6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 13, 2020
in Cerpen
Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

Ilustrasi; Lukisan Kamasan Arjuna Bertapa [diambil dari akun Facebook Sutasoma Kamasan

Cerpen Supartika

Hingga Jumat Kliwon ini, sudah hampir seminggu Arjuna bertapa di Gunung Indrakila untuk mendapat anugerah panah yang maha sakti dari Dewa Siwa. Ia bertapa dengan khusyuk dan suntuk, duduk bersila di atas sebuah batu yang permukaannya agak rata dan mulutnya komat-kamit tanpa suara, entah mantra apa yang diucapkannya. Sementara di bawah kakinya, pada cekungan batu, dua ekor semuat bersaudara sedang gelisah. Dua ekor semut jantan-betina ini diutus Dewa Siwa untuk menggoda tapa Arjuna.

Untuk mempermudah dalam hal menuliskannya, mari kita sebut semut tertua atau semut betina dengan sebutan Semut I dan adiknya, semut jantan, dengan sebutan Semut II.

Titah Dewa Siwa terus terngiang di telinga mereka: Aku tak ingin panah sakti ini berpindah ke tangan Arjuna, kalian harus menggagalkan tapanya bagaimanapun caranya.

Bukan sembarang titah, seperti ada sebuah ancaman yang terkandung dalam titah itu. Mereka menafsirkanya sendiri, jika gagal melakukan titah itu bukan tak mungkin akan ada hukuman yang menunggunya. Namun bukan tak mungkin pula jika Arjuna melakukan sesuatu yang tak terduga saat mereka mengganggu tapanya. Menggencet tubuh kecilnya dengan jarinya misalnya hingga membuat kedua semut itu penyet serupa perkedel.

“Dari mana kita memulainya?” Semut II bertanya kebingungan.

Semut I hanya menggelengkan kepala.

“Apakah kita akan diam seperti ini dan tidak segera bertindak?”

“Ini keadaan yang serba sulit.”

“Kita harus memilihnya, ini titah.”

“Sebenarnya aku tak ingin memilih keduanya. Lebih baik aku pulang ke rumah dan menikmati remah beras yang tersisa.”

“Bagaimana kau masih bisa memikirkan makanan sementara kita sedang berada di posisi sulit?”

“Ayah dan ibu kita pasti sedang gelisah menunggu di rumah.”

“Bukankah mereka sudah merestui kita untuk melakukan tugas mulia ini?”

“Tugas mulia katamu?” Semut I kembali menggelengkan kepala, “menggagalkan usaha seseorang adalah tugas terkutuk.”

“Tapi ini titah, kita tak bisa melawan titah.”

“Entah apapun namanya, jika Arjuna benar-benar gagal menyelesaikan tapanya, kita akan dianggap sebagai makhluk yang tak bermartabat.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Tak ada pilihan.”

“Maksudmu? Kau memilih pulang dan melalaikan titah yang diberikan?”

“Tentu tidak, kita harus menjalankannya,” Semut I diam sejenak. “Meskipun kelak jika tugas ini berhasil kita akan dianggap makhluk tak bermartabat karena menggagalkan usaha Arjuna.”

Mereka berdua diam sejenak. Semut II memandang ke sekeliling yang sedikit remang-remang karena tertutup kaki Arjuna. Hanya ada celah kecil yang tampak putih di sisi barat pada celah batu yang kecil, dan dari sanalah cahaya bisa masuk.

“Dari mana kita akan memulainya?”

“Kau mau dari mana?”

“Aku lebih muda darimu. Dan sebagai semut muda yang ada di sini, aku menyerahkan sepenuhnya padamu.”

Semut I berjalan mendekati telapak kaki Arjuna. Ia melihat telapak kaki yang ukurannya ratusan kali lipat dari ukuran tubuhnya. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika telapak kaki itu menindih tubuhnya dan ia tak akan sempat berteriak atau sekadar merasakan sakit, karena dalam hitungan detik tubuhnya akan rata.

“Ternyata kaki pangeran yang dibilang tampan oleh bangsa manusia ini pecah-pecah,” celetuk Semut II.

“Hus, jaga bicaramu. Jangan keras-keras, nanti ia mengetahui kehadiran kita.”

“Bukankah nanti ia juga akan mengetahui bahwa kita yang mengganggu tapanya.”

“Tapi setidaknya, kita tidak kentara sebelum berbuat sesuatu.”

“Bagaimana kita memulainya?” seperti seorang anak kecil, Semut II terus bertanya dengan cerewet.

“Aku belum tahu, kita harus mencari celah yang tepat.”

