentuk pemerintahan baru. Melihat ribuan warga Kabul berlomba hendak meninggalkan negerinya, jelas sebuah paradoks. Bagaimana bisa, wajah agama telah membuat umatnya sendiri ngeri dan ketakutan?

Meski sebuah paradoks, dunia toh sudah maklum bagaimana para mullah itu menerapkan ajaran agama sebagai dasar bernegara, kepada warganya. Itu telah tercatat dalam sejarah, saat Taliban berkuasa sebelumnya, selama tahun 1996-2001. Kaum wanita adalah pihak yang paling sengsara dan dirugikan oleh sistem pemerintahan yang diterapkan Taliban. Mereka tidak boleh bersekolah, bekerja dan jika ke luar rumah mesti mengikuti syarat yang sangat ketat.

Seorang gadis bernama Malala Yousafzai yang suka bersekolah dan tentu saja itu salah, oleh penguasa yang memergokinya tanpa ragu-ragu menembak kepala si gadis. Ajaibnya, ia selamat lalu melarikan diri meninggalkan negerinya. Tak berapa lama kemudian, ia dihadiahi penghargaan prestisius Nobel Prize sebagai simbol perlawanan penguasa yang kejam. Hal paling fenomenal yang menyulut kemarahan seluruh warga dunia adalah, tentu saja kejahatan arkeologis terbesar dalam sejarah, yaitu saat Taliban menghancurkan patung Budha kuno di lembah Bamiyan.

Patung-patung mencengangkan itu adalah salah satu mahakarya peradaban manusia pada abad ke-4 yaang memiliki tinggi 55 dan 38 meter. Semuanya harus dihancurkan karena berhala. Indonesia hari ini, sebagai bangsa jamak, harus selalu menyanyikan lagu sang maestro Imagine, tentunya dengan penghayatan yang dalam. Sembari menyelami dengan kesadaran intelektual yang jernih, betapa kelamnya sejarah Gestapu, Tatmadaw hingga Taliban. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mural 404 Not Found: Ekspresi Seni Tuai Kontroversi

Next Post

Di Nusa Penida, Ada Pohon Berbuah Lem

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Buah bila di Nusa Penida

Di Nusa Penida, Ada Pohon Berbuah Lem

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co