1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muasal Gelar Pedanda

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 12, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 11 Agustus 2021

1. Lontar berjudul Tutur Bhagawan Kamandaka adalah lontar yang tertua (menurut saya) yang memuat jenis-jenis wiku menyebutkan salah satu ‘danda’, sebagai satu wiku yang menjadi pendamping raja.

Kalinganya hana wiku lituhayu, alaksanā weruhing mangaji, wruhing siwagāmā, tuhu te janmā, cepanggana lwirnya, panjer, cana, pangkon, angambeng, palang pasir, sabha wukir, cedaning wiku, pancêr, nga., wiku yan tusning yañjātnā, kadhang aji kunang, dhandhanya, nga., wiku matunggu aji, candi prasaddhā, susut simpuru, brahmanā Sewasogata, pangkon, nga., wiku tusning kabayan buyut, pasimansiman, angambeng, nga., wiku tumutanglayar, karyaninbanda dagang, patitihan, palang pasir, wiku angupadeni, amalaku māspirak, guruyaga sabhā wukir, wiku magawayayu pitraning mati, mangurwa mās pirak, guruyaga phala bhogā, mwah milu karya, ning surātman, yatika wiku ceda ngaranya, maweh sira tirtha ring sang prabhu, mwang rahup, utpata têmên ikā, mangdanyakên ilaila rikang rāt, haywāsta sang prabhu denya.

Di sini — jika pelan-pelan kita membaca— ada itulah dhandhanya, nga., wiku matunggu aji, candi prasaddhā, susut simpuru, brahmanā Sewasogata,

‘..dandannya artinya pendeta penjaga raja, candi, tempat suci..’

Jika kita perhatikan khusus dhandanya adalah wiku pendamping raja.

Sementara itu yang dianggap kewikuan yang tidak sempurna atau ‘cepanggana‘ yaitu: panjer, cana, pangkon, angambeng, palang pasir, sabda wukir.

  • Pancer artinya pendeta keturunan ya yanjatma
  • Pangkon artinya wiku keturunan kabayan buyut (?)
  • Angambeng artinya, wiku yang turut berlayar, pekerjaan ber-dagang
  • Palang pasir artinya wiku yang memperjualbelikan mas perak
  • Sabha wukir artinya wiku yang menyelamatkan roh orang mati, menerima emas perak, dan aturan guru (guru yaga) berupa makanan, serta turut dalam kerja Sang Suratman

Itulah wiku ‘ceda’ (cacat) namanya, kalau ia memberikan air suci kepada sang raja, serta air pembasuh muka, sungguh ‘utpata‘ (kotor?) itu, yang menyebabkan negeri merosotlah sang raja olehnya.

Pembacaan saya atas dhandanya adalah wiku pendamping raja, yang khusus duduk sebagai pendamping kerajaan, sebagai muasal kata Pedanda, tentunya bisa didebat atau tidak diterima, tetapi lontar apa yang paling tua yang menyebutkan gelar Pedanda? Sejauh ini saya belum sempat baca lontar atau sumber lainnya yang lebih tua.

2. Tutur Bhagawan Kamandaka adalah lontar yang berbahasa Sanskerta dengan terjemahan Kawi (Jawa Kuno). Lontar yang juga disebut Aji Kamandaka ini interpretasinya sangat menarik dalam bahasa Kawi, memuat berbagai hal tentang pedoman kepemimpinan atau pedoman raja.

3. Jika dilihat dari akar kata daṇḍa maka ‘pedanda’ berkaitan dengan otoritasnya sebagai pemegang vyavahāra —  prinsip atau pilar penting dari hukum Hindu yang menunjukkan prosedur hukum atau peradilan dalam sebuah kerajaan.

Daṇḍa secara harfiah berarti ‘tongkat’, atau ‘batang’, sebuah simbol kuno dari pemegang otoritas, yang merupakan sebuah istilah Hindu dalam konteks hukum Hindu. Dalam sistem kerajaan Hindu kuno, hukuman umumnya diberikan oleh penguasa, tetapi pejabat hukum lainnya juga bisa berperan. Dalam hal inilah, ada kemungkinan, penunjukan atas pendeta ahli kitab atau upādhyāya dilibatkan dan bergelar ‘pedanda’.

Dalam tradisi hukum Hindu, disebutkan, padanan daṇḍa yaitu prāyaścitta atau penyucian dosa. Jika daṇḍa dijatuhkan oleh pihak kerajaan, prāyaścitta diambil oleh seseorang atas kemauannya sendiri. Dalam praktek hukum Hindu daṇḍa berfungsi sebagai alat penguasa untuk melindungi sistem tahapan kehidupan dan kasta. Daṇḍa merupakan bagian dari vyavahāra (prosedur hukum).

