14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BUCIN (Buku dan Cinta)

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 14, 2020
in Esai
BUCIN (Buku dan Cinta)

Sudah lama saya tidak ke toko buku. Lalu di malam itu, kebetulan ada acara literasi di Malang yang ada bazar bukunya. Sekalian, pertama karena memang gabut gak ada pasangan kerjaan dan aktifitas. Ke dua, ya hitung-hitung untuk kembali meremajakan gairah membaca yang sudah mulai memudar beberapa tahun terakhir ini.

Nahas, setelah sampai di lokasi bazar buku, saya tiba-tiba bimbang. Bingung antara lihat-lihat buku atau malah lihat-lihat yang beli buku. Pasalnya, selain ramai karena banyak pengunjung, di sana juga ramai akan cewek-cewek cantik. Ampun, jadi salah niat saya waktu itu.

Bayangan saya ke sana adalah banyak buku-buku dengan judul yang luar biasa. Yang pas dengan selera saya yang sok-sokan indie meski suka tidur si sore hari. Paling tidak lah dua dari tiga syarat jadi anak indie sudah saya miliki. Puisi, kopi, dan senja. Puisi dan kopinya sudah sip, tinggal senjanya yang ketinggalan. Tak apa, aku jadi anak separuh indie juga tak masalah.

Awal ekspektasinya sih gitu. Lihat-lihat buku sastra yang bisa bikin mata manja dan hasrat membaca bisa semakin membara. Meski tak bisa memiliki semua, setidaknya bisa elus-elus kovernya sambil ngarep-ngarep ada yang ngisi rekening secara diam-diam biar bisa beli buku tanpa mengorbankan perut di akhir bulan.

Wuss, semua itu lenyap melayang setelah banyak ciwi-ciwi canteq berkeliaran di depan mata. Buku-buku itu kalah menarik dengan pengunjung-pengunjung yang datang. Mata saya pun tak jadi menelisik judul-judul buku yang sudah ditata di meja. Ya, sesekali menunduk pura-pura cari buku, setelah itu toleh kanan toleh kiri. Siapa tahu ada yang cantik yang bisa dinikmati mata. Sayang, hanya boleh dilihat tak boleh dibawa.

Sempat muncul bayangan bisa dapet kenalan di toko atau bazar buku. Siapa tahu bisa jadi seperti kata Limbong pada Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta: “Berawal dari buku, berlanjut ke malam Minggu.” Tapi apalah daya, imajinasi hanyalah imajinasi.

Saya pun pulang dengan tangan kosong tak bawa buku apa-apa. Yang ada hanya membawa rasa iri dan sakit hati melihat cewek-cewek itu bersama laki-lakinya masing-masing. Sementara saya ke sana bersama temen-temen sesama jenisnya. Yampun, segitu ngenesnya saya.

Parahnya lagi, kebanyakan dari teman cowok yang bersama saya itu telah menyimpan hubungan romantis dengan ceweknya masing-masing. Paling-paling yang senasib dengan saya, yang masih jomblo singgle bisa dihitung tangan. Untungnya mereka masih mau menemani kaum-kaum tuna asmara untuk jalan bareng atau sekedar mengusir kegabutannya.

Setelah sampai di rumah kontrakan, seorang teman memposting sebuah foto di Whatsapp yang berlokasi di bazar buku yang saya kunjungi tadi. Lalu saya komen status itu. Saya bilang dalam chat: “Situ ke bazar mau lihat-lihat buku apa lihat-lihat yang beli buku?” Ternyata dia menjawab dua-duanya. Paling tidak, bukan hanya saya yang ke toko buku untuk lihat-lihat pengunjungnya. Masih ada yang lain selain saya. Berarti saya masih normal. Untung lah kalo gitu.

Saya pun bilang pada teman saya itu: “Kalau dulu waktu masih semester-semester awal mungkin yang akan fokus diliatin ya buku-bukunya. Tapi kalau sudah hampir-hampir semester dua digit kayak gini, apalagi masih jomblo singgle, nunduk sejenak baca beberapa judul buku sudah untung. Sisanya ya jelalatan liatin anak orang.”

Memang, godaan romantisme-romantisme di saat muda ini begitu menggelora. Bila dituruti, bisa jadi bucin tulen kau. Budak cinta. Ke mana-mana pacaran ngedate bawa anak orang. Uang habis buat nyenengin anak orang. Padahal perut sendiri belum pernah disenengin. Dengan alasan cinta dan pengorbanan (katanya) banyak muda-muda yang meramu kemesraan dengan mudi-mudi. Jadi golongan bucin dan bucinah.

