15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KEMUNCULAN SERIRIT DALAM PETA BALI UTARA | Kilas Balik Kemunculan Desa-Desa Buleleng Barat

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 23, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

Catatan Harian Sugi Lanus, 21 Januari 2021

1. Seririt “masuk dalam perhitungan dunia” tahun 1976 ketika gempa mengguncang di sana, dan meratakan kota kecil ini.

Ketika itu ada dokter dari Singapore datang ke Seririt sebagai relawan mengobati korban. Seingat saya alm Bapa Made Sanggra — seorang sastrawan Bali ternama — bercerita ke saya kalau beliau ke Seririt datang sebagai relawan kemanusiaan. Beliau sendiri berasal dari Gianyar. Puisi Gempa Seririt masuk dalam kumpulan puisi Bali KIDUNG REPUBLIK yang menjadi kompilasi karya beliau.

Seririt seakan identik dengan gempa. Dan saya berguling-guling di Seririt karena masih balita ketika diguncang gempa.

2. Bagaimana sejarah berdirinya Seririt? Tidak ada satupun orang tua yang bisa memberikan jawaban memuaskan. Saya buka semua file Belanda terkait yang bisa saya akses, berbagai peta dan laporan penjajahan di Bali Utara. Tepat seperti dugaan saya, “Seririt merupakan entitas baru” — bukan kelurahan lama yang punya desa pakraman yang kuno sejarahnya. Tidak seperti Boeboenan yang disebut dalam prasasti Babahan yang ditulis jaman Ugrasena, atau Pengastulan yang sangat disebut sebagai desa tua dengan Pura Pengastulan yang terkenal, kemungkinan sebaya dengan Pura Pengastulan di Pejeng Gianyar yang telah ada diperkirakan dari masa kerajaan Bali Kuno.

3. Dalam peta Bali Utara dan Bali yang dibuat sangat akurat dan detail oleh Raden Mas Ronodirjo bersama FA Liefrinck, kota Seririt tidak tercantum.

Peta tahun 1885 ini bercerita banyak. Diantaranya tahun itu jalan terjauh bagian barat dari Buleleng adalah sampai Celukan Bawang.

— Menurut kakek saya dari pihak ibu, orang-orang desa Kalisada diajak membuka tanah di bagian barat dari Celukan Bawang, maka muncullah desa baru Pangulon. Artinya “desa penghujung”. Keluarga kakek saya sebelumnya tinggal di Kalisada dan mrajan-nya di sana, rasanya mendapat 3 sampai 5 hektar pembagian tanah buka lahan di Pengulon.

— Menurut masyarakat Kalanganyar dan Banjarasem, masyarakat di sana diajak membuka kawasan hutan yang sekarang dikenal sebagai Gerokgak. Dalam peta 1885 tidak tercantum nama Pengulon dan Gerokgak. Masyarakat dari Banjarasem, Kalanganyar, dan Pengastulan, ada memiliki warisan sampai sekarang di wilayah Gerokgak. Keturunan mereka yang membuka hutan masih sembahyang ke mrajan-sanggah keluarga mereka di Pengastulan, Kalanganyar dan Banjarasem, serta desa sekitarnya yang menjadi asal dari para pembuka kawasan yang sekarang bernama Gerokgak.

— Menurut kakiyang (kakek) saya dari Griya Dencarik, beliau membuka hutan ke Pegametan dan Sumberkima rasanya di tahun 1920-an. Selanjutnya beliau pernah menjadi Mekel atau Kepala Desa di sana. Di kawasan Goris dan Sumber Klampok ditanami hutan dengan Pohon Kayuputih dan dibuat pengolahannya di sana, sebelum kemerdekaan masih berfungsi.

4. Seririt masuk dalam laporan Belanda pertama — berdasar penelusuran saya — dalam sebuah laporan tentang penyembelihan kerbau.

