1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyujur Sunia Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga | Muda Kreatif, Tua Arif…

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 19, 2021
in Esai
Nyujur Sunia Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga | Muda Kreatif, Tua Arif…

Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

Suatu hari, dalam sebuah upacara besar di kampung saya di Marga, Tabanan, saya kaget dipanggil, rasanya dipanggil dengan sangat istimewa, oleh Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

“De, sini dulu, De!” kata beliau, sambil menunjuk-nunjuk saya. Beliau baru saja turun dari bale pawedan saat itu.

Meski terhitung masih keluarga, saya termasuk tak terlalu akrab dengan beliau, sehingga saya gelagapan juga dipanggil seakan-akan ada sesuatu yang serius hendak beliau bicarakan. Apalagi, hampir semua orang tiba-tiba meminta saya agar cepat-cepat menemui beliau karena melihat saya melongo di tempat dan tak kunjung mendekat.

Saya memang tak bisa bergaul dengan sulinggih, meski sulinggih itu terhitung masih keluarga. Selain tak pasih berbahasa Bali alus, saya takut tak bakal nyambung jika diajak ngobrol, misalnya ngobrol hal-hal berkaitan dengan ritual dan agama.

Perlahan saya pun mendekat dengan agak gelisah. Dan begitu berada di dekat beliau, ajaib, perasaan saya menjadi sangat sejuk. Apalagi setelah obrolan mengalir. Di luar dugaan, beliau tahu saya suka menulis sastra, bergerak di dunia seni dan menjadi wartawan — yang artinya beliau memperhatikan saya selama ini. Obrolan pun mengalir tentang sastra dan dunia kesenian.

Beliau lebih banyak bertanya, saya lebih banyak menjawab, kadang dengan Bahasa Indonesia kadang Bahasa Bali biasa, dan sesekali Bahasa Bali sangat alus yang lidah saya sendiri sangat susah mengujarkannya.

Sangat kentara, beliau punya kehendak untuk memberi wejangan, namun bahasa yang saya tangkap adalah motivasi, selayaknya orang tua yang menyayangi anak-anaknya, selayaknya orang tua yang ingin anaknya lebih maju dari orangtuanya.

Dari obrolan yang cukup panjang itu, satu hal yang saya ingat adalah tentang sastra, sejarah dan lingkungan. Saya tak ingat persis bagaimana kata-kata beliau saat itu, tapi intinya sastra sebaiknya dekat dengan sejarah dan lingkungan sekitar.

Contoh yang beliau ungkapkan saat itu adalah Geguritan Margarana. Menurut beliau, orang yang dekat dengan sejarah perang itu, baik dekat secara emosional maupun jarak, tentu akan lebih baik dalam menceritakan sekaligus mengungkapkan perasaannya lewat karya sastra.

Saya mengingat kata-kata itu. Meski bukan kata-kata yang orisinal, namun tuahnya terasa hingga kini. Mungkin karena diucapkan oleh seorang sulinggih, bukan oleh seorang sastrawan murni. Beliau sendiri juga menulis sejumlah karya sastra berupa geguritan.

Dan, kata-kata beliau itu saya ingat kembali dengan perasaan sedih, ketika beliau lebar (berpulang), Kamis, 18 Maret 2021, sekitar pukul 09.00 pagi. Sedih, karena saya sebenarnya punya rencana untuk menerbitkan karya-karya beliau, tapi belum sempat membicarakannya kepada beliau.

Dalam sebuah kesempatan, mungkin sekitar dua tahun lalu, saya sempat menanyakan karya-karya beliau, tapi dijawab akan dicari-cari dulu. Karena karya-karya beliau banyak disimpan oleh adik beliau yang lebih dulu berpulang. Dan setelah itu, saya tak punya kesempatan lagi untuk mengobrol, sampai berita sedih itu saya baca di grup WA keluarga.

