2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bioritma Pemersatu Nusantara

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 22, 2020
in Esai
Bioritma Pemersatu Nusantara

Ilustrasi tatkala.co / wikipedia / Nana Partha

Oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti*

____

Pernah mendengar Bioritma (Biorythm)? https://en.wikipedia.org/wiki/Biorhythm

Dunia sempat berpendapat, bahwa manusia punya irama hidup untuk ketahanan fisik, emosi, dan intelektual yang berdaur secara teratur pasang naik dan pasang surutnya. Daur fisik 23 hari, emosi tiap 28 hari, dan intelektual 33 hari.

Tiap orang mengikuti siklus tubuh dan batiniah tersebut sejak lahir sampai mati. Siklus atau daur emosi 28 hari, misalnya, ditunjukkan dengan daur menstruasi bagi rata-rata kaum perempuan. Berbahagialah perempuan karena tubuhnya seiring dengan siklus semesta, dengan itu berkesempatan bersama semesta mengandung dan melahirkan kehidupan.

Bioritma juga dipakai mengukur pemilihan personel kunci yang menentukan keberhasilan perang sampai olympiade. Dulu sempat ada kalkulator bioritma.

Di Nusantara bioritma ini dikenal sebagai Kalender Wuku.

Dasar kalender Nusantara kuno ini lebih rinci berkaitan dengan wariga atau wewaran, mengandung perhitungan dari siklus 1 yaitu Ekawara sampai siklus 10 yaitu Dasawara, bersanding erat dengan perhitungan Wuku (siklus 7 dikalikan 30) yang disebut daur pawukon.

Kalender Wuku ini menentukan hari-hari penting penulisan dan pendirian prasasti, penobatan raja-raja, penentuan hari-hari suci di peradaban pardatuan, kedatuan, dan kerajaan-kerajaan dan komunitas kuno di Sumatera, Kalimantan, Sunda, Jawa, Bali, Buton, Kei, Sumba, dstnya.

Panjangnya wewaran yang diikat oleh pawukon ini masing-masing adalah 210 hari, atau di Bali disebut 6 bulan Bali.

Fisikawan Berlin ternama Wilhelm Fliess abad ke-19 — berdasarkan teori Sigmund Freud — merumuskan daur-daur bioritma membentuk siklus massal yang berdaur 23 x 28 x 33 = 21.252.

Periode nemu-gelang atau satu putaran oleh leluhur Nusantara dibagi menjadi 100 pawukon yang masing-masing sepanjang 210 hari. Totalnya 21.000 hari.

Kenapa rumusan fisikawan Jerman Wilhelm Flies sangat mendekati rumusan nemu gelang?

Dari mana leluhur kita tahu?

Biorhythm telah berdenyut dalam diri dan kehidupan masyarakat Nusantara kuno yang tubuh, napas, dan denyut hidupnya menyatu dengan alam sekitarnya, sungai, gunung-gunung, samudera, langit dan semesta.

Meskipun sempat menjadi pergunjingan sekian lama, bioritma semakin tidak populer karena fisikawan barat patah arang, tidak mempunyai tradisi pengetahuan kuno seperti yang dirumuskan leluhur kita lewat pendalaman laku hidup. Hening batiniah untuk mendengar denyut diri dan alam. Mereka gagal mencari realitas rumusannya, yang padahal, telah berlaku dalam kehidupan dan menjadi kalender peradaban Nusantara kuno dan tersisa sampai kini.

Sebagai bukti pengetahuan kuno ini masih hidup di Bali dan masih sangat menjadi pedoman utama untuk menentukan kalender kegiatan-kegiatan suci, pertanian, kegiatan nelayan dan semua aspek tradisi di Bali — ini berkaitan dengan bioritma karena aritmatikanya berasal dari micro-cosmos, yaitu tubuh manusia sendiri. Pengetahuan yang dihasilkan dari kesadaran kosmik, melalui pengetahuan diri bhuana alit untuk selaras-manunggal dengan alam semesta bhuana agung.

Di Jawa dan Sunda kalender wuku, sasih, titi mangsa masih menjadi jiwa dan irama kehidupan pedesaan.

Rumusnya:

“Wewaran alah dening Wuku, wuku alah dening penanggal lan pangelong, penanggal lan pangelong alah dening sasih, sasih alah dening dawuh, dawuh alah dening Sang Hyang Triyodasa Saksi”.

“Bahwa sistem siklus wewaran dikalahkan pengaruhnya oleh siklus pawukon, pawukon dikalahkan pengaruhnya oleh sasih (siklus bulan purnama dan bulan gelap), siklus sasih dikalahkan pengaruhnya oleh dawuh (putaran “momentum” waktu), “momentum” dikalahkan pengaruhnya oleh Sang Hyang Triyodasa Saksi — Maha Saksi Berwujud Tiga Belas Kekuatan Alam Semesta.“

Sang Hyang Triyodasa Saksi adalah Tiga Belas Kekuatan Mahadasyat pengatur semesta raya. KECERDASAN ULTIMA YANG MENGATUR SEMESTA RAYA. Ini sebab kenapa orang kita mengenal istilah cilaka tiga belas artinya tidak ada siapapun bisa membantu kalau kekuatan besar alam semesta raya bekerja di balik kejadian naas yang dialami.

