2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Indonesia Naik Gojek, Ke Mana Arahnya?

Safitri Saraswati by Safitri Saraswati
November 22, 2019
in Esai
Pendidikan Indonesia Naik Gojek, Ke Mana Arahnya?

Foto ilustrasi Google

Saya senang sekali mendengar kabar bahwa Nadiem Makarim diberi mandat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia. Keputusan Bapak Presiden Jokowi ada benarnya juga. Indonesia butuh pemimpin yang mampu berinovasi, keluar dari lingkup dan aturan lama, pemimpin yang segar dan sudah terbukti mampu menciptakan suatu perubahan besar bagi negeri ini.

Ketika kita mendengar nama Nadiem Makarim, tentu yang kita pikirkan adalah Gojek. Sebuah aplikasi yang kini mewabah dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat tak hanya di perkotaan namun juga mulai merambah ke daerah-daerah pelosok.

Teringat kemudian bagaimana saya memanfaatkan jasa Gojek untuk mengirim kerajinan tangan lontar dari Desa Bona, Gianyar ke sebuah artshop di Kerobokan, Badung. Gojek  luar biasa menghemat waktu, mempermudah dan mempersingkat segalanya, meski masih terdapat begitu banyak hal yang perlu dibenahi secara sistem namun menurut saya hal yang paling banyak perlu pembenahan adalah pada SDM alias sumber manusianya.

Tentu tidak jarang kita sebagai pengguna mendapat sikap yang kurang menyenangkan dari driver, driver yang sesungguhnya kedudukannya sebagai mitra namun kerap kali berperilaku seperti karyawan dengan melakukan demo dan beragam permasalahan lain yang tentu memberikan bumbu bagi khazanah per-digital-an di Indonesia.

Era saat ini adalah era yang baru bagi kita. Bahwa hampir seluruh rakyat Indonesia hari ini boleh dikatakan sudah melek teknologi meskipun masih bisa kita temui anak-anak yang buta huruf dan belum mampu mengenyam pendidikan namun presentasenya sudah amat jauh berkurang dibandingkan satu atau dua dekade silam.

Dan apabila saya boleh memikirkan, dalam alam pikiran saya, pendidikan di Indonesia bukannya jelek atau tidak efektif namun hanya kurang tepat guna. Sebagai contoh, dengan adanya silabus, RPP dan kawan-kawannya para siswa dan guru terkadang dibuat seperti berlomba untuk menuntaskan tiap materi ajar yang diberikan tenggat waktu hanya 1 tahun (2 semester).

Pernahkah terpikirkan oleh kita apakah para siswa benar-benar mengerti dengan segala yang diajarkan selama 2 semester tersebut? Apa makna pendidikan di negeri ini sebenarnya?

Apakah hanya mengejar selembar kertas yang disebut ijazah lalu ketika dilepas ke dunia kerja alih-alih mampu bersaing yang terjadi justru semua berlomba menghalalkan segala cara demi mendapat pekerjaan di pemerintahan hanya karena iming-iming kepastian kerja dan pengeluaran SK yang akhirnya nanti bisa digadaikan bila sewaktu-waktu nanti membutuhkan dana segar?

Alam pikiran saya kembali bergejolak, saya memikirkan bahwa sekolah seharusnya adalah tempat belajar, tempat mendidik. Tempat siswa memperoleh pengajaran dari hati oleh tenaga tenaga pendidik yang juga bekerja dari hati, tak perlu risau perihal uang dapur karena pemerintah akan mencukupkan semua asal tidak meninggikan standar hidup seperti mengharapkan gaji guru supaya bisa beli apartment mewah..kalau begitu tidak usah jadi guru lah, cari saja pekerjaan lain yang kiranya bisa memenuhi standar keinginan tersebut.

