2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Arti Kemenangan Ini? | Renungan Usai Perang

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
May 5, 2021
in Esai
Apa Arti Kemenangan Ini? | Renungan Usai Perang

Yudistira | Gambar Google

Dan pada hari kedelapan belas, perang di Kurukshetra itu pun usai. Kurawa kalah. Duryodana dan saudara-saudaranya tumpas seperti daun-daun kering dimakan api. Medan perang kini sepenuhnya bisu tanpa gema nafiri atau teriakan para ksatria. Langit berubah senyap, tenggelam dalam bau kematian yang membentang luas. Memang Pandawa yang memenangi perang itu dan menguasai istana, namun toh itu tak urung membuat Yudistira berguncang: “Selain mendatangkan kehancuran dan kebinasaan, lalu apa arti kemenangan ini akhirnya?”

Di istana yang sepi dan berdebu Yudistira menyendiri. Ia memandang keluar lewat celah gerbang yang kosong. Ada rasa muram ketika angin sore menggoyang-goyang ranting-ranting beringin di pojok alun-alun. Sejenak ia diperangkap bayangan masa kecilnya. Terkenang Duryodana serta semua saudara sepupu sewaktu dulu ia menghabiskan banyak waktu bermain di bawah rindang beringin itu. Ia digugah bayangan Guru Durna, Bhisma, dan lainnya yang sangat ia hormati.

Di bagian lain, adik-adik Yudistira yakni Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, terduduk dan bersandar di selasar yang menggelap di belakang pilar-pilar menjulang. Tak ada percakapan apa pun. Semua membisu, semua lelah. Seluruh istana yang luas itu dibenam perasaan berkabung yang dalam.

Itu memang perang terhebat yang pernah diriwayatkan. Perang singkat namun membinasakan tak kurang lima juta orang. Perang saudara yang melibatkan belasan kerajaan lain di sekitar itu berakhir dengan hanya menyisakan sepuluh kesatria, yakni lima Pandawa, Setyaki dan Yuyutsu, dan tiga di pihak lawan, Aswatama, Krepa dan Kertawarma.

Dua keluarga dari dinasti Kuru ini, yakni lima bersaudara putra Pandu (Pandawa) dan seratus putra Drestarasta (Kurawa), harus melewati tragedi paling tragis dalam rangkaian drama panjang perebutan kekuasaan atas Kerajaan Hastina. Ketika Duryodana, putra Drestarasta, tetap menolak menyerahkan tahta kepada saudara mereka yang lebih tua, Yudistira, putra Pandu,  maka perang Kuru itu tak terhindarkan.  Perang besar yang menggambarkan pergumulan pihak yang baik melawan yang buruk, pihak kanan dengan pihak kiri.

Tapi betulkah perang ini untuk tahta? “Aku sama sekali tak menginginkan cara ini,” kata Yudistira. Ada warna duka di matanya. Bagi Yudistira, kemenangan ini justru mendedah kepedihan baru yang lebih perih dari seluruh penderitaan yang telah ia bersama saudaranya telan sebelumnya.

Alam Mahabharata memang tak bermaksud memaksakan segalanya dalam nilai final. Ia juga menyediakan banyak ruang buat merenung dan menimbang rasa bimbang. Bahkan tokoh seanggun, selurus dan sebijak Yudistira ada kalanya digambarkan punya sisi melankolis, seperti umumnya manusia, yang tak berdaya saat berhadapan dengan perasaan pedih.

“Benar, kerajaan kini jadi milikku, tetapi seluruh sanak saudara, para guru suci, anak-anakku, para sahabat, tak ada lagi. Mereka terbunuh di tangan kita. Kemenangan ini tak lebih sebagai kekalahan besar kita. Sanak saudara kita jadikan musuh dan kita menumpasnya seperti membabat perdu,” kata Yudistira masygul, “Lantas, apa arti kemenangan ini?” tanyanya. Di puncak rasa luka itu, Yudistira sempat menolak dinobatkan jadi Raja Hastina. Ia ingin masuk hutan saja, hidup sebagai sanyasa atau pertapa. Meninggalkan dunia yang khaos.

Tetapi Mahabharata tak membiarkan Yudistira menarik diri selekas itu. Hidup tak boleh mandeg sebegitu dini. Untuk apa kesatria menceburkan diri ke dalam kancah berbelas tahun “mencari kebenaran” jika harus berakhir dengan cara semacam itu justru ketika hasil mulai dalam jangkauan? “Kewajiban kesatria bukan bertapa di hutan tetapi hidup di tengah dunia,” demikian kata-kata Bima menghentikan kegundahan Yudistira, seperti dikisahkan Nyoman S. Pendit pada kitab Mahabharata yang terbit 2005.

Perang, selamanya oleh banyak pihak diragukan efektivitasnya menghasilkan solusi terbaik. Mungkin itu hanya sebuah pilihan fatal dari sikap putus asa. Atau keniscayaan dari keterbatasan pikiran dalam menemukan alternatif ketika semua jalan menutup diri. Tak cuma Yudistira yang ragu, juga kita, juga Aristoteles: “Tak seorang pun jadi pemenang dalam perang terakhir dan tak seorang pun akan menang pada perang selanjutnya…”

Namun, ketika Kurawa tumpas, sepertinya batas antara menang dan kalah, antara yang baik dan yang buruk, jadi begitu kabur dan nisbi. Tanpa Kurawa apa jadinya Pandawa? Bukankah dengan demikian keberadaan Pandawa akan kehilangan makna dan identitasnya?

