12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muasal Gelar Pedanda

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 12, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 11 Agustus 2021

1. Lontar berjudul Tutur Bhagawan Kamandaka adalah lontar yang tertua (menurut saya) yang memuat jenis-jenis wiku menyebutkan salah satu ‘danda’, sebagai satu wiku yang menjadi pendamping raja.

Kalinganya hana wiku lituhayu, alaksanā weruhing mangaji, wruhing siwagāmā, tuhu te janmā, cepanggana lwirnya, panjer, cana, pangkon, angambeng, palang pasir, sabha wukir, cedaning wiku, pancêr, nga., wiku yan tusning yañjātnā, kadhang aji kunang, dhandhanya, nga., wiku matunggu aji, candi prasaddhā, susut simpuru, brahmanā Sewasogata, pangkon, nga., wiku tusning kabayan buyut, pasimansiman, angambeng, nga., wiku tumutanglayar, karyaninbanda dagang, patitihan, palang pasir, wiku angupadeni, amalaku māspirak, guruyaga sabhā wukir, wiku magawayayu pitraning mati, mangurwa mās pirak, guruyaga phala bhogā, mwah milu karya, ning surātman, yatika wiku ceda ngaranya, maweh sira tirtha ring sang prabhu, mwang rahup, utpata têmên ikā, mangdanyakên ilaila rikang rāt, haywāsta sang prabhu denya.

Di sini — jika pelan-pelan kita membaca— ada itulah dhandhanya, nga., wiku matunggu aji, candi prasaddhā, susut simpuru, brahmanā Sewasogata,

‘..dandannya artinya pendeta penjaga raja, candi, tempat suci..’

Jika kita perhatikan khusus dhandanya adalah wiku pendamping raja.

Sementara itu yang dianggap kewikuan yang tidak sempurna atau ‘cepanggana‘ yaitu: panjer, cana, pangkon, angambeng, palang pasir, sabda wukir.

  • Pancer artinya pendeta keturunan ya yanjatma
  • Pangkon artinya wiku keturunan kabayan buyut (?)
  • Angambeng artinya, wiku yang turut berlayar, pekerjaan ber-dagang
  • Palang pasir artinya wiku yang memperjualbelikan mas perak
  • Sabha wukir artinya wiku yang menyelamatkan roh orang mati, menerima emas perak, dan aturan guru (guru yaga) berupa makanan, serta turut dalam kerja Sang Suratman

Itulah wiku ‘ceda’ (cacat) namanya, kalau ia memberikan air suci kepada sang raja, serta air pembasuh muka, sungguh ‘utpata‘ (kotor?) itu, yang menyebabkan negeri merosotlah sang raja olehnya.

Pembacaan saya atas dhandanya adalah wiku pendamping raja, yang khusus duduk sebagai pendamping kerajaan, sebagai muasal kata Pedanda, tentunya bisa didebat atau tidak diterima, tetapi lontar apa yang paling tua yang menyebutkan gelar Pedanda? Sejauh ini saya belum sempat baca lontar atau sumber lainnya yang lebih tua.

2. Tutur Bhagawan Kamandaka adalah lontar yang berbahasa Sanskerta dengan terjemahan Kawi (Jawa Kuno). Lontar yang juga disebut Aji Kamandaka ini interpretasinya sangat menarik dalam bahasa Kawi, memuat berbagai hal tentang pedoman kepemimpinan atau pedoman raja.

3. Jika dilihat dari akar kata daṇḍa maka ‘pedanda’ berkaitan dengan otoritasnya sebagai pemegang vyavahāra —  prinsip atau pilar penting dari hukum Hindu yang menunjukkan prosedur hukum atau peradilan dalam sebuah kerajaan.

Daṇḍa secara harfiah berarti ‘tongkat’, atau ‘batang’, sebuah simbol kuno dari pemegang otoritas, yang merupakan sebuah istilah Hindu dalam konteks hukum Hindu. Dalam sistem kerajaan Hindu kuno, hukuman umumnya diberikan oleh penguasa, tetapi pejabat hukum lainnya juga bisa berperan. Dalam hal inilah, ada kemungkinan, penunjukan atas pendeta ahli kitab atau upādhyāya dilibatkan dan bergelar ‘pedanda’.

Dalam tradisi hukum Hindu, disebutkan, padanan daṇḍa yaitu prāyaścitta atau penyucian dosa. Jika daṇḍa dijatuhkan oleh pihak kerajaan, prāyaścitta diambil oleh seseorang atas kemauannya sendiri. Dalam praktek hukum Hindu daṇḍa berfungsi sebagai alat penguasa untuk melindungi sistem tahapan kehidupan dan kasta. Daṇḍa merupakan bagian dari vyavahāra (prosedur hukum).

