25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gestapu, Tatmadaw Hingga Taliban

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 19, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion, too

Imagine all the people
Livin’ life in peace
You

(Imagine, John Lennon, 1971)

Tepat 50 tahun sudah, sang maestro John Lennon mempopulerkan hits legendaris berisi pesan perdamaian itu. Dan sepanjang waktu itu pula, orang-orang tidak mau belajar soal perdamaian. Sebelum ataupun sesudahnya. Maka hari-hari ini, di berbagai kota-kota besar dunia, peringatan 50 tahun Imagine dirayakan tetap dengan penuh harapan. Harapan untuk kita mau belajar dari tema-tema penting seperti Tatmadaw atau Taliban.

Jika itu masih terlalu jauh, ada yang lebih dekat bagi kita yaitu Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh). Bulan September ini, bangsa kita selalu diingatkan pada seberkas hitam sejarah bernama Gestapu atau secara resmi pemerintah menyebutnya dengan G30S-PKI. Sesungguhnya belum ada versi yang cukup jernih dan dapat diterima semua pihak terkait peristiwa mengerikan itu.

Sejarah yang ditulis pemerintah secara gamblang menyebutkan PKI melakukan kudeta berdarah dengan maksud merebut kekuasaan. Adakah klaim ini nyata ataukah ada teori konspirasi yang lain di sekitarnya? Kita tak pernah tahu pasti. Yang jelas, sejujurnya misteri masih menganga hingga kini dan masih ada anak bangsa berada di pengasingan. Sebuah rekonsiliasi nasional selalu menjadi harapan seperti lirik-lirik dalam lagu Imagine dan kita terus bertanya kapan itu akan terjadi. Kita memang masih sulit untuk mengakui dan saling memaafkan.

Ambisi politik kekuasaan memang dapat menjelma dalam berbagai wajah. Prahara Gestapu adalah bentuknya dalam wajah ideologis pengusung semangat revolusi Rusia. Revolusi Rusia oleh kelompok Bolshevik berfaham Marxis yang memuncak pada tahun 1917 sukses menghepaskan otokrasi Tsar Nicholas II yang bertangan besi. Dan ini menjadi referensi gerakan-gerakan ambisius ideologi sosialis komunis di berbagai belahan dunia. Entah itu demikian persis terjadi di tanah air atau dimanfaatkan untuk menciptakan sebuah konspirasi untuk menghabisi Soekarno, kita belum tahu pasti.

Yang pasti, tak kurang setengah juta jiwa anak bangsa direnggutkan sebagai pelengkap ambisi politik kekuasaan saat itu. Ratusan ribu nyawa harus dibasmi untuk menciptakan sebuah drama menjadi nyata. Begitu pula, sebuah entitas yang telah dibangun dengan bilah-bilah pedang kekerasan dan agresi, bernama Uni Soviet pada akhirnya roboh sendiri. Kekerasan akan melahirkan kekerasan yang lain. Demikianlah runtuhnya Uni Soviet diikuti serangkaian kekerasan antar etnis yang telah terpecah hingga kemudian melahirkan 15 negara-negara baru di kawasan Eropa Timur.

Tatmadaw adalah ambisi politik kekuasaan yang lain, berwajah militer. Namanya ambisi, ia memang tak pernah dikaruniai rasa malu. Tatmadaw, sebutan untuk penguasa junta militer di Myanmar tak pernah belajar dari sejarah. Pernah berkuasa dengan penuh kekerasan selama tahun 1962-2011, membuat junta sulit menerima hasil pemilu demokratis yang telah menghantarkan Aung San Suu Kyi ke tampuk kekuasaan. Padahal pemilu tersebut diyakini paling bebas dalam 25 tahun terakhir.

Kepongahan junta militer ini telah medorong Myanmar ke jurang perang saudara yang dalam dan curam. Itu terjadi, saat Duwa Lashi La, salah seorang tokoh pemerintah bayangan Myanmar menyerukan perlawanan nasional terhadap Tatmadaw. Sejak itu korban telah berjatuhan sedikitnya 800 orang, namun ini diyakini jauh lebih kecil dari jumlah sebenarnya dan akan terus bertambah. Kelakuan keji junta militer Myanmar, sedari dulu telah menjadi sorotan dunia internasional karena melanggar prinsip-prinsip demokrasi. Namun mereka selalu berkilah, pemerintahan sipil tak mampu menerapkan stabilitas dan keadilan.

Taliban, tak sama, namun serupa. Ia ambisi politik kekuasaan berwajah agama. Tak sulitlah memahami ini. Karena saat ini Taliban telah merebut kekuasaan di Afghanistan dan membentuk pemerintahan baru. Melihat ribuan warga Kabul berlomba hendak meninggalkan negerinya, jelas sebuah paradoks. Bagaimana bisa, wajah agama telah membuat umatnya sendiri ngeri dan ketakutan?

Meski sebuah paradoks, dunia toh sudah maklum bagaimana para mullah itu menerapkan ajaran agama sebagai dasar bernegara, kepada warganya. Itu telah tercatat dalam sejarah, saat Taliban berkuasa sebelumnya, selama tahun 1996-2001. Kaum wanita adalah pihak yang paling sengsara dan dirugikan oleh sistem pemerintahan yang diterapkan Taliban. Mereka tidak boleh bersekolah, bekerja dan jika ke luar rumah mesti mengikuti syarat yang sangat ketat.

Seorang gadis bernama Malala Yousafzai yang suka bersekolah dan tentu saja itu salah, oleh penguasa yang memergokinya tanpa ragu-ragu menembak kepala si gadis. Ajaibnya, ia selamat lalu melarikan diri meninggalkan negerinya. Tak berapa lama kemudian, ia dihadiahi penghargaan prestisius Nobel Prize sebagai simbol perlawanan penguasa yang kejam. Hal paling fenomenal yang menyulut kemarahan seluruh warga dunia adalah, tentu saja kejahatan arkeologis terbesar dalam sejarah, yaitu saat Taliban menghancurkan patung Budha kuno di lembah Bamiyan.

Patung-patung mencengangkan itu adalah salah satu mahakarya peradaban manusia pada abad ke-4 yaang memiliki tinggi 55 dan 38 meter. Semuanya harus dihancurkan karena berhala. Indonesia hari ini, sebagai bangsa jamak, harus selalu menyanyikan lagu sang maestro Imagine, tentunya dengan penghayatan yang dalam. Sembari menyelami dengan kesadaran intelektual yang jernih, betapa kelamnya sejarah Gestapu, Tatmadaw hingga Taliban. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mural 404 Not Found: Ekspresi Seni Tuai Kontroversi

Next Post

Di Nusa Penida, Ada Pohon Berbuah Lem

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Buah bila di Nusa Penida

Di Nusa Penida, Ada Pohon Berbuah Lem

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co