23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surat Terbuka untuk Menpora Bapak Zainudin Amali: “Please, Pak, Pertahankan Program KPN”

Julio Saputra by Julio Saputra
March 6, 2020
in Esai
Surat Terbuka untuk Menpora Bapak Zainudin Amali: “Please, Pak, Pertahankan Program KPN”

Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Yang saya hormati, Bapak Menpora RI Zainudin Amali. Bagaimana kabarnya, Pak? Semoga sehat selalu di mana pun dan kapan pun. Perkenalkan Pak, saya I Made Julio Saputra, akrab disapa Julio. Saya bukan siapa-siapa Pak, hanya seorang pemuda dari suatu desa kecil di tengah-tengah Pulau Bali yang hobi membuat status galau di media sosial. Percayalah Pak, kenyataannya saya memang bukan siapa-siapa, karena kata mantan saya tempo hari, saya bukan siapa-siapa lagi. Hiks sedihnya hati saya Pak.

Baiklah, lupakan mantan sejenak. Sejujurnya Pak, saya itu ngefans banget sama Bapak. Sumpah. Saya memang suka ngefans sama pejabat-pejabat negara Pak, tapi tidak semuanya lho, hanya yang berkaitan dengan hal-hal yang saya suka saja. Contohnya ya Bapak sendiri. Kebetulan saya suka olahraga, dan saya juga masih muda, bujang, dan perjaka, masih bisa dikategorikan sebagai pemuda. Terlebih 2 tahun lalu, saya mengikuti program Kapal Pemuda Nusantara (KPN), salah satu program kenamaan milik Kemenpora RI yang sudah dilakukan sejak tahun 2005. Makin ngefanslah saya sama pejabatnya.

Pokoknya Bapak itu idola saya banget Pak. Semoga saya bisa bertemu Bapak lagi di kemudian hari. Sesekali boleh juga saya diundang untuk makan siang bersama Pak. Hehehe. Oh ya Pak, saya bermaksud membuat surat terbuka ini karena ada yang ingin saya sampaikan Pak. Saya ingin heart to heart ke Bapak, karena heart to heart ke mantan saya sudah tidak mungkin lagi. Dia sudah menikah dengan lelaki yang tentu saja lebih baik dari saya. Jadi saya berharap sekali Bapak membaca surat terbuka saya ini, karena kalau tidak dibaca, waduh tambah sakit hati dong saya Pak.

Oh, satu lagi, dalam surat terbuka ini, saya tidak bermaksud menggurui Bapak, saya yakin Bapak sudah lebih tahu dari saya. Bapak sudah lebih awal menikmati asam garam pahit manis kehidupan, pun sekarang sudah menjadi salah satu pejabat negara. Penjelasan-penjelasan saya dalam surat ini dimaksudkan agar bisa juga tersampaikan kepada pembaca setia di rumah, karena memang beginilah tujuannya adanya surat terbuka. Bertukar ide, bertukar pikiran. Bertukar hati? Waduh saya belum siap. Masih trauma sakit hati.

Jadi begini Pak, ada kabar yang berhembus bahwa mulai tahun ini, program Kapal Pemuda Nusantara (KPN) tidak akan diadakan lagi untuk seterusnya. Entah ini benar atau tidak, tapi begitulah kata salah satu sumber yang dirasa menyakinkan. Duh Gusti Prabu…. Mendengar kabar itu, hati saya sakit bukan main Pak, remuk seremuk-remuknya, perih seperih-perihnya. Terkoyak-koyak hati ini Pak. Kualitas sakit hati saya bahkan bisa disamakan ketika saya ditinggal selingkuh oleh pacar saya yang saya cintai segenap hati saya. Luka lama yang sudah terkubur dalam tiba-tiba menganga kembali dengan lebarnya. Sakit sekali Pak. Saya secara pribadi tidak rela jika kemudian program KPN benar-benar dihapuskan. Hiks.

Sama seperti tulisan saya sebelumnya di tahun 2018 yang berjudul “Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!” melalui surat terbuka ini, tanpa mengurangi rasa hormat, saya memohon kepada Bapak agar program KPN tetap diadakan Pak, agar tetap dipertahankan. Tentu permohonan saya ini disertai alasan yang jelas Pak, tidak seperti mantan saya yang pergi tanpa meninggalkan alasan apapun. Nah, alasannya, bagi saya, atau mungkin bagi teman-teman saya, KPN adalah program berbasis kepemudaan yang berkaitan erat dengan kemaritiman dan kelautan Indonesia dan sebenanrnya itulah yang menjadi keunggulan dalam program ini Pak, sehingga KPN menjadi program yang sangat pantas diadakan mengingat Indonesia adalah negara maritim.

