2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dasar Persatuan Indonesia – Catatan Tentang Damai Adat di Flores Timur

Silvester Petara Hurit by Silvester Petara Hurit
January 7, 2020
in Esai
Dasar  Persatuan Indonesia – Catatan Tentang Damai Adat di Flores Timur

Suasana Damai Adat di Kampung Wailolong dan Lewotala, Flores Timur [Foto by Ama]

Dua kampung di Flores Timur yakni: Wailolong dan Lewotala  pernah  berselisih paham pada  tahun 1981 karena persoalan air minum.  Selisih paham tersebut hampir melahirkan perang. Syukur bahwa  aparat keamanan bertindak lebih cepat sehingga perang tak sempat pecah.  Tahun-tahun setelah itu,  ketegangan kembali  terurai.  Kehidupan dan kontak masyarakat di kedua kampung tersebut kembali normal. 

Walau demikian,  masyarakat menyimpan keinginan dan  kerinduan untuk melakukan rekonsiliasi adat secara kolektif.  Maka setelah 38 tahun  ketika  membuka ladang di area yang merupakan persinggungan kedua kampung  tersebut,  damai adat   dilangsungkan  tanggal 16 November  2019  di rumah adat  kampung Lewotala dan dua hari berselang  terjadi  di rumah adat kampung Wailolong. Mereka saling berkunjung. Mengukuhkan persatuan lewat sirih pinang dan mengangkat sumpah yang diikat dengan darah hewan kurban serta menanam beringin sebagai monumen perdamaian di pelataran rumah adat Wailolong.


Damai adat   dilangsungkan  tanggal 16 November  2019  di rumah adat  kampung Lewotala dan dua hari berselang  terjadi  di rumah adat kampung Wailolong. [Foto by Ama]

Soal hidup-mati

Esensi rekonsiliasi adat adalah menyatukan dua pihak yang berjarak.  Menjadi satu  merupakan syarat mutlak keberhasilan. Kemarau yang panjang serta curah hujan yang pendek membuat  masyarakat berusaha sedekat-dekatnya menyatu dengan  alam.  Supaya bisa dekat dengan alam manusia semestinya  menyatu terlebih dahulu dengan sesamanya.

Masyarakat di kedua kampung tersebut percaya bahwa  dengan bersatu tanaman akan bertumbuh sehat,   jauh dari penyakit dan hama.  Manusia yang bekerja pun dijauhi dari sakit, hambatan dan malapetaka.  Persatuan bikin segala yang baik menjadi kuat. Menyatunya kekuatan pikiran dan batin banyak orang mendekatkan manusia dengan makrokosmos dan metakosmos. Keutuhan dan kepenuhan hidup tercipta. Alam bermurah hati terhadap manusia. Hujan cukup. Hama dan malapetaka dijauhi. Manusia dapat tenang membangun hidup dan peradabannya termasuk bersyukur dan merawat alam lingkungannya.

Di luar persatuan, keselamatan terancam.  Manusia takut diciderai atau dihancurkan oleh yang lain.  Penyakit, hama, bencana dan gagal panen begitu menakutkan. Kekeringan  dan kelaparan membunuh manusia.  Alam tampak kejam. Bayangan kematian dan kepunahan meneror kenyamanan hidup manusia.

Persatuan menjadi sendi dasar bangunan hidup kolektif karena menyangkut  hidup-matinya suatu komunitas masyarakat.  Persatuan  memungkinkan tujuan dapat segera tercapai.  Bung Karno dalam Harian Suluh Indonesia Muda tahun 1926  yakin bahwa  persatuanlah yang kelak membawa impian: Indonesia Merdeka!  Persatuan jadi harga mati jika  bangsa ini bertahan dan abadi. Semboyan “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” menemukan kebenaran dan aktualitasnya. 

