14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Desa Bicara Desa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
April 22, 2020
in Esai
Orang Desa Bicara Desa

Foto ilustrasi: Penulis dan istri

Tahun 2020 ini, usia kemerdekaan Indonesia mendekati 75 tahun. Banyak pencapaian dan prestasi yang sudah diraih oleh Indonesia.  Ini membuat Indonesia diperhitungkan oleh banyak negara termasuk Amerika, sebuah negara adi kuasa. Prestasi terakhir dan yang mengejutkan publik, oleh Amerika, Indonesia diakui sebagai negara maju.

Apapun tujuan peningkatan status itu, paling tidak Indonesia sudah dianggap sejajar dan diperhitungkan oleh negara-negara lain di dunia. Dibalik raihan keberhasilan tersebut, sebenarnya Indonesia masih memiliki banyak PR dan persoalan bangsa. Kadangkala secara makro, sebuah capaian sudah dikatakan baik dan berhasil tetapi dalam tatanan mikro kondisinya bisa jauh berbeda.

Sebagai contoh, kehidupan di banyak daerah terutama perkotaan semua hal sudah bergeser ke arah otomatis sistem. Memasak nasi menggunakan rice cooker, naik tangga menggunakan escalator, atau lift, colokan handphone ada dimana-mana, sampai buang air kecil pun hanya dengan menekan tombol dan air pun mengalir. Aktivitas-aktivitas tersebut mencirikan kehidupan yang sudah maju, modern dan menunjukkan bangsa yang sudah naik kelas. Semua serba otomatis, artinya semua menggunakan tenaga listrik dalam menjalankan aktivitas itu.

Listrik adalah sebuah kebutuhan untuk membantu kelancaran aktivitas orang kota. Listrik beralih fungsi dari sekadar menerangi kegelapan menjadi alat untuk membantu ibu membuat adonan kue di dapur. Lagi-lagi listrik adalah hal yang sudah biasa bagi kehidupan kaum urban. Secara makro, Indonesia sudah biasa dan terbiasa menggunakan tenaga listrik dalam kehidupan sehari-hari. Coba sesekali menengok ke daerah pinggiran, ternyata ada fakta yang berbeda. Budi Arie Setiadi, Wakil Menteri Desa mengatakan bahwa sampai Maret 2020, masih terdapat 433 desa  yang belum menikmati aliran listrik. Sebarannya adalah, 325 desa terdapat di Provinsi  Papua, 102 desa di papua barat, 5 desa di NTT dan 1 desa terdapat di Maluku. Inilah potret suram 70-an tahun Indonesia merdeka.

Saya ingin mengajak melihat kondisi lain yang serupa. Seperti diketahui, menteri pendidikan yang sekarang, Mas Menteri Nadiem sedang gencar untuk membuat perubahan. Ini sebagai respon atas era revolusi industri 4.0 dan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Pengembangan kelas virtual, pembelajaran daring menggunakan elearning adalah sebuah keharusan dan keniscayaan di era sekarang. Demikian wacana yang disebarluaskan ke publik.

Banyak pihak merespon ide ini dengan antusias. Banyak kalangan melihat ini adalah lompatan besar yang membuat Indonesia akan mencapai keemasan pada tahun 2045. Kalangan yang antusias dengan ide ini dapat di duga, mereka yang lahir, hidup dan meninggal pun direncanakan di kota. Bagaimana respon warga pinggiran yang biasanya tinggal di desa. tentu responnya bisa berbeda jauh.

Sampai hari ini, masih ada pemberitaan di TV maupun di koran bahwa ada anak-anak SMA yang tidak diijinkan untuk mengikuti ujian sekolah karena belum membayar uang SPP. Masih ada pemberitaan bahwa agar sampai di sekolah, seorang anak harus berjalan kaki selama 1 jam. Ada siswa berangkat dengan menggelantung di sebuah jembatan yang hampir putus untuk bisa sampai ke sekolah. Juga masih ada berita tentang sekolah yang hampir ambrol atau belajar tanpa atap. Masih ada anak SMP dan SMA di desa yang belum memiliki laptop. Ini adalah realita kehidupan di daerah pinggiran bukan dongeng di negeri antah berantah.

