3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BUCIN (Buku dan Cinta)

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 14, 2020
in Esai
BUCIN (Buku dan Cinta)

Sudah lama saya tidak ke toko buku. Lalu di malam itu, kebetulan ada acara literasi di Malang yang ada bazar bukunya. Sekalian, pertama karena memang gabut gak ada pasangan kerjaan dan aktifitas. Ke dua, ya hitung-hitung untuk kembali meremajakan gairah membaca yang sudah mulai memudar beberapa tahun terakhir ini.

Nahas, setelah sampai di lokasi bazar buku, saya tiba-tiba bimbang. Bingung antara lihat-lihat buku atau malah lihat-lihat yang beli buku. Pasalnya, selain ramai karena banyak pengunjung, di sana juga ramai akan cewek-cewek cantik. Ampun, jadi salah niat saya waktu itu.

Bayangan saya ke sana adalah banyak buku-buku dengan judul yang luar biasa. Yang pas dengan selera saya yang sok-sokan indie meski suka tidur si sore hari. Paling tidak lah dua dari tiga syarat jadi anak indie sudah saya miliki. Puisi, kopi, dan senja. Puisi dan kopinya sudah sip, tinggal senjanya yang ketinggalan. Tak apa, aku jadi anak separuh indie juga tak masalah.

Awal ekspektasinya sih gitu. Lihat-lihat buku sastra yang bisa bikin mata manja dan hasrat membaca bisa semakin membara. Meski tak bisa memiliki semua, setidaknya bisa elus-elus kovernya sambil ngarep-ngarep ada yang ngisi rekening secara diam-diam biar bisa beli buku tanpa mengorbankan perut di akhir bulan.

Wuss, semua itu lenyap melayang setelah banyak ciwi-ciwi canteq berkeliaran di depan mata. Buku-buku itu kalah menarik dengan pengunjung-pengunjung yang datang. Mata saya pun tak jadi menelisik judul-judul buku yang sudah ditata di meja. Ya, sesekali menunduk pura-pura cari buku, setelah itu toleh kanan toleh kiri. Siapa tahu ada yang cantik yang bisa dinikmati mata. Sayang, hanya boleh dilihat tak boleh dibawa.

Sempat muncul bayangan bisa dapet kenalan di toko atau bazar buku. Siapa tahu bisa jadi seperti kata Limbong pada Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta: “Berawal dari buku, berlanjut ke malam Minggu.” Tapi apalah daya, imajinasi hanyalah imajinasi.

Saya pun pulang dengan tangan kosong tak bawa buku apa-apa. Yang ada hanya membawa rasa iri dan sakit hati melihat cewek-cewek itu bersama laki-lakinya masing-masing. Sementara saya ke sana bersama temen-temen sesama jenisnya. Yampun, segitu ngenesnya saya.

Parahnya lagi, kebanyakan dari teman cowok yang bersama saya itu telah menyimpan hubungan romantis dengan ceweknya masing-masing. Paling-paling yang senasib dengan saya, yang masih jomblo singgle bisa dihitung tangan. Untungnya mereka masih mau menemani kaum-kaum tuna asmara untuk jalan bareng atau sekedar mengusir kegabutannya.

Setelah sampai di rumah kontrakan, seorang teman memposting sebuah foto di Whatsapp yang berlokasi di bazar buku yang saya kunjungi tadi. Lalu saya komen status itu. Saya bilang dalam chat: “Situ ke bazar mau lihat-lihat buku apa lihat-lihat yang beli buku?” Ternyata dia menjawab dua-duanya. Paling tidak, bukan hanya saya yang ke toko buku untuk lihat-lihat pengunjungnya. Masih ada yang lain selain saya. Berarti saya masih normal. Untung lah kalo gitu.

Saya pun bilang pada teman saya itu: “Kalau dulu waktu masih semester-semester awal mungkin yang akan fokus diliatin ya buku-bukunya. Tapi kalau sudah hampir-hampir semester dua digit kayak gini, apalagi masih jomblo singgle, nunduk sejenak baca beberapa judul buku sudah untung. Sisanya ya jelalatan liatin anak orang.”

Memang, godaan romantisme-romantisme di saat muda ini begitu menggelora. Bila dituruti, bisa jadi bucin tulen kau. Budak cinta. Ke mana-mana pacaran ngedate bawa anak orang. Uang habis buat nyenengin anak orang. Padahal perut sendiri belum pernah disenengin. Dengan alasan cinta dan pengorbanan (katanya) banyak muda-muda yang meramu kemesraan dengan mudi-mudi. Jadi golongan bucin dan bucinah.

