18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyujur Sunia Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga | Muda Kreatif, Tua Arif…

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 19, 2021
in Esai
Nyujur Sunia Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga | Muda Kreatif, Tua Arif…

Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

Suatu hari, dalam sebuah upacara besar di kampung saya di Marga, Tabanan, saya kaget dipanggil, rasanya dipanggil dengan sangat istimewa, oleh Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

“De, sini dulu, De!” kata beliau, sambil menunjuk-nunjuk saya. Beliau baru saja turun dari bale pawedan saat itu.

Meski terhitung masih keluarga, saya termasuk tak terlalu akrab dengan beliau, sehingga saya gelagapan juga dipanggil seakan-akan ada sesuatu yang serius hendak beliau bicarakan. Apalagi, hampir semua orang tiba-tiba meminta saya agar cepat-cepat menemui beliau karena melihat saya melongo di tempat dan tak kunjung mendekat.

Saya memang tak bisa bergaul dengan sulinggih, meski sulinggih itu terhitung masih keluarga. Selain tak pasih berbahasa Bali alus, saya takut tak bakal nyambung jika diajak ngobrol, misalnya ngobrol hal-hal berkaitan dengan ritual dan agama.

Perlahan saya pun mendekat dengan agak gelisah. Dan begitu berada di dekat beliau, ajaib, perasaan saya menjadi sangat sejuk. Apalagi setelah obrolan mengalir. Di luar dugaan, beliau tahu saya suka menulis sastra, bergerak di dunia seni dan menjadi wartawan — yang artinya beliau memperhatikan saya selama ini. Obrolan pun mengalir tentang sastra dan dunia kesenian.

Beliau lebih banyak bertanya, saya lebih banyak menjawab, kadang dengan Bahasa Indonesia kadang Bahasa Bali biasa, dan sesekali Bahasa Bali sangat alus yang lidah saya sendiri sangat susah mengujarkannya.

Sangat kentara, beliau punya kehendak untuk memberi wejangan, namun bahasa yang saya tangkap adalah motivasi, selayaknya orang tua yang menyayangi anak-anaknya, selayaknya orang tua yang ingin anaknya lebih maju dari orangtuanya.

Dari obrolan yang cukup panjang itu, satu hal yang saya ingat adalah tentang sastra, sejarah dan lingkungan. Saya tak ingat persis bagaimana kata-kata beliau saat itu, tapi intinya sastra sebaiknya dekat dengan sejarah dan lingkungan sekitar.

Contoh yang beliau ungkapkan saat itu adalah Geguritan Margarana. Menurut beliau, orang yang dekat dengan sejarah perang itu, baik dekat secara emosional maupun jarak, tentu akan lebih baik dalam menceritakan sekaligus mengungkapkan perasaannya lewat karya sastra.

Saya mengingat kata-kata itu. Meski bukan kata-kata yang orisinal, namun tuahnya terasa hingga kini. Mungkin karena diucapkan oleh seorang sulinggih, bukan oleh seorang sastrawan murni. Beliau sendiri juga menulis sejumlah karya sastra berupa geguritan.

Dan, kata-kata beliau itu saya ingat kembali dengan perasaan sedih, ketika beliau lebar (berpulang), Kamis, 18 Maret 2021, sekitar pukul 09.00 pagi. Sedih, karena saya sebenarnya punya rencana untuk menerbitkan karya-karya beliau, tapi belum sempat membicarakannya kepada beliau.

Dalam sebuah kesempatan, mungkin sekitar dua tahun lalu, saya sempat menanyakan karya-karya beliau, tapi dijawab akan dicari-cari dulu. Karena karya-karya beliau banyak disimpan oleh adik beliau yang lebih dulu berpulang. Dan setelah itu, saya tak punya kesempatan lagi untuk mengobrol, sampai berita sedih itu saya baca di grup WA keluarga.

