23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muasal Gelar Pedanda

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 12, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 11 Agustus 2021

1. Lontar berjudul Tutur Bhagawan Kamandaka adalah lontar yang tertua (menurut saya) yang memuat jenis-jenis wiku menyebutkan salah satu ‘danda’, sebagai satu wiku yang menjadi pendamping raja.

Kalinganya hana wiku lituhayu, alaksanā weruhing mangaji, wruhing siwagāmā, tuhu te janmā, cepanggana lwirnya, panjer, cana, pangkon, angambeng, palang pasir, sabha wukir, cedaning wiku, pancêr, nga., wiku yan tusning yañjātnā, kadhang aji kunang, dhandhanya, nga., wiku matunggu aji, candi prasaddhā, susut simpuru, brahmanā Sewasogata, pangkon, nga., wiku tusning kabayan buyut, pasimansiman, angambeng, nga., wiku tumutanglayar, karyaninbanda dagang, patitihan, palang pasir, wiku angupadeni, amalaku māspirak, guruyaga sabhā wukir, wiku magawayayu pitraning mati, mangurwa mās pirak, guruyaga phala bhogā, mwah milu karya, ning surātman, yatika wiku ceda ngaranya, maweh sira tirtha ring sang prabhu, mwang rahup, utpata têmên ikā, mangdanyakên ilaila rikang rāt, haywāsta sang prabhu denya.

Di sini — jika pelan-pelan kita membaca— ada itulah dhandhanya, nga., wiku matunggu aji, candi prasaddhā, susut simpuru, brahmanā Sewasogata,

‘..dandannya artinya pendeta penjaga raja, candi, tempat suci..’

Jika kita perhatikan khusus dhandanya adalah wiku pendamping raja.

Sementara itu yang dianggap kewikuan yang tidak sempurna atau ‘cepanggana‘ yaitu: panjer, cana, pangkon, angambeng, palang pasir, sabda wukir.

  • Pancer artinya pendeta keturunan ya yanjatma
  • Pangkon artinya wiku keturunan kabayan buyut (?)
  • Angambeng artinya, wiku yang turut berlayar, pekerjaan ber-dagang
  • Palang pasir artinya wiku yang memperjualbelikan mas perak
  • Sabha wukir artinya wiku yang menyelamatkan roh orang mati, menerima emas perak, dan aturan guru (guru yaga) berupa makanan, serta turut dalam kerja Sang Suratman

Itulah wiku ‘ceda’ (cacat) namanya, kalau ia memberikan air suci kepada sang raja, serta air pembasuh muka, sungguh ‘utpata‘ (kotor?) itu, yang menyebabkan negeri merosotlah sang raja olehnya.

Pembacaan saya atas dhandanya adalah wiku pendamping raja, yang khusus duduk sebagai pendamping kerajaan, sebagai muasal kata Pedanda, tentunya bisa didebat atau tidak diterima, tetapi lontar apa yang paling tua yang menyebutkan gelar Pedanda? Sejauh ini saya belum sempat baca lontar atau sumber lainnya yang lebih tua.

2. Tutur Bhagawan Kamandaka adalah lontar yang berbahasa Sanskerta dengan terjemahan Kawi (Jawa Kuno). Lontar yang juga disebut Aji Kamandaka ini interpretasinya sangat menarik dalam bahasa Kawi, memuat berbagai hal tentang pedoman kepemimpinan atau pedoman raja.

3. Jika dilihat dari akar kata daṇḍa maka ‘pedanda’ berkaitan dengan otoritasnya sebagai pemegang vyavahāra —  prinsip atau pilar penting dari hukum Hindu yang menunjukkan prosedur hukum atau peradilan dalam sebuah kerajaan.

Daṇḍa secara harfiah berarti ‘tongkat’, atau ‘batang’, sebuah simbol kuno dari pemegang otoritas, yang merupakan sebuah istilah Hindu dalam konteks hukum Hindu. Dalam sistem kerajaan Hindu kuno, hukuman umumnya diberikan oleh penguasa, tetapi pejabat hukum lainnya juga bisa berperan. Dalam hal inilah, ada kemungkinan, penunjukan atas pendeta ahli kitab atau upādhyāya dilibatkan dan bergelar ‘pedanda’.

Dalam tradisi hukum Hindu, disebutkan, padanan daṇḍa yaitu prāyaścitta atau penyucian dosa. Jika daṇḍa dijatuhkan oleh pihak kerajaan, prāyaścitta diambil oleh seseorang atas kemauannya sendiri. Dalam praktek hukum Hindu daṇḍa berfungsi sebagai alat penguasa untuk melindungi sistem tahapan kehidupan dan kasta. Daṇḍa merupakan bagian dari vyavahāra (prosedur hukum).

