24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persaudaraan di Bali, Barong dan Penjarahan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 28, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Orang Bali sangat suka bersaudara. Percayalah! Bayangkan jika sesama orang Bali bertemu di tempat perantauan, mereka tidak jarang akan berkumpul untuk mengingat kampung halaman. Ini menurut cerita seorang teman. Ketika ia kuliah di luar Bali, ia dengan semangat mencari kos yang isinya hanya orang Bali. Kemudian kegiatannya seperti bagaimana yang mereka lakukan di kampung. Misalnya, sebelum hari raya tiba, mereka berusaha mengumpulkan uang untuk bisa membuat lawar, manggang-manggang, bikin sate, atau membuat guling babi.

Setelah mereka pulang kampung dan singgah ke rumah masing-masing, para orang tua biasanya bertanya dari pertanyaan umum, lalu menyempit, semakin sempit, hingga pertanyaan yang sangat personal. Bagi yang tidak biasa, hal ini bisa membuat tidak nyaman, tapi hal ini biasa bagi orang Bali.

“Dari mana? Orang tua bekerja di mana? Pura leluhur di mana? Kasta apa? Saudara berapa?” bahkan, “Sudah menikah? Sudah punya pacar?” dan pertanyaan yang paling rawan, “Sudah nyusun skripsi?”

Bila beruntung seseorang akan menemukan benang merah dari pertanyaan yang paling khusus hingga pertanyaan yang kian umum itu. Misalnya kebetulan yang bertanya mempunyai saudara di daerah tinggal yang ditanya, lalu kaitan saudara itu dengan yang ditanya. Kalau rupanya pertanyaan khusus itu tak menemukan benang merah, maka kembali ke arah pertanyaan yang umum. kebanyakan benang merah akan bertemu di pura leluhur yang ada di Besakih, dan kesimpulannya, “kita adalah saudara”.

Mungkin tujuan dari pertanyaan itu tidak terlalu penting, tetapi, kebiasaan menghubungkan inilah yang paling menarik. Selain mencari silsilah keluarga, persaudaraan biasa juga ditemukan dari sejarah. Nah kalau persaudaraan inilah yang Grudug gemari. Ia sering membawa cerita yang sama ini kemana-mana sebagai bahan obrolan. Katanya, “Persaudaraan yang paling unik adalah persaudaraan dengan maling!” 

Ketika mendengar celotehan itu, teman-teman yang mendengar ceritanya segera mengerutkan alis. Beberapa berpikir, “Omong kosong macam apa lagi yang akan diceritakan Grudug?” Tapi mereka akan tetap mendengarkan meski dianggap omong kosong.

Grudug memulai cerita itu dari cerita tentang hal-hal yang umum, terkait jalinan persaudaraan yang dibangun karena kayu. Hal ini sangat lumrah. Sebagian besar desa di Bali memiliki Barong yang disakralkan dan ditempatkan di Pura. Sebelum membuat Barong, biasanya warga desa akan mencari kayu yang tepat untuk kepala barong. Pencarian kayu inilah yang membuka peluang untuk membangun persaudaraan baru.

Jika barong sudah selesai tergarap, maka desa tempat kayu bahan kepala Barong itu adalah saudara dari desa yang mengambil kayu. Persaudaraan ini diwujudkan dari kehadiran barong itu ketika upacara/Odalan di desa kayu didapat.

“Sangat lumrah, kan? Di banyak desa ini terjadi.” Teman-temannya yang merasa paham langsung manggut-manggut sambil memaku senyum lebarnya. Dengan berbisik temannya berkata, “Rupanya bukan omong kosong”

“Persaudaraan yang dijalin bersama maling inilah yang luar biasa.” Kali ini teman-temannya tidak protes. Mereka mendengarkan dengan saksama berharap tempo yang sesingkat-singkatnya sambil memutar tuak yang ada di tengah-tengah mereka.