4. Jika merujuk pada perannya sebagai upādhyāya yang ikut dalam kerta atau peradilan kerajaan, yang memegang roda agar berjalan vyavahāra (prosedur hukum Hindu) maka melekat gelar pedanda perannya sebagai ‘hakim’ kerajaan. Inilah yang membedakan dengan ‘kawikuan’ (kependetaan) yang lain, seperti Mpu, Rsi, Dukuh, dll, yang tidak terlibat dalam peradilan kerajaan sebagai pelaksana vyavahāra.

Dalam konteks peradilan kerajaan Hindu di Bali, pedanda berperan serta dalam proses peradilan, seperti di era Klungkung mahkamah peradilan di Kertagosa semua ‘pemutus’ atau hakimnya adalah ‘pedanda’.

5. V.E. KORN, dalam HET ADATRECHT VAN BALI (1932) mencoba mencari catatan yang lebih tua tentang pelaksanaan peradilan kerajaan yang melibatkan peran Pedanda, mendapat tiga catatan:

A. Ook volgens Liefrinck’s bijdrage, sprak “de raad van kerta’s, samengesteld uit de priesters van het Hindoeïsme, de pedanda’s” in Boelèlèng recht. […menurut catatan Liefrinck, “dewan pengadilan (kerta), yang terdiri dari pendeta agama Hindu, para pedanda, di Boelèlèng]

B. Evenals Van Eek beschouwt ook deze schrijver de djaksa’s en de Hindoepriesters, uit wie de tegenwoordige raad van kerta’s gegroeid is, als dezelfde personen. Dat voor deze kerta’s in den regel Brahmaansche priesters werden genomen, was „alleszins rationeel te achten, daar de kennis der geschriften in hoofdzaak bij de brahmanen berustte”, terwijl verder in levens- wandel en leeftijd een waarborg gelegen was „voor een waardig en onpartijdig optreden en het hebben van een bezonken oordeel”. [Seperti (catatan) Van Eek, penulis ini juga menganggap para jaksa dan pendeta Hindu, yang darinya dewan kerta/peradilan sekarang tumbuh, terdiri dari orang yang sama. Bahwa para pendeta Brahman umumnya diambil untuk peradilan-peradilan ini adalah “dianggap rasional dalam segala hal, karena pengetahuan tentang kitab suci terutama berada di tangan para Brahmana”, sementara selanjutnya dalam kehidupan dan usia ada jaminan “untuk tindakan yang bermartabat dan tidak memihak dan memiliki keputusan yang tetap”.]

C. Raffles, wiens gegevens vnl. in Boelèlèng werden verzameld, schreef althans reeds: “The administration of justice is generally conducted by a court, composed of one Jaksa and two assistants, in addition to whom, in the determination of any cause of importance, several Brahmani’s are called in”. [Raffles, yang datanya sebagian besar dikumpulkan di Boelèlèng, telah menulis: “Administrasi peradilan umumnya dilakukan oleh pengadilan, yang terdiri dari satu Jaksa dan dua asisten, selain itu, dalam menentukan suatu penyebab penting, beberapa Brahmana juga dipilih turut serta”].

6. Melihat dari perannya sebagai bagian dari raad van kerta (peradilan kerta/keadilan), di masa lalu era kerajaan, gelar pedanda sangat lekat dengan perannya sebagai pemegang daṇḍa.

Sementara itu, di luar konteks pendampingan raja peradilan kerta, ada pendeta yang tidak terlibat, seperti Rsi, Mpu, Dukuh, dan kependetaan lainnya yang memang tidak ambil bagian dalam peradilan Kerta.

Inilah yang sekiranya posisi kependetaan bergelar pedanda sangat spesifik pada keluarga yang dekat atau dipercaya secara turun-temurun dalam menjalankan roda hukum dan pemerintahan kerajaan. Sementara itu kependetaan lain, di luar lingkar atau yang tidak terlihat dalam peradilan kerta bukanlah kependetaan yang nomor dua atau kalah suci dan perannya. Kependetaan yang lain yang tidak ikut dalam proses pendampingan kerajaan adalah umumnya para pandita yang sangat independen, tinggal di pinggir hutan atau bahkan dalam hutan, seperti sulinggih dukuh, atau para mpu yang memimpin pasraman yang umumnya jauh dari pusat pemerintahan.

Para sulinggih yang tidak tinggal di pusat pemerintahan umumnya jarang terlibat proses ritual kerajaan, dan tidak bersentuhan banyak dengan kekuasaan, tetapi dalam catatan ‘sejarah babad’ dalam acara-acara khusus pihak kerajaan mengundang para pandita dukuh, sangguru (sangguhu), dan rsi dalam berbagai upakara khusus yang memang membutuhkan stava atau puja yang tidak menjadi ‘pedoman’ kependetaan pedanda, seperti caru dan upakara khusus lainnya yang sangat spesifik dikuasai kelompok rsi, dukuh dan para mpu lainnya. [T]

Tags: balihindusulinggih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Next Post

Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co