5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 13, 2020
in Cerpen
Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

Ilustrasi; Lukisan Kamasan Arjuna Bertapa [diambil dari akun Facebook Sutasoma Kamasan

Cerpen Supartika

Hingga Jumat Kliwon ini, sudah hampir seminggu Arjuna bertapa di Gunung Indrakila untuk mendapat anugerah panah yang maha sakti dari Dewa Siwa. Ia bertapa dengan khusyuk dan suntuk, duduk bersila di atas sebuah batu yang permukaannya agak rata dan mulutnya komat-kamit tanpa suara, entah mantra apa yang diucapkannya. Sementara di bawah kakinya, pada cekungan batu, dua ekor semuat bersaudara sedang gelisah. Dua ekor semut jantan-betina ini diutus Dewa Siwa untuk menggoda tapa Arjuna.

Untuk mempermudah dalam hal menuliskannya, mari kita sebut semut tertua atau semut betina dengan sebutan Semut I dan adiknya, semut jantan, dengan sebutan Semut II.

Titah Dewa Siwa terus terngiang di telinga mereka: Aku tak ingin panah sakti ini berpindah ke tangan Arjuna, kalian harus menggagalkan tapanya bagaimanapun caranya.

Bukan sembarang titah, seperti ada sebuah ancaman yang terkandung dalam titah itu. Mereka menafsirkanya sendiri, jika gagal melakukan titah itu bukan tak mungkin akan ada hukuman yang menunggunya. Namun bukan tak mungkin pula jika Arjuna melakukan sesuatu yang tak terduga saat mereka mengganggu tapanya. Menggencet tubuh kecilnya dengan jarinya misalnya hingga membuat kedua semut itu penyet serupa perkedel.

“Dari mana kita memulainya?” Semut II bertanya kebingungan.

Semut I hanya menggelengkan kepala.

“Apakah kita akan diam seperti ini dan tidak segera bertindak?”

“Ini keadaan yang serba sulit.”

“Kita harus memilihnya, ini titah.”

“Sebenarnya aku tak ingin memilih keduanya. Lebih baik aku pulang ke rumah dan menikmati remah beras yang tersisa.”

“Bagaimana kau masih bisa memikirkan makanan sementara kita sedang berada di posisi sulit?”

“Ayah dan ibu kita pasti sedang gelisah menunggu di rumah.”

“Bukankah mereka sudah merestui kita untuk melakukan tugas mulia ini?”

“Tugas mulia katamu?” Semut I kembali menggelengkan kepala, “menggagalkan usaha seseorang adalah tugas terkutuk.”

“Tapi ini titah, kita tak bisa melawan titah.”

“Entah apapun namanya, jika Arjuna benar-benar gagal menyelesaikan tapanya, kita akan dianggap sebagai makhluk yang tak bermartabat.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Tak ada pilihan.”

“Maksudmu? Kau memilih pulang dan melalaikan titah yang diberikan?”

“Tentu tidak, kita harus menjalankannya,” Semut I diam sejenak. “Meskipun kelak jika tugas ini berhasil kita akan dianggap makhluk tak bermartabat karena menggagalkan usaha Arjuna.”

Mereka berdua diam sejenak. Semut II memandang ke sekeliling yang sedikit remang-remang karena tertutup kaki Arjuna. Hanya ada celah kecil yang tampak putih di sisi barat pada celah batu yang kecil, dan dari sanalah cahaya bisa masuk.

“Dari mana kita akan memulainya?”

“Kau mau dari mana?”

“Aku lebih muda darimu. Dan sebagai semut muda yang ada di sini, aku menyerahkan sepenuhnya padamu.”

Semut I berjalan mendekati telapak kaki Arjuna. Ia melihat telapak kaki yang ukurannya ratusan kali lipat dari ukuran tubuhnya. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika telapak kaki itu menindih tubuhnya dan ia tak akan sempat berteriak atau sekadar merasakan sakit, karena dalam hitungan detik tubuhnya akan rata.

“Ternyata kaki pangeran yang dibilang tampan oleh bangsa manusia ini pecah-pecah,” celetuk Semut II.

“Hus, jaga bicaramu. Jangan keras-keras, nanti ia mengetahui kehadiran kita.”

“Bukankah nanti ia juga akan mengetahui bahwa kita yang mengganggu tapanya.”

“Tapi setidaknya, kita tidak kentara sebelum berbuat sesuatu.”

“Bagaimana kita memulainya?” seperti seorang anak kecil, Semut II terus bertanya dengan cerewet.

“Aku belum tahu, kita harus mencari celah yang tepat.”

