3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahu Membahu di Tengah Pandemi

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
May 5, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Pandemi Covid-19 di dunia sudah memasuki bulan kelima sejak pertamakali didentifikasi di China akhir tahun lalu. Kita di Indonesia lebih lambat dua bulan mulai menerima sengatan si matahari ini. Lima bulan berlalu dan tak ada tanda tanda pandemi ini mulai mereda. Dan terlihat perbedaan setiap negara dalam menyikapi pandemi ini untuk melindungi masyarakatnya.

Yang cukup menonjol kita dengar adalah kemampuan Singapura dan Vietnam menihilkan angka kematian akibat virus ini.Singapura dan Vietnam dengan jumlah penduduk yang tak seberapa dibanding kita, dengan geografis terpusat di satu daratan rasanya bukanlah lawan yang sebanding untuk dipertandingkan dengan kita dalam hal keberhasilan penanganan pandemi ini dalam sekian bulan yang telah lewat.

Tanpa hendak menyepelekan usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah, harus kita akui bahwa kita semua, pemerintah dan masyarakat umum tak cukup siap untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran virus ini. Kesan menyepelekan dari awal, tak adanya road map yang jelas tentang penanganan pandemi dan kekurang patuhan warga mengikuti instruksi pihak terkait mungkin hanya sedikit diantara sekian alasan yang bisa kita kemukakan terkait masih tinginya penyebaran kasus Covid-19 di Indonesia sampai hari ini.

Menarik membandingkan respons setiap negara terhadap pandemi ini. Satu yang cukup menarik buat saya adalah pengakuan jujur pemerintah Inggris yang disampaikan perdana menterinya Boris Johnson saat awal virus covid-19 mulai menginfeksi rakyatnya. Dia jujur mengakui pihaknya tak cukup banyak punya referensi tentang virus ini, karena ini adalah strain yang sangat baru dari virus Corona. Sehingga dia mengajak rakyatnya untuk belajar bersama mengenai virus ini, dan melihat negara lain yang telah lebih dulu mengalaminya, dan tetap mentaati aturan yang diberikan pihak berwennag, dalam hal ini adalah pihak kesehatan.

Mungkin tak terbayang kalau misalnya menteri Terawan berkata seperti itu disini, mungkin dia akan segera diminta mundur oleh netizen negeri -62 yang terkenal kejam. Atau justru sebaliknya, karena pengakuan yang jujur dari mereka yang kita beri kepercayaan untuk memimpin. Kita yang dipimpin akan merasa lebih tenang dan tergerak untuk lebih aktif dalam pengendalian pandemi ini bersama. Sekali lagi siapa tahu.

Terlepas dari kedewasaan berpikir masyarakat Inggris sana, dan kematangan sistem demokrasinya. Yang kita tahu negara Inggris tak termasuk negara dengan jumlah kasus dan kematian karena covid-19 yang tinggi bila dibandingkan negara tetangganya yang sesama negara maju, semisal Italia dan Spanyol.

Kembali ke situasi dalam negeri, kekurangsiapan kita, dalam hal ini pemerintah pusat termasuk kementerian kesehatan dalam mengantisipasi pandemi ini cukup terasa terutama untuk kami di jajaran bawah pemerintah dalam hal ini puskesmas sebagai garda terdepan yang langsung berhubungan langsung dan pertama dengan mereka yang dicurigai terifeksi virus ini, entah dari warga yang baru datang dari luar negeri, maupun yang baru tiba dari daerah dengan transmisi lokal. Panduan yang berganti setiap saat, tumpang tindih tanggung jawab antara bebagai pihak terkait jamak kita temukan dalam situasi ini.

Memang benar adanya, situasi sulit akan memaksa individu mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik yang dia miliki. Dalam konteks ini kemampuan menterjemahkan aturan dari atas sesuai dengan situasi yang ada. Dan keluwesan bekerja sama dengan pihak lain dengan latar belakang yang beragam, entah dari profesi, pendidikan maupun daya nalar. Yang menjadi tantangan pertama kami di lapangan antara lain, penatalaksanaan pekerja migran Indonesia (PMI) yang baru datang dari luar negeri, pemeriksaan cepat kepada mereka dan  sistem rujukan bagi mereka yang ter deteksi positif ke rumah sakit rujukan.

