14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surat Terbuka untuk Menpora Bapak Zainudin Amali: “Please, Pak, Pertahankan Program KPN”

Julio Saputra by Julio Saputra
March 6, 2020
in Esai
Surat Terbuka untuk Menpora Bapak Zainudin Amali: “Please, Pak, Pertahankan Program KPN”

Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Yang saya hormati, Bapak Menpora RI Zainudin Amali. Bagaimana kabarnya, Pak? Semoga sehat selalu di mana pun dan kapan pun. Perkenalkan Pak, saya I Made Julio Saputra, akrab disapa Julio. Saya bukan siapa-siapa Pak, hanya seorang pemuda dari suatu desa kecil di tengah-tengah Pulau Bali yang hobi membuat status galau di media sosial. Percayalah Pak, kenyataannya saya memang bukan siapa-siapa, karena kata mantan saya tempo hari, saya bukan siapa-siapa lagi. Hiks sedihnya hati saya Pak.

Baiklah, lupakan mantan sejenak. Sejujurnya Pak, saya itu ngefans banget sama Bapak. Sumpah. Saya memang suka ngefans sama pejabat-pejabat negara Pak, tapi tidak semuanya lho, hanya yang berkaitan dengan hal-hal yang saya suka saja. Contohnya ya Bapak sendiri. Kebetulan saya suka olahraga, dan saya juga masih muda, bujang, dan perjaka, masih bisa dikategorikan sebagai pemuda. Terlebih 2 tahun lalu, saya mengikuti program Kapal Pemuda Nusantara (KPN), salah satu program kenamaan milik Kemenpora RI yang sudah dilakukan sejak tahun 2005. Makin ngefanslah saya sama pejabatnya.

Pokoknya Bapak itu idola saya banget Pak. Semoga saya bisa bertemu Bapak lagi di kemudian hari. Sesekali boleh juga saya diundang untuk makan siang bersama Pak. Hehehe. Oh ya Pak, saya bermaksud membuat surat terbuka ini karena ada yang ingin saya sampaikan Pak. Saya ingin heart to heart ke Bapak, karena heart to heart ke mantan saya sudah tidak mungkin lagi. Dia sudah menikah dengan lelaki yang tentu saja lebih baik dari saya. Jadi saya berharap sekali Bapak membaca surat terbuka saya ini, karena kalau tidak dibaca, waduh tambah sakit hati dong saya Pak.

Oh, satu lagi, dalam surat terbuka ini, saya tidak bermaksud menggurui Bapak, saya yakin Bapak sudah lebih tahu dari saya. Bapak sudah lebih awal menikmati asam garam pahit manis kehidupan, pun sekarang sudah menjadi salah satu pejabat negara. Penjelasan-penjelasan saya dalam surat ini dimaksudkan agar bisa juga tersampaikan kepada pembaca setia di rumah, karena memang beginilah tujuannya adanya surat terbuka. Bertukar ide, bertukar pikiran. Bertukar hati? Waduh saya belum siap. Masih trauma sakit hati.

Jadi begini Pak, ada kabar yang berhembus bahwa mulai tahun ini, program Kapal Pemuda Nusantara (KPN) tidak akan diadakan lagi untuk seterusnya. Entah ini benar atau tidak, tapi begitulah kata salah satu sumber yang dirasa menyakinkan. Duh Gusti Prabu…. Mendengar kabar itu, hati saya sakit bukan main Pak, remuk seremuk-remuknya, perih seperih-perihnya. Terkoyak-koyak hati ini Pak. Kualitas sakit hati saya bahkan bisa disamakan ketika saya ditinggal selingkuh oleh pacar saya yang saya cintai segenap hati saya. Luka lama yang sudah terkubur dalam tiba-tiba menganga kembali dengan lebarnya. Sakit sekali Pak. Saya secara pribadi tidak rela jika kemudian program KPN benar-benar dihapuskan. Hiks.

Sama seperti tulisan saya sebelumnya di tahun 2018 yang berjudul “Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!” melalui surat terbuka ini, tanpa mengurangi rasa hormat, saya memohon kepada Bapak agar program KPN tetap diadakan Pak, agar tetap dipertahankan. Tentu permohonan saya ini disertai alasan yang jelas Pak, tidak seperti mantan saya yang pergi tanpa meninggalkan alasan apapun. Nah, alasannya, bagi saya, atau mungkin bagi teman-teman saya, KPN adalah program berbasis kepemudaan yang berkaitan erat dengan kemaritiman dan kelautan Indonesia dan sebenanrnya itulah yang menjadi keunggulan dalam program ini Pak, sehingga KPN menjadi program yang sangat pantas diadakan mengingat Indonesia adalah negara maritim.

