24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mempertanyakan Bencana Alam

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
October 16, 2020
in Esai
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Doni Wijaya [Ilustrasi oleh Nana Partha]

Banjir, kekeringan, abrasi, longsor, gempa bumi, gunung meletus bahkan tsunami sering disebut bencana alam sehingga saat jatuh korban pemerintah memberi bantuan dan dirikan tenda pengungsian. Dilihat lebih jauh, sesungguhnya yang terjadi adalah  kelompok yang berpendapatan rendah dan amat rendah jauh lebih menderita akibat dampak itu daripada kelompok berpendapatan tinggi. Ini bukan bencana alam melainkan bencana ekologis dan ketimpangan kelas dimana kelas menengah dan atas tinggal di lingkungan yang lebih sehat dan punya fasilitas untuk meredakan dampak dari fenomena alam tersebut seperti di kawasan perumahan mahal dimana bahan bangunannya kokoh tahan gempa , badai dan tinggi rumahnya mencapai satu meter atau lebih dari badan jalan sehingga air sulit masuk rumah. Masyarakat kelas bawah jarang mendapatkan hal tersebut.  Di Bali banjir, kekeringan, dan abrasi adalah bencana yang sering terjadi.

Banjir di Denpasar . Sumber Foto: https://news.detik.com/foto-news/d-5036476/kawasan-griya-anyar-bali-terendam-banjir/1

Abrasi terjadi karena air laut mengikis pantai dan masuk lebih dalam ke daratan. Ketika pantai tergerus dia akan tenggelam dan luas daratan menyusut. DI balik bencana alam yang dibunyikan pihak penguasa pantai akan/ sudah ditambang pasirnya dan hutan bakau dirusak untuk industri tambak atau pariwisata. Ini jelas menghancurkan pertahanan pantai.

Hutan bakau menahan air laut dan menggunakannya sebagai pelarut nutrient tanaman. Tanah di pesisir yang ditopang akar bakau menahan air laut. Pasir menyerap air oleh karena itu air laut cepat berhenti sebelum melaju lebih jauh dari bibir pantai. Oleh karena itu penambangan pasir akan menimbulkan abrasi dan ini akibat kebijakan politik yang mengeksploitasi untuk kepentingan korporasi dan bisnis besar dan yang menunjang itu seperti bangun pelabuhan, bandara dan reklamasi pulau. Mereka berkepentingan karena menunjang bisnis dan dibiayai oleh uang negara. Lalu saat terjadi bencana di tempat bekas tambang pasir, negara yang menanggung efeknya . Ini berarti beban ditanggung oleh rakyat dan pemerintah.

Bencana alam adalah salah satu topeng bagi pihak pihak seperti korporasi dan elit elit untuk melanjutkan bisnis sebagaimana biasanya. Banjir di perkotaan terjadi karena salah penataan ruang dimana ruang hijau kurang dari 50%. Air tidak meresap ke tanah dan air tanah tidak diperbaharui. Saat musim hujan terjadi banjir. Pada masa kemarau muncul kesulitan air bersih. Tata ruang yang keliru ini karena kepentingan pengembang dan kongsi penguasa dengan pengusaha yang mencaploknya untuk bangun jalan atau bangunan. Saat terjadi banjir , tempat tinggal masyarakat kelas bawah tergenang bahkan nyaris tenggelam sedangkan rumah kelas atas tidak karena dibangun lebih tinggi beberapa meter dari jalan.

 Lalu ada satu penyebab yang menimbulkan bencana banjir kekeringan dan longsor yaitu penebangan hutan. Korporasi melakukan itu untuk akumulasi modal dari penjualan kayu dan sawit kemudian warga disekitarnya menderita kesulitan air karena kelembapan tanah dam daya serap air pada tanah hilang akibat menjadi ladang monokultur bahkan gundul. Korporasi dapat untung lalu membuka lahan hutan lainnya. Juga penambangan yang buat tanah jadi tak stabil dan longsor saat hujan deras.

Ini semua bukti bahwa fenomena alam yang menimbulkan korban lebih tepat disebut bencana ekologis. Di daerah yang rawan gempa desain bangunan harus kokoh dan tahan gempa dengan ketentuan yang baku demi keselamatan warga sekitar dan penghuni gedung. Menyebut tragedi itu sebagai bencana alam adalah sikap fatalis dan menunjukkan keenganan negara melindungi warganya untuk hidup layak. Alam jadi kambing hitam padahal ulah manusianya yang harus dipertanyakan.

