3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mempertanyakan Bencana Alam

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
October 16, 2020
in Esai
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Doni Wijaya [Ilustrasi oleh Nana Partha]

Banjir, kekeringan, abrasi, longsor, gempa bumi, gunung meletus bahkan tsunami sering disebut bencana alam sehingga saat jatuh korban pemerintah memberi bantuan dan dirikan tenda pengungsian. Dilihat lebih jauh, sesungguhnya yang terjadi adalah  kelompok yang berpendapatan rendah dan amat rendah jauh lebih menderita akibat dampak itu daripada kelompok berpendapatan tinggi. Ini bukan bencana alam melainkan bencana ekologis dan ketimpangan kelas dimana kelas menengah dan atas tinggal di lingkungan yang lebih sehat dan punya fasilitas untuk meredakan dampak dari fenomena alam tersebut seperti di kawasan perumahan mahal dimana bahan bangunannya kokoh tahan gempa , badai dan tinggi rumahnya mencapai satu meter atau lebih dari badan jalan sehingga air sulit masuk rumah. Masyarakat kelas bawah jarang mendapatkan hal tersebut.  Di Bali banjir, kekeringan, dan abrasi adalah bencana yang sering terjadi.

Banjir di Denpasar . Sumber Foto: https://news.detik.com/foto-news/d-5036476/kawasan-griya-anyar-bali-terendam-banjir/1

Abrasi terjadi karena air laut mengikis pantai dan masuk lebih dalam ke daratan. Ketika pantai tergerus dia akan tenggelam dan luas daratan menyusut. DI balik bencana alam yang dibunyikan pihak penguasa pantai akan/ sudah ditambang pasirnya dan hutan bakau dirusak untuk industri tambak atau pariwisata. Ini jelas menghancurkan pertahanan pantai.

Hutan bakau menahan air laut dan menggunakannya sebagai pelarut nutrient tanaman. Tanah di pesisir yang ditopang akar bakau menahan air laut. Pasir menyerap air oleh karena itu air laut cepat berhenti sebelum melaju lebih jauh dari bibir pantai. Oleh karena itu penambangan pasir akan menimbulkan abrasi dan ini akibat kebijakan politik yang mengeksploitasi untuk kepentingan korporasi dan bisnis besar dan yang menunjang itu seperti bangun pelabuhan, bandara dan reklamasi pulau. Mereka berkepentingan karena menunjang bisnis dan dibiayai oleh uang negara. Lalu saat terjadi bencana di tempat bekas tambang pasir, negara yang menanggung efeknya . Ini berarti beban ditanggung oleh rakyat dan pemerintah.

Bencana alam adalah salah satu topeng bagi pihak pihak seperti korporasi dan elit elit untuk melanjutkan bisnis sebagaimana biasanya. Banjir di perkotaan terjadi karena salah penataan ruang dimana ruang hijau kurang dari 50%. Air tidak meresap ke tanah dan air tanah tidak diperbaharui. Saat musim hujan terjadi banjir. Pada masa kemarau muncul kesulitan air bersih. Tata ruang yang keliru ini karena kepentingan pengembang dan kongsi penguasa dengan pengusaha yang mencaploknya untuk bangun jalan atau bangunan. Saat terjadi banjir , tempat tinggal masyarakat kelas bawah tergenang bahkan nyaris tenggelam sedangkan rumah kelas atas tidak karena dibangun lebih tinggi beberapa meter dari jalan.

 Lalu ada satu penyebab yang menimbulkan bencana banjir kekeringan dan longsor yaitu penebangan hutan. Korporasi melakukan itu untuk akumulasi modal dari penjualan kayu dan sawit kemudian warga disekitarnya menderita kesulitan air karena kelembapan tanah dam daya serap air pada tanah hilang akibat menjadi ladang monokultur bahkan gundul. Korporasi dapat untung lalu membuka lahan hutan lainnya. Juga penambangan yang buat tanah jadi tak stabil dan longsor saat hujan deras.

Ini semua bukti bahwa fenomena alam yang menimbulkan korban lebih tepat disebut bencana ekologis. Di daerah yang rawan gempa desain bangunan harus kokoh dan tahan gempa dengan ketentuan yang baku demi keselamatan warga sekitar dan penghuni gedung. Menyebut tragedi itu sebagai bencana alam adalah sikap fatalis dan menunjukkan keenganan negara melindungi warganya untuk hidup layak. Alam jadi kambing hitam padahal ulah manusianya yang harus dipertanyakan.