Berbicara tentang Indonesia sebagai negara maritime, barangkali penting bagi kita semua untuk tahu tentang sejarah peradaban maritim dunia, tentang teori hukum laut atau konsep Mare Liberum yang dicetuskan Hugo Grotius, atau juga tentang jaringan pelayaran nusantara yang dikuasai VOC dengan mengubah konsep laut terbuka menjadi konsep laut tertutup, yang kemudian diceritakan Pramudya Ananta Toer dalam karyanya berjudul Arus Balik. Hhhmmm, sebenarnya ini sedikit agak panjang kalau diceritakan.  

Namun, terlepas dari hal-hal di atas, yang paling penting dan wajib untuk diketahui adalah kenyataan bahwa Indonesia memiliki luas perairan lebih besar dari pada luas daratan. Kalau saya tidak salah Pak (mudah-mudahan saya tidak salah), Indonesia memiliki 17.499 pulau dari Sabang sampai Merauke dengan luas total wilayah Indonesia 7,81 juta km2, terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Jika dipresentasekan, 75% wilayah Indonesia adalah perairan, dan sisanya 25% adalah daratan. Wow. Luar biasa sekali Pak. Tak heran jika nenek moyang saya dulunya adalah seorang pelaut, pandai mengarungi luas samudra, menanjak ombak menembus badai sudah biasa.

Nah, bisa dibayangkan Pak, karena hal tersebut, Indonesia tentu memiliki keindahan bahari dan hasil laut dengan kualitas terbaik. Mulai dari pulau-pulau yang cantik lengkap juga dengan terumbu karang dan tumbuhan laut yang tak kalah cantik, bahkan lebih cantik dari mantan-mantan saya. Eh lagi-lagi saya malah teringat mantan. Hehehe. Mohon maaf, Pak, bayangan masa lalu memang kadang suka menghantui gitu, terutama bagi budak-budak sakit hati seperti saya ini.

Oke, lanjut ya Pak. Kalau saya tidak salah lagi, luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi yang kemudian menyumbang 65% luas total turumbu karang di coral triangle dan 18% luas total terumbu karang dunia. Di samping itu, Indonesia juga memiliki kekayaan laut lainnya, seperti kan, udang, dan berbagai jenis hewan laut lainnya yang memikat hati masyarakat dunia. Sayangnya, keindahan dan kekayaan laut Indonesia juga menjadi daya tarik bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan illegal fishing, trafficking, bahkan penyelundupan senjata. Ini serius. Saya tidak bohong.

_____

Para pemuda peserta program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Itulah barangkali yang kemudian melatarbelakangi adanya program yang kedepannya mengharapkan peran pemuda Indonesia untuk menjaga sekaligus membangun kelautan Indonesia, mengingat laut juga memiliki peran yang sangat penting karena menyimpan potensi yang sejatinya luar biasa bermanfaat, dan program Kapal Pemuda Nusantara (KPN) itulah yang menjadi salah satu cara pemerintah untuk memajukan, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi laut Indonesia melalui perantara pemuda. Ya, pemuda seperti saya ini Pak, juga seperti teman-teman saya yang lain. Tugas untuk melindungi kemaritiman dan kelautan Indonesia, mencakup pertahanan, keamanan, kelestarian dan pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga tanggung jawab semua masyarakat Indonesia, terutama generasi muda penerus tongkat estafet pembangunan bangsa.

Melalui perantara pemuda, tentu sangat diharapkan dapat mendukung Indonesia untuk mencapai tujuannya sebagai poros maritim dunia, sebagai negara maritim yang besar, kuat, dan makmur melalui pengembalian identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, pengamanan kepentingan dan keamanan maritim, memberdayakan potensi maritim untuk mewujudkan pemerataan ekonomi Indonesia. Kata kebanyakan orang, sudah saatnya Indonesia bangun dari tidur lelapnya sebagai bangsa maritim jika tidak ingin tertindah oleh bangsa lain. Ayo banyun.

Selama pelaksanaan program KPN, selama kurang lebih 2 sampai 3 minggu (mungkin juga lebih, seperti KPN Sail Tomini 2015 yang berlayar hampir satu bulan), pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia yang ikut di dalamnya diajak berlayar mengarungi beberapa sudut lautan Indonesia. Jujur saya suka sekali bagian mengarungi lautan Indonesia ini, karena mengarungi lautan hatinya hanya membuat saya tenggelam dalam kesedihan yang ngilu dan pilu. Huhuhuhu.