Gelombang pertama pekerja migran kita seluruh Bali sudah mencapai ribuan, termasuk di Buleleng cukup banyak dan wilayah puskesmas kami kebetulan tak terlalu banyak. Banyak kendala yang kami temui di lapangan. Karena tak adanya kesamaaan kebijakan antar kecamatan maupun puskesmas.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemda Buleleng dengan mengkarantina mandiri PMI tersebut di hotel seantero Singaraja merupakan ide cemerlang yang kemudian diikuti oleh kabupaten lain. Karantina di hotel ini merupakan satu diantara tiga pilihan untuk PMI yang baru datang dari luar negeri.

Pilihan lain adalah karantina mandiri di rumah, dan terakhir karantina di lokasi yang disediakan oleh desa. Secara sederhana bisa kita lihat pembagian tanggung jawab yang cukup adil. Bagi yang karantina di  rumah tanggung jawab ada pada yag bersangkutan. Untuk yang di desa diserahkan ke pihak                desa dan yang memilih di hotel menjadi tanggung jawab pemda kabupaten Buleleng. Tapi satu yang cukup memberatkan adalah, semua PMI yang karantina mandiri itu menjadi tanggung jawab Puskesmas  untuk urusan kesehatannya. Jadi cukup merepotkan bagi kami yang berlokasi di punggung bukit, mempunyai warga PMI yang karantina  di hotel yang berada di kota Singaraja.

Banyak hal yang terjadi, saat PMI mengeluh batuk dan tak enak badan, kami turun gunung ke kota yang berjarak 60 km untuk memeriksa dan mengobatinya. Pernah juga PMI yang kebetulan sedang hamil muda mengalami perdarahan, masih menghubungi kami untuk segera membawanya ke rumah sakit agar dapat penanganan medis segera. Dan yang cukup merepotkan adalah saat berakhirnya masa karantina 14 hari, para PMI itu harus kami test cepat (Rapid) untuk penapisan awal Covid-19.

Warga kami yang tersebar di beberapa hotel, waktu habis karantinanya tak bersamaan jadi bisa dibayangkan kami nanti setiap hari menyambangi hotel hotel tersebut untuk memeriksa darah PMI tersebut. Dengan jarak 100 km pulang pergi bisa dibayangkan keruwetan yang kami hadapi nanti.

Penyebaran PMI yang tak merata di semua kecamatan dan lokasi karantina yang terpusat di kota, membuat masalah yang cukup rumit dalam pembagian tanggung jawab mengenai kesehatan dan kewajiban melakukan tes cepat untuk para PMI yang telah melewati masa karantina 14 hari. Kesulitan lain yang juga tak bisa duga dan kita hindari adalah kenyataan adanya locus infeksi Covid-19 yang terpusat di satu lokasi.

Seperti kita ketahui terjadi outbreak kejadian positif Rapid untuk covid-19 di desa Bondalem dalam waktu bersamaan. Dan ini membuat teman kami yang mewilayahi desa tersebut, yaitu Puskesmas Tejakula sangat kewalahan untuk menanganinya. Dan dalam situasi ini saya merasakan semangat kebersamaan yang tak terduga dari kami petugas kesehatan yang bertugas di puskesmas, dalam artian puskesmas selain puskesmas Tejakula.

Tanpa banyak wacana puskesmas lain membagi beban rekannya di ujung timur Buleleng tersebut. Puskesmas di kota yang lokasinya dekat dengan tempat karantina PMI dari wilayah Tejakula tanpa perlu diminta dua kali, langsung membantu menangani PMI mereka yang ada di sana. Mulai dari penanganan kesehatan maupun saat waktunya untuk test rapid di ujung masa karantina.

Dan teman puskesmas lain dengan kasus yang “belum” begitu banyak, tanpa diminta langsung meluncur ke lokasi pemeriksaan massal di pasar Bondalem untuk membantu sejawatnya disini. sebuah kesetiakawanan yang menggetarkan hati saya, yang tak saya duga sebelumnya masih kita miliki di zaman materialisme ini.

