24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengingat Pesan Nenek di Tengah Wabah Corona

Agus Wiratama by Agus Wiratama
April 24, 2020
in Esai
Mengingat Pesan Nenek di Tengah Wabah Corona

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Suara sepeda motor yang agak kencang terdengar nyaring ketika beberapa anak sibuk bermain di depan sebuah kamar. Salah seorang anak tiba-tiba berteriak, “Bapak datang!”

Ia bergegas mangambil sandal yang tak jauh darinya. Belum jauh melangkah, anak itu langsung ditangkap oleh seorang wanita yang kebetulan melihatnya, “Gak boleh nyamperin orang baru datang!” tegur perempuan itu.

Anak itu pun terisak dan langsung menangis. Bagaimana tidak menangis, baru kali ini ia dilarang menyapa ayahnya yang baru sampai rumah.

Peristiwa tersebut mengingatkan saya dengan pesan-pesan lama nenek. Dulu, semasih nenek ada, saya selalu dilarang menghampiri siapa pun yang baru datang dari bekerja atau bepergian, jangankan tamu, ibu yang kala itu selalu membawakan oleh-oleh pun tak boleh langsung dihampiri. Tetapi, ponakan-ponakan saya tidak merasakan larangan itu, sebab nenek telah tak ada.

Mereka terbiasa dengan oleh-oleh yang disambar ketika orang tuanya datang. Memeluk manja bapak atau ibunya yang ditunggu dari pagi. Suasana ini memang sangat sejuk dilihat, tetapi inilah yang tidak dibenarkan nenek saya.

Selain menghampiri orang yang datang dari bepergian jauh atau dari tempat bekerja, ada satu hal yang sangat tabu dilakukan, yaitu menyentuh orang yang datang dari kuburan. Hal ini benar-benar tak boleh dilanggar. Bila itu saya lakukan, hukuman akan segera menimpa saya.

Setiap orang yang datang dari kuburan tidak boleh disentuh, jarak harus dijaga sebelum ia menuju dapur untuk melukat dari air yang dilempar ke atas genting untuk kemudian ditadah. Hal itu belum cukup, sebab orang-orang yang belum mandi dan keramas, masih dianggap belum bersih. Jadi, masih ada satu ritual sebelum boleh disentuh. Sebelum adanya wabah Corona saya memandang semua ini adalah peristiwa gaib. Sangat mistis.

Pikir saya, “Jangan-jangan orang yang datang dari perjalanan jauh diikuti oleh makhluk gaib, apalagi dari kuburan yang jelas-jelas merupakan rumah bagi orang meninggal, pasti roh yang entah baik atau jahat banyak di sana. Kalau yang jahat ikut pulang bagaimana?” Begitu pikir saya ketika mendengar larangan seperti itu. Semakin dewasa, saya belum juga berpikir logis, hanya beranggapan, “nak gae-gaene gen, to!”

Sesampainya di rumah sepupu saya yang dikejar oleh anaknya ketika datang dari tempat kerja itu langsung melakukan beberapa ritual yang lebih modern. Pertama, dia melepas hampir semua barang yang digunakan, lalu menyemprot barang-barangnya dengan disinfektan, beberapa pakaiannya yang lain langsung direndam untuk dicuci, kemudian mandi, keramas, besok setelah itu baru mulai menyapa anaknya. Barangkali ini terdengar sedikit berlebihan, tapi saya setuju dengan sikapnya di tengah situasi seperti saat ini.

Sekarang, saya boleh malu terhadap diri sendiri, sebab dulu saya menganggap remeh persoalan ini. Hal seperti ini didukung oleh teman sepergaulan, bahkan kadang orang yang lebih tua berani berkata, “sing ada keto!”

Dan itu membuat saya semakin yakin, bahwa apa yang disampaikan oleh nenek hanya sebuah mitos! Mitos…! Sekarang, pesan lawas itu dibungkus dengan istilah kekinian dan beseliweran di media sosial. Alhasil, saya mengikutinya! Bukankah ini memalukan?

Ketika saya masih gemar nongkrong. Anak muda seumuran saya ketika itu pasti memilih tempat yang dilewati banyak orang. Bagi pemuda kampung, tempat yang paling strategis untuk nongkrong adalah tempat yang barangkali tidak terpikir oleh anak-anak zaman sekarang yaitu, pinggir pertigaan atau perempatan!

Tak ada yang ditunggu di sana, hanya duduk untuk ngobrol, menyiuli gadis lewat, hingga manggang-manggang. Kalau pulang, saya akan mengendap-endap berharap nenek tidak tahu. Alhasil, cara ini tidak pernah gagal, sebab setiap saya pulang nenek sudah tidur, esok harinya kalau ditanya tinggal katakan, “kemarin main ke rumah si Anu” semua beres!

Dulu omongan nenek yang semacam ini hanya omong kosong yang tidak saya pedulikan. Barangkali, dari dunianya, kini ia tertawa cekikikan sambil nyengir, “tuh kan, dilakuin juga sekarang!”

Hal-hal semacam itu perlahan bisa saya cerna akibat pandemi Covid-19. Larangan nongkrong di pertigaan atau perempatan saya pahami secara sederhana saja. Pertigaan atau perempatan menjadi tempat yang seolah angker barangkali karena memberi peluang besar terjadinya pertemuan, terlebih tiupan angin dari banyak arah yang mungkin membawa penyakit. Hal ini tentu saja tidak baik.

Saya membayangkan, bila sekarang saya nongkrong di pinggir perempatan atau pertigaan. Teman yang tak sengaja lewat mungkin akan berhenti untuk basa-basi tanpa kita tahu, dia sehat atau tidak, dan entah penyakit apa yang dibawa. Atau bisa saja di jalan kampung yang sempit, seorang pengendara yang lewat bersin kemudian angin meniupkan ke arah kita, maka hal tidak mengenakkan bisa saja terjadi. Untuk saat ini, pesan nenek saya coba ingat-ingat kembali.

Begitu pula dengan kasus datang dari kuburan tadi. Setelah melihat berita bahwa pasien Covid-19 yang meninggal harus ditangani secara ahli plus pakaian khusus, saya mencoba menghubungkannya dengan pesan nenek. Barangkali, orang meninggal dengan penyakit pun dari dulu dipercayai masih berkemungkinan menularkan penyakit sehingga sepulang dari sana harus bersih terlebih dahulu.

Sekarang, keponakan saya mulai terbiasa dengan situasi semacam ini. Ia mulai sibuk dengan hal yang sedang dikerjakan ketika ayahnya datang meski saya yakin, perhatiannya jauh dari mainan, melainkan tas kecil yang selalu dijinjing ayahnya dengan kejutan yang dibawa setiap pulang. [T]

Tags: covid 19filsafat balirenunganvirusvirus corona
Share106TweetSendShareSend
Previous Post

Peran Nyata LPD Hadapi Covid-19

Next Post

Gadis China yang Menawan

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Gadis China yang Menawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co