14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Virtual Bali Jani

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
October 31, 2020
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Mari kita sepakati terlebih dahulu, bahwa keberadaan festival di masa pandemi begitu penting artinya, terutama dalam rangka menjaga kewarasan kita sebagai manusia. Di tengah wabah yang senantiasa mengintip di sela keseharian, pembatasan fisik, situasi ekonomi yang sulit, serta kebijakan pemerintah yang berbelit dengan berjibun wacana dan kontrofersi yang berkelindan di dalamnya, membuat segala hal jadi kehilangan akal sehat. Hampir-hampir jadi gila dibuatnya. Maka seni, dalam konteks Festival Bali Jani yang terselenggara pada 31 Oktober-7 November ini, boleh jadi ruang alternatif untuk menjaga kesadaran diri kita khususnya sebagai masyarakat Bali untuk tetap waras.

Bayangkan saja jika hari-hari di masa pandemi dilalui tanpa satupun tergelar tontonan, dimanakah masyarakat Bali mesti menari? Sementara hotel-hotel atau kawasan hiburan wisata yang biasa mengupah tari telah tutup lantaran tak ada tourist yang datang. Kapan para penabuh mesti memainkan gamelan, jika odalan di pura juga diharuskan untuk memberlakukan pembatasan fisik, jaga jarak, dan deretan keamanan protokol kesehatan lainnya? Jika tak ada festival, bagaimana seniman bisa mendulang pemasukan sementara bantuan pemerintah yang jumlahnya tak seberapa itu, tak jua kunjung datang? Maka, festival seni tentu menjadi jawaban atas segala persoalan. Bak menyelam minum air, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Perayaan festival setidaknya mampu memberi  bantuan sekaligus membuka ruang kreativitas bagi seniman, di sisi lain memberi hiburan  untuk masyarakat luas.

Meski banyak juga seniman yang tak menggantungkan diri pada hotel-hotel atau kawasan hiburan pariwisata, meski banyak juga seniman yang meyakini ritual pentas tak hanya dapat dilakukan di pura, meski banyak juga seniman yang tak menjadikan acara seni pemerintah sebagai penopang hidup, keberadaan festival tentu tetap mesti diapresiasi. Dalam konteks Festival Bali Jani yang diadakan secara virtual, setidaknya ada hal-hal yang senantiasa dilontarkan sebagai masukan oleh sejumlah kawan seniman, kini secara ‘tidak sengaja’ telah dilakukan dalam penyelenggaraan festival. Saya katakan ‘tidak sengaja’, lantaran karena memang bukan dimaksudkan demikian. Semua tampak hanya dijalankan dengan motif bagaimana acara agar dapat terlaksana dengan baik. Adapun beberapa hal yang dimaksud adalah sebagai berikut.

Yang pertama adalah eksplorasi ruang yang tak lagi menjadikan Art Centre pusat situs pertunjukan. Sebagaimana yang umum diketahui, bahwa selama ini Art Centre boleh dikata menjadi satu-satunya tempat tergelarnya pertunjukan. Utamanya acara pertunjukan yang digelar oleh institusi pemerintah. Alih-alih menjadi pusat tempat pertunjukan, dalam format acara yang monoton, yang berulang setiap tahunnya, Art Centre hari ini justru kehilangan daya pukaunya. Di masa pandemi, ketika acara tak bisa lagi dilakukan di Art Centre, ketika tim panitia membuka ruang kreasi seniman sebebas-bebasnya dengan format virtual, penggunaan ruang alternatif tampak menjadi begitu beragam. Beberapa kelompok diantaranya, ada yang menggunakan gunung, laut, sawah, studio, bahkan kawasan pembuatan tembikar sebagai situs pertunjukan.

Hal ini menjadi menarik untuk disaksikan. Pertunjukan tak hanya menyuguhkan komposisi, gerak, bloking sebagaimana yang biasa hadir di panggung prosenium Art Centre. Pentas juga menghadirkan situs-situs unik yang sekiranya luput kita lihat dan sadari selama ini. Sayangnya, melihat beberapa teaser pentas yang sudah diunggah di laman youtube disbud bali, situs-situs ini tampaknya cenderung digunakan hanya sebagai latar. Tak banyak kelompok yang meniatkan diri merajut pentas berdasar pada penggalian teks-teks yang terkandung dalam situs itu sendiri. Alhasil, menonton pertunjukan tak ubahnya seperti menonton film asing atau menyaksikan video prawedding yang hanya menggunakan situs-situs Bali beserta oramen di dalamnya sebagai sebuah latar. Tanpa pretensi untuk menyajikan narasi-narasi yang hadir di balik situs.

