23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Ini 84 Tahun Shortcut Gitgit—Bedugul

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 20, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

—Catatan Hari Sugi Lanus, 19 Oktober 2020

.

Sebuah brosur pariwisata terbit tahun 1914, berjudul: “ILLUSTRATED TOURIST GUIDE TO EAST JAVA, BALI AND LOMBOK” isinya berupa panduan perjalanan wisata ke Jawa Timur, Bali dan Lombok.

Sebuah brosur pariwisata terbit tahun 1914, berjudul: “ILLUSTRATED TOURIST GUIDE TO EAST JAVA, BALI AND LOMBOK” isinya berupa panduan perjalanan wisata ke Jawa Timur, Bali dan Lombok.

Saya perhatikan rutenya bagaimana memulai perjalanan di Bali di tahun 1914. Dari mana dan kemana saja mobil wisata bisa menjangkau?

Terbentang:

— Tahun 1914 jalan tembus SINGARAJA—BEDUGUL tidak ada.

— Rute perjalanan pariwisata periode itu dimuai dari Pelabuhan Buleleng berputar di Singaraja dan kalau ke Bali Selatan harus melalui Kintamani dan Bangli, lalu ke Ubud, atau ke Karangasem. Itupun setelah sebelum tahun itu dibangun jembatan besi oleh Belanda sebagai usaha peningkatan transportasi mobil antar wilayah.

— Para pegawai Belanda jika kepanasan di Singaraja berpelesir ke Moendoek ke Pasangrahan yang memang dibangun oleh mereka sebagai “rumah musim panas” mereka mencari udara dingin. Jalan yang telah terbuka untuk mobil adalah Singaradja, Boeboenan lalu naik sampai Moendoek.

— Jika ke Denpasar lewat Moendoek harus jalan kaki dari Moendoek atau naik kuda, menyusur jalan setapak utara Tamblingan dan Buyan, turun ke danau Beratan, baru ada jalan di Baturiti.

Jika dibandingkan dengan catatan perjalanan Rabindranath Tagore keliling Bali di tahun 1927, ketika rombongan kembali dari Denpasar lewat Batoeriti, Tagore dan rombongan hanya bermobil sampai Batoeriti. Selanjutnya naik kuda. Disediaan oleh petugas yang mengurus kunjungan Tagore. Dari Batoeriti ke Pura Ulun Danu Beratan Tagore berjalan kaki dan berkuda, kemudian menyusuri setapak Wanagiri, di atas Pancasari atau Bedugul, menuju Moendok.

Kapan dibangun SHORT-CUT SINGARAJA—BEDUGUL? Tepatnya: Kapan jalan tembus ini dibangun?

Sebelum ada short-cut Singaraja—Bedugul, jika opsir Belanda yang tinggal di Singaraja ingin berlibur di Pesanggrahan Danau Beratan, mereka harus lewat jalan Seririt—Pupuan, lalu Tabanan, Mengwi dan naik ke Baturiti, dari sana berlanjut ke Danau Beratan.

Kakek saya bercerita jalan tembus Singaraja—Bedugul dibangun bertahap. Kalau tidak saya ingat, kakek cerita itu terjadi tahun 1930, mungkin sekitar tahun 1938 ketika kakek pernah melintas ke sana menuju Denpasar. Itu berdasarkan ingatan saya di masa SD kakek bercerita tentang perjalananya ke Badung. Belakangan, sambil saya belajar bahasa Belanda, saya baca-baca koran tahun 1920—1940 untuk menguji kebenaran informasi kakek kalau 1930-an adalah tahun tembus jalan Singaraja-Bedugul, seperti yang dikisahkan kakek.

Suasana pembukaan jalan di Bali, diperkirakan di Buleleng.
Pembukaan jalan tembus dalam masa kolonial.
Rambu petunjuk jalan menuju Singaraja dari perimpangan Kediri, Tabanan

Ternyata Singaraja—Gigit lebih awal dibangun untuk memberi akses pariwisata bisa melihat AIR TERJUN GIGIT! Cerita kakek saya dikonfirmasi oleh berita KORAN SINPO yang berbahasa Melayu dimuat kisah wisatawan China yang plesir ke Air Terjun Gitgit. Jalan dari kota Singaraja mentok sampai di sana. Diceritakan dalam jika ke Denpasar ya harus balik ke Singaraja lanjut ke Kubutambahan ke Pura Bedji lalu ke Pesanggrahan Kitamani istirahat dan lanjut ke Bali Selatan.

