13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Sayang Kukiss by Sayang Kukiss
February 22, 2021
in Esai
Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Foto ilustrasi: Pameran instalasi di atas pohon || Foto Mursal Buyung

Selama hidup kita tentu selalu ingin menjadi lebih baik, wajar sekali dan sangat manusiawi. Menjadi lebih baik tentu sebaiknya disertai dengan pola pikir, ucapan serta tindakan yang baik. Bukan untuk terlihat baik di mata orang, bukan juga agar dilihat baik-baik saja di depan publik, tapi menjadi baik untuk kesehatan diri sendiri, itulah yang terpenting.

Ada sebuah kisah menarik dari hamparan bukit hijau di ujung pulau, ketika itu seorang anak laki-laki sedang membantu ayahnya membangun sebuah rumah pohon yang nantinya akan menjadi rumah mereka untuk bercerita. Sang anak dengan giatnya membantu ayahnya karena ia tahu ayahnya akan memberikan hal terbaik di hari ulang tahunnya nanti.

Sebelum mereka membangun rumah pohon, sang ayah berkata “Nak, coba kamu pilih pohon yang mana yang paling kokoh!”

Kemudian sang anak menunjuk salah satu pohon yang besar dan kokoh. Ia memilih satu pohon yang tertinggi namun daunnya sudah berguguran.

“Baik Nak, jika itu pilihanmu maka ayah akan berusaha memanjatnya dan membuatkanmu rumah pohon yang indah”.

Sang anak nampak gembira sekali ketika tahu bahwa ayahnya akan membuat tempat yang sangat nyaman baginya. Dua hari berselang, mimpi mereka akhirnya terwujud, hanya tinggal membuat anak tangga yang menarik untuk dipijak. Satu per satu anak tangga dibuat, yang kemudian menjadi jalan untuk mereka memanjat dan sang anak tetap membantu ayah dengan penuh semangat, hingga hari ulang tahun sang anak pun tiba.

“Ini dia hadiah spesial untukmu, maafkan ayah yang belum bisa memberikanmu rumah yang mewah, tapi melalui rumah pohon yang tinggi ini ayah ingin kamu tahu bagaimana proses dan usaha yang harus kita bangun untuk mencapai mimpi dan cita-cita kita. Tapi ini belum selesai, rumah pohon ini sangat tinggi, ayah harus pastikan rumah ini siap untuk kita tempati.”

Kemudian sang ayah menaiki anak tangga itu satu persatu dengan perlahan dan sangat hati-hati. Siapa yang sangka satu anak tangga ternyata goyah ketika dipijak, kemudian sang ayahpun terjatuh. Sang anak tekejut melihat ayahnya terjatuh namun sang ayah sesegera mungkin bangkit dan membenahi anak tangga yang goyah itu. Ia tak ingin ada yang terluka dan jatuh sepertinya, dan sang ayah kemudian menata ban-ban bekas miliknya di sekeliling rumah pohon tersebut agar ketika hal yang sama menimpa sang anak maka ada ban yang baik yang masi melindunginya.

Singkat cerita kemudian ayah berhasil sampai di atas rumah pohon dengan selamat, lalu kembali turun untuk menjemput sang anak. “Ayo, Nak, kamu harus melihat apa yang ayah lihat.”

Perlahan-lahan anak itu memijak tangga kayu buatan ayahnya, dan ayahnya tetap menuntun dan menjaganya dari bawah. Sampailah mereka di rumah pohon, hamparan bukit hijau tampak indah dari atas sana, dan itu menjadi hadiah terindah sang anak sepanjang hidupnya karena sang ayah dengan jelas sekali menceritakan setiap esensi dari rumah pohon milik mereka.

“Rumah adalah tempat di mana kita bisa tinggal dan bercerita, ini adalah tempat yang membuat kita bisa semakin dekat. Kamu bebas bercerita apapun denganku di sini Nak, kamu punya hak untuk meluapkan semua emosimu di rumah ini, namun satu pesan ayah untukmu, ayah tidak ingin kamu menyakiti siapapun di rumah ini.”

Sang anak masih mendengarkan dengan penuh rasa antusias dan ayah melanjutkan ceritanya. “Kamu tahu mengapa ayah memintamu memilih pohon yang paling kokoh? Ayah ingin kamu seperti pohon ini, pohon ini hanya tumbuh keatas, ia tak mengganggu siapapun. Ketika kamu kokoh seperti pohon ini maka hujan dan badai akan siap kamu lalui. Tak apa jika daun ini berguguran, karena mereka akan tumbuh kembali ketika musimnya tiba. Cukup kamu rawat saja dengan sebaik yang kamu bisa.”

