23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertanyaan tentang Ekspresi Orang Bali dan Jawaban yang Menyesatkan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
June 21, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sebelum “Om Swastyastu” yang baru belajar saya pakai, apa sapaan bagi orang Bali kalau bertemu? Pertanyaan ini lama saya pikirkan. Dan tentunya tidak mendapat jawaban karena tak saya cari. Sungguh kebetulan, ada sebuah esai yang menyinggung mengenai sapaan ini. Tetapi tak memuaskan saya. Sebelum itu, saya juga sempat bertanya pada beberapa teman. Juga tak menghasilkan jawaban. Jujur, saya kecewa. Meski belum banyak mencari dan membaca artikel mengenai itu, pokoknya saya sudah terlanjur kecewa, titik!

Setelah lama saya berpikir-pikir, dari pada saya hanya kecewa, mending sekalian kecewa berat. Satu teman belum saya tanya. Dan saya yakin dia tak akan memberikan jawaban tepat atas pertanyaan saya. Siapa lagi kalau bukan teman baik saya, Grudug. Teman-teman yang lain banyak bertanya tentang suatu hal padanya, tetapi 50% + 1 kecewa.

Untuk mengikuti protokol kesehatan di masa pandemi ini, saya tidak berkunjung ke rumahnya. Lagi pula saya tahu, dia pasti lagi sibuk main layang-layang. Saya coba kirim pesan lewat Wa saja, rupanya langsung dibalas. Wah, saya sumringah. Langsung saya pencet tanda telepon dan sungguh beruntung, dia langsung mengangkat telpon saya.

Pertanyaan tadi langsung saya lempar padanya. Sambil ketawa dia berkata, “Pantas saja salammu membuatku geli. Sering-seringlah belajar biar gak gugup. kayak aku, dong,” katanya dengan percaya diri.

Dugaan awal saya benar, dia tidak tahu jawaban atas pertanyaan saya. tapi, dia hanya menceritakan perihal neneknya. Grudug bercerita kejadian yang belum lama berlalu. Dia sendiri mengalaminya. Kala itu, sekitar tahun 2000-an, dia masih SD, pedagang asongan masih biasa mondar mandir ke rumahnya. Beberapa bahkan sampai akrab, beberapa hanya sesekali datang.

“Kebanyakan pedagang itu telah menjadi teman nenekku,” katanya.

Tetapi, sapaan mereka entah yang sudah kenal atau baru kenal sama saja. Rumah Grudug berada di sebelah barat jalan. Para pedagang yang datang itu akan berteriak dari luar rumah berkali-kali sambil nyelonong masuk, “Jero Dauhne” yang ketika ia terjemahkan menjadi Bahasa Indonesia terdengar sangat buruk dan membuat saya terpingkal-pinkal, “saudara sebelah barat” tentu saja itu terjemahan asal-asalan. Yang jelas, itu salam untuk orang-orang yang posisi rumahnya di sebelah barat jalan, kalau di sebelah timur akan menjadi “jero dangine” dangin atau kangin, yang berarti timur.

“Kalau rumah orang berada di tengah-tengah? Misalnya depan belakang rumahnya jalan?” tanya saya padanya.

“Bentuk rumah seperti itu sangat jarang ada di rumahku. Memang ada tapi sedikit. Biasanya, setiap rumah punya satu gerbang yang disebut angkul-angkul, gerbang lain hanya jalur tikus. Bukan untuk tamu. Kalau mereka membuat dua gerbang, tetap saja jalan yang menjadi patokan,” katanya.

“Tapi aku pikir itu sapaan yang agak resmi,” sambung Grudug, “sebab bila tetanggaku datang mereka jarang-jarang menyapa seperti itu. Palingan ketika memberi pengumuman resmi untuk rapat desa, atau kegiatan adat lainnya. Lebih sering mereka langsung menyebut nama orang yang dicari. Yang lebih akrab, ya main nyelonong aja dan itu tak jadi masalah,” lanjutnya.

