13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Kesadaran Memaknai Penderitaan | Antologi Puisi “Sepanjang Jalan Kesedihan” Karya Hadiwinata

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
January 15, 2021
in Ulasan
Sebuah Kesadaran Memaknai Penderitaan | Antologi Puisi “Sepanjang Jalan Kesedihan” Karya Hadiwinata
  • Judul Buku : Sepanjang Jalan Kesedihan
  • Penulis : Hadiwinata
  • Penerbit : Penerbit Kabisat
  • Cetakan I, Oktober 2020

Penderitaan adalah hal-hal yang melekat dan dilekatkan pada diri. Semisal identitas dan kewajiban. Identitas sebagai tulang punggung keluarga, identitas pekerja pabrik, atau kewajiban meninggalkan rumah demi upah kerap menjadi dilema. Bila diri rela berpusar terus pada hal itu, maka kesedihan sangatlah panjang. Liz Greene seorang astrolog menyebutkan bahwa manusia kerap mengejar penderitaan yang manipulatif. Kehadiran Hadiwinata telah memaknai bentuk penderitaan tersebut sebagai sebuah kesadaran agar tehindari bentuk-bentuk manipulatif. 

Membaca antologi puisi Sepanjang Jalan Kesedihan yang diluncukan Penerbit Kabisat ini, menceritakan tentang persimpangan antara perjuangan, kegigihan, dan kemelekatan terhadap kewajiban sebagai buruh pabrik. Hadiwinata saat luang waktu kerjanya di pabrik sebagai seorang akuntan, nampak tergugah batinnya membidik kegetiran pekerja yang membawa plywood, ada pula peluh dari buruh wanita, dan kepincangan kebijakan mandor pabrik. Seperti yang diungkapkan N.H Klienbaum we don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race filled with passion. Dengan hasrat puisi itulah, maka kelahiran Sepanjang Jalan Kesedihan akan mampu menggiring pembacanya pada sebuah kesadaran kemanusiaan.

Membidik Pristiwa Psikis

Kecemasan-kecemasan kaum proletar ini disajikan dalam bentuk puisi dengan diksi yang bersahaja. Puisi-puisi ini tidak memaksa kita untuk menentang, protes, beraksi anarkis, atau hal-hal pergerakan lainnya. Puisi ini santun menyelami peristiwa psikis. Seperti puisi Hikayat Selepas Pembagian Upah Kerja (hal.50)


nasmirah, kau terduduk lemas di tepi kantor kilang ini di bawah

langit malam yang kelam

di bawah pepohonan falcata yang berbaju kesedihan seraya

menatap uang 900 ringgit di genggaman


di belakang kita

para pekerja masih menunggu nama

mereka untuk dipanggil untuk

dibagikan upah bekerja


dalam kepalamu kenangan

berputar ke hari-hari lampau


Kedalaman puisi ini terletak pada kekuatan penulis memilih peristiwa. Membidik detak yang bisa dipetak-petakan menjadi cerita. Gaya penuturan Hadi tidak menuntut kita untuk mengerutkan dahi, melainkan menuntun kita menyadari arti penderitaan pada ruang kantor kilang, pohon falcata, dan ringgit. Sering kita pikir bahwa bekerja adalah uang sedangkan Yuval Noah Harari mengartikan bahwa uang bukan suatu realitas material melainkan sebuah konstruksi psikologis. 

Apa yang bisa diharapkan dari menjalani rutinitas yang menjemukan? Apa yang bisa diperjuangkan saat bulir keringat tak setara upah? Tentu akan menyulut trauma-trauma saat kindo dan kama (ayah dan ibu dalam bahasa Mandar) gigih menjalani kewajibannya.


kau melihat kindo2mu memeras keringat

di bawah matahari menjual kue dan arang kayu

yang ia buat bersama adik-adikmu

juga singkong, sayur-mayur,

dan sesekali koral, bebatuan yang ia pungut dari

bukit di tepian kampung

o, nasmirah, lihatlah

airmata berjatuhan di cekung pipimu kau

melihat kama3mu yang tiada henti

memegang kemudi motor yang dijadikan bentor


Pembubuhan kindo, kama, dan bentor mampu menyejukan kepenatan peristiwa. Unsur-unsur lokalitas muncul beberapa kali pada antologi ini. Hadi sangat cermat mencatat hal-hal psikis yang terjadi disekitarnya lalu digubah dalam rima yang tepat. Tidak hanya itu, pengalaman perempuan dalam dunia buruh hadir secara estetis pada puisi Pekerja Perempuan (hal.27).


