25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surat Terbuka untuk Menpora Bapak Zainudin Amali: “Please, Pak, Pertahankan Program KPN”

Julio Saputra by Julio Saputra
March 6, 2020
in Esai
Surat Terbuka untuk Menpora Bapak Zainudin Amali: “Please, Pak, Pertahankan Program KPN”

Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Yang saya hormati, Bapak Menpora RI Zainudin Amali. Bagaimana kabarnya, Pak? Semoga sehat selalu di mana pun dan kapan pun. Perkenalkan Pak, saya I Made Julio Saputra, akrab disapa Julio. Saya bukan siapa-siapa Pak, hanya seorang pemuda dari suatu desa kecil di tengah-tengah Pulau Bali yang hobi membuat status galau di media sosial. Percayalah Pak, kenyataannya saya memang bukan siapa-siapa, karena kata mantan saya tempo hari, saya bukan siapa-siapa lagi. Hiks sedihnya hati saya Pak.

Baiklah, lupakan mantan sejenak. Sejujurnya Pak, saya itu ngefans banget sama Bapak. Sumpah. Saya memang suka ngefans sama pejabat-pejabat negara Pak, tapi tidak semuanya lho, hanya yang berkaitan dengan hal-hal yang saya suka saja. Contohnya ya Bapak sendiri. Kebetulan saya suka olahraga, dan saya juga masih muda, bujang, dan perjaka, masih bisa dikategorikan sebagai pemuda. Terlebih 2 tahun lalu, saya mengikuti program Kapal Pemuda Nusantara (KPN), salah satu program kenamaan milik Kemenpora RI yang sudah dilakukan sejak tahun 2005. Makin ngefanslah saya sama pejabatnya.

Pokoknya Bapak itu idola saya banget Pak. Semoga saya bisa bertemu Bapak lagi di kemudian hari. Sesekali boleh juga saya diundang untuk makan siang bersama Pak. Hehehe. Oh ya Pak, saya bermaksud membuat surat terbuka ini karena ada yang ingin saya sampaikan Pak. Saya ingin heart to heart ke Bapak, karena heart to heart ke mantan saya sudah tidak mungkin lagi. Dia sudah menikah dengan lelaki yang tentu saja lebih baik dari saya. Jadi saya berharap sekali Bapak membaca surat terbuka saya ini, karena kalau tidak dibaca, waduh tambah sakit hati dong saya Pak.

Oh, satu lagi, dalam surat terbuka ini, saya tidak bermaksud menggurui Bapak, saya yakin Bapak sudah lebih tahu dari saya. Bapak sudah lebih awal menikmati asam garam pahit manis kehidupan, pun sekarang sudah menjadi salah satu pejabat negara. Penjelasan-penjelasan saya dalam surat ini dimaksudkan agar bisa juga tersampaikan kepada pembaca setia di rumah, karena memang beginilah tujuannya adanya surat terbuka. Bertukar ide, bertukar pikiran. Bertukar hati? Waduh saya belum siap. Masih trauma sakit hati.

Jadi begini Pak, ada kabar yang berhembus bahwa mulai tahun ini, program Kapal Pemuda Nusantara (KPN) tidak akan diadakan lagi untuk seterusnya. Entah ini benar atau tidak, tapi begitulah kata salah satu sumber yang dirasa menyakinkan. Duh Gusti Prabu…. Mendengar kabar itu, hati saya sakit bukan main Pak, remuk seremuk-remuknya, perih seperih-perihnya. Terkoyak-koyak hati ini Pak. Kualitas sakit hati saya bahkan bisa disamakan ketika saya ditinggal selingkuh oleh pacar saya yang saya cintai segenap hati saya. Luka lama yang sudah terkubur dalam tiba-tiba menganga kembali dengan lebarnya. Sakit sekali Pak. Saya secara pribadi tidak rela jika kemudian program KPN benar-benar dihapuskan. Hiks.

Sama seperti tulisan saya sebelumnya di tahun 2018 yang berjudul “Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!” melalui surat terbuka ini, tanpa mengurangi rasa hormat, saya memohon kepada Bapak agar program KPN tetap diadakan Pak, agar tetap dipertahankan. Tentu permohonan saya ini disertai alasan yang jelas Pak, tidak seperti mantan saya yang pergi tanpa meninggalkan alasan apapun. Nah, alasannya, bagi saya, atau mungkin bagi teman-teman saya, KPN adalah program berbasis kepemudaan yang berkaitan erat dengan kemaritiman dan kelautan Indonesia dan sebenanrnya itulah yang menjadi keunggulan dalam program ini Pak, sehingga KPN menjadi program yang sangat pantas diadakan mengingat Indonesia adalah negara maritim.

