2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertanyaan tentang Ekspresi Orang Bali dan Jawaban yang Menyesatkan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
June 21, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sebelum “Om Swastyastu” yang baru belajar saya pakai, apa sapaan bagi orang Bali kalau bertemu? Pertanyaan ini lama saya pikirkan. Dan tentunya tidak mendapat jawaban karena tak saya cari. Sungguh kebetulan, ada sebuah esai yang menyinggung mengenai sapaan ini. Tetapi tak memuaskan saya. Sebelum itu, saya juga sempat bertanya pada beberapa teman. Juga tak menghasilkan jawaban. Jujur, saya kecewa. Meski belum banyak mencari dan membaca artikel mengenai itu, pokoknya saya sudah terlanjur kecewa, titik!

Setelah lama saya berpikir-pikir, dari pada saya hanya kecewa, mending sekalian kecewa berat. Satu teman belum saya tanya. Dan saya yakin dia tak akan memberikan jawaban tepat atas pertanyaan saya. Siapa lagi kalau bukan teman baik saya, Grudug. Teman-teman yang lain banyak bertanya tentang suatu hal padanya, tetapi 50% + 1 kecewa.

Untuk mengikuti protokol kesehatan di masa pandemi ini, saya tidak berkunjung ke rumahnya. Lagi pula saya tahu, dia pasti lagi sibuk main layang-layang. Saya coba kirim pesan lewat Wa saja, rupanya langsung dibalas. Wah, saya sumringah. Langsung saya pencet tanda telepon dan sungguh beruntung, dia langsung mengangkat telpon saya.

Pertanyaan tadi langsung saya lempar padanya. Sambil ketawa dia berkata, “Pantas saja salammu membuatku geli. Sering-seringlah belajar biar gak gugup. kayak aku, dong,” katanya dengan percaya diri.

Dugaan awal saya benar, dia tidak tahu jawaban atas pertanyaan saya. tapi, dia hanya menceritakan perihal neneknya. Grudug bercerita kejadian yang belum lama berlalu. Dia sendiri mengalaminya. Kala itu, sekitar tahun 2000-an, dia masih SD, pedagang asongan masih biasa mondar mandir ke rumahnya. Beberapa bahkan sampai akrab, beberapa hanya sesekali datang.

“Kebanyakan pedagang itu telah menjadi teman nenekku,” katanya.

Tetapi, sapaan mereka entah yang sudah kenal atau baru kenal sama saja. Rumah Grudug berada di sebelah barat jalan. Para pedagang yang datang itu akan berteriak dari luar rumah berkali-kali sambil nyelonong masuk, “Jero Dauhne” yang ketika ia terjemahkan menjadi Bahasa Indonesia terdengar sangat buruk dan membuat saya terpingkal-pinkal, “saudara sebelah barat” tentu saja itu terjemahan asal-asalan. Yang jelas, itu salam untuk orang-orang yang posisi rumahnya di sebelah barat jalan, kalau di sebelah timur akan menjadi “jero dangine” dangin atau kangin, yang berarti timur.

“Kalau rumah orang berada di tengah-tengah? Misalnya depan belakang rumahnya jalan?” tanya saya padanya.

“Bentuk rumah seperti itu sangat jarang ada di rumahku. Memang ada tapi sedikit. Biasanya, setiap rumah punya satu gerbang yang disebut angkul-angkul, gerbang lain hanya jalur tikus. Bukan untuk tamu. Kalau mereka membuat dua gerbang, tetap saja jalan yang menjadi patokan,” katanya.

“Tapi aku pikir itu sapaan yang agak resmi,” sambung Grudug, “sebab bila tetanggaku datang mereka jarang-jarang menyapa seperti itu. Palingan ketika memberi pengumuman resmi untuk rapat desa, atau kegiatan adat lainnya. Lebih sering mereka langsung menyebut nama orang yang dicari. Yang lebih akrab, ya main nyelonong aja dan itu tak jadi masalah,” lanjutnya.