Berbicara tentang Indonesia sebagai negara maritime, barangkali penting bagi kita semua untuk tahu tentang sejarah peradaban maritim dunia, tentang teori hukum laut atau konsep Mare Liberum yang dicetuskan Hugo Grotius, atau juga tentang jaringan pelayaran nusantara yang dikuasai VOC dengan mengubah konsep laut terbuka menjadi konsep laut tertutup, yang kemudian diceritakan Pramudya Ananta Toer dalam karyanya berjudul Arus Balik. Hhhmmm, sebenarnya ini sedikit agak panjang kalau diceritakan.  

Namun, terlepas dari hal-hal di atas, yang paling penting dan wajib untuk diketahui adalah kenyataan bahwa Indonesia memiliki luas perairan lebih besar dari pada luas daratan. Kalau saya tidak salah Pak (mudah-mudahan saya tidak salah), Indonesia memiliki 17.499 pulau dari Sabang sampai Merauke dengan luas total wilayah Indonesia 7,81 juta km2, terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Jika dipresentasekan, 75% wilayah Indonesia adalah perairan, dan sisanya 25% adalah daratan. Wow. Luar biasa sekali Pak. Tak heran jika nenek moyang saya dulunya adalah seorang pelaut, pandai mengarungi luas samudra, menanjak ombak menembus badai sudah biasa.

Nah, bisa dibayangkan Pak, karena hal tersebut, Indonesia tentu memiliki keindahan bahari dan hasil laut dengan kualitas terbaik. Mulai dari pulau-pulau yang cantik lengkap juga dengan terumbu karang dan tumbuhan laut yang tak kalah cantik, bahkan lebih cantik dari mantan-mantan saya. Eh lagi-lagi saya malah teringat mantan. Hehehe. Mohon maaf, Pak, bayangan masa lalu memang kadang suka menghantui gitu, terutama bagi budak-budak sakit hati seperti saya ini.

Oke, lanjut ya Pak. Kalau saya tidak salah lagi, luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi yang kemudian menyumbang 65% luas total turumbu karang di coral triangle dan 18% luas total terumbu karang dunia. Di samping itu, Indonesia juga memiliki kekayaan laut lainnya, seperti kan, udang, dan berbagai jenis hewan laut lainnya yang memikat hati masyarakat dunia. Sayangnya, keindahan dan kekayaan laut Indonesia juga menjadi daya tarik bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan illegal fishing, trafficking, bahkan penyelundupan senjata. Ini serius. Saya tidak bohong.

_____

Para pemuda peserta program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Itulah barangkali yang kemudian melatarbelakangi adanya program yang kedepannya mengharapkan peran pemuda Indonesia untuk menjaga sekaligus membangun kelautan Indonesia, mengingat laut juga memiliki peran yang sangat penting karena menyimpan potensi yang sejatinya luar biasa bermanfaat, dan program Kapal Pemuda Nusantara (KPN) itulah yang menjadi salah satu cara pemerintah untuk memajukan, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi laut Indonesia melalui perantara pemuda. Ya, pemuda seperti saya ini Pak, juga seperti teman-teman saya yang lain. Tugas untuk melindungi kemaritiman dan kelautan Indonesia, mencakup pertahanan, keamanan, kelestarian dan pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga tanggung jawab semua masyarakat Indonesia, terutama generasi muda penerus tongkat estafet pembangunan bangsa.

Melalui perantara pemuda, tentu sangat diharapkan dapat mendukung Indonesia untuk mencapai tujuannya sebagai poros maritim dunia, sebagai negara maritim yang besar, kuat, dan makmur melalui pengembalian identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, pengamanan kepentingan dan keamanan maritim, memberdayakan potensi maritim untuk mewujudkan pemerataan ekonomi Indonesia. Kata kebanyakan orang, sudah saatnya Indonesia bangun dari tidur lelapnya sebagai bangsa maritim jika tidak ingin tertindah oleh bangsa lain. Ayo banyun.

Selama pelaksanaan program KPN, selama kurang lebih 2 sampai 3 minggu (mungkin juga lebih, seperti KPN Sail Tomini 2015 yang berlayar hampir satu bulan), pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia yang ikut di dalamnya diajak berlayar mengarungi beberapa sudut lautan Indonesia. Jujur saya suka sekali bagian mengarungi lautan Indonesia ini, karena mengarungi lautan hatinya hanya membuat saya tenggelam dalam kesedihan yang ngilu dan pilu. Huhuhuhu.

