2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
August 11, 2021
in Esai
Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Seoeang lelaki Bali sedang mebat membuat lawar

Awal abad lalu, sejumlah orang asing, mungkin anggota tentara KNIL, yang sedang jalan-jalan pagi di sekitar Sanur merasa tertarik pada belasan orang yang berkerumun di pelataran sebuah pura dekat pantai.

Mereka kemudian mampir dan melihat dari dekat orang-orang lokal yang sedang sibuk bekerja itu.

Suasana di sana terlihat sangat seru. Semuanya tampak sedang metektekan dengan pisau blakas-nya masing-masing yang membuat suata riuh di atas talenan.

Ada yang memotong balung, mencincang daging, membuat rames, bikin enteban. Ada pula yang mengiris sayuran, dan lain sebagai-sebagainya.

Di sebelah sana sejumlah orang sibuk  memarut kelapa, atau menghaluskan daging dengan lesung batu, dan yang lain sedang membakar sesuatu di atas bara api.

Sementara rempah-rempah dan juga bumbu dari penggorengan yang meletup-letup tak henti-hentinya menyebarkan aroma wangi ke sekitar dibawa oleh asap yang melayang-layang.

Pendeknya, suasana di sekitar terlihat heboh, meriah dan ramai.

Karena melihat pemandangan yang demikian itu orang asing tersebut lantas berbicara kepada seseorang di dekatnya.

“Sedang membuat apa?” tanyanya dalam bahasa Indonesia.

“Membuat lawar, Tuan,” sahut orang itu sambil tetap bekerja melipat-lipat daun pisang,  membungkus sesuatu.

“Ini makanan?”

“Ya, Tuan. Ini lawar tapi belum jadi.”

“Wao, ini makanan baunya hebat!”

“Betul Tuan. Nanti kami membuat banyak lawar, banyak sate, komoh, brengkes. Pokoknya, banyak Tuan. Semuanya untuk upacara juga untuk pesta.” sambung pria itu.

“Hebat, hebat… makanan hebat! Makanan untuk para Dewa ya?” ujar tentara KNIL itu sambil menggoyangkan kepalanya sebagai tanda kagum.

Setelah berbincang-bincang sejenak orang asing lalu melanjutkan perjalanan.

Setelah tentata KNIL pergi, suasana di tempat bikin lawar itu jadi tambah ramai. Orang-orang saling bertanya di antara mereka: “Apa yang dikatakan Tuan Belanda tadi?”

“Dia bilang makanan ini ebat. Lawar kita ebat. Dia terus saja bilang lawar yang kita buat ini ebat,” sahut laki-laki yang tadi berbicara dengan orang asing tersebut.

“Hahaha… ya, ya, tadi Tuan itu terus saja bilang ebat, ebat…” sambung rekannya.

Mereka mengucapkan kata “hebat” dengan “ebat”.

“Apa artinya ebat?” sela seorang tua.

“Ebat itu sama dengan enak, sangat enak, tidak ada bandingannya, seperti makanan Dewa,” salah satu temannya menyahut.

“O begitu. Lawar memang ebat. Baru mencium baunya saja sudah ebat, apalagi Tuan itu sempat mencicipinya, pasti tambah ebat. Makanan orang Bali memang ebat,” ujar yang lain.

Kata “hebat” yang diucapkan orang asing itu terus menjadi perbincangan di tengah mereka yang sedang bekerja membuat lawar.

Mereka merasa senang dan bangga karena ada orang asing memuji makanannya.

Kata hebat sendiri kita tahu lebih bermakna sebagai sesuatu yang terlampau atau amat sangat, misalnya sangat dahsyat, sangat ramai, sangat kuat, sangat seru, dan sebagainya.

Kemudian peristiwa kunjungan dan pujian dari tentara KNIL itu terus menjadi cerita yang menyebar dari telinga ke telinga dan semakin meluas di masyarakat, bahkan sampai di luar Sanur.

Terutama kata “ebat” yang mereka anggap sebagai pujian terhadap lawar sebagai makanan enak tiada banding itu semakin menjadi buah bibir masyarakat.

Sampai-sampai setiap kali mereka mengatakan “ebat” maka  artinya adalah makanan yang sangat enak dan itu dikonotasikan sebagai lawar.

Entah bagaimana awalnya, masyarakat jadi suka mengatakan membuat makanan “ebat” bila mereka sedang bikin lawar untuk upacara.

Lama kelamaan kata “ebat” lantas jadi kata kerja dalam bahasa Bali dengan menambahkan awalan ma dan akhiran an menjadi “maebatan” atau “mebat”, yang maksudnya bekerja membuat lawar.

Hingga sekarang, kata maebatan atau mebat di Bali dipakai untuk menyebutkan aktifitas warga yang sedang membuat lawar serta lainnya untuk keperluan upacara dalam jumlah besar itu yang dikerjakan secara beramai-ramai.

Lalu apa itu lawar? Kata lawar berarti sayatan daging; melawar adalah menyayat daging tipis-tipis.

Sepertinya kata ini yang diadopsi untuk menyebut satu olahan makanan tradisional Bali yakni lawar.

Membuat lawar, dalam bahasa Bali disebut ngelawar, memang banyak melalui proses menyayat atau mengiris daging misalnya sewaktu bikin rames atau memotong sayuran. Karena itu, kemudian disepakati hidangan ini diberi nama lawar.

Selain lawar ada satu lagi makanan utama yang juga sangat populer yakni komoh.

Komoh itu semacam sup, atau lawar yang berkuah banyak. Cara memakannya biasanya disiup atau diseruput dari kobokan.

Apa arti komoh? Dalam bahasa Indonesia ada kata klomoh yang artinya basah. Agaknya kata klomoh itu diadopsi jadi komoh yang artinya kira-kira lawar basah atau lawar berkuah.

Tadi pagi tulisan ini saya share di grup WA dan ditanggapi ramai.

Seorang teman kemudian bertanya, apakah cerita ini benar adanya. Ini seperti sejarah saja?

Kemudian saya jawab: Saya mengarang artikel ini sambil ngopi pagi di tengah PPKM, pelan pelan kurang makan, dan saya tidak bermaksud meyakini kebenarannya. Sambil saya membubuhkan emoticon tertawa di bagian akhir.

Obrolan tentang mebat ini terputus ketika seorang teman membagikan berita duka. Ia mengabarkan bahwa rekan kami yang beberapa hari ini dirawat di rumah sakit, baru saja meninggal dunia karena Covid 19. Dan percakapan WA kemudian beralih ke berita kematian ini sambil kami ramai-ramai menulis ucapan: dumogi amor ring Acintya, [T]

Tags: BahasaBahasa Balikulinerkuliner lokal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kel Uwu”, Menakar Harta, Menakar Makna Kemakmuran | Renungan Buda Cemeng Klawu

Next Post

Muasal Gelar Pedanda

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Muasal Gelar Pedanda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co