2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

AjeNg Bali Tour by AjeNg Bali Tour
February 13, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

Salah satu adegan dalam film Romeo and Juliet

Jika ditanya, apakah yang paling universal di dunia ini? Tak lain, tak bukan, pastilah jawabannya cinta. Mengawali Februari yang becek sana-sini romantis ini, hal yang paling ditunggu khususnya oleh muda-mudi adalah waktu dimana cinta dimuliakan, hadiah diberikan. Yap! 14 Februari boleh jadi adalah hari paling keramat bagi setiap pasangan di muka bumi ini.

Bagaimana tidak? Bagi pasangan PDKT, inilah saat yang tepat buat mengungkap cinta. Bagi yang lama pacaran, ini saat paling berat karena harus memutar otak dimanakah mencari tempat aman bermesraan di tengah kebijakan jam malam PSBB atau PPKM atau PKM atau PPKN atau PPPP-PPPP pemerintah lainnya? Sedang bagi jomblowan-jomblowati, inilah waktu membuat video tiktok sekreatif mungkin untuk mengisi luwang hati mereka yang hampa tanpa cinta. Oh, betapa tragis, betapa kasihannya…

Namun tahukah semeton? Setragis-tragisnya pasangan ini, sekasihan-kasihannya jomblowan-jomblowati ini, sesungguhnya ada orang yang lebih naas nasibnya lantaran cinta. Di musim bulan cinta inilah biasanya akan banyak beredar cerita-cerita tentang cinta mulai dari kisah Romeo dan Juliet, Cleopatra dan Mark Antony, Bonnie dan Clyde, Layla dan Majnun, Paris dan Helen, Rada dan Khrisna, Jin dan Jun, dan segala jenis kisah cinta impor lainnya. Padahal kalau mau tragis-tragisan, kurang tragis apa lagi coba negara Indonesia yang dijajah selama 3,5 abad ini? Apalagi di zaman covid seperti sekarang.

Bali sendiri yang dikenal sebagai pulau seribu pura, sebenarnya juga punya seribu cerita tragis semacam ini. Untuk menyeimbangkan cerita lokal-global inilah, mimin persembahkan cerita-cerita asli Bali yang tak kalah tragis sebagai lambang keabadian cinta. Berikut adalah beberapa cerita cinta khas Bali yang membuat semeton sedih berderai air mata.

Jayaprana-Layonsari

Dimulai dari cerita di Bali Utara. Jayaprana-Layonsari adalah cerita yang paling terkenal karena ketragisannya. Kisah ini bermula dari sebuah desa di kerajaan Kalianget yang hancur karena wabah. Bukan wabah covid loo ya… Adalah Jayaprana, seorang anak yang selamat dari bencana. Raja Kalianget begitu iba dengan Jayaprana, maka diangkatlah ia menjadi anak raja. Saat Jayaprana dewasa, ia kemudian dipersilakan oleh raja mencari calon istri. Maka berjumpalah Jayaprana dengan Layonsari. Cinta kemudian tumbuh diantara keduanya.

Ketika Jayaprana dan Layonsari meminta restu kepada Raja, bukannya mendoakan kebahagiaan mereka, eh, Sang Raja malah jatuh cinta pada Layonsari. Seperti sesenggakan baline, I Love Tunang Timpal Panak. Setelah janur kuning melengkung, maka tikunglah! Rajapun menyusun siasat dengan Patih Sawunggaling untuk melenyapkan Jayaprana. Jayaprana dibunuh. Sementara Layonsari yang kehilangan suami tercinta, menolak diperistri Raja. Ia pun bunuh diri menyusul Jayaprana. Melihat hal itu, Raja jadi gila, lalu menghancurkan kerajaannya sendiri dan bunuh diri.

Di sini dapat kita petik hikmahnya, semeton. Saat jadi penguasa janganlah berusaha merampas istri rakyat. Nanti bisa gila dan mati. Lebih baik rampaslah bansos harta rakyat. Itu lebih aman. Karena belum pernah ada cerita penguasa jadi gila dan mati karena merampas harta rakyat.

