23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertanyaan tentang Ekspresi Orang Bali dan Jawaban yang Menyesatkan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
June 21, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sebelum “Om Swastyastu” yang baru belajar saya pakai, apa sapaan bagi orang Bali kalau bertemu? Pertanyaan ini lama saya pikirkan. Dan tentunya tidak mendapat jawaban karena tak saya cari. Sungguh kebetulan, ada sebuah esai yang menyinggung mengenai sapaan ini. Tetapi tak memuaskan saya. Sebelum itu, saya juga sempat bertanya pada beberapa teman. Juga tak menghasilkan jawaban. Jujur, saya kecewa. Meski belum banyak mencari dan membaca artikel mengenai itu, pokoknya saya sudah terlanjur kecewa, titik!

Setelah lama saya berpikir-pikir, dari pada saya hanya kecewa, mending sekalian kecewa berat. Satu teman belum saya tanya. Dan saya yakin dia tak akan memberikan jawaban tepat atas pertanyaan saya. Siapa lagi kalau bukan teman baik saya, Grudug. Teman-teman yang lain banyak bertanya tentang suatu hal padanya, tetapi 50% + 1 kecewa.

Untuk mengikuti protokol kesehatan di masa pandemi ini, saya tidak berkunjung ke rumahnya. Lagi pula saya tahu, dia pasti lagi sibuk main layang-layang. Saya coba kirim pesan lewat Wa saja, rupanya langsung dibalas. Wah, saya sumringah. Langsung saya pencet tanda telepon dan sungguh beruntung, dia langsung mengangkat telpon saya.

Pertanyaan tadi langsung saya lempar padanya. Sambil ketawa dia berkata, “Pantas saja salammu membuatku geli. Sering-seringlah belajar biar gak gugup. kayak aku, dong,” katanya dengan percaya diri.

Dugaan awal saya benar, dia tidak tahu jawaban atas pertanyaan saya. tapi, dia hanya menceritakan perihal neneknya. Grudug bercerita kejadian yang belum lama berlalu. Dia sendiri mengalaminya. Kala itu, sekitar tahun 2000-an, dia masih SD, pedagang asongan masih biasa mondar mandir ke rumahnya. Beberapa bahkan sampai akrab, beberapa hanya sesekali datang.

“Kebanyakan pedagang itu telah menjadi teman nenekku,” katanya.

Tetapi, sapaan mereka entah yang sudah kenal atau baru kenal sama saja. Rumah Grudug berada di sebelah barat jalan. Para pedagang yang datang itu akan berteriak dari luar rumah berkali-kali sambil nyelonong masuk, “Jero Dauhne” yang ketika ia terjemahkan menjadi Bahasa Indonesia terdengar sangat buruk dan membuat saya terpingkal-pinkal, “saudara sebelah barat” tentu saja itu terjemahan asal-asalan. Yang jelas, itu salam untuk orang-orang yang posisi rumahnya di sebelah barat jalan, kalau di sebelah timur akan menjadi “jero dangine” dangin atau kangin, yang berarti timur.

“Kalau rumah orang berada di tengah-tengah? Misalnya depan belakang rumahnya jalan?” tanya saya padanya.

“Bentuk rumah seperti itu sangat jarang ada di rumahku. Memang ada tapi sedikit. Biasanya, setiap rumah punya satu gerbang yang disebut angkul-angkul, gerbang lain hanya jalur tikus. Bukan untuk tamu. Kalau mereka membuat dua gerbang, tetap saja jalan yang menjadi patokan,” katanya.

“Tapi aku pikir itu sapaan yang agak resmi,” sambung Grudug, “sebab bila tetanggaku datang mereka jarang-jarang menyapa seperti itu. Palingan ketika memberi pengumuman resmi untuk rapat desa, atau kegiatan adat lainnya. Lebih sering mereka langsung menyebut nama orang yang dicari. Yang lebih akrab, ya main nyelonong aja dan itu tak jadi masalah,” lanjutnya.

