2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Desa Bicara Desa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
April 22, 2020
in Esai
Orang Desa Bicara Desa

Foto ilustrasi: Penulis dan istri

Tahun 2020 ini, usia kemerdekaan Indonesia mendekati 75 tahun. Banyak pencapaian dan prestasi yang sudah diraih oleh Indonesia.  Ini membuat Indonesia diperhitungkan oleh banyak negara termasuk Amerika, sebuah negara adi kuasa. Prestasi terakhir dan yang mengejutkan publik, oleh Amerika, Indonesia diakui sebagai negara maju.

Apapun tujuan peningkatan status itu, paling tidak Indonesia sudah dianggap sejajar dan diperhitungkan oleh negara-negara lain di dunia. Dibalik raihan keberhasilan tersebut, sebenarnya Indonesia masih memiliki banyak PR dan persoalan bangsa. Kadangkala secara makro, sebuah capaian sudah dikatakan baik dan berhasil tetapi dalam tatanan mikro kondisinya bisa jauh berbeda.

Sebagai contoh, kehidupan di banyak daerah terutama perkotaan semua hal sudah bergeser ke arah otomatis sistem. Memasak nasi menggunakan rice cooker, naik tangga menggunakan escalator, atau lift, colokan handphone ada dimana-mana, sampai buang air kecil pun hanya dengan menekan tombol dan air pun mengalir. Aktivitas-aktivitas tersebut mencirikan kehidupan yang sudah maju, modern dan menunjukkan bangsa yang sudah naik kelas. Semua serba otomatis, artinya semua menggunakan tenaga listrik dalam menjalankan aktivitas itu.

Listrik adalah sebuah kebutuhan untuk membantu kelancaran aktivitas orang kota. Listrik beralih fungsi dari sekadar menerangi kegelapan menjadi alat untuk membantu ibu membuat adonan kue di dapur. Lagi-lagi listrik adalah hal yang sudah biasa bagi kehidupan kaum urban. Secara makro, Indonesia sudah biasa dan terbiasa menggunakan tenaga listrik dalam kehidupan sehari-hari. Coba sesekali menengok ke daerah pinggiran, ternyata ada fakta yang berbeda. Budi Arie Setiadi, Wakil Menteri Desa mengatakan bahwa sampai Maret 2020, masih terdapat 433 desa  yang belum menikmati aliran listrik. Sebarannya adalah, 325 desa terdapat di Provinsi  Papua, 102 desa di papua barat, 5 desa di NTT dan 1 desa terdapat di Maluku. Inilah potret suram 70-an tahun Indonesia merdeka.

Saya ingin mengajak melihat kondisi lain yang serupa. Seperti diketahui, menteri pendidikan yang sekarang, Mas Menteri Nadiem sedang gencar untuk membuat perubahan. Ini sebagai respon atas era revolusi industri 4.0 dan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Pengembangan kelas virtual, pembelajaran daring menggunakan elearning adalah sebuah keharusan dan keniscayaan di era sekarang. Demikian wacana yang disebarluaskan ke publik.

Banyak pihak merespon ide ini dengan antusias. Banyak kalangan melihat ini adalah lompatan besar yang membuat Indonesia akan mencapai keemasan pada tahun 2045. Kalangan yang antusias dengan ide ini dapat di duga, mereka yang lahir, hidup dan meninggal pun direncanakan di kota. Bagaimana respon warga pinggiran yang biasanya tinggal di desa. tentu responnya bisa berbeda jauh.

Sampai hari ini, masih ada pemberitaan di TV maupun di koran bahwa ada anak-anak SMA yang tidak diijinkan untuk mengikuti ujian sekolah karena belum membayar uang SPP. Masih ada pemberitaan bahwa agar sampai di sekolah, seorang anak harus berjalan kaki selama 1 jam. Ada siswa berangkat dengan menggelantung di sebuah jembatan yang hampir putus untuk bisa sampai ke sekolah. Juga masih ada berita tentang sekolah yang hampir ambrol atau belajar tanpa atap. Masih ada anak SMP dan SMA di desa yang belum memiliki laptop. Ini adalah realita kehidupan di daerah pinggiran bukan dongeng di negeri antah berantah.

