23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahu Membahu di Tengah Pandemi

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
May 5, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Pandemi Covid-19 di dunia sudah memasuki bulan kelima sejak pertamakali didentifikasi di China akhir tahun lalu. Kita di Indonesia lebih lambat dua bulan mulai menerima sengatan si matahari ini. Lima bulan berlalu dan tak ada tanda tanda pandemi ini mulai mereda. Dan terlihat perbedaan setiap negara dalam menyikapi pandemi ini untuk melindungi masyarakatnya.

Yang cukup menonjol kita dengar adalah kemampuan Singapura dan Vietnam menihilkan angka kematian akibat virus ini.Singapura dan Vietnam dengan jumlah penduduk yang tak seberapa dibanding kita, dengan geografis terpusat di satu daratan rasanya bukanlah lawan yang sebanding untuk dipertandingkan dengan kita dalam hal keberhasilan penanganan pandemi ini dalam sekian bulan yang telah lewat.

Tanpa hendak menyepelekan usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah, harus kita akui bahwa kita semua, pemerintah dan masyarakat umum tak cukup siap untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran virus ini. Kesan menyepelekan dari awal, tak adanya road map yang jelas tentang penanganan pandemi dan kekurang patuhan warga mengikuti instruksi pihak terkait mungkin hanya sedikit diantara sekian alasan yang bisa kita kemukakan terkait masih tinginya penyebaran kasus Covid-19 di Indonesia sampai hari ini.

Menarik membandingkan respons setiap negara terhadap pandemi ini. Satu yang cukup menarik buat saya adalah pengakuan jujur pemerintah Inggris yang disampaikan perdana menterinya Boris Johnson saat awal virus covid-19 mulai menginfeksi rakyatnya. Dia jujur mengakui pihaknya tak cukup banyak punya referensi tentang virus ini, karena ini adalah strain yang sangat baru dari virus Corona. Sehingga dia mengajak rakyatnya untuk belajar bersama mengenai virus ini, dan melihat negara lain yang telah lebih dulu mengalaminya, dan tetap mentaati aturan yang diberikan pihak berwennag, dalam hal ini adalah pihak kesehatan.

Mungkin tak terbayang kalau misalnya menteri Terawan berkata seperti itu disini, mungkin dia akan segera diminta mundur oleh netizen negeri -62 yang terkenal kejam. Atau justru sebaliknya, karena pengakuan yang jujur dari mereka yang kita beri kepercayaan untuk memimpin. Kita yang dipimpin akan merasa lebih tenang dan tergerak untuk lebih aktif dalam pengendalian pandemi ini bersama. Sekali lagi siapa tahu.

Terlepas dari kedewasaan berpikir masyarakat Inggris sana, dan kematangan sistem demokrasinya. Yang kita tahu negara Inggris tak termasuk negara dengan jumlah kasus dan kematian karena covid-19 yang tinggi bila dibandingkan negara tetangganya yang sesama negara maju, semisal Italia dan Spanyol.

Kembali ke situasi dalam negeri, kekurangsiapan kita, dalam hal ini pemerintah pusat termasuk kementerian kesehatan dalam mengantisipasi pandemi ini cukup terasa terutama untuk kami di jajaran bawah pemerintah dalam hal ini puskesmas sebagai garda terdepan yang langsung berhubungan langsung dan pertama dengan mereka yang dicurigai terifeksi virus ini, entah dari warga yang baru datang dari luar negeri, maupun yang baru tiba dari daerah dengan transmisi lokal. Panduan yang berganti setiap saat, tumpang tindih tanggung jawab antara bebagai pihak terkait jamak kita temukan dalam situasi ini.

Memang benar adanya, situasi sulit akan memaksa individu mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik yang dia miliki. Dalam konteks ini kemampuan menterjemahkan aturan dari atas sesuai dengan situasi yang ada. Dan keluwesan bekerja sama dengan pihak lain dengan latar belakang yang beragam, entah dari profesi, pendidikan maupun daya nalar. Yang menjadi tantangan pertama kami di lapangan antara lain, penatalaksanaan pekerja migran Indonesia (PMI) yang baru datang dari luar negeri, pemeriksaan cepat kepada mereka dan  sistem rujukan bagi mereka yang ter deteksi positif ke rumah sakit rujukan.

