24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pimpinan Membuat Kami Bisa Berubah

Suara Perubahan by Suara Perubahan
December 27, 2020
in Esai
Pimpinan Membuat Kami Bisa Berubah

Eka Yanthi

Penulis: Eka Yanthi

________

Perubahan sudah mulai masuk dan merambah sel-sel birokrat. Perlahan tapi pasti mulai nampak ada progres terhadap seruan reformasi birokrasi. Mulai dari level pimpinan sampai ke level staf terbawah saat ini sedang mendapatkan mandat luar biasa untuk bersama-sama melaksanakan perubahan mendasar dan menyeluruh terdadap aspek-aspek berorganisasi. Pada level pimpinan dipantau dari kebijakan dalam mengambil langkah-langkah dan keputusan lebih cepat, berani dan inovatif. Sehingga dampaknya adalah beberapa sektor seolah-olah mulai terbangun dari tidur panjang.

Dulu, sebagian besar  dari kami untuk tahun yang lama bekerja tidak tahu tugas dan fungsi (tusi) dan bahkan sebagian besar pegawai datang, baca koran gratis langganan kantor, buka HP nonton youtube, update status karenakan di kantor kami memang ada wifi gratis, atau bahkan sekedar menghidupkan komputer dan berpura-pura sibuk, padahal sama saja, paling juga buka facebook dan download film.

Kondisi seperti inilah yang membuat beberapa orang jadi korban, staf yang sudah kadung biasa dapat kerjaan, lama-kelamaan seperti menjadi “tukang tampung” pekerjaan yang tak bertuan. Mereka yang sudah kadung nyaman dengan kebiasaan “ngeyel” biasanya mempunyai seribu satu alasan agar tidak menanggung beban pekerjaan. Alasan yang paling klasik adalah “tidak bisa”. Anehnya atasan percaya begitu saja, tidak tegas melatih dan menegur staf yang membangkang, ujung-ujungnya pekerjaan dilimpahkan lagi kepada si “tukang tampung” kerjaan.

Seharusnya untuk memajukan suatu lembaga, semua komponen harus bergerak secara dinamis mulai dari level jabatan tertinggi sampai dengan staf paling bawah. Kondisi seperti ini saya yakin pimpinan pasti sudah menyadari, tetapi cenderung ada pembiaran, sehingga kondisi pegawai “ngeyel” ini bahkan sudah membudaya dan dianggap hal yang biasa.  Kondisi ini membuat mereka nyaman karena mempunyai  tempat nongkrong ber-AC berlabel kantor (kurang keren apa?), di kantor ada wifi gratis, teman ngobrol sehati dengan topik “khusus”.

Kenyaman ini sudah mendarah daging, membudaya bahkan sudah menjadi tradisi dan yang lebih aneh lagi, seperti semacam penyakit menular. Karyawan yang bahkan baru bergabung, tidak membutuhkan waktu lama terjangkit budaya “ngeyel”, cukup satu minggu membaur, mengamati dan tentu saja meniru, merekapun masuk komunitas.

Pertanyaannya, kenapa sebagian besar pimpinan tidak melakukan sesuatu terhadap komunitas ini? Kenapa dibiarkan berlarut-larut? Hal-hal yang seperti ini kalau dibiarkan terus-menerus tentu akan berdampak tidak baik bagi kinerja pemerintah dalam upaya meningkatkan budaya kerja dan mewujudkan reformasi birokrasi, memperlambat upaya pencapaian target kinerja, dan tentu saja menjadi benalu APBD.

Tetapi yang terjadi adalah beberapa pimpinan memilih diam, tutup mata, tutup telinga, pura-pura tidak tahu, prioritas mereka adalah, pekerjaan dan pelayanan rutin dapat berjalan, permintaan data terpenuhi tanpa peduli metode pencapaian target (terkadang dikerjakan oleh orang yang itu lagi..itu lagi). Program/kegiatan yang dilaksanakan pun cenderung  monoton, copy paste dari tahun lalu. Keadaan ini  tentu menjadi salah satu indikasi, kurangnya inovasi daerah.

Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kinerja instansi swasta, yang sangat dinamis, inovatif dan kompetitif. Jika ditelususi sebabnya, lagi-lagi berasal dari keengganan pimpinan untuk membawa organisasi yang dipimpinnya untuk berubah. Keadaan itu karena sebagian dari mereka takut “repot”, tidak mendapat dukungan, ketakutan akan menimbulkan reaksi dan pertentangan dari bawahan dan tentu saja takut resiko. Kondisi seperti ini tentu saja akan semakin menyuburkan komunitas “ngeyel” karena tidak mendapat pembinaan ataupun teguran dari atasan.  

Namun saat ini, kami mengalami perubahan drastis, tepatnya dunia seperti berbalik arah 180 derajat hal ini karena pimpinan kami yang baru (kebetulan adalah alumni sekolah ikatan dinas), kelahiran awal tahun 80-an sehingga bisa dikategorikan pimpinan milenial, membawa gerakan perubahan yang begitu nyata.