“Kita gigit saja telapak kakinya!”

“Telapak kakinya keras, gigimu bisa copot. Juga sangat berbahaya. Jika ia terkejut dan berdiri, kita bisa langsung tergencet.”

“Lalu kita harus bagaimana? Bukannya jika kita naik ke atas dan menggigit tubuh lainnya juga berbahaya? Bisa saja ia menggunakan tangannya lalu memencet kita hingga penyet. Sama-sama berbahaya.”

Dua ekor semut yang gundah duduk kembali di antara cekungan batu. Pikiran mereka penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga dan tentu saja membahayakan.

“Nasib bangsa semut memang kadang kebanyakan tak mujurnya,” celetuk Semut I.

“Tapi setidaknya ini titah mulia, dari Dewa Siwa. Bukan tidak mungkin jika tugas kita berhasil, hidup kita akan bahagia. Dan mungkin kelak kita bisa terlahir kembali menjadi manusia karena kita dianggap berjasa.”

“Kemungkinan selalu ada, termasuk kemungkinan kita mati dalam tugas ini dan orang tua kita di rumah akan menangis sepanjang hari meratapi kepergian kita dan ternyata kita tetap lahir kembali sebagai seekor semut.” Mata Semut I berkaca-kaca. Ia berpikir, mungkin saja saat ini mata orang tuanya juga tengah berkaca-kaca menantikan kepulangannya.

Dalam keadaan seperti ini, ia tentu saja sangat menyesal dilahirkan sebagai seekor semut. Sejak jaman manusia pertama, bangsa semut selalu dijadikan tumbal untuk menggagalkan sebuah pertapaan. Bahkan tak jarang dalam sekali menggagalkan pertapaan, dikerahkan hingga ratusan semut. Dan tak jarang pula, setengah bahkan lebih dari jumlah mereka mati karena si  pertapa marah akibat tapanya gagal dan membunuh semut yang dilihatnya. Diinjak, ditepuk, digilas, digencet, bahkan yang lebih sadis lagi dibakar hidup-hidup.

Belum lagi ribuan semut tewas dibantai manusia di gubuk-gubuk saat mereka memungut sisa-sisa nasi, remah beras, atau potongan kelapa yang dijatuhkan atau dibuang manusia. Saat mereka kentara bergerombol mengangkut sisa makanan itu, mereka malah diinjak-injak, dibakar dengan seenaknya tanpa rasa bersalah, padahal bangsa semut tak mencuri, hanya memungut yang sudah tak diperlukan lagi.

“Aku kira, sekelas anak Raja Pandu tak mungkin membunuh kita sembarangan,” Semut II mencoba menghibur kakaknya.

“Arjuna itu manusia!”

“Tapi, aku melihat dia sangat khusyuk melakukan tapa. Dia seperti patung, tak bergerak sedikitpun. Walaupun kita menggigitnya, aku kira ia tak akan memedulikan kita.”

“Kalau dia tak terganggu saat kita menggingitnya, artinya kita gagal. Tetap saja ada hukuman yang menunggu karena kegagalan kita.”

Mereka kembali terdiam. Samar-samar mereka mendengar suara burung dari luar sana. Sementara Arjuna tetap mematung menjalankan tapanya.

“Apapun risikonya, kita harus jalankan titah ini!” Semut II bangkit dan ingin segera menggigit bagian kaki Arjuna yang tampak olehnya. Namun Semut I buru-buru menarik dan mendudukkannya.

“Jangan lakukan hal yang sia-sia.”

“Tidak ada yang sia-sia, bagaimana kita tahu ini sia-sia jika tak mencobanya.”

Semut I terdiam.

“Aku akan menggigitnya!” Semut II keras kepala. Ia beranjak dan mendekat ke kaki Arjuna. Berkeliling mencari bagian yang sekiranya tidak keras untuk digigit. Ia melihat bagian atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ini tidak begitu keras, pikirnya.

Perlahan ia naik lewat telapak kakinya. Satu langkah, ia menghentikan langkahnya untuk melihat reaksi Arjuna. Ada degup jantung ketakutan yang dirasakannya. Semut I sedikit ketakutan melihat apa yang dilakukan adiknya.

“Turun kau, jangan gegabah!” dipanggilnya adiknya dengan suara seperti orang berbisik namun sampai ke telinga Semut II.

