8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merantau ke Tanah Kelahiran

PanchoNgaco by PanchoNgaco
September 7, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Judulnya aneh ya?

Masa merantau ke tanah kelahiran?

Maksudnya mungkin pulang kampung ya?

***

Percaya atau tidak, judul itu mewakili dengan tepat, apa yang kualami sekarang. Bahkan menurutku, ada banyak orang lain yang juga mengalaminya. Seseorang lahir di sebuah daerah, meninggalkan daerah itu sedari kecil, bertumbuh dan berproses di daerah lain, menjadi akrab dengan daerah itu, lalu kembali ke tanah kelahirannya setelah beranjak dewasa. Setibanya ke tanah kelahiran, orang ini malah merasa asing, sendirian, dan merindu perantauannya.

Nah, itulah aku. Kehidupanku bermula dari sebuah rumah sakit ibu dan anak di bilangan Jakarta Barat. Tiga hari setelah aku lahir, ibu dan ayah membawaku pulang ke sebuah rumah tua yang disegarkan dengan pohon jambu pada salah satu gang di Jakarta. Orang sekitar menamakan gang itu “Tanjakan” karena banyak sekali jalan menanjak di dalamnya.

Tanpa sempat akrab dengan tanah kelahiran, orang tua membawa aku dan kedua kakakku menyeberang ke Pulau Bali. Kala itu, usiaku bahkan belum genap setahun dan aku baru mulai belajar jalan. Jadilah ketika aku mulai memahami sekitar, dunia yang kulihat dan kukenal pertama kali adalah pulau dengan sejuta bunga Kamboja itu.

Aku melewati 17 tahun hidupku di tanah yang hangat tersebut. Dari belajar jalan, belajar bicara, belajar pacaran, belajar memukul orang, sampai belajar pura-pura belajar, semuanya terjadi di Pulau Bali. Maka tak sepenuhnya salah dong jika kemudian aku mengakui Bali sebagai kampung halamanku.

Tibalah saatnya kuliah, aku dengan terpaksa harus merantau ke tanah kelahiran. Aku bilang terpaksa karena memang tak sedikit pun dalam diri ada keinginan untuk menjalani waktu yang panjang di ibu kota yang luar biasa padatnya ini. Aku terpaksa “merantau” kembali ke ibu kota karena ayah dan kedua abangku sudah lebih dulu balik Jakarta. Terutama ibu, beliau merasa sangat berat hati jika aku harus hidup sendiri di Bali (mungkin menurutnya aku bisa begitu tak beraturannya jika dibiarkan hidup sendirian di suatu daerah). Karena kupikir menyenangkan orang tua tidak pernah ada buruknya, jadilah aku manut.

Benar saja jika kukatakan aku ini perantauan di tanah kelahiran. Aku sama sekali tidak merasakan keakraban di kota ini. Ketika menjalani seminggu pertama di Jakarta, aku malah merasa asing dan tersesat. Sulit untuk menemukan memori yang bisa membuatku tersenyum saat mengingatnya. Sekalipun ada, memori itu adalah memori perjalanan darat Jakarta – Bali yang cukup sering kutempuh saat liburan sekolah dulu.

Kesan pertamaku pada tanah kelahiran ini berubah ketika kembali untuk “merantau”. Dulu, teringat sekali betapa semringahnya aku dan kedua kakakku jika sudah memasuki Jakarta. Dulu aku selalu menjadikan sebuah bangunan gelap yang cukup mencolok dengan aksen grafis lancip kuning oranye di bilangan Jakarta Utara sebagai penanda kami sudah masuk Jakarta. Ketika SMA, aku baru tahu kalau bangunan penanda Jakarta versiku itu adalah Hotel Alexis. Bagi yang belum tahu, Alexis itu salah satu hotel prostitusi kelas atas yang paling ikonik di ibukota. Entah kenapa alam bawah sadar mengarahkanku untuk terpikat pada gedung itu sedari aku SD.

