2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 20, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

—Catatan Hari Sugi Lanus, 19 Oktober 2020

.

Sebuah brosur pariwisata terbit tahun 1914, berjudul: “ILLUSTRATED TOURIST GUIDE TO EAST JAVA, BALI AND LOMBOK” isinya berupa panduan perjalanan wisata ke Jawa Timur, Bali dan Lombok.

Sebuah brosur pariwisata terbit tahun 1914, berjudul: “ILLUSTRATED TOURIST GUIDE TO EAST JAVA, BALI AND LOMBOK” isinya berupa panduan perjalanan wisata ke Jawa Timur, Bali dan Lombok.

Saya perhatikan rutenya bagaimana memulai perjalanan di Bali di tahun 1914. Dari mana dan kemana saja mobil wisata bisa menjangkau?

Terbentang:

— Tahun 1914 jalan tembus SINGARAJA—BEDUGUL tidak ada.

— Rute perjalanan pariwisata periode itu dimuai dari Pelabuhan Buleleng berputar di Singaraja dan kalau ke Bali Selatan harus melalui Kintamani dan Bangli, lalu ke Ubud, atau ke Karangasem. Itupun setelah sebelum tahun itu dibangun jembatan besi oleh Belanda sebagai usaha peningkatan transportasi mobil antar wilayah.

— Para pegawai Belanda jika kepanasan di Singaraja berpelesir ke Moendoek ke Pasangrahan yang memang dibangun oleh mereka sebagai “rumah musim panas” mereka mencari udara dingin. Jalan yang telah terbuka untuk mobil adalah Singaradja, Boeboenan lalu naik sampai Moendoek.

— Jika ke Denpasar lewat Moendoek harus jalan kaki dari Moendoek atau naik kuda, menyusur jalan setapak utara Tamblingan dan Buyan, turun ke danau Beratan, baru ada jalan di Baturiti.

Jika dibandingkan dengan catatan perjalanan Rabindranath Tagore keliling Bali di tahun 1927, ketika rombongan kembali dari Denpasar lewat Batoeriti, Tagore dan rombongan hanya bermobil sampai Batoeriti. Selanjutnya naik kuda. Disediaan oleh petugas yang mengurus kunjungan Tagore. Dari Batoeriti ke Pura Ulun Danu Beratan Tagore berjalan kaki dan berkuda, kemudian menyusuri setapak Wanagiri, di atas Pancasari atau Bedugul, menuju Moendok.

Kapan dibangun SHORT-CUT SINGARAJA—BEDUGUL? Tepatnya: Kapan jalan tembus ini dibangun?

Sebelum ada short-cut Singaraja—Bedugul, jika opsir Belanda yang tinggal di Singaraja ingin berlibur di Pesanggrahan Danau Beratan, mereka harus lewat jalan Seririt—Pupuan, lalu Tabanan, Mengwi dan naik ke Baturiti, dari sana berlanjut ke Danau Beratan.

Kakek saya bercerita jalan tembus Singaraja—Bedugul dibangun bertahap. Kalau tidak saya ingat, kakek cerita itu terjadi tahun 1930, mungkin sekitar tahun 1938 ketika kakek pernah melintas ke sana menuju Denpasar. Itu berdasarkan ingatan saya di masa SD kakek bercerita tentang perjalananya ke Badung. Belakangan, sambil saya belajar bahasa Belanda, saya baca-baca koran tahun 1920—1940 untuk menguji kebenaran informasi kakek kalau 1930-an adalah tahun tembus jalan Singaraja-Bedugul, seperti yang dikisahkan kakek.

Suasana pembukaan jalan di Bali, diperkirakan di Buleleng.
Pembukaan jalan tembus dalam masa kolonial.
Rambu petunjuk jalan menuju Singaraja dari perimpangan Kediri, Tabanan

Ternyata Singaraja—Gigit lebih awal dibangun untuk memberi akses pariwisata bisa melihat AIR TERJUN GIGIT! Cerita kakek saya dikonfirmasi oleh berita KORAN SINPO yang berbahasa Melayu dimuat kisah wisatawan China yang plesir ke Air Terjun Gitgit. Jalan dari kota Singaraja mentok sampai di sana. Diceritakan dalam jika ke Denpasar ya harus balik ke Singaraja lanjut ke Kubutambahan ke Pura Bedji lalu ke Pesanggrahan Kitamani istirahat dan lanjut ke Bali Selatan.