4. Jika merujuk pada perannya sebagai upādhyāya yang ikut dalam kerta atau peradilan kerajaan, yang memegang roda agar berjalan vyavahāra (prosedur hukum Hindu) maka melekat gelar pedanda perannya sebagai ‘hakim’ kerajaan. Inilah yang membedakan dengan ‘kawikuan’ (kependetaan) yang lain, seperti Mpu, Rsi, Dukuh, dll, yang tidak terlibat dalam peradilan kerajaan sebagai pelaksana vyavahāra.

Dalam konteks peradilan kerajaan Hindu di Bali, pedanda berperan serta dalam proses peradilan, seperti di era Klungkung mahkamah peradilan di Kertagosa semua ‘pemutus’ atau hakimnya adalah ‘pedanda’.

5. V.E. KORN, dalam HET ADATRECHT VAN BALI (1932) mencoba mencari catatan yang lebih tua tentang pelaksanaan peradilan kerajaan yang melibatkan peran Pedanda, mendapat tiga catatan:

A. Ook volgens Liefrinck’s bijdrage, sprak “de raad van kerta’s, samengesteld uit de priesters van het Hindoeïsme, de pedanda’s” in Boelèlèng recht. […menurut catatan Liefrinck, “dewan pengadilan (kerta), yang terdiri dari pendeta agama Hindu, para pedanda, di Boelèlèng]

B. Evenals Van Eek beschouwt ook deze schrijver de djaksa’s en de Hindoepriesters, uit wie de tegenwoordige raad van kerta’s gegroeid is, als dezelfde personen. Dat voor deze kerta’s in den regel Brahmaansche priesters werden genomen, was „alleszins rationeel te achten, daar de kennis der geschriften in hoofdzaak bij de brahmanen berustte”, terwijl verder in levens- wandel en leeftijd een waarborg gelegen was „voor een waardig en onpartijdig optreden en het hebben van een bezonken oordeel”. [Seperti (catatan) Van Eek, penulis ini juga menganggap para jaksa dan pendeta Hindu, yang darinya dewan kerta/peradilan sekarang tumbuh, terdiri dari orang yang sama. Bahwa para pendeta Brahman umumnya diambil untuk peradilan-peradilan ini adalah “dianggap rasional dalam segala hal, karena pengetahuan tentang kitab suci terutama berada di tangan para Brahmana”, sementara selanjutnya dalam kehidupan dan usia ada jaminan “untuk tindakan yang bermartabat dan tidak memihak dan memiliki keputusan yang tetap”.]

C. Raffles, wiens gegevens vnl. in Boelèlèng werden verzameld, schreef althans reeds: “The administration of justice is generally conducted by a court, composed of one Jaksa and two assistants, in addition to whom, in the determination of any cause of importance, several Brahmani’s are called in”. [Raffles, yang datanya sebagian besar dikumpulkan di Boelèlèng, telah menulis: “Administrasi peradilan umumnya dilakukan oleh pengadilan, yang terdiri dari satu Jaksa dan dua asisten, selain itu, dalam menentukan suatu penyebab penting, beberapa Brahmana juga dipilih turut serta”].

6. Melihat dari perannya sebagai bagian dari raad van kerta (peradilan kerta/keadilan), di masa lalu era kerajaan, gelar pedanda sangat lekat dengan perannya sebagai pemegang daṇḍa.

Sementara itu, di luar konteks pendampingan raja peradilan kerta, ada pendeta yang tidak terlibat, seperti Rsi, Mpu, Dukuh, dan kependetaan lainnya yang memang tidak ambil bagian dalam peradilan Kerta.

Inilah yang sekiranya posisi kependetaan bergelar pedanda sangat spesifik pada keluarga yang dekat atau dipercaya secara turun-temurun dalam menjalankan roda hukum dan pemerintahan kerajaan. Sementara itu kependetaan lain, di luar lingkar atau yang tidak terlihat dalam peradilan kerta bukanlah kependetaan yang nomor dua atau kalah suci dan perannya. Kependetaan yang lain yang tidak ikut dalam proses pendampingan kerajaan adalah umumnya para pandita yang sangat independen, tinggal di pinggir hutan atau bahkan dalam hutan, seperti sulinggih dukuh, atau para mpu yang memimpin pasraman yang umumnya jauh dari pusat pemerintahan.

Para sulinggih yang tidak tinggal di pusat pemerintahan umumnya jarang terlibat proses ritual kerajaan, dan tidak bersentuhan banyak dengan kekuasaan, tetapi dalam catatan ‘sejarah babad’ dalam acara-acara khusus pihak kerajaan mengundang para pandita dukuh, sangguru (sangguhu), dan rsi dalam berbagai upakara khusus yang memang membutuhkan stava atau puja yang tidak menjadi ‘pedoman’ kependetaan pedanda, seperti caru dan upakara khusus lainnya yang sangat spesifik dikuasai kelompok rsi, dukuh dan para mpu lainnya. [T]

Tags: balihindusulinggih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Next Post

Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails
Next Post
Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co