***

Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

Tidak banyak yang tahu, Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga. dari Griya Agung Kelaci, Marga, Tabanan, di masa mudanya adalah sosok yang bebas dan kreatif. Pada masa-masa awal kemerdekaan, beliau yang lahir 11 Desember 1937 itu, dikenal sebagai penari tonil dan janger. Ia sempat mendirikan sekaa arja di Banjar Ole, yang dikenal luas di desa-desa di Tabanan.

Bahkan ketika sudah menjadi sulinggih pun beliau tetap memiliki perhatian yang besar pada dunia kesenian dan sastra. Dalam sebuah wawancara dengan Nyoman Budarsana (adik saya), sebagai bagian dari tugasnya sebagai seorang wartawan, Ida Pandita sempat mengkritisi  ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) yang beliau sebut hanya mengutamakan kemeriahan saja, dan melupakan jiwa dari kesenian itu sendiri..

“Kekurangan generasi kita sekarang dalam penjiwaan dan pendalaman terhadap seni yang mereka sajikan. Generasi sekarang cenderung mengutamakan kemeriahan, rame-rame dan terkesan ngeranyig (tak sungguh-sungguh),” kata beliau saat itu.

Pandita yang bernama lahir I Nyoman Santha ini mengenang penyajian kesenian pada awal PKB yang menurutnya amat sederhana. Para seniman memperkenalkan ketokohan dirinya serta bergerak sederhana di atas panggung, namun spirit dari pesan itu sampai kepada penonton.

Satu bentuk kesenian, menurut beliau, tidak hanya mengedepankan keindahan saja, yang terpenting adalah pendalaman dari isi dan makna yang terkandung dalam seni itu. Semua materi khususnya seni tradisi yang ditampilkan dalam ajang PKB mesti mencerminkan nilai-nilai ke-Bali-annya.

Untuk itulah beliau selalu berharap seniman hendaknya jangan pelit ilmu. Keahlian yang dimiliki mesti diturunkan kepada generasi, walau bukan merupakan generasi keturunananya. Hal itu untuk menjaga kesenian Bali agar terus hidup dan berkembang, bukan lantas dibawa mati kalau penarinya meninggal.

 “Bali itu memiliki beraneka jenis kesenian yang adi luhung, sayang kalau salah satu di antaranya punah karena enggan mengajari pada orang lain,” kata beliau.

Beliau menekankan, para seniman sebagai pendukung kesenian itu mesti tetap menanamkan jiwa ngayah, tulus dan ikhlas mengabdikan seni pada leluhur. Kepercayaan orang Bali, segala sesuatunya disertai dengan upacara termasuk dalam penyajian seni ini. Belakangan ini orang sering campah (menyepelekan) yang kurang memperhatikan nilai-nilai sacral dari kesenian itu.

“Ingat, pregina (seniman) itu memiliki sesuhunan yaitu Sanghyang Taksu yang memberikan kekuatan, sehingga gerak dan bunyi bisa memiliki jiwa dan hidup,” ujar beliau.

Ida Pandita bukan sekadar berkomentar karena kesenian bagi beliau adalah juga laku. Beliau sendiri adalah juga pelaku dalam dunia kesenian. Selain menari sejak kecil, pada saat Gubenur Bali Ida Bagus Mantra menggagas PKB tahun 1978, beliau sempat tampil sebagai penari dramatari arja.

Saat itu, beliau mendukung Sekaa Dramatari Arja Marga yang memerankan tokoh Penasar. Saat itu, ia tidak pernah membedakan pentas dalam PKB dengan pentas ngayah. Ia merasa betul-betul tulus dan iklas menari, tak memikirkan dana, bahkan tetap bersemangat memajukan kesenian yang digeluti sejak kecil.

“Jiwa ngayah dan tulus itu mesti tetap ada, walau itu pentas dalam ajang PKB. Sebab itu yang akan memunculkan spirit,” tegasnya.

***

Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga.

Selasa, 9 Maret 2021, saya sempat bertemu dengan Ida Bhawati Pitana (Prof. Pitana) di Mekarsari, Baturiti, Tabanan, untuk urusan penerbitan buku. Kami ngobrol tentang Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga, yang menurut Ida Bhawati Pitana adalah sulinggih yang arif dan bijaksana.

