24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Nasi Sere Lemo dan Seorang Karyawan

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 8, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Nasi Sere Lemo dan Seorang Karyawan

Banjar Cerancam, Jalan turi, Denpasar

Nasi Sere Lemo

NASI SERE LEMO DAN SEORANG KARYAWAN

  • Br. Gerenceng, Denpasar

Setelah berkeliling kota Denpasar
namun tidak juga menemukan apa dan bagaimana
cobalah ke Jalan Sutomo Gang 8 No. 8
tepat di sebelah Banjar Gerenceng
siapa tahu ia menunggu di sana,
apapun itu, siapapun itu.

Sudah berulang kali aku datang
ternyata senyum Ibu Wati lebih tua
dari usia pencaharian kita
di depan lapuk pintu coklat
tembok bata mengikis setiap pertanyaan
dari mana aku beranjak ?
sampai kapan kau akan berhenti ?

Mana hendak kita makan lebih dahulu
ayam sisit merah ? jukut gonda hijau kekuningan ?
kacang goreng asin ? telur krispi keriting ?
atau sambel sere lemo, merah hitam pedas ini ?
karena kita berdua tidak pernah mengetahui
cara lapar yang benar
bagaimana menanggulanginya
agar tetangga lain tidak mendengar.

Ini resep dari nenek moyang
di turunkan dari mimpi-mimpi
bulan purnama asing di merajan
ribuan tumbuk lesung di celah-celah tungku api
menguap entah ke mana arahnya
lalu kita mencari jauh, tanpa sesekali pulang ke rumah.

Seorang karyawan membawa catatan pesanan
satu di antaranya hanya nasi dan kata-kata setengah matang

“Di kantor semua orang sedang merangkai kalimat
tapi mereka lupa sebelum kalimat ada kata
serta kesepakatan antar keduanya
yang tidak pernah tertera dalam kamus” kata karyawan tersebut

Sambel sere lemo kulahap
bersama sayur gonda dan ayam sisit
menerka rasa pedas dari mulut hingga ke ubun-ubun
kacang dan telur nanti saja
setelah nasi habis dan keringat berakhir
botol teh sosro sendiri di ujung meja
seekor lalat bertengger sambil menjilat bibir botol
terbang ke atas piringku, bersiap tidur siang panjang.

“Tenang saja aku selalu menyimpan bekal kata-kata dari ibu
kukumpulkan jadi satu, lalu kumasak di hari minggu
agar Senin, aku terbiasa dengan orang-orang sepertimu” kata karyawan itu kepadaku
.
.
.
.
.

Aku selalu mencari datang
dan tiba saat pergi.

9-10-11 Januari 2021

NB
Sere lemo = sambel terasi dan perasan lemo
Merajan = tempat sembahyang Agama Hindu

TARI TENGKLONG, PRAJURIT MELOMPAT, KAMI TERTAWA

Sanggah Surya di tengah kerumunan
empat prajurit empat sudut, berpakaian hitam, saput poleng
membawa tombak panjang di pundaknya, tanda perang kisah-kisah
tidak sempat kita perankan, waktu jatuh di ujung tombak
menembus tawa hari ini.

Tabuh semakin cepat
tari berlari melingkar semakin pepat
kami berteriak, mereka bersorak
lalu berhenti seketika, empat prajurit bersiap satu kaki
semua tertawa, satu penari ngegol jenaka
terhempas ke luar lingkaran
sejarah lekang di rongga meriam batu
beku jadi sembah pada jingga Penampahan Galungan.

Hari itu orang-orang Kerandan
merayakan kemenangan dari musuh-musuh masa lalu
ibu-ibu membawa gebongan buah setinggi anak lelakinya
bapak-bapak duduk dibelakang
mengamati doa mana senyatanya memberikan nasib baik
anak-anak berkeliling melihat buah warna ungu, jingga, putih dan hitam
dalam kepalanya : semua buah menyenangkan apapun warnanya
aku menangis jika ujung tombak itu menyentuh tanah
mungkin tidak ada berkat lagi

setelahnya Nasi Jinggo dibagikan di atas gebogan
anak-anak berebut bingkisan warung, seperti oleh-oleh pesta ulang tahun
Raja Pemecutan berjinggo bersama rakyatnya
Kami menunggu raja usai makan malam,
sambil menghitung daun-daun ketapang jatuh di atas kepala kami
sambil memperhatikan seekor anjing hitam koreng
menunggu sisa makanan dari upacara.

Raja tertawa, rakyat menahan tawa sedikit
Empat prajurit usai bertaruh arah
Semua senang, semua lelah
Kami pulang membawa gebogan,
ambil menawarkan buah istimewa ke yang lain, kami barter
Sedari tadi adikku sudah mengincar anggur ungu dari eropa,
gebogan milik Ibu Jero

Ibu Jero hanya meminta senyum adikku.

Rabu 13 Januari 2021
13 : 26 WITA

Banjar Cerancam, Jalan Turi, Denpasar

PULANG, KE PANGKAL PITA SUARAMU

Bale Kulkul bata merah di pojok banjar,
piring-piring putih di beberapa sisinya, seseorang memanjat tangga
menatap langit, menggambar awan di tangannya
hari masih panas, was-was seorang anak kecil menyebrang ke banjar
ingin menabuh gangsa, memukul gong berkali-kali.

Gong tersebut menyimpan kisah panjang, melintang dari Sanur – ke Ceramcam
tukar menukar janji, atas lingkar perjalanan tetua-tetua
yang barangkali kita lupakan tanpa sengaja,
terselip di antara lontar daun jaka, di tumbuh serat jamur warna merah
peradaban tetap berjalan, pendongeng masih ulung
menceritakannya kembali kepadamu – kepadaku,
di pangku dalam, temaram mata ibu.

