29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merantau ke Tanah Kelahiran

PanchoNgaco by PanchoNgaco
September 7, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Judulnya aneh ya?

Masa merantau ke tanah kelahiran?

Maksudnya mungkin pulang kampung ya?

***

Percaya atau tidak, judul itu mewakili dengan tepat, apa yang kualami sekarang. Bahkan menurutku, ada banyak orang lain yang juga mengalaminya. Seseorang lahir di sebuah daerah, meninggalkan daerah itu sedari kecil, bertumbuh dan berproses di daerah lain, menjadi akrab dengan daerah itu, lalu kembali ke tanah kelahirannya setelah beranjak dewasa. Setibanya ke tanah kelahiran, orang ini malah merasa asing, sendirian, dan merindu perantauannya.

Nah, itulah aku. Kehidupanku bermula dari sebuah rumah sakit ibu dan anak di bilangan Jakarta Barat. Tiga hari setelah aku lahir, ibu dan ayah membawaku pulang ke sebuah rumah tua yang disegarkan dengan pohon jambu pada salah satu gang di Jakarta. Orang sekitar menamakan gang itu “Tanjakan” karena banyak sekali jalan menanjak di dalamnya.

Tanpa sempat akrab dengan tanah kelahiran, orang tua membawa aku dan kedua kakakku menyeberang ke Pulau Bali. Kala itu, usiaku bahkan belum genap setahun dan aku baru mulai belajar jalan. Jadilah ketika aku mulai memahami sekitar, dunia yang kulihat dan kukenal pertama kali adalah pulau dengan sejuta bunga Kamboja itu.

Aku melewati 17 tahun hidupku di tanah yang hangat tersebut. Dari belajar jalan, belajar bicara, belajar pacaran, belajar memukul orang, sampai belajar pura-pura belajar, semuanya terjadi di Pulau Bali. Maka tak sepenuhnya salah dong jika kemudian aku mengakui Bali sebagai kampung halamanku.

Tibalah saatnya kuliah, aku dengan terpaksa harus merantau ke tanah kelahiran. Aku bilang terpaksa karena memang tak sedikit pun dalam diri ada keinginan untuk menjalani waktu yang panjang di ibu kota yang luar biasa padatnya ini. Aku terpaksa “merantau” kembali ke ibu kota karena ayah dan kedua abangku sudah lebih dulu balik Jakarta. Terutama ibu, beliau merasa sangat berat hati jika aku harus hidup sendiri di Bali (mungkin menurutnya aku bisa begitu tak beraturannya jika dibiarkan hidup sendirian di suatu daerah). Karena kupikir menyenangkan orang tua tidak pernah ada buruknya, jadilah aku manut.

Benar saja jika kukatakan aku ini perantauan di tanah kelahiran. Aku sama sekali tidak merasakan keakraban di kota ini. Ketika menjalani seminggu pertama di Jakarta, aku malah merasa asing dan tersesat. Sulit untuk menemukan memori yang bisa membuatku tersenyum saat mengingatnya. Sekalipun ada, memori itu adalah memori perjalanan darat Jakarta – Bali yang cukup sering kutempuh saat liburan sekolah dulu.

Kesan pertamaku pada tanah kelahiran ini berubah ketika kembali untuk “merantau”. Dulu, teringat sekali betapa semringahnya aku dan kedua kakakku jika sudah memasuki Jakarta. Dulu aku selalu menjadikan sebuah bangunan gelap yang cukup mencolok dengan aksen grafis lancip kuning oranye di bilangan Jakarta Utara sebagai penanda kami sudah masuk Jakarta. Ketika SMA, aku baru tahu kalau bangunan penanda Jakarta versiku itu adalah Hotel Alexis. Bagi yang belum tahu, Alexis itu salah satu hotel prostitusi kelas atas yang paling ikonik di ibukota. Entah kenapa alam bawah sadar mengarahkanku untuk terpikat pada gedung itu sedari aku SD.

