2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ekologi Rumah Puisi” | Ulasan Puisi Karya IAO Suwati Sideman

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
May 15, 2021
in Ulasan
“Ekologi Rumah Puisi” | Ulasan Puisi Karya IAO Suwati Sideman

Foto ilustrasi oleh Jayen Photography

Ekologi mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya. Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan-sistem dengan lingkungannya. Apa yang diperhatikan oleh ekologi antara lain perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya serta faktor-faktor yang menyebabkannya. Konsep ekologi bertumpu pada kondisi homeostatis, yaitu kecenderungan sistem biologi untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan. Kehadiran manusia sebagai pusat, memunculkan aspek antropologis dalam ekologi, sehingga dari perspektif ini ekologi berbicara tentang bagaimana tubuh dan pikiran kita memengaruhi lingkungan.

Dari perspektif ini saya mencoba membaca dua puisi IAO Suwati Sideman, penyair kelahiran Denpasar, 11 Oktober 1969, dan kini bermukim di Lombok.

Puisi “Rumah Kami” berangkat dari aktivitas antropologis; membangun rumah dan rumah tangga.


Rumah Kami


rumah kami

dibangun dari bata bersusun

tanpa perekat    tanpa penguat

tak punya pagar

cuma beluntas liar


di biliknya

aku melahirkan anak-anak kami

mereka tumbuh

dan besar

oleh umbi

dan daun

lelakiku bukan gunung

                             bukan pula ladang

cuma selembar tanah lumut berlapis


tak ada mata air

                                      di dadanya

cuma setitik noktah di pelipis

tanda hidupnya belum lagi habis


di atap rumah

kami menyemai biji anggur

kemuliaan altar

dan kubur


suatu hari

kami mengundang burung

dan binatang langit

agar kemurahan sekadar menoleh

apa yang membuat burung malam

mengundang matahari menjemput umurnya

Dua baris pertama (rumah kami/dibangun dari bata bersusun) masih menunjukkan tanda yang umum dari aktivitas itu. Tiga baris selanjutnya di bait pertama mulai menunjukkan tanda yang lain (tanpa perekat tanpa penguat/tak punya pagar/cuma beluntas liar). Bagaimana sebuah rumah dibangun dari bata yang cuma disusun tanpa direkatkan dan dikuatkan? Saya melihat bahwa aku-lirik berangkat dari prinsip homeostatis tadi. Ketiadaan ‘pagar’ membuat rumah jadi kehilangan teritori eksklusifnya, sehingga posisinya bisa dipindai sebagai bagian dari suatu wilayah yang lebih luas, bagian dari lingkungan. Rumah tidak mengintervensi lingkungan, tetapi (di)tumbuh(kan) bersama lingkungan.

Jika di bait pertama berlangsung hubungan antara biotik (beluntas liar) dengan abiotik (rumah), maka di bait kedua mulai terjadi hubungan antar-biotik, hubungan antar spesies yang menjadi prasyarat terbentuknya kondisi homeostatis, tempat aku-lirik melahirkan anak-anaknya yang kemudian tumbuh ‘oleh umbi dan daun’. Kata “oleh” di sini menunjukkan, bahwa pertumbuhan anak-anak tidak cuma tergantung atau diprakarsai oleh sang ibu, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya. Pada titik ini puisi menolak pandangan antroposentris bahwa manusia adalah pusat segalanya dan karenanya lebih besar dari alam. Pikiran ini semakin ditegaskan pada bait berikutnya (lelakiku bukan gunung/bukan pula ladang/cuma selembar tanah lumut berlapis). Pembesaran posisi manusia (gunung/ladang) ditolak, diganti dengan ‘selembar tanah lumut berlapis’, ini suatu permainan zoom out ke zoom in untuk melakukan amplifikasi terhadap anatomi manusia sebagai anatomi alam. Hal ini ditunjukan pada bait berikutnya; tak ada mata air/di dadanya/cuma setitik noktah di pelipis/tanda hidupnya belum lagi habis. Fungsi tulang pelipis yang paling vital adalah untuk melindungi otak manusia. Di dalam otak manusia ada syaraf-syaraf yang menjaga kesadaran. Tubuh boleh habis (tak ada mata air/di dadanya), tetapi kesadaran harus tetap ada meski hanya setitik noktah.

Kesadaran yang terintegrasi dengan alam adalah bagian dari prinsip ekologi, dan karena ia melibatkan manusia maka melibatkan pula dimensi khas manusia, yakni spiritualitas. Di sini, spiritualitas tidak terjebak dalam eksklusifitas religi. Saya melihat pandangan itu beroperasi melalui penggunaan fitur-fitur ‘tanah’ (bahan penciptaan manusia dalam Islam), ‘noktah di pelipis’ (bija dalam ritual Hindu) serta ‘anggur’dan‘altar’ (komponen dalam ibadah Nasrani). Kesadaran spiritual ini ditempatkan sebagai kesadaran tertinggi, yang melaluinya kehidupan bisa bergerak, di mana kematian menjadi bagian darinya. Itu tampak pada bait-bait selanjutnya,  (di atap rumah/kami menyemai biji anggur/ kemuliaan altar/dan kubur// suatu hari/ kami mengundang burung/dan binatang langit/agar kemurahan sekadar menoleh). Penggunaan frasa ‘suatu hari’ menunjukkan bahwa kesadaran itu memang telah tiba, dan melalui kesadaran itu, manusia (melalui aku-lirik) tak lagi menjadi sentral, ‘kemurahan (yang) sekadar menoleh’ sudah cukup untuk membangun keseimbangan. Keseimbangan menyebabkan manusia hadir dan turut berada dalam sistem yang membentuk situasi yang seimbang, situasi homeostatis.

