23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenali Pandangan Perempuan Secara Lebih Terbuka Lewat “Membunuh Hantu-hantu Patriarki”

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 2, 2020
in Ulasan
Kenali Pandangan Perempuan Secara Lebih Terbuka Lewat “Membunuh Hantu-hantu Patriarki”
  • Judul Buku                   : Membunuh Hantu-Hantu Patriarki
  • Penulis                         : Dea Safira
  • Penerbit                       : Jalan Baru
  • ISBN                             : 978-602-51498-9-4
  • Jumlah Halaman         : x + 196

Membunuh Hantu-Hantu Patriarki sudah menarik perhatian saya sejak pertengahan tahun 2019 lalu. Ketertarikan saya bukan tanpa alasan, akhir tahun 2019 saya memang sangat tertarik untuk membaca buku tentang perempuan yang terkenal dengan sebutan feminisme. Hal yang membuat saya tertarik sederhana saja, ingin mencari tahu seperti apa sebenarnya gerakan perempuan sejak dulu hingga kini dan pandangan perempuan tentang fenomena kehidupan saat ini. Hadirlah buku ini, siapapun saya yakin pasti tertarik dengan judul buku yang menurut saya sangatlah sarkas dengan menggunakan kata “membunuh” di awal judul bukunya. Selain judul bukunya, cover buku yang didominasi warna putih dengan hiasan bercak darah ditengahnya yang didalamnya terdapat gambar simbol perempuan yang terbelenggu oleh rahang dengan gigi taring yang tajam layaknya drakula. Dua hal tersebut yang membuat saya tertarik dan memutuskan untuk memiliki buku ini.

Buku yang diterbitkan oleh Jalan Baru ini saya dapatkan langsung di Berdikari Book, Yogyakarta saat mendapatkan tugas dari kantor. Dalam proses membaca buku ini, hampir disetiap halamannya saya merasa wajah saya ditunjuk oleh perempuan yang menyampaikan pandangannya secara fear tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dalam buku ini disampaikan segala pandangan penulis tentang bagaimana kaum-kaum patriarki (baca: laki-laki) selalu memandang perempuan sebagai warga negara kelas dua dan mengarahkan perempuan hanya ke ranah domestik saja. Kasarnya perempuan itu urusannya cukup Sumur, Dapur dan Kasur selebihnya adalah ranah laki-laki.

Dea Safira sebagai penulis benar-benar menguak permasalahan yang dihadapi oleh perempuan secara gamblang. Buku ini terdiri dari 3 bagian dengan 38 essai didalamnya. Penempatan urutan tulisan pun saya rasa sangat baik, dimana bagian pertama yang diberi tajuk “Pemikiran Perempuan” mampu memberikan gambaran umum kepada kita selaku pembaca tentang sejarah dari gerakan perempuan, relevansi gerakan perempuan di Indonesia dengan dasar negara juga disini penulis menjelaskan bahwa stigma masyarakat awam tentang emak-emak sungguhlah melecehkan kaum perempuan di Indonesia.

Hal ini dikarenakan apa yang sudah menjadi “cap” bagi emak-emak dinilai merendahkan kaum perempuan padahal kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh emak-emak tidak hanya dilakukan oleh mereka, tetapi kaum laki-laki pun melakukan hal yang sama. Dalam bagian pertama, penulis juga memberi penekanan pada poin bahwa perempuan berhak untuk menentukan pilihannya sendiri (self determination) tanpa harus bergantung dengan kaum laki-laki.

Satu lagi hal yang menarik dalam bagian ini, Dea Safira menuliskan gagasannya dalam memperjuangkan hak perempuan saat menstruasi. Selama ini laki-laki terlalu menganggap remeh menstruasi yang dialami oleh perempuan, penekanan dilakukan agar laki-laki bisa menaruh empati pada perempuan yang sedang menstruasi hingga pemenuhan hak-haknya ketika menstruasi. Juga dituliskan dengan rinci alternatif selain  penggunaan pembalut oleh perempuan agar lebih efisien, aman dan ramah lingkungan.

