7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 13, 2020
in Cerpen
Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

Ilustrasi; Lukisan Kamasan Arjuna Bertapa [diambil dari akun Facebook Sutasoma Kamasan

Cerpen Supartika

Hingga Jumat Kliwon ini, sudah hampir seminggu Arjuna bertapa di Gunung Indrakila untuk mendapat anugerah panah yang maha sakti dari Dewa Siwa. Ia bertapa dengan khusyuk dan suntuk, duduk bersila di atas sebuah batu yang permukaannya agak rata dan mulutnya komat-kamit tanpa suara, entah mantra apa yang diucapkannya. Sementara di bawah kakinya, pada cekungan batu, dua ekor semuat bersaudara sedang gelisah. Dua ekor semut jantan-betina ini diutus Dewa Siwa untuk menggoda tapa Arjuna.

Untuk mempermudah dalam hal menuliskannya, mari kita sebut semut tertua atau semut betina dengan sebutan Semut I dan adiknya, semut jantan, dengan sebutan Semut II.

Titah Dewa Siwa terus terngiang di telinga mereka: Aku tak ingin panah sakti ini berpindah ke tangan Arjuna, kalian harus menggagalkan tapanya bagaimanapun caranya.

Bukan sembarang titah, seperti ada sebuah ancaman yang terkandung dalam titah itu. Mereka menafsirkanya sendiri, jika gagal melakukan titah itu bukan tak mungkin akan ada hukuman yang menunggunya. Namun bukan tak mungkin pula jika Arjuna melakukan sesuatu yang tak terduga saat mereka mengganggu tapanya. Menggencet tubuh kecilnya dengan jarinya misalnya hingga membuat kedua semut itu penyet serupa perkedel.

“Dari mana kita memulainya?” Semut II bertanya kebingungan.

Semut I hanya menggelengkan kepala.

“Apakah kita akan diam seperti ini dan tidak segera bertindak?”

“Ini keadaan yang serba sulit.”

“Kita harus memilihnya, ini titah.”

“Sebenarnya aku tak ingin memilih keduanya. Lebih baik aku pulang ke rumah dan menikmati remah beras yang tersisa.”

“Bagaimana kau masih bisa memikirkan makanan sementara kita sedang berada di posisi sulit?”

“Ayah dan ibu kita pasti sedang gelisah menunggu di rumah.”

“Bukankah mereka sudah merestui kita untuk melakukan tugas mulia ini?”

“Tugas mulia katamu?” Semut I kembali menggelengkan kepala, “menggagalkan usaha seseorang adalah tugas terkutuk.”

“Tapi ini titah, kita tak bisa melawan titah.”

“Entah apapun namanya, jika Arjuna benar-benar gagal menyelesaikan tapanya, kita akan dianggap sebagai makhluk yang tak bermartabat.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Tak ada pilihan.”

“Maksudmu? Kau memilih pulang dan melalaikan titah yang diberikan?”

“Tentu tidak, kita harus menjalankannya,” Semut I diam sejenak. “Meskipun kelak jika tugas ini berhasil kita akan dianggap makhluk tak bermartabat karena menggagalkan usaha Arjuna.”

Mereka berdua diam sejenak. Semut II memandang ke sekeliling yang sedikit remang-remang karena tertutup kaki Arjuna. Hanya ada celah kecil yang tampak putih di sisi barat pada celah batu yang kecil, dan dari sanalah cahaya bisa masuk.

“Dari mana kita akan memulainya?”

“Kau mau dari mana?”

“Aku lebih muda darimu. Dan sebagai semut muda yang ada di sini, aku menyerahkan sepenuhnya padamu.”

Semut I berjalan mendekati telapak kaki Arjuna. Ia melihat telapak kaki yang ukurannya ratusan kali lipat dari ukuran tubuhnya. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika telapak kaki itu menindih tubuhnya dan ia tak akan sempat berteriak atau sekadar merasakan sakit, karena dalam hitungan detik tubuhnya akan rata.

“Ternyata kaki pangeran yang dibilang tampan oleh bangsa manusia ini pecah-pecah,” celetuk Semut II.

“Hus, jaga bicaramu. Jangan keras-keras, nanti ia mengetahui kehadiran kita.”

“Bukankah nanti ia juga akan mengetahui bahwa kita yang mengganggu tapanya.”

“Tapi setidaknya, kita tidak kentara sebelum berbuat sesuatu.”

“Bagaimana kita memulainya?” seperti seorang anak kecil, Semut II terus bertanya dengan cerewet.

“Aku belum tahu, kita harus mencari celah yang tepat.”

