2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Harus Dokter Spesialis?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 22, 2021
in Esai
Kenapa Harus Dokter Spesialis?

Dokter Arya (penulis) memeriksa pasien

Saat ini, lulusan dokter umum di Indonesia mempunyai beberapa jalur karir untuk dipilih. Kalau dilihat pada umumnya, ada empat jalur karir pilihan mereka meliputi, tetap sebagai dokter umum, melanjutkan pendidikan dokter spesialis, menjadi dosen preklinik/peneliti di universitas atau bergabung dengan TNI/POLRI sebagai dokter militer. Yang pertama adalah yang terbanyak, mereka antara lain berpraktek sebagai dokter umum atau saat ini mengarah sebagai dokter keluarga yang bekerja di puskesmas atau praktek mandiri. Dokter umum juga dapat bekerja di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit, menjadi pegawai struktural di rumah sakit atau dinas kesehatan juga sebagai staf medis pada perusahaan farmasi, asuransi dan lain-lain seperti tambang dan industri. Pilihan untuk melanjutkan pendidikan ahli merupakan primadona saat ini, namun terkendalan keterbatasan daya tampung universitas. Pilihan sebagai dosen, tidak sekencang daya tarik menjadi dokter spesialis meski kebutuhan dosen sebetulnya cukup tinggi. Yang terakhir, menjadi dokter militer tampaknya paling kecil proporsinya, karena memang kuotanya tidak terlampau banyak dan mereka bekerja pada rumah sakit TNI/POLRI dengan mobilisasi yang sangat cepat.

Harus diakui, dari ketiga pilihan karir tersebut, pada umumnya penghasilan sebagai dokter ahli masih paling tinggi. Bahkan pada beberapa keahlian, pendapatannya sedemikian fantastik jauh di atas pendapatan rata-rata kedua pilihan karir dokter yang lain. Penghasilan yang sangat besar tersebut didapatkan dari jasa medis bekerja di rumah sakit ditambah penghasilan praktek rawat jalan, yang dapat meliputi di tiga tempat kerja. Bahkan untuk dokter spesialis konsultan, selain tiga tempat kerja tadi, masih diizinkan di beberapa tempat tambahan lagi mengingat keahliannya yang lebih spesialistik karena diperlukan oleh masyarakat. Di luar itu, seorarng dokter ahli tak jarang mendapat job tambahan sebagai pembicara dalam pertemuan-pertemuan ilmiah medis seperti seminar atau pelatihan. Maka saat ini, menjadi seorang dokter spesialis umumnya adalah semacam protap karena telah menjanjikan penghasilan yang wah untuk bisa hidup nyaman atau mungkin mentereng. Sebuah harapan alamiah pada diri setiap manusia.

Menjadi dokter umum sesungguhnya dapat memberikan penghasilan yang cukup memadai. Apabila pasien di praktek sore banyak, penghasilan dokter umum kadangkala dapat melebihi income dokter ahli. Jika misalnya pasien umum sedikit, saat ini dengan skema kapitasi pasien BPJS, terjadi peluang pemerataan penghasilan di kalangan dokter umum yang melayani pasien BPJS. Dibandingkan dengan pegawai pemerintah yang lain pada golongan yang sama, tentu seorang dokter akan memiliki potensi penghasilan tambahan dengan kompetensinya  menjual jasanya sebagai dokter praktek. Demikian pula pilihan menjadi dosen dan peneliti di universitas atau staf medis pada perusahaan farmasi dan asuransi, umumnya merupakan pilihan kedua setelah prioritas pertama untuk menjadi dokter spesialis tidak terwujud. Sistem yang berlaku saat ini di Indonesia, memberikan kesempatan kepada seorang dokter dosen untuk juga bisa berpraktek sebagai dokter praktek mandiri di sore atau malam harinya. Bahkan bisa bekerja pada klinik atau mengambil jaga malam di IGD rumah sakit.