Dalam Sinpo, Saptoe 14 October 1933 itu sang tamu yang menulis perjalanannya ke Gigit berkisah dan memotret Air Terjun Gigit. Artinya, tahun 1933 sudah dibuka jalan Singaradja ke Gitgit. Jadi saya pikir yang dikisahkan kakek ke saya tahun 1938 itu jangan-jangan perbaikan jalan atau jalan tembus GITGIT—BEDUGUL?

Dalam tulisan Sinpo tersebut ditulis:

“Kita sampe di Boeleleng kira-kira djam 4 sore dan besokannja, tanggal 17 kita soeda moesti balik lagi dengen kapal Van Lansberge jang brangkat djam 12 siang, hingga kita tida mempoenjai banjak tempo. Atas advies dari K. P. M. kita sewa autonja Mah Patimah dengen bajar lima gobang per kilometer. Ini tarief menoeroet agent K. P. M. dan Mah Patimah ada jang paling „baek”,tapi apa ini matjem baja- ran ada jang paling moerah si tou­rist boleh timbang sendiri……… Kita pertama koendjoengin Git­git jang letaknja tjoema 11 K.M. dari Boeleleng dengen liwatin Singaradja. Pemandangan di sepan­djang djalan ada sanget indah dan dari Gitgit orang bisa liat laoetan dengen njata sekali….”

“Kita sampe di Boeleleng kira-kira djam 4 sore dan besokannja, tanggal 17 kita soeda moesti balik lagi dengen kapal Van Lansberge jang brangkat djam 12 siang, hingga kita tida mempoenjai banjak tempo. Atas advies dari K. P. M. kita sewa autonja Mah Patimah dengen bajar lima gobang per kilometer. Ini tarief menoeroet agent K. P. M. dan Mah Patimah ada jang paling „baek”,tapi apa ini matjem baja- ran ada jang paling moerah si tou­rist boleh timbang sendiri……… Kita pertama koendjoengin Git­git jang letaknja tjoema 11 K.M. dari Boeleleng dengen liwatin Singaradja. Pemandangan di sepan­djang djalan ada sanget indah dan dari Gitgit orang bisa liat laoetan dengen njata sekali….”

Dalam Sinpo, Saptoe 14 October 1933, seorang tamu Tionghoa menulis perjalanannya ke Gigit dan memotret Air Terjun Gigit. Jalan dari Singaraja ketika itu mentok di Gitgit. Belum tembus ke Bedugul.

Dari Sinpo ini saya mendapat informasi kalau tahun 1933 jalan Gigit—Bedugul belum tembus.

Sampai bulan April 1937 belum saya dapat kejelasan SHORT-CUT Gitgit-Bedugul. Oudheidkundig Verslag 1919 saya buka belum ada rencana pembangunan jalan tembus itu. Demikian juga Oudheidkundig Verslag 1930.

Sebuah berita berbahasa Belanda memberitakan PESANGGRAHAN DI DANAU BRATAN, isinya: “Diputuskan di bawah Resident Caron untuk membangun jalan penghubung dari Gitgit di sepanjang danau atas ke Batoeriti, yang akan mengurangi koneksi Singaradja-Denpasar menjadi sekitar 2 jam berkendara.”

Passanggrahan aan het Bratan-meer — Pesanggrahan danau Bratan, Bedugul.
Suasana penyambutan tamu di Pesanggrahan Danau Bratan tahun 1930-an.

Berita lengkapnya, di sini saya kutip dan terjemahkan:

PASSANGGRAHAN DI DANAU BRATAN.

