23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Desa Bicara Desa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
April 22, 2020
in Esai
Orang Desa Bicara Desa

Foto ilustrasi: Penulis dan istri

Tahun 2020 ini, usia kemerdekaan Indonesia mendekati 75 tahun. Banyak pencapaian dan prestasi yang sudah diraih oleh Indonesia.  Ini membuat Indonesia diperhitungkan oleh banyak negara termasuk Amerika, sebuah negara adi kuasa. Prestasi terakhir dan yang mengejutkan publik, oleh Amerika, Indonesia diakui sebagai negara maju.

Apapun tujuan peningkatan status itu, paling tidak Indonesia sudah dianggap sejajar dan diperhitungkan oleh negara-negara lain di dunia. Dibalik raihan keberhasilan tersebut, sebenarnya Indonesia masih memiliki banyak PR dan persoalan bangsa. Kadangkala secara makro, sebuah capaian sudah dikatakan baik dan berhasil tetapi dalam tatanan mikro kondisinya bisa jauh berbeda.

Sebagai contoh, kehidupan di banyak daerah terutama perkotaan semua hal sudah bergeser ke arah otomatis sistem. Memasak nasi menggunakan rice cooker, naik tangga menggunakan escalator, atau lift, colokan handphone ada dimana-mana, sampai buang air kecil pun hanya dengan menekan tombol dan air pun mengalir. Aktivitas-aktivitas tersebut mencirikan kehidupan yang sudah maju, modern dan menunjukkan bangsa yang sudah naik kelas. Semua serba otomatis, artinya semua menggunakan tenaga listrik dalam menjalankan aktivitas itu.

Listrik adalah sebuah kebutuhan untuk membantu kelancaran aktivitas orang kota. Listrik beralih fungsi dari sekadar menerangi kegelapan menjadi alat untuk membantu ibu membuat adonan kue di dapur. Lagi-lagi listrik adalah hal yang sudah biasa bagi kehidupan kaum urban. Secara makro, Indonesia sudah biasa dan terbiasa menggunakan tenaga listrik dalam kehidupan sehari-hari. Coba sesekali menengok ke daerah pinggiran, ternyata ada fakta yang berbeda. Budi Arie Setiadi, Wakil Menteri Desa mengatakan bahwa sampai Maret 2020, masih terdapat 433 desa  yang belum menikmati aliran listrik. Sebarannya adalah, 325 desa terdapat di Provinsi  Papua, 102 desa di papua barat, 5 desa di NTT dan 1 desa terdapat di Maluku. Inilah potret suram 70-an tahun Indonesia merdeka.

Saya ingin mengajak melihat kondisi lain yang serupa. Seperti diketahui, menteri pendidikan yang sekarang, Mas Menteri Nadiem sedang gencar untuk membuat perubahan. Ini sebagai respon atas era revolusi industri 4.0 dan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Pengembangan kelas virtual, pembelajaran daring menggunakan elearning adalah sebuah keharusan dan keniscayaan di era sekarang. Demikian wacana yang disebarluaskan ke publik.

Banyak pihak merespon ide ini dengan antusias. Banyak kalangan melihat ini adalah lompatan besar yang membuat Indonesia akan mencapai keemasan pada tahun 2045. Kalangan yang antusias dengan ide ini dapat di duga, mereka yang lahir, hidup dan meninggal pun direncanakan di kota. Bagaimana respon warga pinggiran yang biasanya tinggal di desa. tentu responnya bisa berbeda jauh.

Sampai hari ini, masih ada pemberitaan di TV maupun di koran bahwa ada anak-anak SMA yang tidak diijinkan untuk mengikuti ujian sekolah karena belum membayar uang SPP. Masih ada pemberitaan bahwa agar sampai di sekolah, seorang anak harus berjalan kaki selama 1 jam. Ada siswa berangkat dengan menggelantung di sebuah jembatan yang hampir putus untuk bisa sampai ke sekolah. Juga masih ada berita tentang sekolah yang hampir ambrol atau belajar tanpa atap. Masih ada anak SMP dan SMA di desa yang belum memiliki laptop. Ini adalah realita kehidupan di daerah pinggiran bukan dongeng di negeri antah berantah.

