2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persaudaraan di Bali, Barong dan Penjarahan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 28, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Orang Bali sangat suka bersaudara. Percayalah! Bayangkan jika sesama orang Bali bertemu di tempat perantauan, mereka tidak jarang akan berkumpul untuk mengingat kampung halaman. Ini menurut cerita seorang teman. Ketika ia kuliah di luar Bali, ia dengan semangat mencari kos yang isinya hanya orang Bali. Kemudian kegiatannya seperti bagaimana yang mereka lakukan di kampung. Misalnya, sebelum hari raya tiba, mereka berusaha mengumpulkan uang untuk bisa membuat lawar, manggang-manggang, bikin sate, atau membuat guling babi.

Setelah mereka pulang kampung dan singgah ke rumah masing-masing, para orang tua biasanya bertanya dari pertanyaan umum, lalu menyempit, semakin sempit, hingga pertanyaan yang sangat personal. Bagi yang tidak biasa, hal ini bisa membuat tidak nyaman, tapi hal ini biasa bagi orang Bali.

“Dari mana? Orang tua bekerja di mana? Pura leluhur di mana? Kasta apa? Saudara berapa?” bahkan, “Sudah menikah? Sudah punya pacar?” dan pertanyaan yang paling rawan, “Sudah nyusun skripsi?”

Bila beruntung seseorang akan menemukan benang merah dari pertanyaan yang paling khusus hingga pertanyaan yang kian umum itu. Misalnya kebetulan yang bertanya mempunyai saudara di daerah tinggal yang ditanya, lalu kaitan saudara itu dengan yang ditanya. Kalau rupanya pertanyaan khusus itu tak menemukan benang merah, maka kembali ke arah pertanyaan yang umum. kebanyakan benang merah akan bertemu di pura leluhur yang ada di Besakih, dan kesimpulannya, “kita adalah saudara”.

Mungkin tujuan dari pertanyaan itu tidak terlalu penting, tetapi, kebiasaan menghubungkan inilah yang paling menarik. Selain mencari silsilah keluarga, persaudaraan biasa juga ditemukan dari sejarah. Nah kalau persaudaraan inilah yang Grudug gemari. Ia sering membawa cerita yang sama ini kemana-mana sebagai bahan obrolan. Katanya, “Persaudaraan yang paling unik adalah persaudaraan dengan maling!” 

Ketika mendengar celotehan itu, teman-teman yang mendengar ceritanya segera mengerutkan alis. Beberapa berpikir, “Omong kosong macam apa lagi yang akan diceritakan Grudug?” Tapi mereka akan tetap mendengarkan meski dianggap omong kosong.

Grudug memulai cerita itu dari cerita tentang hal-hal yang umum, terkait jalinan persaudaraan yang dibangun karena kayu. Hal ini sangat lumrah. Sebagian besar desa di Bali memiliki Barong yang disakralkan dan ditempatkan di Pura. Sebelum membuat Barong, biasanya warga desa akan mencari kayu yang tepat untuk kepala barong. Pencarian kayu inilah yang membuka peluang untuk membangun persaudaraan baru.

Jika barong sudah selesai tergarap, maka desa tempat kayu bahan kepala Barong itu adalah saudara dari desa yang mengambil kayu. Persaudaraan ini diwujudkan dari kehadiran barong itu ketika upacara/Odalan di desa kayu didapat.

“Sangat lumrah, kan? Di banyak desa ini terjadi.” Teman-temannya yang merasa paham langsung manggut-manggut sambil memaku senyum lebarnya. Dengan berbisik temannya berkata, “Rupanya bukan omong kosong”

“Persaudaraan yang dijalin bersama maling inilah yang luar biasa.” Kali ini teman-temannya tidak protes. Mereka mendengarkan dengan saksama berharap tempo yang sesingkat-singkatnya sambil memutar tuak yang ada di tengah-tengah mereka.