“Seperti yang akan beritakan ke pembaca, diputuskan di bawah Resident Caron untuk membangun jalan penghubung dari Gitgit di sepanjang danau atas ke Batoeriti, yang akan mengurangi koneksi Singaradja-Denpasar menjadi sekitar 2 jam berkendaraan. Selama kunjungan ke Danau Bratan, yang membuat kesan begitu tenang dan megah pada pelancong karena hutannya berlembah curam dan terjal, Residen Caron mematangkan rencana untuk membangun pasanggrahan yang sangat sederhana, di mana wisatawan dan penduduk Bali yang hanyut melayang berplesir berkesempatan ditawarkan untuk jangka waktu yang lebih pendek atau lebih lama untuk menikmati alam dan ketenangan, jauh dari kekacauan duniawi. Dukungan diterima dari semua sisi dan Inspektur Schafer Tabanan dapat berhasil mendapat harga yang sangat wajar £1500.- pasanggrahan kayu solid tetapi sederhana yang terdiri dari 2 kamar, masing-masing dengan galeri depan tertutup yang berdekatan, dekat dengan danau.”

“Minggu, 20 April, pembukaan resmi berlangsung di hadapan sekitar 20 orang yang berminat. Berenang, mendayung, memancing menawarkan penumpang yang menyenangkan di siang hari, sementara lingkungan bagi kami tampaknya sangat cocok dan produktif untuk sifat reseptif agar menjadi lebih padat dan konkret; bahkan sebagai bulan madu menginap, rumah peristirahatan ini tampaknya sangat berarti bagi kami rekomendasikan. Perabotan yang sederhana namun solid, juru masak yang baik, yang lulus ujian pertamanya, api unggun, dan banyak hal baik lainnya, menjamin pengunjung mendapatkan masa menginap yang menyenangkan. Sang pembangun, Inspektur Schftfer, yang, sebagaimana disebutkan di atas, memiliki sumber daya yang sangat terbatas untuknya, telah mencapai kesuksesan nyata dengan “hobi” ini. Untuk saat ini, pesanggrahan ini dapat dijangkau dari Batoeriti, dari mana jaraknya 6 KM; diperkirakan bahwa jalan penghubung baru akan siap untuk sekitar 2 tahun, ketika kunjungan rutin tidak diragukan lagi akan diharapkan.”

“Seperti yang kita ketahui, penggantian tentara di Bali dan Lombok oleh polisi lapangan mungkin akan terjadi pada bulan Juli. Izin diberikan untuk membangun pegadaian baru di Denpasar; mantan pasanggrahan yang sekarang melayani seperti itu awalnya akan dipulihkan seperti itu, dan kemudian hanya untuk pegawai negeri sipil, yang rencananya sangat disambut baik. Namun, kekurangan perumahan yang konstan di Denpasar akhirnya membuat rencana ini sejalan; gedung ini sekarang akan dibangun kembali secara menyeluruh sebagai tempat tinggal resmi bagi Kepala Urusan Pertanahan di Denpasar.”

Demikian diberitakan 29 April 1930.

Dari berita tersebut (tahun 1930) Resident Caron sedang membuat perencanaan dan pematangan target dalam 2 tahun selesai membuat SHORT-CUT BATURITI—BEDUGUL sepanjang 6 kilometer dan koneksi atau kita sebut saja SHORT-CUT BEDUGUL—SINGARAJA yang mana yang belum tembus bagian atas Gigit sampai ke Pura Yeh Ketipat dan Pura Ulun Danu Buyan yang diperkirakan jarak ini Singaraja Bedugul kala itu bisa ditempuh dengan 2 jam berkendaraan.

UPACARA PEMBUKAAN JALAN TEMBUS DENPASAR-BEDUGUL-SINGARAJA

Akhirnya saya mendapat koran terbitan Surabaya berbahasa Belanda —Soerabaijasch handelsblad 21-10-1936—seperti membenarkan kisah kakek saya yang mengatakan kurang lebih tahun 1938 telah terbuka akses Singaraja ke Bedugul. Konon kakek ketika itu sempat ke Denpasar naik dokar, mungkin setelah jalan terbuka. Katanya, perjalanan kurang lebih 3 hari. Entah PP atau nginap-nginap di jalan, saya juga kurang jelas menanyakan. Sepertinya memang lewat jalur Gitgit-Bedugul-Baturiti telah tembus dengan kendaraan dokar di masa ayah saya belum lahir.