Ida Bhawati Pitana bercerita, pada suatu malam di suatu tempat Ida Pandita diganggu “orang-orang sakti” di sekitar beliau menginap. Tapi Ida Pandita tidak melawan. “Tak apa-apa, yang begitu-begitu tak perlu dilawan,” kata Ida Pandita sebagaimana dikutip Ida Bhawati Pitana. Padahal, Ida Bhawati yakin sekali kalau Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga adalah sulinggih yang sakti, bukan hanya dalam ilmu pengetahuan sekala, melainkan juga dalam ilmu-ilmu “yang tak kelihatan”.

Saya tentu saja tak banyak paham tentang ilmu-ilmu yang “tak kelihatan”, tapi saya percaya bahwa Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga memang sakti luar-dalam, dan sangat arif menerapkan kesaktiannya di dunia nyata. Jadi, tentang arif dan bijaksana, saya tak akan membantahnya.

Di keluarga saya, hampir semua upacara besar dipuput oleh Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga. Mulai saya dan adik saya menikah, dan otonan anak-anak kami. Dan, sungguh, dipuput oleh beliau, upacara jadi terasa ringan, baik dari segi materi maupun dari segi mental dan spiritual. Bahkan, lebih sering, beliau turut menyumbang secara materi, ketimbang saya yang “membayar” beliau. Untuk itu, saya benar-benar berutang pada beliau.

Terakhir, Agustus 2018, beliau muput upacara ngaben ibu saya, Ni Nyoman Mandri. Saat itu, saya tak sempat banyak ngobrol, tapi saya merasa Ida Pandita saat itu benar-benar menjadi bagian dari keluarga saya, bukan sebagai sulinggih yang sedang menyelesaikan upacara ibu saya. Tentu saja, karena Ida Pandita adalah teman masa kecil dari ibu saya. Dan bukan hanya itu, di dunia kesenian, Ida Pandita punya hubungan yang sangat dekat dengan keluarga saya.

Ketika membangun grup arja di Banjar Ole sekitar tahun 1960-an, Ida Pandita berperan tetap sebagai penasar. Ibu saya menjadi mantra manis, dan ayah saya menjadi kartala. Penasar dan kartala adalah satu pasang punakawan dalam kesenian arja. Jadi, bisa dibayangkan betapa akrab Ida Pandita dengan ayah dan ibu saya di masa remaja mereka.

Ketika malinggih menjadi Ida Pandita, beliau tetap punya peran yang besar untuk menyebarkan keakraban antarkeluarga kecil di Banjar Ole dan Banjar Kelaci, selain menyebarkan rasa kekeluargaan dalam wilayah yang lebih besar, misalnya dalam Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi.  Pada setiap upacara agama, beliau selalu meposisikan diri sebagai orang tua biasa, terutama ketika ngobrol tentang banyak hal dengan umat.

Dengan sikap semacam itu, bukan hanya keluarga kami dan keluarga pasek yang sedih dan merasa sangat kehilangan dengan kepergian beliau nujur sunialoka, melainkan rasa kehilangan juga dirasakan semua pecinta kearifan dan kebijaksanaan pengetahuan, baik yang mengenal beliau maupun yang tak mengenal beliau secara lebih dekat.

Selamat jalan, Palungguh Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga, orang tua kami, orang tua semua umat….

***

Dudonan Upacara Ida Ratu Pandita Mpu Daksa Samyoga di Griya Agung Kelaci, Marga Dauh Puri, Tabanan, Bali:

  • 28 Maret 2021: upacara ngelelet
  • 6 April 2021: palebon
  • 8 April 2021: nyekah
  • 9 April 2021: majar-ajar
  • 11 April 2021 ngalinggihang
Tags: balihinduin memoriamSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peristiwa-peristiwa Penting di Ubud dalam Beberapa Waktu Hingga Kedatangan Presiden Jokowi

Next Post

Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Dandi dan Dangdut | Cerita Duta Bali pada Liga Dangdut Indosiar 2021

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co