2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Menikah: Tujuan, Pilihan, atau Nasib?

PanchoNgaco by PanchoNgaco
October 31, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

“Pak, Buk… Sepertinya aku tidak mau menikah”

Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku. Suasana makan pagi yang biasanya hangat, tiba-tiba menjadi beku. Semua terdiam. Ucapan yang sederhana itu rasanya menusuk ulu hati mereka dalam sekali.

Saking bekunya suasana, tidak ada satu pun dari kami yang bicara lagi. Tidak ada jawaban, sahutan, omelan, apalagi kutukan yang terlontar dari mulut bapak dan ibuku. Semua hanya saling menatap dalam waktu yang panjang. Sepertinya ada tombol pause yang kepencet.

Aku cukup menyesali ucapan itu terlontar di waktu makan pagi. Aku merasa telah memilih waktu yang salah. Jika saja aku membuka percakapan itu di waktu makan malam, mungkin bapak dan ibu akan mau bertukar pikiran. Sebab, kami punya waktu luang sepanjang malam untuk bicara. Sebab, aku pun jadi punya waktu merenung hingga dini hari jika saja respons mereka tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan.

Setelah saling membeku dalam tatapan yang panjang, kami malah terburu-buru untuk pergi melanjutkan aktivitas kami. Ayah langsung lanjut berangkat kerja. Ibu langsung merapikan meja dan mencuci piring. Sementara aku, dengan berat hati harus berangkat pergi dari rumah untuk berkontemplasi.

***

“Memang apa salahnya sih dengan menikah?” tanya Nandia sambil menyodorkan kopi panas.

“Aku merasa menikah hanya tujuan hidup yang melahirkan masalah baru, Nan.” pungkasku sambil menyulut api geretan ke rokok kretekku.

“Lah? Menikah memang tujuan hidup orang sejak zaman purba, Lik! Kamu manusia itu takdirnya lahir, sekolah, dewasa, bekerja, menikah, punya anak, lalu menjadi jompo dan mati.”

“Lantas, tanpa melalui tahap menikah, toh kita tetap bisa menjadi jompo dan mati toh, Nan?”

“Betul, Lik. Tapi, jompo sendiri, mati sendiri. Mana enak, Nan?”

“Ya kamu berpikiran sempit kalau begitu. Memang dengan tidak menikah, orang tidak bisa hidup ditemani orang lain? Hayo?” aku menyanggah pandangan Nandia lalu menyeruput kopi pemberiannya yang kini sudah mulai suam-suam kuku.

“Konyol betul isi otakmu. Memang kamu pikir kita bisa kumpul kebo dengan aman di negeri ini? Ya tidak bisa lah! Mimpi kok pagi-pagi begini.” Nandia menghardikku sambil tersenyum sinis.

“Ah, kalau memang begitu ya sudah. Mati sendiri juga tidak menyedihkan. Ada panti jompo, Nan! Tinggal bayar perawat, hidup terawat dan tidak semerawut mikirin orang lain.”

“Duh, ngeyel betul anak ini. Memang kenapa sih anti sekali dengan pernikahan?”

“Aku merasa menikah itu hanya soal melegalkan seks, Nan! Banyak orang menikah hanya karena ingin bisa berhubungan seks secara legal, tanpa takut digerebek warga dan diarak telanjang ke kantor polisi.”

“Lantas apa salahnya, Malika? Kan bagus kalau begitu. Lebih baik menikah daripada pacaran kelamaan dan keburu macam-macam. Atau daripada tidak jelas pasangannya dan gonta-ganti akibat terjebak pergaulan bebas.”

“Ya itu dia salahnya, Nan. Itulah kalau isi otak hanya menganggap orang pacaran itu kalau sudah bersama pasti akan macam-macam. Orang berhubungan itu kan tak melulu karena ingin seks. Sama dengan menikah. Itu kan harusnya bukan soal seks semata. Kalau pandangan orang hanya sebatas pada itu, kita tidak beda dari binatang. Nanti menikah, kebutuhan seks harus selalu terpenuhi. Kurang seks sedikit, kurang puas sedikit, rumah tangga jadi tidak harmonis. Salah satu sedang tidak ingin, yang lainnya jadi ngambek, marah, atau lebih parahnya memaksa. Ketika seks tidak lagi memuaskan dalam pernikahan, akhirnya bercerai!”

Nandia geleng-geleng kepala mendengarkan ocehanku. “Nah, Lik. Itu artinya kan bukan salah pernikahannya. Tapi salah orangnya toh!” 

Sebelum dia lanjut membantah, aku pun lanjut nyerocos.

“Ya pernikahan itu pada akhirnya melegalkan pemaksaan seks tersebut. Ketika suami sedang ngebet sekali misalnya, lalu si istri ternyata sedang letih. Akhirnya apa? Ada kejadian suami memaksa istrinya berhubungan badan. Hal itu kan sama saja dengan suami memperkosa istrinya. Namun, karena mereka sudah terikat pernikahan, maka pemerkosaan itu tidak dianggap serius di ranah hukum. Padahal, pemaksaan kehendak di mana-mana kan melanggar hak asasi manusia?”

“Oke, soal pemerkosaan dalam pernikahan, aku juga setuju bahwa itu nyata dan sering dianggap tidak serius”.

“Tunggu, aku belum selesai. Kemudian soal yang tadi kamu bilang bahwa lebih baik menikah daripada pacaran keburu macam-macam. Pandangan masyarakat yang seperti kamu ini yang akhirnya menjebak orang usia muda pada ikatan pernikahan dini. Padahal, mungkin secara mental pasangan ini belum siap menikah. Lantas, apa yang terjadi? Rumah tangga hancur sedini-dininya.”