Gak ada salahnya sih mau jadi bucin apa tidak, tapi coba dipikir kembali. Apa tidak percuma kalau waktu cuman dihabiskan untuk hal-hal yang berbau cinta-cintaan? Ok, bikin-bikin alasan kalau Si Do’i bisa membangkitkan semangat belajar dan mengerjakan tugas kuliah? Ok, boleh juga. Nggak-nggak, tak akan saya gunakan dalil halal-haram agama untuk membantahnya. Agama bukan cara instan untuk menang kawan.

Tapi mari pikir lagi. Tokoh nasional atau bahkan internasional mana yang besar namanya karena pacaran? Pak Habibi? Itu karena ilmunya, tapi kebetulan punya kisah romantis sama bininya dulu lalu diangkat sebagai film. Tapi yang lebih dianggap sama orang kan tetap ilmunya, bukan kisah romantisnya. Sekali lagi, tokoh siapa yang besar namanya karena pacaran? Tapi kalau tokoh yang besar dan terkenal nama serta perjuangannya karena buku itu banyak. Contohnya, Tan Malaka. Ya, dia adalah  imam jomblo seindonesia kawan.

Jadi pilih menghabiskan waktu dengan pacaran atau bergelut dengan buku? Ok, terserah anda. Mungkin akan banyak yang jawab: menghabiskan waktu dengan pacar sambil baca buku. Ok, jawaban sip itu. Jawaban aman. Tapi yakin bisa pacaran dan kencan sambil baca buku? Kok saya kurang yakin kalo ada cewek yang mau diajak kencan ke toko buku selain Cintanya Rangga ya. Dan saya pun kurang yakin ada laki-laki yang pede mau ajak pacarnya kencan ke toko buku selain Rangganya Cinta.

Aduh, kayaknya saya terlalu menggebu untuk mendebat orang yang pacaran ya. Baik, itu mungkin karena perjalan asmara saya yang kurang mulus. Sehingga saya sensitif dengan kata-kata pacar, kekasih, cinta, atau apalah macam-macam. Toh, pacaran itu ada gunanya juga meski tak sebanyak manfaat baca buku. Hehe. Masih mau bantah? Nulis artikel dulu lah biar adil kita orang.

Makanya, ketika orang nanya ke saya kenapa gak pacaran, maka jawaban saya adalah: alangkah percumanya kalau energi dan gelora yang menggebu di masa muda ini dihabiskan untuk main cinta-cintaan. Toh belum pasti juga bakal jadi pasangan selamanya. Bisa jadi putus tengah jalan atau bahkan bisa saja nahas ketika hampir menuju pelaminan, duh. Tapi kalau dihabiskan untuk baca buku, dijamin gak bakal rugi kalian-kalian.

Dak usah serius-serius membandingkan besar mana manfaat cinta-cintaan sama baca buku. Toh meski yang banyak baca buku juga belum tentu sukses. Tapi ingat, yang banyak baca saja belum tentu sukses, apalagi yang gak baca. Kan gitu?

Memang, melewati hidup tanpa cinta itu serasa hambar, abu-abu, gersang. Tapi plis, rasa cintanya itu memang gak salah, tapi cara mengungkapkannya yang sering kali salah. Kalau bisa cinta-cintaan sambil baca buku sih boleh saja, mantab itu. Dibawa nulis-nulis sajak biar kayak penyair-penyair gagah gitu. Ya bagus lah. Kalo bisa, sekali lagi kalo bisa.

Saya bukan orang yang anti pacaran-pacaran club. bukan anggota gerakan ITP (Indonesia Tanpa Pacaran). Toh dalam hati paling dalam saya juga pengen kok (tapi gagal), hiks hiks. Tapi mari buka mata lebar-lebar, alangkah baiknya kan kalau energi dan gelora muda kita itu dicurahkan untuk hal-hal yang lebih positif semisal membaca. Bisa maju melesat kalau gitu Indonesia. Sebab saya kurang yakin negara ini akan maju oleh orang-orang yang pacaran.

Datangi pasar buku, toko buku, bazar buku meski pada akhirnya malah jelalatan liatin anak orang. Itu adalah upaya kita untuk membentuk kecintaan pada buku. Kata Mbak Nana kan: “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cuma satu buku. Cari buku itu. Mari jatuh cinta.” Ya, mari jatuh cinta. #ngodekamu

Maka setelah saya pulang ke kontrakan sehabis dari bazar buku itu, keesokan harinya saya kembali lagi. Mencoba memperbaiki niat yang rusak karena mata jelalatan saya. Saya cari buku meski sesekali masih lirik sana lirik sini liatin cewek cantik. Akhirnya saya putuskan untuk pulang membawa buku meski hanya satu. Pulang dengan bawa buku dan pikiran-pikiran yang tak menentu tentang cinta. Lalu saya nulis artikel dengan judul BUCIN (Buku dan Cinta). Bukunya didapat, cintanya entah ke mana. [T]

Tags: Bukucinta
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

“Teli Sempi Nyengket”, Canda Rasis, dan Taruhan Inferior Orang Nusa Penida

Next Post

Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co