24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Indonesia Naik Gojek, Ke Mana Arahnya?

Safitri Saraswati by Safitri Saraswati
November 22, 2019
in Esai
Pendidikan Indonesia Naik Gojek, Ke Mana Arahnya?

Foto ilustrasi Google

Saya senang sekali mendengar kabar bahwa Nadiem Makarim diberi mandat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia. Keputusan Bapak Presiden Jokowi ada benarnya juga. Indonesia butuh pemimpin yang mampu berinovasi, keluar dari lingkup dan aturan lama, pemimpin yang segar dan sudah terbukti mampu menciptakan suatu perubahan besar bagi negeri ini.

Ketika kita mendengar nama Nadiem Makarim, tentu yang kita pikirkan adalah Gojek. Sebuah aplikasi yang kini mewabah dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat tak hanya di perkotaan namun juga mulai merambah ke daerah-daerah pelosok.

Teringat kemudian bagaimana saya memanfaatkan jasa Gojek untuk mengirim kerajinan tangan lontar dari Desa Bona, Gianyar ke sebuah artshop di Kerobokan, Badung. Gojek  luar biasa menghemat waktu, mempermudah dan mempersingkat segalanya, meski masih terdapat begitu banyak hal yang perlu dibenahi secara sistem namun menurut saya hal yang paling banyak perlu pembenahan adalah pada SDM alias sumber manusianya.

Tentu tidak jarang kita sebagai pengguna mendapat sikap yang kurang menyenangkan dari driver, driver yang sesungguhnya kedudukannya sebagai mitra namun kerap kali berperilaku seperti karyawan dengan melakukan demo dan beragam permasalahan lain yang tentu memberikan bumbu bagi khazanah per-digital-an di Indonesia.

Era saat ini adalah era yang baru bagi kita. Bahwa hampir seluruh rakyat Indonesia hari ini boleh dikatakan sudah melek teknologi meskipun masih bisa kita temui anak-anak yang buta huruf dan belum mampu mengenyam pendidikan namun presentasenya sudah amat jauh berkurang dibandingkan satu atau dua dekade silam.

Dan apabila saya boleh memikirkan, dalam alam pikiran saya, pendidikan di Indonesia bukannya jelek atau tidak efektif namun hanya kurang tepat guna. Sebagai contoh, dengan adanya silabus, RPP dan kawan-kawannya para siswa dan guru terkadang dibuat seperti berlomba untuk menuntaskan tiap materi ajar yang diberikan tenggat waktu hanya 1 tahun (2 semester).

Pernahkah terpikirkan oleh kita apakah para siswa benar-benar mengerti dengan segala yang diajarkan selama 2 semester tersebut? Apa makna pendidikan di negeri ini sebenarnya?

Apakah hanya mengejar selembar kertas yang disebut ijazah lalu ketika dilepas ke dunia kerja alih-alih mampu bersaing yang terjadi justru semua berlomba menghalalkan segala cara demi mendapat pekerjaan di pemerintahan hanya karena iming-iming kepastian kerja dan pengeluaran SK yang akhirnya nanti bisa digadaikan bila sewaktu-waktu nanti membutuhkan dana segar?

Alam pikiran saya kembali bergejolak, saya memikirkan bahwa sekolah seharusnya adalah tempat belajar, tempat mendidik. Tempat siswa memperoleh pengajaran dari hati oleh tenaga tenaga pendidik yang juga bekerja dari hati, tak perlu risau perihal uang dapur karena pemerintah akan mencukupkan semua asal tidak meninggikan standar hidup seperti mengharapkan gaji guru supaya bisa beli apartment mewah..kalau begitu tidak usah jadi guru lah, cari saja pekerjaan lain yang kiranya bisa memenuhi standar keinginan tersebut.

Juga semakin kesini semakin saya lihat degradasi moral yang menukik jauh ke bawah dari para generasi kekinian. Bila dulu menghormati guru kita lakukan dari hati (atau bisa juga karena takut) tapi setidaknya tertanam dalam benak para siswa bahwa guru adalah sosok yang wajib dihormati tapi apa yang terjadi saat ini, begitu banyak kasus-kasus kekerasan yang dilakukan murid pada guru dan juga sebaliknya. Hal tersebut tentu merupakan hal yang sangat darurat dan membutuhkan penanganan segera.

