14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Arti Kemenangan Ini? | Renungan Usai Perang

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
May 5, 2021
in Esai
Apa Arti Kemenangan Ini? | Renungan Usai Perang

Yudistira | Gambar Google

Dan pada hari kedelapan belas, perang di Kurukshetra itu pun usai. Kurawa kalah. Duryodana dan saudara-saudaranya tumpas seperti daun-daun kering dimakan api. Medan perang kini sepenuhnya bisu tanpa gema nafiri atau teriakan para ksatria. Langit berubah senyap, tenggelam dalam bau kematian yang membentang luas. Memang Pandawa yang memenangi perang itu dan menguasai istana, namun toh itu tak urung membuat Yudistira berguncang: “Selain mendatangkan kehancuran dan kebinasaan, lalu apa arti kemenangan ini akhirnya?”

Di istana yang sepi dan berdebu Yudistira menyendiri. Ia memandang keluar lewat celah gerbang yang kosong. Ada rasa muram ketika angin sore menggoyang-goyang ranting-ranting beringin di pojok alun-alun. Sejenak ia diperangkap bayangan masa kecilnya. Terkenang Duryodana serta semua saudara sepupu sewaktu dulu ia menghabiskan banyak waktu bermain di bawah rindang beringin itu. Ia digugah bayangan Guru Durna, Bhisma, dan lainnya yang sangat ia hormati.

Di bagian lain, adik-adik Yudistira yakni Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, terduduk dan bersandar di selasar yang menggelap di belakang pilar-pilar menjulang. Tak ada percakapan apa pun. Semua membisu, semua lelah. Seluruh istana yang luas itu dibenam perasaan berkabung yang dalam.

Itu memang perang terhebat yang pernah diriwayatkan. Perang singkat namun membinasakan tak kurang lima juta orang. Perang saudara yang melibatkan belasan kerajaan lain di sekitar itu berakhir dengan hanya menyisakan sepuluh kesatria, yakni lima Pandawa, Setyaki dan Yuyutsu, dan tiga di pihak lawan, Aswatama, Krepa dan Kertawarma.

Dua keluarga dari dinasti Kuru ini, yakni lima bersaudara putra Pandu (Pandawa) dan seratus putra Drestarasta (Kurawa), harus melewati tragedi paling tragis dalam rangkaian drama panjang perebutan kekuasaan atas Kerajaan Hastina. Ketika Duryodana, putra Drestarasta, tetap menolak menyerahkan tahta kepada saudara mereka yang lebih tua, Yudistira, putra Pandu,  maka perang Kuru itu tak terhindarkan.  Perang besar yang menggambarkan pergumulan pihak yang baik melawan yang buruk, pihak kanan dengan pihak kiri.

Tapi betulkah perang ini untuk tahta? “Aku sama sekali tak menginginkan cara ini,” kata Yudistira. Ada warna duka di matanya. Bagi Yudistira, kemenangan ini justru mendedah kepedihan baru yang lebih perih dari seluruh penderitaan yang telah ia bersama saudaranya telan sebelumnya.

Alam Mahabharata memang tak bermaksud memaksakan segalanya dalam nilai final. Ia juga menyediakan banyak ruang buat merenung dan menimbang rasa bimbang. Bahkan tokoh seanggun, selurus dan sebijak Yudistira ada kalanya digambarkan punya sisi melankolis, seperti umumnya manusia, yang tak berdaya saat berhadapan dengan perasaan pedih.

“Benar, kerajaan kini jadi milikku, tetapi seluruh sanak saudara, para guru suci, anak-anakku, para sahabat, tak ada lagi. Mereka terbunuh di tangan kita. Kemenangan ini tak lebih sebagai kekalahan besar kita. Sanak saudara kita jadikan musuh dan kita menumpasnya seperti membabat perdu,” kata Yudistira masygul, “Lantas, apa arti kemenangan ini?” tanyanya. Di puncak rasa luka itu, Yudistira sempat menolak dinobatkan jadi Raja Hastina. Ia ingin masuk hutan saja, hidup sebagai sanyasa atau pertapa. Meninggalkan dunia yang khaos.

Tetapi Mahabharata tak membiarkan Yudistira menarik diri selekas itu. Hidup tak boleh mandeg sebegitu dini. Untuk apa kesatria menceburkan diri ke dalam kancah berbelas tahun “mencari kebenaran” jika harus berakhir dengan cara semacam itu justru ketika hasil mulai dalam jangkauan? “Kewajiban kesatria bukan bertapa di hutan tetapi hidup di tengah dunia,” demikian kata-kata Bima menghentikan kegundahan Yudistira, seperti dikisahkan Nyoman S. Pendit pada kitab Mahabharata yang terbit 2005.

Perang, selamanya oleh banyak pihak diragukan efektivitasnya menghasilkan solusi terbaik. Mungkin itu hanya sebuah pilihan fatal dari sikap putus asa. Atau keniscayaan dari keterbatasan pikiran dalam menemukan alternatif ketika semua jalan menutup diri. Tak cuma Yudistira yang ragu, juga kita, juga Aristoteles: “Tak seorang pun jadi pemenang dalam perang terakhir dan tak seorang pun akan menang pada perang selanjutnya…”

Namun, ketika Kurawa tumpas, sepertinya batas antara menang dan kalah, antara yang baik dan yang buruk, jadi begitu kabur dan nisbi. Tanpa Kurawa apa jadinya Pandawa? Bukankah dengan demikian keberadaan Pandawa akan kehilangan makna dan identitasnya?