Semut II tak menghiraukan panggilan itu, dan karena pada langkah pertama Arjuna bergeming, ia terus melangkah selangkah demi selangkah, tentu saja dengan degup jantung yang semakin tak teratur. Ia tetap waspada jika kemungkinan buruk terjadi semisal Arjuna merasakan kehadirannya dan membalikkan telapak kakinya yang bisa membuatnya tergencet. Sesekali dilihatnya tekstur batu di bawah walaupun agak remang. Apabila Arjuna sadar dan membalikkan telapak kakinya, ia bisa menggulingkan tubuhnya dan bersembunyi pada cekungan batu.

Telapak kaki terlewati dan kini ia telah berada di atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ia memulainya dengan gigitan ringan. Arjuna bergeming. Lebih keras, Arjuna juga bergeming. Digigitnya lebih keras, sangat keras bahkan sampai bergelantungan sambil menggigit. Tetap saja usahanya tak berhasil. Karena beberapa kali menggigit dan tak mempan, ia memutuskan untuk turun dan menemui kakaknya.

“Kau melakukan sesuatu yang sia-sia,” Semut I berkata dengan nada mengejek saat Semut II kembali. “Aku sudah memikirkan dengan matang, dan ini aku kira akan berhasil.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kita naik ke atas. Cari telinganya. Kita masuk ke dalam telinganya, lalu kita gigit.”

“Bagaimana caranya kita sampai ke telinganya?”

“Kita harus keluar dari sini. Kita harus naik lewat pakaiannya, jangan naiki tubuhnya. Jika kita menaiki tubuhnya, ia pasti menyadarinya. Aku kira Arjuna sudah tahu dan merasakan sakit saat kau menggigitnya, hanya saja ia menahannya.”

Mereka berjalan mengikuti lubang cahaya yang kecil hingga sampai di luar. Lubang cahaya itu mengarah ke samping kiri Arjuna. Kedua semut itu mendongakkan kepala melihat letak telinga Arjuna yang tinggi. Terlihat olehnya rambut Arjuna yang dibiarkannya terurai sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin yang cukup kencang.

“Ini terlalu tinggi, apalagi naik lewat pakaiannya. Jika angin kencang saat kita berada di atas, tubuh kita akan terlempar,” kata Semut II.

“Kita naik lewat belakang. Angin tak akan menyentuh kita.”

Semut I berjalan ke belakang tubuh Arjuna, memilih lokasi yang cocok dan mulai naik. Semut II mengikutinya. Mereka mulai dengan menaiki kemben Arjuna kemudian meraih kain putih yang diselempangkan pada tubuhnya. Kain itu ternyata agak licin sehingga mereka harus benar-benar mencengkeram kain agar tak terpeleset dan jatuh. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan menaiki kain yang licin, mereka pun sampai di pundak kanan Arjuna.

“Bagaimana sekarang?” Semut II bertanya.

“Mau tidak mau kita harus lewat lehernya. Tak mungkin kita menaiki rambutnya. Angin bisa saja menghempaskan tubuh kita.”

“Kau yakin ini berhasil?”

“Kita harus cepat. Berlari lalu masuk ke dalam lubang telinganya.”

Setelah mengambil nafas panjang, untuk mencegah kemungkinan terburuk, mereka berdua berlari zig-zag. Kiri, kanan, kiri, kanan, mereka zig-zag menaiki leher samping kanan Arjuna, menuju ke pipinya, lalu berbelok dan masuk pada lubang telinga kanannya. Arjuna bergembing bak patung dan hanya rambut dan kain bagian depan tubuhnya saja yang bergerak-gerak diterpa angin.

Lubang telinga Arjuna begitu gelap. Semakin ke dalam semakin tak ada cahaya. Mereka hanya bisa melihat cahaya jika menoleh ke belakang.

“Bagaiama sekarang?”

“Kita masuk sampai ke ujung. Ikuti saja aku.”

Dan sampai di tempat yang ditentukan, kedua semut itu berhenti. Semut II duduk menunggu perintah, sementara Semut I meraba-raba dalam kegelapan mencari tempat yang sekiranya bisa digigit. Karena jika salah, ia hanya akan menggigit kotoran telinga Arjuna dan tentu saja tak akan berpengaruh apapun. Dalam kegelapan ia mengorek-ngorek dan mencoba membedakan kotoran telinga dengan kulit telinga.

“Kita gigit di sini!”

“Di mana? Aku tak melihatmu.”

“Ikuti arah suaraku.”

Dan Semut I menyanyi pelan agar Semut II bisa menemukan keberadaannya.

“Kita gigit di sini!”

“Sekarang?”

“Ya sekarang!”

“Satu, dua, yaa…..”

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

Next Post

PANDORA PARADISE

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
PANDORA PARADISE

PANDORA PARADISE

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co