3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
September 29, 2020
in Esai
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Doni Wijaya [Ilustrasi oleh Nana Partha]

Bumi dilanda masalah serius akibat aktivitas manusia. Masalah Perubahan iklim, degradasi lahan, pencemaran air tawar, penangkapan ikan berlebihan, kerawanan pangan, punahnya keragaman hayati dan kesenjangan desa-kota adalah masalah yang bersifat struktural dalam arti ada sistem sosial ekonomi yang jadi pendorong hal tersebut. Dalam aspek sosial, terjadi keterasingan sesama manusia lewat internet.Gejala kesenjangan desa-kota mendorong urbanisasi besar besaran hingga muncul pemukiman kumuh di negara-negara berkembang. Solusi dengan teknologi yang dipropagandakan oleh lembaga yang berkuasa saat ini patut dipertanyakan karena mengesampingkan aspek sosial ekonomi dimana sistem produksi dan distribusi berperan besar atas gejala gejala tersebut.  Akar masalah tersebut merupakan akumulasi dari 500 tahun penerapan sistem reduksionis pada ilmu pengetahuan dan ekonomi yang melanda segala aspek kehidupan manusia.

Teknologi yang berkembang saat ini berdasarkan ilmu mekanistik reduksionisme. Ini disebut kekerasan epistemologi. Karena sistem sosial ekonomi didasari oleh keuntungan jangka pendek, ekspolitasi dan akumulasi capital, perkembangan diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Sistem mekanistik reduksionisme membagi masyarakat menjadi dua yaitu minoritas yang disebut pakar dan mayoritas umum yang dianggap bukan spesialisasi dari pakar tersebut sehingga cenderung tunduk pada pihak petama. Para pakar juga terspesialisasi dalam pembagian pengetahuan yang terpisah. Ini menciptakan alienasi manusia dari ilmu pengetahuan.

Filsuf John Ralston Saul menyebut ilusi melanda dunia modern yaitu keyakinan mutlak penyelesaian masalah oleh para pakar yang teorganisir secara rasional(1). Hali ini terjadi dengan solusi tehno fix yang diajukan oleh kelas elit teknokrat yang menjdipakar dibidangnya mashing masing, terpisah satu sama lain. Masalah pariwisata di Bali diselesaikan oleh para pakar pariwisata dengan meningkatkan promosi ke luar negeri, dan kurang memperhatikan transportasi umum,jalur pejalan kaki dan lingkungan hidup karena tiga hal tersebut berada pada kewenangan pakar transportasi dan lingkungan hidup, tidak memikirkan saling keterhubungan pada hal tersebut. Pendirian PLTU Celukan Bawang diusulkan oleh para pakar energi untuk mengatasi kekurangan listrik di Bali. Mereka ini mengabaikan dampak lingkungan dan sosial di daerah tempat PLTU berdiri maupun di daerah terkena dampak dari tambang batu bara. Ketika disebutkan warga Celukan Bawang terkena sesak nafas dan banyak tanaman tak tumbuh dengan baik sehingga mengusik mata pencaharian warga, para pakar ini hanya menganggap tugas dan tanggung jawabnya meningkatkan produksi energi saja. Rakyat di sana tidak diberi kesempatan untuk mempertimbangkan pendirian PLTU karena dianggap tidak memiliki pengetahuan teknis dan akademis serta bukan spesialis dalam bidang ini yang dikuasai “pakar”. Rakyat diarahkan untuk tunduk dan percaya saja.

 Pembagian menjadi ladang feudal yang dikuasai oleh para pakar membuat pemahaman umum dan tindakan terkoordinasi menjadi mustahil, tapi dibenci dan tidak dipercayai(2).  Mereka (para pakar) mengebiri imajinasi public dengan menguasai bahasa menjadi suatu kompleksitas yang membuatnya menjadi sesuatu yang private sehingga sulit dipahami masyarakat umum. Pemecahan dan perincian bahasa menjadi wilayah feudal para pakar membuat warga Negara yang merupakan khalayak umum tidak berkesempatan untuk berpartisipasi secara serius di masyarakat(3). Ini terbukti dengan barang barang berteknologi tinggi yang sulit dipahami perbaikannya oleh konsumen sehingga saat terjadi kerusakan atas barang tersebut, harus membayar pakar teknisi untuk meperbaikinya. Perusahaan sengaja mrancang kondisi ini untuk mendapatkan uang dari penjualan bagian bagian barang tersebut dan jasa perbaikan.

