2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Sayang Kukiss by Sayang Kukiss
February 22, 2021
in Esai
Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Foto ilustrasi: Pameran instalasi di atas pohon || Foto Mursal Buyung

Selama hidup kita tentu selalu ingin menjadi lebih baik, wajar sekali dan sangat manusiawi. Menjadi lebih baik tentu sebaiknya disertai dengan pola pikir, ucapan serta tindakan yang baik. Bukan untuk terlihat baik di mata orang, bukan juga agar dilihat baik-baik saja di depan publik, tapi menjadi baik untuk kesehatan diri sendiri, itulah yang terpenting.

Ada sebuah kisah menarik dari hamparan bukit hijau di ujung pulau, ketika itu seorang anak laki-laki sedang membantu ayahnya membangun sebuah rumah pohon yang nantinya akan menjadi rumah mereka untuk bercerita. Sang anak dengan giatnya membantu ayahnya karena ia tahu ayahnya akan memberikan hal terbaik di hari ulang tahunnya nanti.

Sebelum mereka membangun rumah pohon, sang ayah berkata “Nak, coba kamu pilih pohon yang mana yang paling kokoh!”

Kemudian sang anak menunjuk salah satu pohon yang besar dan kokoh. Ia memilih satu pohon yang tertinggi namun daunnya sudah berguguran.

“Baik Nak, jika itu pilihanmu maka ayah akan berusaha memanjatnya dan membuatkanmu rumah pohon yang indah”.

Sang anak nampak gembira sekali ketika tahu bahwa ayahnya akan membuat tempat yang sangat nyaman baginya. Dua hari berselang, mimpi mereka akhirnya terwujud, hanya tinggal membuat anak tangga yang menarik untuk dipijak. Satu per satu anak tangga dibuat, yang kemudian menjadi jalan untuk mereka memanjat dan sang anak tetap membantu ayah dengan penuh semangat, hingga hari ulang tahun sang anak pun tiba.

“Ini dia hadiah spesial untukmu, maafkan ayah yang belum bisa memberikanmu rumah yang mewah, tapi melalui rumah pohon yang tinggi ini ayah ingin kamu tahu bagaimana proses dan usaha yang harus kita bangun untuk mencapai mimpi dan cita-cita kita. Tapi ini belum selesai, rumah pohon ini sangat tinggi, ayah harus pastikan rumah ini siap untuk kita tempati.”

Kemudian sang ayah menaiki anak tangga itu satu persatu dengan perlahan dan sangat hati-hati. Siapa yang sangka satu anak tangga ternyata goyah ketika dipijak, kemudian sang ayahpun terjatuh. Sang anak tekejut melihat ayahnya terjatuh namun sang ayah sesegera mungkin bangkit dan membenahi anak tangga yang goyah itu. Ia tak ingin ada yang terluka dan jatuh sepertinya, dan sang ayah kemudian menata ban-ban bekas miliknya di sekeliling rumah pohon tersebut agar ketika hal yang sama menimpa sang anak maka ada ban yang baik yang masi melindunginya.

Singkat cerita kemudian ayah berhasil sampai di atas rumah pohon dengan selamat, lalu kembali turun untuk menjemput sang anak. “Ayo, Nak, kamu harus melihat apa yang ayah lihat.”

Perlahan-lahan anak itu memijak tangga kayu buatan ayahnya, dan ayahnya tetap menuntun dan menjaganya dari bawah. Sampailah mereka di rumah pohon, hamparan bukit hijau tampak indah dari atas sana, dan itu menjadi hadiah terindah sang anak sepanjang hidupnya karena sang ayah dengan jelas sekali menceritakan setiap esensi dari rumah pohon milik mereka.

“Rumah adalah tempat di mana kita bisa tinggal dan bercerita, ini adalah tempat yang membuat kita bisa semakin dekat. Kamu bebas bercerita apapun denganku di sini Nak, kamu punya hak untuk meluapkan semua emosimu di rumah ini, namun satu pesan ayah untukmu, ayah tidak ingin kamu menyakiti siapapun di rumah ini.”

Sang anak masih mendengarkan dengan penuh rasa antusias dan ayah melanjutkan ceritanya. “Kamu tahu mengapa ayah memintamu memilih pohon yang paling kokoh? Ayah ingin kamu seperti pohon ini, pohon ini hanya tumbuh keatas, ia tak mengganggu siapapun. Ketika kamu kokoh seperti pohon ini maka hujan dan badai akan siap kamu lalui. Tak apa jika daun ini berguguran, karena mereka akan tumbuh kembali ketika musimnya tiba. Cukup kamu rawat saja dengan sebaik yang kamu bisa.”