Peserta program juga diajak bersentuhan langsung dengan segala hal yang berhubungan dengan laut, melakukan aktivitas kebaharian, mengunjungi tempat-tempat konservasi laut dan hasil laut, mengunjungi daerah pesisir termasuk berinteraksi dengan masyarakatnya. Pemuda diajak membuka wawasan mereka sebagai anak anak bangsa akan kelautan dan kemaritiman. Mereka diberikan berbagai wawasan, tentang laut yang dulu menjadi media transportasi utama antardunia, tentang laut yang menjadi jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan antarwilayah di Indonesia bahkan juga negara-negara lain.

Mereka juga mendapat wawasan tentang potensi laut Indonesia yang menjadi salah satu sumber pangan masyarakat Indonesia, terutama protein hewani dalam bentuk ikan dan hasil laut lainnya. Mereka juga mendapat wawasan tentang peran laut dalam bidang lainnya, seperti konservasi dan pelestarian alam,sumber ilmu pengetahuan alam, sarana rekreasi dan pariwisata, dan lain sebagianya. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu wujud kepedulian pemerintah terhadap perkembangan dan kelestarian kelautan Indonesia yang mengutamakan peran pemuda Indonesia sebagai pelaku utamanya dengan cara menggugah, memunculkan, membangkitkan motivasi pemuda untuk mau ke laut serta merangsang tumbuhnya jiwa wirausaha pemuda di bidang kelautan.

Mantap kan Pak? Tentu saja hal-hal tersebut utamanya dimaksudkan agar pemuda-pemudi setelah mengikuti program KPN nantinya dapat menjadi pemuda bahari yang lebih cinta terhadap laut, memiliki tanggung jawab tinggi, memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, mampu meningkatkan kemitraan untuk pembangunan pengelolaan sumberdaya alam, siap menghadapi tantangan global di masa yang akan datang.

Nah, bukan hanya itu saja Pak, pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia tersebut juga dapat membentuk karakter karena dalam pelaksanaan kegiatannya, berbagai kedisiplinan lebih ditanamkan lagi pada diri masing-masing peserta KPN. Mereka juga dapat mengenali keberagam dan kekayaan budaya daerah di Indonesia karena pemuda-pemudi Indonesia juga diberikan panggung untuk menampilkan kesenian dan kebudayaan yang mereka miliki. Saya bersama teman-teman dari Bali saat itu berusaha setotalitas mungkin memperkenalkan realisme magis seni Bali dengan menghadirkan drama tari Calonarang lengkap dengan topeng rangda berukuran besar yang sangat ikonik. Kalau boleh saya jujur lagi Pak, ini salah satu hal yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

_____

Nilai-nilai keberagaman dalam program Kapal Pemuda Nusantara

Kebaragaman yang dirayakan selama program KPN tentu dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Mereka diberikan berbagai motivasi untuk menjadi warga negara Indonesia seutuhnya, yang sadar akan keberadaan bangsanya, yang senantiasa berjuang untuk memajukan negaranya, dan memiliki Indonesia sepenuhnya, bersyukur dan berbangga sepenuh hati terhadap kekayaan dan keanekaragaam suku, adat, dan budaya yang dimiliki oleh tanah air Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Itulah kemudian disebut mencintai negeri dan menjaga NKRI dengan memiliki kebanggan terhadap tanah air, bangsa dan persatuan.Sangat nasionalis Pak.

Melalui program KPN juga, para pemuda dapat mempererat persahabatan, persaudaraan dan kerjasama serta saling pengertian. Selain itu juga membentuk jaring kerja nasional pemuda, memperkuat, dan meningkatkan jiwa dan semangat NKRI sekaligus memperdayakan diri sebagai kader bangsa. Bahkan mereka juga dapat menjunjung tinggi nilai kemanusian dengan melakukan bakti sosial kepada masyarakat, seperti program KPN Tahun 2018 yang saya ikuti 2 tahun lalu, para peserta KPN diterjunkan langsung dalam kegiatan membangun kembali Palu, Sigi, dan Donggala yang terkena bencana alam gempa dan tsunami. Harus saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemenpora RI karena sudah memfasilitasi saya dan teman-teman saya sehingga bisa mmeberikan uluran tangan secara langsung di Palu, Sigi, dan Donggala. Uluran tangan kami tidak seberapa, namun tentu sangat bermakna, pun sangat berarti.