Gelombang pertama pekerja migran kita seluruh Bali sudah mencapai ribuan, termasuk di Buleleng cukup banyak dan wilayah puskesmas kami kebetulan tak terlalu banyak. Banyak kendala yang kami temui di lapangan. Karena tak adanya kesamaaan kebijakan antar kecamatan maupun puskesmas.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemda Buleleng dengan mengkarantina mandiri PMI tersebut di hotel seantero Singaraja merupakan ide cemerlang yang kemudian diikuti oleh kabupaten lain. Karantina di hotel ini merupakan satu diantara tiga pilihan untuk PMI yang baru datang dari luar negeri.

Pilihan lain adalah karantina mandiri di rumah, dan terakhir karantina di lokasi yang disediakan oleh desa. Secara sederhana bisa kita lihat pembagian tanggung jawab yang cukup adil. Bagi yang karantina di  rumah tanggung jawab ada pada yag bersangkutan. Untuk yang di desa diserahkan ke pihak                desa dan yang memilih di hotel menjadi tanggung jawab pemda kabupaten Buleleng. Tapi satu yang cukup memberatkan adalah, semua PMI yang karantina mandiri itu menjadi tanggung jawab Puskesmas  untuk urusan kesehatannya. Jadi cukup merepotkan bagi kami yang berlokasi di punggung bukit, mempunyai warga PMI yang karantina  di hotel yang berada di kota Singaraja.

Banyak hal yang terjadi, saat PMI mengeluh batuk dan tak enak badan, kami turun gunung ke kota yang berjarak 60 km untuk memeriksa dan mengobatinya. Pernah juga PMI yang kebetulan sedang hamil muda mengalami perdarahan, masih menghubungi kami untuk segera membawanya ke rumah sakit agar dapat penanganan medis segera. Dan yang cukup merepotkan adalah saat berakhirnya masa karantina 14 hari, para PMI itu harus kami test cepat (Rapid) untuk penapisan awal Covid-19.

Warga kami yang tersebar di beberapa hotel, waktu habis karantinanya tak bersamaan jadi bisa dibayangkan kami nanti setiap hari menyambangi hotel hotel tersebut untuk memeriksa darah PMI tersebut. Dengan jarak 100 km pulang pergi bisa dibayangkan keruwetan yang kami hadapi nanti.

Penyebaran PMI yang tak merata di semua kecamatan dan lokasi karantina yang terpusat di kota, membuat masalah yang cukup rumit dalam pembagian tanggung jawab mengenai kesehatan dan kewajiban melakukan tes cepat untuk para PMI yang telah melewati masa karantina 14 hari. Kesulitan lain yang juga tak bisa duga dan kita hindari adalah kenyataan adanya locus infeksi Covid-19 yang terpusat di satu lokasi.

Seperti kita ketahui terjadi outbreak kejadian positif Rapid untuk covid-19 di desa Bondalem dalam waktu bersamaan. Dan ini membuat teman kami yang mewilayahi desa tersebut, yaitu Puskesmas Tejakula sangat kewalahan untuk menanganinya. Dan dalam situasi ini saya merasakan semangat kebersamaan yang tak terduga dari kami petugas kesehatan yang bertugas di puskesmas, dalam artian puskesmas selain puskesmas Tejakula.

Tanpa banyak wacana puskesmas lain membagi beban rekannya di ujung timur Buleleng tersebut. Puskesmas di kota yang lokasinya dekat dengan tempat karantina PMI dari wilayah Tejakula tanpa perlu diminta dua kali, langsung membantu menangani PMI mereka yang ada di sana. Mulai dari penanganan kesehatan maupun saat waktunya untuk test rapid di ujung masa karantina.

Dan teman puskesmas lain dengan kasus yang “belum” begitu banyak, tanpa diminta langsung meluncur ke lokasi pemeriksaan massal di pasar Bondalem untuk membantu sejawatnya disini. sebuah kesetiakawanan yang menggetarkan hati saya, yang tak saya duga sebelumnya masih kita miliki di zaman materialisme ini.