Setiap kata penting, untuk pertumbuhanmu
nyatanya tidak segampang itu, mereka sedang sibuk menjawab pertanyaan
apakah selamat pagi itu di peruntukkan pagi ?
tidakkan sangat arogan mengucapkan salam
sebelum pagi benar-benar ada di halaman
menyisir setiap absen tawa anak-anak, di simpan malam pada bulan.

Kata Bli Wayan Sukadana, bila anak kita belum mampu berbicara
semisal : melafal benda-benda, meniru suara cicak saat menangkap nyamuk
mengucap ibu dengan sempurna, menanyakan sanksi kelahirannya,
sementara usianya sudah terlewat
datanglah hati, ilkhas pada berkat
basuh air cempaka di antara celah gong tembaga
kumpulkan setitik demi setitik di jemarimu
hingga ujung lidah, tenggorokan, usus, sampai ke jantungnya
minum, minumlah…… mandi, mandilah…..

Mereka akan kembali, pulang ke pangkal pita suaramu.

Sedari dulu orang-orang tahu gong itu bertuah
mengembalikan asal bunyi, muasal suara, ke liang – liang sekalipun
terdengar samar jauh lagu ancang-ancagan
senja mengulang kepergiannya sekian kali
leluhur menjenguk sesekali saat upacara suci di gelar berkala
sementara kita menghitung jumlah karat
di antara kerak waktu di badan gong, kulit gendang, ujung kempul, daun gangsa
bahkan di tiang penyangga yang memisahkan nasib kita hari ini.

Upacara usai tepat saat anak-anak mulai belajar menari
sambil menghafal nama sungai yang mengitari desa kita
alirannya sampai di kaki ibu, sebab langkahmu tidak pernah kuduga.

Denpasar, Januari 2020

POLLOK BERMULA, MEMANDANG PANTAI LAPANG

Dari Kelandis Ni Pollok bermula
dari halaman Pura Jurit liku tubuhnya berhulu
dari Rumah Sanur milik Le Mayuer ia bermuara

Aku berkunjung ke rumah tua milik keluarganya
halaman ditumbuhi bunga-bunga merah, rumah kupu-kupu
menyimpan perjalanan menuju pesisir,
menitipkan telur di bawah daun ketapang kering di ujung ranting.

Kata cucumu, Arini, yang kini sibuk di artshop kecil depan museum
gemulai tangan, sudut senyum, serta liku jemarimu
masih tersisa di halaman hatinya,
saat bayang-bayang daun jepun
tepat jatuh di wajah puluhan patung koleksi tuan
begitulah caranya mengingatmu,
sembari menelisik puas warna pada kanvas,
tumbuh di dinding kayu jati merah
seorang anak desa jadi penari legong .

Kemudian kami berdua mencoba menerka
gincu apa kesukaanmu ? selendang apa favoritmu ?
saat suamimu mulai menerjemahkan bias matahari
menjadi berbagai kemungkinan tanda tanya,
sebab tidak ada titik dalam kehidupanmu kan ?

Aku dan Ibu Arini mengira, perempuan yang gemar menari
merupakan persembahan luhur untuk para dewa
tubuh ditempa dari pagi hingga malam hari,
seperti perjalananmu mencari air di sungai,
memberi makan babi dan sapi,
memanen padi, menumbuk jagung
hingga menjaga keseimbangan antara ketiadaan dan kehampaan.

Tubuh-tubuh itu sudah jadi, dikerja ikhlas tak berkesudahan.

Odah, orang banyak mengenalmu sebagai model lukisan
kau masih di situ, memandang pantai lapang,
di pesisir banyak toko oleh-oleh sekarang,
baju barong, kaca mata, topi, udeng, kaos I Love Bali
topeng bondres, serta penjual makanan yang saban hari menunggu

Sesekali pulanglah ke Kelandis
cucu-cucumu gemar menari, setiap piodalan di pura
datang pada kami hujan terakhir bulan kelabu
ajarkan setiap gerak mata dan gerak rapal jemari
sebab hidup ku adalah tarian
tarian panjang untukmu dan dewa-dewa

Januari-Mei 2021


– CATATAN

Puisi-puisi ini hadir dari tulisan semasa saya menjadi wartawan di tahun 2017. Waktu itu saya mengampu rubrik tentang banjar. Setiap banjar di Denpasar saya kunjungi, mencari cerita, legenda, mitos, makanan enak, sistem sosialnya hingga tokoh yang memegang peranan penting dalam satu wilayah banjar tersebut.

Tahun ini 2021 saya mengulik lagi tulisan itu, lalu mengunjungi ulang banjar tersebut secara berkala. Kadang diam-diam hanya duduk di balai banjar, kadang ketemu kelian adat atau dinasnya, kadang hanya menatap balai kulkulnya saja. Tentu puisi ini tidak terlepas dari situasi zamannya, saat mencari data dulu hingga saya merangkainya jadi puisi.

Inilah yang saya sebut sebagai puisi arsip, hadirnya dari data dan pengarsipan walaupun belum lengkap, kemudian dirangkai dengan metafora-metafora logika peristiwa yang saya alami. Tapi memang agak susah menakar puisinya, jika tidak mengetahui latar dibelakang cerita yang mendukungnya.

Terlepas dari itu silahkan nikmati saja, sebagaimana teman-teman membaca puisi seperti biasanya.

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film Dua Sisi | Perempuan Bali, Tato, dan Dewi Pradewi

Next Post

Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode

Pameran Tunggal Made Kaek | Penemuan Stilistik dan Estetik dari Periode ke Periode

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co