Yang kedua, Festival Seni Bali Jani sekiranya telah mampu membuka ruang reuni bagi tubuh para penari Bali menyinggahi ruang primordialnya. Adapun ruang primordial yang dimaksud adalah bentang alam agraris yang sejatinya menjadi cikal bakal estetika seni Bali hidup, tumbuh dan berkembang. Merujuk pada foto-foto masa lalu para seniman Bali tempo dulu, dapat kita lihat bagaimana mereka menari di jaba Pura, beralas tanah serta melakukan ritual adat dimana pohon tumbuh dengan lebatnya, tak ada gedung, tak ada deru mobil kendaraan yang menghiasi. Berbanding terbalik jika melihat potret tubuh penari hari ini yang berloncatan dari panggung ke panggung, dari hotel ke hotel.

Reuni, barangkali menjadi kata paling tepat untuk digunakan. Hampir sama kualitasnya seperti acara reuni sekolahan, dimana kita bersiap sebaik, secantik, seganteng mungkin untuk tampil bertemu kawan masa sekolahnya. Pada video pertunjukan Festival Bali Jani, kita akan kembali menyaksikan para penari yang berusaha mengakrabi ruang primordialnya di tanah tandus, di air laut serta semak belukar. Bedanya, jika para penari dulu tampak hitam, berpeluh, dengan kostum sederhana, kini para penari tampak putih dengan bedak tebal, rias warna warni,  dan  hingar bingar kostum. Entah, bagaimanakah kemudian generasi selanjutnya mengenali para penari ini. Bisakah kemudian dikenali, sebagaimana kita hari ini yang berusaha menelusuri mana rupa I Mario, I Sampih, Ni Pollok dan sebagainya dalam potret Bali tempo dulu?

Yang ketiga adalah penyelenggaraan Festival Bali Jani yang sekiranya mampu menjadi cikal bakal kehadiran bentuk festival alternatif yang lain. Diakui atau tidak, yang dijadikan rujukan festival selama ini hanyalah Pesta Kesenian Bali semata, baik dalam konteks latar belakang, bentuk sampai indikator pencapaian. Festival yang sudah cukup tua usianya ini, yang berhasil menggait ribuan penonton di dalamnya dijadikan satu-satunya rujukan keberhasilan tanpa pernah sekalipun mempertimbangkan hal-hal lain di luar format dan bentuk acara, semisal kepada kalangan manakah sesungguhnya festival diselenggarakan? Apa tujuan festival? Bagaimana kemudian mesti mengkonsepkannya? Mestikah semua festival harus disamakan dengan capaian PKB?

Sebab setiap festival mesti punya visinya masing-masing, yang tak bisa disamakan satu dengan lainnya. Visi yang matang berpengaruh pada bentuk festival, berpengaruh pula pada pemilihan medium penyelenggaraan festival. Dalam konteks ini, platform youtube yang digunakan sebagai media penyelenggaraan Festival Bali Jani misalnya, tentu juga mesti dievaluasi kegunaannya. Sejauh manakah  mampu berhasil membawa agenda festival? Bisakah youtube mengakomodir gagasan modernitas kekinian yang senantiasa dikumandangkan sebagai semangat Bali Jani? Terlebih lagi jika channel youtube dikelola seperti hobi. Diupload jikalau hanya ada waktu dan kuota.

Dalam konteks ini, realitas festival nyata tentu berbeda dengan realitas virtual. Diperlukan berbagai persiapan dan pertimbangan matang dalam pelaksanaannya. Pada ruang virtual yang cenderung menyetarakan segala hal, menempatkan produk kesenian dengan produk kerajinan, gossip, hoaks dalam ruang yang sama, maka kita pun mesti menyiapkan siasat agar produk festival tetap punya nilai penting diantara deretan konten yang hadir dalam ruang virtual. Alih-alih mengusung seni untuk menjaga kewarasan, jangan sampai membuat para seniman jadi lebih frustasi lagi.  

Cih! Sudah buat susah-susah, berdarah-darah, tapi kok tak ada yang menonton pertunjukan kita ya?Males dah! Mending dah tik-tokan aja!

Denpasar, 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan Menikah: Tujuan, Pilihan, atau Nasib?

Next Post

Tidak Ingin Melampaui Apa-Apa

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tidak Ingin Melampaui Apa-Apa

Tidak Ingin Melampaui Apa-Apa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co