3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Depresi Berujung Bunuh diri, Siapa yang Mesti Peduli?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
March 25, 2021
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Pagi itu saya terlambat pergi ke kantor. Saya meluangkan sedikit  waktu  saya untuk mendengarkan curhat  sepasang suami  istri yang baru saja kehilangan putranya, yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sang ibu sesekali terisak menceritakan kehidupan putranya dari masih bayi,  sang suami turut  menimpali sambil menarik nafas panjang , berusaha terlihat tegar.

Kebetulan sekali, kami kalangan medis di Bali sempat dikejutkan dengan kejadian sama yang menimpa rekan sejawat kami , yang juga memilih jalan  serupa meskipun dengan cara yang sedikit berbeda. Namun tak mengurangi  keterkejutan kami yang pernah mengenalnya dulu semasa pendidikan.

Mengakhiri  hidup dengan bunuh diri, karena sebab apa pun tak diterima oleh semua agama dan budaya. Kecuali bunuh diri saat situasi perang yang dilakukan para prajurit Jepang dahulu yang mungkin masih bisa dimaklumi, karena terkait dengan kehormatan diri yang diyakini oleh  pelakunya. Masyarakat Hindu Bali menganggap mereka yang bunuh diri sebagai  tindakan salah pati, yang  membuat atma mereka  lebih susah untuk bersatu dengan sang penciptanya (parama atma). Bahkan BPJS  pun tak akan membayar klaim seseorang yang mengalami sakit akibat usaha bunuh diri yang dilakukannya. Pun begitu buruknya pandangan masyarakat tentang hal ini, tak mengurangi niat seseorang untuk bunuh diri, dan kejadiannya pun masih tetap ada di masyarakat.

Terasa sekali bedanya saat mereka yang melakukan bunuh diri itu adalah orang yang kita kenal, lama sekali bayangan  mereka terlintas  di pikiran kita. Dan ada kesempatan bagi saya untuk menyesuaikan teori yang saya pelajari waktu kuliah dengan situasi yang bisa saya tangkap dari informasi orang terdekat, keluarga maupun teman yang bersangkutan. Saya akan coba menuliskannya di sini, dengan mengutip apa yang saya pelajari dan coba saya sempurnakan berdasarkan penalaran sederhana saya.

Penyebab  seseorang memilih jalan  bunuh diri bisa kita sederhanakan menjadi dua. Penyebab yang bersifat kronis (menahun) dan yang bersifat akut  (mendadak). Yang bersifat kronis biasanya adalah gangguan depresi yang dialami oleh pelaku, dan yang akut adalah faktor pencetus yang terjadi pada pelaku saat melakukannya.

Kondisi ekonomi yang menurun drastis selama pandemi Covid 19, kita takutkan menjadi penyebab akut dari mereka yang menderita depresi untuk melakukan  bunuh diri. Situasi pandemi  yang berkepanjangan saat ini memaksa kita untuk lebih peduli kepada tetangga maupun keluarga yang terlihat menunjukkan gejala-gejala depresi.

Gejala depresi yang khas adalah saat seseorang terlihat menarik diri dari lingkungan sosial bahkan mungkin yang paling dekat seperti keluarga. Dan saat kita merasa kehilangan minat pada kesenangan-kesenangan kita selama ini, waspadalah terhadap kejadian depresi ini. Misalnya untuk saya pribadi membuat sebuah indikator sederhana. Kapan pun saya mulai tak berminat lagi bermain tenis ataupun menonton pertandingan klub sepakbola kesayangan, maka saat ini saya mesti  waspada pada kondisi kejiwaan saya.

Beberapa faktor yang dikatakan berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang menderita depresi antara lain faktor kepribadian. Mereka dengan kepribadian introvert melankolis lebih cenderung gampang depresi. Anak yang dibesarkan oleh ibu tiri dan diberlakukan berbeda oleh orang tua maupun saudaranya juga demikian. Faktor keturunan juga berpengaruh, yang saya temukan kejadian bunuh diri pada dua orang yang masih bersaudara kandung. Mereka dengan kelainan fisik, maupun penampilan dan sering diejek oleh lingkungannya, juga berkesempatan besar menderita depresi.

Yang menjadi perhatian saya, dari cerita beberapa pasien yang merasa salah memilih pekerjaan yang ditekuni. Mereka dengan corak kepribadian tertutup, dipaksa untuk menjalani pekerjaan yang mengharuskan mereka mesti berkomunikasi aktif dan sering berbicara di depan banyak orang. Walaupun ini tak ditunjukkan sebagai sesuatu yang mengganggu bagi mereka, namun akan dimanifestasikan dalam wujud keluhan-keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas bagi kami dari kalangan medis.