Dalam Sinpo, Saptoe 14 October 1933 itu sang tamu yang menulis perjalanannya ke Gigit berkisah dan memotret Air Terjun Gigit. Artinya, tahun 1933 sudah dibuka jalan Singaradja ke Gitgit. Jadi saya pikir yang dikisahkan kakek ke saya tahun 1938 itu jangan-jangan perbaikan jalan atau jalan tembus GITGIT—BEDUGUL?

Dalam tulisan Sinpo tersebut ditulis:

“Kita sampe di Boeleleng kira-kira djam 4 sore dan besokannja, tanggal 17 kita soeda moesti balik lagi dengen kapal Van Lansberge jang brangkat djam 12 siang, hingga kita tida mempoenjai banjak tempo. Atas advies dari K. P. M. kita sewa autonja Mah Patimah dengen bajar lima gobang per kilometer. Ini tarief menoeroet agent K. P. M. dan Mah Patimah ada jang paling „baek”,tapi apa ini matjem baja- ran ada jang paling moerah si tou­rist boleh timbang sendiri……… Kita pertama koendjoengin Git­git jang letaknja tjoema 11 K.M. dari Boeleleng dengen liwatin Singaradja. Pemandangan di sepan­djang djalan ada sanget indah dan dari Gitgit orang bisa liat laoetan dengen njata sekali….”

“Kita sampe di Boeleleng kira-kira djam 4 sore dan besokannja, tanggal 17 kita soeda moesti balik lagi dengen kapal Van Lansberge jang brangkat djam 12 siang, hingga kita tida mempoenjai banjak tempo. Atas advies dari K. P. M. kita sewa autonja Mah Patimah dengen bajar lima gobang per kilometer. Ini tarief menoeroet agent K. P. M. dan Mah Patimah ada jang paling „baek”,tapi apa ini matjem baja- ran ada jang paling moerah si tou­rist boleh timbang sendiri……… Kita pertama koendjoengin Git­git jang letaknja tjoema 11 K.M. dari Boeleleng dengen liwatin Singaradja. Pemandangan di sepan­djang djalan ada sanget indah dan dari Gitgit orang bisa liat laoetan dengen njata sekali….”

Dalam Sinpo, Saptoe 14 October 1933, seorang tamu Tionghoa menulis perjalanannya ke Gigit dan memotret Air Terjun Gigit. Jalan dari Singaraja ketika itu mentok di Gitgit. Belum tembus ke Bedugul.

Dari Sinpo ini saya mendapat informasi kalau tahun 1933 jalan Gigit—Bedugul belum tembus.

Sampai bulan April 1937 belum saya dapat kejelasan SHORT-CUT Gitgit-Bedugul. Oudheidkundig Verslag 1919 saya buka belum ada rencana pembangunan jalan tembus itu. Demikian juga Oudheidkundig Verslag 1930.

Sebuah berita berbahasa Belanda memberitakan PESANGGRAHAN DI DANAU BRATAN, isinya: “Diputuskan di bawah Resident Caron untuk membangun jalan penghubung dari Gitgit di sepanjang danau atas ke Batoeriti, yang akan mengurangi koneksi Singaradja-Denpasar menjadi sekitar 2 jam berkendara.”

Passanggrahan aan het Bratan-meer — Pesanggrahan danau Bratan, Bedugul.
Suasana penyambutan tamu di Pesanggrahan Danau Bratan tahun 1930-an.

Berita lengkapnya, di sini saya kutip dan terjemahkan:

PASSANGGRAHAN DI DANAU BRATAN.