Begitulah sekelumit cerita saat berbicara tentang desa. Desa selalu bersinggungan  dengan rakyat miskin, putus sekolah, kumuh, pertanian dan sejenisnya. Akhirnya, Pak Jokowi sebagai orang yang pernah merasakan hidup di pinggiran hadir merespon keadaan tersebut dengan program nawa cita. Salah satu programnya adalah membangun Indonesia dari pinggiran dan desa. Sekaligus penegasan komitmen bahwa negara hadir untuk seluruh rakyat Indonesia. Indonesia mulai bangkit dengan semangat gotong royong. Semangat ini merupakan nilai-nilai yang berasal dari kehidupan dan tradisi berdesa.

Desa mulai berbenah. Wajah desa yang sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan wajah desa beberapa tahun yang lalu. Kantor desa kian ramai oleh banyaknya jumlah dan aktivitas perangkat desa. Banyak orang yang mendadak ingin mengabdi menjadi kepala desa. Bahkan saat pemilihan kepala desa, susananya mirip pemilihan presiden. Ramai, gemuruh dan kadangkala penuh dengan intrik.

Sekarang banyak dijumpai baliho yang memuat APBDes di setiap sudut desa. Bangunan yang berisi spanduk nama Bumdesa hadir di semua desa. TK desa banyak di bangun dan beroperasi di sebelah kantor desa. Perubahan itu sebagai implikasi adanya undang-undang desa. UU desa mewajibkan negara hadir untuk desa. Kehadiran negara diwujudkan dalam bentuk dana desa. Dana desa dengan besaran rata-rata 1M mengalir deras ke seluruh desa. Dana inilah yang menyulap desa menjadi sumber harapan baru. Harapan untuk peningkatan kesejahteraan.

Melihat dukungan dana yang besar, maka desa menjadi magnet baru dalam perekonomian. Desa adalah sumber kemajuan dan kesejahteraan Indonesia. Sekjen kementerian desa, Bapak Anwar Sanusi dalam setiap kesempatan, selalu mengajak anak muda untuk turut serta dalam membangun desa. Anak muda memiliki 3 potensi untuk membantu  kemajuan desa. Anak muda sangat enerjik, memiliki intelektualitas dan inovatif. Sedangkan wakil menteri desa menegaskan bahwa ada dua ciri sebuah desa akan maju. Pertama, harus ada anak muda.

Pemerintah desa harus melibatkan anak muda dalam setiap kegiatan desa, karena anak muda memiliki ide kreatif dan inovatif serta cenderung memiliki pemikiran yang out of the box. Kedua, desa harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul, sesuai dengan visi Indonesia maju. Ini adalah dua ciri yang nantinya membuat wajah desa akan berubah menjadi maju. Ketika desa-desa maju maka Indonesia akan maju. Mengingat penduduk Indonesia lebih banyak yang tinggal di desa dibandingkan dengan tinggal di kota.

Saya tidak pernah malu mengakui diri sebagai orang desa. Saya bangga menjadi orang desa. Saya selalu antusias bicara tentang desa. Oleh karena itu, lewat tulisan ini, saya mengajak anak muda yang sarjana untuk pulang kampung membangun desa. Para sarjana harus berbuat untuk desa kelahiran serta wajib menjadi pahlawan baru untuk kemajuan desa. Mari memulai dengan menghadiri/berpartisipasi saat acara musyawarah desa (musdes).

Mari memulai dengan menjadi pengurus Bumdesa, menjadi pengurus LPD, atau menjadi perangkat desa. Akan lebih bagus lagi jika memulai dengan menjadi kepala desa. Sudah ada beberapa anak muda yang masih berstatus lajang menjadi kepala desa. Wajah desa akan penuh optimisme dan penuh gairah jika banyak anak mudanya terlibat dalam proses pembangunan. Saatnya membumikan teori-teori yang didapat di bangku sekolah maupun di bangku kuliah.

Desa adalah ladang pengabdian sekaligus tempat memulai harapan baru. Desa membangun Indonesia memberi makna bahwa sesungguhnya pusat pembangunan dan sumber kemajuan Indonesia ada di desa. Anak muda yang sarjana harus terlibat untuk memastikan bahwa mimpi besar itu terwujud dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.[T]

Tags: desaLPDorang desaPembangunan
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Kawi Mabuk – Ladang Ganja dan “Tukang Kebun” Rabindranath Tagore

Next Post

Bioritma Pemersatu Nusantara

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bioritma Pemersatu Nusantara

Bioritma Pemersatu Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co