“Kita gigit saja telapak kakinya!”

“Telapak kakinya keras, gigimu bisa copot. Juga sangat berbahaya. Jika ia terkejut dan berdiri, kita bisa langsung tergencet.”

“Lalu kita harus bagaimana? Bukannya jika kita naik ke atas dan menggigit tubuh lainnya juga berbahaya? Bisa saja ia menggunakan tangannya lalu memencet kita hingga penyet. Sama-sama berbahaya.”

Dua ekor semut yang gundah duduk kembali di antara cekungan batu. Pikiran mereka penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga dan tentu saja membahayakan.

“Nasib bangsa semut memang kadang kebanyakan tak mujurnya,” celetuk Semut I.

“Tapi setidaknya ini titah mulia, dari Dewa Siwa. Bukan tidak mungkin jika tugas kita berhasil, hidup kita akan bahagia. Dan mungkin kelak kita bisa terlahir kembali menjadi manusia karena kita dianggap berjasa.”

“Kemungkinan selalu ada, termasuk kemungkinan kita mati dalam tugas ini dan orang tua kita di rumah akan menangis sepanjang hari meratapi kepergian kita dan ternyata kita tetap lahir kembali sebagai seekor semut.” Mata Semut I berkaca-kaca. Ia berpikir, mungkin saja saat ini mata orang tuanya juga tengah berkaca-kaca menantikan kepulangannya.

Dalam keadaan seperti ini, ia tentu saja sangat menyesal dilahirkan sebagai seekor semut. Sejak jaman manusia pertama, bangsa semut selalu dijadikan tumbal untuk menggagalkan sebuah pertapaan. Bahkan tak jarang dalam sekali menggagalkan pertapaan, dikerahkan hingga ratusan semut. Dan tak jarang pula, setengah bahkan lebih dari jumlah mereka mati karena si  pertapa marah akibat tapanya gagal dan membunuh semut yang dilihatnya. Diinjak, ditepuk, digilas, digencet, bahkan yang lebih sadis lagi dibakar hidup-hidup.

Belum lagi ribuan semut tewas dibantai manusia di gubuk-gubuk saat mereka memungut sisa-sisa nasi, remah beras, atau potongan kelapa yang dijatuhkan atau dibuang manusia. Saat mereka kentara bergerombol mengangkut sisa makanan itu, mereka malah diinjak-injak, dibakar dengan seenaknya tanpa rasa bersalah, padahal bangsa semut tak mencuri, hanya memungut yang sudah tak diperlukan lagi.

“Aku kira, sekelas anak Raja Pandu tak mungkin membunuh kita sembarangan,” Semut II mencoba menghibur kakaknya.

“Arjuna itu manusia!”

“Tapi, aku melihat dia sangat khusyuk melakukan tapa. Dia seperti patung, tak bergerak sedikitpun. Walaupun kita menggigitnya, aku kira ia tak akan memedulikan kita.”

“Kalau dia tak terganggu saat kita menggingitnya, artinya kita gagal. Tetap saja ada hukuman yang menunggu karena kegagalan kita.”

Mereka kembali terdiam. Samar-samar mereka mendengar suara burung dari luar sana. Sementara Arjuna tetap mematung menjalankan tapanya.

“Apapun risikonya, kita harus jalankan titah ini!” Semut II bangkit dan ingin segera menggigit bagian kaki Arjuna yang tampak olehnya. Namun Semut I buru-buru menarik dan mendudukkannya.

“Jangan lakukan hal yang sia-sia.”

“Tidak ada yang sia-sia, bagaimana kita tahu ini sia-sia jika tak mencobanya.”

Semut I terdiam.

“Aku akan menggigitnya!” Semut II keras kepala. Ia beranjak dan mendekat ke kaki Arjuna. Berkeliling mencari bagian yang sekiranya tidak keras untuk digigit. Ia melihat bagian atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ini tidak begitu keras, pikirnya.

Perlahan ia naik lewat telapak kakinya. Satu langkah, ia menghentikan langkahnya untuk melihat reaksi Arjuna. Ada degup jantung ketakutan yang dirasakannya. Semut I sedikit ketakutan melihat apa yang dilakukan adiknya.

“Turun kau, jangan gegabah!” dipanggilnya adiknya dengan suara seperti orang berbisik namun sampai ke telinga Semut II.

