24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

AjeNg Bali Tour by AjeNg Bali Tour
February 13, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

Salah satu adegan dalam film Romeo and Juliet

Jika ditanya, apakah yang paling universal di dunia ini? Tak lain, tak bukan, pastilah jawabannya cinta. Mengawali Februari yang becek sana-sini romantis ini, hal yang paling ditunggu khususnya oleh muda-mudi adalah waktu dimana cinta dimuliakan, hadiah diberikan. Yap! 14 Februari boleh jadi adalah hari paling keramat bagi setiap pasangan di muka bumi ini.

Bagaimana tidak? Bagi pasangan PDKT, inilah saat yang tepat buat mengungkap cinta. Bagi yang lama pacaran, ini saat paling berat karena harus memutar otak dimanakah mencari tempat aman bermesraan di tengah kebijakan jam malam PSBB atau PPKM atau PKM atau PPKN atau PPPP-PPPP pemerintah lainnya? Sedang bagi jomblowan-jomblowati, inilah waktu membuat video tiktok sekreatif mungkin untuk mengisi luwang hati mereka yang hampa tanpa cinta. Oh, betapa tragis, betapa kasihannya…

Namun tahukah semeton? Setragis-tragisnya pasangan ini, sekasihan-kasihannya jomblowan-jomblowati ini, sesungguhnya ada orang yang lebih naas nasibnya lantaran cinta. Di musim bulan cinta inilah biasanya akan banyak beredar cerita-cerita tentang cinta mulai dari kisah Romeo dan Juliet, Cleopatra dan Mark Antony, Bonnie dan Clyde, Layla dan Majnun, Paris dan Helen, Rada dan Khrisna, Jin dan Jun, dan segala jenis kisah cinta impor lainnya. Padahal kalau mau tragis-tragisan, kurang tragis apa lagi coba negara Indonesia yang dijajah selama 3,5 abad ini? Apalagi di zaman covid seperti sekarang.

Bali sendiri yang dikenal sebagai pulau seribu pura, sebenarnya juga punya seribu cerita tragis semacam ini. Untuk menyeimbangkan cerita lokal-global inilah, mimin persembahkan cerita-cerita asli Bali yang tak kalah tragis sebagai lambang keabadian cinta. Berikut adalah beberapa cerita cinta khas Bali yang membuat semeton sedih berderai air mata.

Jayaprana-Layonsari

Dimulai dari cerita di Bali Utara. Jayaprana-Layonsari adalah cerita yang paling terkenal karena ketragisannya. Kisah ini bermula dari sebuah desa di kerajaan Kalianget yang hancur karena wabah. Bukan wabah covid loo ya… Adalah Jayaprana, seorang anak yang selamat dari bencana. Raja Kalianget begitu iba dengan Jayaprana, maka diangkatlah ia menjadi anak raja. Saat Jayaprana dewasa, ia kemudian dipersilakan oleh raja mencari calon istri. Maka berjumpalah Jayaprana dengan Layonsari. Cinta kemudian tumbuh diantara keduanya.

Ketika Jayaprana dan Layonsari meminta restu kepada Raja, bukannya mendoakan kebahagiaan mereka, eh, Sang Raja malah jatuh cinta pada Layonsari. Seperti sesenggakan baline, I Love Tunang Timpal Panak. Setelah janur kuning melengkung, maka tikunglah! Rajapun menyusun siasat dengan Patih Sawunggaling untuk melenyapkan Jayaprana. Jayaprana dibunuh. Sementara Layonsari yang kehilangan suami tercinta, menolak diperistri Raja. Ia pun bunuh diri menyusul Jayaprana. Melihat hal itu, Raja jadi gila, lalu menghancurkan kerajaannya sendiri dan bunuh diri.

Di sini dapat kita petik hikmahnya, semeton. Saat jadi penguasa janganlah berusaha merampas istri rakyat. Nanti bisa gila dan mati. Lebih baik rampaslah bansos harta rakyat. Itu lebih aman. Karena belum pernah ada cerita penguasa jadi gila dan mati karena merampas harta rakyat.

