25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Menikah: Tujuan, Pilihan, atau Nasib?

PanchoNgaco by PanchoNgaco
October 31, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

“Pak, Buk… Sepertinya aku tidak mau menikah”

Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku. Suasana makan pagi yang biasanya hangat, tiba-tiba menjadi beku. Semua terdiam. Ucapan yang sederhana itu rasanya menusuk ulu hati mereka dalam sekali.

Saking bekunya suasana, tidak ada satu pun dari kami yang bicara lagi. Tidak ada jawaban, sahutan, omelan, apalagi kutukan yang terlontar dari mulut bapak dan ibuku. Semua hanya saling menatap dalam waktu yang panjang. Sepertinya ada tombol pause yang kepencet.

Aku cukup menyesali ucapan itu terlontar di waktu makan pagi. Aku merasa telah memilih waktu yang salah. Jika saja aku membuka percakapan itu di waktu makan malam, mungkin bapak dan ibu akan mau bertukar pikiran. Sebab, kami punya waktu luang sepanjang malam untuk bicara. Sebab, aku pun jadi punya waktu merenung hingga dini hari jika saja respons mereka tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan.

Setelah saling membeku dalam tatapan yang panjang, kami malah terburu-buru untuk pergi melanjutkan aktivitas kami. Ayah langsung lanjut berangkat kerja. Ibu langsung merapikan meja dan mencuci piring. Sementara aku, dengan berat hati harus berangkat pergi dari rumah untuk berkontemplasi.

***

“Memang apa salahnya sih dengan menikah?” tanya Nandia sambil menyodorkan kopi panas.

“Aku merasa menikah hanya tujuan hidup yang melahirkan masalah baru, Nan.” pungkasku sambil menyulut api geretan ke rokok kretekku.

“Lah? Menikah memang tujuan hidup orang sejak zaman purba, Lik! Kamu manusia itu takdirnya lahir, sekolah, dewasa, bekerja, menikah, punya anak, lalu menjadi jompo dan mati.”

“Lantas, tanpa melalui tahap menikah, toh kita tetap bisa menjadi jompo dan mati toh, Nan?”

“Betul, Lik. Tapi, jompo sendiri, mati sendiri. Mana enak, Nan?”

“Ya kamu berpikiran sempit kalau begitu. Memang dengan tidak menikah, orang tidak bisa hidup ditemani orang lain? Hayo?” aku menyanggah pandangan Nandia lalu menyeruput kopi pemberiannya yang kini sudah mulai suam-suam kuku.

“Konyol betul isi otakmu. Memang kamu pikir kita bisa kumpul kebo dengan aman di negeri ini? Ya tidak bisa lah! Mimpi kok pagi-pagi begini.” Nandia menghardikku sambil tersenyum sinis.

“Ah, kalau memang begitu ya sudah. Mati sendiri juga tidak menyedihkan. Ada panti jompo, Nan! Tinggal bayar perawat, hidup terawat dan tidak semerawut mikirin orang lain.”

“Duh, ngeyel betul anak ini. Memang kenapa sih anti sekali dengan pernikahan?”

“Aku merasa menikah itu hanya soal melegalkan seks, Nan! Banyak orang menikah hanya karena ingin bisa berhubungan seks secara legal, tanpa takut digerebek warga dan diarak telanjang ke kantor polisi.”

“Lantas apa salahnya, Malika? Kan bagus kalau begitu. Lebih baik menikah daripada pacaran kelamaan dan keburu macam-macam. Atau daripada tidak jelas pasangannya dan gonta-ganti akibat terjebak pergaulan bebas.”

“Ya itu dia salahnya, Nan. Itulah kalau isi otak hanya menganggap orang pacaran itu kalau sudah bersama pasti akan macam-macam. Orang berhubungan itu kan tak melulu karena ingin seks. Sama dengan menikah. Itu kan harusnya bukan soal seks semata. Kalau pandangan orang hanya sebatas pada itu, kita tidak beda dari binatang. Nanti menikah, kebutuhan seks harus selalu terpenuhi. Kurang seks sedikit, kurang puas sedikit, rumah tangga jadi tidak harmonis. Salah satu sedang tidak ingin, yang lainnya jadi ngambek, marah, atau lebih parahnya memaksa. Ketika seks tidak lagi memuaskan dalam pernikahan, akhirnya bercerai!”

Nandia geleng-geleng kepala mendengarkan ocehanku. “Nah, Lik. Itu artinya kan bukan salah pernikahannya. Tapi salah orangnya toh!” 

Sebelum dia lanjut membantah, aku pun lanjut nyerocos.

“Ya pernikahan itu pada akhirnya melegalkan pemaksaan seks tersebut. Ketika suami sedang ngebet sekali misalnya, lalu si istri ternyata sedang letih. Akhirnya apa? Ada kejadian suami memaksa istrinya berhubungan badan. Hal itu kan sama saja dengan suami memperkosa istrinya. Namun, karena mereka sudah terikat pernikahan, maka pemerkosaan itu tidak dianggap serius di ranah hukum. Padahal, pemaksaan kehendak di mana-mana kan melanggar hak asasi manusia?”

“Oke, soal pemerkosaan dalam pernikahan, aku juga setuju bahwa itu nyata dan sering dianggap tidak serius”.

“Tunggu, aku belum selesai. Kemudian soal yang tadi kamu bilang bahwa lebih baik menikah daripada pacaran keburu macam-macam. Pandangan masyarakat yang seperti kamu ini yang akhirnya menjebak orang usia muda pada ikatan pernikahan dini. Padahal, mungkin secara mental pasangan ini belum siap menikah. Lantas, apa yang terjadi? Rumah tangga hancur sedini-dininya.”

