14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

AjeNg Bali Tour by AjeNg Bali Tour
February 13, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

Salah satu adegan dalam film Romeo and Juliet

Jika ditanya, apakah yang paling universal di dunia ini? Tak lain, tak bukan, pastilah jawabannya cinta. Mengawali Februari yang becek sana-sini romantis ini, hal yang paling ditunggu khususnya oleh muda-mudi adalah waktu dimana cinta dimuliakan, hadiah diberikan. Yap! 14 Februari boleh jadi adalah hari paling keramat bagi setiap pasangan di muka bumi ini.

Bagaimana tidak? Bagi pasangan PDKT, inilah saat yang tepat buat mengungkap cinta. Bagi yang lama pacaran, ini saat paling berat karena harus memutar otak dimanakah mencari tempat aman bermesraan di tengah kebijakan jam malam PSBB atau PPKM atau PKM atau PPKN atau PPPP-PPPP pemerintah lainnya? Sedang bagi jomblowan-jomblowati, inilah waktu membuat video tiktok sekreatif mungkin untuk mengisi luwang hati mereka yang hampa tanpa cinta. Oh, betapa tragis, betapa kasihannya…

Namun tahukah semeton? Setragis-tragisnya pasangan ini, sekasihan-kasihannya jomblowan-jomblowati ini, sesungguhnya ada orang yang lebih naas nasibnya lantaran cinta. Di musim bulan cinta inilah biasanya akan banyak beredar cerita-cerita tentang cinta mulai dari kisah Romeo dan Juliet, Cleopatra dan Mark Antony, Bonnie dan Clyde, Layla dan Majnun, Paris dan Helen, Rada dan Khrisna, Jin dan Jun, dan segala jenis kisah cinta impor lainnya. Padahal kalau mau tragis-tragisan, kurang tragis apa lagi coba negara Indonesia yang dijajah selama 3,5 abad ini? Apalagi di zaman covid seperti sekarang.

Bali sendiri yang dikenal sebagai pulau seribu pura, sebenarnya juga punya seribu cerita tragis semacam ini. Untuk menyeimbangkan cerita lokal-global inilah, mimin persembahkan cerita-cerita asli Bali yang tak kalah tragis sebagai lambang keabadian cinta. Berikut adalah beberapa cerita cinta khas Bali yang membuat semeton sedih berderai air mata.

Jayaprana-Layonsari

Dimulai dari cerita di Bali Utara. Jayaprana-Layonsari adalah cerita yang paling terkenal karena ketragisannya. Kisah ini bermula dari sebuah desa di kerajaan Kalianget yang hancur karena wabah. Bukan wabah covid loo ya… Adalah Jayaprana, seorang anak yang selamat dari bencana. Raja Kalianget begitu iba dengan Jayaprana, maka diangkatlah ia menjadi anak raja. Saat Jayaprana dewasa, ia kemudian dipersilakan oleh raja mencari calon istri. Maka berjumpalah Jayaprana dengan Layonsari. Cinta kemudian tumbuh diantara keduanya.

Ketika Jayaprana dan Layonsari meminta restu kepada Raja, bukannya mendoakan kebahagiaan mereka, eh, Sang Raja malah jatuh cinta pada Layonsari. Seperti sesenggakan baline, I Love Tunang Timpal Panak. Setelah janur kuning melengkung, maka tikunglah! Rajapun menyusun siasat dengan Patih Sawunggaling untuk melenyapkan Jayaprana. Jayaprana dibunuh. Sementara Layonsari yang kehilangan suami tercinta, menolak diperistri Raja. Ia pun bunuh diri menyusul Jayaprana. Melihat hal itu, Raja jadi gila, lalu menghancurkan kerajaannya sendiri dan bunuh diri.

Di sini dapat kita petik hikmahnya, semeton. Saat jadi penguasa janganlah berusaha merampas istri rakyat. Nanti bisa gila dan mati. Lebih baik rampaslah bansos harta rakyat. Itu lebih aman. Karena belum pernah ada cerita penguasa jadi gila dan mati karena merampas harta rakyat.