Kembali lagi pada alam pikiran saya, bagaimana jika putra – putri Indonesia diberikan healing atau penyembuhan dari akar, dari dasar. Orang tua diharapkan dapat mempercayakan putra-putrinya untuk dididik dan dibentuk di Lembaga sekolah. Sehingga tidak ada lagi orang tua – orang tua yang mencak-mencak bila anak-anaknya diberi sanksi oleh guru.

Juga perihal sistem pendidikan, bagaimana jika anak umur 3 – 10 tahun bersekolah dimana dalam kurun waktu tersebut mereka diberikan pengajaran moral. Hanya pengajaran moral. Bisa dibuatkan juga silabus dan RPP-nya, seperti cara menghormati orang yang lebih tua, cara mengantri, cara berbicara di depan umum, cara memandang perbedaan dalam kehidupan kebhinekaan sehingga kelak tidak ada tercetak generasi yang menulis sumpah serapah di sosial media, dibaca jutaan orang dan ditujukan kepada seseorang yang mungkin tidak mereka kenal, atau tidak ada lagi putra-putri Indonesia yang mudah tercuci otak dan pikirannya sehingga melakukan suatu tindakan keji meledakkan bom dengan iming-iming surga.

Pendidikan moral yang kuat yang seharusnya menjadi dasar dari segala dasar bagi tiap putra-putri bangsa sehingga nanti ketika mereka telah menginjak usia 12 tahun mereka bisa memilih ilmu apa yang mereka sukai dan ingin kuasai dan mereka bisa belajar selama kurang lebih 8 tahun, sehingga tidak ada lagi kisah lulusan dokter yang menentang orang tua lalu kemudian menjadi pelukis atau lulusan sarjana hukum yang menjadi tukang parkir.

Yang pasti di usia 20 tahun mereka bisa menjadi ahli-ahli muda yang telah dibekali dengan Pendidikan moral dan juga keahlian akan sesuatu yang mereka pilih sendiri untuk kemudian keahlian tersebut dapat mereka gunakan untuk membangun bangsa ini. Sungguh saya teramat setuju dengan wacana Revolusi Mental yang didengung-dengungkan Bapak Presiden Jokowi, moral generasi penerus kita betul-betul memang perlu digembleng dan diubah total.

Melayang jauh alam pikiran saya, namun tiba-tiba saya tersentak. Rupanya itu suara anak saya, ia meminta bantuan saya untuk mengerjakan PR-nya, kelas 4 SD, materi Bangun Ruang dan Bangun Datar.

Namun kembali alam pikiran saya menyeret saya begitu jauh membayangkan seandainya anak saya yang baru berumur 9 tahun ini lebih banyak belajar tentang bagaimana cara ia seharusnya membangun mimpi, tanpa banyak memedulikan cemoohan cemoohan orang atau opini-opini miring di luar sana dan kelak bila ia sudah berusia 12 tahun ia bisa memilih ilmu apa yang hendak ia pelajari. Kira-kira ilmu apa yang akan ia pilih? Ilmu Bumi, Ilmu Hayat?

Kembali lamunan saya buyar, ia merengek meminta saya yang mengerjakan PR nya, sementara anak saya malah log in ke aplikasi Gojek. Mau pesan terang bulan keju, katanya. [T]

Tags: gojekPendidikan
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Facebook Masuk Kampung Halaman Saya

Next Post

Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Safitri Saraswati

Safitri Saraswati

Lahir di Denpasar, 17 Juni 1989. Menulis puisi yang dimuat di berbagai buku antologi puisi, antara lain Puisi “Cinta” diterbitkan dalam antologi Puisi Makna Dalam Kata. Juga menulis artikel/konten pada website seperti Kamantara, Hipwee, Babe.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Menerawang Literasi Mengambang di Pohon Jamblang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co