Untuk saya sendiri yang juga merasakan keruwetan ini, awalnya cukup enggan untuk memberatkan teman puskesmas lain.Apalagi sampai meminta orang lain mengambil darah “ terduga “pasien corona, karena kita tahu resikonya yang besar untuk tertular. Terlepas dari kelengkapan alat pelindung diri yang kita pakai saat memeriksa mereka.

Dan pengalaman selama ini memang yang banyak tertular virus ini adalah para tenaga kesehatan yang sempat kontak dengan penderita Covid-19.Disamping semua puskesmas juga telah mempunyai tanggung jawabnya masing masing terhadap warganya yang masuk kategori PMI .Jadi karena merasa kita semua mempunyai  beban yang sama, maka semestinya kita bisa bertanggung jawab atas kewajiban yang menjadi tugas kita.

Saya pun minta bantuan kepada teman-teman tenaga medis lewat WAGS kepala puskesmas seluruh Kabupaten Buleleng.

                Rekan rekan saya yang baik hati, sudikah kiranya membantu saya memeriksa PMI saya di hotel. Saya jauh sekali dari gunung kalau hanya untuk menjajagi satu dua orang

Tak dinyana, teman-teman di kota tanpa banyak cakap semuanya bersedia untuk membantu saya melakukan test ke beberapa PMI warga saya yang di karantina di hotel. Dan tak cuma satu orang atau satu hari, akhirnya semua tanggung jawab saya terhadap PMI warga saya diambil alih oleh teman teman saya di kota.

Bersama kepala puskesmas se-Buleleng

Sebagai tanda terima kasih, saya biasanya mengirimkan sekresek (tak sekarung) buah ke tempat mereka di kota. Dan untuk menunjukkan rasa gotong royong dengan desa, disamping sebagai tanda tanggung jawab juga dari desa terhadap warganya yang dikarantina di kota. Kami biasanya meminta buah tersebut secara halus kepada pihak desa.

Ini tak susah, karena di masa pandemi ini saya diundang masuk ke banyak grup WA. Dari PMI yang diisolasi, forum muspika kecamatan, forum perbekel se-kecamatan sampai forum cendekiawan desa. Semua memasukkan nomer telepon saya sebagai anggotanya. Jadi begitu saya membuat pengumuman disana,segera sekarung manggis sudah ada di ruangan saya.

Kebetulan bulan ini adalah musim panen di gunung, musim buah. Manggis dan Ceroring bisa setiap hari kita temukan di kebun. Kalau lebih beruntung, duren matang bisa mampir ke tempat praktek dibawakan oleh pasien yang budiman

Begitulah semestinya kita bersikap menghadapi pandemi ini, rajin komunikasi lewat berbagai sarana, kurangi ego sendiri, jangan merasa lebih tahu sendiri dan jangan juga terlalu berharap pada pihak lain. Lakukan semuanya secara berimbang. Zen Mind, Begginer’s Mind, seorang penganut Zen akan selalu merasa dirinya seorang pemula.

Secara sederhana apa yang bisa saya pelajari dari dua bulan pandemi ini, dan dari keruwetan yang saya temukan adalah : satu belajar dari pengalaman mereka yang telah mengalami, sesuaikan dengan kondisi dan sumber daya yang kita miliki. Dua belajar bekerja sama dengan elegan dalam artian simbiosis mutualisme, jangan mengharap keuntungan sendiri, usakan keuntungan bersama, minimal tak terlalu merugikan pihak lain. dan ketiga yang terakhir adalah mantra spesial untuk mereka yang mengaku dirinya  generasi  milenial, yaitu satu kata kunci, kreatif. [T]

Tags: covid 19kesehatan
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Bersastra Online pada Sastra Bali Modern: Ramai dan Guyub

Next Post

Dari Vespa, Aku Jatuh Cinta

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Dari Vespa, Aku Jatuh Cinta

Dari Vespa, Aku Jatuh Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co