“Kita gigit saja telapak kakinya!”

“Telapak kakinya keras, gigimu bisa copot. Juga sangat berbahaya. Jika ia terkejut dan berdiri, kita bisa langsung tergencet.”

“Lalu kita harus bagaimana? Bukannya jika kita naik ke atas dan menggigit tubuh lainnya juga berbahaya? Bisa saja ia menggunakan tangannya lalu memencet kita hingga penyet. Sama-sama berbahaya.”

Dua ekor semut yang gundah duduk kembali di antara cekungan batu. Pikiran mereka penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga dan tentu saja membahayakan.

“Nasib bangsa semut memang kadang kebanyakan tak mujurnya,” celetuk Semut I.

“Tapi setidaknya ini titah mulia, dari Dewa Siwa. Bukan tidak mungkin jika tugas kita berhasil, hidup kita akan bahagia. Dan mungkin kelak kita bisa terlahir kembali menjadi manusia karena kita dianggap berjasa.”

“Kemungkinan selalu ada, termasuk kemungkinan kita mati dalam tugas ini dan orang tua kita di rumah akan menangis sepanjang hari meratapi kepergian kita dan ternyata kita tetap lahir kembali sebagai seekor semut.” Mata Semut I berkaca-kaca. Ia berpikir, mungkin saja saat ini mata orang tuanya juga tengah berkaca-kaca menantikan kepulangannya.

Dalam keadaan seperti ini, ia tentu saja sangat menyesal dilahirkan sebagai seekor semut. Sejak jaman manusia pertama, bangsa semut selalu dijadikan tumbal untuk menggagalkan sebuah pertapaan. Bahkan tak jarang dalam sekali menggagalkan pertapaan, dikerahkan hingga ratusan semut. Dan tak jarang pula, setengah bahkan lebih dari jumlah mereka mati karena si  pertapa marah akibat tapanya gagal dan membunuh semut yang dilihatnya. Diinjak, ditepuk, digilas, digencet, bahkan yang lebih sadis lagi dibakar hidup-hidup.

Belum lagi ribuan semut tewas dibantai manusia di gubuk-gubuk saat mereka memungut sisa-sisa nasi, remah beras, atau potongan kelapa yang dijatuhkan atau dibuang manusia. Saat mereka kentara bergerombol mengangkut sisa makanan itu, mereka malah diinjak-injak, dibakar dengan seenaknya tanpa rasa bersalah, padahal bangsa semut tak mencuri, hanya memungut yang sudah tak diperlukan lagi.

“Aku kira, sekelas anak Raja Pandu tak mungkin membunuh kita sembarangan,” Semut II mencoba menghibur kakaknya.

“Arjuna itu manusia!”

“Tapi, aku melihat dia sangat khusyuk melakukan tapa. Dia seperti patung, tak bergerak sedikitpun. Walaupun kita menggigitnya, aku kira ia tak akan memedulikan kita.”

“Kalau dia tak terganggu saat kita menggingitnya, artinya kita gagal. Tetap saja ada hukuman yang menunggu karena kegagalan kita.”

Mereka kembali terdiam. Samar-samar mereka mendengar suara burung dari luar sana. Sementara Arjuna tetap mematung menjalankan tapanya.

“Apapun risikonya, kita harus jalankan titah ini!” Semut II bangkit dan ingin segera menggigit bagian kaki Arjuna yang tampak olehnya. Namun Semut I buru-buru menarik dan mendudukkannya.

“Jangan lakukan hal yang sia-sia.”

“Tidak ada yang sia-sia, bagaimana kita tahu ini sia-sia jika tak mencobanya.”

Semut I terdiam.

“Aku akan menggigitnya!” Semut II keras kepala. Ia beranjak dan mendekat ke kaki Arjuna. Berkeliling mencari bagian yang sekiranya tidak keras untuk digigit. Ia melihat bagian atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ini tidak begitu keras, pikirnya.

Perlahan ia naik lewat telapak kakinya. Satu langkah, ia menghentikan langkahnya untuk melihat reaksi Arjuna. Ada degup jantung ketakutan yang dirasakannya. Semut I sedikit ketakutan melihat apa yang dilakukan adiknya.

“Turun kau, jangan gegabah!” dipanggilnya adiknya dengan suara seperti orang berbisik namun sampai ke telinga Semut II.