“Hoi! Kenapa jadi kamu menyalahkan aku seperti ini sih, Lik. Sabar lah! Kita kan sedang berdiskusi. Kalau demikian, kan pernikahan itu soal siap dan tidak siap. Ketika kamu siap, kamu ya silakan menikah. Masa iya sih ada orang yang seumur hidupnya tidak siap? Ngapain saja dia sepanjang hidup? Kok tidak ada kemajuan?”

“Aduh, Nan. Aku rasa aku tidak siap menjadi istri. Sebab, dalam pernikahan, status istri itu harus terjajah. Ya terjajah suami, ya terjajah mertuanya, ya terjajah masyarakatnya.”

“Maksudmu bagaimana toh bawa-bawa penjajahan. Memangnya kita sedang berperang?”

“Kita sedang berperang, Nan! Berperang melawan ketidakadilan. Apalagi sebagai perempuan, kehidupan pernikahan itu tidak pernah adil untuk kita!”

Nandia menghela nafas panjang. Ia sepertinya mulai lelah meladeniku yang semakin berapi-api.

“Hampir semua agama mengajarkan seorang suami harus menafkahi keluarga, karena itu seorang istri harus melayani sepenuh hati. Bahkan, meskipun sang suami tidak becus mencari nafkah, istri harus tetap melayani suami ketika minta jatah. Hal ini tidak pernah bisa dibantah, Nan. Sebab, kejadian seperti ini banyak sekali bisa kamu temukan, bahkan semudah membalikkan halaman koran”

“Pandangan masyarakat menambah kelanggengan ini. Ketika istri nakal di luar, yang disalahkan adalah dirinya yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Ketika suami melakukan hal yang sama, istri kembali ditunjuk sebagai empunya kesalahan. Istri dianggap tak mampu memuaskan suami sehingga akhirnya membuat suami jadi jajan di luar. Dibilang lah istri tak bisa tidak menjaga penampilan dengan baik serta kurang melayani sehingga akhirnya suami mencari kesempurnaan pada sosok lain. Kamu sering dengar kan orang berujar “makanya, jadi istri jangan pakai daster terus di rumah!” Nah lho, suami yang kurang bersyukur, kenapa istri yang salah?”

“Iya juga sih, Lik”

“Nah kan? Nan, kamu harus sadar. Menjadi istri itu juga berarti harus siap dengan segala ketidakadilan yang dilanggengkan masyarakat. Misalnya nih! Suami boleh bergaul di luar dan jarang di rumah. Semua memandang hal itu tidak masalah karena suami mencari nafkah dan harus memperluas jaringan pertemanan. Sementara ketika istri melakukan hal yang sama, eh semua mata langsung memandangnya sebagai istri yang tidak memperhatikan suami dan hanya suka hura-hura di luar rumah. Istri yang ndak bener!”

“Kamu mungkin sudah tahu, Nan, bahwa kewajiban suami adalah mengutamakan istri dan anaknya. Lucunya, ketika hal itu dilakukan, kadang orang tua sang suami mulai menganggap anaknya ini tak lagi sayang orang tuanya. Istri lagi yang disalahkan karena dianggap telah mengambil seorang anak dari keluarganya sendiri. Istri lah yang dikira mempengaruhi suaminya agar tidak lagi mengasihi ayah dan ibunya sepenuh hati. Ketika kemudian suami mencoba berdebat dengan ibunya karena memang dirinya benar, istri masih juga kena getahnya. Ibu mertua akhirnya akan menjadi sinis karena merasa si istri ini mengajari suami untuk kurang ajar pada ibunya. Sulit kan menjadi seorang istri? Apa-apa salah sendiri.”

“Aku rasa kamu kebanyakan nonton sinetron, Lik. Lihat yang buruk-buruknya saja. Banyak loh pernikahan yang bisa berjalan baik. Tidak semua pernikahan berujung mengerikan seperti dongengmu barusan. Lagipula, orang kan bisa memilih pasangannya. Pilihlah pasangan yang baik, jangan sembarang orang dinikahi.”, Nandia menyahutiku pelan lalu menyeruput teh hangatnya. “Ayo kamu minum dulu juga. Daritadi nyerocos terus apa tidak haus?”

“Ah, siapa yang berani menjamin mendapatkan pasangan yang baik juga otomatis menjadikan pernikahan berjalan mulus? Kamu harus ingat yang barusan kubicarakan. Ada mertua, ada masalah keluarga lain yang kamu tambahkan ke kehidupanmu. Menikah kan di sini bukan soal kawin dengan pasanganmu saja, tetapi juga dengan keluarganya dan berjuta-juta masalah mereka. Kalau kamu ternyata dapat pasangan baik tapi keluarganya blangsak? Bisa apa kamu?”, aku kembali nyerocos sambil terus sibuk mengaduk kopi pahitku dalam cangkir.

“Ya itu namanya risiko, Lik. Kan kamu bisa memilih toh!”

“Nah, itu dia kesimpulannya, Nan. Kamu benar. Menikah itu bukan tujuan tapi soal memilih. Orang boleh memilih mau menikah atau tidak. Bukan lagi orang tua, pasangan, teman, masyarakat, atau negara yang mengharuskan. Bukan takdir lagi yang menjadikan menikah sebagai tujuan hidup.”

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masker, Dari Kontroversi Hingga Peluang Bisnis

Next Post

Ruang Virtual Bali Jani

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Siasat Kerja Panggung Digital

Ruang Virtual Bali Jani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co