di tanah ini perempuan

bekerja serupa lelaki dari hari ke hari

yang dimulai sejak terbit matahari sampai ia

telah jauh meninggalkan pergi


seperti perempuan sulawesi itu yang

datang ke tanah ini

hanya untuk mengangkat

dan menyeleksi beribu plywood dan

menerima upah yang terkadang tak

sampai 1000 ringgit


hingga demam hampir tiap hari melanda

seluruh tubuh begitu kencang, keram

sakit di malam hari bahkan telat

menstruasi


Puisi ini bisa sebagai unggulan sebab penyuguhan kata plywood dan menstruasi tepat menggambarkan paradoks yang terjadi. Pada puisi ini, pembaca akan merasakan bahwa perempuan diberikan beban yang sama seperti laki-laki. Persamaan ini juga mampu merepresentasikan ketangguhan perempuan, bahkan saat tubuhnya terkoyak menstruasi. Biasanya dalam puisi, perempuan dihadirkan dalam bagian keindahan, berbanding terbalik pada puisi ini. Perempuan hadir dalam fitur-fitur tipografi tanah, hutan, dan plywood. Sejalan dengan pendapat Helen Cresse, bahwa wujud perempuan dan dunia alaminya merupakan elemen dari renungan. Sepanjang Jalan Kesedihan merupakan sebuah renungan atas hal-hal historis perempuan buruh.

Konstruksi Pergolakan Batin

Pergolakan batin, melahirkan tema-tema yang sublim dan intim. Tidak seperti puisi bertema sosial lainnya yang menuntun kita turun ke jalan. Puisi ini lebih padam dalam gelap kesedihan. Namun di saat yang bersamaan juga, puisi ini mendekatkan pembacanya dengan harapan bahwa penerimaan terhadap kenyataan merupakan jalan hidup. Mereka melihat sebuah realita bukan untuk melarikan diri ataupun menyerah. Penggambaran tokoh-tokoh yang dihadirkan akan membuka mata pembaca terhadap pentingnya sebuah kebangkitan. Seperti puisi Hikayat Pekerja Sakit (hal. 39).


seorang pekerja di bintulu sarawak

sakit ketika ia tengah berada di shift malam

parasnya pucat

tubuhnya menggigil luar biasa


tetapi ia harus tetap bekerja

menikmati derita demi derita

yang semakin lama semakin menggila


bila ia bolos kerja

itu artinya ia mesti dicari-cari

oleh bosnya di bilik tempat ia beristirahat lalu

memilih: berangkat menuju pabrik dengan

keadaan yang pada akhirnya hanyalah

berujung pada keluhan

atau bersembunyi di tempat apa pun dan

gajinya tentu saja akan dipangkas 100

ringgit!


Puisi tersebut berbicara tentang ketimpangan relasi kekuasaan. Fenomena yang dipilih adalah stimulus bagi pembaca agar lebih jeli dan kritis. Masih banyak bergolakan buruh yang patut dibicarakan di ranah puitik. Kumpulan puisi ini mendokumentasikan perjalanan buruh di perbatasan negeri. Katrin Bendel meyakini bahwa sejatinya puisi membawa kesadaran semakin kritis akan relasi kekuasaan. Bentuk ketidakadilan yang disebabkan oleh penguasa global itu berhasil secara explisit diekspresikan oleh Hadiwinata.

Puisi ini akan lebih menggugah dengan tatanan idiom yang segar, serta upaya untuk menyajikan keberagaman diksi, sehingga pembaca semakin dekat pada kesadaran menjadi manusia. Bagi calon pembaca, antologi Sepanjang Jalan Kesedihan layak dipinang. Terlebih saat musim pandemi yang merekatkan kita pada kesepian dan kegelisahan. Nyatanya, penderitaan yang kita alami tidak seberapa bila dibandingkan keluh dan peluh pekerja plywood. Maka jenguklah kabar buruh untuk paham pergolakan batin yang tak kunjung redam, melalui pembacaan Sepanjang Jalan Kesedihan.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jarum Sudah Disuntikkan

Next Post

Subali || Cerpen Agus Wiratama

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Subali || Cerpen Agus Wiratama

Subali || Cerpen Agus Wiratama

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co