22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dasar Persatuan Indonesia – Catatan Tentang Damai Adat di Flores Timur

Silvester Petara Hurit by Silvester Petara Hurit
January 7, 2020
in Esai
Dasar  Persatuan Indonesia – Catatan Tentang Damai Adat di Flores Timur

Suasana Damai Adat di Kampung Wailolong dan Lewotala, Flores Timur [Foto by Ama]

Dua kampung di Flores Timur yakni: Wailolong dan Lewotala  pernah  berselisih paham pada  tahun 1981 karena persoalan air minum.  Selisih paham tersebut hampir melahirkan perang. Syukur bahwa  aparat keamanan bertindak lebih cepat sehingga perang tak sempat pecah.  Tahun-tahun setelah itu,  ketegangan kembali  terurai.  Kehidupan dan kontak masyarakat di kedua kampung tersebut kembali normal. 

Walau demikian,  masyarakat menyimpan keinginan dan  kerinduan untuk melakukan rekonsiliasi adat secara kolektif.  Maka setelah 38 tahun  ketika  membuka ladang di area yang merupakan persinggungan kedua kampung  tersebut,  damai adat   dilangsungkan  tanggal 16 November  2019  di rumah adat  kampung Lewotala dan dua hari berselang  terjadi  di rumah adat kampung Wailolong. Mereka saling berkunjung. Mengukuhkan persatuan lewat sirih pinang dan mengangkat sumpah yang diikat dengan darah hewan kurban serta menanam beringin sebagai monumen perdamaian di pelataran rumah adat Wailolong.


Damai adat   dilangsungkan  tanggal 16 November  2019  di rumah adat  kampung Lewotala dan dua hari berselang  terjadi  di rumah adat kampung Wailolong. [Foto by Ama]

Soal hidup-mati

Esensi rekonsiliasi adat adalah menyatukan dua pihak yang berjarak.  Menjadi satu  merupakan syarat mutlak keberhasilan. Kemarau yang panjang serta curah hujan yang pendek membuat  masyarakat berusaha sedekat-dekatnya menyatu dengan  alam.  Supaya bisa dekat dengan alam manusia semestinya  menyatu terlebih dahulu dengan sesamanya.

Masyarakat di kedua kampung tersebut percaya bahwa  dengan bersatu tanaman akan bertumbuh sehat,   jauh dari penyakit dan hama.  Manusia yang bekerja pun dijauhi dari sakit, hambatan dan malapetaka.  Persatuan bikin segala yang baik menjadi kuat. Menyatunya kekuatan pikiran dan batin banyak orang mendekatkan manusia dengan makrokosmos dan metakosmos. Keutuhan dan kepenuhan hidup tercipta. Alam bermurah hati terhadap manusia. Hujan cukup. Hama dan malapetaka dijauhi. Manusia dapat tenang membangun hidup dan peradabannya termasuk bersyukur dan merawat alam lingkungannya.

Di luar persatuan, keselamatan terancam.  Manusia takut diciderai atau dihancurkan oleh yang lain.  Penyakit, hama, bencana dan gagal panen begitu menakutkan. Kekeringan  dan kelaparan membunuh manusia.  Alam tampak kejam. Bayangan kematian dan kepunahan meneror kenyamanan hidup manusia.

Persatuan menjadi sendi dasar bangunan hidup kolektif karena menyangkut  hidup-matinya suatu komunitas masyarakat.  Persatuan  memungkinkan tujuan dapat segera tercapai.  Bung Karno dalam Harian Suluh Indonesia Muda tahun 1926  yakin bahwa  persatuanlah yang kelak membawa impian: Indonesia Merdeka!  Persatuan jadi harga mati jika  bangsa ini bertahan dan abadi. Semboyan “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” menemukan kebenaran dan aktualitasnya. 