Penanganan secara sosial budaya terkait kasus bunuh diri ini menurut saya kurang menyeluruh, dan menafikan kemungkinan upaya pencegahan agar tak terulang kembali pada keluarga atau anggota masyarakat yang lainnya. Tradisi metuunan saat ada orang yang meninggal, sudah lama mempesona dan menjadi perhatian guru saya, psikiater terkemuka Bali, LK Suryani. Begini isi kuliah beliau yang bisa saya ingat “ Mungkin hanya di Bali, seseorang atau keluarga bisa seketika hilang kesedihannya saat menerima kematian orang terdekat, hanya dengan mendengarkan kata-kata baas pipis, yang dimediasi oleh orang pintar. Seharusnya  kepercayaan ini juga bisa untuk menanggulangi kejadian gangguan jiwa lain yang mungkin terjadi di masyarakat kita”, begitu keyakinan beliau menutup kuliah hari itu.

Terkhusus kejadian bunuh diri ini, saya melihat pendekatan dengan tradisi metuun kurang pas untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut. Saat metuunan ada jawaban singkat ”nak mule jalane amonto”, maka berakhir pula cerita dan latar belakang yang bersangkutan mengakhiri hidupnya. Saat kita menengok ke belakang, ke riwayat keluarga besar dulu, entah kakek, buyut ada yang  sering inguh, kemudian mengingat dari kecil almarhum memang pendiam, tak banyak omong, tak banyak teman. Semestinya kita sadar ada yang perlu dipelajari agar tak terulang kejadian ini pada generasi mendatang. Saat  seperti  inilah kita perlu bantuan seorang profesional di bidangnya. Dalam hal ini seorang psikolog atau psikiater.

Untuk kasus mereka yang merasa salah memilih pekerjaan, mungkin kita mesti mengevaluasi sistem pendidikan kita. Dulu saat SMA kita dibimbing guru BP/BK memilih jurusan hanya dari kemampuan akademik saja. Kalau dari SMA kita melibatkan psikolog dalam hal ini dengan mempertimbangkan tipe kepribadian anak didik, mungkin  dari awal bisa kita antisipasi situasi seperti ini biar tak terlambat. Pemilihan pekerjaan yang diawali dari pilihan jurusan sejak sekolah menengah dengan  mempertimbangkan kepribadian anak didik saya rasa sebuah usaha yang patut dicoba.

Penanaman simpati pada mereka yang mempunyai kekurangan, entah fisik ataupun penampilan dan jangan  sampai mengejek, mesti kita tanamkan sejak kecil kepada anak anak kita. Keberanian untuk berkata tidak pada sesuatu yang dirasakan tidak benar juga harus terus dipupuk, biar mereka tak mengikuti suara banyak orang yang jelas jelas bertentangan dengan norma agama maupun etika.

Permasalahan kesehatan jiwa ini sebenarnya telah lama menjadi prioritas pemerintah di bidang kesehatan. Di mana penanganan penderita gangguan jiwa menjadi target standar pelayanan minimal bidang kesehatan yang mesti dikerjakan oleh daerah. Tetapi yang saya lihat ini lebih ke aspek pengobatan/terapi orang yang sudah menderita gangguan jiwa, bukan  ke pencegahan masyarakat yang terlihat sehat, padahal sesungguhnya sedang mengalami gangguan jiwa, entah derajat ringan, sedang maupun berat yang kadang tak terlihat kasat mata dari luar. Mungkin di sinilah peran psikolog untuk menerapkan ilmunya di tengah tengah masyarakat. Pelibatan psikolog dan psikiater secara masif dan terstruktur, bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain, saya kira akan bisa memberikan hasil yang lebih optimal untuk tujuan kita menjaga kesehatan jiwa masyarakat.

Peran tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat lain saya rasa juga tak kalah pentingnya. Di satu sisi kita sudah mempunyai tradisi yang terbukti ajeg dan bisa menjaga keharmonisan kita sebagai masyarakat Bali. Tetapi di sisi lain kita mesti kritis juga untuk menilai bagian mana tradisi itu yang mesti disesuaikan kembali dengan perkembangan zaman. Dan di sinilah kita bisa menilai kebijaksanaan seseorang, saat dia mampu memilah keduanya dengan benar tanpa menimbulkan resistensi dari masyarakat umum pemegang tradisi tersebut.

Kesehatan jiwa kadang memang terdengar sangat abstrak, kita tak ingin membicarakannya saat dia belum terlihat jelas. Kita baru kebingungan saat ada anak kita yang tiba-tiba mengurung diri di kamar, dan tersentak kaget saat mendengar ada tetangga kita  mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Selalu aktual apa yang menjadi tujuan (goal ) dari WHO, tak  ada kesehatan, tanpa kesehatan jiwa. [T]

Tags: kesehatankesehatan jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ni Luh Menek | Memupuk Pohon Kesenian dan Merawat Cendrawasih di Bali Utara

Next Post

Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

Membaca Menarikan Menyanyikan Puisi Garin Nugroho dalam Segalanya Cinta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co