4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tata Perguruan di Desa Kami

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
January 29, 2021
in Esai
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

PEMANGKU [pamangku] dalam konstruksi kehidupan masyarakat Bali menjadi posisi yang tidak hanya penting, tapi juga perlu. Di desa adat, kehadiran pemangku menjadi ujung tombak pelaksanaan acara adat dan agama. Lebih-lebih di desa yang menganut sistem adat Bali Mula seperti di desa saya. Pada komunitas kami, ritual mayoritas dipimpin oleh pemangku, hanya sebagian kecil, bahkan sangat kecil yang dipimpin oleh seorang padanda—dan gelar lainnya yang setara.

Batur sampai saat ini memang masih kuat mempertahankan sejumlah tradisinya. Termasuk dalam hal memposisikan pemangku itu dalam struktur desa adat. Kami memiliki struktur masyarakat bernama Karaman Setimahan. Karaman kata dasarnya adalah rama, artinya ayah, (sesekali ibu), paman, guru, juga berarti tetua (Zoetmulder, 2011). Setimahan artinya 45. Maka, Karaman Setimahan berarti ‘tetua desa yang berjumlah 45’. Tatanan itu terdiri dari 28 jabatan pemangku, 16 jabatan paduluan, dan satu jabatan patinggi atau kepala desa.

Struktur tersebut diakui legalitasnya oleh masyarakat. Pada gerbong 28 jabatan pemangku itu, mereka terbagi lagi menjadi empat jenis. Tingkatan pertama adalah Jero Gede Batur, dijabat oleh dua orang yang bergelar Jero Gede Batur Duuran dan Jero Gede Batur Alitan. Ada pula yang menyebut gelarnya dengan orientasi arah mata angin, yakni Jero Gede Kanginan dan Jero Gede Kawanan. Oleh karenanya, rumah jabatannya yang ada di sebelah Pura Ulun Danu Batur disebut Puri Kanginan dan Puri Kawanan. Keberadaan Jero Gede Batur ini layaknya seorang raja. Menurut sejarah keberadaannya, keduanya merupakan wakil dalem—raja Bali—di Batur. Oleh karena itu, ketika telah melalui ritual madeg ratu, keduanya akan disebut Dalem Sasanglingan. Kata dasarnya kemungkinan sangling yang dapat berarti menggsosok; memoles; mengkilapkan. Namun, sejumlah tetua kami memaknai sangling sebagai perwakilan. Maka, Dalem Sasanglingan adalah wakil Dalem Bali yang berkedudukan di Batur.

Satu tingkat di bawah Jero Gede ada Jero Balian. Balian yang dimaksud bukanlah seorang ahli pengobatan atau dukun selayaknya yang dipahami masyarakat Bali secara umum. Jero Balian adalah seorang pemangku yang menjadi pemimpin segala macam upacara yang dilakoni desa adat. Balian, konon berasal dari kata balean. Namun, dalam proses pengucapannya terjadi pergeseran hingga lebih populis disebut balian. Menurut kata balean itu, maka, Jero Balian adalah tokoh yang berperan sebagai beliau yang berwenang memimpin upacara di bale. Bale yang dimaksud adalah pawedaan, sehingga, tugas Jero Balian ada pemimpin ritual utama.

Layaknya Jero Gede, Jero Balian turut dibedakan ke dalam dua jabatan tengan-kiwa, yakni Jero Balian Desa Kajanan dan Jero Balian Desa Kelodan. Namun, gelar tersebut juga populer disebut Jero Balian Duuran dan Jero Balian Alitan. Keberadaan Jero Balian rada khusus dibandingkan pemangku lainnya, lantaran dijabat oleh seorang perempuan yang pantang menikah selama menjabat.

Pada tingkat ketiga adalah Jero Penyarikan. Jabatan ini juga juga terdiri dari dua jabatan tengen-kiwa, yakni Jero Penyarikan Duuran Batur dan Jero Penyarikan Alitan Batur. Masyarakat ada pula menyebut Jero Penyarikan Kajanan dan Jero Penyarikan Kelodan. Namun, gelar ini memang tidak begitu populis. Hal ini tak perlu diperdebatkan, sebab gelar duuran-alitan, kajanan-kelodan, maupun kanginan-kawanan sejatinya adalah legitimasi dari konsep tengan-kiwa itu sendiri. Intinya keduanya adalah kesatuan yang tidak terpisah.

