25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Depresi Berujung Bunuh diri, Siapa yang Mesti Peduli?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
March 25, 2021
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Pagi itu saya terlambat pergi ke kantor. Saya meluangkan sedikit  waktu  saya untuk mendengarkan curhat  sepasang suami  istri yang baru saja kehilangan putranya, yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sang ibu sesekali terisak menceritakan kehidupan putranya dari masih bayi,  sang suami turut  menimpali sambil menarik nafas panjang , berusaha terlihat tegar.

Kebetulan sekali, kami kalangan medis di Bali sempat dikejutkan dengan kejadian sama yang menimpa rekan sejawat kami , yang juga memilih jalan  serupa meskipun dengan cara yang sedikit berbeda. Namun tak mengurangi  keterkejutan kami yang pernah mengenalnya dulu semasa pendidikan.

Mengakhiri  hidup dengan bunuh diri, karena sebab apa pun tak diterima oleh semua agama dan budaya. Kecuali bunuh diri saat situasi perang yang dilakukan para prajurit Jepang dahulu yang mungkin masih bisa dimaklumi, karena terkait dengan kehormatan diri yang diyakini oleh  pelakunya. Masyarakat Hindu Bali menganggap mereka yang bunuh diri sebagai  tindakan salah pati, yang  membuat atma mereka  lebih susah untuk bersatu dengan sang penciptanya (parama atma). Bahkan BPJS  pun tak akan membayar klaim seseorang yang mengalami sakit akibat usaha bunuh diri yang dilakukannya. Pun begitu buruknya pandangan masyarakat tentang hal ini, tak mengurangi niat seseorang untuk bunuh diri, dan kejadiannya pun masih tetap ada di masyarakat.

Terasa sekali bedanya saat mereka yang melakukan bunuh diri itu adalah orang yang kita kenal, lama sekali bayangan  mereka terlintas  di pikiran kita. Dan ada kesempatan bagi saya untuk menyesuaikan teori yang saya pelajari waktu kuliah dengan situasi yang bisa saya tangkap dari informasi orang terdekat, keluarga maupun teman yang bersangkutan. Saya akan coba menuliskannya di sini, dengan mengutip apa yang saya pelajari dan coba saya sempurnakan berdasarkan penalaran sederhana saya.

Penyebab  seseorang memilih jalan  bunuh diri bisa kita sederhanakan menjadi dua. Penyebab yang bersifat kronis (menahun) dan yang bersifat akut  (mendadak). Yang bersifat kronis biasanya adalah gangguan depresi yang dialami oleh pelaku, dan yang akut adalah faktor pencetus yang terjadi pada pelaku saat melakukannya.

Kondisi ekonomi yang menurun drastis selama pandemi Covid 19, kita takutkan menjadi penyebab akut dari mereka yang menderita depresi untuk melakukan  bunuh diri. Situasi pandemi  yang berkepanjangan saat ini memaksa kita untuk lebih peduli kepada tetangga maupun keluarga yang terlihat menunjukkan gejala-gejala depresi.

Gejala depresi yang khas adalah saat seseorang terlihat menarik diri dari lingkungan sosial bahkan mungkin yang paling dekat seperti keluarga. Dan saat kita merasa kehilangan minat pada kesenangan-kesenangan kita selama ini, waspadalah terhadap kejadian depresi ini. Misalnya untuk saya pribadi membuat sebuah indikator sederhana. Kapan pun saya mulai tak berminat lagi bermain tenis ataupun menonton pertandingan klub sepakbola kesayangan, maka saat ini saya mesti  waspada pada kondisi kejiwaan saya.

Beberapa faktor yang dikatakan berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang menderita depresi antara lain faktor kepribadian. Mereka dengan kepribadian introvert melankolis lebih cenderung gampang depresi. Anak yang dibesarkan oleh ibu tiri dan diberlakukan berbeda oleh orang tua maupun saudaranya juga demikian. Faktor keturunan juga berpengaruh, yang saya temukan kejadian bunuh diri pada dua orang yang masih bersaudara kandung. Mereka dengan kelainan fisik, maupun penampilan dan sering diejek oleh lingkungannya, juga berkesempatan besar menderita depresi.

Yang menjadi perhatian saya, dari cerita beberapa pasien yang merasa salah memilih pekerjaan yang ditekuni. Mereka dengan corak kepribadian tertutup, dipaksa untuk menjalani pekerjaan yang mengharuskan mereka mesti berkomunikasi aktif dan sering berbicara di depan banyak orang. Walaupun ini tak ditunjukkan sebagai sesuatu yang mengganggu bagi mereka, namun akan dimanifestasikan dalam wujud keluhan-keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas bagi kami dari kalangan medis.