Semut II tak menghiraukan panggilan itu, dan karena pada langkah pertama Arjuna bergeming, ia terus melangkah selangkah demi selangkah, tentu saja dengan degup jantung yang semakin tak teratur. Ia tetap waspada jika kemungkinan buruk terjadi semisal Arjuna merasakan kehadirannya dan membalikkan telapak kakinya yang bisa membuatnya tergencet. Sesekali dilihatnya tekstur batu di bawah walaupun agak remang. Apabila Arjuna sadar dan membalikkan telapak kakinya, ia bisa menggulingkan tubuhnya dan bersembunyi pada cekungan batu.

Telapak kaki terlewati dan kini ia telah berada di atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ia memulainya dengan gigitan ringan. Arjuna bergeming. Lebih keras, Arjuna juga bergeming. Digigitnya lebih keras, sangat keras bahkan sampai bergelantungan sambil menggigit. Tetap saja usahanya tak berhasil. Karena beberapa kali menggigit dan tak mempan, ia memutuskan untuk turun dan menemui kakaknya.

“Kau melakukan sesuatu yang sia-sia,” Semut I berkata dengan nada mengejek saat Semut II kembali. “Aku sudah memikirkan dengan matang, dan ini aku kira akan berhasil.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kita naik ke atas. Cari telinganya. Kita masuk ke dalam telinganya, lalu kita gigit.”

“Bagaimana caranya kita sampai ke telinganya?”

“Kita harus keluar dari sini. Kita harus naik lewat pakaiannya, jangan naiki tubuhnya. Jika kita menaiki tubuhnya, ia pasti menyadarinya. Aku kira Arjuna sudah tahu dan merasakan sakit saat kau menggigitnya, hanya saja ia menahannya.”

Mereka berjalan mengikuti lubang cahaya yang kecil hingga sampai di luar. Lubang cahaya itu mengarah ke samping kiri Arjuna. Kedua semut itu mendongakkan kepala melihat letak telinga Arjuna yang tinggi. Terlihat olehnya rambut Arjuna yang dibiarkannya terurai sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin yang cukup kencang.

“Ini terlalu tinggi, apalagi naik lewat pakaiannya. Jika angin kencang saat kita berada di atas, tubuh kita akan terlempar,” kata Semut II.

“Kita naik lewat belakang. Angin tak akan menyentuh kita.”

Semut I berjalan ke belakang tubuh Arjuna, memilih lokasi yang cocok dan mulai naik. Semut II mengikutinya. Mereka mulai dengan menaiki kemben Arjuna kemudian meraih kain putih yang diselempangkan pada tubuhnya. Kain itu ternyata agak licin sehingga mereka harus benar-benar mencengkeram kain agar tak terpeleset dan jatuh. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan menaiki kain yang licin, mereka pun sampai di pundak kanan Arjuna.

“Bagaimana sekarang?” Semut II bertanya.

“Mau tidak mau kita harus lewat lehernya. Tak mungkin kita menaiki rambutnya. Angin bisa saja menghempaskan tubuh kita.”

“Kau yakin ini berhasil?”

“Kita harus cepat. Berlari lalu masuk ke dalam lubang telinganya.”

Setelah mengambil nafas panjang, untuk mencegah kemungkinan terburuk, mereka berdua berlari zig-zag. Kiri, kanan, kiri, kanan, mereka zig-zag menaiki leher samping kanan Arjuna, menuju ke pipinya, lalu berbelok dan masuk pada lubang telinga kanannya. Arjuna bergembing bak patung dan hanya rambut dan kain bagian depan tubuhnya saja yang bergerak-gerak diterpa angin.

Lubang telinga Arjuna begitu gelap. Semakin ke dalam semakin tak ada cahaya. Mereka hanya bisa melihat cahaya jika menoleh ke belakang.

“Bagaiama sekarang?”

“Kita masuk sampai ke ujung. Ikuti saja aku.”

Dan sampai di tempat yang ditentukan, kedua semut itu berhenti. Semut II duduk menunggu perintah, sementara Semut I meraba-raba dalam kegelapan mencari tempat yang sekiranya bisa digigit. Karena jika salah, ia hanya akan menggigit kotoran telinga Arjuna dan tentu saja tak akan berpengaruh apapun. Dalam kegelapan ia mengorek-ngorek dan mencoba membedakan kotoran telinga dengan kulit telinga.

“Kita gigit di sini!”

“Di mana? Aku tak melihatmu.”

“Ikuti arah suaraku.”

Dan Semut I menyanyi pelan agar Semut II bisa menemukan keberadaannya.

“Kita gigit di sini!”

“Sekarang?”

“Ya sekarang!”

“Satu, dua, yaa…..”

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

Next Post

PANDORA PARADISE

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
PANDORA PARADISE

PANDORA PARADISE

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co