Peserta program juga diajak bersentuhan langsung dengan segala hal yang berhubungan dengan laut, melakukan aktivitas kebaharian, mengunjungi tempat-tempat konservasi laut dan hasil laut, mengunjungi daerah pesisir termasuk berinteraksi dengan masyarakatnya. Pemuda diajak membuka wawasan mereka sebagai anak anak bangsa akan kelautan dan kemaritiman. Mereka diberikan berbagai wawasan, tentang laut yang dulu menjadi media transportasi utama antardunia, tentang laut yang menjadi jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan antarwilayah di Indonesia bahkan juga negara-negara lain.

Mereka juga mendapat wawasan tentang potensi laut Indonesia yang menjadi salah satu sumber pangan masyarakat Indonesia, terutama protein hewani dalam bentuk ikan dan hasil laut lainnya. Mereka juga mendapat wawasan tentang peran laut dalam bidang lainnya, seperti konservasi dan pelestarian alam,sumber ilmu pengetahuan alam, sarana rekreasi dan pariwisata, dan lain sebagianya. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu wujud kepedulian pemerintah terhadap perkembangan dan kelestarian kelautan Indonesia yang mengutamakan peran pemuda Indonesia sebagai pelaku utamanya dengan cara menggugah, memunculkan, membangkitkan motivasi pemuda untuk mau ke laut serta merangsang tumbuhnya jiwa wirausaha pemuda di bidang kelautan.

Mantap kan Pak? Tentu saja hal-hal tersebut utamanya dimaksudkan agar pemuda-pemudi setelah mengikuti program KPN nantinya dapat menjadi pemuda bahari yang lebih cinta terhadap laut, memiliki tanggung jawab tinggi, memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, mampu meningkatkan kemitraan untuk pembangunan pengelolaan sumberdaya alam, siap menghadapi tantangan global di masa yang akan datang.

Nah, bukan hanya itu saja Pak, pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia tersebut juga dapat membentuk karakter karena dalam pelaksanaan kegiatannya, berbagai kedisiplinan lebih ditanamkan lagi pada diri masing-masing peserta KPN. Mereka juga dapat mengenali keberagam dan kekayaan budaya daerah di Indonesia karena pemuda-pemudi Indonesia juga diberikan panggung untuk menampilkan kesenian dan kebudayaan yang mereka miliki. Saya bersama teman-teman dari Bali saat itu berusaha setotalitas mungkin memperkenalkan realisme magis seni Bali dengan menghadirkan drama tari Calonarang lengkap dengan topeng rangda berukuran besar yang sangat ikonik. Kalau boleh saya jujur lagi Pak, ini salah satu hal yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

_____

Nilai-nilai keberagaman dalam program Kapal Pemuda Nusantara

Kebaragaman yang dirayakan selama program KPN tentu dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Mereka diberikan berbagai motivasi untuk menjadi warga negara Indonesia seutuhnya, yang sadar akan keberadaan bangsanya, yang senantiasa berjuang untuk memajukan negaranya, dan memiliki Indonesia sepenuhnya, bersyukur dan berbangga sepenuh hati terhadap kekayaan dan keanekaragaam suku, adat, dan budaya yang dimiliki oleh tanah air Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Itulah kemudian disebut mencintai negeri dan menjaga NKRI dengan memiliki kebanggan terhadap tanah air, bangsa dan persatuan.Sangat nasionalis Pak.

Melalui program KPN juga, para pemuda dapat mempererat persahabatan, persaudaraan dan kerjasama serta saling pengertian. Selain itu juga membentuk jaring kerja nasional pemuda, memperkuat, dan meningkatkan jiwa dan semangat NKRI sekaligus memperdayakan diri sebagai kader bangsa. Bahkan mereka juga dapat menjunjung tinggi nilai kemanusian dengan melakukan bakti sosial kepada masyarakat, seperti program KPN Tahun 2018 yang saya ikuti 2 tahun lalu, para peserta KPN diterjunkan langsung dalam kegiatan membangun kembali Palu, Sigi, dan Donggala yang terkena bencana alam gempa dan tsunami. Harus saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemenpora RI karena sudah memfasilitasi saya dan teman-teman saya sehingga bisa mmeberikan uluran tangan secara langsung di Palu, Sigi, dan Donggala. Uluran tangan kami tidak seberapa, namun tentu sangat bermakna, pun sangat berarti.