Hidup memang bukan sekadar soal menang atau kalah, bukan soal baik atau buruk. Karena perang harus terus dikobarkan. Hidup membutuhkannya. Lalu dari dalam kecamuknya itu sesekali kita keluar sebagai pemenang, sesekali sebagai orang kalah. Menang hanyalah menunda kekalahan dan kekalahan hanya menunda kemenangan. Ini adalah soal hasrat manusia untuk berkuasa sebagai hakikat keberadaannya di dunia. Kita tentu menyitir Nietzsche: “Tujuan hidup adalah pertentangan, bukan kepuasan, apalagi kedamaian. Oleh karena itu pergilah kepada perang. Perangilah sesamamu dan dirimu sendiri.”

Karena itu Kurawa sesungguhnya tak pernah benar-benar habis. Mereka selalu bereinkarnasi sebab hidup ini membutuhkan kehadirannya untuk mengisi ruang-ruang hitam zaman, untuk memprovokasi passion. Pandawa akan kehilangan jati dirinya tanpa Kurawa. Kebaikan akan kehilangan nilai tanpa keburukan. Bukankah dunia ini harus merawat kekuatan positif dan negatif, yin dan yang, dalam dirinya, tanpa boleh saling meniadakan satu di antara keduanya, agar kehidupan terus bergerak, menciptakan tesa dan antitesa yang tak ada habis-habisnya?

Dari pergumulan semacam itulah Mahabharata menginspirasi bahwa menang dan kalah hanyalah bagian dari nilai-nilai dunia yang nisbi. Di antara keduanya tak ada yang saling menguasai secara mutlak. Ia memang melelahkan sekaligus tanpa ujung. Justru karena itu, Bhagavadgita, percakapan Kresna dengan Arjuna menjelang perang ini, kemudian mengajak kita agar jangan melihat dunia melulu dengan pikiran atau logika telanjang tapi harus lewat cara rohani. Daya jangkau logika hanya sampai dunia material yang palsu, hanya menyentuh bagian terluar dari dunia yang lebih sublim, lebih abadi. “Dunia ini hanya taman ilusi, penuh jalan palsu, nilai palsu dan cita-cita palsu,” seperti kata Sai Baba.

Sepeninggal Kurawa, tak berarti segala keburukan jadi ludas dari bumi. Tak juga cuma Pandawa, sumber kebaikan itu, yang akhirnya jadi maharaja tunggal atas dunia. Inilah kontradiksinya, bahwa justru masa setelah perang Bharatayuda itulah merupakan pintu gerbang masuknya era kaliyuga, yakni zaman kegelapan, masa-masa bertahtanya segala keburukan di atas dunia, yang kemudian berlangsung terus hingga hari ini. Dengan kata lain Kurawa sesungguhnya tak pernah mati, dan Pandawa tak pernah berkuasa sepenuhnya.

Pesan moralnya, tentu orang harus memenangkan Pandawa dan mengalahkan Kurawa lewat peperangan abadi dalam dirinya. Mungkin pada akhirnya setiap orang harus mengalahkan hasratnya sendiri daripada dia mengalahkan musuh-musuhnya, “karena kemenangan yang paling sulit adalah atas diri sendiri”. Karena itu, dalam Mahaprastanikaparwa, Yudistira tetap memilih meninggalkan tahta Hastina yang direbutnya dengan pertumpahan darah itu. Ia bersama Pandawa undur diri dari dunia yang ramai, pergi menjauh ke puncak Gunung Himalaya yang sepi sebagai tujuan akhir perjalanan spiritualnya.  Jalan yang berujung pada sebuah wilayah yang sangat imajiner di benak, yang bernama surga atau nirwana.

Mahabharata memang syair panjang kehidupan yang menjangkau seluruh kesemestaan tubuh dan jiwa kita. Di dalamnya kita memahami kebenaran sebagai relatif, yang tak bebas dari konteks dan motif. Ini soal memahami diri sendiri yang dihidupi oleh seluruh sifat, kehendak, dan mimpi-mimpi tak bertepi.

Itu adalah panggung para kesatria untuk tidak mudah mengelak dari segala peristiwa meski penuh tragik dan keniscayaan yang tak luput dari hasrat dan tindakan untuk menggapai nilai-nilai yang lebih tinggi.

Mahabharata adalah sebuah kancah yang tak pernah padam membakar. Gambaran sebuah dunia yang menantang, yang memintamu mendaki ke puncak tertingginya. Yang mengingatkan pada kata-kata falsafah yang mendorong untuk total dengan keagungan dan kemanusiaan kita,  sebagaimana kata-kata Friedrich Nietzsche dalam Zarathustra, bahwa agar bisa naik engkau harus siap membakar dirimu dalam apimu sendiri: “Bagaimana kau bisa naik lagi jika engkau tidak terlebih dahulu menjadi abu?” [T]

Tags: baliperangrenunganwayangYudistira
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Next Post

Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co