“Pada zaman dahulu… dulu… dulu sekali…”

Nah, Grudug berkata bahwa ada sebuah desa pernah memiliki Barong. Tetapi kini Barong itu sudah tidak ada lagi. Kala itu, desa tersebut sedang perang melawan desa lain. Keadaan desanya begitu mencekam sebab peperangan sedang berlangsung

“Entah memperebutkan sawah, wilayah kekuasaan, atau rebutan aliran air. Entahlah, intinya perang sedang berlangsung,” kata Grudug dengan dahi mengkerut dan mulut yang dilekuk ke bawah.

Ketika perang sedang berlangsung itulah, warga desa yang letaknya sangat jauh mendengar kabar itu. Tetapi mereka tidak mengambil posisi dalam perang, tidak memihak salah satu desa. Tidak sebagai kawan, pun sebagai lawan. Tetapi, mereka tiba-tiba datang ke desa itu untuk menjarah. Barang-barang mereka jarah. Ketika itu mereka membawa lesung batu yang besar, dan sebagainya. Tetapi yang paling ekstrem, mereka mengambil Barong miliki desa yang ukurannya cukup besar.

“Makanya desa itu tak punya Barong,” tegasnya.

“Tetapi, desa penjarah dan desa dijarah sekarang menganggap diri bersaudara,” kata Grudug dengan senyum lebar dan jeda yang agak lama untuk memancing pertanyaan teman.

Seseorang terpancing. Dengan lekuk alis yang mengkerut sambil menuangkan tuak, temannya mendesak, “Cepat sampaikan, kenapa bisa begitu?”

Pancingan itu disambar, Grudug melanjutkan ceritanya dengan dramatis. Katanya, Barong yang dicuri itu di kemudian hari meronta-ronta dengan sendirinya. Warga desa pun panik, berbagai upacara digelar.

Ketika upacara dilangsungkan, seseorang tiba-tiba jatuh terkulai. Seperti saat jatuh, seseorang itu juga tiba-tiba terperjat bangun dengan wajah yang terlihat menyeramkan. Kusam. Sedih.

“Barong itu ingin pulang ke tempat asalnya untuk turut dalam Odalan.”

“Barong itu ingin mudik?” komentar temannya.

“Wuuss, jangan sembarang kalau ngomong,” bentak yang lain.

Permintaan Barong sakral yang disampaikan melalui seseorang yang terkulai itu dipenuhi. Semenjak itu, setiap Odalan digelar Barong itu harus hadir di pura asal Barong. Tetapi entah mengapa, Barong itu juga tidak dikembalikan hingga kini. Kata orang-orang dari desa itu, Barong hanya ingin sesekali pulang, bukan kembali untuk selama-lamanya.

Karena mereka selalu hadir saat Odalan digelar dan menempuh perjalanan yang cukup jauh, desa yang konon terjarah itu selalu mempersiapkan hidangan istemewa untuk warga desa penjarah. Setiap mereka datang dan Barong sudah ditempatkan di pura, maka warga desa penjarah itu akan dipandu oleh seseorang dari desa terjarah untuk segera makan-makan.

Begitulah jalinan persaudaraan yang terbangun. Hingga kini kedua desa itu merasa saling memiliki. Warga desa terjarah selalu merasa memiliki Barong yang kini ada di desa terjarah, sementara warga desa penjarah tidak pernah lupa dengan asal Barong itu.

Meski begitu desa terjarah percaya bahwa Barong itu memang semestinya di sana. Memang takdir. Kehendak Tuhan. Kehendak Batara. Kedua desa beranggapan sama. Makanya, tak ada pula warga yang menuntut agar Barong itu dikembalikan. Pun tak pernah ada kabar orang yang mendesak agar Barong itu dipakasa untuk bertahan, tetapi yang paling penting, desa yang dulu “menjarah” telah bersaudara dengan desa “terjarah” hingga kini.

Rupanya, Grudug telah melewati beberapa gelas ketika bercerita. Saking menggebunya, ia tak sadar teman-temannya sudah terkapar dengan suara dengkuran yang berbeda-beda di tengah hening kampungnya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks

Next Post

Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co