***

Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

Tidak banyak yang tahu, Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga. dari Griya Agung Kelaci, Marga, Tabanan, di masa mudanya adalah sosok yang bebas dan kreatif. Pada masa-masa awal kemerdekaan, beliau yang lahir 11 Desember 1937 itu, dikenal sebagai penari tonil dan janger. Ia sempat mendirikan sekaa arja di Banjar Ole, yang dikenal luas di desa-desa di Tabanan.

Bahkan ketika sudah menjadi sulinggih pun beliau tetap memiliki perhatian yang besar pada dunia kesenian dan sastra. Dalam sebuah wawancara dengan Nyoman Budarsana (adik saya), sebagai bagian dari tugasnya sebagai seorang wartawan, Ida Pandita sempat mengkritisi  ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) yang beliau sebut hanya mengutamakan kemeriahan saja, dan melupakan jiwa dari kesenian itu sendiri..

“Kekurangan generasi kita sekarang dalam penjiwaan dan pendalaman terhadap seni yang mereka sajikan. Generasi sekarang cenderung mengutamakan kemeriahan, rame-rame dan terkesan ngeranyig (tak sungguh-sungguh),” kata beliau saat itu.

Pandita yang bernama lahir I Nyoman Santha ini mengenang penyajian kesenian pada awal PKB yang menurutnya amat sederhana. Para seniman memperkenalkan ketokohan dirinya serta bergerak sederhana di atas panggung, namun spirit dari pesan itu sampai kepada penonton.

Satu bentuk kesenian, menurut beliau, tidak hanya mengedepankan keindahan saja, yang terpenting adalah pendalaman dari isi dan makna yang terkandung dalam seni itu. Semua materi khususnya seni tradisi yang ditampilkan dalam ajang PKB mesti mencerminkan nilai-nilai ke-Bali-annya.

Untuk itulah beliau selalu berharap seniman hendaknya jangan pelit ilmu. Keahlian yang dimiliki mesti diturunkan kepada generasi, walau bukan merupakan generasi keturunananya. Hal itu untuk menjaga kesenian Bali agar terus hidup dan berkembang, bukan lantas dibawa mati kalau penarinya meninggal.

 “Bali itu memiliki beraneka jenis kesenian yang adi luhung, sayang kalau salah satu di antaranya punah karena enggan mengajari pada orang lain,” kata beliau.

Beliau menekankan, para seniman sebagai pendukung kesenian itu mesti tetap menanamkan jiwa ngayah, tulus dan ikhlas mengabdikan seni pada leluhur. Kepercayaan orang Bali, segala sesuatunya disertai dengan upacara termasuk dalam penyajian seni ini. Belakangan ini orang sering campah (menyepelekan) yang kurang memperhatikan nilai-nilai sacral dari kesenian itu.

“Ingat, pregina (seniman) itu memiliki sesuhunan yaitu Sanghyang Taksu yang memberikan kekuatan, sehingga gerak dan bunyi bisa memiliki jiwa dan hidup,” ujar beliau.

Ida Pandita bukan sekadar berkomentar karena kesenian bagi beliau adalah juga laku. Beliau sendiri adalah juga pelaku dalam dunia kesenian. Selain menari sejak kecil, pada saat Gubenur Bali Ida Bagus Mantra menggagas PKB tahun 1978, beliau sempat tampil sebagai penari dramatari arja.

Saat itu, beliau mendukung Sekaa Dramatari Arja Marga yang memerankan tokoh Penasar. Saat itu, ia tidak pernah membedakan pentas dalam PKB dengan pentas ngayah. Ia merasa betul-betul tulus dan iklas menari, tak memikirkan dana, bahkan tetap bersemangat memajukan kesenian yang digeluti sejak kecil.

“Jiwa ngayah dan tulus itu mesti tetap ada, walau itu pentas dalam ajang PKB. Sebab itu yang akan memunculkan spirit,” tegasnya.

***

Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

Selasa, 9 Maret 2021, saya sempat bertemu dengan Ida Bhawati Pitana (Prof. Pitana) di Mekarsari, Baturiti, Tabanan, untuk urusan penerbitan buku. Kami ngobrol tentang Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga, yang menurut Ida Bhawati Pitana adalah sulinggih yang arif dan bijaksana.

