25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
August 11, 2021
in Esai
Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Seoeang lelaki Bali sedang mebat membuat lawar

Awal abad lalu, sejumlah orang asing, mungkin anggota tentara KNIL, yang sedang jalan-jalan pagi di sekitar Sanur merasa tertarik pada belasan orang yang berkerumun di pelataran sebuah pura dekat pantai.

Mereka kemudian mampir dan melihat dari dekat orang-orang lokal yang sedang sibuk bekerja itu.

Suasana di sana terlihat sangat seru. Semuanya tampak sedang metektekan dengan pisau blakas-nya masing-masing yang membuat suata riuh di atas talenan.

Ada yang memotong balung, mencincang daging, membuat rames, bikin enteban. Ada pula yang mengiris sayuran, dan lain sebagai-sebagainya.

Di sebelah sana sejumlah orang sibuk  memarut kelapa, atau menghaluskan daging dengan lesung batu, dan yang lain sedang membakar sesuatu di atas bara api.

Sementara rempah-rempah dan juga bumbu dari penggorengan yang meletup-letup tak henti-hentinya menyebarkan aroma wangi ke sekitar dibawa oleh asap yang melayang-layang.

Pendeknya, suasana di sekitar terlihat heboh, meriah dan ramai.

Karena melihat pemandangan yang demikian itu orang asing tersebut lantas berbicara kepada seseorang di dekatnya.

“Sedang membuat apa?” tanyanya dalam bahasa Indonesia.

“Membuat lawar, Tuan,” sahut orang itu sambil tetap bekerja melipat-lipat daun pisang,  membungkus sesuatu.

“Ini makanan?”

“Ya, Tuan. Ini lawar tapi belum jadi.”

“Wao, ini makanan baunya hebat!”

“Betul Tuan. Nanti kami membuat banyak lawar, banyak sate, komoh, brengkes. Pokoknya, banyak Tuan. Semuanya untuk upacara juga untuk pesta.” sambung pria itu.

“Hebat, hebat… makanan hebat! Makanan untuk para Dewa ya?” ujar tentara KNIL itu sambil menggoyangkan kepalanya sebagai tanda kagum.

Setelah berbincang-bincang sejenak orang asing lalu melanjutkan perjalanan.

Setelah tentata KNIL pergi, suasana di tempat bikin lawar itu jadi tambah ramai. Orang-orang saling bertanya di antara mereka: “Apa yang dikatakan Tuan Belanda tadi?”

“Dia bilang makanan ini ebat. Lawar kita ebat. Dia terus saja bilang lawar yang kita buat ini ebat,” sahut laki-laki yang tadi berbicara dengan orang asing tersebut.

“Hahaha… ya, ya, tadi Tuan itu terus saja bilang ebat, ebat…” sambung rekannya.

Mereka mengucapkan kata “hebat” dengan “ebat”.

“Apa artinya ebat?” sela seorang tua.

“Ebat itu sama dengan enak, sangat enak, tidak ada bandingannya, seperti makanan Dewa,” salah satu temannya menyahut.

“O begitu. Lawar memang ebat. Baru mencium baunya saja sudah ebat, apalagi Tuan itu sempat mencicipinya, pasti tambah ebat. Makanan orang Bali memang ebat,” ujar yang lain.

Kata “hebat” yang diucapkan orang asing itu terus menjadi perbincangan di tengah mereka yang sedang bekerja membuat lawar.

Mereka merasa senang dan bangga karena ada orang asing memuji makanannya.

Kata hebat sendiri kita tahu lebih bermakna sebagai sesuatu yang terlampau atau amat sangat, misalnya sangat dahsyat, sangat ramai, sangat kuat, sangat seru, dan sebagainya.

Kemudian peristiwa kunjungan dan pujian dari tentara KNIL itu terus menjadi cerita yang menyebar dari telinga ke telinga dan semakin meluas di masyarakat, bahkan sampai di luar Sanur.

Terutama kata “ebat” yang mereka anggap sebagai pujian terhadap lawar sebagai makanan enak tiada banding itu semakin menjadi buah bibir masyarakat.

Sampai-sampai setiap kali mereka mengatakan “ebat” maka  artinya adalah makanan yang sangat enak dan itu dikonotasikan sebagai lawar.

Entah bagaimana awalnya, masyarakat jadi suka mengatakan membuat makanan “ebat” bila mereka sedang bikin lawar untuk upacara.

Lama kelamaan kata “ebat” lantas jadi kata kerja dalam bahasa Bali dengan menambahkan awalan ma dan akhiran an menjadi “maebatan” atau “mebat”, yang maksudnya bekerja membuat lawar.

Hingga sekarang, kata maebatan atau mebat di Bali dipakai untuk menyebutkan aktifitas warga yang sedang membuat lawar serta lainnya untuk keperluan upacara dalam jumlah besar itu yang dikerjakan secara beramai-ramai.

Lalu apa itu lawar? Kata lawar berarti sayatan daging; melawar adalah menyayat daging tipis-tipis.

Sepertinya kata ini yang diadopsi untuk menyebut satu olahan makanan tradisional Bali yakni lawar.

Membuat lawar, dalam bahasa Bali disebut ngelawar, memang banyak melalui proses menyayat atau mengiris daging misalnya sewaktu bikin rames atau memotong sayuran. Karena itu, kemudian disepakati hidangan ini diberi nama lawar.

Selain lawar ada satu lagi makanan utama yang juga sangat populer yakni komoh.

Komoh itu semacam sup, atau lawar yang berkuah banyak. Cara memakannya biasanya disiup atau diseruput dari kobokan.

Apa arti komoh? Dalam bahasa Indonesia ada kata klomoh yang artinya basah. Agaknya kata klomoh itu diadopsi jadi komoh yang artinya kira-kira lawar basah atau lawar berkuah.

Tadi pagi tulisan ini saya share di grup WA dan ditanggapi ramai.

Seorang teman kemudian bertanya, apakah cerita ini benar adanya. Ini seperti sejarah saja?

Kemudian saya jawab: Saya mengarang artikel ini sambil ngopi pagi di tengah PPKM, pelan pelan kurang makan, dan saya tidak bermaksud meyakini kebenarannya. Sambil saya membubuhkan emoticon tertawa di bagian akhir.

Obrolan tentang mebat ini terputus ketika seorang teman membagikan berita duka. Ia mengabarkan bahwa rekan kami yang beberapa hari ini dirawat di rumah sakit, baru saja meninggal dunia karena Covid 19. Dan percakapan WA kemudian beralih ke berita kematian ini sambil kami ramai-ramai menulis ucapan: dumogi amor ring Acintya, [T]

Tags: BahasaBahasa Balikulinerkuliner lokal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kel Uwu”, Menakar Harta, Menakar Makna Kemakmuran | Renungan Buda Cemeng Klawu

Next Post

Muasal Gelar Pedanda

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Muasal Gelar Pedanda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co