Bioritma sebagai pemersatu alam pikir Nusantara

Pengorganisasian kehidupan petani, nelayan dan kerajaan di Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, sampai kepulauan Kei dstnya diikat oleh sebuah ikatan agenda kultural dan ritual bersama, yaitu sistem sasih dan kalender pawukon (30 x 7 hari = 210 hari), dikombinasikan dengan sitem lunar dan solar.

Setidaknya kalender Wuku telah mulai dikenal semenjak jaman Dinasti Sanjaya, Kerajaan Medang, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala pada abad ke 8 masehi. Peradaban di balik kebesaran Candi Borobudur dan Prambanan memakai kalender Wuku.

Kalender Wuku sampai saat ini masih sangat relevan mengatur kehidupan keseharian dan sepanjang hayat sebagian warga Indonesia – warga rumpun Sunda, Jawa, Bali dan Lombok, dstnya.

Setidaknya ada 5 peran penting yang sampai saat ini masih relevan dimainkan kalender Wuku dan wewaran dalam kehidupan masyarakat di beberapa suku di Nusantara — seperti Sunda, Jawa, Madura, Bali, Sasak, Sumbawa, dll.

1. Mengatur agenda hajatan ‘ketuhanan’ dan ‘ritus’ keagamaan (ritual tradisional), termasuk hari-hari nyekar (ziarah kubur).

2. Pedoman memahami sebab musabab munculnya halangan hidup, pedoman menjalani tahap-tahap kehidupan, dan bagaimana hal-hal tersebut dirangkai atau dilalui lewat slametan dan ritual Nusantara lainnya.

3. Memahami tabiat dan bawaan bulan dan pralambangnya, serta bagaimana memusnahkan tabiat bawaan dengan ritual menghilangkan ‘pamali diri’ dan ruwatannya.

4. Menjadi pedoman untuk memahami persyaratan memelihara jiwa dan obat penghilang lara.

5. Menjadi media penyatuan dan pengaturan keharmonisan hidup dengan alam dan manusia lain, termasuk di dalamnya sebagai pedoman hari bertani (pertanian), melaut (nelayan), mengambil ternak (peternakan) dsbnya, ini ditempuh dengan perhitungan wewaran dan hitungan 210 hari (Wariga gĕmĕt sajroning wuku sawiji).

Kalender Wuku menjadi ‘sistem keyakinan bersama yang padu secara imajiner’, yang menyatukan ‘imajinasi’ kita sebagai sebuah rumpun suku-suku di Nusantara. Dalam kehidupan rumpun suku-suku Nusantara kuno, sekalipun mereka seolah-oleh sibuk dengan ‘kesukuannya’ masing-masing, mereka dipertemukan secara intens secara ‘kultural’ dan secara ‘batiniah’ oleh sebuah ikatan mendalam yang dibangun oleh mitos dan nilai-nilai yang dimajinasikan bersama, secara bioritmik, melalui piranti dan berbagai perwatakan dan narasi yang berada di balik 30 wuku yang menyusun kalender pawukon tersebut, yang memuat berbagai simbol kultural sarat makna.

Nenek moyang kita telah terasah dan ‘bertemu’ dalam ‘pertemuan kultural’ yang imajiner tersebut — berabad-abad sebelum kemerdekaan Indonesia — dalam menjalani kehidupan dengan keyakinan dan niatan yang penuh kedalaman rasa yang bioritmik. Sama-sama mendengar detak semesta dalam dirinya, dan diteguhkan dalam hidup berpedoman pada kalender Wuku dan sasih yang sama. Leluhur Nusantara di berbagai pulau, tanpa disadari, bertemu secara bioritma.

Kalender Wuku secara arkais berperan sebagai benang untaian yang mempersatukan irama kehidupan rumpun masyarakat Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Bima, Kei dstnya dalam ‘ritmik-kalenderik’ yang sama.

Sekalipun terbentang gunung, sungai dan lintas laut serta pulau, mereka melangkah bersama dalam ‘siklus imajinasi’ – dijaga/diatur secara periodik dan tiada putus-putus. Irama kalenderik ini mengatur persamaan ‘persepsi imajiner’ mereka dalam melihat angin, hujan, laut dan ombak, juga berbagai mitologi yang melingkupinya.

Dalam mekanisme bioritmik ini leluhur menemukan hari baik buruk untuk memulai sesuatu agar tidak terhalang dalam pekerjaan, berkarya, memenuhi panggilan ritus kehidupan ruhaniah.

Bioritma kalender Wuku secara ‘misterius’ menjadi salah-satu pengikat ‘imajinasi kebangsaan’, ‘identitas kebangsaan’, memberi andil dalam membentuk ‘rasa ke-indonesia-an’ yang arkais di alam bawah sadar masyarakat Nusantara.

*Tulisan BIORITMA PEMERSATU NUSANTARA ini oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti, yang menimbang ada keterkaitan antara Wuku dengan teori biorythm, terkhusus kaitannya dengan apa yang dirumuskan oleh fisikawan Wilhelm Fliess.

Tags: BioritmaNusantarapersatuan
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Desa Bicara Desa

Next Post

Peran Nyata LPD Hadapi Covid-19

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19, LPD Baiknya Ringankan Kredit Krama – Contoh LPD Peliatan Ubud

Peran Nyata LPD Hadapi Covid-19

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co