Kemudian beberapa saat burung-burung hinggap di ranting “Kau lihat burung-burung itu? Ya, terkadang mereka hanya singgah untuk mengambil ranting, terkadang juga mereka menetap di salah satu ranting untuk menarih sangkar dan mengerami telurnya, dan tak jarang juga mereka singgah untuk bertengger sejenak menikmati udara dan pemandangan, seperti kita saat ini.”

Di atas rumah pohon itu pemandangan nampak begitu indah sekali, dengan jelas bunga-bunga bermekaran, kelinci dan tupai melompat lincah, kuda-kuda sedang berjalan beriringan, danau terlihat tenang, indah sekali. lalu awan mulai tak bersahabat, terasa angin kencang sekali dari atas sana, sangat kencang. “Nak ketika angin seperti ini datang, kamu harus berpegangan yang erat, Nak, jika tidak maka kita akan terjatuh, pegangan yang kuat nak.”

Beberapa menit kemudian susana mereda, cuaca mulai membaik dan sang ayah kembali bercerita. “Angin dan badai tadi adalah salah satu contoh hal yang ada di luar kendali kita, kita tak pernah tahu kapan mereka akan datang, dan kita juga tak pernah tahu berapa lama mereka akan singgah. yang bisa kita lakukan adalah bertahan, berpegangan dengan apa yang kita yakini, dan jangan lupa untuk berterima kasih ketika selamat dari badai itu. Berterima kasih kepada diri sendiri, berterima kasih kepada rumah pohon ini, beterima kasih kepada ranting yang kita pegang, berterima kasih kepada akar yang kuat, berterima kasih kepada Tuhan karena berkatnya kita jadi punya kapabilitas untuk bertahan hidup dan menjadi lebih kuat.”

Tak hanya itu yang ayah ucapkan ia juga berpesan kepada sang anak “Nak, dari atas pohon ini kamu juga dapat belajar tentang paradigma. Belajar untuk memandang sesuatu lebih luas. Cara sederhana untuk mengerti tentang paradigma yakni dengan memandangnya sebagai peta, bukan sebagai wilayah. Semakin luas peta yang dapat kamu lihat, semakin besar kemungkinanmu untuk belajar lebih banyak. sikap dan prilaku kita akan tumbuh dari asumsi-asumsi yang telah kita pelajari. Cara kita memandang sesuatu adalah sumber dari cara kita berfikir dan cara kita bertindak. bijaklah, Nak.”

Ternyata hari telah larut, sang anak merasa itu adalah hari yang sangat bermakna dalam hidupnya, hari terindah di atas rumah pohon bersama ayah yang selalu menjadi sumber inspirasinya. “Terima kasih ayah, terima kasih banyak telah mengajarkanku untuk tetap kuat, ayah sangat hebat bisa membawaku sampai ke atas sini, suatu saat nanti, pesan ayah akan aku teruskan, aku berjanji padamu ayah.”

Dan malam itu mereka turun dari rumah pohon itu. sesampainya di bawah ayah tersadar ternyata ada satu hal yang belum ia sampaikan “Nak, hampir saja ayah lupa, tentang ban-ban ini. Mereka adalah teman-temanmu, merekalah yang nanti ya akan mejaganu ketika nanti kamu terjatuh, mereka ada agar kamu tidak terluka, jangan lupa berterimakasihlah kepada mereka!”

Dengan penuh senyuman sang anak berkata “Hihihihi, terima kasih banyak ya, ban.”

Setiap orang sangatlah unik, semua memiliki perbedaan, perbedaan dari segi apapun. Permasalahan boleh jadi sama, namun cara menghadapinya tergantung dari sudut pandang mana kamu melihatnya. Cara saya mirip seperti ayah dari cerita tadi, belajar memandang sesuatu dari dalam keluar, jika ada satu anak tangga yang goyah, kita tidak perlu repot-repot menyalahkan siapapun akan hal itu, cukup perbaiki saja apa yang seharusnya diperbaiki. Dalam menghadapi situasi sulit kuncinya adalah bagaimana kita mengendalikan persepsi kita dan membenahi komunikasi agar menjadi yang baik. [T]

Tags: masa mudapemudaRemaja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Harus Dokter Spesialis?

Next Post

Perjuangan Tiada Henti Masyarakat Adat Dalem Tamblingan untuk Kembalikan Hutan Adat

Sayang Kukiss

Sayang Kukiss

Sayang Kukiss adalah nama pena Diah Cintya. Biasa juga dipanggil DC. Perempuan kecil yang senang bermain kembang, tapi bukan kembang api. Gemar membaca, membaca timeline. dan sekarang sedang belajar menulis, menulis mimpi indah bersamamu...

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Perjuangan Tiada Henti Masyarakat Adat Dalem Tamblingan untuk Kembalikan Hutan Adat

Perjuangan Tiada Henti Masyarakat Adat Dalem Tamblingan untuk Kembalikan Hutan Adat

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co