4. Jika merujuk pada perannya sebagai upādhyāya yang ikut dalam kerta atau peradilan kerajaan, yang memegang roda agar berjalan vyavahāra (prosedur hukum Hindu) maka melekat gelar pedanda perannya sebagai ‘hakim’ kerajaan. Inilah yang membedakan dengan ‘kawikuan’ (kependetaan) yang lain, seperti Mpu, Rsi, Dukuh, dll, yang tidak terlibat dalam peradilan kerajaan sebagai pelaksana vyavahāra.

Dalam konteks peradilan kerajaan Hindu di Bali, pedanda berperan serta dalam proses peradilan, seperti di era Klungkung mahkamah peradilan di Kertagosa semua ‘pemutus’ atau hakimnya adalah ‘pedanda’.

5. V.E. KORN, dalam HET ADATRECHT VAN BALI (1932) mencoba mencari catatan yang lebih tua tentang pelaksanaan peradilan kerajaan yang melibatkan peran Pedanda, mendapat tiga catatan:

A. Ook volgens Liefrinck’s bijdrage, sprak “de raad van kerta’s, samengesteld uit de priesters van het Hindoeïsme, de pedanda’s” in Boelèlèng recht. […menurut catatan Liefrinck, “dewan pengadilan (kerta), yang terdiri dari pendeta agama Hindu, para pedanda, di Boelèlèng]

B. Evenals Van Eek beschouwt ook deze schrijver de djaksa’s en de Hindoepriesters, uit wie de tegenwoordige raad van kerta’s gegroeid is, als dezelfde personen. Dat voor deze kerta’s in den regel Brahmaansche priesters werden genomen, was „alleszins rationeel te achten, daar de kennis der geschriften in hoofdzaak bij de brahmanen berustte”, terwijl verder in levens- wandel en leeftijd een waarborg gelegen was „voor een waardig en onpartijdig optreden en het hebben van een bezonken oordeel”. [Seperti (catatan) Van Eek, penulis ini juga menganggap para jaksa dan pendeta Hindu, yang darinya dewan kerta/peradilan sekarang tumbuh, terdiri dari orang yang sama. Bahwa para pendeta Brahman umumnya diambil untuk peradilan-peradilan ini adalah “dianggap rasional dalam segala hal, karena pengetahuan tentang kitab suci terutama berada di tangan para Brahmana”, sementara selanjutnya dalam kehidupan dan usia ada jaminan “untuk tindakan yang bermartabat dan tidak memihak dan memiliki keputusan yang tetap”.]

C. Raffles, wiens gegevens vnl. in Boelèlèng werden verzameld, schreef althans reeds: “The administration of justice is generally conducted by a court, composed of one Jaksa and two assistants, in addition to whom, in the determination of any cause of importance, several Brahmani’s are called in”. [Raffles, yang datanya sebagian besar dikumpulkan di Boelèlèng, telah menulis: “Administrasi peradilan umumnya dilakukan oleh pengadilan, yang terdiri dari satu Jaksa dan dua asisten, selain itu, dalam menentukan suatu penyebab penting, beberapa Brahmana juga dipilih turut serta”].

6. Melihat dari perannya sebagai bagian dari raad van kerta (peradilan kerta/keadilan), di masa lalu era kerajaan, gelar pedanda sangat lekat dengan perannya sebagai pemegang daṇḍa.

Sementara itu, di luar konteks pendampingan raja peradilan kerta, ada pendeta yang tidak terlibat, seperti Rsi, Mpu, Dukuh, dan kependetaan lainnya yang memang tidak ambil bagian dalam peradilan Kerta.

Inilah yang sekiranya posisi kependetaan bergelar pedanda sangat spesifik pada keluarga yang dekat atau dipercaya secara turun-temurun dalam menjalankan roda hukum dan pemerintahan kerajaan. Sementara itu kependetaan lain, di luar lingkar atau yang tidak terlihat dalam peradilan kerta bukanlah kependetaan yang nomor dua atau kalah suci dan perannya. Kependetaan yang lain yang tidak ikut dalam proses pendampingan kerajaan adalah umumnya para pandita yang sangat independen, tinggal di pinggir hutan atau bahkan dalam hutan, seperti sulinggih dukuh, atau para mpu yang memimpin pasraman yang umumnya jauh dari pusat pemerintahan.

Para sulinggih yang tidak tinggal di pusat pemerintahan umumnya jarang terlibat proses ritual kerajaan, dan tidak bersentuhan banyak dengan kekuasaan, tetapi dalam catatan ‘sejarah babad’ dalam acara-acara khusus pihak kerajaan mengundang para pandita dukuh, sangguru (sangguhu), dan rsi dalam berbagai upakara khusus yang memang membutuhkan stava atau puja yang tidak menjadi ‘pedoman’ kependetaan pedanda, seperti caru dan upakara khusus lainnya yang sangat spesifik dikuasai kelompok rsi, dukuh dan para mpu lainnya. [T]

Tags: balihindusulinggih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Next Post

Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co