Berita tembusnya Gitgit—Bedugul dalam Soerabaijasch handelsblad, tanggal 21 Oktober tahun 1936 saya terjemahkan:

“Senin upacara penting berlangsung di Bali: pembukaan resmi jalan dari Singaraja ke Bedugul. Rencana untuk jalan ini dimulai pada tahun 1908. Mereka menyerah lagi karena alasan keuangan, tetapi kemudian gubernur Caron yang mengambilnya kembali. Sekitar tahun 1930 rencana tersebut dihentikan lagi, tetapi oleh penduduk sekarang, Tn. De Haze Winkelman, rencana itu kembali disusun dan dilaksanakan.”

Ternyata, pernah makrak sementara rencana short-cut tersebut. Karena alasan keuangan. Berita itu menyebutkan bagaimana pentingnya tembusan GITGIT-BEDUGUL itu adalah SHORT-CUT BARU untuk menggantikan JALUR LAMA Singaraja—Moendok—Begudul dan terus ke Denpasar, juga sekaligus sebagai SHORT-CUT untuk tidak terlalu panjang lewat Singaraja—Kintamani—Denpasar.

Lanjut berita itu:

“Jalan ini mengarah ke selatan dari Singaradja ke Gitgit, yang berada 540 meter di atas permukaan laut. Kemudian dia menyeberangi DAS ke Bedoegul di Danau Bratan, dimana ada pasanggrahan. Dulu, untuk pergi dari Singaraja ke Bedugul harus menempuh jarak 125 KM, sekarang ini menjadi 30 KM di dengan adanya jalan baru ini. Rute jalan tua melewati Seririt ke Tabanan dan kemudian ke utara lagi ke Bedoegul. Sambungan dari Singaradja ke Den Pasar juga sangat diperpendek dengan jalan baru: sepanjang jalan lama melalui Danau Kintamani jaraknya 118 km, sedangkan jalan baru lebih pendek 40 km. Dua jalan tua di atas adalah penghubung utama. Jadi satu arah pergi ke barat dari Singaradja, lalu berbelok ke selatan dan melewati punggung gunung, lalu berbelok lagi ke timur. Jalan lama lainnya pergi dari Singaraja ke Timur dan dengan demikian membuat jalan memutar ke sisi lain. Koneksi baru, secara umum, langsung.”

Berita ini mempertegas kembali kalau dulu orang Singaraja mau ke Bedugul dengan mobil harus ke Pupuan dan Tabanan lalu ke Baturiti dan ke Bedugul. Jika lewat Moendok ke Bedugul masih jalan kaki di antara tebing Danau Tambingan dan Buyan, atau kita kenal sebagai desa bentukan baru bernama Desa Wanagiri sekarang — sebelumnya tidak ada desa tersebut, yang ada adalah bagian dari Desa Ambengan dan Gobleg.

Berita tembusnya Gitgit—Bedugul dimuat dalam Soerabaijasch handelsblad, tanggal 21 Oktober tahun 1936.

Koran tersebut terbit Rabu, 21. Oktober 1936, jadi tanggal tembus SHORT-CUT SINGARAJA—GITGIT—BEDUGUL adalah Senin dua hari sebelumnya, atau 19 Oktober 1936.

Maka tanggal 19 Oktober ini, usia SHORT-CUT SINGARAJA—BEDUGUL berusia 84 tahun.

Hari ini 19 Oktober adalah HARI ULANG TAHUN SHORT-CUT SINGARAJA—BEDUGUL.

Siapa tokoh pelaksana pembuatan jalan tembus Singaraja—Bedugul?

Tokoh pemimpin pengerjaan jalan Giitgit—Bedugul bernama Winkelman? Nama lengkapnya G.A.W.Ch. de Haze Winkelman.  G.A.W.Ch. de Haze Winkelman sebagai eksekutor lapangan proyek jalan tembus “SHORT-CUT” SINGARAJA—BEDUGUL, yang sebelumnya telah dicanangkan Resient Caron.

