4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mari Bawa Kembali Agama ke Ruang Privat

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 5, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Tuhan bersemayam dalam hati setiap insan, usah lagi berkelana untuk mencarinya.”—- (Jalaludin Rumi)

Akankah sabda sederhana sang pujangga ini akan pernah menjadi pegangan hidup setiap insan di bumi? Berkali-kali alam memberi kode kepada kita, hal-hal sederhana telah menentukan yang vital. Oksigen (O2) dan airlah (H2O) yang menjaga kehidupan mahluk hidup bukannya C2H5OH (alkohol) atau C8H15 (bensin).

Tapi apa yang telah kita lakukan selama ini? Sangat terang, memusnahkan sumber oksigen dan air yang vital dengan merusak hutan belantara secara membabi buta. Tepatlah sindiran ahli astrofisika Hubert Reeves, “Manusia adalah makhluk yang paling gila. Mereka memuja Tuhan yang tidak terlihat dan merusak alam yang terlihat tanpa menyadari bahwa alam yang sedang mereka rusak sebenarnya adalah manifestasi Tuhan yang mereka puja.”

Kelahiran yang ditunggu-tunggu misalnya, sesungguhnya tak menuntut perayaan apapun, ia hanya butuh tangisan. Maka untuk bayi baru lahir, tangisan adalah kehidupan. Ini sebuah prototype betapa kehidupan begitu sederhana. Lalu kita membuatnya sedemikian rumit dan menyusahkan, bahkan tak sedikit mengundang bencana dan kehancuran.

  Suriah dan mungkin juga beberapa bangsa lain di Timur Tengah adalah satu model yang sangat baik bagaimana agama menjadi pemusnah masal. Dari mana pujangga-pujangga besar yang telah menggugah kebijaksanaan kita berasal, Jalaludin Rumi atau Kahlil Gibran. Di negeri-negeri yang indah dan kaya itu, manusia memang telah menciptakan praharanya sendiri, dalam konflik sosial berkepanjangan atas nama agama, bahkan dengan yang seiman.

Maka tepat rasanya ucapan Gandhi, sang jiwa agung, “Orang yang berkata bahwa agama tidak ada kaitan sama sekali dengan politik, tidak tahu apa sebenarnya arti agama.” Gagasan ini terasa menjadi begitu visioner jika kita amati fenomena politik saat ini, tidak hanya di Timur Tengah, pun di dalam negeri.

Apakah kemudian cuma agama Islam yang oleh segelintir pemeluknya dibawa menciptakan kerumitan? Tentu saja tidak, hampir setiap pemeluk telah menyeret agama dan keyakinannya untuk menjadi bengis.

Kita pasti masih ingat betapa mengerikannya pembantaian warga muslim  yang sedang beribadah di sebuah masjid oleh seorang ekstremis Kristen di kota Christcurch yang tenang di Selandia Baru.

Di India, tanah kelahiran sang jiwa agung Mahatma Gandhi pun tak luput dari prilaku intoleransi sekelompok militan Hindu. Dan yang paling fenomenal tentu saja pernyataan-pernyataan provokatif anti Islam seorang biksu radikal di Myanmar bernama Ashin Wirathu hingga ia dijuluki sebagai “Buddhist bin Laden”.

Mungkinkah sejak awal kelahirannya, agama adalah sebuah kekeliruan? Kecemasan ini mudah dimaklumi, misalnya kenapa hingga kini agama telah begitu banyak menciptakan tangisan. Bukankah bagi seorang bayi, untuk sebuah kelestariannya, tangisan sudah cukup saat kelahirannya saja? Sepertinya romantisme spirit pertarungan dalam melahirkan agama-agama manusia ini, tanpa disadari telah diwariskan kepada sejumlah penganutnya.

Spirit inilah yang menurut Gandhi kemudian mudah diinfiltrasi oleh motif politik kekuasaan. Secara primordial agama memang telah membatasi dirinya dengan penganut yang lain, lalu politik meninggikan tembok berduri kawatnya. Sekali keluar, bukan lagi untuk hangat berjabatan tangan, namun terbakar untuk menyerang yang lain dalam spirit glory, kemenangan agama. Politik memanfaatkan identitas dan tradisi yang berbeda antar agama, bahkan yang sering kali bertolak belakang. Inilah yang hari ini secara vulgar disuguhkan terang-terangan sebagai pertarungan suci yang harus dimenangkan.

Sudah saatnya identitas, simbol dan tradisi agama dikembalikan ke ruang-ruang hening pribadi kita semua. Cukuplah esensi-esensi agama yang kita sebut sebagai spiritualitas untuk disajikan dalam kehidupan bersama.

Nilai-nilai spiritual, karena ia esensi dalam setiap agama, maka ia akan mudah melebur dan menyatu dalam denyut nadi kehidupan semua manusia di bumi, universal. Jika Hindu merayakan Galungan dan Nasrani menyambut Natal, atau Muslim pergi ke Masjid dan Budha sembahnyang di Wihara, itu adalah warna-warni keindahan pelangi agama-agama di Indonesia. Di atas keindahannya ada kekuatan spiritual yang sama yaitu kebaikan.

  • BACA KOLOM DOKTER LAIN DARI PUTU ARYA NUGRAHA

Dalai Lama mengatakannya dengan, “Agamaku adalah kebaikan.” Atau boleh juga cara pandang sederhana budayawan Cak Nun, “Agama itu letaknya di dapur. Tidak masalah mau pakai wajan merk apa di dapur, yang utama adalah makanan yang disajikan di warung sehat. Maka ukuran keberhasilan orang beragama bukan pada sholat atau umrohnya, melainkan pada perilakunya.” Sedemikian menyentuh, mendasar dan universal.

Kita rindu ruang-ruang hening agama yang telah lama kita tinggalkan. Tumpah ruah hingar bingar kita bawa agama ke jalan-jalan layaknya perayaan karnaval. Ia perlu dipamerkan untuk mendapat riuh tepuk tangan. Jika mungkin bahkan perlu like dan subscribe sebanyak-banyaknya, demi juara atau pendapatan. Untuk itu kita butuh agresivitas, intimidasi bahkan kebohongan, demi kompetisi dan persaingan ini.

Kita rindu ruang-ruang hening agama yang telah lama kita tinggalkan karena seperti tangisan bayi baru lahir, agama adalah kesederhanaan vital yang lain. Ia meminta kita untuk berhenti, karena hanya dengan diam kita punya kesempatan mendengarkan dan melihat hati kita. Lalu bersepakat dengan Jalaludin Rumi, Tuhan ada di sana. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vaksin Tiba Dinihari

Next Post

“Blind In Paradise”, I Gede Made Surya Darma | Gelap dalam Gemerlap Dunia

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
“Blind In Paradise”, I Gede Made Surya Darma  | Gelap dalam Gemerlap Dunia

"Blind In Paradise", I Gede Made Surya Darma | Gelap dalam Gemerlap Dunia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co