Masalah gas rumah kaca menyebabkan iklim menjadi sesak? Teknologi penangkapan gas rumah kaca dari udara dan disimpan dalam ruangan khusus , penanaman pohon rekayasan genetika yang diklaim mampu menyerap gas karbondioksia lebih baik daripada pohon alami, dan menaburkan pupuk buatan ke laut untuk merangsang pertumbuhan ganggang yang menyerap gas karbon dioksida. Efek samping dari teknologi tersebut dapat memperburuk lingkungan hidup. Penanaman pohon rekayasa genetika memicu terbentuknya ladang monokultur baru yang miskin keragaman hayati. Secara esensial menciptakan gurun hijau karena didominasi satu spesies tunggal saja. Lingkungan monokultur meski telah direkayasa dengan alat paling canggih tetap rentan terhadap hama dan penyakit. Memberikan pupuk zat besi di laut dapat memicu ledakan populasi ganggang dinoflagelatta yang beracun sehingga frekuensi red tide (lautan menjadi merah akibat ganggang ini) bertambah. Ikan dan udang banyak yang mati. Lautan yang dilanda red tide menjadi berbahaya bagi manusia.

Kerawanan pangan melanda dua miliar penduduk dunia? Rekayasa genetika untuk meningkatkan panen padi dan jagung berkali kali lipat dengan luas lahan yang sama diklaim memberikan kelimpahan pada semua orang dan menghapus kelaparan. Tidakkah memperhatian aspek sosial , ekologi dan ekonomi dimana miliaran orang tersebut tidak punya akses lahan akibat konsentrasi kepemilikan lahan di tangan segelintir orang dan lembaga bernama korporasi yang diberi status “individu” dengan nama corporate personhood? Mengapa tidak diadakan land reform ( reformasi agraria ) sehingga semua buruh tani tidak menjadi budak tuan tanah dan orang orang yang bermukim di pemukiman kumuh dan pengangguran mendapat penghidupan dengan memproduksi makanan sendiri dan melestarikan lingkungan?  Bagaimana dengan sistem monokultur yang mematikan keragaman hayati, jenuhnya tanah akbat ditanamani tanaman monokultur terus menerus dengan pupuk buatan? Mengapa isu pembuangan makanan global tidak menjadi bahasan utama para penguasa ? Mengapa tidak menggalakkan agroekologi dimana tanaman yang akan ditanam harus menyesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim sehingga tidak berkonflik dengan alam? Agroekologi merupakan konsep regenerative dengan menganggap hubungan antar factor biotik dan abiotic dalam produksi pangan adalah terpenting bukan hasil biji jagung yang dihitung dalam sekian ton per hektar dalam waktu singkat.

Kelangkaan ikan akibat overfishing? Rekayasa genetika untuk memproduksi ikan dengan ukuran lebih besar dari biasanya dan lebih cepat masa panennya serta lebih sedikit membutuhkan makanan , teknologi penangkapan menjangkau 5000 meter ke dasar laut dan artificial upwelling ( mendorong air bernutrisi tinggi dari bawah ke permukaan laut untuk menstimulasi plankton sebagai makanan ikan kecil ) diyakini dapat menangani masalah ini. Mengapa tidak merestorasi hutan bakau, rawa basah tepi pantai, terumbu karang, penghentian kapal tangkap berskala besar (fishing industry fleet) dan mendukung perikanan tangkap dan budidaya regenerative dengan melestarikan habitat ikan sehingga terbentuk kedaulatan pangan bagi komunitas di pulau pulau dan pesisir? Mengapa tidak mensemarakkan penerapan ekologi perikanan untuk konservasi laut demi masa depan generasi yang akan datang?