Berbicara tentang Indonesia sebagai negara maritime, barangkali penting bagi kita semua untuk tahu tentang sejarah peradaban maritim dunia, tentang teori hukum laut atau konsep Mare Liberum yang dicetuskan Hugo Grotius, atau juga tentang jaringan pelayaran nusantara yang dikuasai VOC dengan mengubah konsep laut terbuka menjadi konsep laut tertutup, yang kemudian diceritakan Pramudya Ananta Toer dalam karyanya berjudul Arus Balik. Hhhmmm, sebenarnya ini sedikit agak panjang kalau diceritakan.  

Namun, terlepas dari hal-hal di atas, yang paling penting dan wajib untuk diketahui adalah kenyataan bahwa Indonesia memiliki luas perairan lebih besar dari pada luas daratan. Kalau saya tidak salah Pak (mudah-mudahan saya tidak salah), Indonesia memiliki 17.499 pulau dari Sabang sampai Merauke dengan luas total wilayah Indonesia 7,81 juta km2, terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Jika dipresentasekan, 75% wilayah Indonesia adalah perairan, dan sisanya 25% adalah daratan. Wow. Luar biasa sekali Pak. Tak heran jika nenek moyang saya dulunya adalah seorang pelaut, pandai mengarungi luas samudra, menanjak ombak menembus badai sudah biasa.

Nah, bisa dibayangkan Pak, karena hal tersebut, Indonesia tentu memiliki keindahan bahari dan hasil laut dengan kualitas terbaik. Mulai dari pulau-pulau yang cantik lengkap juga dengan terumbu karang dan tumbuhan laut yang tak kalah cantik, bahkan lebih cantik dari mantan-mantan saya. Eh lagi-lagi saya malah teringat mantan. Hehehe. Mohon maaf, Pak, bayangan masa lalu memang kadang suka menghantui gitu, terutama bagi budak-budak sakit hati seperti saya ini.

Oke, lanjut ya Pak. Kalau saya tidak salah lagi, luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi yang kemudian menyumbang 65% luas total turumbu karang di coral triangle dan 18% luas total terumbu karang dunia. Di samping itu, Indonesia juga memiliki kekayaan laut lainnya, seperti kan, udang, dan berbagai jenis hewan laut lainnya yang memikat hati masyarakat dunia. Sayangnya, keindahan dan kekayaan laut Indonesia juga menjadi daya tarik bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan illegal fishing, trafficking, bahkan penyelundupan senjata. Ini serius. Saya tidak bohong.

_____

Para pemuda peserta program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Itulah barangkali yang kemudian melatarbelakangi adanya program yang kedepannya mengharapkan peran pemuda Indonesia untuk menjaga sekaligus membangun kelautan Indonesia, mengingat laut juga memiliki peran yang sangat penting karena menyimpan potensi yang sejatinya luar biasa bermanfaat, dan program Kapal Pemuda Nusantara (KPN) itulah yang menjadi salah satu cara pemerintah untuk memajukan, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi laut Indonesia melalui perantara pemuda. Ya, pemuda seperti saya ini Pak, juga seperti teman-teman saya yang lain. Tugas untuk melindungi kemaritiman dan kelautan Indonesia, mencakup pertahanan, keamanan, kelestarian dan pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga tanggung jawab semua masyarakat Indonesia, terutama generasi muda penerus tongkat estafet pembangunan bangsa.

Melalui perantara pemuda, tentu sangat diharapkan dapat mendukung Indonesia untuk mencapai tujuannya sebagai poros maritim dunia, sebagai negara maritim yang besar, kuat, dan makmur melalui pengembalian identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, pengamanan kepentingan dan keamanan maritim, memberdayakan potensi maritim untuk mewujudkan pemerataan ekonomi Indonesia. Kata kebanyakan orang, sudah saatnya Indonesia bangun dari tidur lelapnya sebagai bangsa maritim jika tidak ingin tertindah oleh bangsa lain. Ayo banyun.

Selama pelaksanaan program KPN, selama kurang lebih 2 sampai 3 minggu (mungkin juga lebih, seperti KPN Sail Tomini 2015 yang berlayar hampir satu bulan), pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia yang ikut di dalamnya diajak berlayar mengarungi beberapa sudut lautan Indonesia. Jujur saya suka sekali bagian mengarungi lautan Indonesia ini, karena mengarungi lautan hatinya hanya membuat saya tenggelam dalam kesedihan yang ngilu dan pilu. Huhuhuhu.