Sampek Engtay

Cerita Sampek Engtay ini juga tak kalah tragisnya, semeton. Cerita ini adalah kisah dua remaja di sekolah. Sampek adalah vampire yang menyamar jadi manusia pemuda biasa-biasa yang haus akan darah suci perawan ilmu pengetahuan. Sementara Engtay adalah perempuan yang menyamar jadi laki-laki. Penyamaran ini sengaja dilakukan Engtay karena pada zaman itu dikisahkan sekolah hanya untuk kaum laki-laki.

Selama masa sekolah, Sampek dan Engtay menghabiskan waktu bersama. Singkat cerita, Engtay mengungkapkan rahasianya pada Sampek bahwa ia sebenarnya perempuan. Keduanya kemudian menjalani hubungan diam-diam. Hingga tiba suatu saat Engtay dipanggil pulang oleh ayahnya untuk dijodohkan dengan Subandar Macun. Sebagaimana anak remaja umumnya, berita ini tentu membuat syok pasangan ini.

Mereka kemudian menyusun rencana untuk kawin lari. Hari pertemuan ditentukan oleh Engtay dengan sebuah teka-teki dan Sampek harus bisa memecahkannya. Sayangnya, Sampek gagal memecahkan teka-teki Engtay, Hingga akhirnya Sampek jatuh sakit dan mati. Engtay pun menikah dengan Subandar Macun. Di perjalanan menuju rumah Subandar Macun, Engtay melihat kuburan Sampek di tengah jalan. Engtay menangis di makamnya. Makam lalu terbuka dan meloncatlah Engtay ke dalam menyusul Sampek. Mereka menjelma menjadi sepasang kubu-kubu bahagia di udara. Ohh… Sungguh romantisnya kan, Ton?

Dari cerita tersebut begitu banyak nilai-nilai adiluhung yang bisa kita petik. Salah satunya, kita bisa tahu bahwa bukan lidah yang lebih tajam dari pisau, tapi teka-teki! Buat kaum hawa yang merasa cowoknya bodoh tak sensitif, jangan coba-coba main tebak-tebakan. Ntar doi sakit hati… Ditinggal.. Mau? Sedang buat pasangan yang baru menikah, hati-hatilah memilih tempat bulan madu. Rasional dikitlah.. masa jalan-jalan ke kuburan? Sewa hotel atau villa kek… Mumpung hotel dan villa hari ini sedang banting harga.

Kado Kematian untuk Pacarmu

Last but not least, yang terakhir ini bukan cuma cerita, Ton. Tapi buku kumpulan cerita karya pemuda asli Bali bernama Wayan Agus Wiratama. Ini yang paling naas… Selain bukunya tak laku, di dalamnya berisi banyak cerita tentang kisah derita cinta segala usia. Lebih naas lagi karena hampir semua berlatar kematian. Ada kisah lelaki yang memergoki mantannya makan sate di pantai bersama pacar barunya lalu dibunuh. Ada kisah seorang ayah yang mati dikeroyok masa karena kedapatan selingkuh dengan istri tetangga. Ada kisah kematian perempuan karena disangka pelacur. Dan lain sebagainya. Pokoknya semua kisah berkisar seputar cinta dan mati yang dibedah dengan berbagai macam perspektif ilmu. Mulai dari ilmu sastra sampai filsafat, dari ilmu kemanusiaan sampai kebinatangan. Komplit!

Buku ini cocok buat semeton-semeton yang masih kebingungan memilih kado yang tepat di hari valentine. Bagi yang baru pacaran, buku ini bisa jadi tanda warning-warning buat selalu serius dalam menjalani hubungan kalian. Sedang bagi yang baru putus, buku ini bisa jadi hadiah terakhir kepada mantan biar dia tahu begitu sakitnya hati ini melihatmu makan sate dengan pacar baru… huuuuu… T_T

Nah.. Demikianlah semeton yang berbahagia dan yang masih sendirian di bulan cinta ini. Sebenarnya masih banyak lagi cerita cinta tak kalah tragis dan menggetarkan yang dimiliki Bali. Nanti mimin sambung lagi pada valentine-valentine yang akan datang. Kanggoang bedik-bedik gen. Sing dadi liu-liu, batuk nyanan. Rahajeng Valentine.

Salam AjeNg Bali!

Tags: cerita cintacerita remajaHari ValentineJayaprana dan LayonsariRomeo dan Juliet
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Next Post

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

AjeNg Bali Tour

AjeNg Bali Tour

Penyedia jasa tour & travel narasi Bali alternatif

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co