14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
August 11, 2021
in Esai
Asal-asal-usul Kata “Mebat”, “Lawar” dan “Komoh”

Seoeang lelaki Bali sedang mebat membuat lawar

Awal abad lalu, sejumlah orang asing, mungkin anggota tentara KNIL, yang sedang jalan-jalan pagi di sekitar Sanur merasa tertarik pada belasan orang yang berkerumun di pelataran sebuah pura dekat pantai.

Mereka kemudian mampir dan melihat dari dekat orang-orang lokal yang sedang sibuk bekerja itu.

Suasana di sana terlihat sangat seru. Semuanya tampak sedang metektekan dengan pisau blakas-nya masing-masing yang membuat suata riuh di atas talenan.

Ada yang memotong balung, mencincang daging, membuat rames, bikin enteban. Ada pula yang mengiris sayuran, dan lain sebagai-sebagainya.

Di sebelah sana sejumlah orang sibuk  memarut kelapa, atau menghaluskan daging dengan lesung batu, dan yang lain sedang membakar sesuatu di atas bara api.

Sementara rempah-rempah dan juga bumbu dari penggorengan yang meletup-letup tak henti-hentinya menyebarkan aroma wangi ke sekitar dibawa oleh asap yang melayang-layang.

Pendeknya, suasana di sekitar terlihat heboh, meriah dan ramai.

Karena melihat pemandangan yang demikian itu orang asing tersebut lantas berbicara kepada seseorang di dekatnya.

“Sedang membuat apa?” tanyanya dalam bahasa Indonesia.

“Membuat lawar, Tuan,” sahut orang itu sambil tetap bekerja melipat-lipat daun pisang,  membungkus sesuatu.

“Ini makanan?”

“Ya, Tuan. Ini lawar tapi belum jadi.”

“Wao, ini makanan baunya hebat!”

“Betul Tuan. Nanti kami membuat banyak lawar, banyak sate, komoh, brengkes. Pokoknya, banyak Tuan. Semuanya untuk upacara juga untuk pesta.” sambung pria itu.

“Hebat, hebat… makanan hebat! Makanan untuk para Dewa ya?” ujar tentara KNIL itu sambil menggoyangkan kepalanya sebagai tanda kagum.

Setelah berbincang-bincang sejenak orang asing lalu melanjutkan perjalanan.

Setelah tentata KNIL pergi, suasana di tempat bikin lawar itu jadi tambah ramai. Orang-orang saling bertanya di antara mereka: “Apa yang dikatakan Tuan Belanda tadi?”

“Dia bilang makanan ini ebat. Lawar kita ebat. Dia terus saja bilang lawar yang kita buat ini ebat,” sahut laki-laki yang tadi berbicara dengan orang asing tersebut.

“Hahaha… ya, ya, tadi Tuan itu terus saja bilang ebat, ebat…” sambung rekannya.

Mereka mengucapkan kata “hebat” dengan “ebat”.

“Apa artinya ebat?” sela seorang tua.

“Ebat itu sama dengan enak, sangat enak, tidak ada bandingannya, seperti makanan Dewa,” salah satu temannya menyahut.

“O begitu. Lawar memang ebat. Baru mencium baunya saja sudah ebat, apalagi Tuan itu sempat mencicipinya, pasti tambah ebat. Makanan orang Bali memang ebat,” ujar yang lain.

Kata “hebat” yang diucapkan orang asing itu terus menjadi perbincangan di tengah mereka yang sedang bekerja membuat lawar.

Mereka merasa senang dan bangga karena ada orang asing memuji makanannya.

Kata hebat sendiri kita tahu lebih bermakna sebagai sesuatu yang terlampau atau amat sangat, misalnya sangat dahsyat, sangat ramai, sangat kuat, sangat seru, dan sebagainya.

Kemudian peristiwa kunjungan dan pujian dari tentara KNIL itu terus menjadi cerita yang menyebar dari telinga ke telinga dan semakin meluas di masyarakat, bahkan sampai di luar Sanur.

Terutama kata “ebat” yang mereka anggap sebagai pujian terhadap lawar sebagai makanan enak tiada banding itu semakin menjadi buah bibir masyarakat.

Sampai-sampai setiap kali mereka mengatakan “ebat” maka  artinya adalah makanan yang sangat enak dan itu dikonotasikan sebagai lawar.

Entah bagaimana awalnya, masyarakat jadi suka mengatakan membuat makanan “ebat” bila mereka sedang bikin lawar untuk upacara.

Lama kelamaan kata “ebat” lantas jadi kata kerja dalam bahasa Bali dengan menambahkan awalan ma dan akhiran an menjadi “maebatan” atau “mebat”, yang maksudnya bekerja membuat lawar.

Hingga sekarang, kata maebatan atau mebat di Bali dipakai untuk menyebutkan aktifitas warga yang sedang membuat lawar serta lainnya untuk keperluan upacara dalam jumlah besar itu yang dikerjakan secara beramai-ramai.

Lalu apa itu lawar? Kata lawar berarti sayatan daging; melawar adalah menyayat daging tipis-tipis.

Sepertinya kata ini yang diadopsi untuk menyebut satu olahan makanan tradisional Bali yakni lawar.

Membuat lawar, dalam bahasa Bali disebut ngelawar, memang banyak melalui proses menyayat atau mengiris daging misalnya sewaktu bikin rames atau memotong sayuran. Karena itu, kemudian disepakati hidangan ini diberi nama lawar.

Selain lawar ada satu lagi makanan utama yang juga sangat populer yakni komoh.

Komoh itu semacam sup, atau lawar yang berkuah banyak. Cara memakannya biasanya disiup atau diseruput dari kobokan.

Apa arti komoh? Dalam bahasa Indonesia ada kata klomoh yang artinya basah. Agaknya kata klomoh itu diadopsi jadi komoh yang artinya kira-kira lawar basah atau lawar berkuah.

Tadi pagi tulisan ini saya share di grup WA dan ditanggapi ramai.

Seorang teman kemudian bertanya, apakah cerita ini benar adanya. Ini seperti sejarah saja?

Kemudian saya jawab: Saya mengarang artikel ini sambil ngopi pagi di tengah PPKM, pelan pelan kurang makan, dan saya tidak bermaksud meyakini kebenarannya. Sambil saya membubuhkan emoticon tertawa di bagian akhir.

Obrolan tentang mebat ini terputus ketika seorang teman membagikan berita duka. Ia mengabarkan bahwa rekan kami yang beberapa hari ini dirawat di rumah sakit, baru saja meninggal dunia karena Covid 19. Dan percakapan WA kemudian beralih ke berita kematian ini sambil kami ramai-ramai menulis ucapan: dumogi amor ring Acintya, [T]

Tags: BahasaBahasa Balikulinerkuliner lokal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kel Uwu”, Menakar Harta, Menakar Makna Kemakmuran | Renungan Buda Cemeng Klawu

Next Post

Muasal Gelar Pedanda

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Muasal Gelar Pedanda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co