Daya tarik yang sangat memikat untuk menjadi seorang dokter spesialis dapat menciptakan potensi praktek-praktek tidak fair di masa depan. Dan ini bukanlah hal sederhana namun dapat menjadi sumber permasalahan yang besar dan serius bagi kalangan medis di Indonesia. Dalam persaingan yang sangat ketat, berbagai cara dapat dilakukan dan bukan tidak mungkin mengarah pada komersialisasi pendidikan. Dengan demikian, peluang mereka yang sesungguhnya qualified semakin kecil jika tak didukung oleh modal dana yang kuat. Maka pemerintah mesti mulai memikirkan hal ini. Sebaiknya ada regulasi yang dapat mengatur pendapatan dokter dengan berbagai pilihan karirnya tersebut agar tidak terjadi kesenjangan yang terlalu tajam. Uang tak kan pernah memuaskan manusia dan ini pun dapat menjauhkan seorang dokter dari tugas mulianya sebagai pelayan sesama. Dengan demikian, seorang dokter akan dapat menentukan pilihan karirnya sesuai dengan bakat dan panggilan jiwanya. Jika ia punya ketertarikan menjadi dosen misalnya, ia tak kan memaksakan diri bersekolah dokter spesialis hanya karena akan mendapatkan uang lebih banyak jika kelak menjadi dokter spesialis.

Memang banyak yang beralasan, dokter ahli wajar menerima pendapatan lebih besar karena pendidikannya yang berat dan pekerjaannya yang penuh risiko. Argumentasi ini cukup logis. Namun jika itu sudah merupakan pilihan seseorang maka kedua tantangan tersebut seharusnya menjadi ringan dengan sendirinya. Lagi pula jika dokter keluarga telah bekerja dengan efektif, maka jumlah pasien yang kemudian menjadi berat dan complicated yang memerlukan dokter ahli akan semakin berkurang. Pada akhirnya akan ada pergeseran pola pelayanan pasien di Indonesia mengikuti pola di negara-negara maju yaitu dokter keluarga dengan risiko dan tingkat kesulitan lebih rendah harus melayani pasien dalam jumlah yang banyak dan sebaliknya dokter ahli akan menangani sedikit pasien dengan tingkat kesulitan dan risiko yang lebih tinggi. Untuk itu keduanya wajar menerima pendapatan yang setara. Maka pilihan untuk menjadi salah satu dari keduanya betul-betul didasarkan oleh minat seorang dokter. Apakah ia lebih suka memberi edukasi kepada masyarakat sebagai dokter keluarga atau lebih tertantang untuk melakukan tindakan medis canggih misalnya.

Tak akan ada lagi gambaran dokter ahli seperti saat ini, “berburu” pasien untuk meraih sebanyak-banyaknya penghasilan meski kemudian berisiko kelelahan dan dijauhkan dari keluarga. Sebab pada dasarnya, seseorang tidak mungkin dan tak etis, berharap menjadi kaya raya hanya dengan menjadi dokter karena mereka berurusan dengan orang sakit. Kalau untuk dapat hidup nyaman dan terpandang, profesi dokter cukup memberi ruang. Namun jika ingin kaya raya, menjadi pengusahalah pilihannya. Demikian pula, pemerintah harus memberi penghargaan yang cukup bagi dokter yang kemudian panggilan jiwanya menjadi dosen atau peneliti. Sehingga kedua pilihan karir ini tidak cenderung menjadi pilihan kedua atau ketiga. Regulasi yang baik dari pemerintah akan dapat menjaga posisi terhormat seorang dokter sekaligus memberikan standar hidup yang cukup baik untuk semua dokter tanpa kecuali. [T]

KOLOM DOKTER SELENGKAPNYA…

Tags: dokterdokter spesialiskesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semua Kabupaten/Kota di Bali Sudah Bangun Gedung Majelis Desa Adat

Next Post

Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Ayah, Rumah Pohon, dan Cara Elegan Menghadapi Problematika Masa Muda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co