Bagian kedua diberikan tajuk “Membangun Cinta Setara”. Dalam bagian ini banyak dituliskan cara, gagasan ideal dan harapan kepada perempuan untuk bisa membangun sebuah hubungan dengan lawan jenis berlandaskan tanpa paksaan atau tidak berada dibawah dominasi laki-laki. Sehingga apa cita-cita perempuan tak terhambat hanya karena keinginan laki-laki yang mengarahkan perempuan ke arah domestik seperti yang telah dibahas sebelumnya.

Selain itu, penulis juga mengungkapkan kebiasaan laki-laki yang melecehkan perempuan baik melalui verbal maupun non verbal, parahnya lagi hal itu seakan-akan dimaklumi oleh lingkungan di Indonesia cenderung memojokkan perempuan dalam setiap kasus yang menimpa perempuan. Dalam bagian ini Dea Safira menekankan bahwa perempuan bukanlah subjek yang seenaknya bisa memperlakukan perempuan seenak dengkul.

Selanjutnya bagian terakhir adalah “Membunuh Hantu-Hantu Patriarki” bagian yang sekiranya menjadi puncak dari tulisan-tulisan Dea Safira dalam buku ini. Dalam bagian ini lebih banyak membeberkan case yang menimpa perempuan dan secara umum merugikan perempuan baik psikis maupun fisik. Disini diperlihatkan praktek kaum laki-laki dalam menggiring perempuan hanya untuk urusan domestik saja seperti konsumsi, dll.

Hal ini terlihat dalam kehidupan aktivisme kampus, dimana kita bisa lihat sangat jarang sekali perempuan mendapatkan porsi untuk memimpin sebuah lembaga atau organisasi. Perempuan hanya mendapatkan peran teknis seperti surat menyurat, konsumsi, hingga menjadi pelengkap dalam sebuah acara kampus. Hal ini perlu direnungi bersama bahwa perempuan juga memiliki potensi yang sama untuk menjadi pemimpin, sehingga janganlah untuk memandang perempuan sebagai warga negara kelas dua setelah laki-laki.

Bagi saya, hal yang paling menarik adalah munculnya istilah “Misogini” istilah asing di telinga saya ini muncul pertama kali dalam tulisan yang berjudul  “Feminis Jawa”. Secara rinci penulis tak menjelaskan apa definisi dari istilah misogini ini, sehingga setelah saya ketik di mesin pencari arti dari misogini adalah kebencian atau tidak suka terhadap wanita atau anak perempuan.

Definisi ini sangatlah pas untuk digunakan dalam realitas yang terpampang dalam masyarakat kita mengingat kekerasan terhadap perempuan hampir terjadi setiap hari. Selain itu gaya penulisan yang terkesan blak-blakan ini juga lebih efektif untuk memberikan shock therapy kepada kaum laki-laki agar mampu memperbaiki sikap kepada kaum perempuan yang mungkin selama ini masih dianggap buruk oleh perempuan. Pembagian peran yang masih lekat di segala lini kehidupan masyarakat Indonesia juga membuat gerakan perempuan semakin terhimpit dan tak bisa leluasa dalam berkarya serta menyampaikan pendapat mereka.

Perempuan adalah sumber peradaban dunia, sudah semestinya kita menghormati kaum yang tak hanya berperan sebagai tulang rusuk tetapi mampu melebihi kemampuan laki-laki dalam berperan sebagai tulang punggung dalam sebuah keluarga. Kesetaraan akan terlihat lebih indah dibanding dengan dominasi satu pihak saja. Terima kasih saya ucapkan kepada penulis telah mampu memberikan kesempatan kaum laki-laki (termasuk saya didalamnya) mengetahui keresahan dan gagasan-gagasan nyata dari kaum perempuan. [T]

Denpasar, 16 Januari 2020

Tags: Bukufeminisresensi buku
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Betapa Santai “Sunday Reggae Santay” di Antida Soundgarden

Next Post

“Katemu Ring Tampaksiring” dari Cerpen Made Sanggra ke Pentas Teater Angin

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Katemu Ring Tampaksiring” dari Cerpen Made Sanggra ke Pentas Teater Angin

“Katemu Ring Tampaksiring” dari Cerpen Made Sanggra ke Pentas Teater Angin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co