“Seperti yang akan beritakan ke pembaca, diputuskan di bawah Resident Caron untuk membangun jalan penghubung dari Gitgit di sepanjang danau atas ke Batoeriti, yang akan mengurangi koneksi Singaradja-Denpasar menjadi sekitar 2 jam berkendaraan. Selama kunjungan ke Danau Bratan, yang membuat kesan begitu tenang dan megah pada pelancong karena hutannya berlembah curam dan terjal, Residen Caron mematangkan rencana untuk membangun pasanggrahan yang sangat sederhana, di mana wisatawan dan penduduk Bali yang hanyut melayang berplesir berkesempatan ditawarkan untuk jangka waktu yang lebih pendek atau lebih lama untuk menikmati alam dan ketenangan, jauh dari kekacauan duniawi. Dukungan diterima dari semua sisi dan Inspektur Schafer Tabanan dapat berhasil mendapat harga yang sangat wajar £1500.- pasanggrahan kayu solid tetapi sederhana yang terdiri dari 2 kamar, masing-masing dengan galeri depan tertutup yang berdekatan, dekat dengan danau.”

“Minggu, 20 April, pembukaan resmi berlangsung di hadapan sekitar 20 orang yang berminat. Berenang, mendayung, memancing menawarkan penumpang yang menyenangkan di siang hari, sementara lingkungan bagi kami tampaknya sangat cocok dan produktif untuk sifat reseptif agar menjadi lebih padat dan konkret; bahkan sebagai bulan madu menginap, rumah peristirahatan ini tampaknya sangat berarti bagi kami rekomendasikan. Perabotan yang sederhana namun solid, juru masak yang baik, yang lulus ujian pertamanya, api unggun, dan banyak hal baik lainnya, menjamin pengunjung mendapatkan masa menginap yang menyenangkan. Sang pembangun, Inspektur Schftfer, yang, sebagaimana disebutkan di atas, memiliki sumber daya yang sangat terbatas untuknya, telah mencapai kesuksesan nyata dengan “hobi” ini. Untuk saat ini, pesanggrahan ini dapat dijangkau dari Batoeriti, dari mana jaraknya 6 KM; diperkirakan bahwa jalan penghubung baru akan siap untuk sekitar 2 tahun, ketika kunjungan rutin tidak diragukan lagi akan diharapkan.”

“Seperti yang kita ketahui, penggantian tentara di Bali dan Lombok oleh polisi lapangan mungkin akan terjadi pada bulan Juli. Izin diberikan untuk membangun pegadaian baru di Denpasar; mantan pasanggrahan yang sekarang melayani seperti itu awalnya akan dipulihkan seperti itu, dan kemudian hanya untuk pegawai negeri sipil, yang rencananya sangat disambut baik. Namun, kekurangan perumahan yang konstan di Denpasar akhirnya membuat rencana ini sejalan; gedung ini sekarang akan dibangun kembali secara menyeluruh sebagai tempat tinggal resmi bagi Kepala Urusan Pertanahan di Denpasar.”

Demikian diberitakan 29 April 1930.

Dari berita tersebut (tahun 1930) Resident Caron sedang membuat perencanaan dan pematangan target dalam 2 tahun selesai membuat SHORT-CUT BATURITI—BEDUGUL sepanjang 6 kilometer dan koneksi atau kita sebut saja SHORT-CUT BEDUGUL—SINGARAJA yang mana yang belum tembus bagian atas Gigit sampai ke Pura Yeh Ketipat dan Pura Ulun Danu Buyan yang diperkirakan jarak ini Singaraja Bedugul kala itu bisa ditempuh dengan 2 jam berkendaraan.

UPACARA PEMBUKAAN JALAN TEMBUS DENPASAR-BEDUGUL-SINGARAJA

Akhirnya saya mendapat koran terbitan Surabaya berbahasa Belanda —Soerabaijasch handelsblad 21-10-1936—seperti membenarkan kisah kakek saya yang mengatakan kurang lebih tahun 1938 telah terbuka akses Singaraja ke Bedugul. Konon kakek ketika itu sempat ke Denpasar naik dokar, mungkin setelah jalan terbuka. Katanya, perjalanan kurang lebih 3 hari. Entah PP atau nginap-nginap di jalan, saya juga kurang jelas menanyakan. Sepertinya memang lewat jalur Gitgit-Bedugul-Baturiti telah tembus dengan kendaraan dokar di masa ayah saya belum lahir.