Laporan tersebut merupakan laporan atau STUDI KHUSUS PARASIT INI DI PULAU BALI, mengenai Sarcosporidiosis di Bali, yang melaporkan bahwa kondisi persebaran parasit yang menular ke hewan dan manusia ini .”….berulang kali diamati pada kerbau di rumah pemotongan hewan di Seririt selama tahun 1927; ini adalah satu-satunya tempat di mana kerbau disembelih.”

Seririt memang dikenal sampai saya SMP masih menjual daging kerbau. Kalau Galungan semacam wajib ada sate kerbau di wilayah Seririt, dan bisa jadi Seririt adalah rumah pemotongan kerbau yang berkembang menjadi pasar.

Setidaknya baru tahun 1927 dalam catatan Belanda ada tulisan terkait Seririt. Selanjutnya setelah itu punggawa Bubunan berkantor di Seririt. Laporan ini terangkum dalam CYSTICERCI IN HET VLEESCH VAN RUND EN VARKEN EEN HYGIËNISCHE STUDIE, NAAR AANLEIDING VAN EEN BIJZONDER ONDER- ZOEK NAAR DEZE PARASIETEN OP HET EILAND BALI (1928).

5. Dalam Van eilanden in opkomst terbit 1929, disebutkan Seririt sudah seperti kota kecil di Jawa:

“Itu adalah perjalanan yang menarik yang kami lakukan di hari terakhir. Di sini, pertama-tama, inspektur ter Laag adalah guide kami, dan dia memberi tahu kami semua jenis detail tentang resornya. Ini adalah perjalanan yang luar biasa dari Singaraja ke arah barat menuju Pengastoelan. Sawah di sini membentang hampir sampai ke laut, dan di sebelah selatan lereng bukit yang curam menutup cakrawala. Di sawah, yang tampaknya selalu memiliki cukup air, Anda melihat padi dari bibit yang baru ditanam hingga tunggul tanaman yang dipanen, dan Anda mendengar bahwa di sini rata-rata 60 pikul masih dikeringkan per “bahoe”. Sedikit tembakau juga ditanam, kebanyakan untuk penggunaan pribadi, sementara sebagian kecil diekspor ke Menado.”

“Di desa Seririt kami melihat tempat parkir mobil, bengkel mobil dan pompa bensin. Orang bisa membayangkan berada di tempat yang sibuk di salah satu jalan raya utama di Jawa. Mobil juga mendapatkan popularitas di pulau ini; Dalam waktu singkat, jumlah mobil di Bali dan Lombok telah meningkat menjadi sekitar 400, dan akan ada pertumbuhan yang lebih besar dalam waktu dekat ketika Ford menempatkan mobil barunya di pasar. Hal ini telah dibicarakan di Sulawesi, sejak perwakilan Ford menunjuk perwakilan untuk bagian Asia Timur ini di Sulawesi dan di tempat lain. Kejutan terbaru dari Ford, sebuah mobil yang mungkin akan berharga 1.650 gulden, dengan enam silinder, banyak tenaga kuda, dan konsumsi bahan bakar yang sangat sedikit, akan dinikmati. Diharapkan pertarungan hebat akan terjadi antara Ford dan Chevrolet, terutama di properti outdoor, tertekan.”

Dari sini kita mendapati 1929 telah ada terminal dan pompa bensin di Seririt.

Halaman 209 berisi penjelasan keramaian Seririt dengan penjual bensin dan stanplat angkutan kendaraan bermobil.

