24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BUCIN (Buku dan Cinta)

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 14, 2020
in Esai
BUCIN (Buku dan Cinta)

Sudah lama saya tidak ke toko buku. Lalu di malam itu, kebetulan ada acara literasi di Malang yang ada bazar bukunya. Sekalian, pertama karena memang gabut gak ada pasangan kerjaan dan aktifitas. Ke dua, ya hitung-hitung untuk kembali meremajakan gairah membaca yang sudah mulai memudar beberapa tahun terakhir ini.

Nahas, setelah sampai di lokasi bazar buku, saya tiba-tiba bimbang. Bingung antara lihat-lihat buku atau malah lihat-lihat yang beli buku. Pasalnya, selain ramai karena banyak pengunjung, di sana juga ramai akan cewek-cewek cantik. Ampun, jadi salah niat saya waktu itu.

Bayangan saya ke sana adalah banyak buku-buku dengan judul yang luar biasa. Yang pas dengan selera saya yang sok-sokan indie meski suka tidur si sore hari. Paling tidak lah dua dari tiga syarat jadi anak indie sudah saya miliki. Puisi, kopi, dan senja. Puisi dan kopinya sudah sip, tinggal senjanya yang ketinggalan. Tak apa, aku jadi anak separuh indie juga tak masalah.

Awal ekspektasinya sih gitu. Lihat-lihat buku sastra yang bisa bikin mata manja dan hasrat membaca bisa semakin membara. Meski tak bisa memiliki semua, setidaknya bisa elus-elus kovernya sambil ngarep-ngarep ada yang ngisi rekening secara diam-diam biar bisa beli buku tanpa mengorbankan perut di akhir bulan.

Wuss, semua itu lenyap melayang setelah banyak ciwi-ciwi canteq berkeliaran di depan mata. Buku-buku itu kalah menarik dengan pengunjung-pengunjung yang datang. Mata saya pun tak jadi menelisik judul-judul buku yang sudah ditata di meja. Ya, sesekali menunduk pura-pura cari buku, setelah itu toleh kanan toleh kiri. Siapa tahu ada yang cantik yang bisa dinikmati mata. Sayang, hanya boleh dilihat tak boleh dibawa.

Sempat muncul bayangan bisa dapet kenalan di toko atau bazar buku. Siapa tahu bisa jadi seperti kata Limbong pada Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta: “Berawal dari buku, berlanjut ke malam Minggu.” Tapi apalah daya, imajinasi hanyalah imajinasi.

Saya pun pulang dengan tangan kosong tak bawa buku apa-apa. Yang ada hanya membawa rasa iri dan sakit hati melihat cewek-cewek itu bersama laki-lakinya masing-masing. Sementara saya ke sana bersama temen-temen sesama jenisnya. Yampun, segitu ngenesnya saya.

Parahnya lagi, kebanyakan dari teman cowok yang bersama saya itu telah menyimpan hubungan romantis dengan ceweknya masing-masing. Paling-paling yang senasib dengan saya, yang masih jomblo singgle bisa dihitung tangan. Untungnya mereka masih mau menemani kaum-kaum tuna asmara untuk jalan bareng atau sekedar mengusir kegabutannya.

Setelah sampai di rumah kontrakan, seorang teman memposting sebuah foto di Whatsapp yang berlokasi di bazar buku yang saya kunjungi tadi. Lalu saya komen status itu. Saya bilang dalam chat: “Situ ke bazar mau lihat-lihat buku apa lihat-lihat yang beli buku?” Ternyata dia menjawab dua-duanya. Paling tidak, bukan hanya saya yang ke toko buku untuk lihat-lihat pengunjungnya. Masih ada yang lain selain saya. Berarti saya masih normal. Untung lah kalo gitu.

Saya pun bilang pada teman saya itu: “Kalau dulu waktu masih semester-semester awal mungkin yang akan fokus diliatin ya buku-bukunya. Tapi kalau sudah hampir-hampir semester dua digit kayak gini, apalagi masih jomblo singgle, nunduk sejenak baca beberapa judul buku sudah untung. Sisanya ya jelalatan liatin anak orang.”

Memang, godaan romantisme-romantisme di saat muda ini begitu menggelora. Bila dituruti, bisa jadi bucin tulen kau. Budak cinta. Ke mana-mana pacaran ngedate bawa anak orang. Uang habis buat nyenengin anak orang. Padahal perut sendiri belum pernah disenengin. Dengan alasan cinta dan pengorbanan (katanya) banyak muda-muda yang meramu kemesraan dengan mudi-mudi. Jadi golongan bucin dan bucinah.