Berita tembusnya Gitgit—Bedugul dalam Soerabaijasch handelsblad, tanggal 21 Oktober tahun 1936 saya terjemahkan:

“Senin upacara penting berlangsung di Bali: pembukaan resmi jalan dari Singaraja ke Bedugul. Rencana untuk jalan ini dimulai pada tahun 1908. Mereka menyerah lagi karena alasan keuangan, tetapi kemudian gubernur Caron yang mengambilnya kembali. Sekitar tahun 1930 rencana tersebut dihentikan lagi, tetapi oleh penduduk sekarang, Tn. De Haze Winkelman, rencana itu kembali disusun dan dilaksanakan.”

Ternyata, pernah makrak sementara rencana short-cut tersebut. Karena alasan keuangan. Berita itu menyebutkan bagaimana pentingnya tembusan GITGIT-BEDUGUL itu adalah SHORT-CUT BARU untuk menggantikan JALUR LAMA Singaraja—Moendok—Begudul dan terus ke Denpasar, juga sekaligus sebagai SHORT-CUT untuk tidak terlalu panjang lewat Singaraja—Kintamani—Denpasar.

Lanjut berita itu:

“Jalan ini mengarah ke selatan dari Singaradja ke Gitgit, yang berada 540 meter di atas permukaan laut. Kemudian dia menyeberangi DAS ke Bedoegul di Danau Bratan, dimana ada pasanggrahan. Dulu, untuk pergi dari Singaraja ke Bedugul harus menempuh jarak 125 KM, sekarang ini menjadi 30 KM di dengan adanya jalan baru ini. Rute jalan tua melewati Seririt ke Tabanan dan kemudian ke utara lagi ke Bedoegul. Sambungan dari Singaradja ke Den Pasar juga sangat diperpendek dengan jalan baru: sepanjang jalan lama melalui Danau Kintamani jaraknya 118 km, sedangkan jalan baru lebih pendek 40 km. Dua jalan tua di atas adalah penghubung utama. Jadi satu arah pergi ke barat dari Singaradja, lalu berbelok ke selatan dan melewati punggung gunung, lalu berbelok lagi ke timur. Jalan lama lainnya pergi dari Singaraja ke Timur dan dengan demikian membuat jalan memutar ke sisi lain. Koneksi baru, secara umum, langsung.”

Berita ini mempertegas kembali kalau dulu orang Singaraja mau ke Bedugul dengan mobil harus ke Pupuan dan Tabanan lalu ke Baturiti dan ke Bedugul. Jika lewat Moendok ke Bedugul masih jalan kaki di antara tebing Danau Tambingan dan Buyan, atau kita kenal sebagai desa bentukan baru bernama Desa Wanagiri sekarang — sebelumnya tidak ada desa tersebut, yang ada adalah bagian dari Desa Ambengan dan Gobleg.

Berita tembusnya Gitgit—Bedugul dimuat dalam Soerabaijasch handelsblad, tanggal 21 Oktober tahun 1936.

Koran tersebut terbit Rabu, 21. Oktober 1936, jadi tanggal tembus SHORT-CUT SINGARAJA—GITGIT—BEDUGUL adalah Senin dua hari sebelumnya, atau 19 Oktober 1936.

Maka tanggal 19 Oktober ini, usia SHORT-CUT SINGARAJA—BEDUGUL berusia 84 tahun.

Hari ini 19 Oktober adalah HARI ULANG TAHUN SHORT-CUT SINGARAJA—BEDUGUL.

Siapa tokoh pelaksana pembuatan jalan tembus Singaraja—Bedugul?

Tokoh pemimpin pengerjaan jalan Giitgit—Bedugul bernama Winkelman? Nama lengkapnya G.A.W.Ch. de Haze Winkelman.  G.A.W.Ch. de Haze Winkelman sebagai eksekutor lapangan proyek jalan tembus “SHORT-CUT” SINGARAJA—BEDUGUL, yang sebelumnya telah dicanangkan Resient Caron.