Penanganan secara sosial budaya terkait kasus bunuh diri ini menurut saya kurang menyeluruh, dan menafikan kemungkinan upaya pencegahan agar tak terulang kembali pada keluarga atau anggota masyarakat yang lainnya. Tradisi metuunan saat ada orang yang meninggal, sudah lama mempesona dan menjadi perhatian guru saya, psikiater terkemuka Bali, LK Suryani. Begini isi kuliah beliau yang bisa saya ingat “ Mungkin hanya di Bali, seseorang atau keluarga bisa seketika hilang kesedihannya saat menerima kematian orang terdekat, hanya dengan mendengarkan kata-kata baas pipis, yang dimediasi oleh orang pintar. Seharusnya  kepercayaan ini juga bisa untuk menanggulangi kejadian gangguan jiwa lain yang mungkin terjadi di masyarakat kita”, begitu keyakinan beliau menutup kuliah hari itu.

Terkhusus kejadian bunuh diri ini, saya melihat pendekatan dengan tradisi metuun kurang pas untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut. Saat metuunan ada jawaban singkat ”nak mule jalane amonto”, maka berakhir pula cerita dan latar belakang yang bersangkutan mengakhiri hidupnya. Saat kita menengok ke belakang, ke riwayat keluarga besar dulu, entah kakek, buyut ada yang  sering inguh, kemudian mengingat dari kecil almarhum memang pendiam, tak banyak omong, tak banyak teman. Semestinya kita sadar ada yang perlu dipelajari agar tak terulang kejadian ini pada generasi mendatang. Saat  seperti  inilah kita perlu bantuan seorang profesional di bidangnya. Dalam hal ini seorang psikolog atau psikiater.

Untuk kasus mereka yang merasa salah memilih pekerjaan, mungkin kita mesti mengevaluasi sistem pendidikan kita. Dulu saat SMA kita dibimbing guru BP/BK memilih jurusan hanya dari kemampuan akademik saja. Kalau dari SMA kita melibatkan psikolog dalam hal ini dengan mempertimbangkan tipe kepribadian anak didik, mungkin  dari awal bisa kita antisipasi situasi seperti ini biar tak terlambat. Pemilihan pekerjaan yang diawali dari pilihan jurusan sejak sekolah menengah dengan  mempertimbangkan kepribadian anak didik saya rasa sebuah usaha yang patut dicoba.

Penanaman simpati pada mereka yang mempunyai kekurangan, entah fisik ataupun penampilan dan jangan  sampai mengejek, mesti kita tanamkan sejak kecil kepada anak anak kita. Keberanian untuk berkata tidak pada sesuatu yang dirasakan tidak benar juga harus terus dipupuk, biar mereka tak mengikuti suara banyak orang yang jelas jelas bertentangan dengan norma agama maupun etika.

Permasalahan kesehatan jiwa ini sebenarnya telah lama menjadi prioritas pemerintah di bidang kesehatan. Di mana penanganan penderita gangguan jiwa menjadi target standar pelayanan minimal bidang kesehatan yang mesti dikerjakan oleh daerah. Tetapi yang saya lihat ini lebih ke aspek pengobatan/terapi orang yang sudah menderita gangguan jiwa, bukan  ke pencegahan masyarakat yang terlihat sehat, padahal sesungguhnya sedang mengalami gangguan jiwa, entah derajat ringan, sedang maupun berat yang kadang tak terlihat kasat mata dari luar. Mungkin di sinilah peran psikolog untuk menerapkan ilmunya di tengah tengah masyarakat. Pelibatan psikolog dan psikiater secara masif dan terstruktur, bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain, saya kira akan bisa memberikan hasil yang lebih optimal untuk tujuan kita menjaga kesehatan jiwa masyarakat.

Peran tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat lain saya rasa juga tak kalah pentingnya. Di satu sisi kita sudah mempunyai tradisi yang terbukti ajeg dan bisa menjaga keharmonisan kita sebagai masyarakat Bali. Tetapi di sisi lain kita mesti kritis juga untuk menilai bagian mana tradisi itu yang mesti disesuaikan kembali dengan perkembangan zaman. Dan di sinilah kita bisa menilai kebijaksanaan seseorang, saat dia mampu memilah keduanya dengan benar tanpa menimbulkan resistensi dari masyarakat umum pemegang tradisi tersebut.

Kesehatan jiwa kadang memang terdengar sangat abstrak, kita tak ingin membicarakannya saat dia belum terlihat jelas. Kita baru kebingungan saat ada anak kita yang tiba-tiba mengurung diri di kamar, dan tersentak kaget saat mendengar ada tetangga kita  mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Selalu aktual apa yang menjadi tujuan (goal ) dari WHO, tak  ada kesehatan, tanpa kesehatan jiwa. [T]

Tags: kesehatankesehatan jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Luh Menek | Memupuk Pohon Kesenian dan Merawat Cendrawasih di Bali Utara

Next Post

Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co