Hidup memang bukan sekadar soal menang atau kalah, bukan soal baik atau buruk. Karena perang harus terus dikobarkan. Hidup membutuhkannya. Lalu dari dalam kecamuknya itu sesekali kita keluar sebagai pemenang, sesekali sebagai orang kalah. Menang hanyalah menunda kekalahan dan kekalahan hanya menunda kemenangan. Ini adalah soal hasrat manusia untuk berkuasa sebagai hakikat keberadaannya di dunia. Kita tentu menyitir Nietzsche: “Tujuan hidup adalah pertentangan, bukan kepuasan, apalagi kedamaian. Oleh karena itu pergilah kepada perang. Perangilah sesamamu dan dirimu sendiri.”

Karena itu Kurawa sesungguhnya tak pernah benar-benar habis. Mereka selalu bereinkarnasi sebab hidup ini membutuhkan kehadirannya untuk mengisi ruang-ruang hitam zaman, untuk memprovokasi passion. Pandawa akan kehilangan jati dirinya tanpa Kurawa. Kebaikan akan kehilangan nilai tanpa keburukan. Bukankah dunia ini harus merawat kekuatan positif dan negatif, yin dan yang, dalam dirinya, tanpa boleh saling meniadakan satu di antara keduanya, agar kehidupan terus bergerak, menciptakan tesa dan antitesa yang tak ada habis-habisnya?

Dari pergumulan semacam itulah Mahabharata menginspirasi bahwa menang dan kalah hanyalah bagian dari nilai-nilai dunia yang nisbi. Di antara keduanya tak ada yang saling menguasai secara mutlak. Ia memang melelahkan sekaligus tanpa ujung. Justru karena itu, Bhagavadgita, percakapan Kresna dengan Arjuna menjelang perang ini, kemudian mengajak kita agar jangan melihat dunia melulu dengan pikiran atau logika telanjang tapi harus lewat cara rohani. Daya jangkau logika hanya sampai dunia material yang palsu, hanya menyentuh bagian terluar dari dunia yang lebih sublim, lebih abadi. “Dunia ini hanya taman ilusi, penuh jalan palsu, nilai palsu dan cita-cita palsu,” seperti kata Sai Baba.

Sepeninggal Kurawa, tak berarti segala keburukan jadi ludas dari bumi. Tak juga cuma Pandawa, sumber kebaikan itu, yang akhirnya jadi maharaja tunggal atas dunia. Inilah kontradiksinya, bahwa justru masa setelah perang Bharatayuda itulah merupakan pintu gerbang masuknya era kaliyuga, yakni zaman kegelapan, masa-masa bertahtanya segala keburukan di atas dunia, yang kemudian berlangsung terus hingga hari ini. Dengan kata lain Kurawa sesungguhnya tak pernah mati, dan Pandawa tak pernah berkuasa sepenuhnya.

Pesan moralnya, tentu orang harus memenangkan Pandawa dan mengalahkan Kurawa lewat peperangan abadi dalam dirinya. Mungkin pada akhirnya setiap orang harus mengalahkan hasratnya sendiri daripada dia mengalahkan musuh-musuhnya, “karena kemenangan yang paling sulit adalah atas diri sendiri”. Karena itu, dalam Mahaprastanikaparwa, Yudistira tetap memilih meninggalkan tahta Hastina yang direbutnya dengan pertumpahan darah itu. Ia bersama Pandawa undur diri dari dunia yang ramai, pergi menjauh ke puncak Gunung Himalaya yang sepi sebagai tujuan akhir perjalanan spiritualnya.  Jalan yang berujung pada sebuah wilayah yang sangat imajiner di benak, yang bernama surga atau nirwana.

Mahabharata memang syair panjang kehidupan yang menjangkau seluruh kesemestaan tubuh dan jiwa kita. Di dalamnya kita memahami kebenaran sebagai relatif, yang tak bebas dari konteks dan motif. Ini soal memahami diri sendiri yang dihidupi oleh seluruh sifat, kehendak, dan mimpi-mimpi tak bertepi.

Itu adalah panggung para kesatria untuk tidak mudah mengelak dari segala peristiwa meski penuh tragik dan keniscayaan yang tak luput dari hasrat dan tindakan untuk menggapai nilai-nilai yang lebih tinggi.

Mahabharata adalah sebuah kancah yang tak pernah padam membakar. Gambaran sebuah dunia yang menantang, yang memintamu mendaki ke puncak tertingginya. Yang mengingatkan pada kata-kata falsafah yang mendorong untuk total dengan keagungan dan kemanusiaan kita,  sebagaimana kata-kata Friedrich Nietzsche dalam Zarathustra, bahwa agar bisa naik engkau harus siap membakar dirimu dalam apimu sendiri: “Bagaimana kau bisa naik lagi jika engkau tidak terlebih dahulu menjadi abu?” [T]

Tags: baliperangrenunganwayangYudistira
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Next Post

Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Juara Ideal Itu City, Tapi Chelsea Bisa Brutal dan Mematikan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co