Sikap ini buat manusia menerima saja dan pasrah. Ini menghambat penyelesaian masalah. Kemudian coba lihat bencana angin topan yang merobohkan atap  dan dinding bangunannya. Itu karena konstruksinya tidak memadai . Di sini pentingnya ilmu pengetahuan tata ruang, geografi arsitektur dan materi untuk melindungi diri kita dan hidup selaras dengan alam. Berkaca pada bencana ekologi dan nonekologi yang terjadi ada tiga hal yang harus dilakukan . Pertama menghentikan aktivitas tambang, penebangan liar, konversi hutan jadi monokultur sawit atau hutan tanam industri dengan berikan sanksi bagi korporasi yang melakukan pengrusakan lingkungan dan pejabat yang memberikan izin atau menerima suap dari korporasi. Kedua Mewajibkan pelaku pengrusakan ekologi seperti korporasi memulihkan bentang alam pantai,bukit dan hutan yang dirusaknya. Ketiga, fasilitasi pemberdayaan warga terdampak untuk memanfaatkan lahannya secara berkelanjutan dan menjamin kedaulatan mereka atas pangan, air, sandang, energi dan tempat tinggal. Mereka juga berpartisipasi untuk memperkaya keragaman hayati di lahan itu dengan bertani secara tumpang sari tanpa pestisida dan pupuk kimia. Lalu politik tata ruang harus partisipatif dan libatkan rakyat di daerah yang akan dibangun suatu proyek  bukan hanya melibatkan korporasi dan bisnis pengembang untuk segelintir oligarki. Perluas ruang hijau perkotaan termasuk kebun , lahan pertanian regenerative seperti permakultur dan sawah organic serta hutan kaya keragaman hayati untuk resapan air, udara sejuk dan sumber makanan.

Buat infrastruktur transportasi umum agar mengurangi luas permukaan tanah yang dibetun untuk parkir sehingga memperluas penyerapan air tanah karena dijadikan ruang hijau berumput atau berpohon. Pelajar ilmu tata ruang, geografi,  arsitetur dan ilmu material harus kerja sama merumuskan tempat tinggal warga layak huni dimana yang pertama merancang wilayah yang dijadikan hutan kota, ruang terbuka hijau , sawah, pabrik , kawasan urban dan pemukiman.   Yang kedua memetakan kondisi kestabilan tanah, wilayah rawan bencana gempa , longsor dan angin topan serta potensi bencana ekologi yang terjadi akibat kegiatan yang berlangsung. Yang ketiga membuat rancangan bangunan yang tahan  gempa, angin topan, dan mencegah kebakaran dengan menggunakan sedikit bahan materi dan cocok untuk tempat tinggal sederhana layak huni bagi warga kelas bawah. Yang keempat menguji materi materi yang paling kuat  untuk bangunan tersebut.

Ini adalah pengamalan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dimana tiap orang berhak atas tempat tinggal layak dan lingkungan yang sehat. Bencana ekologi menambah bebas psikologi. Ambil contoh banjir. Air kotor memasuki rumah  menghambat aktivitas warga , menimbukan wabah penyakit  demam berdarah. Timbul beban ekonomi berupa pengeluaran biaya kesehatan. Warga yang tinggal tak jauh dari kawasan banjir  meski tidak ikut terkena genangan air berpeluang tertular demam berdarah akibat sarang nyamuk aedes aegypti bermunculan. Ini bukti bahwa bencana banjir berdampak juga ke daerah yang tidak ada banjir sama sekali.

Apa yang disebut bencana alam jauh lebih besar berdampak pada kelompok penduduk berpendapatan rendah. Faktor ketimpangan sosial berperan disini. Orang berpendapatan rendah cenderung tinggal di lingkungan yang kurang sehat, lebih rentan dan kondisi tempat tinggal serta fasilitas penanggulangan bencana di lokasi terbilang memprihatinkan. Sudah seharusnya negara menjalankan kewajibannya untuk menjamin hak hak warga negara hidup sehat dan layak. Semua warga negara membayar pajak, tapi jaminan atas lingkungan yang sehat dan keselamatan untuk warga berpendapatan rendah belum dapat dikatakan memuaskan.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Droplet Itu Berguna

Next Post

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co