6. Koran De koerier 20-07-1933 telah terjadi penipuan penjual kain di Seririt.

Berita penipuan itu menarik disimak dengan Judulnya sangat memikat: “Seorang Tionghoa yang cerdas” [Een slimme Chinees]

” Koresponden kami di Singaradja menulis kepada kami tanggal 16 sebagai berikut: Di ​​Seririt, dekat Singaraja, hiduplah seorang Tionghoa yang menjalankan sebuah toko dan tampaknya tidak menganggap keuntungannya mencukupi ketika dia melakukannya dengan cara yang biasa. Itulah alasan mengapa ia membeli sebuah meteran yang kurang satu decimeter (excusez du peu). Namun, dia telah meremehkan kecerdasan kliennya, untuk hari-hari ini ia menjual sepotong kain sepanjang delapan meter kepada istri seorang guru. Orang Bali ini tampaknya sudah memiliki daya pikat modern, karena di rumah dia mengeluarkan “alat ukur pribadinya” dari lemari dan memeriksa ukurannya. Tampaknya delapan desimeter kurang dari kain yang ukurannya delapan meter. Barang-barang yang dijual telah disita, sementara orang Tionghoa harus muncul hari-hari ini dan pasti tidak akan menikmati cara cerdiknya menghasilkan keuntungan.”

De Koerier 20-07-1933

Penipuan ukuran kain oleh pedagang Cina yang dibongkar istri seorang guru ini — kemungkinan dari desa Bubunan karena di sana cukup banyak guru-guru Buleleng generasi pertama berasal—menjadi berita yang diberitakan koran ternama De Koerier. Ini bukti perdagangan sudah “berkembang sengit” di Seririt. Dan memang banyak sampai kini ada keluarga peranakan Tionghoa menjadi penduduk di Seririt memiliki toko dan ruko, serta berbau dengan masyarakat pendatang lainya, ada dari Klungkung, Pandak Gede, Kintamani, Madura dan Banyuwangi, dll. Seririt memang menjadi kawasan yang strategis pertemuan titik barat Buleleng dan atas, serta tengah, sehingga Seririt terhitung menjadi salah satu pusat perdagangan Bali Utara terpenting di luar Kota Singaraja.

Penduduknya rata-rata pendatang dari desa sekitar dan juga dari luar Buleleng.

7. Tidak tercantumnya Seririt dalam peta 1885, dan munculnya laporan penyembelihan kerbau di Seririt tahun 1927 — yang saya temukan laporan tertua Seririt sebagai entitas ‘ekonomi’ atau ‘pasar’ —  bisa menjadi titik antara kedua tahun tersebut adalah kemunculan dari Seririt, yang kini berkembang menjadi Kota Kecamatan di Bali Utara yang sangat dinamis dengan Pasar Seririt yang potensi ekonomi terhitung maju dan berkembang pesat.

Titik pihak 1885—1927 adalah kemunculan awal Seririt.

8. Ada yang menyebut secara berkelakar bahwa Seririt berasal dari kata “nyeririt” atau tergelincir — karena kena gempa dan pernah diterjang siklun. Tapi saya selalu membayangkan, secara etimologi dan kemunculannya dari sebuah pasar, Seririt dibentuk dari kata “ser” dan “irit”. “Ser” =pasar, dan “irit” = murah. Pasar irit ini kemungkinan menjadi awal kata “Seririt”.

9. Kota Seririt menjadi kota kecamatan “membawahi” 20 desa dan 1 Kelurahan. 20 desa —  Banjar Asem, Bestala, Bubunan, Gunungsari (Tunju), Joanyar, Kalianget, Kalisada, Lokapaksa (Kalopaksa), Mayong, Munduk Bestala, Pangkung Paruk, Patemon, Pengastulan, Rangdu, Ringdikit, Sulanyah, Tangguwisia, Ularan, Umeanyar — yang semuanya ada dan tercantum jelas dalam peta buatan Raden Mas Ronodirjo bersama FA Liefrinck kini menjadi wilayah yang dinaungi dari Kecamatan Seririt yang namanya tidak eksis dalam peta tahun 1885. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

11 Hal Penting Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali di Gunaksa

Next Post

“Uba ngamah ko?” | Mari Belajar Bahasa Pedawa

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
“Uba ngamah ko?” | Mari Belajar Bahasa Pedawa

“Uba ngamah ko?” | Mari Belajar Bahasa Pedawa

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co