Sampek Engtay

Cerita Sampek Engtay ini juga tak kalah tragisnya, semeton. Cerita ini adalah kisah dua remaja di sekolah. Sampek adalah vampire yang menyamar jadi manusia pemuda biasa-biasa yang haus akan darah suci perawan ilmu pengetahuan. Sementara Engtay adalah perempuan yang menyamar jadi laki-laki. Penyamaran ini sengaja dilakukan Engtay karena pada zaman itu dikisahkan sekolah hanya untuk kaum laki-laki.

Selama masa sekolah, Sampek dan Engtay menghabiskan waktu bersama. Singkat cerita, Engtay mengungkapkan rahasianya pada Sampek bahwa ia sebenarnya perempuan. Keduanya kemudian menjalani hubungan diam-diam. Hingga tiba suatu saat Engtay dipanggil pulang oleh ayahnya untuk dijodohkan dengan Subandar Macun. Sebagaimana anak remaja umumnya, berita ini tentu membuat syok pasangan ini.

Mereka kemudian menyusun rencana untuk kawin lari. Hari pertemuan ditentukan oleh Engtay dengan sebuah teka-teki dan Sampek harus bisa memecahkannya. Sayangnya, Sampek gagal memecahkan teka-teki Engtay, Hingga akhirnya Sampek jatuh sakit dan mati. Engtay pun menikah dengan Subandar Macun. Di perjalanan menuju rumah Subandar Macun, Engtay melihat kuburan Sampek di tengah jalan. Engtay menangis di makamnya. Makam lalu terbuka dan meloncatlah Engtay ke dalam menyusul Sampek. Mereka menjelma menjadi sepasang kubu-kubu bahagia di udara. Ohh… Sungguh romantisnya kan, Ton?

Dari cerita tersebut begitu banyak nilai-nilai adiluhung yang bisa kita petik. Salah satunya, kita bisa tahu bahwa bukan lidah yang lebih tajam dari pisau, tapi teka-teki! Buat kaum hawa yang merasa cowoknya bodoh tak sensitif, jangan coba-coba main tebak-tebakan. Ntar doi sakit hati… Ditinggal.. Mau? Sedang buat pasangan yang baru menikah, hati-hatilah memilih tempat bulan madu. Rasional dikitlah.. masa jalan-jalan ke kuburan? Sewa hotel atau villa kek… Mumpung hotel dan villa hari ini sedang banting harga.

Kado Kematian untuk Pacarmu

Last but not least, yang terakhir ini bukan cuma cerita, Ton. Tapi buku kumpulan cerita karya pemuda asli Bali bernama Wayan Agus Wiratama. Ini yang paling naas… Selain bukunya tak laku, di dalamnya berisi banyak cerita tentang kisah derita cinta segala usia. Lebih naas lagi karena hampir semua berlatar kematian. Ada kisah lelaki yang memergoki mantannya makan sate di pantai bersama pacar barunya lalu dibunuh. Ada kisah seorang ayah yang mati dikeroyok masa karena kedapatan selingkuh dengan istri tetangga. Ada kisah kematian perempuan karena disangka pelacur. Dan lain sebagainya. Pokoknya semua kisah berkisar seputar cinta dan mati yang dibedah dengan berbagai macam perspektif ilmu. Mulai dari ilmu sastra sampai filsafat, dari ilmu kemanusiaan sampai kebinatangan. Komplit!

Buku ini cocok buat semeton-semeton yang masih kebingungan memilih kado yang tepat di hari valentine. Bagi yang baru pacaran, buku ini bisa jadi tanda warning-warning buat selalu serius dalam menjalani hubungan kalian. Sedang bagi yang baru putus, buku ini bisa jadi hadiah terakhir kepada mantan biar dia tahu begitu sakitnya hati ini melihatmu makan sate dengan pacar baru… huuuuu… T_T

Nah.. Demikianlah semeton yang berbahagia dan yang masih sendirian di bulan cinta ini. Sebenarnya masih banyak lagi cerita cinta tak kalah tragis dan menggetarkan yang dimiliki Bali. Nanti mimin sambung lagi pada valentine-valentine yang akan datang. Kanggoang bedik-bedik gen. Sing dadi liu-liu, batuk nyanan. Rahajeng Valentine.

Salam AjeNg Bali!

Tags: cerita cintacerita remajaHari ValentineJayaprana dan LayonsariRomeo dan Juliet
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Next Post

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

AjeNg Bali Tour

AjeNg Bali Tour

Penyedia jasa tour & travel narasi Bali alternatif

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co