14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tokoh Kita adalah Oksigen

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 1, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Salah satu senyawa kimia dengan struktur sangat sederhana adalah oksigen, O2. Jauh lebih sederhana ketimbang NaCl misalnya, natrium klorida atau garam dapur. Jika dicocok-cocokkan dengan angka, tentu saja O paling mirip dengan angka 0 atau nol. Sederhana namun vital dan fatal.

Tanpa oksigen, semua makhluk hidup akan musnah atau nol. Mungkin hanya virus yang takkan musnah karena virus diyakini bukanlah makhluk hidup. Oksigenlah yang diperlukan untuk memastikan zat gula dalam tubuh kita bisa diubah menjadi energi. Metabolisme dalam tubuh memerlukan energi, begitu pula energi diperlukan makhluk hidup untuk beraktivitas, terutama hewan dan manusia.

Energilah yang juga digunakan umat manusia untuk berperang dan saling memusnahkan. Sebuah antitesis yang sedemikian vulgar dari maksud awal tersedianya oksigen. Atas niat manusia yang suka berperang itu, hari ini virus corona meladeni kita berperang secara  kontekstual, memperebutkan oksigen.

Jadi, tokoh kita hari-hari ini adalah oksigen.

Kesederhanaan oksigen, tergambar dari sifat fisiknya yang tak berwarna, tak berbau dan tak berasa. Alam menyediakannya gratis untuk siapa saja di bumi ini. Yang mengagumkan adalah satu fakta, pepohonan telah ikut menjaga kecukupan oksigen di alam ini. Dalam satu proses alami yang disebut fotosintesis, tumbuhan menyerap gas karbondioksida (CO2), gas produk manusia yang beracun, bersama air kemudian diubah menjadi glukosa dan oksigen dengan bantuan sinar matahari.

Jika diperhatikan dengan teliti, oksigen, air, sinar matahari yang kesemuanya benda mati ini adalah penentu kehidupan makhluk hidup. Hanya tetumbuhanlah yang telah bersekutu dalam untaian proses menjaga kehidupan ini dan asal tahu saja, tetumbuhanlah yang paling sedikit memakai energi.

Mereka tak bergerak jauh, tak berpikir, apalagi marah atau membenci. Catatan sangat mendasar bagi kita semua dari fenomena ini adalah, hanya dari yang tak punya hasrat dan ambisilah yang bakal dapat menjaga kehidupan, seperti tetumbuhan.

  Kenapa hari ini kita ribut-ribut soal oksigen? Karena tubuh manusia yang kian jauh darinya. Tubuh kita yang tak lagi bisa menghirupnya dari persediaan alam apa adanya. Tubuh meminta kemasan yang lebih padat, sebuah kemewahan yang menyakitkan. Tatkala peparu manusia mengalami kerusakan akibat infeksi atau radang, oksigen alam menjadi tak cukup memenuhi kebutuhan tubuhnya.

Ia butuh oksigen lebih tinggi konsentrasinya yang dikumpulkan dalam sebuah tabung atau sirkuit penghantar. Sumber alami telah menuntut kecerdasan manusia untuk menjadikannya lebih bernilai. Sumber oksigen alam yang selalu ada dan takkan pernah  habis, sudah seharusnya memberi peluang besar untuk dimanfaatkan secara mudah. Bukan sulit seperti yang terjadi di saat pandemi ini.

Tak keliru jika Bill Gates melemparkan satu kritik pedas kepada negara-negara di dunia, “Kita tak pernah siap menghadapi wabah.” Boleh saja orang-orang berang dan menuduh sang milioner berada di belakang konspirasi ini, namun tetap saja kita semua harus menelan pahit kenyataan wabah global ini. 

Dengan stok alam yang melimpah, pemerintah sudah seharusnya punya skema untuk mengamankan kebutuhan oksigen di saat bencana seperti ini. Bukankah oksigen adalah kepentingan hajat semua orang? Bukan lagi sekadar hajat orang banyak, namun hajat hidup semua orang. Meski itu baru diterapkan saat dibutuhkan, seperti di saat wabah seperti ini, minimal format teknologi dan infrastruktur sudah selalu siap sedia. Jika tidak, sudah dipastikan akan terjadi situasi seperti saat ini.

Kebutuhan oksigen yang meningkat sampai 400 % akibat ledakan pasien covid-19 telah membuat kita semua kalang kabut. Apalagi dikelola oleh produsen dengan kecenderungan sistem monopoli. Bahkan dengan sudah mengurangi secara ekstrim jatah gas untuk industri, pasokan oksigen oksigen untuk rumah sakit belum betul-betul aman. Jelas ini satu bukti kebenaran ucapan Gates.

Bali misalnya, dengan sedemikian banyak rumah sakit yang ada, saat ini pasokan gas medis sepenuhnya masih datang dari pulau Jawa. Seharusnya ini momen penting bagi pemangku kepentingan untuk menyiapkan sebuah skema yang selalu dapat mengamankan situasi Bali, apalagi sebagai pulau tujuan wisata utama dunia. Sigap mengadopsi teknologi mutakhir sudah menjadi syarat sebuah komunitas modern.

Seperti Singapura misalnya, mereka maju dan modern bukanlah berkat sumber daya alamnya. Mereka disegani karena kecerdikannya memanfaatkan sains dan teknologi, meniru apa yang telah dilakukan Jepang. Bahkan saat ini negara-negara Timur Tengah yang risau cadangan minyaknya suatu saat akan pasti habis pun telah banyak belajar mengembangkan teknologi. Maka, satu hal penting yang selalu diajarkan oleh sejarah adalah umat manusia harus dapat memetik buah manis dari sebuah penderitaan.

Seperti tubuh kita yang kemudian kebal seusai didera infeksi covid-19 sebagai seorang penyintas. Seseorang yang dapat menyelamatkan sesamanya dengan mendonorkan plasma kovalesennya. [T]

___

Baca KOLOM lainnya dari DOKTER ARYA

Tags: kesehatanoksigenpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Nasi Jinggo Ayam Kampung dari Kopabara untuk Warga Isoman di Buleleng

Next Post

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Tok, Tok, Tok…! Sudang Lepet Made Suarti pun Pipih dan Gurih

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co