Keinginan yang kuat  untuk berdamai dan bersatu antara  dua kampung di Flores Timur adalah gambaran kecil tentang dasar  kebutuhan persatuan Indonesia. Kondisi geografis, tantangan alam, pengalaman sejarah suku-suku di nusantara sejak berabad-abad lampau  melahirkan kesadaran untuk saling membutuhkan. Yang satu menopang yang lain.

Barter hasil  melahirkan  persaudaraan dan kekerabatan.  Di sana ada kebutuhan untuk mengikat diri dalam persekutuan. Perasaan satu terbentuk.  Melalui hubungan baik  kesejahteraan akan lebih mungkin diwujudkan. Melalui solidaritas dan persatuan, hidup akan lebih kuat.

Menjaga hubungan baik, menciptakan rasa nyaman bagi yang lain sama dengan merawat hidup sendiri.  Yang lain adalah sumber berkat. Oleh karena itu, tamu atau orang asing diberi tempat istimewa. Keramatamahan, sikap mendahulukan orang asing dan para tamu, melindungi dan memberi tempat bagi minoritas telah jadi kearifan masyarakat nusantara sejak berabad-abad lampau.

Rasa nyaman adalah kebutuhan yang memungkinkan orang bisa bekerja dan berusaha secara maksimal. Supaya dapat tenang, orang mesti menciptakan kenyamanan bagi orang atau kelompok lain.  Membangun relasi  baik, mempererat persatuan berhubungan dengan hidup-matinya suatu komunitas masyarakat.   Jika ada konflik maka  harus sesegera mungkin diakhiri.  Sekutu diperbesar supaya musuh berkurang.  Agar tukar-menukar komoditas dan pengetahuan, arus distribusi kebutuhan bisa berjalan lancar.  Kebudayaan dan peradaban dibangun.


Suasana damai adat antara Kampung Wailolong dan Lewotala   di Flores Timur [Foto by Ama]

Pengalaman perjumpaan

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi  membuat semua terkoneksi  di dunia maya namun tak bisa menggantikan kehangatan pengalaman konkret  perjumpaan. Perjumpaan fisik membekas lebih dalam. Menyentuh rasa. Menghubungkan tali batin satu dengan yang lainnya.

Kalau sejak kecil sampai sampai dewasa  orang hidup dalam ruang homogen; bergaul  dengan  kelompok, agama atau kaumnya saja, mengonstruksi kebenaran atau hidup dengan rasa benarnya sendiri maka tak usah heran  bahwa hari ini  tak sedikit orang dengan pendidikan tinggi dapat dengan mudah terprovokasi menyerang orang lain yang berbeda agama, partai, keyakinan, suku dengannya.

Belajar bertahun-tahun  tentang pentingnya persatuan mesti dibarengi dengan pengalaman konkret (aktual) berjumpa dan  hidup dalam komunitas suku bangsa yang beraneka-ragam tersebut termasuk menjadi minoritas dalam suatu komunitas atau kelompok.  Mengalami hidup sebagai minoritas  membuat orang berusaha mengenal yang yang lain, beradaptasi dan memahami cara berpikir, bertindak serta laku  dan nilai-nilai yang  hidup dalam suatu masyarakat. Perbedaan mendorong pengertian,  respek,  persaudaraan dan rasa menyatu dengan yang lain.

Merawat persatuan Indonesia hari ini tidak cukup dengan belajar di bangku sekolah. Memahami persatuan butuh pengalaman konkret berada di tengah yang lain. Ketika seseorang merasa sendiri dan asing maka ia harus membuka diri, bergabung dan bersatu dengan yang lain.   Pada saat itulah ia mulai mengerti apa artinya menjadi Indonesia!   

Tags: FloresFlores TimurIndonesiapersatuan
Share262TweetSendShareSend
Previous Post

Jika “Banjir” Melanda Tubuh Manusia

Next Post

Catatan Film “Atas Nama Percaya”

Silvester Petara Hurit

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Catatan Film “Atas Nama Percaya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co