Gak ada salahnya sih mau jadi bucin apa tidak, tapi coba dipikir kembali. Apa tidak percuma kalau waktu cuman dihabiskan untuk hal-hal yang berbau cinta-cintaan? Ok, bikin-bikin alasan kalau Si Do’i bisa membangkitkan semangat belajar dan mengerjakan tugas kuliah? Ok, boleh juga. Nggak-nggak, tak akan saya gunakan dalil halal-haram agama untuk membantahnya. Agama bukan cara instan untuk menang kawan.

Tapi mari pikir lagi. Tokoh nasional atau bahkan internasional mana yang besar namanya karena pacaran? Pak Habibi? Itu karena ilmunya, tapi kebetulan punya kisah romantis sama bininya dulu lalu diangkat sebagai film. Tapi yang lebih dianggap sama orang kan tetap ilmunya, bukan kisah romantisnya. Sekali lagi, tokoh siapa yang besar namanya karena pacaran? Tapi kalau tokoh yang besar dan terkenal nama serta perjuangannya karena buku itu banyak. Contohnya, Tan Malaka. Ya, dia adalah  imam jomblo seindonesia kawan.

Jadi pilih menghabiskan waktu dengan pacaran atau bergelut dengan buku? Ok, terserah anda. Mungkin akan banyak yang jawab: menghabiskan waktu dengan pacar sambil baca buku. Ok, jawaban sip itu. Jawaban aman. Tapi yakin bisa pacaran dan kencan sambil baca buku? Kok saya kurang yakin kalo ada cewek yang mau diajak kencan ke toko buku selain Cintanya Rangga ya. Dan saya pun kurang yakin ada laki-laki yang pede mau ajak pacarnya kencan ke toko buku selain Rangganya Cinta.

Aduh, kayaknya saya terlalu menggebu untuk mendebat orang yang pacaran ya. Baik, itu mungkin karena perjalan asmara saya yang kurang mulus. Sehingga saya sensitif dengan kata-kata pacar, kekasih, cinta, atau apalah macam-macam. Toh, pacaran itu ada gunanya juga meski tak sebanyak manfaat baca buku. Hehe. Masih mau bantah? Nulis artikel dulu lah biar adil kita orang.

Makanya, ketika orang nanya ke saya kenapa gak pacaran, maka jawaban saya adalah: alangkah percumanya kalau energi dan gelora yang menggebu di masa muda ini dihabiskan untuk main cinta-cintaan. Toh belum pasti juga bakal jadi pasangan selamanya. Bisa jadi putus tengah jalan atau bahkan bisa saja nahas ketika hampir menuju pelaminan, duh. Tapi kalau dihabiskan untuk baca buku, dijamin gak bakal rugi kalian-kalian.

Dak usah serius-serius membandingkan besar mana manfaat cinta-cintaan sama baca buku. Toh meski yang banyak baca buku juga belum tentu sukses. Tapi ingat, yang banyak baca saja belum tentu sukses, apalagi yang gak baca. Kan gitu?

Memang, melewati hidup tanpa cinta itu serasa hambar, abu-abu, gersang. Tapi plis, rasa cintanya itu memang gak salah, tapi cara mengungkapkannya yang sering kali salah. Kalau bisa cinta-cintaan sambil baca buku sih boleh saja, mantab itu. Dibawa nulis-nulis sajak biar kayak penyair-penyair gagah gitu. Ya bagus lah. Kalo bisa, sekali lagi kalo bisa.

Saya bukan orang yang anti pacaran-pacaran club. bukan anggota gerakan ITP (Indonesia Tanpa Pacaran). Toh dalam hati paling dalam saya juga pengen kok (tapi gagal), hiks hiks. Tapi mari buka mata lebar-lebar, alangkah baiknya kan kalau energi dan gelora muda kita itu dicurahkan untuk hal-hal yang lebih positif semisal membaca. Bisa maju melesat kalau gitu Indonesia. Sebab saya kurang yakin negara ini akan maju oleh orang-orang yang pacaran.

Datangi pasar buku, toko buku, bazar buku meski pada akhirnya malah jelalatan liatin anak orang. Itu adalah upaya kita untuk membentuk kecintaan pada buku. Kata Mbak Nana kan: “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cuma satu buku. Cari buku itu. Mari jatuh cinta.” Ya, mari jatuh cinta. #ngodekamu

Maka setelah saya pulang ke kontrakan sehabis dari bazar buku itu, keesokan harinya saya kembali lagi. Mencoba memperbaiki niat yang rusak karena mata jelalatan saya. Saya cari buku meski sesekali masih lirik sana lirik sini liatin cewek cantik. Akhirnya saya putuskan untuk pulang membawa buku meski hanya satu. Pulang dengan bawa buku dan pikiran-pikiran yang tak menentu tentang cinta. Lalu saya nulis artikel dengan judul BUCIN (Buku dan Cinta). Bukunya didapat, cintanya entah ke mana. [T]

Tags: Bukucinta
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

“Teli Sempi Nyengket”, Canda Rasis, dan Taruhan Inferior Orang Nusa Penida

Next Post

Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co