Perjalanan peserta KPN tidak serta merta berhenti saat mereka selesai menjalankan program, namun tetap berlanjut sebagai pemuda bahari yang siap menjadi ujung tombak pelestarian lingkungan hidup dengan memberikan kontribusi nyata terhadap kelautan Indonesia. Kontribusi nyata tersebut dapat dilihat dari kegiatan pascaprogram yang sudah mereka rancang di provinsinya masing-masing. Contohnya bisa jadi penanaman mangrove di daerah pesisir pantai, pemberian edukasi bahari kepada anak-anak, pelatihan pengolahan sampah dari laut menjadi barang bernilai jual tinggi, kegiatan susur pantai, penanaman terumbu karang, workshop kebaharian, dan masih banyak lagi. Teman-teman saya di program KPN 2018 bersama-sama mengadakan sebuah gerakan bertajuk “Siaga Nusantara” – Aksi Jaga Air Nusantara di provinsinya masing-masing.

Gerakan ini bertujuan untuk peminimalisiran sampah plastik di perairan (danau, sungai, dan laut) untuk keberlangsungan kehidupan biota air dengan membersihkan daerah perairan (danau, sungai, dan laut) dari sampah, terutama plastik. Gerakan ini sekaligus memperingati hari air sedunia yang jatuh ada tanggal 22 Maret 2019 yang dimaksudkan untuk mengajak setiap orang untuk sadar akan penghematan dalam penggunaan air, seperti menggunakan air secukupnya untuk aktivitas MCK (mandi cuci kakus), konsumsi (minum) dengan cukup dan tidak menyisakan dan penghematan dalam penggunaan air dalam rumah tangga (mencuci pakaian dan piring).

_____

Pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dalam program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Kami memimpikan sebuah dunia perairan di Indonesia yang bersih dari sampah dan berjuang mewujudkannya bersama-sama. Contoh lain adalah KAKPN Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tanggal 15 Maret nanti akan melaksanakan kegiatan “Memelaut – Mengenal dan Memahami Biota Laut” bagi Komunitas Sekolah Marjinal Kledokan, Caturtunggal, Depok, Sleman, D.I. Yogyakarta. Kegiatan yang dicanangkan oleh peserta KPN 2019 merupakan acara edukasi bahari yang dikemas dengan ide-ide kreatif dan menyenangkan, seperti mendongeng biota laut, melukis biota laut, dan sosialisasi makan-makanan bergizi. Keren betul mereka ini. Asli. Harus diapresiasi ini Pak. Hehehe.

Sebenarnya masih ada banyak lagi alasan mengapa saya tidak rela program Kapal Pemuda Nusantara dihapuskan Pak. Saya secara pribadi merasa program Kapal Pemuda Nusantara sebaiknya memang harus dilaksanakan tiap tahunnya mengingat program KPN sangat berdampak positif terhadap perkembangan Sumber Daya Manusia (Pemuda) dan perkembangan kelautan Indonesia. Program KPN melahirkan pemuda bahari, yang diharapkan dapat menjadi apa yang diharapkan di penjelasan saya di atas.  Ketimbang dihapuskann atau diganti, jujur saya lebih memilih program KPN ini dievaluasi segala kekurangannya, sehingga dapat dilaksanakan lebih baik lagi kedepannya. Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam Pak, saya tentu berharap program KPN masih tetap dijalankan. Saya ingin ada lebih banyak lagi pemuda yang mencintai laut Indonesia, yang secara tidak langsung juga mencintai negeri ini. Pemuda Maju, Indonesia Jaya.

Demikian dengan surat ini saya sampaikan permohonan saya Pak. Saya meminta maaf sebesar-besarnya apabila dirasa ada kesalahan dalam surat saya ini. Jujur, saya tidak ada maksud lain selain memohon, seletingan-selentingan saya soal mantan hanya pemanis Pak, karena memang dialah yang pernah membuat hidup saya manis setelah program KPN 2018. Hehehe. Nah, untuk mengakhiri surat ini, mari Pak, bersama-sama kita serukan dengan lantang semangat kita.

“Pemuda? Maju, Olahraga? Jaya. Siapa kita? Indonesia. NKRI? Harga Mati”

“Di laut kita berlayar, di laut kita belajar, di laut kita bersama, kembali ke laut kita jaya” – JALESVEVA JAYAMAHE. [T]

Tags: Kapal Pemuda Nusantaralautpemuda
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Jagung Bakar

Next Post

Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 – Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 – Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 - Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co