“Hoi! Kenapa jadi kamu menyalahkan aku seperti ini sih, Lik. Sabar lah! Kita kan sedang berdiskusi. Kalau demikian, kan pernikahan itu soal siap dan tidak siap. Ketika kamu siap, kamu ya silakan menikah. Masa iya sih ada orang yang seumur hidupnya tidak siap? Ngapain saja dia sepanjang hidup? Kok tidak ada kemajuan?”

“Aduh, Nan. Aku rasa aku tidak siap menjadi istri. Sebab, dalam pernikahan, status istri itu harus terjajah. Ya terjajah suami, ya terjajah mertuanya, ya terjajah masyarakatnya.”

“Maksudmu bagaimana toh bawa-bawa penjajahan. Memangnya kita sedang berperang?”

“Kita sedang berperang, Nan! Berperang melawan ketidakadilan. Apalagi sebagai perempuan, kehidupan pernikahan itu tidak pernah adil untuk kita!”

Nandia menghela nafas panjang. Ia sepertinya mulai lelah meladeniku yang semakin berapi-api.

“Hampir semua agama mengajarkan seorang suami harus menafkahi keluarga, karena itu seorang istri harus melayani sepenuh hati. Bahkan, meskipun sang suami tidak becus mencari nafkah, istri harus tetap melayani suami ketika minta jatah. Hal ini tidak pernah bisa dibantah, Nan. Sebab, kejadian seperti ini banyak sekali bisa kamu temukan, bahkan semudah membalikkan halaman koran”

“Pandangan masyarakat menambah kelanggengan ini. Ketika istri nakal di luar, yang disalahkan adalah dirinya yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Ketika suami melakukan hal yang sama, istri kembali ditunjuk sebagai empunya kesalahan. Istri dianggap tak mampu memuaskan suami sehingga akhirnya membuat suami jadi jajan di luar. Dibilang lah istri tak bisa tidak menjaga penampilan dengan baik serta kurang melayani sehingga akhirnya suami mencari kesempurnaan pada sosok lain. Kamu sering dengar kan orang berujar “makanya, jadi istri jangan pakai daster terus di rumah!” Nah lho, suami yang kurang bersyukur, kenapa istri yang salah?”

“Iya juga sih, Lik”

“Nah kan? Nan, kamu harus sadar. Menjadi istri itu juga berarti harus siap dengan segala ketidakadilan yang dilanggengkan masyarakat. Misalnya nih! Suami boleh bergaul di luar dan jarang di rumah. Semua memandang hal itu tidak masalah karena suami mencari nafkah dan harus memperluas jaringan pertemanan. Sementara ketika istri melakukan hal yang sama, eh semua mata langsung memandangnya sebagai istri yang tidak memperhatikan suami dan hanya suka hura-hura di luar rumah. Istri yang ndak bener!”

“Kamu mungkin sudah tahu, Nan, bahwa kewajiban suami adalah mengutamakan istri dan anaknya. Lucunya, ketika hal itu dilakukan, kadang orang tua sang suami mulai menganggap anaknya ini tak lagi sayang orang tuanya. Istri lagi yang disalahkan karena dianggap telah mengambil seorang anak dari keluarganya sendiri. Istri lah yang dikira mempengaruhi suaminya agar tidak lagi mengasihi ayah dan ibunya sepenuh hati. Ketika kemudian suami mencoba berdebat dengan ibunya karena memang dirinya benar, istri masih juga kena getahnya. Ibu mertua akhirnya akan menjadi sinis karena merasa si istri ini mengajari suami untuk kurang ajar pada ibunya. Sulit kan menjadi seorang istri? Apa-apa salah sendiri.”

“Aku rasa kamu kebanyakan nonton sinetron, Lik. Lihat yang buruk-buruknya saja. Banyak loh pernikahan yang bisa berjalan baik. Tidak semua pernikahan berujung mengerikan seperti dongengmu barusan. Lagipula, orang kan bisa memilih pasangannya. Pilihlah pasangan yang baik, jangan sembarang orang dinikahi.”, Nandia menyahutiku pelan lalu menyeruput teh hangatnya. “Ayo kamu minum dulu juga. Daritadi nyerocos terus apa tidak haus?”

“Ah, siapa yang berani menjamin mendapatkan pasangan yang baik juga otomatis menjadikan pernikahan berjalan mulus? Kamu harus ingat yang barusan kubicarakan. Ada mertua, ada masalah keluarga lain yang kamu tambahkan ke kehidupanmu. Menikah kan di sini bukan soal kawin dengan pasanganmu saja, tetapi juga dengan keluarganya dan berjuta-juta masalah mereka. Kalau kamu ternyata dapat pasangan baik tapi keluarganya blangsak? Bisa apa kamu?”, aku kembali nyerocos sambil terus sibuk mengaduk kopi pahitku dalam cangkir.

“Ya itu namanya risiko, Lik. Kan kamu bisa memilih toh!”

“Nah, itu dia kesimpulannya, Nan. Kamu benar. Menikah itu bukan tujuan tapi soal memilih. Orang boleh memilih mau menikah atau tidak. Bukan lagi orang tua, pasangan, teman, masyarakat, atau negara yang mengharuskan. Bukan takdir lagi yang menjadikan menikah sebagai tujuan hidup.”

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masker, Dari Kontroversi Hingga Peluang Bisnis

Next Post

Ruang Virtual Bali Jani

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Siasat Kerja Panggung Digital

Ruang Virtual Bali Jani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co