“Pada zaman dahulu… dulu… dulu sekali…”

Nah, Grudug berkata bahwa ada sebuah desa pernah memiliki Barong. Tetapi kini Barong itu sudah tidak ada lagi. Kala itu, desa tersebut sedang perang melawan desa lain. Keadaan desanya begitu mencekam sebab peperangan sedang berlangsung

“Entah memperebutkan sawah, wilayah kekuasaan, atau rebutan aliran air. Entahlah, intinya perang sedang berlangsung,” kata Grudug dengan dahi mengkerut dan mulut yang dilekuk ke bawah.

Ketika perang sedang berlangsung itulah, warga desa yang letaknya sangat jauh mendengar kabar itu. Tetapi mereka tidak mengambil posisi dalam perang, tidak memihak salah satu desa. Tidak sebagai kawan, pun sebagai lawan. Tetapi, mereka tiba-tiba datang ke desa itu untuk menjarah. Barang-barang mereka jarah. Ketika itu mereka membawa lesung batu yang besar, dan sebagainya. Tetapi yang paling ekstrem, mereka mengambil Barong miliki desa yang ukurannya cukup besar.

“Makanya desa itu tak punya Barong,” tegasnya.

“Tetapi, desa penjarah dan desa dijarah sekarang menganggap diri bersaudara,” kata Grudug dengan senyum lebar dan jeda yang agak lama untuk memancing pertanyaan teman.

Seseorang terpancing. Dengan lekuk alis yang mengkerut sambil menuangkan tuak, temannya mendesak, “Cepat sampaikan, kenapa bisa begitu?”

Pancingan itu disambar, Grudug melanjutkan ceritanya dengan dramatis. Katanya, Barong yang dicuri itu di kemudian hari meronta-ronta dengan sendirinya. Warga desa pun panik, berbagai upacara digelar.

Ketika upacara dilangsungkan, seseorang tiba-tiba jatuh terkulai. Seperti saat jatuh, seseorang itu juga tiba-tiba terperjat bangun dengan wajah yang terlihat menyeramkan. Kusam. Sedih.

“Barong itu ingin pulang ke tempat asalnya untuk turut dalam Odalan.”

“Barong itu ingin mudik?” komentar temannya.

“Wuuss, jangan sembarang kalau ngomong,” bentak yang lain.

Permintaan Barong sakral yang disampaikan melalui seseorang yang terkulai itu dipenuhi. Semenjak itu, setiap Odalan digelar Barong itu harus hadir di pura asal Barong. Tetapi entah mengapa, Barong itu juga tidak dikembalikan hingga kini. Kata orang-orang dari desa itu, Barong hanya ingin sesekali pulang, bukan kembali untuk selama-lamanya.

Karena mereka selalu hadir saat Odalan digelar dan menempuh perjalanan yang cukup jauh, desa yang konon terjarah itu selalu mempersiapkan hidangan istemewa untuk warga desa penjarah. Setiap mereka datang dan Barong sudah ditempatkan di pura, maka warga desa penjarah itu akan dipandu oleh seseorang dari desa terjarah untuk segera makan-makan.

Begitulah jalinan persaudaraan yang terbangun. Hingga kini kedua desa itu merasa saling memiliki. Warga desa terjarah selalu merasa memiliki Barong yang kini ada di desa terjarah, sementara warga desa penjarah tidak pernah lupa dengan asal Barong itu.

Meski begitu desa terjarah percaya bahwa Barong itu memang semestinya di sana. Memang takdir. Kehendak Tuhan. Kehendak Batara. Kedua desa beranggapan sama. Makanya, tak ada pula warga yang menuntut agar Barong itu dikembalikan. Pun tak pernah ada kabar orang yang mendesak agar Barong itu dipakasa untuk bertahan, tetapi yang paling penting, desa yang dulu “menjarah” telah bersaudara dengan desa “terjarah” hingga kini.

Rupanya, Grudug telah melewati beberapa gelas ketika bercerita. Saking menggebunya, ia tak sadar teman-temannya sudah terkapar dengan suara dengkuran yang berbeda-beda di tengah hening kampungnya. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks

Next Post

Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Saat Teknologi Tak Lagi Netral

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co