Begitulah sekelumit cerita saat berbicara tentang desa. Desa selalu bersinggungan  dengan rakyat miskin, putus sekolah, kumuh, pertanian dan sejenisnya. Akhirnya, Pak Jokowi sebagai orang yang pernah merasakan hidup di pinggiran hadir merespon keadaan tersebut dengan program nawa cita. Salah satu programnya adalah membangun Indonesia dari pinggiran dan desa. Sekaligus penegasan komitmen bahwa negara hadir untuk seluruh rakyat Indonesia. Indonesia mulai bangkit dengan semangat gotong royong. Semangat ini merupakan nilai-nilai yang berasal dari kehidupan dan tradisi berdesa.

Desa mulai berbenah. Wajah desa yang sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan wajah desa beberapa tahun yang lalu. Kantor desa kian ramai oleh banyaknya jumlah dan aktivitas perangkat desa. Banyak orang yang mendadak ingin mengabdi menjadi kepala desa. Bahkan saat pemilihan kepala desa, susananya mirip pemilihan presiden. Ramai, gemuruh dan kadangkala penuh dengan intrik.

Sekarang banyak dijumpai baliho yang memuat APBDes di setiap sudut desa. Bangunan yang berisi spanduk nama Bumdesa hadir di semua desa. TK desa banyak di bangun dan beroperasi di sebelah kantor desa. Perubahan itu sebagai implikasi adanya undang-undang desa. UU desa mewajibkan negara hadir untuk desa. Kehadiran negara diwujudkan dalam bentuk dana desa. Dana desa dengan besaran rata-rata 1M mengalir deras ke seluruh desa. Dana inilah yang menyulap desa menjadi sumber harapan baru. Harapan untuk peningkatan kesejahteraan.

Melihat dukungan dana yang besar, maka desa menjadi magnet baru dalam perekonomian. Desa adalah sumber kemajuan dan kesejahteraan Indonesia. Sekjen kementerian desa, Bapak Anwar Sanusi dalam setiap kesempatan, selalu mengajak anak muda untuk turut serta dalam membangun desa. Anak muda memiliki 3 potensi untuk membantu  kemajuan desa. Anak muda sangat enerjik, memiliki intelektualitas dan inovatif. Sedangkan wakil menteri desa menegaskan bahwa ada dua ciri sebuah desa akan maju. Pertama, harus ada anak muda.

Pemerintah desa harus melibatkan anak muda dalam setiap kegiatan desa, karena anak muda memiliki ide kreatif dan inovatif serta cenderung memiliki pemikiran yang out of the box. Kedua, desa harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul, sesuai dengan visi Indonesia maju. Ini adalah dua ciri yang nantinya membuat wajah desa akan berubah menjadi maju. Ketika desa-desa maju maka Indonesia akan maju. Mengingat penduduk Indonesia lebih banyak yang tinggal di desa dibandingkan dengan tinggal di kota.

Saya tidak pernah malu mengakui diri sebagai orang desa. Saya bangga menjadi orang desa. Saya selalu antusias bicara tentang desa. Oleh karena itu, lewat tulisan ini, saya mengajak anak muda yang sarjana untuk pulang kampung membangun desa. Para sarjana harus berbuat untuk desa kelahiran serta wajib menjadi pahlawan baru untuk kemajuan desa. Mari memulai dengan menghadiri/berpartisipasi saat acara musyawarah desa (musdes).

Mari memulai dengan menjadi pengurus Bumdesa, menjadi pengurus LPD, atau menjadi perangkat desa. Akan lebih bagus lagi jika memulai dengan menjadi kepala desa. Sudah ada beberapa anak muda yang masih berstatus lajang menjadi kepala desa. Wajah desa akan penuh optimisme dan penuh gairah jika banyak anak mudanya terlibat dalam proses pembangunan. Saatnya membumikan teori-teori yang didapat di bangku sekolah maupun di bangku kuliah.

Desa adalah ladang pengabdian sekaligus tempat memulai harapan baru. Desa membangun Indonesia memberi makna bahwa sesungguhnya pusat pembangunan dan sumber kemajuan Indonesia ada di desa. Anak muda yang sarjana harus terlibat untuk memastikan bahwa mimpi besar itu terwujud dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.[T]

Tags: desaLPDorang desaPembangunan
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Kawi Mabuk – Ladang Ganja dan “Tukang Kebun” Rabindranath Tagore

Next Post

Bioritma Pemersatu Nusantara

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Bioritma Pemersatu Nusantara

Bioritma Pemersatu Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co