Juga semakin kesini semakin saya lihat degradasi moral yang menukik jauh ke bawah dari para generasi kekinian. Bila dulu menghormati guru kita lakukan dari hati (atau bisa juga karena takut) tapi setidaknya tertanam dalam benak para siswa bahwa guru adalah sosok yang wajib dihormati tapi apa yang terjadi saat ini, begitu banyak kasus-kasus kekerasan yang dilakukan murid pada guru dan juga sebaliknya. Hal tersebut tentu merupakan hal yang sangat darurat dan membutuhkan penanganan segera.

Kembali lagi pada alam pikiran saya, bagaimana jika putra – putri Indonesia diberikan healing atau penyembuhan dari akar, dari dasar. Orang tua diharapkan dapat mempercayakan putra-putrinya untuk dididik dan dibentuk di Lembaga sekolah. Sehingga tidak ada lagi orang tua – orang tua yang mencak-mencak bila anak-anaknya diberi sanksi oleh guru.

Juga perihal sistem pendidikan, bagaimana jika anak umur 3 – 10 tahun bersekolah dimana dalam kurun waktu tersebut mereka diberikan pengajaran moral. Hanya pengajaran moral. Bisa dibuatkan juga silabus dan RPP-nya, seperti cara menghormati orang yang lebih tua, cara mengantri, cara berbicara di depan umum, cara memandang perbedaan dalam kehidupan kebhinekaan sehingga kelak tidak ada tercetak generasi yang menulis sumpah serapah di sosial media, dibaca jutaan orang dan ditujukan kepada seseorang yang mungkin tidak mereka kenal, atau tidak ada lagi putra-putri Indonesia yang mudah tercuci otak dan pikirannya sehingga melakukan suatu tindakan keji meledakkan bom dengan iming-iming surga.

Pendidikan moral yang kuat yang seharusnya menjadi dasar dari segala dasar bagi tiap putra-putri bangsa sehingga nanti ketika mereka telah menginjak usia 12 tahun mereka bisa memilih ilmu apa yang mereka sukai dan ingin kuasai dan mereka bisa belajar selama kurang lebih 8 tahun, sehingga tidak ada lagi kisah lulusan dokter yang menentang orang tua lalu kemudian menjadi pelukis atau lulusan sarjana hukum yang menjadi tukang parkir.

Yang pasti di usia 20 tahun mereka bisa menjadi ahli-ahli muda yang telah dibekali dengan Pendidikan moral dan juga keahlian akan sesuatu yang mereka pilih sendiri untuk kemudian keahlian tersebut dapat mereka gunakan untuk membangun bangsa ini. Sungguh saya teramat setuju dengan wacana Revolusi Mental yang didengung-dengungkan Bapak Presiden Jokowi, moral generasi penerus kita betul-betul memang perlu digembleng dan diubah total.

Melayang jauh alam pikiran saya, namun tiba-tiba saya tersentak. Rupanya itu suara anak saya, ia meminta bantuan saya untuk mengerjakan PR-nya, kelas 4 SD, materi Bangun Ruang dan Bangun Datar.

Namun kembali alam pikiran saya menyeret saya begitu jauh membayangkan seandainya anak saya yang baru berumur 9 tahun ini lebih banyak belajar tentang bagaimana cara ia seharusnya membangun mimpi, tanpa banyak memedulikan cemoohan cemoohan orang atau opini-opini miring di luar sana dan kelak bila ia sudah berusia 12 tahun ia bisa memilih ilmu apa yang hendak ia pelajari. Kira-kira ilmu apa yang akan ia pilih? Ilmu Bumi, Ilmu Hayat?

Kembali lamunan saya buyar, ia merengek meminta saya yang mengerjakan PR nya, sementara anak saya malah log in ke aplikasi Gojek. Mau pesan terang bulan keju, katanya. [T]

Tags: gojekPendidikan
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Facebook Masuk Kampung Halaman Saya

Next Post

Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Safitri Saraswati

Safitri Saraswati

Lahir di Denpasar, 17 Juni 1989. Menulis puisi yang dimuat di berbagai buku antologi puisi, antara lain Puisi “Cinta” diterbitkan dalam antologi Puisi Makna Dalam Kata. Juga menulis artikel/konten pada website seperti Kamantara, Hipwee, Babe.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co