2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bioritma Pemersatu Nusantara

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 22, 2020
in Esai
Bioritma Pemersatu Nusantara

Ilustrasi tatkala.co / wikipedia / Nana Partha

Oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti*

____

Pernah mendengar Bioritma (Biorythm)? https://en.wikipedia.org/wiki/Biorhythm

Dunia sempat berpendapat, bahwa manusia punya irama hidup untuk ketahanan fisik, emosi, dan intelektual yang berdaur secara teratur pasang naik dan pasang surutnya. Daur fisik 23 hari, emosi tiap 28 hari, dan intelektual 33 hari.

Tiap orang mengikuti siklus tubuh dan batiniah tersebut sejak lahir sampai mati. Siklus atau daur emosi 28 hari, misalnya, ditunjukkan dengan daur menstruasi bagi rata-rata kaum perempuan. Berbahagialah perempuan karena tubuhnya seiring dengan siklus semesta, dengan itu berkesempatan bersama semesta mengandung dan melahirkan kehidupan.

Bioritma juga dipakai mengukur pemilihan personel kunci yang menentukan keberhasilan perang sampai olympiade. Dulu sempat ada kalkulator bioritma.

Di Nusantara bioritma ini dikenal sebagai Kalender Wuku.

Dasar kalender Nusantara kuno ini lebih rinci berkaitan dengan wariga atau wewaran, mengandung perhitungan dari siklus 1 yaitu Ekawara sampai siklus 10 yaitu Dasawara, bersanding erat dengan perhitungan Wuku (siklus 7 dikalikan 30) yang disebut daur pawukon.

Kalender Wuku ini menentukan hari-hari penting penulisan dan pendirian prasasti, penobatan raja-raja, penentuan hari-hari suci di peradaban pardatuan, kedatuan, dan kerajaan-kerajaan dan komunitas kuno di Sumatera, Kalimantan, Sunda, Jawa, Bali, Buton, Kei, Sumba, dstnya.

Panjangnya wewaran yang diikat oleh pawukon ini masing-masing adalah 210 hari, atau di Bali disebut 6 bulan Bali.

Fisikawan Berlin ternama Wilhelm Fliess abad ke-19 — berdasarkan teori Sigmund Freud — merumuskan daur-daur bioritma membentuk siklus massal yang berdaur 23 x 28 x 33 = 21.252.

Periode nemu-gelang atau satu putaran oleh leluhur Nusantara dibagi menjadi 100 pawukon yang masing-masing sepanjang 210 hari. Totalnya 21.000 hari.

Kenapa rumusan fisikawan Jerman Wilhelm Flies sangat mendekati rumusan nemu gelang?

Dari mana leluhur kita tahu?

Biorhythm telah berdenyut dalam diri dan kehidupan masyarakat Nusantara kuno yang tubuh, napas, dan denyut hidupnya menyatu dengan alam sekitarnya, sungai, gunung-gunung, samudera, langit dan semesta.

Meskipun sempat menjadi pergunjingan sekian lama, bioritma semakin tidak populer karena fisikawan barat patah arang, tidak mempunyai tradisi pengetahuan kuno seperti yang dirumuskan leluhur kita lewat pendalaman laku hidup. Hening batiniah untuk mendengar denyut diri dan alam. Mereka gagal mencari realitas rumusannya, yang padahal, telah berlaku dalam kehidupan dan menjadi kalender peradaban Nusantara kuno dan tersisa sampai kini.

Sebagai bukti pengetahuan kuno ini masih hidup di Bali dan masih sangat menjadi pedoman utama untuk menentukan kalender kegiatan-kegiatan suci, pertanian, kegiatan nelayan dan semua aspek tradisi di Bali — ini berkaitan dengan bioritma karena aritmatikanya berasal dari micro-cosmos, yaitu tubuh manusia sendiri. Pengetahuan yang dihasilkan dari kesadaran kosmik, melalui pengetahuan diri bhuana alit untuk selaras-manunggal dengan alam semesta bhuana agung.

Di Jawa dan Sunda kalender wuku, sasih, titi mangsa masih menjadi jiwa dan irama kehidupan pedesaan.

Rumusnya:

“Wewaran alah dening Wuku, wuku alah dening penanggal lan pangelong, penanggal lan pangelong alah dening sasih, sasih alah dening dawuh, dawuh alah dening Sang Hyang Triyodasa Saksi”.

“Bahwa sistem siklus wewaran dikalahkan pengaruhnya oleh siklus pawukon, pawukon dikalahkan pengaruhnya oleh sasih (siklus bulan purnama dan bulan gelap), siklus sasih dikalahkan pengaruhnya oleh dawuh (putaran “momentum” waktu), “momentum” dikalahkan pengaruhnya oleh Sang Hyang Triyodasa Saksi — Maha Saksi Berwujud Tiga Belas Kekuatan Alam Semesta.“

Sang Hyang Triyodasa Saksi adalah Tiga Belas Kekuatan Mahadasyat pengatur semesta raya. KECERDASAN ULTIMA YANG MENGATUR SEMESTA RAYA. Ini sebab kenapa orang kita mengenal istilah cilaka tiga belas artinya tidak ada siapapun bisa membantu kalau kekuatan besar alam semesta raya bekerja di balik kejadian naas yang dialami.