Keinginan yang kuat  untuk berdamai dan bersatu antara  dua kampung di Flores Timur adalah gambaran kecil tentang dasar  kebutuhan persatuan Indonesia. Kondisi geografis, tantangan alam, pengalaman sejarah suku-suku di nusantara sejak berabad-abad lampau  melahirkan kesadaran untuk saling membutuhkan. Yang satu menopang yang lain.

Barter hasil  melahirkan  persaudaraan dan kekerabatan.  Di sana ada kebutuhan untuk mengikat diri dalam persekutuan. Perasaan satu terbentuk.  Melalui hubungan baik  kesejahteraan akan lebih mungkin diwujudkan. Melalui solidaritas dan persatuan, hidup akan lebih kuat.

Menjaga hubungan baik, menciptakan rasa nyaman bagi yang lain sama dengan merawat hidup sendiri.  Yang lain adalah sumber berkat. Oleh karena itu, tamu atau orang asing diberi tempat istimewa. Keramatamahan, sikap mendahulukan orang asing dan para tamu, melindungi dan memberi tempat bagi minoritas telah jadi kearifan masyarakat nusantara sejak berabad-abad lampau.

Rasa nyaman adalah kebutuhan yang memungkinkan orang bisa bekerja dan berusaha secara maksimal. Supaya dapat tenang, orang mesti menciptakan kenyamanan bagi orang atau kelompok lain.  Membangun relasi  baik, mempererat persatuan berhubungan dengan hidup-matinya suatu komunitas masyarakat.   Jika ada konflik maka  harus sesegera mungkin diakhiri.  Sekutu diperbesar supaya musuh berkurang.  Agar tukar-menukar komoditas dan pengetahuan, arus distribusi kebutuhan bisa berjalan lancar.  Kebudayaan dan peradaban dibangun.


Suasana damai adat antara Kampung Wailolong dan Lewotala   di Flores Timur [Foto by Ama]

Pengalaman perjumpaan

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi  membuat semua terkoneksi  di dunia maya namun tak bisa menggantikan kehangatan pengalaman konkret  perjumpaan. Perjumpaan fisik membekas lebih dalam. Menyentuh rasa. Menghubungkan tali batin satu dengan yang lainnya.

Kalau sejak kecil sampai sampai dewasa  orang hidup dalam ruang homogen; bergaul  dengan  kelompok, agama atau kaumnya saja, mengonstruksi kebenaran atau hidup dengan rasa benarnya sendiri maka tak usah heran  bahwa hari ini  tak sedikit orang dengan pendidikan tinggi dapat dengan mudah terprovokasi menyerang orang lain yang berbeda agama, partai, keyakinan, suku dengannya.

Belajar bertahun-tahun  tentang pentingnya persatuan mesti dibarengi dengan pengalaman konkret (aktual) berjumpa dan  hidup dalam komunitas suku bangsa yang beraneka-ragam tersebut termasuk menjadi minoritas dalam suatu komunitas atau kelompok.  Mengalami hidup sebagai minoritas  membuat orang berusaha mengenal yang yang lain, beradaptasi dan memahami cara berpikir, bertindak serta laku  dan nilai-nilai yang  hidup dalam suatu masyarakat. Perbedaan mendorong pengertian,  respek,  persaudaraan dan rasa menyatu dengan yang lain.

Merawat persatuan Indonesia hari ini tidak cukup dengan belajar di bangku sekolah. Memahami persatuan butuh pengalaman konkret berada di tengah yang lain. Ketika seseorang merasa sendiri dan asing maka ia harus membuka diri, bergabung dan bersatu dengan yang lain.   Pada saat itulah ia mulai mengerti apa artinya menjadi Indonesia!   

Tags: FloresFlores TimurIndonesiapersatuan
Share262TweetSendShareSend
Previous Post

Jika “Banjir” Melanda Tubuh Manusia

Next Post

Catatan Film “Atas Nama Percaya”

Silvester Petara Hurit

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Catatan Film “Atas Nama Percaya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co