Begitulah sekelumit cerita saat berbicara tentang desa. Desa selalu bersinggungan  dengan rakyat miskin, putus sekolah, kumuh, pertanian dan sejenisnya. Akhirnya, Pak Jokowi sebagai orang yang pernah merasakan hidup di pinggiran hadir merespon keadaan tersebut dengan program nawa cita. Salah satu programnya adalah membangun Indonesia dari pinggiran dan desa. Sekaligus penegasan komitmen bahwa negara hadir untuk seluruh rakyat Indonesia. Indonesia mulai bangkit dengan semangat gotong royong. Semangat ini merupakan nilai-nilai yang berasal dari kehidupan dan tradisi berdesa.

Desa mulai berbenah. Wajah desa yang sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan wajah desa beberapa tahun yang lalu. Kantor desa kian ramai oleh banyaknya jumlah dan aktivitas perangkat desa. Banyak orang yang mendadak ingin mengabdi menjadi kepala desa. Bahkan saat pemilihan kepala desa, susananya mirip pemilihan presiden. Ramai, gemuruh dan kadangkala penuh dengan intrik.

Sekarang banyak dijumpai baliho yang memuat APBDes di setiap sudut desa. Bangunan yang berisi spanduk nama Bumdesa hadir di semua desa. TK desa banyak di bangun dan beroperasi di sebelah kantor desa. Perubahan itu sebagai implikasi adanya undang-undang desa. UU desa mewajibkan negara hadir untuk desa. Kehadiran negara diwujudkan dalam bentuk dana desa. Dana desa dengan besaran rata-rata 1M mengalir deras ke seluruh desa. Dana inilah yang menyulap desa menjadi sumber harapan baru. Harapan untuk peningkatan kesejahteraan.

Melihat dukungan dana yang besar, maka desa menjadi magnet baru dalam perekonomian. Desa adalah sumber kemajuan dan kesejahteraan Indonesia. Sekjen kementerian desa, Bapak Anwar Sanusi dalam setiap kesempatan, selalu mengajak anak muda untuk turut serta dalam membangun desa. Anak muda memiliki 3 potensi untuk membantu  kemajuan desa. Anak muda sangat enerjik, memiliki intelektualitas dan inovatif. Sedangkan wakil menteri desa menegaskan bahwa ada dua ciri sebuah desa akan maju. Pertama, harus ada anak muda.

Pemerintah desa harus melibatkan anak muda dalam setiap kegiatan desa, karena anak muda memiliki ide kreatif dan inovatif serta cenderung memiliki pemikiran yang out of the box. Kedua, desa harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul, sesuai dengan visi Indonesia maju. Ini adalah dua ciri yang nantinya membuat wajah desa akan berubah menjadi maju. Ketika desa-desa maju maka Indonesia akan maju. Mengingat penduduk Indonesia lebih banyak yang tinggal di desa dibandingkan dengan tinggal di kota.

Saya tidak pernah malu mengakui diri sebagai orang desa. Saya bangga menjadi orang desa. Saya selalu antusias bicara tentang desa. Oleh karena itu, lewat tulisan ini, saya mengajak anak muda yang sarjana untuk pulang kampung membangun desa. Para sarjana harus berbuat untuk desa kelahiran serta wajib menjadi pahlawan baru untuk kemajuan desa. Mari memulai dengan menghadiri/berpartisipasi saat acara musyawarah desa (musdes).

Mari memulai dengan menjadi pengurus Bumdesa, menjadi pengurus LPD, atau menjadi perangkat desa. Akan lebih bagus lagi jika memulai dengan menjadi kepala desa. Sudah ada beberapa anak muda yang masih berstatus lajang menjadi kepala desa. Wajah desa akan penuh optimisme dan penuh gairah jika banyak anak mudanya terlibat dalam proses pembangunan. Saatnya membumikan teori-teori yang didapat di bangku sekolah maupun di bangku kuliah.

Desa adalah ladang pengabdian sekaligus tempat memulai harapan baru. Desa membangun Indonesia memberi makna bahwa sesungguhnya pusat pembangunan dan sumber kemajuan Indonesia ada di desa. Anak muda yang sarjana harus terlibat untuk memastikan bahwa mimpi besar itu terwujud dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.[T]

Tags: desaLPDorang desaPembangunan
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Kawi Mabuk – Ladang Ganja dan “Tukang Kebun” Rabindranath Tagore

Next Post

Bioritma Pemersatu Nusantara

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bioritma Pemersatu Nusantara

Bioritma Pemersatu Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co