Dulu, ketika masih menganggap ke Jakarta sebagai pulang kampung, mal adalah sebuah hal yang mewah di mataku. Bisa masuk ke Mall Taman Anggrek saja, belaguku langsung meningkat seratus persen. Betapa sombongnya aku bisa masuk ke dalam mal yang ketika itu disebut sebagai mal terbesar di Asia Tenggara.

Diriku di masa dulu menganggap Dufan sebagai strata tertinggi dalam destinasi liburan. Butuh usaha untuk mendapatkan prestasi super sempurna di sekolah serta tabungan yang mencukupi demi membujuk orang tua mengajak aku dan kakakku bisa main seharian di taman hiburan keluarga tersebut.

Tempo aku kecil, Jakarta pun masih cukup lengang. Bangunannya masih banyak yang klasik, meskipun tidak seindah masa 1970-an yang pernah kulihat fotonya di buku-buku sejarah. Lahan hijau masih ada meskipun tidak serindang di Bali. Kemacetannya pun masih bisa dinikmati. Pokoknya menawan lah Jakarta itu jika aku berada di sana selama tak lebih dari 10 hari.

Ketika itu pula aku merasa punya citra lebih ketika menyebut diri anak kelahiran Jakarta. Rasanya macam kaum gedongan. Macam orang termaju di Indonesia. Belagu lah! Bisa dibilang, aku cinta dan bangga dengan Jakarta pada saat itu.

Merantau ke tanah kelahiran di usia menuju dewasa (tahun 2008) akhirnya membuatku banyak mengalami perubahan sudut pandang. Ironisnya, sudut pandangku ke Jakarta malah lebih banyak berubah ke arah negatif.

Aku jadi merasa Jakarta terlalu berlebihan. Terlalu sibuk. Terlalu ramai. Terlalu urban. Terlalu modern. Dan pastinya, terlalu panas. Rusak sudah kebanggaanku sebagai anak gedongan. Aku malah jadi sering merasa kecewa “kenapa aku lahir sebagai anak Jakarta?”. Anak kota yang diidentikkan sebagai orang sombong, tidak pernah hidup susah, tidak tahu kondisi sekitarnya, dan tidak punya kampung halaman.

Bagaimana aku bisa bilang pulang kampung sementara tempat ini adalah kota di mana kampungnya tersisih oleh modernitas yang gila-gilaan. Alamnya kalah dengan rangka besi dan beton. Mau cari pantai pun aku harus mimpi dulu. Ketika dulu di Bali aku bisa berekreasi dengan mudah dan murahnya ke pantai, alun-alun, air terjun, sungai, hutan, bukit, dan gunung, kini yang ada aku terjebak di antara mal, restoran, mal, restoran, tempat prostitusi, dan kolong jembatan. Jika pun ada pantai atau hutan, semuanya rekayasa teknologi. Semuanya pun baru bisa kunikmati setelah menggali saku dan dompet.

Masa-masa “perang dingin” dengan Jakarta ini berlangsung hingga 4 tahun pertama masa perantauanku. Selama itu, aku terus mengutuki tanah kelahiran ini. Tanpa aku sadari bahwa nantinya segala kedewasaan dan kekuatanku ternyata ditempa dengan sangat luar biasa oleh kota ini.

Kini aku sudah lebih dari satu dekade merantau di tanah kelahiranku. Aku masih tidak menemukan indahnya konsep kampung halaman di sini. Meski begitu, banyak hal yang akhirnya membuatku bisa nyaman berada lama di Jakarta. Untungnya, hal itu bukan tentang materi. Untungnya lagi, sekarang aku sudah bisa mulai rindu dengan tanah kelahiranku ketika aku sedang jauh darinya. Jakarta memang seperti kekasih. Jauh dicari, dekat dimarahi.

Terima kasih Jakarta.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Natal

Next Post

Dalam Bayang-bayang Rock Alternatif di Telinga Kirimu

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Dalam Bayang-bayang Rock Alternatif di Telinga Kirimu

Dalam Bayang-bayang Rock Alternatif di Telinga Kirimu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co