6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Wendra Wijaya by Wendra Wijaya
November 10, 2019
in Ulasan
Menakar Puisi, Menapaki Sunyi Kelompok Sekali Pentas

Kelompok Sekali Pentas [Foto-foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Seorang perempuan berjalan menunduk. Sekelilingnya sunyi, sawah sepi kini. Sendiri saja ia, dalam huma propaganda. Ia merindukan keriangan masa kanak-kanak. Di batas sunyi itulah, dengung terdengar memenuhi Kalangan Ayodya Art Center, Denpasar. Sore itu, ia mencari ketawa. Atau barangkali ia mencari tawanya yang telah lama hilang, dalam dirinya.

Bermula sunyi, pentas musikalisasi puisi bertajuk Di Dalam Dada Jalan Subak Nyepi oleh Kelompok Sekali Pentas, Denpasar digelar. Seperti kilasan, seperti bayang-bayang, suara-suara dan tawa mulai terdengar. Beberapa orang mendekat berlarian. Mereka bermain baling-baling, menghalau burung-burung. Sesaat kemudian, harmoni kesedihan tercipta bersama gitar dan biola yang menyayat jauh di kedalaman.

Musikalisasi puisi Jalan Subak yang Menanjak karya Made Adnyana Ole menjadi pembuka pentas tersebut. Puisi ini sekaligus menjadi dasar pijak pertunjukan, termasuk di dalam upaya membangun dimensi melalui art¬¬¬¬istik panggung yang ditata Gumi Gegirang. Secara gamblang, hal ini bisa dilihat dari baris-baris puisi berikut;

Jalan subak

Jauh menanjak

Meminang air di sangkar awan

Yang dijaga pawang muda

Pada jaman kilau cuaca

Sedang taman padi yang selalu berbunga

Dan isak penyesalan burung-burung

Kini terperangkap dalam bingkai lukisan

………………..

Bertahun-tahun, berbagai bentuk kesenian –termasuk musikalisasi puisi yang menjadi “anak kandung puisi”, telah menjadi media komunikasi yang jujur memotret sosiokultural masyarakat, setidaknya kondisi yang terjadi di seputaran diri si pencipta. Dan sudah sepatutnya, siapa pun yang mentransformasikannya menjadi bentuk baru, serumit atau sesederhana apa pun, mesti memiliki keberpihakan yang cukup untuk menjaga ruh yang melekat pada karya awal tersebut.


Kelompok Sekali Pentas [Foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Berangkat dari puisi tentang sawah (yang telah banyak ditinggalkan), pertunjukan dilanjutkan dengan musikalisasi puisi Di Dalam Dada karya Subagio Sastrowardoyo. Puisi menggambarkan suasana dialogis antara “diri” dengan “sesuatu di luar diri”. Seolah mikrokosmos tengah mengikat janji dengan makrokosmos untuk bercengkrama di satu tempat dalam satu waktu tertentu, lalu saling mengingatkan.

Masih dalam kepedihan yang sama, sunyi yang nyaris tak berbeda, musikalisasi puisi Di Dalam Dada dibangun dengan menghadirkan suasana rimba raya, yang kental dengan nyanyian suku pedalaman. Inilah bentuk ketakjuban atas keunikan sekaligus pembacaan tanda-tanda yang dikandung puisi, untuk kemudian memberikan tawaran pencapaian yang berbeda dalam karya musikalisasi puisi yang diciptakan.

Meski sunyi dan kepedihan begitu mendominasi, pentas musikalisasi ini sesungguhnya berbicara tentang cinta sebagai awal dari segala kehidupan: kepedihan juga suka cita. Untuk menampilkan cinta yang berbeda, Kelompok Sekali Pentas menghadirkan puisi Satu Perahu milik W. Sunarta, berbicara tentang keikhlasan dan penyerahan diri yang utuh. Puisi ini disajikan secara sederhana dan begitu romantis, dibangun dengan instrumen gitar, keyboard dan biola. Mereka mencoba menyederhanakan segala kemungkinan notasi untuk menghidupkan kalimat paling cinta dalam puisi tersebut.

……………

Genggam tanganku lebih erat

Biarkan perahu kita hanyut

Menurut kehendak air

Bait terakhir dari puisi yang terdiri dari empat bait menjadi ruh bagi Satu Perahu. Dari tiga baris inilah kesadaran kelompok terbentuk sejak 1 Januari 2011 itu tumbuh untuk menciptakan sunyi dalam dimensi yang menggugah. Kesadaran akan cinta, juga keikhlasan untuk menyajikan puisi agar tetap tinggal dalam kesederhanaannya.