“Bagaimana menurutmu tentang nyapa tetangga yang jelas-jelas membawa handuk dan sabun tetap ditanya mau ke mana. Ada kaitannya, gak?”

Grudug mencoba segala kemampuannya untuk menjawab pertanyaan saya yang akhirnya ia menggunakan metode cocokologi. Katanya, tak pernah ia membaca tentang itu, semua jawabannya hanya perkiraan atas pengalaman.

Menurutnya, itulah bentuk salam informal orang kampung. Basa-basi itu salam, bukan sekadar basa-basi seperti gosip. Sama halnya dengan menawari orang singgah walau kita tahu mereka tak mungkin singgah karena membawa kelapa sekarung yang digantung pada bambu dan diangkat dengan Pundak.

“Enggak mungkin singgah! Alih-alih mau singgah, mereka justru berharap cepat sampai rumah. Tapi itu ekspresi salam. Tak ada pakem seperti yang kita kenal sekarang. Mereka bebas membongkar pasang kata untuk basa-basi tadi,” tegas Grudug.

“Apa kau yakin?” tanya saya.

Betul-betul mengecewakan, dengan cengengesan dia menjawab, “tidak yakin, tapi itu yang aku alami. Hehehe”

“Dasar mahasiswa tak bertanggung jawab. Menjawab tanpa landasan teori yang jelas” pikir saya dalam hati.

Ketika itu, sempat pula saya ceritakan padanya mengenai ucapan maaf dan terima kasih. Masalahnya, saya pernah diajak curhat oleh seorang teman yang tidak diberi ucapan terima kasih, padahal sudah dibuatkan tugas dan dibantu mencetak tugas tersebut. Bahkan, dengan uangnya sendiri. Teman saya baper, langsung ia curhat pada saya tentang hal itu.

Menurut Grudug, sapaan, ekspresi terima kasih, dan maaf kurang lebih sama. (Saudara saya harap tidak menuntut landasan pembicaraan kami. Grudug ini hanya orang yang menjawab dengan perasaannya. Saya mengajaknya ngobrol juga dalam rangka menambah kecewa. Jadi, tenang, saudara dan saya akan menjadi korban kecewa bareng-bareng. Kita dengarkan saja penjelasannya).

“Bedasarkan yang aku alami, ya. Aku semenjak kuliah baru belajar mengatakan terima kasih, maaf, dan sekawanannya itu. Kalau di kampung, bila aku tau orang lain berbuat salah, kami tak pernah mengucapkan maaf. Juga terima kasih. Kalau salah ya bicarakan perihal itu. Misalnya ada saudara yang marah sama kita gara-gara kita cabut singkong di ladangnya. Kalau aku biasanya menjelaskan alasan dan kronologinya. Bukan mengucapkan maaf. Kalau terima kasih malah lebih gampang lagi. Biasanya aku akan tersenyum dan bilang ‘aku bawa, ya’ atau ‘aku minta, ya’ cukup. Itu sudah sangat sopan. Kami tak berkata maaf atau terima kasih, tapi sungguh maksunya adalah begitu. Dulu aku juga pernah ditinggal oleh seorang gadis yang dekat denganku gara-gara tidak bilang makasi setelah dikasi kue ulang tahun.”

Dalam hati saya mulai kesal dengan bagian ini, karena itu saya potong saja. Cukup saya yang tahu, sebab kalau dia mulai curhat, Itu bisa membuatnya menelpon lama dan menangis-nangis. Saya pikir itu saja cerita saya dengan Grudug. Saya sudah kecewa dan saya pikir saudara juga begitu. Jadi ingat, pesan moral kali ini, bertanya boleh tapi jangan mudah percaya dengan Grudug. [T]

Tags: baligaya hidupnorma
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Pangan, Hidup Mati Bangsa

Next Post

Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co