Dalam puisi Perjanjian di Gili Air, aku-lirik menuturkan bagaimana dia menerima pinangan, meski juga menyadari risiko dari pinangan itu.


Perjanjian di Gili Air


tentu,

kupenuhi pinanganmu

untuk menjadi ibu dari segala pemburu

kaum karnivora pencemburu

yang memamah batang belulang bahkan bulu


jadilah aku

seperti penyu hijau

                telentang membakarkan bola mata

                               pada tungku matahari

atau penyu belimbing

              mengapung dengan kerak tempurung kapurnya

                             molusca purba

                             yang dibayar harga sebelum peradaban dicatat


aku terlalu tua untuk mengingkari pinanganmu

menikahlah kita dengan upacara peri laut

tiara bintang laut dan kesepakatan tawar air garam

hidroksigen beku dari kulminasi kutub leleh


atau

memang demikianlah pelunasan piutang kelahiran

biarlah dengan segala sisa tanda baca

kusekat batas bilik gerak ruh perempuanku

di sini

             di mana air begitu manis

             seperti ikatan kimiawi mata air

                             dan lumut gambut tanah liat

panggung pengantin kita nanti tak punya nama

108 derajat dari arah matahari terbit

terus saja berjalan

bawa aku,

pengantin airmu


Ada kesan ketidakberdayaan aku-lirik atas nasibnya, seperti tampak dalam bait kedua (aku terlalu tua untuk mengingkari pinanganmu) dan bait ketiga (memang demikianlah pelunasan piutang kelahiran), sehingga kata ‘tentu’ yang menjadi kata pembuka puisi ini, yang konotasinya merujuk pada perasaan yakin, seperti berada di bawah bayang-bayang ketidakberdayaan. Singkatnya, aku-lirik menerima pinangan itu-komplit dengan risiko-risikonya-sebagai bagian dari takdir. Dengan menerima pinangan itu, aku-lirik berpotensi menjadi ibu bagi ‘kaum karnivora pencemburu’ yang rakus (memamah batang belulang bahkan bulu), dengan menerima pinangan itu pula nasib aku-lirik digambarkannya sendiri mirip dengan ‘penyu hijau yang terlentang’ atau penyu belimbing yang ‘dibayar harga sebelum peradaban dicatat’. Situasi yang semakin diamplifikasi lewat kondisi yang bertolak belakang melalui penggambaran pernikahan sebagai ‘kesepakatan tawar air garam’ dan ‘hidrooksigen beku dari kulminasi kutub leleh’. Situasi yang kemudian membuat aku-lirik berupaya menyikapinya dengan men-‘sekat batas bilik ruh perempuan’-nya sebab dalam pernikahan itu sesuatu telah berubah; air begitu manis/seperti ikatan kimiawi mata air/dan lumut gambut tanah liat.

Sebagaimana puisi pertama, puisi kedua ini juga memperlihatkan kesadaran akan posisi dan peran manusia dalam membangun keseimbangan. Bedanya di puisi kedua, manusianya lebih spesifik, yakni perempuan.

Hubungan perempuan dengan alam menjadi pokok dalam ekofeminisme. Bumi dalam pandangan kosmologi timur dipahami berdasarkan prinsip feminin melalui hubungan dialektis, ko-eksisten, dan saling melengkapi antar unsur-unsurnya. Bumi sendiri sering disebut sebagai ‘ibu pertiwi’, suatu simbol dari kemuliaan rahim, di mana kelahiran bersumber darinya dan kematian berarti kembali kepadanya. Dalam Perjanjian di Gili Air, pandangan ekofeminisme itu menguat karena puisi ini memancarkan pula ketaksaan (ambiguitas) lewat sikap aku-lirik yang bergerak antara menerima dan terpaksa menerima. Melalui kehadiran ritual pernikahan, determinasi budaya menunjukkan sistem kekuasaan yang membuat posisi perempuan berada dalam sub-ordinat. Aku-lirik menolak sistem budaya itu dengan mengatakan ‘panggung pengantin kita tak punya nama’. Pernikahan dikembalikan sebagai bagian dari kosmologi yang ‘terus saja berjalan’ tanpa embel-embel, sebagaimana air yang terus mengalir, membuat siklusnya sendiri.     

Secara umum kedua puisi IAO Suwati Sideman berangkat dari pemikiran ekologis, dengan membuat interior dari jaring-jaring quasi-ilmiah yang melibatkan pelbagai unsur, seperti zoologi, kimia, mitologi, teologi, kosmologi, dan antropologi. Pada jaring-jaring ini, kerentanan puisi bisa terlihat, sebab meskipun sekadar quasi (seolah-olah), data primer yang dipakai mesti sesuai dengan referensi ilmiahnya, hal yang menunjukkan seorang penyair harus menguasai benar materi puisinya. Dalam hal ini, dua puisi IAO Suwati Sideman bisa diperiksa kembali.

Tags: PuisiUlasan Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Made Kridalaksana | Air Mata Borneo Tepi Selatan

Next Post

“Trashveling By Artists” | Berjalan Bersama, Mengolah Sampah, Mencipta Keindahan

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Trashveling By Artists” | Berjalan Bersama, Mengolah Sampah, Mencipta Keindahan

“Trashveling By Artists” | Berjalan Bersama, Mengolah Sampah, Mencipta Keindahan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co