14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mempertanyakan Bencana Alam

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
October 16, 2020
in Esai
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Doni Wijaya [Ilustrasi oleh Nana Partha]

Banjir, kekeringan, abrasi, longsor, gempa bumi, gunung meletus bahkan tsunami sering disebut bencana alam sehingga saat jatuh korban pemerintah memberi bantuan dan dirikan tenda pengungsian. Dilihat lebih jauh, sesungguhnya yang terjadi adalah  kelompok yang berpendapatan rendah dan amat rendah jauh lebih menderita akibat dampak itu daripada kelompok berpendapatan tinggi. Ini bukan bencana alam melainkan bencana ekologis dan ketimpangan kelas dimana kelas menengah dan atas tinggal di lingkungan yang lebih sehat dan punya fasilitas untuk meredakan dampak dari fenomena alam tersebut seperti di kawasan perumahan mahal dimana bahan bangunannya kokoh tahan gempa , badai dan tinggi rumahnya mencapai satu meter atau lebih dari badan jalan sehingga air sulit masuk rumah. Masyarakat kelas bawah jarang mendapatkan hal tersebut.  Di Bali banjir, kekeringan, dan abrasi adalah bencana yang sering terjadi.

Banjir di Denpasar . Sumber Foto: https://news.detik.com/foto-news/d-5036476/kawasan-griya-anyar-bali-terendam-banjir/1

Abrasi terjadi karena air laut mengikis pantai dan masuk lebih dalam ke daratan. Ketika pantai tergerus dia akan tenggelam dan luas daratan menyusut. DI balik bencana alam yang dibunyikan pihak penguasa pantai akan/ sudah ditambang pasirnya dan hutan bakau dirusak untuk industri tambak atau pariwisata. Ini jelas menghancurkan pertahanan pantai.

Hutan bakau menahan air laut dan menggunakannya sebagai pelarut nutrient tanaman. Tanah di pesisir yang ditopang akar bakau menahan air laut. Pasir menyerap air oleh karena itu air laut cepat berhenti sebelum melaju lebih jauh dari bibir pantai. Oleh karena itu penambangan pasir akan menimbulkan abrasi dan ini akibat kebijakan politik yang mengeksploitasi untuk kepentingan korporasi dan bisnis besar dan yang menunjang itu seperti bangun pelabuhan, bandara dan reklamasi pulau. Mereka berkepentingan karena menunjang bisnis dan dibiayai oleh uang negara. Lalu saat terjadi bencana di tempat bekas tambang pasir, negara yang menanggung efeknya . Ini berarti beban ditanggung oleh rakyat dan pemerintah.

Bencana alam adalah salah satu topeng bagi pihak pihak seperti korporasi dan elit elit untuk melanjutkan bisnis sebagaimana biasanya. Banjir di perkotaan terjadi karena salah penataan ruang dimana ruang hijau kurang dari 50%. Air tidak meresap ke tanah dan air tanah tidak diperbaharui. Saat musim hujan terjadi banjir. Pada masa kemarau muncul kesulitan air bersih. Tata ruang yang keliru ini karena kepentingan pengembang dan kongsi penguasa dengan pengusaha yang mencaploknya untuk bangun jalan atau bangunan. Saat terjadi banjir , tempat tinggal masyarakat kelas bawah tergenang bahkan nyaris tenggelam sedangkan rumah kelas atas tidak karena dibangun lebih tinggi beberapa meter dari jalan.

 Lalu ada satu penyebab yang menimbulkan bencana banjir kekeringan dan longsor yaitu penebangan hutan. Korporasi melakukan itu untuk akumulasi modal dari penjualan kayu dan sawit kemudian warga disekitarnya menderita kesulitan air karena kelembapan tanah dam daya serap air pada tanah hilang akibat menjadi ladang monokultur bahkan gundul. Korporasi dapat untung lalu membuka lahan hutan lainnya. Juga penambangan yang buat tanah jadi tak stabil dan longsor saat hujan deras.

Ini semua bukti bahwa fenomena alam yang menimbulkan korban lebih tepat disebut bencana ekologis. Di daerah yang rawan gempa desain bangunan harus kokoh dan tahan gempa dengan ketentuan yang baku demi keselamatan warga sekitar dan penghuni gedung. Menyebut tragedi itu sebagai bencana alam adalah sikap fatalis dan menunjukkan keenganan negara melindungi warganya untuk hidup layak. Alam jadi kambing hitam padahal ulah manusianya yang harus dipertanyakan.