Ida Bhawati Pitana bercerita, pada suatu malam di suatu tempat Ida Pandita diganggu “orang-orang sakti” di sekitar beliau menginap. Tapi Ida Pandita tidak melawan. “Tak apa-apa, yang begitu-begitu tak perlu dilawan,” kata Ida Pandita sebagaimana dikutip Ida Bhawati Pitana. Padahal, Ida Bhawati yakin sekali kalau Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga adalah sulinggih yang sakti, bukan hanya dalam ilmu pengetahuan sekala, melainkan juga dalam ilmu-ilmu “yang tak kelihatan”.

Saya tentu saja tak banyak paham tentang ilmu-ilmu yang “tak kelihatan”, tapi saya percaya bahwa Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga memang sakti luar-dalam, dan sangat arif menerapkan kesaktiannya di dunia nyata. Jadi, tentang arif dan bijaksana, saya tak akan membantahnya.

Di keluarga saya, hampir semua upacara besar dipuput oleh Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga. Mulai saya dan adik saya menikah, dan otonan anak-anak kami. Dan, sungguh, dipuput oleh beliau, upacara jadi terasa ringan, baik dari segi materi maupun dari segi mental dan spiritual. Bahkan, lebih sering, beliau turut menyumbang secara materi, ketimbang saya yang “membayar” beliau. Untuk itu, saya benar-benar berutang pada beliau.

Terakhir, Agustus 2018, beliau muput upacara ngaben ibu saya, Ni Nyoman Mandri. Saat itu, saya tak sempat banyak ngobrol, tapi saya merasa Ida Pandita saat itu benar-benar menjadi bagian dari keluarga saya, bukan sebagai sulinggih yang sedang menyelesaikan upacara ibu saya. Tentu saja, karena Ida Pandita adalah teman masa kecil dari ibu saya. Dan bukan hanya itu, di dunia kesenian, Ida Pandita punya hubungan yang sangat dekat dengan keluarga saya.

Ketika membangun grup arja di Banjar Ole sekitar tahun 1960-an, Ida Pandita berperan tetap sebagai penasar. Ibu saya menjadi mantra manis, dan ayah saya menjadi kartala. Penasar dan kartala adalah satu pasang punakawan dalam kesenian arja. Jadi, bisa dibayangkan betapa akrab Ida Pandita dengan ayah dan ibu saya di masa remaja mereka.

Ketika malinggih menjadi Ida Pandita, beliau tetap punya peran yang besar untuk menyebarkan keakraban antarkeluarga kecil di Banjar Ole dan Banjar Kelaci, selain menyebarkan rasa kekeluargaan dalam wilayah yang lebih besar, misalnya dalam Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi.  Pada setiap upacara agama, beliau selalu meposisikan diri sebagai orang tua biasa, terutama ketika ngobrol tentang banyak hal dengan umat.

Dengan sikap semacam itu, bukan hanya keluarga kami dan keluarga pasek yang sedih dan merasa sangat kehilangan dengan kepergian beliau nujur sunialoka, melainkan rasa kehilangan juga dirasakan semua pecinta kearifan dan kebijaksanaan pengetahuan, baik yang mengenal beliau maupun yang tak mengenal beliau secara lebih dekat.

Selamat jalan, Palungguh Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga, orang tua kami, orang tua semua umat….

***

Dudonan Upacara Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga di Griya Agung Kelaci, Marga Dauh Puri, Tabanan, Bali:

  • 28 Maret 2021: upacara ngelelet
  • 6 April 2021: palebon
  • 8 April 2021: nyekah
  • 9 April 2021: majar-ajar
  • 11 April 2021 ngalinggihang
Tags: balihinduin memoriamSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peristiwa-peristiwa Penting di Ubud dalam Beberapa Waktu Hingga Kedatangan Presiden Jokowi

Next Post

Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co