Gerard Albert Willem Christiaan de Haze Winkelman lahit di Batavia, 16     April 1885 meninggal 25 Agustus 1946 (usia 61) di Heemstede, Heemstede, North Holland, Netherlands. Dia dikenal sebagai pekerja lapangan sekaligus konseptor handal pengembangan berbagai infrastruktur di India-Belanda.

Jika Winkelman adalah pelaksana lapangan, sebelumnya LJJ Caron adalah otak di balik perencanaan dan pengambilan kebijakan pembangunan jalan tembus Singaraja—Bedugul sebagai short-cut atau jalan terpendek menghubungkan Bali Utara dan Selatan. Siapa LJJ Caron?

LJJ Caron juga dikenal sebagai otak di belakang pendirian Gedong Kirtya. Caron penggagas jalan tembus Singaraja—Bedugul, jembatan, dan pengembangan jalan raya lainnya terpenting di Bali, tapi yang abadi tidak tergantikan adalah peran intelektualnya sebagai negosiator ulung mengumpulkan para pendeta di Bali untuk terlibat dalam pembangunan Gedong Kirtya, menyalin lontar-lontar milik para pendeta kemudian dibuka untuk umum di Gedong Kirtya.

Pemimpin pembangunan short-cut Gitgit—Bedugul Gerard Albert Willem Christiaan de Haze Winkelman (Lahir di Batavia, 16 April 1885. Meninggal 25 Agustus 1946 di Heemstede, North Holland, Netherlands).

Dalam catatan arsip Belanda, disebutkan Caron meninggalkan catatan penting tentang Bali dan Lombok. Pada lain kesempatan kita mungkin bisa bahas. 231 halaman catatan tulisan tangan Caron memberikan berbagai informasi tentang situasi ketika itu, termasuk kemungkinan kisah pendirian Kirtya — saya belum membacanya, lain kali mungkin bisa saya tulis sebagai catatan.

Ketertarikan saya pada LJJ Caron sebenarnya bukan hanya keterampilannya penyelesaian jalan tembus Bedugul, tapi bagaimana ia terampil mengkoordinasi penyelesaian proyek penyalinan lontar-lontar Bali. Sangat menarik sekiranya bisa mendapat catatan bagaimana ia mengkoordinasi para Pedanda yang dilibatkan dalam pendirian Gedong Kirtya.

JALAN DE HAZE WINKELMAN, SINGARADJA.

Jalan Veteran di Singaraja sekarang dimana berdiri perpustakaan lontar Gedong Kirtya dahulunya dikenal dengan nama Jalan Winkelman. Ada kemungkinan jalan veteran itupun dikembangkan oleh Winkelman. Besar kemungkinan tata kota jalan-jalan besar di Kota Singaraja dibuat dan atau ditata oleh Winkelman. Ketika jalan tembus short-cut Singaraja tembus, Caron telah pindah bertugas ke Sulawesi sebagai Gubernur. Dan sepenuhnya tembusnya Singaraja-Bedugul di bawah komando tangan dingin de Haze Winkelman.

Sebuah koran Belanda memberitakan berita pensiun de Haze Winkelman tanggal 21 Mei 1937. Namanya diabadikan menjadi nama jalan Singaraja. Gedong Kirtya dalam terbitannya tahun 1940 beralamat Jalan de Haze Winkelman, Singaradja, nomor telpon 18. — Het gebouw der stichting staat aan de de Haze Winkelman-laan te Singaradja. Dagelijks geopend van 1—14 uur; telefoon Singaradja 18.

Nama Jalan de Haze Winkelman di Singaraja yang mengabadikan nama pembuat jalan tembus Singaraja—Bedugul 84 tahun lalu tersebut kini tidak kita temui lagi di Singaraja. Jalan tersebut telah diganti namanya menjadi Jln Veteran. Di jalan inilah sampai sekarang Gedong Kirtya tetap berdiri menyimpan ribuan naskha lontar dan berbagai buku-arsip penting Belanda yang dahulunya terkumpulkan di sana.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mempertanyakan Bencana Alam

Next Post

Solilokui Jengki Dirayakan di JKP, 24 Oktober 2020

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Solilokui Jengki Dirayakan di JKP, 24 Oktober 2020

Solilokui Jengki Dirayakan di JKP, 24 Oktober 2020

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co