“Bagaimana menurutmu tentang nyapa tetangga yang jelas-jelas membawa handuk dan sabun tetap ditanya mau ke mana. Ada kaitannya, gak?”

Grudug mencoba segala kemampuannya untuk menjawab pertanyaan saya yang akhirnya ia menggunakan metode cocokologi. Katanya, tak pernah ia membaca tentang itu, semua jawabannya hanya perkiraan atas pengalaman.

Menurutnya, itulah bentuk salam informal orang kampung. Basa-basi itu salam, bukan sekadar basa-basi seperti gosip. Sama halnya dengan menawari orang singgah walau kita tahu mereka tak mungkin singgah karena membawa kelapa sekarung yang digantung pada bambu dan diangkat dengan Pundak.

“Enggak mungkin singgah! Alih-alih mau singgah, mereka justru berharap cepat sampai rumah. Tapi itu ekspresi salam. Tak ada pakem seperti yang kita kenal sekarang. Mereka bebas membongkar pasang kata untuk basa-basi tadi,” tegas Grudug.

“Apa kau yakin?” tanya saya.

Betul-betul mengecewakan, dengan cengengesan dia menjawab, “tidak yakin, tapi itu yang aku alami. Hehehe”

“Dasar mahasiswa tak bertanggung jawab. Menjawab tanpa landasan teori yang jelas” pikir saya dalam hati.

Ketika itu, sempat pula saya ceritakan padanya mengenai ucapan maaf dan terima kasih. Masalahnya, saya pernah diajak curhat oleh seorang teman yang tidak diberi ucapan terima kasih, padahal sudah dibuatkan tugas dan dibantu mencetak tugas tersebut. Bahkan, dengan uangnya sendiri. Teman saya baper, langsung ia curhat pada saya tentang hal itu.

Menurut Grudug, sapaan, ekspresi terima kasih, dan maaf kurang lebih sama. (Saudara saya harap tidak menuntut landasan pembicaraan kami. Grudug ini hanya orang yang menjawab dengan perasaannya. Saya mengajaknya ngobrol juga dalam rangka menambah kecewa. Jadi, tenang, saudara dan saya akan menjadi korban kecewa bareng-bareng. Kita dengarkan saja penjelasannya).

“Bedasarkan yang aku alami, ya. Aku semenjak kuliah baru belajar mengatakan terima kasih, maaf, dan sekawanannya itu. Kalau di kampung, bila aku tau orang lain berbuat salah, kami tak pernah mengucapkan maaf. Juga terima kasih. Kalau salah ya bicarakan perihal itu. Misalnya ada saudara yang marah sama kita gara-gara kita cabut singkong di ladangnya. Kalau aku biasanya menjelaskan alasan dan kronologinya. Bukan mengucapkan maaf. Kalau terima kasih malah lebih gampang lagi. Biasanya aku akan tersenyum dan bilang ‘aku bawa, ya’ atau ‘aku minta, ya’ cukup. Itu sudah sangat sopan. Kami tak berkata maaf atau terima kasih, tapi sungguh maksunya adalah begitu. Dulu aku juga pernah ditinggal oleh seorang gadis yang dekat denganku gara-gara tidak bilang makasi setelah dikasi kue ulang tahun.”

Dalam hati saya mulai kesal dengan bagian ini, karena itu saya potong saja. Cukup saya yang tahu, sebab kalau dia mulai curhat, Itu bisa membuatnya menelpon lama dan menangis-nangis. Saya pikir itu saja cerita saya dengan Grudug. Saya sudah kecewa dan saya pikir saudara juga begitu. Jadi ingat, pesan moral kali ini, bertanya boleh tapi jangan mudah percaya dengan Grudug. [T]

Tags: baligaya hidupnorma
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Pangan, Hidup Mati Bangsa

Next Post

Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co