Peserta program juga diajak bersentuhan langsung dengan segala hal yang berhubungan dengan laut, melakukan aktivitas kebaharian, mengunjungi tempat-tempat konservasi laut dan hasil laut, mengunjungi daerah pesisir termasuk berinteraksi dengan masyarakatnya. Pemuda diajak membuka wawasan mereka sebagai anak anak bangsa akan kelautan dan kemaritiman. Mereka diberikan berbagai wawasan, tentang laut yang dulu menjadi media transportasi utama antardunia, tentang laut yang menjadi jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan antarwilayah di Indonesia bahkan juga negara-negara lain.

Mereka juga mendapat wawasan tentang potensi laut Indonesia yang menjadi salah satu sumber pangan masyarakat Indonesia, terutama protein hewani dalam bentuk ikan dan hasil laut lainnya. Mereka juga mendapat wawasan tentang peran laut dalam bidang lainnya, seperti konservasi dan pelestarian alam,sumber ilmu pengetahuan alam, sarana rekreasi dan pariwisata, dan lain sebagianya. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu wujud kepedulian pemerintah terhadap perkembangan dan kelestarian kelautan Indonesia yang mengutamakan peran pemuda Indonesia sebagai pelaku utamanya dengan cara menggugah, memunculkan, membangkitkan motivasi pemuda untuk mau ke laut serta merangsang tumbuhnya jiwa wirausaha pemuda di bidang kelautan.

Mantap kan Pak? Tentu saja hal-hal tersebut utamanya dimaksudkan agar pemuda-pemudi setelah mengikuti program KPN nantinya dapat menjadi pemuda bahari yang lebih cinta terhadap laut, memiliki tanggung jawab tinggi, memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, mampu meningkatkan kemitraan untuk pembangunan pengelolaan sumberdaya alam, siap menghadapi tantangan global di masa yang akan datang.

Nah, bukan hanya itu saja Pak, pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia tersebut juga dapat membentuk karakter karena dalam pelaksanaan kegiatannya, berbagai kedisiplinan lebih ditanamkan lagi pada diri masing-masing peserta KPN. Mereka juga dapat mengenali keberagam dan kekayaan budaya daerah di Indonesia karena pemuda-pemudi Indonesia juga diberikan panggung untuk menampilkan kesenian dan kebudayaan yang mereka miliki. Saya bersama teman-teman dari Bali saat itu berusaha setotalitas mungkin memperkenalkan realisme magis seni Bali dengan menghadirkan drama tari Calonarang lengkap dengan topeng rangda berukuran besar yang sangat ikonik. Kalau boleh saya jujur lagi Pak, ini salah satu hal yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

_____

Nilai-nilai keberagaman dalam program Kapal Pemuda Nusantara

Kebaragaman yang dirayakan selama program KPN tentu dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Mereka diberikan berbagai motivasi untuk menjadi warga negara Indonesia seutuhnya, yang sadar akan keberadaan bangsanya, yang senantiasa berjuang untuk memajukan negaranya, dan memiliki Indonesia sepenuhnya, bersyukur dan berbangga sepenuh hati terhadap kekayaan dan keanekaragaam suku, adat, dan budaya yang dimiliki oleh tanah air Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Itulah kemudian disebut mencintai negeri dan menjaga NKRI dengan memiliki kebanggan terhadap tanah air, bangsa dan persatuan.Sangat nasionalis Pak.

Melalui program KPN juga, para pemuda dapat mempererat persahabatan, persaudaraan dan kerjasama serta saling pengertian. Selain itu juga membentuk jaring kerja nasional pemuda, memperkuat, dan meningkatkan jiwa dan semangat NKRI sekaligus memperdayakan diri sebagai kader bangsa. Bahkan mereka juga dapat menjunjung tinggi nilai kemanusian dengan melakukan bakti sosial kepada masyarakat, seperti program KPN Tahun 2018 yang saya ikuti 2 tahun lalu, para peserta KPN diterjunkan langsung dalam kegiatan membangun kembali Palu, Sigi, dan Donggala yang terkena bencana alam gempa dan tsunami. Harus saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemenpora RI karena sudah memfasilitasi saya dan teman-teman saya sehingga bisa mmeberikan uluran tangan secara langsung di Palu, Sigi, dan Donggala. Uluran tangan kami tidak seberapa, namun tentu sangat bermakna, pun sangat berarti.