Miskinnya air tawar sehingga ratusan juta orang menderita? Teknologi mengubah air laut jadi air tawar dan memanen hujan dengan memaksa awan menurunkannya dari langit menjadi keajaiban yang ditunggu. Apakah tidak memikirkan dampak dari limbah air berkadar garam tinggi dari desalinasi air laut yang dapat mencemari lingkungan? Bagaimana dengan penggunaan energi luar biasa besar untuk memproduksi jutaan liter air minum setiap hari? Bagaimana dengan limbah air garam  bersuhu tinggi dengan kandungan kimia yang dibuang ke laut sehingga membunuh organisme di sekitar pantai tempat instalasi berdiri? Lalu bagaimana dengan energi yang dibutuhkan sebesar 1 kilowatt per jam untuk memproduksi 1 meter kubik air dari desalinasi? Restorasi lahan untuk meningkatkan daya serap air ke tanah dan memulihkan siklus air yang efektif jauh lebih baik daripada bergantung pada teknologi seperti itu. Teknologi seperti itu mendorong privatisasi air yang menjadi hak asasi setiap orang karena hanya dapat diakses oleh lembaga berskala besar.

Leon Trotsky menulis tentang netralitas perkembangan teknologi yang dipengaruhi oleh nilai dan kekuasaan suatu kelompok di zamannya. Teknologi tidaklah bebas nilai dalam arti benar benar netral karena ia produk buatan manusia. 

Gambar 1.1 Leon Trotsky

Dia menulis sebagai berikut :

 “Saya mengingat saat manusia menulis perkembangan pesawat terbang akan menghentikan perang, karena akan menggiring seluruh populasi ke dalam operasi militer, akan mendatangkan kehancuran pada ekonomi dan kebudayaan suatu Negara. Faktanya, penemuan pesawat terbang membuka lembaran baru yang lebih kejam dalam sejarah militarism. Tidak diragukan lagi, kita mendekati permulaan lembaran yang masih menakutkan dan lebih berdarah. Teknologi dan ilmu pengetahuan mempunyai logika sendiri – logika kesadaran alam dan penguasaan atasnya  demi kepentingan manusia. Akan tetapi teknologi tida dapat disebut pasifis atau militeristik. Di masyarakat yang mana kelas berkuasa bersifat militeristik, teknologi digunakan untuk melayani militerisme”.(4)

                Teknologi rekayasa genetika, desalinasi, penangkapan karbon, pembangkit listrik bahan bakar fosil dan penangkapan ikan mencapai dasar samudera adalah demi kepentingan kelas atas yang jumlahnya minoritas untuk meningkatkan nilai lebih dan pertumbuhan tak terbatas dimana hal itu mustahil dalam planet bumi yang terbatas ini. Teknologi yang berkembang saat ini untuk akumulasi modal secepat cepatnya dan seluas luasnya sambil membuatnya sulit diakses bagi khalayak umum karena harganya yang tak terjangkau. Teknologi ini menimbulkan efek samping yang membuat kaum proletar menjadi makin rentan akibat dampak lingkungan yang timbul.  Para kapitalis mencari keuntungan setinggi langit di atas penderitaan orang lain. Akumulasi capital adalah Tuhannya mereka.

Sumber :

      1. Saul, Ralston John. Voltaire Bastard The Dictatorship of Reason . New York: Free Press, 1993           Chapter 1 In whih the Narrator Positions Himself

       2.  Ibid

       3. Ibid

      4.  Williams, Chris. Ecologi and Socialism. Chicago : Haymarket Books, 2010 Chapter 6 Marxism and The Environment

Gambar 1.1 https://www.marxists.org/indonesia/archive/trotsky/index.htm

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Persaudaraan di Bali, Barong dan Penjarahan

Next Post

Kopi Kaki Batukaru

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Kopi Kaki Batukaru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co