24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Film “Atas Nama Percaya”

Eka Prasetya by Eka Prasetya
January 7, 2020
in Esai
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan


“Ayat-ayat memaksa, merajam manusia. Surgamu yang mana?” – Tashoora, Terang.

SEKITAR dua pekan lalu, sebuah poster masuk ke ponsel kami. Sebuah tawaran memutar film dokumenter berjudul “Atas Nama Percaya”. Tawaran yang tentu saja kami tindaklanjuti.

Kesepakatan terjalin. Lokasi dipilih. Jadwal disusun. Pemantik diskusi, dipercayakan pada saya. Poster dibuat, kemudian disebar.

Kami sepakat, film itu diputar di Rumah Belajar Komunitas Mahima, pada Sabtu (4/1/2020) lalu.

Selang beberapa waktu setelah poster disebar, telepon saya beberapa kali berdiring. Beberapa kawan yang saya ketahui bekerja sebagai intelijen di lembaga negara, menanyakan detail acara.

Saat itu pula pikiran saya berkecamuk. Muatan apa yang ada dalam film ini. Sehingga kawan-kawan intelijen begitu intens menghubungi saya. Terlebih saya belum menonton film ini. Hanya sempat menonton trailernya.

Saya hanya bisa menduga-duga. Apakah film ini semacam film “Tanda Tanya (?)” dengan sutradara Hanung Bramantyo yang dianggap film sensitif? Apakah semacam film “Kucumbu Tubuh Indahku” dengan sutaradara Garin Nugroho yang dipersepsikan secara berbeda oleh beberapa pihak?

Jangan-jangan film ini seperti Sexy Killers garapan Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta yang membongkar hubungan para pengusaha dengan penguasa?

Pikiran saya berkecamuk. Jangan-jangan setelah film diputar dan diskusi berlangsung, saya akan dibawa ke sebuah ruangan gelap. Diinterogasi. Jari kaki saya dijepit kaki meja yang diduduki seorang petinggi sambil menodongkan pistol di kepala saya.

Jika benar, saya harus meminta perlindungan ke sejumlah pihak. Ke asosiasi profesi. Ke kolega saya di mabes. Minta perlindungan ke Interpol, FBI, CIA, MIB, pokoknya kemana saja. (Baiklah, dua paragraf ini sudah terlalu lebai).

Saat itu saya hanya berpikiran positif. Mungkin rekan-rekan saya hanya ingin nonton film. Apalagi undangan nonton film ini disampaikan secara terbuka. Gratis pula.

* * *

MENYAKSIKAN film ini, membuat pikiran saya melayang pada masalah-masalah yang terjadi karena agama. Terutama masalah larangan beribadah. Hanyadengan dalih “kesepakatan bersama”.

Padahal berdasarkan amandemen kedua, pasal 28E Undang-Undang Dasar 1945, negara wajib memberikan perlindungan bagi warganya. Hal itu sudah dijelas dalam ayat (1) dan ayat (2).

Tanpa perlindungan dari negara, maka warga tidak bisa memeluk agamanya dengan nyaman. Tidak bisa beribadah dengan damai.

Saat larangan beribadah pada hari besar keagamaan muncul, pemerintah bukannya memberikan perlindungan dan memberikan fasilitas. Misalnya memberikan balai kota atau minimal balai desa sebagai lokasi ibadah. Pemerintah justru menyarankan agar beribadah di rumah masing-masing. Seolah lepas tangan saat seharusnya memberi perlindungan.

Agama dan keyakinan sebenarnya hal yang kompleks. Puluhan tahun silam, para penghayat kepercayaan dianggap tak beragama. Padahal mereka jelas-jelas percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Bedanya, para penghayat kepecayaan belum tentu punya rumah ibadah dan belum tentu punya kitab suci.

Para penghayat kepercayaan tidak diakui oleh negara. Jangankan penghayat kepercayaan, sejumlah penganut agama seperti Bahai, Syeikh, Yahudi, juga kesulitan mendapatkan pengakuan dari negara.

Syukurnya kini penghayat kepercayaan telah diakui keberadaannya oleh negara. Mereka memiliki hak untuk memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan mencantumkan kepercayaan mereka di dalamnya.

Tapi masalah tidak berhenti di sana. Bagaimana bila nanti mereka menikah. Bisakah mendapatkan akta perkawinan? Saat anak-anak mereka lahir, bisakah anak-anak itu mendapatkan akta kelahiran? Setelah cukup usia sekolah, apakah mereka mendapatkan pendidikan dari negara?

Belum lagi bila mereka meninggal dunia, bagaimana mereka diperlakukan? Bila kepercayaan mereka mengizinkan kremasi, selama ada krematorium, tentu bukan persoalan besar.

Bagaimana bila kepercayaan yang dianut mengharuskan mereka dikubur? Sementara pemerintah belum menyediakan pemakaman umum. Dimana mereka akan dikubur. Apakah fenomena larangan simbol agama tertentu akan muncul di pekuburan? Jangan-jangan warga akan menolak mereka dikubur.

Setidaknya hal-hal seperti itu yang muncul sepanjang diskusi pada Sabtu malam lalu. Pemerintah tak boleh lepas tangan. Hak para penganut agama dan penghayat kepercayaan, harus dilindungi. Bahkan sejak lahir, hingga meninggal dunia.

* * *

KAWAN saya yang bertugas sebagai intelijen itu, benar-benar datang malam itu. Ia menyaksikan film dari awal sampai akhir. Mengikuti diskusi dari awal hingga akhir.

Sesekali ia mengangguk-angguk. Beberapa kali pula urun rembug selama diskusi. Menceritakan pengalaman, saat bersentuhan langsung dengan para penghayat kepercayaan di kampung halamannya.

Malam itu, tidak ada pelarangan pemutaran film. Tidak ada pembubaran diskusi. Semua mencurahkan isi hatinya malam itu.

Saya akhirnya bisa memahami pemikiran kawan saya itu. Di kota ini tidak ada bioskop. Saluran berbayar macam Netflix diblokir. Saluran televisi berlangganan cukup mahal. Situs bajakan macam IndoXXI diblokir. Ketimbang menyaksikan sinetron recehan di televisi, menonton film dokumenter sambil berdiskusi tentu lebih menjanjikan. [T]

Tags: filmfilm dokumenter
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Dasar Persatuan Indonesia – Catatan Tentang Damai Adat di Flores Timur

Next Post

#AKEBULELENG Bikin Lagu Sampah…

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
#AKEBULELENG Bikin Lagu Sampah…

#AKEBULELENG Bikin Lagu Sampah…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co