Sikap ini buat manusia menerima saja dan pasrah. Ini menghambat penyelesaian masalah. Kemudian coba lihat bencana angin topan yang merobohkan atap  dan dinding bangunannya. Itu karena konstruksinya tidak memadai . Di sini pentingnya ilmu pengetahuan tata ruang, geografi arsitektur dan materi untuk melindungi diri kita dan hidup selaras dengan alam. Berkaca pada bencana ekologi dan nonekologi yang terjadi ada tiga hal yang harus dilakukan . Pertama menghentikan aktivitas tambang, penebangan liar, konversi hutan jadi monokultur sawit atau hutan tanam industri dengan berikan sanksi bagi korporasi yang melakukan pengrusakan lingkungan dan pejabat yang memberikan izin atau menerima suap dari korporasi. Kedua Mewajibkan pelaku pengrusakan ekologi seperti korporasi memulihkan bentang alam pantai,bukit dan hutan yang dirusaknya. Ketiga, fasilitasi pemberdayaan warga terdampak untuk memanfaatkan lahannya secara berkelanjutan dan menjamin kedaulatan mereka atas pangan, air, sandang, energi dan tempat tinggal. Mereka juga berpartisipasi untuk memperkaya keragaman hayati di lahan itu dengan bertani secara tumpang sari tanpa pestisida dan pupuk kimia. Lalu politik tata ruang harus partisipatif dan libatkan rakyat di daerah yang akan dibangun suatu proyek  bukan hanya melibatkan korporasi dan bisnis pengembang untuk segelintir oligarki. Perluas ruang hijau perkotaan termasuk kebun , lahan pertanian regenerative seperti permakultur dan sawah organic serta hutan kaya keragaman hayati untuk resapan air, udara sejuk dan sumber makanan.

Buat infrastruktur transportasi umum agar mengurangi luas permukaan tanah yang dibetun untuk parkir sehingga memperluas penyerapan air tanah karena dijadikan ruang hijau berumput atau berpohon. Pelajar ilmu tata ruang, geografi,  arsitetur dan ilmu material harus kerja sama merumuskan tempat tinggal warga layak huni dimana yang pertama merancang wilayah yang dijadikan hutan kota, ruang terbuka hijau , sawah, pabrik , kawasan urban dan pemukiman.   Yang kedua memetakan kondisi kestabilan tanah, wilayah rawan bencana gempa , longsor dan angin topan serta potensi bencana ekologi yang terjadi akibat kegiatan yang berlangsung. Yang ketiga membuat rancangan bangunan yang tahan  gempa, angin topan, dan mencegah kebakaran dengan menggunakan sedikit bahan materi dan cocok untuk tempat tinggal sederhana layak huni bagi warga kelas bawah. Yang keempat menguji materi materi yang paling kuat  untuk bangunan tersebut.

Ini adalah pengamalan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dimana tiap orang berhak atas tempat tinggal layak dan lingkungan yang sehat. Bencana ekologi menambah bebas psikologi. Ambil contoh banjir. Air kotor memasuki rumah  menghambat aktivitas warga , menimbukan wabah penyakit  demam berdarah. Timbul beban ekonomi berupa pengeluaran biaya kesehatan. Warga yang tinggal tak jauh dari kawasan banjir  meski tidak ikut terkena genangan air berpeluang tertular demam berdarah akibat sarang nyamuk aedes aegypti bermunculan. Ini bukti bahwa bencana banjir berdampak juga ke daerah yang tidak ada banjir sama sekali.

Apa yang disebut bencana alam jauh lebih besar berdampak pada kelompok penduduk berpendapatan rendah. Faktor ketimpangan sosial berperan disini. Orang berpendapatan rendah cenderung tinggal di lingkungan yang kurang sehat, lebih rentan dan kondisi tempat tinggal serta fasilitas penanggulangan bencana di lokasi terbilang memprihatinkan. Sudah seharusnya negara menjalankan kewajibannya untuk menjamin hak hak warga negara hidup sehat dan layak. Semua warga negara membayar pajak, tapi jaminan atas lingkungan yang sehat dan keselamatan untuk warga berpendapatan rendah belum dapat dikatakan memuaskan.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Droplet Itu Berguna

Next Post

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co