Kemudian beberapa saat burung-burung hinggap di ranting “Kau lihat burung-burung itu? Ya, terkadang mereka hanya singgah untuk mengambil ranting, terkadang juga mereka menetap di salah satu ranting untuk menarih sangkar dan mengerami telurnya, dan tak jarang juga mereka singgah untuk bertengger sejenak menikmati udara dan pemandangan, seperti kita saat ini.”

Di atas rumah pohon itu pemandangan nampak begitu indah sekali, dengan jelas bunga-bunga bermekaran, kelinci dan tupai melompat lincah, kuda-kuda sedang berjalan beriringan, danau terlihat tenang, indah sekali. lalu awan mulai tak bersahabat, terasa angin kencang sekali dari atas sana, sangat kencang. “Nak ketika angin seperti ini datang, kamu harus berpegangan yang erat, Nak, jika tidak maka kita akan terjatuh, pegangan yang kuat nak.”

Beberapa menit kemudian susana mereda, cuaca mulai membaik dan sang ayah kembali bercerita. “Angin dan badai tadi adalah salah satu contoh hal yang ada di luar kendali kita, kita tak pernah tahu kapan mereka akan datang, dan kita juga tak pernah tahu berapa lama mereka akan singgah. yang bisa kita lakukan adalah bertahan, berpegangan dengan apa yang kita yakini, dan jangan lupa untuk berterima kasih ketika selamat dari badai itu. Berterima kasih kepada diri sendiri, berterima kasih kepada rumah pohon ini, beterima kasih kepada ranting yang kita pegang, berterima kasih kepada akar yang kuat, berterima kasih kepada Tuhan karena berkatnya kita jadi punya kapabilitas untuk bertahan hidup dan menjadi lebih kuat.”

Tak hanya itu yang ayah ucapkan ia juga berpesan kepada sang anak “Nak, dari atas pohon ini kamu juga dapat belajar tentang paradigma. Belajar untuk memandang sesuatu lebih luas. Cara sederhana untuk mengerti tentang paradigma yakni dengan memandangnya sebagai peta, bukan sebagai wilayah. Semakin luas peta yang dapat kamu lihat, semakin besar kemungkinanmu untuk belajar lebih banyak. sikap dan prilaku kita akan tumbuh dari asumsi-asumsi yang telah kita pelajari. Cara kita memandang sesuatu adalah sumber dari cara kita berfikir dan cara kita bertindak. bijaklah, Nak.”

Ternyata hari telah larut, sang anak merasa itu adalah hari yang sangat bermakna dalam hidupnya, hari terindah di atas rumah pohon bersama ayah yang selalu menjadi sumber inspirasinya. “Terima kasih ayah, terima kasih banyak telah mengajarkanku untuk tetap kuat, ayah sangat hebat bisa membawaku sampai ke atas sini, suatu saat nanti, pesan ayah akan aku teruskan, aku berjanji padamu ayah.”

Dan malam itu mereka turun dari rumah pohon itu. sesampainya di bawah ayah tersadar ternyata ada satu hal yang belum ia sampaikan “Nak, hampir saja ayah lupa, tentang ban-ban ini. Mereka adalah teman-temanmu, merekalah yang nanti ya akan mejaganu ketika nanti kamu terjatuh, mereka ada agar kamu tidak terluka, jangan lupa berterimakasihlah kepada mereka!”

Dengan penuh senyuman sang anak berkata “Hihihihi, terima kasih banyak ya, ban.”

Setiap orang sangatlah unik, semua memiliki perbedaan, perbedaan dari segi apapun. Permasalahan boleh jadi sama, namun cara menghadapinya tergantung dari sudut pandang mana kamu melihatnya. Cara saya mirip seperti ayah dari cerita tadi, belajar memandang sesuatu dari dalam keluar, jika ada satu anak tangga yang goyah, kita tidak perlu repot-repot menyalahkan siapapun akan hal itu, cukup perbaiki saja apa yang seharusnya diperbaiki. Dalam menghadapi situasi sulit kuncinya adalah bagaimana kita mengendalikan persepsi kita dan membenahi komunikasi agar menjadi yang baik. [T]

Tags: masa mudapemudaRemaja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Harus Dokter Spesialis?

Next Post

Perjuangan Tiada Henti Masyarakat Adat Dalem Tamblingan untuk Kembalikan Hutan Adat

Sayang Kukiss

Sayang Kukiss

Sayang Kukiss adalah nama pena Diah Cintya. Biasa juga dipanggil DC. Perempuan kecil yang senang bermain kembang, tapi bukan kembang api. Gemar membaca, membaca timeline. dan sekarang sedang belajar menulis, menulis mimpi indah bersamamu...

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Perjuangan Tiada Henti Masyarakat Adat Dalem Tamblingan untuk Kembalikan Hutan Adat

Perjuangan Tiada Henti Masyarakat Adat Dalem Tamblingan untuk Kembalikan Hutan Adat

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co