Bioritma sebagai pemersatu alam pikir Nusantara

Pengorganisasian kehidupan petani, nelayan dan kerajaan di Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, sampai kepulauan Kei dstnya diikat oleh sebuah ikatan agenda kultural dan ritual bersama, yaitu sistem sasih dan kalender pawukon (30 x 7 hari = 210 hari), dikombinasikan dengan sitem lunar dan solar.

Setidaknya kalender Wuku telah mulai dikenal semenjak jaman Dinasti Sanjaya, Kerajaan Medang, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala pada abad ke 8 masehi. Peradaban di balik kebesaran Candi Borobudur dan Prambanan memakai kalender Wuku.

Kalender Wuku sampai saat ini masih sangat relevan mengatur kehidupan keseharian dan sepanjang hayat sebagian warga Indonesia – warga rumpun Sunda, Jawa, Bali dan Lombok, dstnya.

Setidaknya ada 5 peran penting yang sampai saat ini masih relevan dimainkan kalender Wuku dan wewaran dalam kehidupan masyarakat di beberapa suku di Nusantara — seperti Sunda, Jawa, Madura, Bali, Sasak, Sumbawa, dll.

1. Mengatur agenda hajatan ‘ketuhanan’ dan ‘ritus’ keagamaan (ritual tradisional), termasuk hari-hari nyekar (ziarah kubur).

2. Pedoman memahami sebab musabab munculnya halangan hidup, pedoman menjalani tahap-tahap kehidupan, dan bagaimana hal-hal tersebut dirangkai atau dilalui lewat slametan dan ritual Nusantara lainnya.

3. Memahami tabiat dan bawaan bulan dan pralambangnya, serta bagaimana memusnahkan tabiat bawaan dengan ritual menghilangkan ‘pamali diri’ dan ruwatannya.

4. Menjadi pedoman untuk memahami persyaratan memelihara jiwa dan obat penghilang lara.

5. Menjadi media penyatuan dan pengaturan keharmonisan hidup dengan alam dan manusia lain, termasuk di dalamnya sebagai pedoman hari bertani (pertanian), melaut (nelayan), mengambil ternak (peternakan) dsbnya, ini ditempuh dengan perhitungan wewaran dan hitungan 210 hari (Wariga gĕmĕt sajroning wuku sawiji).

Kalender Wuku menjadi ‘sistem keyakinan bersama yang padu secara imajiner’, yang menyatukan ‘imajinasi’ kita sebagai sebuah rumpun suku-suku di Nusantara. Dalam kehidupan rumpun suku-suku Nusantara kuno, sekalipun mereka seolah-oleh sibuk dengan ‘kesukuannya’ masing-masing, mereka dipertemukan secara intens secara ‘kultural’ dan secara ‘batiniah’ oleh sebuah ikatan mendalam yang dibangun oleh mitos dan nilai-nilai yang dimajinasikan bersama, secara bioritmik, melalui piranti dan berbagai perwatakan dan narasi yang berada di balik 30 wuku yang menyusun kalender pawukon tersebut, yang memuat berbagai simbol kultural sarat makna.

Nenek moyang kita telah terasah dan ‘bertemu’ dalam ‘pertemuan kultural’ yang imajiner tersebut — berabad-abad sebelum kemerdekaan Indonesia — dalam menjalani kehidupan dengan keyakinan dan niatan yang penuh kedalaman rasa yang bioritmik. Sama-sama mendengar detak semesta dalam dirinya, dan diteguhkan dalam hidup berpedoman pada kalender Wuku dan sasih yang sama. Leluhur Nusantara di berbagai pulau, tanpa disadari, bertemu secara bioritma.

Kalender Wuku secara arkais berperan sebagai benang untaian yang mempersatukan irama kehidupan rumpun masyarakat Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Bima, Kei dstnya dalam ‘ritmik-kalenderik’ yang sama.

Sekalipun terbentang gunung, sungai dan lintas laut serta pulau, mereka melangkah bersama dalam ‘siklus imajinasi’ – dijaga/diatur secara periodik dan tiada putus-putus. Irama kalenderik ini mengatur persamaan ‘persepsi imajiner’ mereka dalam melihat angin, hujan, laut dan ombak, juga berbagai mitologi yang melingkupinya.

Dalam mekanisme bioritmik ini leluhur menemukan hari baik buruk untuk memulai sesuatu agar tidak terhalang dalam pekerjaan, berkarya, memenuhi panggilan ritus kehidupan ruhaniah.

Bioritma kalender Wuku secara ‘misterius’ menjadi salah-satu pengikat ‘imajinasi kebangsaan’, ‘identitas kebangsaan’, memberi andil dalam membentuk ‘rasa ke-indonesia-an’ yang arkais di alam bawah sadar masyarakat Nusantara.

*Tulisan BIORITMA PEMERSATU NUSANTARA ini oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti, yang menimbang ada keterkaitan antara Wuku dengan teori biorythm, terkhusus kaitannya dengan apa yang dirumuskan oleh fisikawan Wilhelm Fliess.

Tags: BioritmaNusantarapersatuan
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Desa Bicara Desa

Next Post

Peran Nyata LPD Hadapi Covid-19

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19, LPD Baiknya Ringankan Kredit Krama – Contoh LPD Peliatan Ubud

Peran Nyata LPD Hadapi Covid-19

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co