Perjalanan peserta KPN tidak serta merta berhenti saat mereka selesai menjalankan program, namun tetap berlanjut sebagai pemuda bahari yang siap menjadi ujung tombak pelestarian lingkungan hidup dengan memberikan kontribusi nyata terhadap kelautan Indonesia. Kontribusi nyata tersebut dapat dilihat dari kegiatan pascaprogram yang sudah mereka rancang di provinsinya masing-masing. Contohnya bisa jadi penanaman mangrove di daerah pesisir pantai, pemberian edukasi bahari kepada anak-anak, pelatihan pengolahan sampah dari laut menjadi barang bernilai jual tinggi, kegiatan susur pantai, penanaman terumbu karang, workshop kebaharian, dan masih banyak lagi. Teman-teman saya di program KPN 2018 bersama-sama mengadakan sebuah gerakan bertajuk “Siaga Nusantara” – Aksi Jaga Air Nusantara di provinsinya masing-masing.

Gerakan ini bertujuan untuk peminimalisiran sampah plastik di perairan (danau, sungai, dan laut) untuk keberlangsungan kehidupan biota air dengan membersihkan daerah perairan (danau, sungai, dan laut) dari sampah, terutama plastik. Gerakan ini sekaligus memperingati hari air sedunia yang jatuh ada tanggal 22 Maret 2019 yang dimaksudkan untuk mengajak setiap orang untuk sadar akan penghematan dalam penggunaan air, seperti menggunakan air secukupnya untuk aktivitas MCK (mandi cuci kakus), konsumsi (minum) dengan cukup dan tidak menyisakan dan penghematan dalam penggunaan air dalam rumah tangga (mencuci pakaian dan piring).

_____

Pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dalam program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]

Kami memimpikan sebuah dunia perairan di Indonesia yang bersih dari sampah dan berjuang mewujudkannya bersama-sama. Contoh lain adalah KAKPN Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tanggal 15 Maret nanti akan melaksanakan kegiatan “Memelaut – Mengenal dan Memahami Biota Laut” bagi Komunitas Sekolah Marjinal Kledokan, Caturtunggal, Depok, Sleman, D.I. Yogyakarta. Kegiatan yang dicanangkan oleh peserta KPN 2019 merupakan acara edukasi bahari yang dikemas dengan ide-ide kreatif dan menyenangkan, seperti mendongeng biota laut, melukis biota laut, dan sosialisasi makan-makanan bergizi. Keren betul mereka ini. Asli. Harus diapresiasi ini Pak. Hehehe.

Sebenarnya masih ada banyak lagi alasan mengapa saya tidak rela program Kapal Pemuda Nusantara dihapuskan Pak. Saya secara pribadi merasa program Kapal Pemuda Nusantara sebaiknya memang harus dilaksanakan tiap tahunnya mengingat program KPN sangat berdampak positif terhadap perkembangan Sumber Daya Manusia (Pemuda) dan perkembangan kelautan Indonesia. Program KPN melahirkan pemuda bahari, yang diharapkan dapat menjadi apa yang diharapkan di penjelasan saya di atas.  Ketimbang dihapuskann atau diganti, jujur saya lebih memilih program KPN ini dievaluasi segala kekurangannya, sehingga dapat dilaksanakan lebih baik lagi kedepannya. Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam Pak, saya tentu berharap program KPN masih tetap dijalankan. Saya ingin ada lebih banyak lagi pemuda yang mencintai laut Indonesia, yang secara tidak langsung juga mencintai negeri ini. Pemuda Maju, Indonesia Jaya.

Demikian dengan surat ini saya sampaikan permohonan saya Pak. Saya meminta maaf sebesar-besarnya apabila dirasa ada kesalahan dalam surat saya ini. Jujur, saya tidak ada maksud lain selain memohon, seletingan-selentingan saya soal mantan hanya pemanis Pak, karena memang dialah yang pernah membuat hidup saya manis setelah program KPN 2018. Hehehe. Nah, untuk mengakhiri surat ini, mari Pak, bersama-sama kita serukan dengan lantang semangat kita.

“Pemuda? Maju, Olahraga? Jaya. Siapa kita? Indonesia. NKRI? Harga Mati”

“Di laut kita berlayar, di laut kita belajar, di laut kita bersama, kembali ke laut kita jaya” – JALESVEVA JAYAMAHE. [T]

Tags: Kapal Pemuda Nusantaralautpemuda
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Jagung Bakar

Next Post

Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 – Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 – Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Galeri Zen1, Dibuka 7 Maret 2020 - Mencapai Karya, Melampaui Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co