Sikap ini buat manusia menerima saja dan pasrah. Ini menghambat penyelesaian masalah. Kemudian coba lihat bencana angin topan yang merobohkan atap  dan dinding bangunannya. Itu karena konstruksinya tidak memadai . Di sini pentingnya ilmu pengetahuan tata ruang, geografi arsitektur dan materi untuk melindungi diri kita dan hidup selaras dengan alam. Berkaca pada bencana ekologi dan nonekologi yang terjadi ada tiga hal yang harus dilakukan . Pertama menghentikan aktivitas tambang, penebangan liar, konversi hutan jadi monokultur sawit atau hutan tanam industri dengan berikan sanksi bagi korporasi yang melakukan pengrusakan lingkungan dan pejabat yang memberikan izin atau menerima suap dari korporasi. Kedua Mewajibkan pelaku pengrusakan ekologi seperti korporasi memulihkan bentang alam pantai,bukit dan hutan yang dirusaknya. Ketiga, fasilitasi pemberdayaan warga terdampak untuk memanfaatkan lahannya secara berkelanjutan dan menjamin kedaulatan mereka atas pangan, air, sandang, energi dan tempat tinggal. Mereka juga berpartisipasi untuk memperkaya keragaman hayati di lahan itu dengan bertani secara tumpang sari tanpa pestisida dan pupuk kimia. Lalu politik tata ruang harus partisipatif dan libatkan rakyat di daerah yang akan dibangun suatu proyek  bukan hanya melibatkan korporasi dan bisnis pengembang untuk segelintir oligarki. Perluas ruang hijau perkotaan termasuk kebun , lahan pertanian regenerative seperti permakultur dan sawah organic serta hutan kaya keragaman hayati untuk resapan air, udara sejuk dan sumber makanan.

Buat infrastruktur transportasi umum agar mengurangi luas permukaan tanah yang dibetun untuk parkir sehingga memperluas penyerapan air tanah karena dijadikan ruang hijau berumput atau berpohon. Pelajar ilmu tata ruang, geografi,  arsitetur dan ilmu material harus kerja sama merumuskan tempat tinggal warga layak huni dimana yang pertama merancang wilayah yang dijadikan hutan kota, ruang terbuka hijau , sawah, pabrik , kawasan urban dan pemukiman.   Yang kedua memetakan kondisi kestabilan tanah, wilayah rawan bencana gempa , longsor dan angin topan serta potensi bencana ekologi yang terjadi akibat kegiatan yang berlangsung. Yang ketiga membuat rancangan bangunan yang tahan  gempa, angin topan, dan mencegah kebakaran dengan menggunakan sedikit bahan materi dan cocok untuk tempat tinggal sederhana layak huni bagi warga kelas bawah. Yang keempat menguji materi materi yang paling kuat  untuk bangunan tersebut.

Ini adalah pengamalan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dimana tiap orang berhak atas tempat tinggal layak dan lingkungan yang sehat. Bencana ekologi menambah bebas psikologi. Ambil contoh banjir. Air kotor memasuki rumah  menghambat aktivitas warga , menimbukan wabah penyakit  demam berdarah. Timbul beban ekonomi berupa pengeluaran biaya kesehatan. Warga yang tinggal tak jauh dari kawasan banjir  meski tidak ikut terkena genangan air berpeluang tertular demam berdarah akibat sarang nyamuk aedes aegypti bermunculan. Ini bukti bahwa bencana banjir berdampak juga ke daerah yang tidak ada banjir sama sekali.

Apa yang disebut bencana alam jauh lebih besar berdampak pada kelompok penduduk berpendapatan rendah. Faktor ketimpangan sosial berperan disini. Orang berpendapatan rendah cenderung tinggal di lingkungan yang kurang sehat, lebih rentan dan kondisi tempat tinggal serta fasilitas penanggulangan bencana di lokasi terbilang memprihatinkan. Sudah seharusnya negara menjalankan kewajibannya untuk menjamin hak hak warga negara hidup sehat dan layak. Semua warga negara membayar pajak, tapi jaminan atas lingkungan yang sehat dan keselamatan untuk warga berpendapatan rendah belum dapat dikatakan memuaskan.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Droplet Itu Berguna

Next Post

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co