“Bagaimana menurutmu tentang nyapa tetangga yang jelas-jelas membawa handuk dan sabun tetap ditanya mau ke mana. Ada kaitannya, gak?”

Grudug mencoba segala kemampuannya untuk menjawab pertanyaan saya yang akhirnya ia menggunakan metode cocokologi. Katanya, tak pernah ia membaca tentang itu, semua jawabannya hanya perkiraan atas pengalaman.

Menurutnya, itulah bentuk salam informal orang kampung. Basa-basi itu salam, bukan sekadar basa-basi seperti gosip. Sama halnya dengan menawari orang singgah walau kita tahu mereka tak mungkin singgah karena membawa kelapa sekarung yang digantung pada bambu dan diangkat dengan Pundak.

“Enggak mungkin singgah! Alih-alih mau singgah, mereka justru berharap cepat sampai rumah. Tapi itu ekspresi salam. Tak ada pakem seperti yang kita kenal sekarang. Mereka bebas membongkar pasang kata untuk basa-basi tadi,” tegas Grudug.

“Apa kau yakin?” tanya saya.

Betul-betul mengecewakan, dengan cengengesan dia menjawab, “tidak yakin, tapi itu yang aku alami. Hehehe”

“Dasar mahasiswa tak bertanggung jawab. Menjawab tanpa landasan teori yang jelas” pikir saya dalam hati.

Ketika itu, sempat pula saya ceritakan padanya mengenai ucapan maaf dan terima kasih. Masalahnya, saya pernah diajak curhat oleh seorang teman yang tidak diberi ucapan terima kasih, padahal sudah dibuatkan tugas dan dibantu mencetak tugas tersebut. Bahkan, dengan uangnya sendiri. Teman saya baper, langsung ia curhat pada saya tentang hal itu.

Menurut Grudug, sapaan, ekspresi terima kasih, dan maaf kurang lebih sama. (Saudara saya harap tidak menuntut landasan pembicaraan kami. Grudug ini hanya orang yang menjawab dengan perasaannya. Saya mengajaknya ngobrol juga dalam rangka menambah kecewa. Jadi, tenang, saudara dan saya akan menjadi korban kecewa bareng-bareng. Kita dengarkan saja penjelasannya).

“Bedasarkan yang aku alami, ya. Aku semenjak kuliah baru belajar mengatakan terima kasih, maaf, dan sekawanannya itu. Kalau di kampung, bila aku tau orang lain berbuat salah, kami tak pernah mengucapkan maaf. Juga terima kasih. Kalau salah ya bicarakan perihal itu. Misalnya ada saudara yang marah sama kita gara-gara kita cabut singkong di ladangnya. Kalau aku biasanya menjelaskan alasan dan kronologinya. Bukan mengucapkan maaf. Kalau terima kasih malah lebih gampang lagi. Biasanya aku akan tersenyum dan bilang ‘aku bawa, ya’ atau ‘aku minta, ya’ cukup. Itu sudah sangat sopan. Kami tak berkata maaf atau terima kasih, tapi sungguh maksunya adalah begitu. Dulu aku juga pernah ditinggal oleh seorang gadis yang dekat denganku gara-gara tidak bilang makasi setelah dikasi kue ulang tahun.”

Dalam hati saya mulai kesal dengan bagian ini, karena itu saya potong saja. Cukup saya yang tahu, sebab kalau dia mulai curhat, Itu bisa membuatnya menelpon lama dan menangis-nangis. Saya pikir itu saja cerita saya dengan Grudug. Saya sudah kecewa dan saya pikir saudara juga begitu. Jadi ingat, pesan moral kali ini, bertanya boleh tapi jangan mudah percaya dengan Grudug. [T]

Tags: baligaya hidupnorma
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Pangan, Hidup Mati Bangsa

Next Post

Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Duel Sengit Covid-19 vs COVID-19 – [Tentang Bahasa]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co