Untuk saya sendiri yang juga merasakan keruwetan ini, awalnya cukup enggan untuk memberatkan teman puskesmas lain.Apalagi sampai meminta orang lain mengambil darah “ terduga “pasien corona, karena kita tahu resikonya yang besar untuk tertular. Terlepas dari kelengkapan alat pelindung diri yang kita pakai saat memeriksa mereka.

Dan pengalaman selama ini memang yang banyak tertular virus ini adalah para tenaga kesehatan yang sempat kontak dengan penderita Covid-19.Disamping semua puskesmas juga telah mempunyai tanggung jawabnya masing masing terhadap warganya yang masuk kategori PMI .Jadi karena merasa kita semua mempunyai  beban yang sama, maka semestinya kita bisa bertanggung jawab atas kewajiban yang menjadi tugas kita.

Saya pun minta bantuan kepada teman-teman tenaga medis lewat WAGS kepala puskesmas seluruh Kabupaten Buleleng.

                Rekan rekan saya yang baik hati, sudikah kiranya membantu saya memeriksa PMI saya di hotel. Saya jauh sekali dari gunung kalau hanya untuk menjajagi satu dua orang

Tak dinyana, teman-teman di kota tanpa banyak cakap semuanya bersedia untuk membantu saya melakukan test ke beberapa PMI warga saya yang di karantina di hotel. Dan tak cuma satu orang atau satu hari, akhirnya semua tanggung jawab saya terhadap PMI warga saya diambil alih oleh teman teman saya di kota.

Bersama kepala puskesmas se-Buleleng

Sebagai tanda terima kasih, saya biasanya mengirimkan sekresek (tak sekarung) buah ke tempat mereka di kota. Dan untuk menunjukkan rasa gotong royong dengan desa, disamping sebagai tanda tanggung jawab juga dari desa terhadap warganya yang dikarantina di kota. Kami biasanya meminta buah tersebut secara halus kepada pihak desa.

Ini tak susah, karena di masa pandemi ini saya diundang masuk ke banyak grup WA. Dari PMI yang diisolasi, forum muspika kecamatan, forum perbekel se-kecamatan sampai forum cendekiawan desa. Semua memasukkan nomer telepon saya sebagai anggotanya. Jadi begitu saya membuat pengumuman disana,segera sekarung manggis sudah ada di ruangan saya.

Kebetulan bulan ini adalah musim panen di gunung, musim buah. Manggis dan Ceroring bisa setiap hari kita temukan di kebun. Kalau lebih beruntung, duren matang bisa mampir ke tempat praktek dibawakan oleh pasien yang budiman

Begitulah semestinya kita bersikap menghadapi pandemi ini, rajin komunikasi lewat berbagai sarana, kurangi ego sendiri, jangan merasa lebih tahu sendiri dan jangan juga terlalu berharap pada pihak lain. Lakukan semuanya secara berimbang. Zen Mind, Begginer’s Mind, seorang penganut Zen akan selalu merasa dirinya seorang pemula.

Secara sederhana apa yang bisa saya pelajari dari dua bulan pandemi ini, dan dari keruwetan yang saya temukan adalah : satu belajar dari pengalaman mereka yang telah mengalami, sesuaikan dengan kondisi dan sumber daya yang kita miliki. Dua belajar bekerja sama dengan elegan dalam artian simbiosis mutualisme, jangan mengharap keuntungan sendiri, usakan keuntungan bersama, minimal tak terlalu merugikan pihak lain. dan ketiga yang terakhir adalah mantra spesial untuk mereka yang mengaku dirinya  generasi  milenial, yaitu satu kata kunci, kreatif. [T]

Tags: covid 19kesehatan
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Bersastra Online pada Sastra Bali Modern: Ramai dan Guyub

Next Post

Dari Vespa, Aku Jatuh Cinta

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Dari Vespa, Aku Jatuh Cinta

Dari Vespa, Aku Jatuh Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co