Jero Penyarikan [Panyarikan] memiliki tugas-tugas layaknya sekretaris adat. Kata dasarnya carik, yang berarti titik. Titik adalah awal dari aksara. Keduanya bertindak sebagai juru tulis dalam segala keputusan terkait desa adat maupun Pura Ulun Danu Batur. Tulis-menulis yang dimaksud menyangkut sekala-niskala. Dalam hal sekala, keduanya hadir dalam rapat-rapat bersama penghulu desa lainnya, sedangkan dalam ruang niskala, keduanya terkait dengan ritual-ritual yang terkait pembayaran kaul (pamegat) hingga memohon anak.

Tingkatan selanjutnya adalah Jero Mangku yang jumlahnya 22 jabatan. Dalam bahasa adat, Jero Mangku ini disebut sebagai Patanganan Dane. Dane yang dimaksud adalah Dane Sareng Nem, yakni gabungan dari dua Jero Gede, dua Jero Balian, dan dua Jero Penyarikan. Patanganan kata dasarnya tangan yang berarti tangan. Maka, patanganan itu artinya mereka yang berperan sebagai pembantu atau penyokong tugas-tugas dari Dane Sareng Nem. Maka, Jero Mangku ini juga membantu peran Jero Penyarikan, Jero Balian, bahkan Jero Gede. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan krama dan umat yang semakin membengkak, tahun 2010 desa adat menyepakati “penambahan” jumlah pemangku sejumlah 21 orang. Bhatara yang sebelumnya tak memiliki jan banggul dibuatkan untuk mempermudah dan mendinamiskan proses adat dan agama di desa adat. Hak dan kewajibannya pun sama seperti pemangku lainnya yang berjumlah 22.

“Aguron-guron”

Pemangku dalam artian luas yang terdapat dalam konstruksi masyarakat Batur merupakan seorang jan banggul. Artinya, para pemangku tidak saja diangkat menurut kesepakatan sekala oleh masyarakat, namun juga dipilih oleh entitas niskala, yakni para bhatara yang berstana di parahyangan-parahyangan desa.

Jero Gede Batur Duuran sebagai sosok pemimpin, nyungsung atau menstanakan bhatara utama yang dihormati di Desa Batur pada dirinya, yakni Ida Bhatari Dewi Danuh. Jero Gede Batur Alitan nyungsung entitas bhatara yang bergelar Ida Bhatara Madue Gumi, Jero Balian Kajanan dipilih oleh entitas bhatara bergelar Ida Bhatara di Alas, sedangkan Jero Balian Kelodan dipilih oleh entitas bhatara bergelar Ida Bhatara Patani. Sementara itu, Jero Penyarikan Duuran dan Alitan dipilih oleh Ida Bhatara Gede Penyarikan. Demikian pula para jero mangku, semuanya dipilih oleh entitas bhatara dengan berbagai gelar.

Pemilihan para pemangku ini didasarkan pada upacara nyanjan, yang dilakukan secara khusus oleh desa adat. Pada ritual itu, dasaran-dasaran desa yang terpilih diberikan ruang, dimohon untuk menjadi wahana ida bhatara berkomunikasi dengan masyarakat desa. Ketika upacara berhasil, para dasaran itu akan mengalami trans, kemudian menyebut nama seorang anak yang terpilih.

Anak-anak yang terpilih memegang posisi-posisi itu merupakan seorang anak yang belum menikah. Rentang usianya dapat sangat beragam. Pada sebuah kasus nyanjan di tahun 2016, yang terpilih adalah seorang anak usia 4 tahun. Sedangkan, kasus nyanjan 2020, saya yang terpilih sebagai Jero Penyarikan Duuran, kala itu telah berusia 25 tahun.

Jabatan sebagai pemangku itu akan dijabat oleh anak-anak terpilih sepanjang hayat. Pengecualiannya ada pada Jero Balian, ketika misalnya memutuskan untuk menikah. Ketika kasus itu terjadi, maka yang bersangkutan akan diberhentikan dan diganti oleh anak terpilih lainnya.

Setelah terpilih, anak-anak tersebut akan menjalani masa perguruan. Mereka akan diajarkan etika (sasana) kapemangkuan melalui perantara senior mereka yang telah lebih dulu terpilih. Demikianlah. Proses aguron-guron itu berjalan dengan rahasia dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.

Wisuda

Seorang pemangku terpilih dinyatakan sah sebagai pemangku ketika sudah dilakukan upacara pamadegan. Pamadegan artinya penobatan. Pada momentum inilah anak-anak yang namanya disebut dan terpilih melalui nyanjan akan disahkan sebagai seorang pemangku. Rambutnya akan dicukur habis, sebagai pertanda memasuki tahap hidup yang baru sebagai pelayan umat. Namanya juga akan resmi berganti, menanggalkan nama lahir yang diberikan oleh orang tuanya ketika berusia tiga bulan.