Perjalanan peserta KPN tidak serta merta berhenti saat mereka selesai menjalankan program, namun tetap berlanjut sebagai pemuda bahari yang siap menjadi ujung tombak pelestarian lingkungan hidup dengan memberikan kontribusi nyata terhadap kelautan Indonesia. Kontribusi nyata tersebut dapat dilihat dari kegiatan pascaprogram yang sudah mereka rancang di provinsinya masing-masing. Contohnya bisa jadi penanaman mangrove di daerah pesisir pantai, pemberian edukasi bahari kepada anak-anak, pelatihan pengolahan sampah dari laut menjadi barang bernilai jual tinggi, kegiatan susur pantai, penanaman terumbu karang, workshop kebaharian, dan masih banyak lagi. Teman-teman saya di program KPN 2018 bersama-sama mengadakan sebuah gerakan bertajuk “Siaga Nusantara” – Aksi Jaga Air Nusantara di provinsinya masing-masing.

Gerakan ini bertujuan untuk peminimalisiran sampah plastik di perairan (danau, sungai, dan laut) untuk keberlangsungan kehidupan biota air dengan membersihkan daerah perairan (danau, sungai, dan laut) dari sampah, terutama plastik. Gerakan ini sekaligus memperingati hari air sedunia yang jatuh ada tanggal 22 Maret 2019 yang dimaksudkan untuk mengajak setiap orang untuk sadar akan penghematan dalam penggunaan air, seperti menggunakan air secukupnya untuk aktivitas MCK (mandi cuci kakus), konsumsi (minum) dengan cukup dan tidak menyisakan dan penghematan dalam penggunaan air dalam rumah tangga (mencuci pakaian dan piring).

_____

Pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dalam program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Kami memimpikan sebuah dunia perairan di Indonesia yang bersih dari sampah dan berjuang mewujudkannya bersama-sama. Contoh lain adalah KAKPN Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tanggal 15 Maret nanti akan melaksanakan kegiatan “Memelaut – Mengenal dan Memahami Biota Laut” bagi Komunitas Sekolah Marjinal Kledokan, Caturtunggal, Depok, Sleman, D.I. Yogyakarta. Kegiatan yang dicanangkan oleh peserta KPN 2019 merupakan acara edukasi bahari yang dikemas dengan ide-ide kreatif dan menyenangkan, seperti mendongeng biota laut, melukis biota laut, dan sosialisasi makan-makanan bergizi. Keren betul mereka ini. Asli. Harus diapresiasi ini Pak. Hehehe.

Sebenarnya masih ada banyak lagi alasan mengapa saya tidak rela program Kapal Pemuda Nusantara dihapuskan Pak. Saya secara pribadi merasa program Kapal Pemuda Nusantara sebaiknya memang harus dilaksanakan tiap tahunnya mengingat program KPN sangat berdampak positif terhadap perkembangan Sumber Daya Manusia (Pemuda) dan perkembangan kelautan Indonesia. Program KPN melahirkan pemuda bahari, yang diharapkan dapat menjadi apa yang diharapkan di penjelasan saya di atas.  Ketimbang dihapuskann atau diganti, jujur saya lebih memilih program KPN ini dievaluasi segala kekurangannya, sehingga dapat dilaksanakan lebih baik lagi kedepannya. Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam Pak, saya tentu berharap program KPN masih tetap dijalankan. Saya ingin ada lebih banyak lagi pemuda yang mencintai laut Indonesia, yang secara tidak langsung juga mencintai negeri ini. Pemuda Maju, Indonesia Jaya.

Demikian dengan surat ini saya sampaikan permohonan saya Pak. Saya meminta maaf sebesar-besarnya apabila dirasa ada kesalahan dalam surat saya ini. Jujur, saya tidak ada maksud lain selain memohon, seletingan-selentingan saya soal mantan hanya pemanis Pak, karena memang dialah yang pernah membuat hidup saya manis setelah program KPN 2018. Hehehe. Nah, untuk mengakhiri surat ini, mari Pak, bersama-sama kita serukan dengan lantang semangat kita.

“Pemuda? Maju, Olahraga? Jaya. Siapa kita? Indonesia. NKRI? Harga Mati”

“Di laut kita berlayar, di laut kita belajar, di laut kita bersama, kembali ke laut kita jaya” – JALESVEVA JAYAMAHE. [T]

Tags: Kapal Pemuda Nusantaralautpemuda
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Jagung Bakar

Next Post

Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 – Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 – Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 - Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co