14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Depresi Berujung Bunuh diri, Siapa yang Mesti Peduli?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
March 25, 2021
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Pagi itu saya terlambat pergi ke kantor. Saya meluangkan sedikit  waktu  saya untuk mendengarkan curhat  sepasang suami  istri yang baru saja kehilangan putranya, yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sang ibu sesekali terisak menceritakan kehidupan putranya dari masih bayi,  sang suami turut  menimpali sambil menarik nafas panjang , berusaha terlihat tegar.

Kebetulan sekali, kami kalangan medis di Bali sempat dikejutkan dengan kejadian sama yang menimpa rekan sejawat kami , yang juga memilih jalan  serupa meskipun dengan cara yang sedikit berbeda. Namun tak mengurangi  keterkejutan kami yang pernah mengenalnya dulu semasa pendidikan.

Mengakhiri  hidup dengan bunuh diri, karena sebab apa pun tak diterima oleh semua agama dan budaya. Kecuali bunuh diri saat situasi perang yang dilakukan para prajurit Jepang dahulu yang mungkin masih bisa dimaklumi, karena terkait dengan kehormatan diri yang diyakini oleh  pelakunya. Masyarakat Hindu Bali menganggap mereka yang bunuh diri sebagai  tindakan salah pati, yang  membuat atma mereka  lebih susah untuk bersatu dengan sang penciptanya (parama atma). Bahkan BPJS  pun tak akan membayar klaim seseorang yang mengalami sakit akibat usaha bunuh diri yang dilakukannya. Pun begitu buruknya pandangan masyarakat tentang hal ini, tak mengurangi niat seseorang untuk bunuh diri, dan kejadiannya pun masih tetap ada di masyarakat.

Terasa sekali bedanya saat mereka yang melakukan bunuh diri itu adalah orang yang kita kenal, lama sekali bayangan  mereka terlintas  di pikiran kita. Dan ada kesempatan bagi saya untuk menyesuaikan teori yang saya pelajari waktu kuliah dengan situasi yang bisa saya tangkap dari informasi orang terdekat, keluarga maupun teman yang bersangkutan. Saya akan coba menuliskannya di sini, dengan mengutip apa yang saya pelajari dan coba saya sempurnakan berdasarkan penalaran sederhana saya.

Penyebab  seseorang memilih jalan  bunuh diri bisa kita sederhanakan menjadi dua. Penyebab yang bersifat kronis (menahun) dan yang bersifat akut  (mendadak). Yang bersifat kronis biasanya adalah gangguan depresi yang dialami oleh pelaku, dan yang akut adalah faktor pencetus yang terjadi pada pelaku saat melakukannya.

Kondisi ekonomi yang menurun drastis selama pandemi Covid 19, kita takutkan menjadi penyebab akut dari mereka yang menderita depresi untuk melakukan  bunuh diri. Situasi pandemi  yang berkepanjangan saat ini memaksa kita untuk lebih peduli kepada tetangga maupun keluarga yang terlihat menunjukkan gejala-gejala depresi.

Gejala depresi yang khas adalah saat seseorang terlihat menarik diri dari lingkungan sosial bahkan mungkin yang paling dekat seperti keluarga. Dan saat kita merasa kehilangan minat pada kesenangan-kesenangan kita selama ini, waspadalah terhadap kejadian depresi ini. Misalnya untuk saya pribadi membuat sebuah indikator sederhana. Kapan pun saya mulai tak berminat lagi bermain tenis ataupun menonton pertandingan klub sepakbola kesayangan, maka saat ini saya mesti  waspada pada kondisi kejiwaan saya.

Beberapa faktor yang dikatakan berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang menderita depresi antara lain faktor kepribadian. Mereka dengan kepribadian introvert melankolis lebih cenderung gampang depresi. Anak yang dibesarkan oleh ibu tiri dan diberlakukan berbeda oleh orang tua maupun saudaranya juga demikian. Faktor keturunan juga berpengaruh, yang saya temukan kejadian bunuh diri pada dua orang yang masih bersaudara kandung. Mereka dengan kelainan fisik, maupun penampilan dan sering diejek oleh lingkungannya, juga berkesempatan besar menderita depresi.

Yang menjadi perhatian saya, dari cerita beberapa pasien yang merasa salah memilih pekerjaan yang ditekuni. Mereka dengan corak kepribadian tertutup, dipaksa untuk menjalani pekerjaan yang mengharuskan mereka mesti berkomunikasi aktif dan sering berbicara di depan banyak orang. Walaupun ini tak ditunjukkan sebagai sesuatu yang mengganggu bagi mereka, namun akan dimanifestasikan dalam wujud keluhan-keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas bagi kami dari kalangan medis.