Pemadegan adalah penobatan. Momen resminya seorang pemangku masuk dalam perguruan tradisi masyarakat penyokong Gunung Batur. Setelah dinobatkan dan melakoni berbagai brata pengekangan, titik akhirnya mereka akan diwisuda oleh nabe niskala, Ida Bhatara Bujangga Luwih yang berstana di Pura Jati.

Bhatara Bhujangga dalam tata adab Batut memang diyakini sebagai nabe niskala manusia Batur. Dari jnana beliaulah Weda dan berbagai pengetahuan hidup diturunkan. Kepada beliaulah krama Batur memohon anugerah kepandaian dan kebijaksanaan guna mengelola hidup dan kehidupan agar berguna bagi masyarakat dan dunia.

Proses memohon anugerah Weda bagi pemangku disebut sebagai mancang karma. Ritual ini dipilih pada waktu yang telah ditentukan, beberapa saat setelah pamadegan. Seorang pemangku yang telah dicukur rambutnya, seperti biksu-biksu saolin yang tergambar di film-film bernuansa kungfu Tiongkok akan berjalan dari Pura Ulun Danu Batur menuju Pura Jati. Dalam perjalanan, para pemangku dibekali setangkai bunga jepun putih yang dipegang dengan sikap tangan amustikarana. Selana berjalan, pemangku tersebut tidak boleh menoleh ke belakang. Pandangan harus lurus ke depan, sebagai tanda berserah kepada entitas nabe niskala, memohon diberikan anugerah Weda, diiringi oleh masyarakat sedesa.

Rangkaian upacara mancang karma itu melalui tiga situs penting dalam struktur peradaban Desa Batur. Pertama adalah Pura Pelisan, situs yang diyakini menjadi campuhan 11 tirta milik Ida Bhatari Danuh. Di pura ini anak-anak terpilih akan malukat di tepi danau. Maknanya membersihkan diri sekala-niskala sebelum menerima sari-sari pengetahuan Weda yang agung dari sang nabe (catatan wawancara Jero Mangku Budarsana, Januari 2020).

Perjalanan dilanjutkan menuju Pura Jati Batur. Di keraton Hyang Maha Muni inilah seorang anak terpilih akan dihadapkan pada banten dan berbagai peralatan kepemangkuan yang nanti akan begitu akrab dengannya. Di sini, seorang pemangku untuk pertama kalinya akan mulai memimpin upacara dengan sarana banten rosan. Untuk pertama kalinya, anak-anak terpilih yang telah melalui beragam proses itu akan merapal sloka-sloka Weda, menyuarakan genta, menyalakan dupa-dipa, ngaskara bija, dan memercikkan tirta. Usai proses tersebut, maka ia diwisuda sebagai seorang pemangku.

Setelah memohon ajaran Weda di hadapan nabe niskala, perjalanan dilanjutkan ke Pura Padang Sila. Padang artinya sinar, sila dapat berarti sikap duduk, prilaku atau juga batu. Dalam proses pengesahan seorang pemangku Pura Padang Sila memiliki pesan agar menstanakan Weda yang telah dianugerahkan di Pura Jati, kemudian menubuhkannya dalam laku sehari-hari. Padang sila dapat diartikan sebagai sikap atau kedudukan yang bersinar.

Setelah semua proses ini terlewati, maka seorang pemangku yang terpilih resmi melakoni segala tugas dan tanggung jawab. Meski tidak memiliki sertifikasi lembaga terakreditasi, tidak pintar dalam merapal Weda-mantra, namun anak-anak ini telah diberi stempel “patut”. Persoalan bisa kemudian merupakan bagian dari proses belajar.

Oleh karena proses yang panjang itu pulalah, di desa saya terpilih sebagai pemangku sangat istimewa. Pakaian serba putih yang dikenakan bukan sekadar aksesoris. Di seberang jalan, masyarakat umum juga tidak akan berani sembarang memakai aksesoris kepemangkuan itu. Ila-ila dahat amada-mada, demikian diajarkan oleh leluhur kami. [T][JPDB]

TULISAN LAIN DARI JERO PENYARIKAN DUURAN BATUR

Tags: baliBatur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngelapak di Youth Park | Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

Next Post

Berat Hati Meninggalkan, Berat Muatan Harus Diantar | Gesah Supir Truk #1

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Berat Hati Meninggalkan, Berat Muatan Harus Diantar | Gesah Supir Truk #1

Berat Hati Meninggalkan, Berat Muatan Harus Diantar | Gesah Supir Truk #1

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co