Dulu, ketika masih menganggap ke Jakarta sebagai pulang kampung, mal adalah sebuah hal yang mewah di mataku. Bisa masuk ke Mall Taman Anggrek saja, belaguku langsung meningkat seratus persen. Betapa sombongnya aku bisa masuk ke dalam mal yang ketika itu disebut sebagai mal terbesar di Asia Tenggara.

Diriku di masa dulu menganggap Dufan sebagai strata tertinggi dalam destinasi liburan. Butuh usaha untuk mendapatkan prestasi super sempurna di sekolah serta tabungan yang mencukupi demi membujuk orang tua mengajak aku dan kakakku bisa main seharian di taman hiburan keluarga tersebut.

Tempo aku kecil, Jakarta pun masih cukup lengang. Bangunannya masih banyak yang klasik, meskipun tidak seindah masa 1970-an yang pernah kulihat fotonya di buku-buku sejarah. Lahan hijau masih ada meskipun tidak serindang di Bali. Kemacetannya pun masih bisa dinikmati. Pokoknya menawan lah Jakarta itu jika aku berada di sana selama tak lebih dari 10 hari.

Ketika itu pula aku merasa punya citra lebih ketika menyebut diri anak kelahiran Jakarta. Rasanya macam kaum gedongan. Macam orang termaju di Indonesia. Belagu lah! Bisa dibilang, aku cinta dan bangga dengan Jakarta pada saat itu.

Merantau ke tanah kelahiran di usia menuju dewasa (tahun 2008) akhirnya membuatku banyak mengalami perubahan sudut pandang. Ironisnya, sudut pandangku ke Jakarta malah lebih banyak berubah ke arah negatif.

Aku jadi merasa Jakarta terlalu berlebihan. Terlalu sibuk. Terlalu ramai. Terlalu urban. Terlalu modern. Dan pastinya, terlalu panas. Rusak sudah kebanggaanku sebagai anak gedongan. Aku malah jadi sering merasa kecewa “kenapa aku lahir sebagai anak Jakarta?”. Anak kota yang diidentikkan sebagai orang sombong, tidak pernah hidup susah, tidak tahu kondisi sekitarnya, dan tidak punya kampung halaman.

Bagaimana aku bisa bilang pulang kampung sementara tempat ini adalah kota di mana kampungnya tersisih oleh modernitas yang gila-gilaan. Alamnya kalah dengan rangka besi dan beton. Mau cari pantai pun aku harus mimpi dulu. Ketika dulu di Bali aku bisa berekreasi dengan mudah dan murahnya ke pantai, alun-alun, air terjun, sungai, hutan, bukit, dan gunung, kini yang ada aku terjebak di antara mal, restoran, mal, restoran, tempat prostitusi, dan kolong jembatan. Jika pun ada pantai atau hutan, semuanya rekayasa teknologi. Semuanya pun baru bisa kunikmati setelah menggali saku dan dompet.

Masa-masa “perang dingin” dengan Jakarta ini berlangsung hingga 4 tahun pertama masa perantauanku. Selama itu, aku terus mengutuki tanah kelahiran ini. Tanpa aku sadari bahwa nantinya segala kedewasaan dan kekuatanku ternyata ditempa dengan sangat luar biasa oleh kota ini.

Kini aku sudah lebih dari satu dekade merantau di tanah kelahiranku. Aku masih tidak menemukan indahnya konsep kampung halaman di sini. Meski begitu, banyak hal yang akhirnya membuatku bisa nyaman berada lama di Jakarta. Untungnya, hal itu bukan tentang materi. Untungnya lagi, sekarang aku sudah bisa mulai rindu dengan tanah kelahiranku ketika aku sedang jauh darinya. Jakarta memang seperti kekasih. Jauh dicari, dekat dimarahi.

Terima kasih Jakarta.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Natal

Next Post

Dalam Bayang-bayang Rock Alternatif di Telinga Kirimu

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Dalam Bayang-bayang Rock Alternatif di Telinga Kirimu

Dalam Bayang-bayang Rock Alternatif di Telinga Kirimu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co