Gak ada salahnya sih mau jadi bucin apa tidak, tapi coba dipikir kembali. Apa tidak percuma kalau waktu cuman dihabiskan untuk hal-hal yang berbau cinta-cintaan? Ok, bikin-bikin alasan kalau Si Do’i bisa membangkitkan semangat belajar dan mengerjakan tugas kuliah? Ok, boleh juga. Nggak-nggak, tak akan saya gunakan dalil halal-haram agama untuk membantahnya. Agama bukan cara instan untuk menang kawan.

Tapi mari pikir lagi. Tokoh nasional atau bahkan internasional mana yang besar namanya karena pacaran? Pak Habibi? Itu karena ilmunya, tapi kebetulan punya kisah romantis sama bininya dulu lalu diangkat sebagai film. Tapi yang lebih dianggap sama orang kan tetap ilmunya, bukan kisah romantisnya. Sekali lagi, tokoh siapa yang besar namanya karena pacaran? Tapi kalau tokoh yang besar dan terkenal nama serta perjuangannya karena buku itu banyak. Contohnya, Tan Malaka. Ya, dia adalah  imam jomblo seindonesia kawan.

Jadi pilih menghabiskan waktu dengan pacaran atau bergelut dengan buku? Ok, terserah anda. Mungkin akan banyak yang jawab: menghabiskan waktu dengan pacar sambil baca buku. Ok, jawaban sip itu. Jawaban aman. Tapi yakin bisa pacaran dan kencan sambil baca buku? Kok saya kurang yakin kalo ada cewek yang mau diajak kencan ke toko buku selain Cintanya Rangga ya. Dan saya pun kurang yakin ada laki-laki yang pede mau ajak pacarnya kencan ke toko buku selain Rangganya Cinta.

Aduh, kayaknya saya terlalu menggebu untuk mendebat orang yang pacaran ya. Baik, itu mungkin karena perjalan asmara saya yang kurang mulus. Sehingga saya sensitif dengan kata-kata pacar, kekasih, cinta, atau apalah macam-macam. Toh, pacaran itu ada gunanya juga meski tak sebanyak manfaat baca buku. Hehe. Masih mau bantah? Nulis artikel dulu lah biar adil kita orang.

Makanya, ketika orang nanya ke saya kenapa gak pacaran, maka jawaban saya adalah: alangkah percumanya kalau energi dan gelora yang menggebu di masa muda ini dihabiskan untuk main cinta-cintaan. Toh belum pasti juga bakal jadi pasangan selamanya. Bisa jadi putus tengah jalan atau bahkan bisa saja nahas ketika hampir menuju pelaminan, duh. Tapi kalau dihabiskan untuk baca buku, dijamin gak bakal rugi kalian-kalian.

Dak usah serius-serius membandingkan besar mana manfaat cinta-cintaan sama baca buku. Toh meski yang banyak baca buku juga belum tentu sukses. Tapi ingat, yang banyak baca saja belum tentu sukses, apalagi yang gak baca. Kan gitu?

Memang, melewati hidup tanpa cinta itu serasa hambar, abu-abu, gersang. Tapi plis, rasa cintanya itu memang gak salah, tapi cara mengungkapkannya yang sering kali salah. Kalau bisa cinta-cintaan sambil baca buku sih boleh saja, mantab itu. Dibawa nulis-nulis sajak biar kayak penyair-penyair gagah gitu. Ya bagus lah. Kalo bisa, sekali lagi kalo bisa.

Saya bukan orang yang anti pacaran-pacaran club. bukan anggota gerakan ITP (Indonesia Tanpa Pacaran). Toh dalam hati paling dalam saya juga pengen kok (tapi gagal), hiks hiks. Tapi mari buka mata lebar-lebar, alangkah baiknya kan kalau energi dan gelora muda kita itu dicurahkan untuk hal-hal yang lebih positif semisal membaca. Bisa maju melesat kalau gitu Indonesia. Sebab saya kurang yakin negara ini akan maju oleh orang-orang yang pacaran.

Datangi pasar buku, toko buku, bazar buku meski pada akhirnya malah jelalatan liatin anak orang. Itu adalah upaya kita untuk membentuk kecintaan pada buku. Kata Mbak Nana kan: “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cuma satu buku. Cari buku itu. Mari jatuh cinta.” Ya, mari jatuh cinta. #ngodekamu

Maka setelah saya pulang ke kontrakan sehabis dari bazar buku itu, keesokan harinya saya kembali lagi. Mencoba memperbaiki niat yang rusak karena mata jelalatan saya. Saya cari buku meski sesekali masih lirik sana lirik sini liatin cewek cantik. Akhirnya saya putuskan untuk pulang membawa buku meski hanya satu. Pulang dengan bawa buku dan pikiran-pikiran yang tak menentu tentang cinta. Lalu saya nulis artikel dengan judul BUCIN (Buku dan Cinta). Bukunya didapat, cintanya entah ke mana. [T]

Tags: Bukucinta
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

“Teli Sempi Nyengket”, Canda Rasis, dan Taruhan Inferior Orang Nusa Penida

Next Post

Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co