Penanganan secara sosial budaya terkait kasus bunuh diri ini menurut saya kurang menyeluruh, dan menafikan kemungkinan upaya pencegahan agar tak terulang kembali pada keluarga atau anggota masyarakat yang lainnya. Tradisi metuunan saat ada orang yang meninggal, sudah lama mempesona dan menjadi perhatian guru saya, psikiater terkemuka Bali, LK Suryani. Begini isi kuliah beliau yang bisa saya ingat “ Mungkin hanya di Bali, seseorang atau keluarga bisa seketika hilang kesedihannya saat menerima kematian orang terdekat, hanya dengan mendengarkan kata-kata baas pipis, yang dimediasi oleh orang pintar. Seharusnya  kepercayaan ini juga bisa untuk menanggulangi kejadian gangguan jiwa lain yang mungkin terjadi di masyarakat kita”, begitu keyakinan beliau menutup kuliah hari itu.

Terkhusus kejadian bunuh diri ini, saya melihat pendekatan dengan tradisi metuun kurang pas untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut. Saat metuunan ada jawaban singkat ”nak mule jalane amonto”, maka berakhir pula cerita dan latar belakang yang bersangkutan mengakhiri hidupnya. Saat kita menengok ke belakang, ke riwayat keluarga besar dulu, entah kakek, buyut ada yang  sering inguh, kemudian mengingat dari kecil almarhum memang pendiam, tak banyak omong, tak banyak teman. Semestinya kita sadar ada yang perlu dipelajari agar tak terulang kejadian ini pada generasi mendatang. Saat  seperti  inilah kita perlu bantuan seorang profesional di bidangnya. Dalam hal ini seorang psikolog atau psikiater.

Untuk kasus mereka yang merasa salah memilih pekerjaan, mungkin kita mesti mengevaluasi sistem pendidikan kita. Dulu saat SMA kita dibimbing guru BP/BK memilih jurusan hanya dari kemampuan akademik saja. Kalau dari SMA kita melibatkan psikolog dalam hal ini dengan mempertimbangkan tipe kepribadian anak didik, mungkin  dari awal bisa kita antisipasi situasi seperti ini biar tak terlambat. Pemilihan pekerjaan yang diawali dari pilihan jurusan sejak sekolah menengah dengan  mempertimbangkan kepribadian anak didik saya rasa sebuah usaha yang patut dicoba.

Penanaman simpati pada mereka yang mempunyai kekurangan, entah fisik ataupun penampilan dan jangan  sampai mengejek, mesti kita tanamkan sejak kecil kepada anak anak kita. Keberanian untuk berkata tidak pada sesuatu yang dirasakan tidak benar juga harus terus dipupuk, biar mereka tak mengikuti suara banyak orang yang jelas jelas bertentangan dengan norma agama maupun etika.

Permasalahan kesehatan jiwa ini sebenarnya telah lama menjadi prioritas pemerintah di bidang kesehatan. Di mana penanganan penderita gangguan jiwa menjadi target standar pelayanan minimal bidang kesehatan yang mesti dikerjakan oleh daerah. Tetapi yang saya lihat ini lebih ke aspek pengobatan/terapi orang yang sudah menderita gangguan jiwa, bukan  ke pencegahan masyarakat yang terlihat sehat, padahal sesungguhnya sedang mengalami gangguan jiwa, entah derajat ringan, sedang maupun berat yang kadang tak terlihat kasat mata dari luar. Mungkin di sinilah peran psikolog untuk menerapkan ilmunya di tengah tengah masyarakat. Pelibatan psikolog dan psikiater secara masif dan terstruktur, bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain, saya kira akan bisa memberikan hasil yang lebih optimal untuk tujuan kita menjaga kesehatan jiwa masyarakat.

Peran tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat lain saya rasa juga tak kalah pentingnya. Di satu sisi kita sudah mempunyai tradisi yang terbukti ajeg dan bisa menjaga keharmonisan kita sebagai masyarakat Bali. Tetapi di sisi lain kita mesti kritis juga untuk menilai bagian mana tradisi itu yang mesti disesuaikan kembali dengan perkembangan zaman. Dan di sinilah kita bisa menilai kebijaksanaan seseorang, saat dia mampu memilah keduanya dengan benar tanpa menimbulkan resistensi dari masyarakat umum pemegang tradisi tersebut.

Kesehatan jiwa kadang memang terdengar sangat abstrak, kita tak ingin membicarakannya saat dia belum terlihat jelas. Kita baru kebingungan saat ada anak kita yang tiba-tiba mengurung diri di kamar, dan tersentak kaget saat mendengar ada tetangga kita  mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Selalu aktual apa yang menjadi tujuan (goal ) dari WHO, tak  ada kesehatan, tanpa kesehatan jiwa. [T]

Tags: kesehatankesehatan jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Luh Menek | Memupuk Pohon Kesenian dan Merawat Cendrawasih di Bali Utara

Next Post

Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co