Gaya kepemimpinan yang dinamis yang mengharuskan pencapaian target-target terukur, tidak lagi sekedar hitam diatas putih, tetapi betul-betul diwujudkan dalam karya nyata. Semua sisi dijungkirbalikkan, baik itu budaya kerja dan disiplin kerja. Semua seolah-olah dipantau, kehadiran, progres capaian kinerja kegiatan, realisasi keuangan, laporan kegiatan, rapat-rapat rutin.

Di dalam acara rapat yang kadang memakan waktu lebih dari 2 jam kami akan di-brain storming terhadap rencana apa yang kita laksanakan agar pencapain tusi segera tercapai. Dari sana akhirnya banyak lahir rencana kerja yang pelaksanaanya harus didukung oleh semua  pihak. Seharusnya memang berjalan seperti itu, namun kenyataannya justru menjadi beban berat bagi sebagian besar dari kami, ada banyak keluhan, cibiran dan umpatan karena kebijakan pimpinan seolah mengganggu kenyamanan.

Tetapi seolah tidak memperdulikan hal yang tidak perlu, kebijakan dan keputusan sudah ditetapkan, semua program harus berjalan, dan mau tidak mau kami harus mendukung pimpinan. Secara perlahan namun pasti, perubahan itu menjadi nyata, komitmen kuat dari pimpinan yang memaksa perubahan itu terjadi memjadi faktor utama. Nahkoda telah membentankan layar dan membawa kapal besar organisasi kami menuju arah yang lebih baik, siap tidak siap harus dilaksanakan karena ini adalah kewajiban. Selama semua berjalan dalam koridor aturan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, suara-suara sumbang yang menyanyikan keluhan bisa diabaikan.

Ada satu kalimat yang sering diucapkan pimpinan pada saat rapat, bahwa dalam bekerja kita harus selalu ingat dengan aturan, hormati seragam yang kita pakai, dan jangan melakukan tindakan di luar ketentuan hukum yang berlaku, atasan harus bisa menjadi rule model untuk bawahannya. Sebagai atasan harus bisa memberikan contoh yang baik bagi anak buah. Reward dan punishment mulai diterapkan dalam pelaksanaan tugas. Memberikan surat peringatan (SP) atau berdiri di didepan barisan saat apel jika ada indikasi pelanggaran terhadap disiplin mungkin hal yang jarang ditemui, tetapi tidak dengan kami saat ini.

Surat peringatan beberapa kali dikeluarkan ditujukan bagi pegawai yang melakukan pelanggaran terhadap disiplin kerja, atau beberapa kali pegawai yang kedapatan melakukan kesalahan dipanggil dan diberikan peringatan pada saat pelaksanaan apel. Cara-cara seperti itu ternyata cukup efektif memberikan efek jera bagi kami, perasaan malu kalau harus berdiri dan diberikan ceramah didepan teman-teman saat apel. Upaya ini tampaknya telah membuat banyak perubahan, kami yang sudah setengah baya ataupun yang masih muda, tetap saja seperti anak kecil yang takut terdadap hukuman. Sehingga perlahan tetapi pasti, situasi tempat kerja kami mengalami perubahan yang cukup  pesat. Bukan hanya tingkat kehadiran yang semakin membaik, tetapi banyak kegiatan inovatif yang  prakarsai oleh pimpinan.

Kegiatan inovatif yang dilaksanakan antara lain, mengedukasi warga kantor untuk melaksanakan eco-office dengan cara mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai, tiap hari diwajibkan membawa botol air minum sendiri dari rumah, masing-masing pegawai diwajibkan membuat ecoenzim dirumah (bagian dari gerakan pengurangan sampah), Hari Senin sampai dengan hari Kamis wajib membawa sampah organik untuk mendukung budidaya maggot, hari Jumat membawa sampah anorganik untuk ditabung pada bank sampah.  Seperti arahan pimpinan agar kita belajar memulai dengan langkah kecil tapi bermanfaat bagi lingkungan.

Apakah berat?  Tentu saja!  Bagi kami itu hal yang memberatkan, sesuatu yang “wajib dan harus” terasa  berat diawal pelaksanaan, tetapi ketika dilaksanakan secara terus menerus lama-lama hal tersebut menjadi suatu kebiasaan yang jika tidak dilaksanakan justru akan terasa aneh, sekali lagi paksaan merupakan cara paling efektif untuk mengajak kita  untuk berubah, pimpinan sebagai top manajer harus mampu menjadi rule model dan mempunya visi misi yang jelasa terhadap organisasi. [T]

  • Eka Yanthi, mahasiswa S2 Ilmu Manajamen Undiksha Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang

Next Post

“Gamefication” dalam Komunikasi dengan Anak

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Gamefication” dalam Komunikasi dengan Anak

“Gamefication” dalam Komunikasi dengan Anak

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co