Gerard Albert Willem Christiaan de Haze Winkelman lahit di Batavia, 16     April 1885 meninggal 25 Agustus 1946 (usia 61) di Heemstede, Heemstede, North Holland, Netherlands. Dia dikenal sebagai pekerja lapangan sekaligus konseptor handal pengembangan berbagai infrastruktur di India-Belanda.

Jika Winkelman adalah pelaksana lapangan, sebelumnya LJJ Caron adalah otak di balik perencanaan dan pengambilan kebijakan pembangunan jalan tembus Singaraja—Bedugul sebagai short-cut atau jalan terpendek menghubungkan Bali Utara dan Selatan. Siapa LJJ Caron?

LJJ Caron juga dikenal sebagai otak di belakang pendirian Gedong Kirtya. Caron penggagas jalan tembus Singaraja—Bedugul, jembatan, dan pengembangan jalan raya lainnya terpenting di Bali, tapi yang abadi tidak tergantikan adalah peran intelektualnya sebagai negosiator ulung mengumpulkan para pendeta di Bali untuk terlibat dalam pembangunan Gedong Kirtya, menyalin lontar-lontar milik para pendeta kemudian dibuka untuk umum di Gedong Kirtya.

Pemimpin pembangunan short-cut Gitgit—Bedugul Gerard Albert Willem Christiaan de Haze Winkelman (Lahir di Batavia, 16 April 1885. Meninggal 25 Agustus 1946 di Heemstede, North Holland, Netherlands).

Dalam catatan arsip Belanda, disebutkan Caron meninggalkan catatan penting tentang Bali dan Lombok. Pada lain kesempatan kita mungkin bisa bahas. 231 halaman catatan tulisan tangan Caron memberikan berbagai informasi tentang situasi ketika itu, termasuk kemungkinan kisah pendirian Kirtya — saya belum membacanya, lain kali mungkin bisa saya tulis sebagai catatan.

Ketertarikan saya pada LJJ Caron sebenarnya bukan hanya keterampilannya penyelesaian jalan tembus Bedugul, tapi bagaimana ia terampil mengkoordinasi penyelesaian proyek penyalinan lontar-lontar Bali. Sangat menarik sekiranya bisa mendapat catatan bagaimana ia mengkoordinasi para Pedanda yang dilibatkan dalam pendirian Gedong Kirtya.

JALAN DE HAZE WINKELMAN, SINGARADJA.

Jalan Veteran di Singaraja sekarang dimana berdiri perpustakaan lontar Gedong Kirtya dahulunya dikenal dengan nama Jalan Winkelman. Ada kemungkinan jalan veteran itupun dikembangkan oleh Winkelman. Besar kemungkinan tata kota jalan-jalan besar di Kota Singaraja dibuat dan atau ditata oleh Winkelman. Ketika jalan tembus short-cut Singaraja tembus, Caron telah pindah bertugas ke Sulawesi sebagai Gubernur. Dan sepenuhnya tembusnya Singaraja-Bedugul di bawah komando tangan dingin de Haze Winkelman.

Sebuah koran Belanda memberitakan berita pensiun de Haze Winkelman tanggal 21 Mei 1937. Namanya diabadikan menjadi nama jalan Singaraja. Gedong Kirtya dalam terbitannya tahun 1940 beralamat Jalan de Haze Winkelman, Singaradja, nomor telpon 18. — Het gebouw der stichting staat aan de de Haze Winkelman-laan te Singaradja. Dagelijks geopend van 1—14 uur; telefoon Singaradja 18.

Nama Jalan de Haze Winkelman di Singaraja yang mengabadikan nama pembuat jalan tembus Singaraja—Bedugul 84 tahun lalu tersebut kini tidak kita temui lagi di Singaraja. Jalan tersebut telah diganti namanya menjadi Jln Veteran. Di jalan inilah sampai sekarang Gedong Kirtya tetap berdiri menyimpan ribuan naskha lontar dan berbagai buku-arsip penting Belanda yang dahulunya terkumpulkan di sana.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mempertanyakan Bencana Alam

Next Post

Solilokui Jengki Dirayakan di JKP, 24 Oktober 2020

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Solilokui Jengki Dirayakan di JKP, 24 Oktober 2020

Solilokui Jengki Dirayakan di JKP, 24 Oktober 2020

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co