Sampek Engtay

Cerita Sampek Engtay ini juga tak kalah tragisnya, semeton. Cerita ini adalah kisah dua remaja di sekolah. Sampek adalah vampire yang menyamar jadi manusia pemuda biasa-biasa yang haus akan darah suci perawan ilmu pengetahuan. Sementara Engtay adalah perempuan yang menyamar jadi laki-laki. Penyamaran ini sengaja dilakukan Engtay karena pada zaman itu dikisahkan sekolah hanya untuk kaum laki-laki.

Selama masa sekolah, Sampek dan Engtay menghabiskan waktu bersama. Singkat cerita, Engtay mengungkapkan rahasianya pada Sampek bahwa ia sebenarnya perempuan. Keduanya kemudian menjalani hubungan diam-diam. Hingga tiba suatu saat Engtay dipanggil pulang oleh ayahnya untuk dijodohkan dengan Subandar Macun. Sebagaimana anak remaja umumnya, berita ini tentu membuat syok pasangan ini.

Mereka kemudian menyusun rencana untuk kawin lari. Hari pertemuan ditentukan oleh Engtay dengan sebuah teka-teki dan Sampek harus bisa memecahkannya. Sayangnya, Sampek gagal memecahkan teka-teki Engtay, Hingga akhirnya Sampek jatuh sakit dan mati. Engtay pun menikah dengan Subandar Macun. Di perjalanan menuju rumah Subandar Macun, Engtay melihat kuburan Sampek di tengah jalan. Engtay menangis di makamnya. Makam lalu terbuka dan meloncatlah Engtay ke dalam menyusul Sampek. Mereka menjelma menjadi sepasang kubu-kubu bahagia di udara. Ohh… Sungguh romantisnya kan, Ton?

Dari cerita tersebut begitu banyak nilai-nilai adiluhung yang bisa kita petik. Salah satunya, kita bisa tahu bahwa bukan lidah yang lebih tajam dari pisau, tapi teka-teki! Buat kaum hawa yang merasa cowoknya bodoh tak sensitif, jangan coba-coba main tebak-tebakan. Ntar doi sakit hati… Ditinggal.. Mau? Sedang buat pasangan yang baru menikah, hati-hatilah memilih tempat bulan madu. Rasional dikitlah.. masa jalan-jalan ke kuburan? Sewa hotel atau villa kek… Mumpung hotel dan villa hari ini sedang banting harga.

Kado Kematian untuk Pacarmu

Last but not least, yang terakhir ini bukan cuma cerita, Ton. Tapi buku kumpulan cerita karya pemuda asli Bali bernama Wayan Agus Wiratama. Ini yang paling naas… Selain bukunya tak laku, di dalamnya berisi banyak cerita tentang kisah derita cinta segala usia. Lebih naas lagi karena hampir semua berlatar kematian. Ada kisah lelaki yang memergoki mantannya makan sate di pantai bersama pacar barunya lalu dibunuh. Ada kisah seorang ayah yang mati dikeroyok masa karena kedapatan selingkuh dengan istri tetangga. Ada kisah kematian perempuan karena disangka pelacur. Dan lain sebagainya. Pokoknya semua kisah berkisar seputar cinta dan mati yang dibedah dengan berbagai macam perspektif ilmu. Mulai dari ilmu sastra sampai filsafat, dari ilmu kemanusiaan sampai kebinatangan. Komplit!

Buku ini cocok buat semeton-semeton yang masih kebingungan memilih kado yang tepat di hari valentine. Bagi yang baru pacaran, buku ini bisa jadi tanda warning-warning buat selalu serius dalam menjalani hubungan kalian. Sedang bagi yang baru putus, buku ini bisa jadi hadiah terakhir kepada mantan biar dia tahu begitu sakitnya hati ini melihatmu makan sate dengan pacar baru… huuuuu… T_T

Nah.. Demikianlah semeton yang berbahagia dan yang masih sendirian di bulan cinta ini. Sebenarnya masih banyak lagi cerita cinta tak kalah tragis dan menggetarkan yang dimiliki Bali. Nanti mimin sambung lagi pada valentine-valentine yang akan datang. Kanggoang bedik-bedik gen. Sing dadi liu-liu, batuk nyanan. Rahajeng Valentine.

Salam AjeNg Bali!

Tags: cerita cintacerita remajaHari ValentineJayaprana dan LayonsariRomeo dan Juliet
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Next Post

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

AjeNg Bali Tour

AjeNg Bali Tour

Penyedia jasa tour & travel narasi Bali alternatif

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co