Kelompok Sekali Pentas [Foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Pertarungan

Heri Windi Anggara sebagai motor Kelompok Sekali Pentas benar-benar tak menginginkan pertunjukan ini berhenti sebatas hiburan semata. Jauh melampauinya, ia berupaya menyusun mozaik-mozaik kemungkinan puisi menjadi sesuatu yang sarat pesan, menjadi kritik sekaligus otokritik. Seperti yang tertuang dalam sinopsis pertunjukan; maka apa lagi yang tersisa saat sawah telah lenyap dari pandangan mata? Selain menyerah pada sesal yang “Nyepi”.

Maka benarlah, hidup adalah pertarungan. Menang dan kalah menjadi hal yang biasa. Namun selama masih ada nafas, menyerah bukanlah pilihan. Upaya-upaya untuk meneguhkan keyakinan harus tetap diperjuangkan dengan penuh kesadaran.

Semangat ini begitu kental dalam musikalisi puisi Lagu Orang Kalah karya D Zawawi Imron. Dengan menggunakan teknik damp gitar dan biola yang melibas, intro musik yang dibangun merepresentasikan detak waktu yang bergegas, dalam ketertekanan. Begitu pedih lagu ini ketika bait pertama dinyanyikan. Namun kepedihan tak perlu berlama-lama. Dalam bait-bait berikutnya, musik berubah garang, mengobarkannya menjadi api yang menghapus goresan baja. Menjawab tantangan demi tantangan, meski dalam ketidakberdayaan sekalipun. Seperti yang tersurat dalam puisi; mayat-mayat yang mengaku kalah/senyumnya makin bergigi.


Kelompok Sekali Pentas [Foto: Ruang Hujan x Himatografi]

Sebagai puncak pertunjukan, kelompok yang terdiri dari Heri, Zico (gitar), Colby (bass), Chumani (keyboard), Monique, Tia (biola) dan Yustin, Tria, Nina (vocal) ini berkolaborasi dengan Kacak Kicak Puppet Theatre pimpinan “Jong” Santiasa Putra. Mereka mengeksplorasi puisi Nyepi karya Riki Dhamparan Putra dalam bentuk musik teaterikal. Pada puisi yang terdiri dari 1 (satu) kata Kukuuuruuyuuuuuuk ini, sepi disajikan dengan mengeksplorasi musik dalam puncak gemuruh. Maka hadirlah bunyi-bunyi noise yang menyelubung, permainan musik dalam birama yang tak sama, hingga eksplorasi vocal padat yang bersahutan.

Betapa kontradiktif, betapa menampar kesadaran. Nyepi yang begitu kontemplatif, dimaknai dengan suara-suara yang menggelegar. Mereka memotret suasana Nyepi hari ini yang begitu gemuruh dengan keinginan. Manekin dan televisi yang terkoneksi, hadir dalam pertunjukan seolah meledek siapa pun yang menyaksikannya. Bahwa kita semua, terlalu suntuk terhadap hal-hal yang berada di luar diri, kemudian abai terhadap sesuatu yang menjadi esensi.

Kelompok Sekali Pentas terasa benar menjaga keutuhan pertunjukan mereka, termasuk dalam pemilihan puisi untuk mendukung konsep serta gagasan yang ingin dimunculkan. Melalui kedekatan rasa dan tema, mereka membangun skenario secara perlahan dan sabar agar komunikasi yang dibangun benar-benar sampai dan bisa menjadi renungan bersama. Bahwa, Nyepi bagi diri adalah juga bentuk meditasi yang lain, manakala iklan dan propaganda begitu lihai menyurutkan intensitas interaksi sosial. Seperti hari ini, juga di waktu-waktu mendatang.

Noise masih liar terdengar. Satu per satu, mereka meninggalkan panggung pertunjukan, meninggalkan teror bagi penonton yang memadati Kalangan Ayodya. Suara-suara itu masih terus terdengar. Semakin kencang, lalu sunyi seketika mengakhiri pertunjukan, bersama hari yang mulai berangkat malam. [T]

Tags: musikalisasi puisiPuisi
Share64TweetSendShareSend
Previous Post

Generasi Z: Cintanya Tak Terbalaskan

Next Post

Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Wendra Wijaya

Wendra Wijaya

pengamat musik pengamat puisi, main musik juga menulis puisi

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Beda Gaya Sama Rasa: Disparitas Komunitas Sastra dalam Ekosistem Sastra di Bali Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co