Semut II tak menghiraukan panggilan itu, dan karena pada langkah pertama Arjuna bergeming, ia terus melangkah selangkah demi selangkah, tentu saja dengan degup jantung yang semakin tak teratur. Ia tetap waspada jika kemungkinan buruk terjadi semisal Arjuna merasakan kehadirannya dan membalikkan telapak kakinya yang bisa membuatnya tergencet. Sesekali dilihatnya tekstur batu di bawah walaupun agak remang. Apabila Arjuna sadar dan membalikkan telapak kakinya, ia bisa menggulingkan tubuhnya dan bersembunyi pada cekungan batu.

Telapak kaki terlewati dan kini ia telah berada di atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ia memulainya dengan gigitan ringan. Arjuna bergeming. Lebih keras, Arjuna juga bergeming. Digigitnya lebih keras, sangat keras bahkan sampai bergelantungan sambil menggigit. Tetap saja usahanya tak berhasil. Karena beberapa kali menggigit dan tak mempan, ia memutuskan untuk turun dan menemui kakaknya.

“Kau melakukan sesuatu yang sia-sia,” Semut I berkata dengan nada mengejek saat Semut II kembali. “Aku sudah memikirkan dengan matang, dan ini aku kira akan berhasil.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kita naik ke atas. Cari telinganya. Kita masuk ke dalam telinganya, lalu kita gigit.”

“Bagaimana caranya kita sampai ke telinganya?”

“Kita harus keluar dari sini. Kita harus naik lewat pakaiannya, jangan naiki tubuhnya. Jika kita menaiki tubuhnya, ia pasti menyadarinya. Aku kira Arjuna sudah tahu dan merasakan sakit saat kau menggigitnya, hanya saja ia menahannya.”

Mereka berjalan mengikuti lubang cahaya yang kecil hingga sampai di luar. Lubang cahaya itu mengarah ke samping kiri Arjuna. Kedua semut itu mendongakkan kepala melihat letak telinga Arjuna yang tinggi. Terlihat olehnya rambut Arjuna yang dibiarkannya terurai sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin yang cukup kencang.

“Ini terlalu tinggi, apalagi naik lewat pakaiannya. Jika angin kencang saat kita berada di atas, tubuh kita akan terlempar,” kata Semut II.

“Kita naik lewat belakang. Angin tak akan menyentuh kita.”

Semut I berjalan ke belakang tubuh Arjuna, memilih lokasi yang cocok dan mulai naik. Semut II mengikutinya. Mereka mulai dengan menaiki kemben Arjuna kemudian meraih kain putih yang diselempangkan pada tubuhnya. Kain itu ternyata agak licin sehingga mereka harus benar-benar mencengkeram kain agar tak terpeleset dan jatuh. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan menaiki kain yang licin, mereka pun sampai di pundak kanan Arjuna.

“Bagaimana sekarang?” Semut II bertanya.

“Mau tidak mau kita harus lewat lehernya. Tak mungkin kita menaiki rambutnya. Angin bisa saja menghempaskan tubuh kita.”

“Kau yakin ini berhasil?”

“Kita harus cepat. Berlari lalu masuk ke dalam lubang telinganya.”

Setelah mengambil nafas panjang, untuk mencegah kemungkinan terburuk, mereka berdua berlari zig-zag. Kiri, kanan, kiri, kanan, mereka zig-zag menaiki leher samping kanan Arjuna, menuju ke pipinya, lalu berbelok dan masuk pada lubang telinga kanannya. Arjuna bergembing bak patung dan hanya rambut dan kain bagian depan tubuhnya saja yang bergerak-gerak diterpa angin.

Lubang telinga Arjuna begitu gelap. Semakin ke dalam semakin tak ada cahaya. Mereka hanya bisa melihat cahaya jika menoleh ke belakang.

“Bagaiama sekarang?”

“Kita masuk sampai ke ujung. Ikuti saja aku.”

Dan sampai di tempat yang ditentukan, kedua semut itu berhenti. Semut II duduk menunggu perintah, sementara Semut I meraba-raba dalam kegelapan mencari tempat yang sekiranya bisa digigit. Karena jika salah, ia hanya akan menggigit kotoran telinga Arjuna dan tentu saja tak akan berpengaruh apapun. Dalam kegelapan ia mengorek-ngorek dan mencoba membedakan kotoran telinga dengan kulit telinga.

“Kita gigit di sini!”

“Di mana? Aku tak melihatmu.”

“Ikuti arah suaraku.”

Dan Semut I menyanyi pelan agar Semut II bisa menemukan keberadaannya.

“Kita gigit di sini!”

“Sekarang?”

“Ya sekarang!”

“Satu, dua, yaa…..”

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

Next Post

PANDORA PARADISE

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
PANDORA PARADISE

PANDORA PARADISE

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co